Minggu, 05 Juli 2015

Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (5) Apakah boleh dikatakan “Ramadhan”?

بسم الله الرحمن الرحيم


Pembahasan pertama:

Bab kelima kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhariy adalah bab “Apakah (boleh) dikatakan: Ramadhan, atau (harus dikatakan) bulan Ramadhan? Dan (pendapat) orang yang menganggap semuanya boleh (mengatakan Ramadhan atau bulan Ramadhan).

Kemudian Imam Bukhari rahimahullah menyebutkan dua hadits mu’allaq dan tiga hadits muttasil (dengan sanad yang bersambung), dua dari Abu Hurairah dan satu dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum.

Hadits mu’allaq adalah hadits yang terputus sanadnya karena jatuh satu rawi atau lebih secara berturut-turut dari awal (guru penulis buku).

Seperti dua hadits yang disebutkan oleh Imam Bukhari pada bab ini, beliau telah menjatuhkan semua rawinya mulai dari guru Imam Bukhari dan langsung menyebutkannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akan tetapi, untuk hadits pertama sudah diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan sanad bersambung (muttasil) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pada bab kedua puluh tujuh di kitab Al-Imaan, dan akan diriwayatkan lagi pada bab selanjutnya (bab keenam) di kitab Ash-Shaum, dan bab kedua di kitab Shalat At-Tarawih.

Sedangkan hadits kedua akan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dengan sanad bersambung pada bab keempat belas kitab Ash-Shaum, dari Abu Hurairah dengan lafadz yang mirip:

«لاَ يَتَقَدَّمَنَّ أَحَدُكُمْ رَمَضَانَ ... »

Adapun lafadz yang sama, maka diriwayatkan oleh Imam Muslim dengan sanad bersambung dalam buku Sahih-nya di kitab Ash-Shiyaam.

Pembahasan kedua:

Kelima hadits dalam bab ini dijadikan dalil oleh Imam Bukhari rahimahullah bahwa kita boleh mengatakan “Ramadhan” atau “bulan Ramadhan”, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutnya demikian.

Alasan yang memakruhkannya karena “Ramadhan” dianggap salah satu nama Allah subhanahu wa ta’aalaa maka ini adalah pendapat yang lemah dan tidak ada dalilnya.

Adapun hadits:

" لَا تَقُولُوا رَمَضَانَ فَإِنَّ رَمَضَانَ اسْمُ اللَّهِ، وَلَكِنْ قُولُوا شَهْرُ رَمَضَانَ "

“Jangan kalian mengatakan “Ramadhan”, karena sesungguhnya Ramadhan adalah nama Allah. Akan tetapi katakanlah “bulan Ramadhan”

Maka Ibnu Al-Jauziy dalam kitabnya “Al-Maudhu’aat” (2/187) mengatakan: Hadits ini palsu.

Pembahasan ketiga:

Ramadhan adalah nama bulan kesembilan tahun hijriyah. Nama bulan Ramadhan sudah ada sebelum Islam. Dinamai Ramadhan karena pada waktu itu cuaca di bulan ini sangat panas, dan kata Ramadhan berasal dari kata “ramadh” yang berarti panas.

Pembahasan keempat:

Hadits pertama dan kedua: Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika datang Ramadhan, dibuka pintu-pintu surga”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika masuk bulan Ramadhan, dibuka pintu-pintu langit, ditutup pintu-pintu neraka jahannam, dan setan-setan dirantai”.

Penjelasan singkat hadits ini:

1.      Biografi singkat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan beberapa keistimewaannya bisa dibaca di sini "Abu Hurairah dan keistimewaannya".

2.      Hadits ini menunjukkan keutamaan bulan Ramadhan.

3.      Pada bab sebelumnya (bab 4) telah disebutkan tentang pintu surga yang jumlahnya delapan.

4.      Selain di bulan Ramadhan, pintu surga juga di buka pada hari Senin dan Kamis.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

" تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْإِثْنَيْنِ، وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا " [صحيح مسلم]

"Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, lalu diampuni dosa setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu, kecuali orang yang ada permusuhan antara ia dan saudaranya. Maka dikatakan: Belakangkan kedua orang ini sampai keduanya berdamai, belakangkan kedua orang ini sampai keduanya berdamai, belakangkan kedua orang ini sampai keduanya berdamai". [Sahih Muslim]

5.      Hadits ini menunjukkan bahwa surga dan neraka sudah diciptakan.

6.      Pintu langit yang dimaksud pada riwayat kedua adalah pintu surga sebagaimana riwayat pertama karena digandengkan dengan penutupan pintu neraka.

Begitu pula dengan riwayat sahih Muslim:

«إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ»

“Jika datang bulan Ramadhan maka pintu-pintu rahmat dibuka.”

Pintu rahmat yang dimaksud adalah pintu surga, sebagaimana firman Allah dalam satu hadits qudsi, Allah berkata kepada surga:

أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي

"Engkau adalah rahmat-Ku, Aku merahmati denganmu siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hambaKu." [Sahih Bukhari dan Muslim]

Sebagian ulama berpendapat bahwa pintu langit dan pintu rahmat juga dibuka pada bulan Ramadhan sama seperti surga.

7.      Hadits ini menunjukkan bahwa neraka juga memiliki pintu-pintu. Jumlahnya 7 pintu, Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:

{وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمَوْعِدُهُمْ أَجْمَعِينَ (43) لَهَا سَبْعَةُ أَبْوَابٍ لِكُلِّ بَابٍ مِنْهُمْ جُزْءٌ مَقْسُومٌ} [الحجر: 43، 44]

Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar tempat yang telah diancamkan kepada mereka (pengikut-pengikut syaitan) semuanya. Jahannam itu mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu (telah ditetapkan) untuk golongan yang tertentu dari mereka. [Al-Hijr: 43-44]

8.      Sebagian ulama memahami hadits ini secara dzahir bahwa pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu secara hakiki.

Pintu surga dibuka untuk memuliakan bulan Ramadhan, dan orang mati saat berpuasa pada hari itu langsung masuk surga. Begitupula dengan neraka tertutup bagi orang-orang berpuasa. Dan setan yang dibelenggu adalah setan yang suka menggoda manusia.

Sedangkan ulama lain berpendapat bahwa semua itu adalah majas yang menunjukkan bahwa kebaikan pada bulan Ramadhan dimudahkan, kejahatan menjadi sedikit, dan godaan setan tidak mempan bagi orang-orang yang berpuasa.

9.      Selain setan, jin yang jahat juga dibelenggu, sebagaimana dalam riwayat lain:

" إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ، وَمَرَدَةُ الجِنِّ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الجَنَّةِ، فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ، وَيُنَادِي مُنَادٍ: يَا بَاغِيَ الخَيْرِ أَقْبِلْ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنَ النَّارِ، وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ " [سنن الترمذي: صحيح]

“Pada awal malam bulan Ramadan setan-setan dibelenggu dan jin yang jahat, pintu-pintu neraka ditutup maka tidak satupun pintu yang terbuka, dan pintu-pintu surga dibuka maka tidak satu pintu pun yang tertutup, dan ada yang berseru: "Wahai pencari kebaikan, marilah! Dan Wahai pencari keburukan, tinggalkanlah!". Dan Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka setiap malamnya”. [Sunan Tirmidzi: Sahih]

10.  Jika setan dibelenggu pada bulan Ramadhan, mengapa masih ada yang melakukan maksiat?

Ada beberapa jawaban, diantaranya:

a.       Setan dibelenggu hanya untuk orang-orang yang berpuasa.
b.      Setan yang dibelenggu hanya dari kalangan jin, adapun setan dari kalangan manusia masih tetap berkeliaran.
c.       Setan dibelenggu, tapi bisikan-bisikannya masih melekat pada sebagian manusia.

Pembahasan kelima:

Hadits ketiga, hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika kalian melihatnya (hilal Ramadhan) maka berpuasalah, dan jika kalian melihatnya (hilal Syawwaal) maka berbukalah, dan jika awan menghalagi pengliahatan kalian maka perkirakanlah untuknya”.

Dalam riwayat lain;

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “tentang hilal Ramadhan, ...”

Hadits ini akan diriwayatkan ulang oleh Imam Bukhari pada bab kesebelas kitab Ash-Shaum, dan insyaallah akan dibahas di sana.

Pembahasan keenam:

Keistimewaan lain bulan Ramadhan:

1)       Puasa diwajibkan pada bulan Ramadhan.

2)       Kitab suci diturunkan pada bulan Ramadhan.

Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:

{شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ} [البقرة: 185]

Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). [Al-Baqarah:185]

Dari Watsilah bin Al-Asqa' radiyallahu 'anhu; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

" أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْفُرْقَانُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ " [مسند أحمد: حسن]

“Suhuf Ibrahim 'alaihissalam diturunkan pada awal malam bulan Ramadan, dan Taurat diturunkan pada enam hari lewat bulan Ramadan, dan Injil pada hari ke-tigabelas Ramadan, dan Al-Qur'an turun pada hari ke-duapuluh empat Ramadhan”. [Musnad Ahmad: Hasan]

3)      Bulan penuh berkah.

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ» [سنن النسائي: صحيح]

“Telah datang kepada kalian bulan Ramadan, bulan penuh berkah (mubarak)”. [Sunan An-Nasa'i: Sahih]

4)      Setiap harinya ada pembebesan dari neraka.

Dari Jabir radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«إِنَّ لِلَّهِ عِنْدَ كُلِّ فِطْرٍ عُتَقَاءَ، وَذَلِكَ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ» [سنن ابن ماجه: صحيح]

“Sesungguhnya Allah memiliki orang-orang yang dibebaskan dari neraka di setiap waktu berbuka, dan itu terjadi pada setiap malam” [Sunan Ibnu Majah: Sahih]

5)      Umrah pada bulan Ramadhan bernilai haji.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«فَإِنَّ عُمْرَةً فِي رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي» [صحيح البخاري ومسلم]

“Sesungguhnya melaksanakan umrah di bulan Ramadhan senilai dengan haji atau haji bersamaku”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

6)      Ampunan bagi yang shalat lail di bulan Ramadhan.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Barangsiapa yang mendirikan shalat malam (tarawih) di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan harapan, maka diampuni untuknya semua dosanya yang telah lalu. [Sahih Bukhari dan Muslim]

7)      Ada malam lailatul qadr.

Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:

{إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ} [القدر: 1 - 5]

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [Al-Qadr: 1-5]

8)      Tidak berkurang pahalanya.

Dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

" شَهْرَانِ لاَ يَنْقُصَانِ، شَهْرَا عِيدٍ: رَمَضَانُ، وَذُو الحَجَّةِ " [صحيح البخاري]

“Ada dua bulan yang tidak berkurang pahala amalannya (sekalipun jumlah harinya berkurang), dua bulan hari raya ('id): Ramadan dan Dzul Hijjah. [Sahih Bukhari]

Wallahu ta’aalaa a’lam!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...