Rabu, 28 Januari 2015

Hadits keutamaan wafat di hari Jum’at

بسم الله الرحمن الرحيم


Hadits tentang keutamaan wafat di hari atau malam Jum’at diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr secara marfuu’ dan mauquuf, Anas bin Malik, Jabir bin Abdillah, Aslam Al-Qurasyiy, Abu Hurairah, dan Ali bin Abi Thalib secara marfuu’.
Diriwayatkan juga dari Abu Ja’far Al-Baaqir, Ibnu Syihaab Az-Zuhriy, dan Al-Muthalib bin Abdillah bin Hanthab secara mursal.
Diriwayatkan juga dari tetangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam secara mauquuf.
Diriwayatkan juga dari perkataan Ikrimah bin Khalid Al-Makhzumiy, Abu Ubaidah bin ‘Uqbah, dan Al-Qasim bin Muhammad rahimahumullah.

Berikut penjelasannya:

A.     Hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma.

Diriwayatkan dari dua jalur sanad:

1.       Jalur Abu Qabiil Al-Mishriy.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitabnya Al-Musnad 11/226 no.6646 dan 11/627 no.7050, Abdu bin Humaid dalam kitab musnadnya no.323, Al-Marwaziy dalam kitabnya Al-Jum’ah wa fadhliha no.11, dan Al-Baihaqiy dalam kitabnya Itsbat ‘adzaab al-qabr no.156:

عن بَقِيَّة بن الوليد، حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ بْنُ سَعِيدٍ التُّجِيبِيُّ، سَمِعْتُ أَبَا قَبِيلٍ الْمِصْرِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِي، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وُقِيَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ»

Dari Baqiyah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Mu’awiyah bin Sa’id At-Tujiibiy, ia berkata: Aku mendengar Abu Qabiil Al-Mishriy berkata: Aku mendengar Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang wafat pada hari Jum’at atau malam Jum’at maka ia akan terlindungi dari cobaan (fitnah) kubur”.

Sanad ini lemah karena:

1)      Mu’awiyah bin Sa’id At-Tujiibiy[1], ia disebut oleh Ibnu Hibban dalam kitabnya Ats-Tsiqaat (9/166). Dilemahkan oleh Ad-Daraquthniy, dan Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Ia maqbuul (haditsnya diterima jika ada penguat).
2)      Abu Qabiil Al-Mashriy adalah Huyaiy bin Hani’ (w.128H)[2], ia dianggap tsiqah oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’in, Abu Zur’ah, Al-Fasawiy, Al-‘Ijliy, Ahmad bin Shalih Al-Mashriy, dan Ad-Daraquthniy.
Ibnu Hibban menyebutnya dalam kitab Ats-Tsiqaat (kumpuran perawi tsiqah) dan mengatakan bahwa ia terkadang melakukan kesalahan (كان يخطئ).
Abu Hatim berkata: Ia shalihul hadits (صالح الحديث).
As-Saajiy menyebutnya dalam kitab Adh-Dhu’afaa’ (kumpulan perawi lemah).
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata dalam At-Taqriib: Ia shaduuq dan terkadang keliru (يهم). Sedangkan dalam kitabnya Ta’jiil Al-Manfa’ah (1/853) beliau berkata: Abu Qabiil lemah dan banyak menukil dari buku-buku terdahulu.

2.       Jalur Rabi’ah bin Saif.

Jalur ini diriwayatkan dalam beberapa versi:

a.       Versi pertama: Rabi’ah langsung meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam kitabnya Al-Musnad 11/147 no.6582, At-Tirmidziy dalam kitabnya Al-Jami’ (sunan Tirmidziy) 3/378 no.1074, Al-Marwaziy dalam kitabnya Al-Jum’ah wa fadhliha no.12, dan Ath-Thahawiy dalam kitabnya Syarh Musykil Al-Atsar 1/250 no.277:

عن هِشَام بْنَ سَعْدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلَالٍ، عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ»

Dari Hisyam bin Sa’ad, dari Sa’id bin Abi Hilal, dari Rabi’ah bin Saif, dari Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim wafat pada hari Jum’at atau malam Jum’at kecuali Allah melindunginya dari fitnah (cobaan) kubut”.

Tirmidziy berkata: Hadits ini gariib, sanadnya tidak bersambung karena Rabi’ah bin Saif hanya meriwayatkan dari Abu Abdirrahman Al-Hubuliy, dari Abullah bin ‘Amr. Dan kami tidak mengetahui adanya Rabi’ah pernah mendengar hadits dari Abdullah bin ‘Amr.

Ath-Thahawiy berkata: Hadits ini terputus, karena sesungguhnya Rabi’ah tidak bertemu dengan Abdullah bin ‘Amr, ia hanya menerima hadits dari Abu Abdirrahman Al-Hubuliy dari Abdullah bin ‘Amr.

Sanad ini lemah karena:

1)      Terputus, Rabi’ah tidak bertemu dengan Abdullah bin ‘Amr.
2)      Hisyam bin Sa’ad Al-Madiiniy (w.160)[3]; dilemahkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Ma’in, An-Nasa’iy dan Ibnu ‘Adiy.
Al-‘Ijliy dan Adz-Dzahabiy mengatakan: Haditsnya hasan. As-Sajiy bekata: Ia shaduuq. Abu Zur’ah berkata: Ia seorang syekh yang jujur (محله الصدق).
Abu Hatim berkata: Haditnya boleh ditulis, tapi tidak bisa dijadikan hujjah.
Ya’quub bin Sufyan menyebutnya dalam kitab Adh-Dhu’afaa.
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Ia shaduuq dan melakukan beberapa kekeliruan (له أوهام).
Adz-Dzahabiy dalam kitabnya Miizaan Al-I’tidal (4/299) menyebutkan bahwa salah satu hadits mungkar yang diriwayatkan oleh Hisyam adalah hadits ini.
3)      Rabi’ah bin Saif Al-Ma’aafiriy (w.120)[4]; Dianggap tsiqah oleh Al-‘Ijliy.
An-Nasaiy berkata: Periwayatannya tidak mengapa (ليس به بأس). Dan dalam kitabnya As-Sunan ia melemahkannya.
Ad-Daraquthniy mengatakan: Ia shalih.
Ibnu Hibban menyebutnya dalam kitab Ats-Tsiqaat dan berkata: ia banyak melakukan kesalahan.
Imam Bukhari berkata: Ia meriwayatkan beberapa hadits mungkar.
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Ia shaduuq dan memiliki beberapa riwayat yang mungkar  (له مناكير).

b.      Versi kedua: Ada perantara antara Rabi’ah dengan Abdullah bin ‘Amr, yaitu ‘Iyyadh bin ‘Uqbah:

Diriwayatkan oleh Adz-Dzahabiy dalam kitabnya Siyar Al-A’laam 12/583:

عن هشام بن سعد، عن سعيد بن أبي هلال، عن ربيعة بن سيف، عن عياض بن عقبة الفهري، عن عبد الله بن عمرو: سمعت رسول الله -صلى الله عليه وسلم- يقول: (من مات ليلة الجمعة أو يوم الجمعة وقاه الله فتنة القبر) .

Dari Hisyam bin Sa’ad, dari Sa’id bin Abi Hilal, dari Rabi’ah bin Saif, dari ‘Iyaadh bin ‘Uqbah Al-Fihriy, dari Abdullah bin ‘Amr, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang wafat pada malam Jum’at atau hari Jum’at maka Allah akan melindunginya dari fitnah kubur”.

Adz-Dzahabiy berkata: Hadits ini ghariib.

Sanad ini juga lemah karena Hisyam bin Sa’ad dan ‘Iyaadh bin ‘Uqbah Al-Fihriy[5] seorang yang majhuul haal (tidak diketahui derajat haditsnya).

c.       Versi ketiga: Ada perantara antara Rabi’ah dengan Abdullah bin ‘Amr, yaitu Abdurrahman bin Qahzam dan Seorang dari warga Ash-Shidf:

Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam kitabnya Syarh Musykil Al-Atsar 1/252 no.279:

عن عَبْد اللهِ بن وَهْبٍ، حَدَّثَنِي اللَّيْث بن سَعْدٍ، عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ، أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ قَحْزَمٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ ابْنًا لِفَيَّاضِ بْنِ عُقْبَةَ تُوُفِّيَ يَوْمَ جُمُعَةٍ فَاشْتَدَّ وَجْدُهُ عَلَيْهِ فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الصِّدْقِ: يَا أَبَا يَحْيَى أَلَا أُبَشِّرُكَ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو سَمِعْتُهُ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فِي يَوْمِ جُمُعَةٍ أَوْ لَيْلَةِ جُمُعَةٍ إلَّا بَرِئَ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ "

Dari Abdullah bin Wahb, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Al-Laits bin Sa’ad, dari Rabi’ah bin Saif, bahwasanya Abdurrahman bin Qahzam menceritakan kepadanya bahwasanya anak dari Fayyadh bin ‘Uqbah wafat pada hari Jum’at dan ia sangat bersedih atasnya maka seorang dari warga Ash-Shidq (dalam riwayat lain: Ash-Shidf) berkata kepadanya: Wahai Abu Yahya maukah engkau kuberi kabar gembira dengan suatu yang aku dengar dari Abdullah bin ‘Amr? Aku mendengar ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim wafat pada hari Jum’at atau malam Jum’at kecuali ia selamat dari fitnah kubur”.

Versi yang lain:

Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam kitabnya Syarh Musykil Al-Atsar 1/252 no.280:

عن عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ، وَشُعَيْبُ بْنُ اللَّيْثِ، عَنِ اللَّيْثِ، حَدَّثَنَا خَالِدٌ يَعْنِي ابْنَ يَزِيدَ، عَنِ ابْنِ أَبِي هِلَالٍ، عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ، أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ قَحْزَمٍ أَخْبَرَهُ أَنَّ ابْنًا لِفَيَّاضِ بْنِ عُقْبَةَ , ثُمَّ ذَكَرَ مِثْلَهُ سَوَاءً.

Dari Abdillah bin Abdil Hakam dan Syu’aib bin Al-Laits, dari Al-Laits ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Khalid – yaitu: Ibnu Yaziid -, dari Ibnu Abi Hilal, dari Rabi’ah bin Saif bahwasanya Aburrahman bin Qahzam mengabarinya bahwasanya anak Fayyadh bin ‘Uqbah ..., (kemudian menyebutkan sama seperti riwayat hadits di atas).

Ath-Thahawiy berkata: Riwayat ini menambah dalam sanadnya beberapa rawiy antara Al-Laits dan Rabi’ah bin Saif, yaitu Khalid bin Yaziid dan Sa’id bin Abi Hilal. Dan riwayat ini lebih mendekati yang benar menurut kami. Wallahu a’lam!

Sanad ini lemah karena Abdurrahman bin Qahzam Al-Kaulaniy[6] adalah seorang yang majhuul haal (derajat haditsnya tidak diketahui).

Diriwatakan juga secara mauquuf sebatas perkataan Abdullah bin ‘Amr, oleh Al-Baihaqiy dalam kitabnya Itsbaat ‘adzaab al-qabr no.157:

عن ابْن وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ سِنَانِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الصدَفِيِّ، أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، كَانَ يَقُولُ: «مَنْ تُوُفِّيَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ وُقِيَ الْفَتَّانَ»

Dari Ibnu Wahb, ia berkata: Ibnu Lahi’ah mengabariku, dari Sinaan bin Abdirrahman Ash-Shadafiy; Bahwasanya Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash berkata: Barangsiapa yang wafat pada hari Jum’at atau malam Jum’at maka akan dilindungi dari fitnah.

Sanad ini lemah karena terputus, Sinaan (yang benar adalah Sayyarbin Abdirrahman Ash-Shadafiy, seorang yang shaduuq tapi tidak bertemu dengan sahabat Nabi.

B.      Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan melalui beberapa jalur (sanad):

1.       Jalur Yaziid Ar-Raqaasyiy:

Diriwayatkan oleh Abu Ya’laa dalam kitab musnadnya 7/146 no.4113:

عن عبد الله بن جعفر عَنْ وَاقِدِ بْنِ سَلَامَةَ، عَنْ يَزِيدَ الرَّقَاشِيِّ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وُقِيَ عَذَابَ الْقَبْرِ»

Dari Abdullah bin Ja’far, dari Waaqib bin Salaamah, dari Yaziid Ar-Raqaasyiy, dari Anas, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang waft pada hari Jum’at maka ia dilindungi dari azab (siksa) kubur”.

Hadits ini lemah karena Waaqid atau Waafid bin Salaamah[7]; Imam Bukhari berkata: Haditsnya tidak shahih. Dan Yaziid Ar-Raqqaasyiy[8], periwayatan haditsnya lemah.

2.       Jalur Abaan bin Abi ‘Ayyasy:

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam kitabnya Ta’ziyah Al-Muslim no.109:

عن الْحُسَيْن بن عُلْوَانَ عَنْ أَبَّانَ بْنِ أَبِي عَيَّاشٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَال رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَلَا يَنْجُو مِنْ ضَغْطَةِ الْقَبْرِ إِلَّا شَهِيدٌ أَوْ مَصْلُوبٌ أَوْ مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ

Dari Al-Husain bin ‘Ulwaan, dari Abaan bin Abi ‘Ayyasy, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada yang selamat dari himpitan kubur kecuali seorang yang mati syahid, atau disalib, atau orang yang wafat pada hari Jum’at atau malam Jum’at”.
Hadits ini sangat lemah karena Al-Husain bin Ulwaan[9]; ia terkenal sebagai pemalsu hadits. Dan Abaan bin Abi 'Ayyasy[10]; ditolak keras periwayatan haditsnya (matruuk).

3.       Jalur Tsaabit Al-Bunaniy:

Diriwayatkan oleh Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisiy dalam kitabnya Al-Muntaqaa min masmu’aat Marw (manuskrip) no.167:

عن يوسف بن عطية، عن ثابت البناني، عن أنس رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (من مات يوم الجمعة أو ليلة الجمعة وقي عذاب القبر)

Dari Yusuf bin ‘Athiyah, dari Tsabit Al-Bunaniy, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang wafat pada hari Jum’at atau malam Jum’at maka ia akan terlindungi dari azab kubur”.
Hadits ini sangat lemah karena Yusuf bin 'Athiyah Ash-Shaffaar[11]; Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan: Hadits yang ia riwayatkan mungkar (sangat lemah).

C.      Hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyah Al-Auliyaa’ 3/155, dan Adh-Dhiyaa’ Al-Maqdisiy dalam kitabnya Al-Muntaqaa min masmu’aat Marw (manuskrip) no.42:

عن عُمَر بن مُوسَى بْنِ الْوَجِيهِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أُجِيرَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَجَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ طَابَعُ الشُّهَدَاءِ»

Dari Umar bin Musa bin Al-Wajiih, dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Jabir, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang wafat pada hari Jum’at atau malam Jum’at maka akan dijauhkan dari siksa kubur dan akan datang pada hari kiamat dengan tanda orang yang mati syahid”.
Hadits ini sangat lemah karena Umar bin Musa Al-Wajiihiy[12]; ia diklaim sebagai pemalasu hadits oleh Abu Hatim dan Ibnu 'Adiy.

D.     Hadits Aslam Al-Qurasyiy radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam kitabnya Ta’ziyah Al-Muslim no.110:

عن خَارِجَة بن مُصْعَبٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ [ أبيه ] قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنِ مَاتَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَوْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وُقِيَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ

Dari Khaarijah bin Mus’ab, dari Zayd bin Aslam, dari bapaknya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang wafat pada malam Jum’at atau hari Jum’at maka ia akan dilindungi dari fitnah kubur”.

Hadits ini sangat lemah karena Khaarijah bin Mus’ab[13], periwayatan haditsnya ditolak (matruuk).

E.      Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan dari dua jalur:

a.       Jalur Al-Hasan Al-Bashriy.

Diriwayatkan oleh Abu Hanifah dalam kitab musnadnya riwayat Al-Hashkafiy no.66:

عَنِ الْهَيْثَمِ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وُقِيَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ»

Dari Al-Haitsam, dari Al-Hasan, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang wafat pada hari Jum’at maka ia akan dilindungi dari siksa kubur”.
Sanad hadits ini lemah karna terputus, penerimaan hadits Al-Hasan Al-Bashriy[14] (110H) dari Abu Hurairah diperselisihkan apakah Hasan pernah mendengar hadits langsung dari Abu Hurairah apa tidak? Kebanyakan ulama mengatakan tidak dan sebagian lainnya mengatakan iya. Akan tetapi Hasan seorang mudallis (sering meriwayatkan hadits yang tidak ia dengar langsung dari gurunya), riwayatnya tidak diterima kecuali memakai lafadz yang jelas menunjukkan bahwa ia mendengarnya langsung dari gurunya seperti "sami'tu, haddatsanii, akhbaranii" atau semisalnya, sedangkan dalam hadits ini ia mengatakan ('an) salah satu lafadz yang tidak jelas apakah ia dengar langsung dari gurunya atau tidak.

b.      Jalur ‘Athaa’.

Diriwayatkan oleh Al-Khathiib Al-Bagdadiy dalam kitabnya Al-Muttafiq wa Al-Muftariq 3/1657 no.1144, melalui jalur Ad-Daraquthniy:

عن علي بن مهران عن ابن جريج عن عطاء عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " من مات مريضا مات شهيدا ووقي فتاني القبر وغدي عليه وريح برزقه من الجنة ومن مات ليلة الجمعة أو يوم الجمعة وقي فتاني القبر وجاء يوم القيامة وعليه طابع الشهداء " .

Dari Ali bin Mihraan, dari Ibnu Juraij, dari ‘Athaa’, dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang mati karena sakit maka ia mati syahid, dan dilindungi dari fitnah kubur dan didatangi rezkinya siang dan malam dari surga. Dan barangsiapa yang mati wafat pada malam Jum’at atau hari Jum’at maka ia dilindungi dari fitnah kubur dan akan datang pada hari kiamat dengan tanda orang syahid”.

Ad-Daraquthniy berkata: Hadits ini ghariib dari Ibnu Juraij, dari ‘Athaa, Sulaiman bin Abi Haudzah menyendiri dengan sanad ini.

Sanad ini lemah karena Ibnu Juraij[15] namanya Abdul Malik bin Abdul Aziz bin Juraij; Seorang yang tsiqah tapi suka melakukan tadliis (menjatuhkan gurunya dari sanad), haditsnya ditolak jika hanya memakali lafadz (عن) dalam sanadnya seperti pada hadits ini.

F.       Hadits Ali bin Abi Thaalib radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh Abu Sa’d An-Nashrawiy dalam kitabnya Juz’un min amaaliih no.98 manuskrip, sebagaimana disebutkan dalam situs multaqa ahlul hadits:

عن محمد بن القاسم الطايكاني عن أبي المقاتل السمرقندي حدثنا سعد بن طريف، عن أصبغ بن نباتة، عن علي بن أبي طالب، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: (ليلة الجمعة ليلة غراء، ويومها يوم أزهر، من مات ليلة الجمعة أعيذ من النار، وأعيذ من عذاب القبر، ومن مات يوم الجمعة أعيذ من عذاب النار)

Dari Muhammad bin Al-Qasim Ath-Thayangkaniy, dari Abi Al-Muqathil As-Samarqandiy, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami, Sa’d bin Thariif, dari Ashbag bin Nubaatah, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Malam Jum’at adalah malam gembira, dan harinya adalah hari bercahaya, barangsiapa yang wafat pada malam Jum’at maka ia akan dilindungi dari neraka dan dilindungi dari siksa kubur, dan barangsiapa yagn wafat pada hari Jum’at maka ia akan dilindungi dari siksa neraka”.

Sanad ini sangat lemah karena:

1)      Muhammad bin Al-Qasim Ath-Thayangkaniy[16]; ia dihukumi sebagai pemalsu hadits oleh Abu Abdillah Al-Hakim.
2)      Abu Al-Muqathil namanya Hafs bin Salm[17]; Ia dihukumi sebagai pendusta oleh Wakii’. Abdurahman bin Mahdiy berkata: Tidak halal meriwayatkan hadits darinya. As-Sulaimaniy memasukkannya dalam golongan pemalsu hadits.
3)      Sa’d bin Thariif[18]; Periwayatan haditsnya ditolak (matruuk). Ibnu Hibban menuduhnya sebagai pemalsu hadits.
4)      Ashbag bin Nubatah[19]; Periwayatan haditnya ditolak (matruuk).

G.     Hadits Abu Ja’far Al-Baaqir (w.114H) rahimahullah secara mursal.

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam kitabnya Ta’ziyah Al-Muslim no.112:

عَنْ حُسَيْن ابْن عُلْوَانَ عَنْ سَعْدِ بْنِ طَرِيفٍ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنِ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ الْبَتَّةَ

Dari Husain bin ‘Ulwaan, dari Sa’d bin Thariif, dari Abi Ja’far Muhammad bin ‘Ali, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang wafat pada hari Jum’at atau malam Jum’at maka pasti Allah akan memasukkannya ke surga”.

Hadits ini sangat lemah karena: 

1) Husain bin Ulwaan; ia terkenal sebagai pemalsu hadits. 
2) Sa’d bin Thariif; Periwayatan haditsnya ditolak (matruuk). 
3) Sanadnya pun terputus (mursal) karena Abu Ja’far Al-Baaqir hanya seorang tabi’in yang tidak pernah bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

H.     Hadits Ibnu Syihaab Az-Zuhriy (w.125H) rahimahullah secara mursal.

Diriwayatkan oleh Abdurrazzaaq dalam kitabnya Al-Mushannaf 3/269 no.5595:

عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ رَجُلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ مَاتَ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ - أَوْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ - بَرِئَ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ» أَوْ قَالَ: «وُقِيَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ، وَكُتِبَ شَهِيَدًا»

Dari Ibnu Juraij, dari seseorang lelaki, dari Ibnu Syihaab; Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang wafat pada malam Jum’at atau hari Jum’at maka ia selamat dari fitnah kubur”, atau: “Ia dilindungi dari fitnah kubur dan dicatat sebagai seorang yang syahid”.

Sanad hadits ini lemah karena: 

1) Ibnu Juraij seorang mudallis dan memakai lafadz (عن). 
2) Ada perawi seorang lelaki yang mubham (tidak diketahui). 
3) Sanadnya juga terputus (mursal) karena Ibnu Syihaab Muhammad bin Muslim Az-Zuhriy tidak bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

I. Hadits Al-Muthalib bin Abdillah bin Hanthab (w.120H) rahimahullah secara mursal.

Diriwayatkan oleh Abdurrazzaaq dalam kitabnya Al-Mushannaf 3/269 no.5597:

عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ رَجُلٍ، عَنِ الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَنْطَبٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ

Dari Ibnu Juraij, dari seseorang lelaki, dari Al-Muthalib bin Abdillah bin Hanthab, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti hadits di atas.

Sanad hadits ini lemah karena: 

1) Ibnu Juraij seorang mudallis dan memakai lafadz (عن). 
2) Ada perawi seorang lelaki yang mubham (tidak diketahui). 
3) Sanadnya terputus (mursal) karena Al-Muthalib bin Abdillah bin Hanthab tidak bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

J.        Hadits ‘Athaa’ rahimahullah secara mursal.

Diriwayatkan oleh Humaid bin Zanjawaih dalam kitab Targhiibnya, sebagaimana disebutkan dalam kitab Tuhfah Al-Ahwadziy 4/160:

عن ابن جريج عَنْ عَطَاءٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَا مِنْ مُسْلِمٍ أَوْ مُسْلِمَةٍ يَمُوتُ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ إِلَّا وُقِيَ عَذَابَ الْقَبْرِ " .

Dari Ibnu Juraij, dari 'Athaa', ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidaklah seorang muslim atau muslimah yang wafat pada hari Jum'at atau malam Jum'at kecuali ia dilindungi dari azab kubur".

Sanad hadits ini lemah karena: 

1) Ibnu Juraij seorang mudallis dan memakai lafadz (عن). 
2) Sanadnya terputus (mursal) karena ‘Athaa’ tidak bertemu dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

K.      Atsar dari tetangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam secara mauquuf.

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam kitabnya Ta’ziyah Al-Muslim no.111:

عن أَبُي الْأَسْوَدِ حَدَّثَنِي ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ عَيَّاشٍ يَعْنِي ابْنَ عَبَّاسٍ الْقتبَانِيَّ عَنْ عِيسَى بْنِ مُوسَى عَنْ أُنَاسٍ مَنْ جِيرَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ شَهِيدٍ وَوُقِيُ فِتْنَةَ الْقَبْر

Dari Abi Al-Aswad, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Ibnu Lahi’ah, dari ‘Ayyasy – yaitu: ibnu ‘Abbas Al-Qitbaaniy -, dari ‘Isaa bin Muusa, dari tetangga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ia berkata: Barangsiapa yang wafat pada hari Jum’at maka dicatat untuknya pahala mati syahid dan dilindungi dari fitnah kubur.
Sanad atsar ini lemah karena Ibnu Lahi’ah[20]; Periwayatan haditsnya lemah dan kacau. Dan Isaa bin Musaa bin Muhammad bin Iyaas bin Al-Bukair[21]; dilemahkan oleh Abu Hatim.

L. Atsar dari Ikrimah bin Khalid Al-Makhzumiy (w.115H) rahimahullah secara maqthuu’.

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam kitabnya Itsbaat ‘adzaab al-qabr no.158:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُؤَمَّلٍ قَالَ: سَمِعْتُ عِكْرِمَةَ بْنَ خَالِدٍ الْمَخْزُومِيَّ يَقُولُ: «مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ خُتِمَ بِخَاتَمِ الْإِيْمَانِ، وَوُقِيَ عَذَابَ الْقَبْرِ»

Dari Abdillah bin Muammal, ia berkata: Aku mendengar Ikrimah bin Khalid Al-Makhzumiy berkata: Barangsiapa yang wafat pada hari Jum’at atau malam Jum’at maka ia telah diakhiri dengan akhir keimanan dan dilindungi dari siksa kubur.

Sanad atsar ini lemah karena Abdullah bin Muammal[22]; Periwayatannya lemah.

M. Atsar Abu Ubaidah bin ‘Uqbah (w.107H) dan Al-Qasim bin Muhammad rahimahumallah secara maqthuu’.

Disebutkan oleh Ibnu Bathaal dalam kitabnya Syarh Sahih Al-Bukhariy 3/376:

عن ابن وهب، عن الليث بن سعد، عن أبي عثمان الوليد بن [ أبي ] الوليد، أن أبا عبيدة بن عقبة، قال: " من مات يوم الجمعة أمن فتنة القبر " ، وقال: إنى ذكرته للقاسم بن محمد، فقال: صدق أبو عبيدة.

Dari Ibnu Wahab, dari Al-Laits bin Sa’d, dari Abi Utsman Al-Waliid bin Al-Waliid; Bahwasanya Abu ‘Ubaidah bin ‘Uqbah berkata: Barangsiapa yang wafat pada hari Jum’at maka ia selamat dari fitnah kubur.
Dan Abu Utsman berkata: Aku menyampaikannya hal ini kepada Al-Qasim bin Muhammad maka ia berkata: Benarlah Abu Ubaidah.

Sanad atsar ini shahih.

Kesimpulan:

1.       Seluruh sanad hadits marfuu’ (dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam) dalam masalah ini lemah, dilemahkan oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam fathul bariy (3/253).
2.       Syekh Albaniy rahimahullah menghukumi hadits ini hasan atau shahih karena menguatkan hadits Abdullah bin ‘Amr dengan hadits Anas bin Malik  dan Jabir radhiyallahu ‘anhum. [Lihat: Ahkam Al-Janaiz hal.35]
3.       Kalaupun hadits ini dianggap lemah, maka boleh diamalkan sebatas husnu dzaan (berbaik sangka) kepada Allah subhanahu wa ta’aalaa Yang telah menjadikan hari Juma't sebagai hari yang mulia, penuh ibadah dan berkah semoga memberi perlindungan dari siksa kubur kepada seorang muslim yang wafat pada hari Jum’at atau malam Jum’at.

Syekh Ibnu Baaz rahimahullah ditanya tentang orang yang wafat pada hari Jum'at atau Senin, atau di bulan Ramadhan, atau hari kesembilan bulan dzulhijjah bahwasanya Allah akan memasukkannya ke dalam surga dan Allah mengampuni seluruh dosa-dosanya?
Beliau menjawab: Ini tidak benar dan tidak ada landasannya. Ada hadits tentang wafat di hari Jum'at akan tetapi lemah tidak shahih.
Namun kita berharap bagi orang yang wafat setelah melakukan suatu ibadah seperti puasa atau haji, semoga ia mendapat kebaikan dengannya karena telah ditutup umurnya dengan waktu ibadah atau sementara beribadah. [Fatawa Nuur 'ala Ad-Darb]

Wallahu ta’aalaa a’lam!



[1] Lihat biografi "Mu’awiyah bin Sa’id" dalam kitab: Man takallama fiihi Ad-Daruquthniy karnya Ibnu Ruzaiq 3/133, Tahdziib Al-Kamaal karya Al-Mizziy 28/174, Taqriib At-Tahdziib karya Ibnu Hajar hal.537.
[2] Lihat biografi "Abu Qabiil" dalam kitab: Ats-Tsiqaat karya Al-‘Ijliy 1/329, Al-Jarh wa At-Ta'diil karya Ibnu Abi Hatim 3/275, Ats-Tsiqaat karya Ibnu Hibban 4/178, Sualaat As-Sulamiy kepada Ad-Daruquthniy hal.161, Tahdziib Al-Kamaal 7/490, Tahdziib At-Tahdziib karya Ibnu Hajar 3/72, Taqriib At-Tahdziib hal.185.
[3] Lihat biografi "Hisyam bin Sa’ad" dalam kitab: Ats-Tsiqaat karya Al-‘Ijliy 2/328, Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.245 , Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir karya Al-'Uqaily 4/341, Al-Jarh wa At-Ta'diil 9/61, Al-Majruhiin karya Ibnu Hibban 3/89, Al-Kaamil karya Ibnu 'Adiy 8/409, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 3/174, Tahdziib Al-Kamaal 30/204, Al-Kaasyif karya Adz-Dzahabiy 2/336, Tahdziib At-Tahdziib 11/39, Taqriib At-Tahdziib hal.572.
[4] Lihat biografi "Rabi’ah bin Saif" dalam kitab: Ats-Tsiqaat karya Al-‘Ijliy 1/357, Ats-Tsiqaat karya Ibnu Hibban 6/301, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/282, Tahdziib Al-Kamaal 9/113, Tahdziib At-Tahdziib 3/255, Taqriib At-Tahdziib hal.207.
[5] Lihat biografi "’Iyaadh bin ‘Uqbah" dalam kitab: Al-Mustakhraj min kutub An-Naas karya Abdurrahman Al-‘Abdiy (w.470), juz 3 halaman 160, At-Takmilah li kitab ash-shilah karya Ibnu Al-Abaar 4/34.
[6] Lihat biografi "Abdurrahman bin Qahzam" dalam kitab: Taariikh Ibnu Yunus Al-Mashriy 1/310, Al-Ikmal karya Ibnu Makuula 7/79.
[7] Lihat biografi "Waaqid bin Salaamah" dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' karya Abu Zur'ah Ar-Raziy 2/667, Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 4/331, Al-Jarh wa At-Ta'diil 9/50, Al-Majruhiin 3/85, Al-Kaamil 8/381, Adh-Dhu'afaa' karya Ad-Daruquthniy 3/135, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 3/182, Miizaan Al-I'tidaal karya Adz-Dzahabiy 4/330, Lisaan Al-Miizaan karya Ibnu Hajar 8/371.
[8] Lihat biografi Yazid bin Abaan Ar-Raqqaasyiy dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 4/373, Al-Jarh wa At-Ta'diil 9/251, Al-Majruhiin 3/98, Al-Kamil 7/257, Adh-Dhu'afaa' karya Ad-Daruquthniy 1373/, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 3/206, Tahdziib Al-Kamaal 32/64, Al-Kaasyif 2/380, Taqriib At-Tahdziib hal.599.
[9] ) Lihat biografi Al-Husain bin Ulwan dalam kitab: Tarikh Ibnu Ma'in riwayat Ad-Duriy 4/382, Adh-Dhu’afaa’ Al-Kabiir 1/251, Al-Majruhin 1/244, Al-Kamil 2/359, Adh-Dhu’afaa’ karya Abu Nu'aim hal.74, Adh-Dhu’afaa’ karya Ibnu Al-Jauziy 1/215, Miizaan Al-i’tidaal 2/298, Lisan Al-Miizaan 3/189.
[10] Lihat biografi Abaan bin Abi 'Ayyasy dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Jauziy 1/19, Miizaan Al-I'tidaal 1/124, Taqriib At-Tahdziib hal.87.
[11] Lihat biografi ” Yusuf bin 'Athiyah Ash-Shaffaar “ dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 4/455, Al-Jarh wa At-Ta'diil 9/226, Al-Majruhiin 3/134, Al-Kaamil 7/152, Adh-Dhu'afaa' karya Abu Nu'aim hal.165.
[12] Lihat biografi “ Umar bin Musa “ dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.222 , Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 3/190, Al-Majruhiin 2/86, Al-Kaamil 5/9, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Jauziy 2/217, Miizaan Al-I'tidaal 5/271, Lisaan Al-Miizaan 6/148.
[13] Lihat biografi " Khaarijah bin Mus’ab " dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Ash-Shagiir karya Al-Bukhariy hal.44, Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.172 , Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 2/25, Al-Majruhiin 1/288, Al-Kaamil 3/494, Adh-Dhu'afaa' karya Ad-Daruquthniy 2/151, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/243, Tahdziib Al-Kamaal 8/16, Miizaan Al-I'tidaal 1/625, Taqriib At-Tahdziib hal.186.
[14] Lihat biografi Al-Hasan Al-Bashriy dalam kitab: Tahdzibul kamal 6/95, Siyar A'lam An-Nubala' karya Adz-Dzahabiy 4/563, Tahdiziib At-Thadiziib 1/388.
[15] Lihat biografi "Ibnu Juraij" dalam kitab: Al-Jarh wa At-Ta'diil 5/356, Tahdziib Al-Kamaal 18/338, Miizaan Al-I'tidaal 2/659, Taqriib At-Tahdziib hal.363.
[16] Lihat biografi " Muhammad bin Al-Qasim Ath-Thayangkaniy " dalam kitab: Al-Majruhiin 2/311, Adh-Dhu'afaa' karya Abu Nu'aim hal.145 , Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 3/93, Miizaan Al-I'tidaal 4/11, Al-Kasyf al-hatsits hal.245, Lisaan Al-Miizaan 7/444.
[17] Lihat biografi " Abu Al-Muqathil " dalam kitab: Al-Majruhiin 1/256, Al-Kaamil 3/293, Adh-Dhu'afaa' karya Abu Nu'aim hal.75 , Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/221, Miizaan Al-I'tidaal 1/557, Al-Kasyf al-hatsits hal.101, Lisaan Al-Miizaan 3/225.
[18] Lihat biografi "Sa’d bin Thariif" dalam kitab: Taariikh Ibnu Ma'in riwayat Ad-Duuriy 3/453, Adh-Dhu'afaa' Ash-Shagiir hal.56 , Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.191 , Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 2/120, Al-Jarh wa At-Ta'diil 4/87, Al-Majruhiin 1/357, Al-Kaamil 4/383, Adh-Dhu'afaa' karya Ad-Daruquthniy 2/156, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/312, Tahdziib Al-Kamaal 10/271, Miizaan Al-I'tidaal 2/122, Al-Kasyf al-hatsits hal.124, Taqriib At-Tahdziib hal.231.
[19] Lihat biografi Al-Ashbag bin Nubatah dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.156 , Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 1/129, Al-Majruhiin 1/173, Al-Kamil 1/407, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Jauziy 1/126, Miizaan Al-I'tidaal 1/436, Taqriib At-Tahdziib hal.113.
[20] Lihat biografi “Abdullah bin Lahi'ah” dalam kitab: Ad-Dhu'afaa' karangan Imam Bukhari hal.69, Ad-Dhu'afaa' karangan An-Nasa'iy hal.203, Ad-Dhu'afaa' Al-Kabiir 4/383, Al-Kaamil 4/144, Ad-Dhu'afaa' karangan Ibnu Jauziy 2/136, Miizaan Al-I'tidaal 4/166.
[21] Lihat biografi "Isaa bin Muusa" dalam kitab: Al-Jarh wa At-Ta'diil 6/285, Ats-Tsiqaat karya Ibnu Hibban 5/216.
[22] Lihat biografi "Abdillah bin Muammal" dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 2/302, Al-Jarh wa At-Ta'diil 5/175, Al-Majruhiin 2/27, Al-Kaamil 5/221, Tahdziib Al-Kamaal 16/187, Miizaan Al-I'tidaal 2/510, Taqriib At-Tahdziib hal.325.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...