Selasa, 26 April 2011

Kaedah nama dan sifat Allah II


Kaedah sifat-sifat Allah
Setiap zat yang ada pasti memiliki sifat, suatu hal yang mustahil kalau ada sesuatu yang tidak memiliki sifat. Allah pun memiliki sifat, paling tidak sifat yang disepakati bersama adalah sifat wujuud/ada waajibul al-wujuud.

Kaedah yang pertama:
صفات الله تعالى كلها صفات كمال لا نقص فيها بوجه من الوجوه، قال تعالى {ولله المثل الأعلى وهو العزيز الحكيم} والمثل الأعلى هو الوصف الأعلى.
Sifat-sifat Allah semuanya adalah sifat yang sangat sempurna, tidak ada kekurangan sedikitpun. Allah berfirman: "Dan Allah mempunyai sifat yang Maha Tinggi; dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana". (an-nahl:60)
Diantara dalil aqli yang membuktikan bahwasanya sifat-sifat Allah semuanya adalah sifat yang sempurna, adanya kita melihat diantara makluk-makhluk yang diciptakan oleh Allah memiliki sifat yang sempurna, tentunya Allah sebagai Sang Pencipta lebih utama akan kesempurnaan. (قياس الأولي)
Setiap manusia diwajibkan untuk mencintai, memuliakan dan mengagungkan Allah, dan fitrah manusia selalu mencintai sifat-sifat yang sempurna dan membenci sifat yang tidak sempurna, oleh sebab itu mustahil Allah memiliki sifat yang tidak sempurna.
Dan yang berhak disembah adalah zat yang memiliki sifat yang maha sempurna. Allah berfirman yang artinya: "Dan berhala-berhala yang mereka seru selain Allah, tidak dapat membuat sesuatu apapun, sedang berhala-berhala itu (sendiri) dibuat orang. (Berhala-berhala itu) benda mati tidak hidup, dan berhala-berhala tidak mengetahui bilakah penyembah-penyembahnya akan dibangkitkan". (An-nahl: 20-21)
Nabi Ibrahim berkata kepada ayahnya: "Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?" (Maryam: 42)
Tidak semua sifat sempurnah bagi makluk, juga sempurna bagi Allah seperti "makan dan minum" adalah sifat sempurna bagi makluk tapi tidak sempurna bagi Allah. Dan tidak semua sifat tidak sempurna bagi makluk, juga tidak sempurna bagi Allah, seperti sifat "الجبر والكبر" tidak sempurna bagi makluk (gafir:35) tapi sempurna bagi Allah (al-hasyr:23).
Diantara sifat Allah ada yang sempurnah sebagai balasan yang setimpal, seperti : sifat makar untuk orang-orang yang berbuat makar (ali imran:54), dan sifat istihza' (mengolok-olok) untuk orang-orang berbuat istihza' (al-baqarah: 14-15).

Kaedah yang kedua:
باب الصفات أوسع من باب الأسماء، لأن كل اسم متضمن لصفة ، ولأن من الصفات ما يتعلق بأفعال الله تعالى، وأفعاله لا منتهى لها، كما أن أقواله لا منتهى لها.
Pembahasan sifat lebih luas dari pembahasan nama, karena semua nama-nama Allah mengandung sifat yang sempurna bagi Allah akan tetapi tidak semua sifat-sifat Allah bisa kita jadikan sebagai nama bagi Allah.
Dan juga karena di antara sifat Allah ada yang berkaitan dengan perbuatan Allah subhanahu wata'ala, sedangkan perbuatan Allah itu tidak ada batasnya seperti perkataan-Nya yang tiada batas.
            Contohnya, Allah memiliki sifat "المجيء ، الإتيان ، الأخذ ، الإمساك ، البطش", akan tetapi kita tidak bisa menamai Allah dengan nama "الجائي ، الآتي ، الآخذ ، الممسك ، الباطش" kecuali dalam bentuk pemberitaan.

            Kaedah yang ketiga:
صفات الله تعالى تنقسم إلى قسمين : ثبوتية وسلبية.
فالثبوتية: ما أثبته الله تعالى لنفسه في كتابه أو على لسان رسوله صلى الله عليه وسلم، وكلها صفات كمال لا نقص فيها بوجه من الوجوه كالحياة والعلم والقدرة.
والصفات السلبية: ما نفاها الله - سبحانه – عن نفسه في كتابه أو على لسان رسوله صلى الله عليه وسلم، وكلها صفات نقص في حقه كالموت والنوم والجهل والنسيان والعجز.
Sifat Allah terbagi dua: tsubutiyah dan salbiyah.
Sifat tsubutiyah adalah sifat yang ditetapkan oleh Allah sendiri bagi diri-Nya dalam kitab suci-Nya atau melalui sabda Rasul-Nya sallallahu 'alaihi wasallam. Semuanya adalah sifat yang sangat sempurna tidak ada cacat sedikitpun seperti sifat hidup, mengetahui, dan kemampuan.
Sedangkan sifat salbiyah adalah sifat yang ditolak oleh Allah sendiri terhadap diri-Nya dalam kitab suci-Nya atau melalui sabda Rasul-Nya sallallahu 'alaihi wasallam. Semuanya adalah sifat yang tercela bagi Allah seperti mati, tidur, bodoh, lupa, dan lemah.
Semua sifat salbi yang ditolak oleh Allah bagi diri-Nya harus kita tolak dengan menetapkan kesempurnaan lawan dari sifat salbi tersebut. Karena menafikan suatu sifat begitu saja adalah ketidak-sempurnaan.
            Contohnya, Allah tidak mengantuk, tidak tidur dan tidak mati, menunjukkan sifat kehidupan bagi Allah yang sangat sempurna.

            Kaedah yang keempat:
الصفات الثبوتية صفات مدح وكمال، فكلما كثرت وتنوعت دلالتها ظهر من كمال الموصوف بها ما هو أكثر.
أما الصفات السلبية فلم تذكر غالبا إلا في الأحوال التالية :
الأولى : بيان عموم كماله، كما في قوله تعالى {ليس كمثله شيء}
الثانية : نفي ما ادعاه في حقه الكاذبون، كما في قوله تعالى {أن دعوا للرحمن ولدا ، وما ينبغي للرحمن أن يتخذ ولدا} [مريم: 91-92]
الثالثة : دفع توهم نقص من كماله فيما يتعلق بهذا الأمر المبين، كما في قوله تعالى {وما خلقنا السماء والأرض وما بينهما لاعبين} [الدخان: 38]
Sifat tsubutiyah adalah sifat yang terpuji dan sempurna, sehingga makin banyak jumlahnya maka akan nampak kesempurnaan pemilik sifat tersebut.
Adapun sifat salbiyah Allah tidak menyebutnya kecuali pada beberapa kondisi:
Pertama: Saat menjelaskan kesempurnaanya secara umum, seperti pada firman-Nya: "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia" . (Asy-syuura: 11)
Kedua: Saat membantah tuduhan para pembohong kepada-Nya, seperti pada firman-Nya: "Karena mereka menda'wakan Allah yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak" .
Ketiga: Saat menjegah adanya anggapan cacat dari kesempurnaan-Nya yang berkaitan dengan masalah ini yang sudah begitu jelas, seperti pada firman-Nya: "Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main" .
Oleh karena itu, ketika Allah menyebutkan sifat tsubutiyah, Allah menyebutkannya secara detail. Sedangkan ketika menyebutkan sifat salbiyah, Allah menyebutkannya secara global. Karena penyebutan sifat salbiyah secara detail adalah ketidak-sempurnaan.

Kaedah yang kelima:
الصفات الثبوتية تنقسم إلى قسمين: ذاتية وفعلية.
فالذاتية : هي التي لم يزل ولا يزال متصفا بها كالعلو والحكمة والوجه واليدين.   
والفعلية : وهي التي تتعلق بمشيئته، إن شاء فعلها وإن شاء لم يفعلها كالاستواء والنزول .
Sifat tsubutiyah terbagi dua: zatiyah dan fi'liyah.
Sifat zatiyah adalah sifat yang yang selamanya dimiliki oleh Allah, seperti sifat maha tinggi, penuh hikmah, memiliki wajah dan dua tangan.
Adapun sifat fi'liyah adalah sifat yang bergantung pada kehendak Allah, jika dikehendaki maka akan dilakukan, dan jika tidak maka Allah tidak melakukannya, seperti sifat bersemayam, dan turun.
Ada pula sifat Allah yang tergolong sifat zatiyah dari satu sudut pandang dan juga tergolong sifat fi'liyah dari sudut pandang yang lain. Seperti sifat "الكلام", ditinjau dari segi asalnya sifat ini tergolong sifat zatiyah karena Allah selamanya memiliki sifat "berbicara", sedangkan ditinjau dari segi pelaksanaanya, sifat ini tergolong dalam sifat fi'liyah karena Allah berbicara sesuai kehendak-Nya dengan suara dan huruf.
Sifat zatiyah ada dua macam: ma'naawy seperti " الحياة ، والعلم ، والقدرة ", dan khabary seperti " العينين ، والساق ، والأصابع ".
            Boleh bersumpah dengan sifat Allah yang zatiyah ma'nawiyah, dan tidak boleh dengan sifat zatiyah khabariyah kecuali sifat " wajah " karena terkadang dipergunakan untuk menunjukkan zat Allah (ar-rahman:27).

            Kaedah yang keenam:
يلزم في إثبات الصفات التخلي عن محذورين عظيمين : التمثيل والتكييف. قال تعالى : {أفمن يخلق كمن لا يخلق أفلا تذكرون} [النحل: 17] ، {ولم يكن له كفوا أحد}.
Ketika menetapkan sifat bagi Allah, harus dihindari dua larangan yang berbahaya: At-Tamtsil dan at-takyiif. Allah berfirman: "Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa) ? Maka Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran".
"Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia." (al-ikhlash:4)
At-tamtsil adalah menyerupakan sifat Allah dengan sifat makluk. Allah berfirman yang artinya: "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat". (Asy-syuura: 11)
At-takyiif adalah menggambarkan bantuk dan cara kerja sifat Allah. Allah berfirman yang artinya: "Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya". (Al-israa: 36)
Sifat Allah punya kaefiyah tapi kita tidak mengetahuinya. Sebagaimana kita tidak mengetahui kaefiyah zat Allah, begitupula kita tidak mengetahui kaefiyah sifat Allah.
            Ada tiga cara untuk mengetahui kaefiya sesuatu: yaitu dengan melihatnya, atau dengan melihat serupanya, atau ada informasi yang pasti kebenarannya.
            Apakah ada yang pernah melihat Allah? Atau adakah serupa-Nya yang bisa dilihat? Atau pernahkah digambarkan bentuk sifat Allah dalam Al-Qur'an atau hadits?
            Kalau tidak, maka jangan sekali-kali ingin mengetahui atau menentukan bagaimana sifat Allah yang Maha Esa lagi Maha Sempurna.
           
Kaedah yang ketujuh:
صفات الله تعالى توقيفية لا مجال للعقل فيها، فلا نثبت لله تعالى من الصفات إلا ما دلت الكتاب والسنة على ثبوته . قال تعالى {قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ} [الأعراف: 33]
ولدلالة الكتاب والسنة على ثبوت الصفة ثلاثة أوجه :
الأول: التصريح بالصفة كالعزة والقوة والرحمة والبطش والوجه واليدين ونحوها.
الثاني: تضمن الاسم لها مثل: الغفور متضمن للمغفرة ونحو ذلك.
الثالث: التصريح بفعل أو وصف دال عليها: كالاستواء على العرش، والنزول إلى السماء الدنيا، والمجيء للفصل بين العباد يوم القيامة، والانتقام من المجرمين.
Untuk menetapkan sifat Allah harus tauqifiyah, akal tidak punya hak dalam hal ini. Maka tidak boleh kita menetapkan suatu sifat bagi Allah kecuali ada dalil dari Al-Qur'an atau hadits yang sahih. Allah berfirman yang artinya: "Katakanlah: "Tuhanku Hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." (Al-A'raaf: 33)
Menyifati Allah tanpa landasan wahyu tergolong mengada-adakan terhadap Allah tanpa dasar pengetahuan, hukumnya haram seperti disebutkan dalam ayat di atas.
            Surga dan neraka adalah makluk yang diciptakan oleh Allah, tidak seorang pun yang mengetahui hakikatnya. Begitu pula hakikat ruh yang dekat dengan kita, akal tidak mampu megetahui bagaimana sifatnya, apalagi untuk mengetahui sifat Allah yang menciptakan surga, neraka, dan ruh.
            Al-Qur'an dan hadits dalam menentukan sifat Allah ada tiga cara:
            Pertama: Dengan jelas menyebutkan sifat, seperti sifat keagungan, kekuatan, rahmat, menghukum, wajah, dan dua tangan.
            Kedua: Kandungan sifat dari nama, seperti: Nama "Al-Gafur" yang Maha Pengampun, mengandung sifat memberi ampunan.
            Ketiga: Dengan jelas menyebutkan perbuatan atau sifat yang dikandungnya, seperti: bersemayam di atas 'arsy, turun ke langit dunia, datang memisahkan antara hamba pada hari kiamat, dan menyiksa orang-orang jahat.

Kaedah dalil nama dan sifat Allah
Kaedah yang pertama:
الأدلة التي تثبت بها أسماء الله تعالى وصفاته هي كتاب الله تعالى وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم، فلا يثبت أسماء الله وصفاته بغيرهما.
Dalil yang bisa dipakai untuk menetapkan nama dan sifat Allah adalah Al-Qur'an dan hadits sahih, tidak boleh selain keduanya.
Semua yang ditetapkan oleh Allah berupa nama dan sifat bagi-Nya baik dalam Al-Qur'an maupun dalam As-Sunnah yang shahih harus kita imani tampa ada tamtsil, takyiif, tahriif, ta'wiil, tafwiid, dan ta'thiil.
Dan apa yang Ia nafikan harus pula kita nafikan. Adapun sifat atau nama yang tidak ditetapkan oleh Allah dan tidak pula Ia nafikan, maka kita harus mendiamkannya sebagaimana Allah mendiamkannya.
            Contoh: Allah memiliki betis "الساق" (al-qalam:42), apakah Allah juga memiliki paha?
            Jawabanya: kita tidak bisa mengatakan "ya", tidak juga mengatakan "tidak", karena kita tidak mempunyai dalil dari Al-Qur'an maupun As-Sunnah yang sahih.

Kaedah yang kedua:
الواجب في نصوص القرآن والسنة إجراؤها على ظاهرها دون تحريف .
Kewajiban kita terhadap nash Al-Qur'an dan hadits adalah mengimaninya sesuai dengan lafadz dan makna yang dikandungnya tampa ada tahrif.
Tahriif adalah menyelewengkan lafadz atau makna dari suatu nash tampa dalil. Contoh penyelewengan lafadz, seperti pada firman Allah (وكلم اللهُ موسى تكليما) dengan me-nasab lafadz "اللهَ" yang seharusnya marfuu'.
            Contoh penyelewengan makna, mengartikan sifat "الاستواء" dengan makna "الاستيلاء" , sifat "اليد" dengan makna "القوة" atau "القدرة", sifat "الوجه" dengan makna "الرضا".
           
Kaedah yang ketiga:
ظواهر نصوص الصفات معلومة لنا باعتبار ومجهولة باعتبار آخر، فباعتبار المعنى هي معلومة، وباعتبار الكيفية التي هي عليها مجهولة.
Secara dzahir nash-nash sifat bisa diketahui dari satu sisi dan tidak bisa diketahui dari sisi lain. Dari sisi maknanya bisa diketahui, tapi dari sisi bagaimana bentuk sifatnya kita tidak bisa ketahui.
Contoh: sifat wajah, kita tahu maknanya tapi tidak ada yang tahu bagaimana gambaran wajah Allah.
Qaedah ini merupakan bantahan bagi golongan At-Tafwiid yang berpendapat bahwa semua nash-nash yang berbicara tentang sifat Allah, tidak ada yang mengetahui maknanya kecuali Allah semata.
            Allah berfirman yang artinya: "Sesungguhnya kami menjadikan Al Quran dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya)". (Az-Zukhruf: 3)
            "Dan Sesungguhnya Al Quran Ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta Alam, Dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), Ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, Dengan bahasa Arab yang jelas. (asy-syu'araa': 192-195)

            Kaedah yang keempat:
ظاهر النصوص ما يتبادر منها إلى الذهن من المعاني، وهو يختلف بحسب السياق وما يضاف إليه الكلام.
فالكلمة الواحدة يكون لها معنى في سياق، ومعنى آخر في سياق، وتركيب الكلام يفيد معنى على وجه ومعنى آخر على وجه.
Dzahir nash adalah makna yang langsung tergambar di otak, yang bisa berbeda sesuai penggunaannya atau kata yang menggandengnya.
Maka satu kata akan menunjukkan satu makna pada suatu kalimat dan makna baru pada kalimat yang lain. Begitu pula susunan kata pada suatu kalimat akan menunjukkan satu makna, dan susunan kata pada kalimat lain akan menunjukkan makna yang berbeda.
Contoh: kata "mata", maknanya langsung tergambar di otak, namun jika disandarkan kepada Allah (mata Allah) dan disandarkan kepada manusia (mata manusia), maka makna "mata" dan bentuknya akan berbeda seperti perbedaan zat Allah dan manusia.

Wallahu a'lam!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...