Minggu, 30 Maret 2014

Keistimewaan Abdullah bin ‘Abbas

بسم الله الرحمن الرحيم


Abdullah bin ‘Abbas bin Abdul Muthalib Al-Qurasyiy Al-Haasyimiy, Abu Al-‘Abbas Al-Madaniy radhiyallahu ‘anhuma.
Beliau adalah anak paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lahir di Mekah tiga tahun sebelum hijrah Nabi.
Ia digelari “Al-Bahr” dan “Al-Habr” karena keluasan ilmunya. Salah seroang sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits, dan salah seorang “Al-‘Abaadilah” yang ahli fiqhi dari kalangan sahabat.
Beliau berumur tiga belas atau lima belas tahun ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, dan ia sendiri wafat pada tahun 68 hijriyah di Thaif dalam usianya yang ke 71 atau 72 tahun.

Diantara keistimewan yang dimilikinya:

Mendapatkan do’a Rasulullah

Ibnu 'Abbas radhiallahu 'anhuma berkata "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memelukku ke dada beliau seraya berdo'a:
«اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الحِكْمَةَ»
"Ya Allah, ajarkanlah anak ini hikmah".
Dalam riwayat lain; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berdo'a:
«اللَّهُمَّ عَلِّمْهُ الكِتَابَ» [صحيح البخاري]
" Ya Allah, ajarkanlah dia Al Kitab (al-Qur'an) ". [Sahih Bukhari]

Ibnu 'Abbas berkata: Pernah Nabi shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke dalam tempat buang hajat, lalu aku letakkan bejana berisi air.
Beliau lantas bertanya:
مَنْ وَضَعَ هَذَا ؟
"Siapa yang meletakkan ini?"
Aku lalu memberitahukannya, maka beliau pun bersabda:
اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ [صحيح البخاري]
"Ya Allah pandaikanlah dia dalam agama." [Sahih Bukhari]

Ibnu Abbas berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meletakkan tangannya di atas bahuku atau di atas pundaku, kemudian beliau berdoa;
«اللَّهُمَّ فَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَعَلِّمْهُ التَّأْوِيلَ» [مسند أحمد: صحيح]
Ya Allah fahamkanlah ia terhadap agama dan ajarilah ia ta`wil (penafsiran)." [Musnad Ahmad: Sahih]

Ibnu Abbas berkata:
«دَعَا لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُؤْتِيَنِي اللَّهُ الحِكْمَةَ مَرَّتَيْنِ» [سنن الترمذي: صحيح]
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mendo'akanku agar Allah memberiku Al Hikmah hingga dua kali." [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Ibnu Abbas berkata: Aku mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pada akhir malam, lalu aku shalat di belakang beliau, kemudian beliau meraih tanganku hingga menempatkanku sejajar dengan beliau. Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kembali pada shalatnya, aku mundur, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melanjutkan shalatnya. Selesai shalat beliau bertanya kepadaku:
" مَا شَأْنِي أَجْعَلُكَ حِذَائِي فَتَخْنِسُ؟ "
"Aku telah menempatkanmu sejajar denganku, namun mengapa engkau mundur?
Aku menjawab; Wahai Rasulullah, apakah pantas bagi seseorang shalat sejajar dengan engkau, padahal engkau adalah Rasulullah yang telah Allah anugerahkan kepadamu?
Rupanya Beliau kagum kepadaku karena ucapanku, lalu beliau berdoa untukku agar Allah menambahkan ilmu dan pemahaman kepadaku.
Ia Ibnu Abbas berkata; Kemudian aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidur hingga aku mendengar dari beliau tarikan suara nafasnya, kemudian Bilal datang dan berkata; Wahai Rasulullah, ayo dirikan shalat!
Maka beliau berdiri lalu shalat tanpa mengulangi wudlu. [Musnad Ahmad: Sahih]

Semangat dalam menuntut ilmu

Ibnu Abbas radliallahu 'anhu ia berkata: Ketika Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam wafat, aku mengatakan kepada seorang kabilah Anshar:
يَا فُلَانُ هَلُمَّ فَلْنَسْأَلْ أَصْحَابَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَإِنَّهُمُ الْيَوْمَ كَثِيرٌ
'Wahai fulan, kemarilah, mari kita bertanya kepada para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, jumlah mereka sekarang banyak.'
Ia berkomentar:
واعجبًا لَكَ يَا ابْنَ عَبَّاسٍ، أَتَرَى النَّاسَ يَحْتَاجُونَ إِلَيْكَ، وَفِي النَّاسِ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَرَى؟
'Aneh sekali kamu ini hai Ibnu Abbas, apakah kamu melihat orang-orang membutuhkan kamu, sementara dalam orang-orang ada para sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam yang kamu lihat? ',
Maka orang itu mengabaikan ajakanku, dan aku menuju apa yang aku cari. Jika aku peroleh informasi suatu hadits pada seseorang, segera aku temui, dan ia sementara tidur siang. Maka aku (menunggunya) menjadikan selendangku untuk bantal di depan pintu rumahnya, namun angin berhembus sampai debu mengenai wajahku, kemudian ia keluar dan melihatku', ia berkata:
يَا ابْنَ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ مَا جَاءَ بِكَ؟ أَلَا أَرْسَلْتَ إِلَيَّ فَآتِيَكَ؟
'Wahai anak paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apa yang membuatmu datang (ke sini)? Mengapa tidak kamu utus seseorang dan aku saja yang menemuimu? '
Aku menjawab:
لَا، أَنَا أَحَقُّ أَنْ آتِيَكَ
“Tidak, aku lebih layak untuk menemuimu!”, lalu aku menanyakannya suatu hadits.
Ibnu Abbas berkata: 'Orang yang aku ajak masih hidup hingga ia melihatku dikunjungi orang banyak (utuk menggali ilmu) ', kemudian orang tersebut berkata: 'Pemuda ini memang lebih cerdas dibandingkan aku' ". [Sunan Ad-Darimiy: Sahih]

Dimuliakan oleh Umar bin Khathab

Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma berkata: Umar pernah mengajakku dalam sebuah majlis orang dewasa, sehingga sebagian sahabat bertanya:
لِمَ تُدْخِلُ هَذَا الفَتَى مَعَنَا وَلَنَا أَبْنَاءٌ مِثْلُهُ؟
"Mengapa si anak kecil ini kau ikut sertakan, kami juga punya anak-anak kecil seperti dia?"
Umar menjawab:
«إِنَّهُ مِمَّنْ قَدْ عَلِمْتُمْ»
"Sesungguhnya ia seperti yang telah kalian ketahui"
Maka suatu hari Umar mengundang mereka dan mengajakku bersama mereka. Seingatku, Umar tidak mengajakku saat itu selain untuk mempertontonkan kepada mereka kualitas keilmuanku. Lantas Umar bertanya;
مَا تَقُولُونَ فِي إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالفَتْحُ، وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْوَاجًا حَتَّى خَتَمَ السُّورَةَ
Bagaimana komentar kalian tentang ayat "Jika pertolongan Allah dan kemenangan datang, dan kau lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, -hingga ahkir surat (An-Nashr 1-3)-”.
Sebagian sahabat berkomentar: "Kita diperintahkan agar memuji Allah dan meminta ampunan kepada-Nya, tepatnya ketika kita diberi pertolongan dan diberi kemenangan."
Sebagian lagi berkomentar; "kalau kami nggak tahu." Atau bahkan tidak berkomentar sama sekali.
Lantas Umar bertanya kepadaku; "Wahai Ibnu Abbas, beginikah kamu berkomentar mengenai ayat tadi?
Aku menjawab: Tidak!
Umar bertanya: Lalu komentarmu?
Ibnu Abbas menjawab;
هُوَ أَجَلُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْلَمَهُ اللَّهُ لَهُ: إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالفَتْحُ فَتْحُ مَكَّةَ، فَذَاكَ عَلاَمَةُ أَجَلِكَ: فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا
"Surat tersebut adalah pertanda wafat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sudah dekat, Allah memberitahunya dengan ayatnya: "Jika telah datang pertolongan Allah dan kemenangan", itu berarti penaklukan Makkah dan itulah tanda ajalmu (Muhammad), karenanya "Bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampunan, sesungguhnya Dia Maha Menerima taubat".
Umar berkata:
«مَا أَعْلَمُ مِنْهَا إِلَّا مَا تَعْلَمُ»
"Aku tidak tahu penafsiran ayat tersebut selain seperti yang kamu (Ibnu Abbas) ketahui." [Sahih Bukhari]

Sebaik-baik penafsir Al-Qur’an

Abdullah bin Mas’ud radhiallahu 'anhu berkata:
«نِعْمَ تُرْجُمَانُ الْقُرْآنِ ابْنُ عَبَّاسٍ» [مصنف ابن أبي شيبة: صحيح]
“Sebaik-baik penafsir Al-Qur’an adalah Ibnu ‘Abbas”. [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah: Sahih]

Wallahu a’lam!

Referensi:
الصحيح المسند من فضائل الصحابة للشيخ مصطفى العدوي


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...