Minggu, 15 Maret 2015

Takhrij hadits “Hikmah milik orang mukmin yang hilang”

 بسم الله الرحمن الرحيم


Hadits ini diriwayatkan secara marfuu’, mauquuf, dan maqthuu’ dari beberapa orang sahabat dan tabi’in, diantaranya:

A.    Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dalam kitabnya Al-Jami’ (atau sunan At-Tirmidziy) 5/51 no.2687, Ibnu Majah dalam kitab sunannya 2/1395 no.4169, Al-‘Uqailiy dalam kitabnya Adh-Dhu’afaa’ Al-Kabiir 1/60, Ibnu Hibban dalam kitabnya Al-Majruuhiin 1/105, Ibnu ‘Adiy dalam kitabnya Al-Kaamil 1/376, Al-Qudha’iy dalam kitabnya Musnad Asy-Syihaab 1/65 no.52, dan Al-Baihaqiy dalam kitabnya Al-Madkhal ilaa As-Sunan Al-Kubraa no.412:

عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الفَضْلِ، عَنْ سَعِيدٍ المَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الكَلِمَةُ الحِكْمَةُ ضَالَّةُ المُؤْمِنِ، فَحَيْثُ وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ بِهَا»

Dari Ibrahim bin Al-Fadhl, dari Sa’id Al-Maqburiy, dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Kalimat hikmah itu adalah suatu yang hilang dari seorang mukmin, maka dimana saja ia mendapatkannya maka ia lebih berhak atasnya”

At-Tirmidziy berkata: Ini adalah hadits yang gariib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini, dan Ibrahim bin Al-Fadh Al-Makhzumiy dilemahkan dalam periwayatan hadits dari segi hafalannya.
Al-Baihaqiy berkata: Ibrahim bin Al-Fadhl sendiri dalam meriwayatkan hadits ini, dan ia tidak kuat.

Sanad hadits ini sangat lemah karena Ibrahim bin Al-Fadhl Al-Makhzumiy[1]; Imam Al-Bukhariy, dan Abu Hatim Ar-Raziy mengatakan: Periwayatan haditnya mungkar (sangat lemah). An-Nasaiy, Ad-Daraqutniy dan Ibnu Hajar berkata: Periwayatan haditsnya ditolak (matruuk).

B.    Hadits Buraidah Al-Aslamiy radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh Ar-Ruyaniy (w.307H) dalam musnadnya 1/75 no.33, dan Qadhiy Al-Marastaan (w.535H) dalam kitabnya Ahaadiits Asy-Syuyuukh Ats-Tsiqaat no.2/746:

عن محمد بن حميد، عن تميم بن عبد المؤمن، عن صَالِح بن حَيَّانَ، عَنِ ابْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، حَيْثُمَا وَجَدَهَا أَخَذَهَا»

Dari Muhammad bin Humaid, dari Tamiim bin Abdul Mu’min, dari Shalih bin Hayyaan, dari Ibnu Buraidah, dari bapaknya; Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hikmah itu adalah suatu yang hilang dari seorang mukmin, dimana saja ia mendapatkannya maka ia mengambilnya”.

Sanad hadits ini sangat lemah karena memiliki beberapa cacat:
1-      Muhammad bin Humaid Ar-Raziy[2] (w.248H); Adz-Dzahabiy berkata: Ia dianggap tsiqah oleh beberapa ulama, akan tetapi sebaiknya periwayatannya ditolak.
Ibnu Hajar mengatakan: Ia lemah.
2-      Tamiim bin Abdul Mu’min Abu Hazim At-Tamimiy; Disebutkan biografinya oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitabnya Al-Jarh wa At-Ta’diil (2/444) tanpa menyebutkan cacian ataupun celaan baginya.
Dan Ibnu Hibban menyebutnya dalam kitab Ats-Tsiqaat (8/156) dan berkata: Ia meriwayatkan hadits-hadits munqathi’ (terputus).
3-      Shalih bin Hayyan Al-Qurasyiy[3]; Abu Hatim Ar-Raziy berkata: Ia tidak kuat periwayatannya.
Ibnu Ma’in, Abu Daud dan Ibnu Hajar berkata: Ia lemah.
An-Nasa’iy dan Ad-Dulabiy berkata: Ia tidak tsiqah.

C.     Hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam kitabnya Taariikh Dimasyq 55/192:

عن أبي عمرو عثمان بن الخطاب يعرف بأبي الدنيا الأشج المعمر قال: سمعت علي بن أبي طالب يقول: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول " الحكمة ضالة المؤمن حيث وجدها فهو أحق بها "

Dari Abu ‘Amr Utsman bin Al-Khathab dikenal dengan gelar Abu Ad-Dunya Al-Asyaj Al-Mu’ammar, ia berkata: Aku mendengar Ali bin Abi Thalib berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hikmah itu adalah suatu yang hilang dari seorang mukmin, dimana saja ia mendapatkannya maka ia lebih berhak atasnya”

Sanad ini palsu karena Abu ‘Amr Utsman bin Al-Khathab[4] (w.327H); Adz-Dzahabiy berkata: Ia dianggap pendusta oleh ulama, karena meriwayatkan hadits langsung dari Ali bin Abi Thalib setelah 300 tahun wafatnya.

Diriwayatkan juga oleh Ad-Dailamiy – sebagaimana disebutkan oleh As-Sakhawiy dalam kitabnya Al-Maqashid Al-Hasanah no.415 -;

عن عبد الوهاب، عن مجاهد، عن علي مرفوعا: " ضالة المؤمن العلم، كلما قيد حديثا طلب إليه آخر " .

Dari Abdul Wahhab, dari Mujahid, dari Ali, , ia meriwayatkannya secara marfuu’ (dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam): “Suatu yang hilang dari seorang mukmin adalah ilmu, setiap kali ia mendapatkan satu hadits maka ia mencari yang lainnya”.

Sanad ini juga sangat lemah karena beberapa cacat:

1) Abdul Wahhab bin Mujahid Al-Makkiy[5]; An-Nasaiy dan Ibnu Hajar berkata: Periwayatan haditsnya ditolak (matruuk). Ats-Tasuriy menuduhnya sebagai pendusta.
2) Sanadnya terputus, Abdul Wahhab tidak pernah meriwayatkan hadits dari bapaknya. [Jami’ At-Tahshiil karya Al-‘Alaaiy hal.231]
Begitu pula Mujahid bin Jabr Al-Makkiy (w.101H) tidak pernah meriwayatkan hadits dari Ali bin Abi Thalib. [Jami’ At-Tahshiil karya Al-‘Alaaiy hal.273]
Lihat: As-Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dha’ifah karya syekh Albaniy 8/283 no.3813.

D.    Hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Dirwayatkan oleh Al-‘Askariy – sebagaimana disebutkan oleh As-Sakhawiy dalam kitabnya Al-Maqashid Al-Hasanah no.415 -;

عن عنبسة بن عبد الرحمن، عن شبيب بن بشر، عن أنس رفعه: " العلم ضالة المؤمن حيث وجده أخذه ".

Dari ‘Anbasah bin Abdirrahman, dari Syabiib bin Bisyr, dari Anas, ia meriwayatkannya secara marfu’ (dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam): “Ilmi itu suatu yang hilang dari seorang mukmin, di mana saja ia mendapatkannya maka ia mengambilnya”.

Sanad ini sangat lemah karena ‘Anbasah bin Abdirrahman[6]; An-Nasaiy, dan Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Periwayatan haditsnya ditolak (matruuk). Abu Hatim Ar-Raziy menuduhnya sebagai pemalsu hadits.

E.     Hadits Zaid bin Aslam rahimahullah.

Diriwayatkan oleh Al-Qudha’iy dalam kitabnya Musnad Asy-Syihaab 1/118 no.146:

عن اللَّيْث بن سَعْدٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، حَيْثُمَا وَجَدَ الْمُؤْمِنُ ضَالَّتَهُ فَلْيَجْمَعْهَا إِلَيْهِ»

Dari Al-Laits bin Sa’ad, dari Hisyam bin Sa’ad, dari Zayd bin Aslam, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Hikmah itu adalah suatu yang hilang dari seorang mukmin, dimana saja seorang mukmin mendapatkan miliknya yang hilang maka hendaklah ia mengambilnya”.

Sanad hadits ini lemah; karena dua cacat:
1.      Hisyam bin Sa’ad Al-Madaniy[7] (w.160H); Periwayatan haditsnya dilemahkan oleh beberapa ulama seperti Imam Ahmad dan An-Nasa’iy. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Ia shaduuq dan memiliki beberapa kekeliruan (dalam periwayatannya).
2.      Sanadnya terputus (mursal), karena Zayd bin Aslam (w.136H) seorang tabi’iy yang tsiqah tapi tidak bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.

Abdullah bin Wahb meriwayatkannya dari Hisyam secara maqthuu’:

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asaakir dalam kitabnya Taariikh Dimasyq 19/289:

عن عبد الله بن وهب حدثني هشام بن سعد عن زيد بن أسلم أنه قال: نعم الهدية الكلمة من كلام الحكمة يهديها لأخيه والحكمة ضالة المؤمن إذا وجدها أخذها

Dari Abdullah bin Wahb, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku Hisyam bin Sa’ad, dari Zayd bin Aslam bahwasanya ia berkata: “Sebaik-baik hadiah adalah ucapan dari kata-kata hikmah yang dihadiahkan kepada saudaranya, dan hikmah itu adalah suatu yang hilang dari seorang mukmin, jika ia mendapatkannya maka ia mengambilnya”.

F.     Atsar Ka’b Al-Ahbaar rahimahullah.

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa’ 5/367 dan 6/26, dan Ibnu Abdil Barr dalam kitabnya Jami’ Bayaan Al-‘Ilmi wa Fadhlihi 1/596 no.1024:

عن سُلَيْمَان بن سُلَيْمٍ أَبي سَلَمَةَ، أَنَّ كَعْبًا، كَانَ يَقُولُ: «وَاعْلَمُوا أَنَّ الْكَلِمَةَ مِنَ الْحِكْمَةِ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ فَعَلَيْكُمْ بِالْعِلْمِ قَبْلَ أَنْ يُرْفَعَ , وَرَفْعُهُ أَنْ تَذْهَبَ رُوَاتُهُ»

Dari Sulaiman bin Sulaim Abu Salamah; Bahwasanya Ka’b berkata: “Dan ketahuilah sesungguhnya kalimat hikmah itu adalah suatu yang hilang dari seorang mukmin, maka tuntutlah ilmu sebelum diangkat, dan pengangkatan ilmu itu dengan perginya (wafatnya) orang yang meriwayatkannya (menyampaikannya)".

Sanad ini lemah karena terputus, Sulaiman bin Sulaim (w.147H) tidak bertemu dengan Ka’b Al-Ahbaar (wafat di akhir khilafah Usman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu).

G.    Atsar Sa’id bin Abi Burdah rahimahullah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Mushannaf-nya 7/240 no.35681, dan Al-Baihaqiy dalam kitabnya Al-Madkhal ilaa As-Sunan Al-Kubraa no.844:

عن وَكِيع، عَنِ الْمَسْعُودِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ قَالَ: كَانَ يُقَالُ: الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ يَأْخُذُهَا إِذَا وَجَدَهَا

Dari Wakii’, dari Al-Mas’udiy, dari Sa’id bin Abi Burdah, ia berkata: Dulu dikatakan “Hikmah itu adalah suatu yang hilang dari seorang mukmin, ia mengambilnya jika ia mendapatkannya”.

Sanad ini sahih sampai pada Sa’id bin Abi Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ariy seorang tabi’iy yang tsiqah.

H.    Atsar Abdullah bin Ubaid rahimahullah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam kitab Mushannaf-nya 7/244 no.35714, dan Al-Baihaqiy dalam kitabnya Al-Madkhal ilaa As-Sunan Al-Kubraa no.413:

عن عَبْد الْعَزِيزِ بن أَبِي رَوَّادٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ قَالَ: كَانَ يُقَالُ: الْعِلْمُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ يَغْدُو فِي طَلَبِهِ , فَإِذَا أَصَابَ مِنْهُ شَيْئًا حَوَاهُ

Dari Abdul ‘Aziz bin Abi Rawwaad, dari Abdullah bin Ubaid bin Umair, ia berkata: Dulu dikatakan “Ilmu itu suatu yang hilang dari seorang mukmin, ia keluar mencarinya. Dan jika ia mendapatkan sesuatu darinya maka ia mengambilnya”.

Diriwayatkan juga oleh Zuhair bin Harb dalam kitabnya Al-‘Ilm no.157, dan Abu Nu’aim dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa 3/354; Abdullah bin Ubaid berkata:

«الْعِلْمُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، كُلَّمَا أَصَابَ مِنْهُ شَيْئًا حَوَاهُ وَابْتَغَى ضَالَّةً أُخْرَى»

“Ilmu itu suatu yang hilang dari seorang mukmin, setiap kali ia mendapatkan sesuatu darinya maka ia mengambilnya kemudian ia mencari lagi yang lainnya”

Syakh Albaniy rahimahullah dalam kitabnya Tahkik kitab Al-‘Ilmi berkata: Sanadnya sahih sampai kepada Abdullah bin Ubaid (w.113H).

Makna hadits ini sahih:

Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa hadits ini tidak shahih dari Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam maupun dari sahabatnya. Kecuali dari perkataan tabi'in dan atba' tabiin.

Akan tetapi makna hadits ini shahih!!!

Lajnah Ad-Daimah ditanya tentang hadits ini, dan setelah menghukumi hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu sebagai hadits yang sangat lemah, mereka berkata:

وأما معنى الحديث فتشهد له عمومات النصوص، وهو أن الكلمة المفيدة التي لا تنافي نصوص الشريعة ربما تفوه بها من ليس لها بأهل، ثم وقعت إلى أهلها، فلا ينبغي للمؤمن أن ينصرف عنها، بل الأولى الاستفادة منها والعمل بها من غير التفات إلى قائلها.

Adapun makna hadits ini, maka dikuatkan oleh keumuman nahs (Al-Qur’an dan Hadits), yaitu bahwasanya kalimat (ucapan) yang bermanfaat yang tidak bertentangan dengan nash syari’at lainnya, yang terkadang diucapkan oleh orang yang bukan ahlinya kemudian diterima oleh ahlinya, maka tidak sepantasnya bagi seorang mukmin untuk meninggalkannya, bahkah seutamanya ia mengambil manfaat dari ucapan tersebut dan mengamalkannya tanpa melihat siapa yang menyampaikannya. [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 26/357]

Diantara nash Al-Qur’an dan hadits yang menguatkan makna hadits ini:

Firman Allah subhanahu wata’aalaa:

فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِكَ لَقَدْ جَاءَكَ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ [يونس : 94]

Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca Kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu temasuk orang-orang yang ragu-ragu. [Yunus 94]

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ [النحل : 43]

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. [An-Nahl 43]

Hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Ketika Setan mengajarkan kepadanya:

إِذَا أَوَيْتَ إِلَى فِرَاشِكَ فَاقْرَأْ آيَةَ الكُرْسِيِّ، لَنْ يَزَالَ عَلَيْكَ مِنَ اللَّهِ حَافِظٌ، وَلاَ يَقْرَبُكَ شَيْطَانٌ حَتَّى تُصْبِحَ

Jika kamu beranjak ke tempat tidurmu maka bacalah ayat Al-Kursiy, karena kamu akan selalu mendapat penjagaan dari Allah, dan syaitan tidak akan mendekatimu sampai pagi.

Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Abu Hurairah:

«صَدَقَكَ وَهُوَ كَذُوبٌ ذَاكَ شَيْطَانٌ» [صحيح البخاري]

"Ia jujur kepadamu dan ia adalah pembohong, dia itu adalah setan". [Sahih Bukhari]

Hadits Qutailah seorang wanita dari Juhainah radhiyallahu ‘anha; Bahwasanya seorang Yahudi mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: Kalian menduakan Allah dan menyekutukan Allah, kalian mengatakan: “Apa yang dikehendaki Allah dan apa yang engkau kehendaki”, dan kalian mengatakan: “Demi Ka’bah”.

فَأَمَرَهُمُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادُوا أَنْ يَحْلِفُوا أَنْ يَقُولُوا: وَرَبِّ الْكَعْبَةِ، وَيَقُولُونَ: مَا شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ شِئْتَ " [سنن النسائي: صححه الشيخ الألباني]

Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan mereka (umat Islma) jika ingin bersumpah agar mengatakan: ”Demi Tuhan Ka’bah”, dan mengatakan: “Apa yang diinginkan Allah kemudian apa yang engkau inginkan”. [Sunan An-Nasa’iy: Sahih]

Wallahu a’lam!




[1] Lihat biografi " Ibrahim bin Al-Fadhl" dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.146 , Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir karya Al-'Uqaily 1/60, Al-Jarh wa At-Ta'diil karya Ibnu Abi Hatim 2/122, Al-Majruhiin karya Ibnu Hibban 1/104, Al-Kaamil karya Ibnu 'Adiy 1/374, Adh-Dhu'afaa' karya Ad-Daraquthniy 1/149, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/45, Tahdziib Al-Kamaal karya Al-Mizziy 2/165, Miizaan Al-I'tidaal karya Adz-Dzahabiy 1/52, Tahdziib At-Tahdziib karya Ibnu Hajar 1/150, Taqriib At-Tahdziib karya Ibnu Hajar hal.92.
[2] Lihat biografi " Muhammad bin Humaid " dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 4/61, Al-Jarh wa At-Ta'diil 7/232, Al-Majruhiin 2/303, Al-Kaamil 7/529, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 3/54, Tahdziib Al-Kamaal 25/97, Al-Kaasyif karya Adz-Dzahabiy 2/166, Taqriib At-Tahdziib hal.475.
[3] Lihat biografi " Shalih bin Hayyan " dalam kitab: Taariikh Ibnu Ma'in riwayat Ad-Duuriy 4/64, Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.194 , Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 2/200, Al-Jarh wa At-Ta'diil 4/398, Al-Majruhiin 1/369, Al-Kaamil 5/80, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 2/48, Tahdziib Al-Kamaal 13/33, Miizaan Al-I'tidaal karya Adz-Dzahabiy 2/292, Taqriib At-Tahdziib hal.271.
[4] Lihat biografi " Utsman bin Al-Khathab " dalam kitab: Taarikh Bagdaad karya Al-Khathiib 13/184, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 2/167, Miizaan Al-I'tidaal 3/145, Lisaan Al-Miizaan karya Ibnu Hajar 5/380.
[5] Lihat biografi " Abdul Wahhab " dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Ash-Shagiir karya Al-Bukhariy hal.81 , Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'iy hal.208 , Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir  713/, Al-Jarh wa At-Ta'diil  6/69, Al-Majruhiin 2/146, Al-Kaamil 6/513, Adh-Dhu'afaa' karya Ad-Daraquthniy 2/162, Adh-Dhu'afaa' karya Abu Nu'aim hal.104 , Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 2/158, Tahdziib Al-Kamaal 18/516, Miizaan Al-I'tidaal 2/682, Taqriib At-Tahdziib hal.368.
[6] Lihat biografi "‘Anbasah bin Abdirrahman " dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'iy hal.216 , Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 3/367, Al-Jarh wa At-Ta'diil 6/402, Al-Majruhiin 2/178, Al-Kaamil 6/459, Adh-Dhu'afaa' karya Abu Nu'aim hal.125 , Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 2/235, Tahdziib Al-Kamaal  22/416, Miizaan Al-I'tidaal 3/301, Taqriib At-Tahdziib hal.433.
[7] Lihat biografi " Hisyam bin Sa’ad " dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.245 , Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 4/341, Al-Jarh wa At-Ta'diil 9/61, Al-Majruhiin 3/89, Al-Kaamil 8/409, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 3/174, Tahdziib Al-Kamaal 30/204, Miizaan Al-I'tidaal 4/298, Taqriib At-Tahdziib hal.572.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...