Jumat, 13 September 2013

Keistimewaan kota Mekah

بسم الله الرحمن الرحيم

Beberapa keistimewaan yang diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’aala pada kota Mekah:

Allah bersumpah demi kota Mekah

{وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ} [التين: 3]
Dan demi kota (Mekah) Ini yang aman. [At-Tiin:3]
{لَا أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ . وَأَنْتَ حِلٌّ بِهَذَا الْبَلَدِ} [البلد: 1-2]
Aku benar-benar bersumpah dengan kota Ini (Mekah), dan kamu (Muhammad) bertempat di kota Mekah ini. [Al-Balad: 1-2]

Tempat yang aman dan diberkahi

{إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ . فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَقَامُ إِبْرَاهِيمَ وَمَنْ دَخَلَهُ كَانَ آمِنًا وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ} [آل عمران: 96-97]
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) “maqam” Ibrahim (tempat nabi Ibrahim ‘alaihissalam berdiri membangun Ka'bah); barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. [Ali ‘Imran: 96-97]
{وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ . وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَذَا بَلَدًا آمِنًا وَارْزُقْ أَهْلَهُ مِنَ الثَّمَرَاتِ مَنْ آمَنَ مِنْهُمْ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ قَالَ وَمَنْ كَفَرَ فَأُمَتِّعُهُ قَلِيلًا ثُمَّ أَضْطَرُّهُ إِلَى عَذَابِ النَّارِ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ} [البقرة: 125-126]
Dan (ingatlah), ketika kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan jadikanlah sebahagian “maqam” Ibrahim tempat shalat. Dan telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian. Allah berfirman: "Dan kepada orang yang kafirpun Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku paksa ia menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali". [Al-Baqarah: 125-126]

Ka’bah kiblat umat Islam

{قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ} [البقرة: 144]
Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. [Al-Baqarah:144]

Mekah kota yang suci (haram)

{جَعَلَ اللَّهُ الْكَعْبَةَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ قِيَامًا لِلنَّاسِ} [المائدة: 97]
Allah telah menjadikan Ka'bah, rumah suci itu (al-haram) sebagai pusat (peribadatan dan urusan dunia) bagi manusia. [Al-Maidah:97]
{إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ رَبَّ هَذِهِ الْبَلْدَةِ الَّذِي حَرَّمَهَا وَلَهُ كُلُّ شَيْءٍ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ } [النمل: 91]
Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri Ini (Mekah) yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku termasuk orang-orang yang berserah diri. [An-Naml:91]

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hari pembebasan kota Mekah:
« فَإِنَّ هَذَا بَلَدٌ حَرَّمَ اللَّهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ، وَهُوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، وَإِنَّهُ لَمْ يَحِلَّ القِتَالُ فِيهِ لِأَحَدٍ قَبْلِي، وَلَمْ يَحِلَّ لِي إِلَّا سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، فَهُوَ حَرَامٌ بِحُرْمَةِ اللَّهِ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ، لاَ يُعْضَدُ شَوْكُهُ، وَلاَ يُنَفَّرُ صَيْدُهُ، وَلاَ يَلْتَقِطُ لُقَطَتَهُ إِلَّا مَنْ عَرَّفَهَا، وَلاَ يُخْتَلَى خَلاَهَا»
“Sesungguhnya kota ini telah disucikan oleh Allah pada hari Ia menciptakan langit dan bumi, dan ia akan tetap menjadi kota suci atas pensucian Allah sampai hari kiamat, dan sesungguhnya tidak halal berperang di dalamnya bagi seseorang sebelumku, dan tidak halal bagiku kecuali beberapa saat di siang hari, kemudian ia akan tetap menjadi kota yang suci atas pensucian Allah sampai hari kiamat, tidak boleh ditebang pohonnya, tidak boleh dikejar hewan buruannya, dan tidak boleh dipungut barang temuannya kecuali bagi yang ingin mencari pemiliknya, dan tidak boleh dicabut rumputnya”.
Al-‘Abbas berkata: Ya Rasulullah kecuali Al-Idzkhir (jenis rumput yang ada di Mekah) karena ia dipakai oleh pandai besi mereka (untuk menghidupkan api) dan untuk atap rumah mereka!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِلَّا الإِذْخِرَ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Kecuali Al-Idzkhir”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Ketika Allah membebaskan kota Mekah bagi Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam, Rasulullah berdiri di hadapan orang-orang kemudian bersyukur dan memuji Allah, kemudian bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ حَبَسَ عَنْ مَكَّةَ الفِيلَ، وَسَلَّطَ عَلَيْهَا رَسُولَهُ وَالمُؤْمِنِينَ، فَإِنَّهَا لاَ تَحِلُّ لِأَحَدٍ كَانَ قَبْلِي، وَإِنَّهَا أُحِلَّتْ لِي سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ، وَإِنَّهَا لاَ تَحِلُّ لِأَحَدٍ بَعْدِي، فَلاَ يُنَفَّرُ صَيْدُهَا، وَلاَ يُخْتَلَى شَوْكُهَا، وَلاَ تَحِلُّ سَاقِطَتُهَا إِلَّا لِمُنْشِدٍ، وَمَنْ قُتِلَ لَهُ قَتِيلٌ فَهُوَ بِخَيْرِ النَّظَرَيْنِ، إِمَّا أَنْ يُفْدَى وَإِمَّا أَنْ يُقِيدَ»
“Sesungguhnya Allah menahan tentara gajah dari Mekah, dan membolehkan bagi Rasul-Nya dan orang-orang beriman, sesungguhnya ia tidak halal bagi siapapun sebelumku, dan ia dihalalkan untukku beberapa saat di siang hari, dan ia tidak halal bagi siapapun setelahku. Maka tidak boleh dikejar hewan buruannya, tidak boleh ditebang pohonnya, dan tidak boleh diambil barang temuannya kecuali bagi yang ingin mencari pemiliknya, dan barangsiapa yang dibunuh keluarganya maka ia berhak memilih dua pilihan: Menerima diayah (denda) atau hukum kisas”.
Kemudian Al-Abbas berkata: Kecuali Al-Idzkhir, karena sesungguhnya kami menjadikannya untuk kuburan kami dan rumah kami!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِلَّا الإِذْخِرَ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Kecuali Al-Idzkhir”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«لَا يَحِلُّ لِأَحَدِكُمْ أَنْ يَحْمِلَ بِمَكَّةَ السِّلَاحَ» [صحيح مسلم]
“Tidak halal bagi seorang dari kalian untuk mengankat senjata (berperang) di Mekah”. [Sahih Muslim]

Ancaman bagi yang ingin melakukan kejahatan di Mekah

{إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ} [الحج: 25]
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidilharam yang telah kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih. [Al-Hajj:25]

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
" أَبْغَضُ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ ثَلاَثَةٌ: مُلْحِدٌ فِي الحَرَمِ، وَمُبْتَغٍ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةَ الجَاهِلِيَّةِ، وَمُطَّلِبُ دَمِ امْرِئٍ بِغَيْرِ حَقٍّ لِيُهَرِيقَ دَمَهُ " [صحيح البخاري]
“Manusia yang paling dibenci oleh Allah ada tiga: Yang melakukan kejahatan di kota Haram (Mekah), yang melakukan dalam Islam amalan Jahiliyah, dan yang menuntut darah seseorang tanpa hak untuk ditumpahkan darahnya”. [Sahih Bukhari]

Dari Umair bin Qatadah radhiyallahu ‘anhu; Seorang laki-laki bertanya: Ya Rasulullah, yang manakah dosa besar itu?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab:
«هُنَّ تِسْعٌ»، منها: «وَعُقُوقُ الْوَالِدَيْنِ الْمُسْلِمَيْنِ، وَاسْتِحْلَالُ الْبَيْتِ الْحَرَامِ قِبْلَتِكُمْ أَحْيَاءً وَأَمْوَاتًا» [سنن أبي داود: حسنه الألباني]
“Ada sembilan”, ... diantaranya: “Durhaka kepada kedua orang tua yang muslim, dan menghalalkan (melakukan pelanggaran) di Baitulharam, yaitu kiblat kalian semasa hidup dan ketika mati”. [Sunan Abi Daud: Hasan]

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
" إِنَّهُ سَيُلْحِدُ فِيهِ رَجُلٌ مِنْ قُرَيْشٍ، لَوْ وُزِنَتْ ذُنُوبُهُ بِذُنُوبِ الثَّقَلَيْنِ لَرَجَحَتْ " [مسند أحمد: صحيح]
“Sesungguhnya akan ada yang melakukan kejahatan di Mekah seorang dari Quraisy, andai dosanya ditimbang bersama dengan dosa jin dan manusia maka dosanya akan lebih berat”. [Musnad Ahmad: Sahih]

Dalam riwayat lain:
«يَلْحَدُ رَجُلٌ بِمَكَّةَ يُقَالُ لَهُ عَبْدُ اللَّهِ عَلَيْهِ نِصْفُ عَذَابِ الْعَالَمِ» [مسند البزار: حسنه الألباني]
“Seseorang melakukan kejahatan di Mekah, namanya Abdullah, ia mendapatkan separuh dari siksaan alam”. [Musnad Al-Bazzaar: Hasan]

Tempat yang paling baik dan paling dicintai oleh Allah

Abdullah bin ‘Adiy bin Hamraa’ radhiyallahu ‘anhuberkata: Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdiri di Al-Jazwarah dan bersabda:
«وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ، وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ، وَلَوْلَا أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ» [سنن الترمذي: صحيح]
“Demi Allah, sesungguhnya engkau (Mekah) adalah bumi Allah yang terbaik, dan bumi Allah yang paling dicintai oleh Allah, dan seandainya aku tidak dipaksa keluar meninggalkanmu maka aku tidak akan keluar”. [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Cinta Rasulullah kepada Mekah

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Mekah:
«مَا أَطْيَبَكِ مِنْ بَلَدٍ، وَأَحَبَّكِ إِلَيَّ، وَلَوْلَا أَنَّ قَوْمِي أَخْرَجُونِي مِنْكِ مَا سَكَنْتُ غَيْرَكِ» [سنن الترمذي: صحيح]
“Sungguh engkau adalah kota yang terbaik, dan yang paling aku cintai. Seandainya saja kaumku tidak mengusirku darimu maka aku tidak akan menempati selainmu”. [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Orang beriman mencintainya

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a:
«اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا المَدِينَةَ كَمَا حَبَّبْتَ إِلَيْنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Ya Allah tanamkanlah rasa cinta pada kami untuk Madinah sebagaimana Engkau menanamkan rasa cinta pada kami untuk Mekah atau lebih”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Tidak dimasuki Dajjal

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«لَيْسَ مِنْ بَلَدٍ إِلَّا سَيَطَؤُهُ الدَّجَّالُ، إِلَّا مَكَّةَ، وَالمَدِينَةَ، لَيْسَ لَهُ مِنْ نِقَابِهَا نَقْبٌ، إِلَّا عَلَيْهِ المَلاَئِكَةُ صَافِّينَ يَحْرُسُونَهَا» [صحيح البخاري ومسلم]
"Tidak ada tempat kecuali Dajjal akan menginjaknya, kecuali Mekah dan Madinah. Tidak ada jalan memasukinya kecuali ada malaikat yang berbaris menjaganya". [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari seorang laki-laki dari kaum Anshar radhiyallahu ‘anhu, salah seorang sahabat Rasulullah; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
" أَنْذَرْتُكُمُ الْمَسِيحَ وَهُوَ مَمْسُوحُ الْعَيْنِ ـ قَالَ: أَحْسِبُهُ قَالَ الْيُسْرَى ـ يَسِيرُ مَعَهُ جِبَالُ الْخُبْزِ وَأَنْهَارُ الْمَاءِ، عَلَامَتُهُ يَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا، يَبْلُغُ سُلْطَانُهُ كُلَّ مَنْهَلٍ، لَا يَأْتِي أَرْبَعَةَ مَسَاجِدَ: الْكَعْبَةَ، وَمَسْجِدَ الرَّسُولِ، وَالْمَسْجِدَ الْأَقْصَى، وَالطُّورَ " [مسند أحمد: صحيح]
“Aku memperingatkan kalian akan Al-Masiih (Dajjal), matanya buta, berjalan bersamanya gunung roti dan sungai air, tandanya ia tinggal di bumi selama 40 pagi, kekuasaannya mencapai semua tempat, ia tidak bisa mendatangi empat mesjid: Ka’bah, mesjid Rasulullah, mesjid Al-Aqsha, dan At-Thuur”. [Musnad Ahmad: Sahih]

Tempat ibadah yang pertama

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhubertanya: Ya Rasulullah, mesjid manakah yang pertama kali dibangun di bumi?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
«المَسْجِدُ الحَرَامُ»
“Mesjid Al-Haram!”
Abu Dzar bertanya lagi: Kemudian yang mana?
Rasulullah menjawab:
«المَسْجِدُ الأَقْصَى»
“Mesjid Al-Aqshaa!”
Abu Dzar bertanya lagi: Berapa lama jarak antara keduanya?
Rasulullah menjawab:
«أَرْبَعُونَ سَنَةً، ثُمَّ أَيْنَمَا أَدْرَكَتْكَ الصَّلاَةُ بَعْدُ فَصَلِّهْ، فَإِنَّ الفَضْلَ فِيهِ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Empat puluh tahun, kemudian dimana saja engkau mendapati waktu salat maka salatlah di situ, karena sesungguhnya keutamaan itu ada pada tempat itu”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Menikmati ibadah di baitullah al-haram

Dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
اسْتَمْتِعُوا مِنْ هَذَا الْبَيْتِ، فَإِنَّهُ قَدْ هُدِمَ مَرَّتَيْنِ، وَيُرْفَعُ فِي الثَّالِثَةِ [صحيح ابن حبان]
“Rasakanlah kenikmatan beribadah di rumah ini (ka'bah), karena sesungguhnya ia telah diruntuhkan sebanyak dua kali, dan akan diangkat pada yang ketiga kalinya”. [Sahih Ibnu Hibban]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
" لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: المَسْجِدِ الحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَى " [صحيح البخاري ومسلم]
“Tidak boleh memaksakan diri untuk pergi (ke suatu tempat dengan niat ibadah) kecuali ke tiga mesjid: Mesjid Al-Haram, mesjid Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan mesjid Al-Aqshaa”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Keutamaan salat di mesjid al-haram

Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
صَلَاةٌ فِي مَسْجِدِي أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلَّا الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَصَلَاةٌ فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ [سنن ابن ماجه: صحيح]
“Salat di mesjidku lebih baik dari 1000 salat di mesjid selainnya, kecuali mesjid al-haram. Dan salat di mesjid al-haram lebih baik dari 100.000 salat di mesjid selainnya. [Sunan Ibnu Majah: Sahih]

Asy-Syariid radhiyallahu ‘anhu datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya aku telah bernazar jika Allah membebaskan kota Mekah untukmu maka aku akan salat di Baitul Maqdis.
Maka Rasulullah bersabda:
«هَا هُنَا فَصَلِّ»
“Di sini saja engaku salat!”
Kemudian Asy-Syariid mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bersabda:
«هَا هُنَا فَصَلِّ»
“Di sini saja engaku salat!”
Kemudian Rasulullah berkata kepadanya untuk yang keempat kalinya:
" اذْهَبْ فَوَ الَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ صَلَّيْتَ هَاهُنَا لَأَجْزَأَ عَنْكَ، ثُمَّ قَالَ: صَلَاةٌ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَفْضَلُ مِنْ مِائَةِ أَلْفِ صَلَاةٍ " [مصنف عبد الرزاق الصنعاني: صحيح]
“Pergilah, demi Yang jiwaku ditangan-Nya, seandainya engkau salat di sini maka itu akan memenuhi nazarmu”, kemudian bersabda: “Salat di mesjid Al-Haram ini lebih baik daripada 100.000 salat”. [Mushannaf Abdurrazzaq: Sahih]

Keutamaan tawaf

Ubaid bin Umair rahimahullah bertanya kepada Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma: Wahai Abu Abdurrahman, engkau berdesakan memasuki kerumunan untuk menyentuh hajar aswad dan ruknul Yamaniy (sudut ka'bah sebelum sudut hajar aswad), aku tidak melihat seorang sahabat Rasulullah melakukan seperti itu?
Ibnu Umar menjawab: Aku melakukannya karena aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ مَسْحَهُمَا كَفَّارَةٌ لِلْخَطَايَا ، مَنْ طَافَ بِهَذَا البَيْتِ أُسْبُوعًا فَأَحْصَاهُ كَانَ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ ، لَا يَضَعُ قَدَمًا وَلَا يَرْفَعُ أُخْرَى إِلَّا حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ خَطِيئَةً وَكَتَبَ لَهُ بِهَا حَسَنَةً [سنن الترمذي: صحيح]
“Sesungguhnya menyentuh keduannya adalah penghapus dosa-dosa. Barangsiapa yang tawaf di rumah ini (ka'bah) 7 kali maka pahalanya senilai dengan memerdekakan budak. Ia tidak meletakkan satu kaki dan mengangkat yang lainnya kecuali Allah menghapuskan darinya satu kesalahan dan mencatat untuknya satu kebaikan”. [Sunan Tirmidzi: Sahih]

Dalam riwayat lain:
مَنْ طَافَ بِالْبَيْتِ وَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ كَانَ كَعِتْقِ رَقَبَةٍ [سنن ابن ماجه: صحيح]
“Barangsiapa yang tawaf di ka'bah kemudian salat 2 raka'at maka pahalanya seperti memerdekakan  budak”. [Sunan Ibnu Majah: Sahih]

Keistimewaan hajar Aswad dan maqam Ibrahim

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«نَزَلَ الحَجَرُ الأَسْوَدُ مِنَ الجَنَّةِ، وَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ اللَّبَنِ فَسَوَّدَتْهُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ» [سنن الترمذي: صحيح]
“Hajar Aswad turun dari surga, dan ia lebih sangat putih dari pada susu, kemudian dihitamkan oleh dosa-dosa anak cucu Adam”. [Sunan Tirmidzi: Sahih]

Abdullah bin 'Amr radhiyallahu ‘anhuma berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda saat ia menyandarkan pundaknya ke ka'bah:
«الرُّكْنُ وَالْمَقَامُ يَاقُوتَتَانِ مَنْ يَوَاقِيتِ الْجَنَّةِ، وَلَوْلَا أَنَّ اللَّهَ طَمَسَ عَلَى نُورِهِمَا لَأَضَاءَتَا مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ» [صحيح ابن حبان]
“Hajar Aswad dan maqam Ibrahim adalah dua permata dari permata surga, dan seandainya Allah tidak melenyapkan cahanya keduannya maka ia akan menerangi antara timur dan barat”. [Sahih Ibnu Hibban]

Pahala menyentuh hajar aswad

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda tentang hajar aswad:
وَاللَّهِ لَيَبْعَثَنَّهُ اللَّهُ يَوْمَ القِيَامَةِ لَهُ عَيْنَانِ يُبْصِرُ بِهِمَا، وَلِسَانٌ يَنْطِقُ بِهِ، يَشْهَدُ عَلَى مَنْ اسْتَلَمَهُ بِحَقٍّ [سنن الترمذي: صحيح]
“Demi Allah, Allah akan mengutus hajar aswad pada hari kiamat, ia memiliki dua mata untuk melihat dan lidah untuk berbicara, bersaksi atas orang-orang yang menyentuhnya dengan benar”. [Sunan Tirmidzi: Sahih]

Keutamaan air zamzam

Dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهَا مُبَارَكَةٌ، إِنَّهَا طَعَامُ طُعْمٍ [صحيح مسلم]
“Sesungguhnya air zamzam penuh berkah, ia bisa mengenyangkan seperti makanan”. [Sahih Muslim]

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ مَاءٍ عَلَى وَجْهِ الْأَرْضِ مَاءُ زَمْزَمَ , فِيهِ طَعَامٌ مِنَ الطُّعْمِ , وَشِفَاءٌ مِنَ السُّقْمِ [المعجم الأوسط: حسنه الألباني]
“Air yang paling baik di muka bumi ini adalah air zamzam, bisa mengenyangkan seperti makanan dan obat dari penyakit”. [Al-Mu'jam Al-Ausath: Hasan]

Abu Jamrah Adh-Dhuba’iy rahimahullah berkata: Suatu hari aku duduk bersama Ibnu Abbas di Mekah, kemudian aku terkena demam, maka Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata: Dinginkan demammu dengan air zamzam karena sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«الحُمَّى مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ فَأَبْرِدُوهَا بِمَاءِ زَمْزَمَ» [صحيح البخاري]
“Al-Humma (penyakit demam) dari panas neraka jahannam, maka dinginkanlah dengan air zamzam”. [Sahih Bukhari]

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
" أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يحمل ماء زمزم في الأداوى والقرب وكان يصب على المرضى ويسقيهم " [سلسلة الأحاديث الصحيحة (2/ 543)]
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang membawa air zamzam dalam bejana dari kulit dan ia menyiramkannya pada orang sakit dan memberi mereka minum. [Silsilah hadits sahih]

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَاءُ زَمْزَمَ لِمَا شُرِبَ لَهُ [سنن ابن ماجه: صححه الألباني]
“Air zamzam jika diminum dengan niat apapun akan terkabulkan”. [Sunan Ibnu Majah: Sahih]

Keistimewaan mesjid Al-Khiif di Mina

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
صَلَّى فِي مَسْجِدِ الْخَيْفِ سَبْعُونَ نَبِيًّا [المعجم الأوسط: حسنه الألباني]
“Telah salat di mesjid Al-Khiif tujuh puluh nabi”. [Al-Mu’jam Al-Ausath: Hasan]

Orang musyrik dan kafir tidak boleh masuk Mekah

Zaid bin Utsai’ rahimahullah berkata: Aku bertanya kepada Ali dengan apa engkau diutus (oleh Rasulullah untuk disampaikan ketika haji)?
Ali radhiyallahu ‘anhu menjawab:
" بِأَرْبَعٍ: لَا يَدْخُلُ الجَنَّةَ إِلَّا نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ، وَلَا يَطُوفُ بِالبَيْتِ عُرْيَانٌ، وَلَا يَجْتَمِعُ المُسْلِمُونَ وَالمُشْرِكُونَ بَعْدَ عَامِهِمْ هَذَا، وَمَنْ كَانَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَهْدٌ فَعَهْدُهُ إِلَى مُدَّتِهِ، وَمَنْ لَا مُدَّةَ لَهُ فَأَرْبَعَةُ أَشْهُرٍ " [سنن الترمذي: صحيح]
“Dengan empat perkara: Tidak akan masuk surga kecuali ia seorang muslim, tidak boleh tawaf di ka’bah dalam keadaan telanjang, tidak bercampur umat Islam dengan musyrik (di Mekah) setelah tahun ini, dan barangsiapa yang punya perjanjian antara ia dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka perjanjiannya sampai batas waktu yang telah disepakati, dan barangsiapa yang tidak punya batas waktu, maka waktunya sampai empat bulan”. [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Penduduk Mekah adalah penduduk Allah

Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma berkata: Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus ‘Attab bin Asiid radhiyallahu ‘anhu kepada penduduk Mekah, dan berkata:
" هَلْ تَدْرِي إِلَى مَنْ أَبْعَثُكَ ؟ أَبْعَثُكَ إِلَى أَهْلِ اللهِ، فَانْهَهُمْ عَنْ شَرْطَيْنِ فِي بَيْعٍ، وَبَيْعٍ وَسَلَفٍ ، وَرِبْحِ مَا لَمْ يُضْمَنْ، وَبَيْعِ مَا لَمْ يُقْبَضْ " [أخبار مكة للفاكهي: صححه الألباني]
“Apakah engkau tahu kepada siapa engkau aku utus? Aku mengutusmu kepada penduduk Allah, maka laranglah mereka akan dua syarat dalam satu jual beli, menjual sambil berutang, untung tanpa jaminan, dan menjual barang yang belum diambil”. [Akhbar Makkah karya Al-Faakihiy: Sahih]

Wallahu a'lam!

Referensi:
فضائل مكة والسكن فيها للحسن البصري

Lihat juga: Keistimewaan kota Madinah - Keistimewaan negeri Syam - Keutamaan haji dan umrah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...