Jumat, 13 Juli 2018

Hukum mengucapkan salam di akhir shalat

بسم الله الرحمن الرحيم


Ada dua pendapat ulama tentang hukum mengucapkan salam di akhir shalat; Ada yang menghukuminya wajib dan rukun shalat, dan ada yang menghukuminya sebatas sunnah.

Pendapat pertama: Wajib, dan rukun shalat.

Ini adalah pendapat Imam Syafi’iy dan mazhab Al-Hadawiyah.
Imam An-Nawawiy –rahimahullah- berkata: Ini adalah pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in, dan generasi setelahnya.

Dalil yang dijadikan hujjah:

1.       Hadits “Penutup shalat adalah salam”

Dari Ali bin Abi Thalib, dan Abu Sa’id Al-Khudriy –radhiyallahu ‘anhum-; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
«مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ»
“Kunci shalat adalah bersuci, pembukanya adalah takbiratul ihram, dan penutupnya adalah salam” [Sunan Abi Daud: Hasan, dan Sunan Tirmidziy: Shahih]

Salam dinamakan “tahliil” (yang menghalalkan) karena dengan salam segala aktivitas di luar shalat jadi halal untuk dilakukan kembali. Dengan demikian orang yang belum salam maka shalatnya belum sempurna dan belum halal baginya melakukan aktivitas di luar shalat.

2.       Hadits Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ia berkata:
كَانَ - النبي صلى الله عليه وسلم - يَخْتِمُ الصَّلَاةَ بِالتَّسْلِيمِ [صحيح مسلم]
“Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- menutup shalat dengan salam”. [Shahih Muslim]

3.       Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- tidak pernah meninggalkan salam di akhir shalatnya.

4.       Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wasallam- memerintahkan salam sekalipun saat melakukan sujud sahwi.

Dari Abi Sa’id Al-Khudriy –radhiyallahu ‘anhu-; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
«إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، ... » [صحيح مسلم]
“Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, dan tidak mengetahui berapa raka’at dia shalat, tiga ataukah empat raka’at, maka tinggalkanlah keraguan dan ambillah yang pasti (yaitu yang sedikit), kemudian sujudlah dua kali sebelum memberi salam”. [Shahih Muslim]

Dari Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu-; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
«إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ، فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيُسَلِّمْ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ» [صحيح البخاري]
“Jika seseorang dari kalian ragu dalam shalatnya maka dia harus meyakini mana yang benar, kemudian hendaklah ia sempurnakan, lalu salam kemudian sujud dua kali”. [Shahih Bukhari]

Pendapat kedua: Hukumnya sunnah.

Ini adalah pendapat mazhab Hanafiy dan selainnya.

Dalil yang dijadikan hujjah:

1)      Hadits Ibnu ‘Amr –radhiyallahu ‘anhuma-.

Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dalan “Al-Jaami’” atau dikenal dengan nama “sunan Tirmidziy” (2/261) no.408, dan Ad-Daraquthniy dalam sunan-nya (2/217) no.1422:
عن عَبْد الرَّحْمَنِ بْن زِيَادِ بْنِ أَنْعُمَ، أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ رَافِعٍ، وَبَكْرَ بْنَ سَوَادَةَ، أَخْبَرَاهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا أَحْدَثَ - يَعْنِي الرَّجُلَ - وَقَدْ جَلَسَ فِي آخِرِ صَلَاتِهِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ فَقَدْ جَازَتْ صَلَاتُهُ»
Dari Abdirrahman bin Ziyaad bin An’um, bahwasanya Abdirrahman bin Raafi’ dan Bakr bin Sawaadah, memberitakan dari Abdullah bin ‘Amr; Ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila seseorang berhadats (wudhunya batal) sedangkan ia telah duduk di akhir shalatnya sebelum salam, maka shalatnya telah sah”.

Lafadz riwayat Ad-Daraquthniy:
«إِذَا جَلَسَ الْإِمَامُ فِي آخِرِ رَكْعَةٍ ثُمَّ أَحْدَثَ رَجُلٌ مِنْ خَلْفِهِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ الْإِمَامُ فَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُهُ»
“Jika seorang imam duduk di raka’at terakhir kemudian seorang dari makmumnya berhadats sebelum imam memberi salam, maka shalat orang tersebut telah sempurna”

Imam Tirmidziy rahimahullah- berkata:
«هَذَا حَدِيثٌ لَيْسَ إِسْنَادُهُ بِالقَوِيِّ، وَقَدْ اضْطَرَبُوا فِي إِسْنَادِهِ» ... «وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زِيَادٍ، هُوَ الْإِفْرِيقِيُّ، وَقَدْ ضَعَّفَهُ بَعْضُ أَهْلِ الحَدِيثِ مِنْهُمْ يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ القَطَّانُ، وَأَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ»
“Hadits ini sanadnya tidak kuat, terdapat kerancuan dalam sanadnya, ... dan Abdurrahman bin Ziyaad adalah Al-Ifriqiy (dari negri Afrika), beberapa ahli hadits melemahkan periwayatan haditsnya, diantaranya: Yahya bin Sa’id Al-Qathan dan Ahmad bin Hambal”.
Ad-Daraquthniy rahimahullah- mengatakan:
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ زِيَادٍ ضَعِيفٌ لَا يُحْتَجُّ بِهِ
Abdurrahman bin Ziyaad[1] adalah perawi yang lemah, tidak bisa dijadikan hujjah”.

2)      Hadits Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhuma-.

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam “Hilyatul auliyaa’” (5/116-117), ia berkata:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُظَفَّرِ، قَالَ: ثنا صَالِحُ بْنُ أَحْمَدَ، قَالَ: ثنا يَحْيَى بْنُ مَخْلَدٍ الْمُفْتِي، قَالَ: ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْحَسَنِ أَبُو مَسْعُودٍ الزَّجَّاجُ، عَنْ عُمَرَ بْنِ ذَرٍّ، عَنْ عَطَاءٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا فَرَغَ مِنَ التَّشَهُّدِ أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ وَقَالَ: «مَنْ أَحْدَثَ حَدَثًا بَعْدَمَا يَفْرُغَ مِنَ التَّشَهُّدِ فَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُهُ»
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mudzaffar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Shalih bin Ahmad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Makhlad Al-Muftiy, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Al-Hasan Abu Mas’ud Az-Zajjaaj, dari Umar bin Dzar, dari ‘Athaa’, dari Ibnu ‘Abbas; Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam jika selesai dari tasyahhud beliau menghadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: “Barangsiapa yang berhadats setelah selesai tasyahhud, maka shalatnya telah sempurna”.

Abu Nu’aim rahimahullah- berkata:
غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ عُمَرَ، تَفَرَّدَ بِهِ مُتَّصِلًا أَبُو مَسْعُودٍ الزَّجَّاجُ، وَرَوَاهُ غَيْرُ وَاحِدٍ مُرْسَلًا
“Hadits ini aneh diriwayatkan dari Umar (bin Dzar), tidak ada yang meriwayatkannya secara bersambung selain Abu Mas’ud Az-Zajjaaj, sedangkan selainnya lebih dari satu orang meriwayatkannya secara terputus”.
Abu Hatim rahimahullah- mengatakan: “Hadits Abu Mas’ud Az-Zajjaaj[2] boleh ditulis tapi tidak bisa dijadikan hujjah”. Sedangkan yang lain mengatakan: “Haditsnya shalih (cukup baik)”.

3)      Hadits “Al-Musii’u shalaatahu” (orang yang buruk dalam shalatnya).

Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu- berkata:
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- دَخَلَ المَسْجِدَ فَدَخَلَ رَجُلٌ، فَصَلَّى، فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، فَرَدَّ وَقَالَ: «ارْجِعْ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ»، فَرَجَعَ يُصَلِّي كَمَا صَلَّى، ثُمَّ جَاءَ، فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-، فَقَالَ: «ارْجِعْ فَصَلِّ، فَإِنَّكَ لَمْ تُصَلِّ» ثَلاَثًا، فَقَالَ: وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالحَقِّ مَا أُحْسِنُ غَيْرَهُ، فَعَلِّمْنِي، فَقَالَ: «إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلاَةِ فَكَبِّرْ، ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنَ القُرْآنِ، ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْدِلَ قَائِمًا، ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا، ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا، وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاَتِكَ كُلِّهَا» [صحيح البخاري]
Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam masuk ke masjid, lalu ada juga seorang laki-laki masuk masjid dan langsung shalat kemudian memberi salam kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau menjawab dan berkata kepadanya, "Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum shalat!" Maka orang itu mengulangi shalatnya seperti yang dilakukannya pertama tadi, kemudian datang menghadap kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan memberi salam. Namun Beliau kembali berkata: "Kembalilah dan ulangi shalatmu karena kamu belum shalat!" Beliau memerintahkan orang ini sampai tiga kali hingga akhirnya laki-laki tersebut berkata, "Demi Dzat yang mengutus Tuan dengan haq, aku tidak bisa melakukan yang lebih baik dari itu. Maka ajarkkanlah aku!" Beliau lantas berkata: "Jika kamu berdiri untuk shalat maka mulailah dengan takbir, lalu bacalah apa yang mudah buatmu dari Al Qur'an, kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan thuma'ninah (tenang), lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu berdiri tegak, lalu sujudlah sampai hingga benar-benar thuma'ninah, lalu angkat (kepalamu) untuk duduk hingga benar-benar duduk dengan thuma'ninah. Maka lakukanlah dengan cara seperti itu dalam seluruh shalat (rakaat) mu." [Shahih Bukhari]

Dalam riwayat lain dengan tambahan lafadz di akhir hadits:
«فَإِذَا فَعَلْتَ هَذَا فَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُكَ، وَمَا انْتَقَصْتَ مِنْ هَذَا شَيْئًا، فَإِنَّمَا انْتَقَصْتَهُ مِنْ صَلَاتِكَ» [سنن أبي داود]
"Jika kamu melakukan seperti ini, maka shalatmu telah sempurna, dan apabila kamu mengurangi dari cara ini, berarti kesempurnaan shalatmu juga akan terkurangi." [Sunan Abi Daud: Shahih]

Rifaa’ah bin Raafi’ –radhiyallahu ‘anhu- berkata:
أَنَّ رَجُلًا دَخَلَ الْمَسْجِدَ، فَذَكَرَ نَحْوَهُ قَالَ فِيهِ: فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّهُ لَا تَتِمُّ صَلَاةٌ لِأَحَدٍ مِنَ النَّاسِ حَتَّى يَتَوَضَّأَ، فَيَضَعَ الْوُضُوءَ - يَعْنِي مَوَاضِعَهُ - ثُمَّ يُكَبِّرُ، وَيَحْمَدُ اللَّهَ جَلَّ وَعَزَّ، وَيُثْنِي عَلَيْهِ، وَيَقْرَأُ بِمَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ يَرْكَعُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ، ثُمَّ يَقُولُ: سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَائِمًا، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ يَسْجُدُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، وَيَرْفَعُ رَأْسَهُ حَتَّى يَسْتَوِيَ قَاعِدًا، ثُمَّ يَقُولُ: اللَّهُ أَكْبَرُ، ثُمَّ يَسْجُدُ حَتَّى تَطْمَئِنَّ مَفَاصِلُهُ، ثُمَّ يَرْفَعُ رَأْسَهُ فَيُكَبِّرُ، فَإِذَا فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ تَمَّتْ صَلَاتُهُ " [سنن أبي داود: صحيح]
Bahwasanya seorang laki-laki masuk masjid…" -selanjutnya dia melanjutkan seperti hadits Abu Hurairah-, lalu dia berkata; "Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang sehingga dia berwudhu' yaitu membasuh anggota wudhu'nya (dengan sempurna) kemudian bertakbir, memuji Allah Jalla wa 'Azza, menyanjung-Nya dan membaca Al-Qur'an yang mudah baginya. Setelah itu mengucapkan Allahu Akbar, kemudian ruku' sampai tenang semua persendiannya, lalu mengucapkan "Sami'allahu liman hamidah" sampai berdiri lurus, kemudian mengucapkan Allahu Akbar, lalu sujud sehingga semua persendiannya tenang. Setelah itu mengangkat kepalanya sambil bertakbir. Apabila dia telah mengerjakan seperti demikian, maka shalatnya menjadi sempurna." [Sunan Abi Daud: Shahih]

Dalam hadits ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkan orang tersebut untuk mengucapkan salam di akhri shalat, dan beliau mengatakan bahwa jika orang tersebut melaksanakan semua yang disebutkan dalam hadits ini maka shalatnya telah sempurna sekalipun tanpa salam.

4)      Hadits Ibnu Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu-.

Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam sunan-nya (1/254) no.970:
قال: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ النُّفَيْلِيُّ، حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الْحُرِّ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُخَيْمِرَةَ، قَالَ: أَخَذَ عَلْقَمَةُ بِيَدِي، فَحَدَّثَنِي أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ، أَخَذَ بِيَدِهِ، وَأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِ عَبْدِ اللَّهِ، فَعَلَّمَهُ التَّشَهُّدَ فِي الصَّلَاةِ، فَذَكَرَ مِثْلَ دُعَاءِ حَدِيثِ الْأَعْمَشِ: «إِذَا قُلْتَ هَذَا أَوْ قَضَيْتَ هَذَا فَقَدْ قَضَيْتَ صَلَاتَكَ، إِنْ شِئْتَ أَنْ تَقُومَ فَقُمْ، وَإِنْ شِئْتَ أَنْ تَقْعُدَ فَاقْعُدْ»
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad An-Nufailiy, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Zuhair, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Al-Hurr, dari Al-Qasim bin Mukhaimirah, ia berkata; 'Alqamah memegang tanganku, lalu menceritakan kepadaku bahwa Abdullah bin Mas'ud pernah memegang tangannya, dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam juga pernah memegang tangan Abdullah bin Mas'ud, lalu beliau mengajarinya tasyahhud dalam shalat…" kemudian dia menyebutkan seperti do'a dalam haditsnya Al-A'masy, (sabdanya): "Apabila kamu telah mengucapkan do'a tersebut atau selesai membaca do'a ini, maka kamu benar-benar telah menyelesaikan shalatmu, jika kamu hendak berdiri, berdirilah dan jika hendak duduk, maka duduklah.".

5)      Firman Allah subhanahu wata’aalaa:
{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ} [الحج: 77]
Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. [Al-Hajj: 77]
Dalam ayat ini tidak disebutkan salam.

Jumhur membantah dalil pendapat kedua:

a)      Hadits Abdullah bin ‘Amr dan Ibnu Abbas derajatnya lemah sebagaimana disepakati oleh ulama hadits.
Al-Hafidz Ibnu Hajar –rahimahullah- berkata: “Hadits tersebut dilemahkan oleh para ulama hadits”. [Fathul Baari 2/323]

b)      Hadits tentang orang yang tidak baik shalatnya tidak menjunjukkan bahwa salam tidak wajib, karena telah disebutkan dalam riwayat lain sebagai tambahan hukum.

c)       Hadits Ibnu Mas’ud juga lemah karena tambahan lafadz tersebut mudraj bukanlah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, melaikan itu adalah perkataan Ibnu Mas’ud sebagaimana disepakati oleh ulama hadits. [Lihat sunan Ad-Daraquthniy (2/164) no.1334]

Dan riwayat tersebut bertentangan dengan fatwa Ibnu Mas’ud, ia berkata:
" مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ التَّكْبِيرُ وَانْقِضَاؤُهَا التَّسْلِيمُ، إِذَا سَلَّمَ الْإِمَامُ فَقُمْ إِنْ شِئْتَ " [السنن الكبرى للبيهقي]
“Kunci shalat adalah takbiratul ihram,  penutupnya adalah salam, jika imam telah salam, maka bangkitlah jika engkau mau”. [As-Sunan Al-Kubraa karya Al-Baihaqiy]
Al-Baihaqiy –rahimahullah- bekata: “Atsar ini shahih”.

d)      Adapun ayat surah Al-Hajj, maka ayat tersebut sifatnya global (mujmal) telah dirinci oleh hadits-hadits yang menyebutkan tata cara shalat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan jika ayat tersebut mau dipahami hanya secara global, maka tidak ada yang wajib dalam shalat kecuali ruku’ dan sujud, dan ini tidak ada seorang ulama pun yang berpendapat demikian.

Wallahu a’lam!

Bolehkah mencukupkan satu salam saja?

Ulama juga berselisih dalam masalah ini; Ada yang mengatakan yang wajib cuma salam pertama sedangkan salam kedua sunnah, dan ada yang berpendapat keduanya wajib.

Pendapat pertama: Salam pertama wajib dan yang kedua sunnah.

Ini adalah pendapat mazhab Syafi’iy dan Malikiy, dan jumhuur ulama.

Dalil yang dijadikan hujjah:

1.       Hadits “Penutup shalat adalah salam”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
«مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ، وَتَحْرِيمُهَا التَّكْبِيرُ، وَتَحْلِيلُهَا التَّسْلِيمُ»
Lafadz “at-tasliim” salam, menunjukkan cukup satu kali salam saja.

2.       Hadits Aisyah –radhiyallahu ‘anha-.

Diriwayakan oleh Imam Ahmad dalam “Al-Musnad” (43/128) no.25987:
عن بَهْزُ بْنُ حَكِيمٍ، قَالَ: سَمِعْتُ زُرَارَةَ بْنَ أَوْفَى، يَقُولُ: سُئِلَتْ عَائِشَةُ عَنْ صَلَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِاللَّيْلِ؟ فَقَالَتْ كَانَ «يُصَلِّي الْعِشَاءَ ثُمَّ يُصَلِّي بَعْدَهَا رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ يَنَامُ، فَإِذَا اسْتَيْقَظَ وَعِنْدَهُ وَضُوءُهُ مُغَطًّى، وَسِوَاكُهُ اسْتَاكَ، ثُمَّ تَوَضَّأَ، فَقَامَ فَصَلَّى ثَمَانِ رَكَعَاتٍ، يَقْرَأُ فِيهِنَّ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، وَمَا شَاءَ مِنَ الْقُرْآنِ» ، وَقَالَ مَرَّةً: «مَا شَاءَ اللَّهُ مِنَ الْقُرْآنِ، فَلَا يَقْعُدُ فِي شَيْءٍ مِنْهُنَّ إِلَّا فِي الثَّامِنَةِ، فَإِنَّهُ يَقْعُدُ فِيهَا، فَيَتَشَهَّدُ ثُمَّ يَقُومُ، وَلَا يُسَلِّمُ فَيُصَلِّيَ رَكْعَةً وَاحِدَةً، ثُمَّ يَجْلِسُ فَيَتَشَهَّدُ، وَيَدْعُو ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ، يَرْفَعُ بِهَا صَوْتَهُ، حَتَّى يُوقِظَنَا ... »
Dari Bahz bin Hakim, dia berkata; Saya telah mendengar Zurarah bin Aufa berkata; " Aisyah pernah ditanya tentang shalatnya Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam di malam hari?" Aisyah menjawab; "Beliau melaksanakan shalat isya', kemudian setelahnya beliau shalat dua raka'at lalu beliau tidur. Apabila beliau sudah terbangun, di dekatnya sudah disediakan tempat wudhu yang airnya ditutupi dan begitu juga dengan siwaknya. Kemudian beliau berwudhu dan shalat delapan raka'at. Di dalamnya beliau membaca dengan surat Al-Fatihah dan apa yang beliau kehendaki dari Al-Qur'an." Terkadang meriwayatkan, "Seperti apa yang Allah kehendaki dari Al-Qur'an, beliau tidak pernah duduk tahiyat pada rakaat tersebut kecuali pada rakaat yang kedelapan. Beliau duduk pada rakaat tersebut, lalu bertasyahud, kemudian beliau berdiri dan tidak mengucapkan salam. Beliau shalat satu rakaat, kemudian duduk, bertasyahud, dan berdo'a. kemudian mengucapkan salam dengan sekali salam."ASSALAAMU 'ALAIKUM (semoga keselamatan atasmu) sambil mengeraskan suaranya hingga membangunkan kami (yang tertidur). ...”

Diriwayatkan juga oleh oleh Abu Daud dalam sunan-nya (2/42) no.1346, dengan lafadz:
وَيُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً شَدِيدَةً يَكَادُ يُوقِظُ أَهْلَ الْبَيْتِ مِنْ شِدَّةِ تَسْلِيمِهِ
Dengan lafadz yang mirip, diriwayatkan jug oleh An-Nasa’iy dalam sunan-nya (3/240) no.1719:
ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً

3.       Hadits Ibnu Umar –radhiyallahu ‘anhuma-.

Diriwayakan oleh Imam Ahmad dalam “Al-Musnad” (9/332) no.5461, ia berkata:
حَدَّثَنَا عَتَّابُ بْنُ زِيَادٍ، حَدَّثَنَا أَبُو حَمْزَةَ يَعْنِي السُّكَّرِيَّ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ يَعْنِي الصَّائِغَ، عَنِ نَافِعٍ، عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: «كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَفْصِلُ بَيْنَ الْوَتْرِ وَالشَّفْعِ بِتَسْلِيمَةٍ وَيُسْمِعُنَاهَا»
Telah menceritakan kepada kami Attab bin Ziyad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Hamzah yakni As-Sukkariy, dari Ibrahim yakni Ash-Shaa`igh, dari Nafi', dari Ibnu Umar, dia berkata: "Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam memisahkan antara shalat witir yang ganjil dan yang genap dengan satu salam, dan beliau memperdengarkannya kepada kami."

Syekh Syu’aib Al-Arnauthrahimahullah- dalam “Tahqiq Musnad Ahmad” mengatakan: “Sanadnya kuat”.

4.       Hadits Aisyah –radhiyallahu ‘anha-.

Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dalam “Al-Jaami’” (2/90) no296, ia berkata:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى النَّيْسَابُورِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ زُهَيْرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كَانَ يُسَلِّمُ فِي الصَّلَاةِ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً تِلْقَاءَ وَجْهِهِ، ثُمَّ يَمِيلُ إِلَى الشِّقِّ الأَيْمَنِ شَيْئًا»
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya An-Naisaburiy, ia berkata; Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Abu Salamah, dari Zuhair bin Muhammad, dari Hisyam bin Urwah, dari Ayahnya (‘Urwah), dari 'Aisyah, ia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam salam dalam shalatnya hanya sekali salam ke arah depan, kemudian beliau bergeser sedikit condong ke sebelah kanan."

Imam Tirmidziy berkata; "Kami tidak mengetahui hadits 'Aisyah kecuali dari jalur ini. Muhammad bin Isma'il (Al-Bukhariy) berkata; "Zuhair bin Muhammad adalah penduduk Syam, mereka meriwayatkan hadits hadits munkar darinya, sedangkan riwayat penduduk Irak yang berasal darinya lebih tepat dan lebih shahih." Muhammad berkata; "Ahmad bin Hambal berkata; "Sepertinya Zuhair bin Muhammad yang ada pada mereka bukanlah Zuhair yang hadits-haditsnya diambil oleh orang-orang Irak. Dan sepertinya ia adalah orang lain yang mereka ubah namanya."
Imam At-Tirmidziy berkata; "Sebagian ulama berpegangan dengan hadits ini kaitannya dengan salam dalam shalat. Namun riwayat yang paling shahih dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam adalah dua salam, dan ini diamalkan oleh kebanyakan ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, tabi'in dan orang-orang setelah mereka. Sedangkan sebagian sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan yang lain hanya dengan satu salam dalam shalat wajib. Imam Syafi'i berkata; "Jika berkehendak ia boleh dengan satu salam atau dua salam."

Zuhair bin Muhammad At-Tamimiy, Abu Al-Mundzir Al-Khurasaniy; Derajat hadits yang diriwayatkannya diperselisihkan. Lihat komentar ulama tentang hal ini di sini: Takhrij hadits "Puasalah agar kalian sehat".
Hadits ini di-shahih-kan oleh syekh Albaniy rahimahullah. [Shahih Sunan Tirmidziy]

5.       Hadits Sahl bin Sa’ad As-Saa’idiy –radhiyallahu ‘anhu-.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam sunan-nya (1/297) no.918, ia berkata:
حَدَّثَنَا أَبُو مُصْعَبٍ الْمَدِينِيُّ أَحْمَدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمُهَيْمِنِ بْنُ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ: «أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَلَّمَ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً تِلْقَاءَ وَجْهِهِ»
Telah menceritakan kepada kami Abu Mush'ab Al-Madiniy Ahmad bin Abu Bakr, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul Muhaimin bin Abbas bin Sahl bin Sa'd As-Sa'idiy, dari Bapaknya (Abbaas), dari Kakeknya (Sahl bin Sa’ad), ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkan satu salam dengan menghadapkan wajahnya ke depan. "

Lafadz hadits ini diperselisihkan, dan dalam sanadnya ada rawy yang bernama Abdul Muhaimin bin 'Abbas bin Sahl bin Sa'ad As-Saa'idiy[3]. Imam Al-Baehaqiy berkata: “Abdul Muhaimin bin 'Abbas sendiri meriwayatkan hadits ini, dan ia seorang yang lemah periwayatannya (dha'iif)”. Imam Bukhariy mengatakan: “Haditsnya mungkar”. Dan An-Nasa'iy mengatakan: “Haditsnya ditolak (matruuk)”.
Hadits ini di-shahih-kan oleh syekh Albaniy rahimahullah. [Shahih Sunan Ibnu Majah]

6.       Hadits Salamah bin Al-Akwa’ –radhiyallahu ‘anhu-.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam sunan-nya (1/297) no.920, ia berkata:
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَارِثِ الْمِصْرِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ رَاشِدٍ، عَنْ يَزِيدَ مَوْلَى سَلَمَةَ، عَنْ سَلَمَةَ بْنِ الْأَكْوَعِ، قَالَ: «رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- صَلَّى، فَسَلَّمَ مَرَّةً وَاحِدَةً»
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Harits Al-Mishriy, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Rasyid, dari Yazid mantan budak Salamah, dari Salamah bin Al-Akwa' ia berkata: "Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat dengan mengucapkan satu kali salam. "

Sanad hadits ini lemah karena Yahya bin Rasyid Al-Maziniy, Abu Sa’id Al-Bashriy[4]; Periwayatan haditsnya dihukumi lemah oleh Ibnu Ma’in, Abu Hatim, An-Nasa’iy, Ibnu Hibban, Adz-Dzahabiy, Ibnu Hajar, dan selainnya.
Hadits ini di-shahih-kan oleh syekh Albaniy rahimahullah. [Shahih Sunan Ibnu Majah]

7.       Hadits Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu-.

Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam “Al-Mu’jam Al-Ausath” (8/225) no.8473, ia berkata:
قال: حَدَّثَنَا مُعَاذٌ قَالَ: نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ قَالَ: نا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الْمَجِيدِ الثَّقَفِيُّ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ، «أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً»
Hadits ini dihukumi shahih oleh syekh Albaniy, Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: “Perawinya semua tsiqah”. [“Al-Irwaa’” 2/34]

8.       Hadits Sa’ad bin Abi Waqqash –radhiyallahu ‘anhu-.

Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam “Syarh Ma’aanil Aatsaar” (1/266) no.1583:
عن عَبْد الْعَزِيزِ بْن مُحَمَّدٍ الدَّرَاوَرْدِيّ, عَنْ مُصْعَبِ بْنِ ثَابِتٍ, عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ مُحَمَّدٍ, عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ, عَنْ سَعْدٍ: " أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُسَلِّمُ فِي آخِرِ الصَّلَاةِ تَسْلِيمَةً وَاحِدَةً: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ "
Dari Abdul ‘Aziz bin Muhammad Ad-Darawardiy, dari Mush’ab bin Tsabit, dari Ismail bin Muhammad, dari ‘Amir bin Sa’ad, dari Sa’ad; Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan salam di akhir shalat dengan satu kali salam “assalamu ‘alaikum”.

Ath-Thahawiyrahimahullah- mengatakan bahwa hadits dengan lafadz ini hanya diriwayatkan oleh Ad-Darawardiy, sedangkan yang lainnya meriwayatkan dengan lafadz dua salam.
Ibnu Abdil Barrrahimahullah- mengatakan bahwa Ad-Darawardiy keliru dalam hadits ini, tidak ada yang mendukung riwayatnya ini, dan ulama mengingkarinya dengan jelas. [At-Tamhiid 16/188]
Beberapa ulama mengkalaim bahwa Abdul ‘Aziz bin Muhammad Ad-Darawardiy[5] sering melakukan kekeliruan dalam periwayatan hadits, diantaranya: Ibnu Sa’ad, Ahmad bin Hambal, Abu Zur’ah Ar-Raziy, dan Ibnu Hajar .

9.       Beberapa sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mencukupkan salam di akhir shalat cuma sekali.

10.   Dalii ijma’ (kesepakatan ulama).

Ibnu Al-Mundzir (w.319H) –rahimahullah- berkata: Ulama sepakat bahwasanya shalat dengan hanya sekali salam hukumnya boleh. [Al-Ijmaa’ hal.39]

Imam An-Nawawiy (w.676H) –rahimahullah- berkata: “Ulama yang dijadikan rujukan semuanya sepakat bahwasanya tidak wajib salam kecuali yang pertama, dan jika seseorang mencukupkan satu salam saja maka dianjurkan memberri salam menghadap ke depan, dan jika ia salam dua kali maka yang pertama menghadap ke kanannya dan yang kedua menghadap ke sebelah kirinya”. [Syarh Shahih Muslim 5/83]

Ad-Daudiyrahimahullah- berkata:
أجمع العلماء على أنّ من سلّم واحدة فقد تمّت صلاته
“Ulama sepakat bahwasanya orang yang salam sekali maka telah sempurna shalatnya”. [Al-Mufhim karya Al-Qurthubiy 2/204]

Pendapat kedua: Wajib salam dua kali.

Ini adalah salah satu riwayat dari Imam Ahmad, madzhab Hanabilah, mazhab Al-Hadawiyah, pendapat Ibnu Hazm dan ahli Dzahir, pendapat sebagian ulama Malikiy, dan pendapat Al-Hasan bin Shalih –rahimahumullah-.

Dali yang dijadikan hujjah:

1)      Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam senantiasa salam dua kali di akhir shalat, dan beliau bersabda:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي [صحيح البخاري]
“Shalatlah kalian seperti kalian melihat aku shalat”. [Shahih Bukhari]

Dan hadits tentang salam satu kali, semuanya tidak shahih. Ibnu Abdil Bar berkata: “Diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwasanya beliau memberi salam di akhir shalatnya dengan satu kali salam dari hadits Sa’ad bin Abi Waqqaassh, Aisyah, dan Anas bin Malik, namun semuanya merupakan hadits yang memiliki cacat (ma’luul) pada sanadnya, ulama ahli hadits tidak menguatkannya (lemah)”. [At-Tamhiid 16/188]

Syekh Salman bin Fahd Al-‘Audah merajihkan bahwa semua hadits yang menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam salam di akhir shalat hanya sekali, semuanya lemah. [Lihat: http://www.ahlalhdeeth.com]

2)      Hadits Jabir bin Samurah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata:
كُنَّا إِذَا صَلَّيْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْنَا: السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ، السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ، وَأَشَارَ بِيَدِهِ إِلَى الْجَانِبَيْنِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَلَامَ تُومِئُونَ بِأَيْدِيكُمْ كَأَنَّهَا أَذْنَابُ خَيْلٍ شُمْسٍ؟ إِنَّمَا يَكْفِي أَحَدَكُمْ أَنْ يَضَعَ يَدَهُ عَلَى فَخِذِهِ ثُمَّ يُسَلِّمُ عَلَى أَخِيهِ مَنْ عَلَى يَمِينِهِ، وَشِمَالِهِ» [صحيح مسلم]
"Dahulu kami apabila shalat bersama Rasulullah shallallahu'alaihi wasallam, maka kami mengucapkan, 'Assalamu'alaikum Warahmatullahi, 'Assalamu'alaikum Warahmatullahi ' dan dia mengisyaratkan dengan tangannya ke arah dua sisi.' Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Berdasarkan apa kalian melambaikan dengan tangan-tangan kalian, seakan-akan ia adalah ekor kuda yang tidak bisa berhenti. Cukuplah bagi kalian untuk meletakkan tangan kalian pada paha kalian, kemudian mengucapkan salam atas saudaranya yang di sebelah kanannya dan sebelah kirinya'." [Shahih Muslim]

Sabda Rasulullah shallallahu'alaihi wasallamCukuplah bagi kalian ...” menunjukkan bahwa salam satu kali tidak cukup.

3)      Hadits “penutup shalat adalah tasliim”, tidak secara jelas menunjukkan satu kali salam, karena lafadz “at-tasliim” adalah isim jinsi jam’iy yang bisa berarti lebih dari satu salam, mufradnya ditambah taa’ marbuthah “taslimatan” (satu salam).

4)      Hadits Aisyah tentang sifat witir Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kebanyakan diriwayatkan dengan lafadz “tasliiman” sifatnya mutlak yang tidak menunjukkan hanya sekali salam saja tapi bisa lebih dari sekali, dan lafadz tersebut lebih kuat.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya (1/513) no.746, dengan lafadz:
ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَا
“kemudian beliau memberi salam dengan suatu salam dan beliau memperdengarkannya kepada kami”.
Diriwayatkan juga oleh Ibnu Hibban dalam Shahih-nya (6/196) no.2442, dengan lafadz:
ثُمَّ يُسَلِّمُ تَسْلِيمًا يُسْمِعُنَاهُ

5)      Adapun klaim ijma’ bahwa boleh hanya sekali salam, maka klaim ini berlebihan, dan kebiasaan Ibnu Al-Mundzir mengklaim ijma’ terhadap pendapat kebanyakan ulama.

Al-Mardawiyrahimahullah- membantah klaim ijma’ dari Ibnu Al-Mundzir, ia berkata:
هَذَا مُبَالَغَةٌ مِنْهُ، وَلَيْسَ بِإِجْمَاعٍ قَالَ الْعَلَّامَةُ ابْنُ الْقَيِّمِ: وَهَذِهِ عَادَتُهُ إذَا رَأَى قَوْلَ أَكْثَرِ أَهْلِ الْعِلْمِ حَكَاهُ إجْمَاعًا
“Klaim ijma’ ini adalah sikap berlebihan darinya, pendapat tersebut bukan ijma’. Al-‘Allamah Ibnu Al-Qayyim berkata: Itu adalah kebiasaannya, jika ia melihat pendapat kebanyakan ulama, ia mengklaimnya ijma’”. [Al-Inshaaf 2/118]

Kesimpulan:

Pendapat yang kuat adalah pendapat jumhur yang membolehkan hanya sekali salam, akan tetapi sebaiknya mengucapkan dua kali salam sebagaimana yang lebih sering diperaktekkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan agar kita keluar dari perselisihan.

Ibnu Abdil Barrrahimahullah- berkata:
وَالْقَوْلُ عِنْدِي فِي التَّسْلِيمَةِ الْوَاحِدَةِ وَفِي التَّسْلِيمَتَيْنِ أَنَّ ذَلِكَ كُلَّهُ صَحِيحٌ بِنَقْلِ مَنْ لَا يَجُوزُ عَلَيْهِمُ السَّهْوُ وَلَا الْغَلَطُ فِي مِثْلِ ذَلِكَ مَعْمُولٌ بِهِ عَمَلًا مُسْتَفِيضًا بِالْحِجَازِ التَّسْلِيمَةُ الْوَاحِدَةُ وَبِالْعِرَاقِ التَّسْلِيمَتَانِ وَهَذَا مِمَّا يَصِحُّ فِيهِ الِاحْتِجَاجُ بِالْعَمَلِ لِتَوَاتُرِ النَّقْلِ كَافَّةً عَنْ كَافَّةٍ فِي ذَلِكَ وَمِثْلُهُ لَا يُنْسَى وَلَا مَدْخَلَ فِيهِ لِلْوَهْمِ لِأَنَّهُ مِمَّا يَتَكَرَّرُ بِهِ الْعَمَلُ فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّاتٍ فَصَحَّ أَنَّ ذَلِكَ مِنَ الْمُبَاحِ وَالسِّعَةِ وَالتَّخْيِيرِ
Pendapat yang kuat menurut saya tentang salam sekali ata dua kali, bahwasanya semua itu adalah benar karena dinukil dari orang-orang yang tidak mungkin mereka semua lupa atau keliru dalam hal ini, semuanya sangat masyhur diamalkan, di kota Hijaz salam sekali dan di Irak salam dua kali. Dan ini boleh dijadikan hujjah karena dinukil secara mutawatir oleh orang banyak kepada orang banyak, dan hal seperti ini sulit dilupakan dan tidak mungkin terjadi kekeliruan karena terjadi berulang-olang setiap harinya. Maka yang benar bahwasanya salam sekali atau dua kali adalah boleh, ada kelonggaran, dan boleh memilih. [At-Tamhiid 16/190]

Wallahu a’lam!
Referensi:
سبل السلام للصنعاني (1/274)
صحيح فقه السنة (1/325-327)
الفقه الإسلامي وأدلته للأستاذ الدكتور وهبة الزحيلي (1/712-715)




[1] Lihat biografi " Abdurrahman bin Ziyaad " dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.206, Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir karya Al-'Uqaily 2/332, Al-Majruhiin karya Ibnu Hibban 2/50, Adh-Dhu'afaa' karya Ad-Daruquthniy 2/161, Tahdziib Al-Kamaal karya Al-Mizziy 17/102, Miizaan Al-I'tidaal karya Adz-Dzahabiy 2/561, Taqriib At-Tahdziib karya Ibnu Hajar hal.340.
[2] Lihat biografi “ Abdurrahman bin Al-Hasan Az-Zajjaaj “ dalam kitab: Lisaanul Miizaan karya Ibnu Hajar 5/96.
[3] Lihat biografi " Abdul Muhaimin bin 'Abbas " dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Ash-Shagiir karya Al-Bukhariy hal.83 , Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.210 , Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 3/114, Al-Majruhiin 2/148, Al-Kaamil karya Ibnu 'Adiy 7/46, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 2/154, Miizaan Al-I'tidaal 2/671, Taqriib At-Tahdziib hal.366.
[4] Lihat biografi " Yahya bin Rasyid " dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 4/394, Al-Jarh wa At-Ta'diil karya Ibnu Abi Hatim 9/142, Al-Kaamil 9/47, Tarikh Adh-Dhu'afaa karya Ibnu Syahin hal.196, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 3/194, Tahdziib Al-Kamaal 31/299, Al-Kaasyif karya Adz-Dzahabiy 2/365, Taqriib At-Tahdziib hal.590.
[5] Lihat biografi " Abdul ‘Aziz bin Muhammad Ad-Darawardiy " dalam kitab: Ath-Thabaqaat karya Ibnu Sa’ad 5/424, Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 3/20, Al-Jarh wa At-Ta'diil 5/395, Tahdziib Al-Kamaal 18/187, Miizaan Al-I'tidaal 2/633, Taqriib At-Tahdziib hal.358.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...