بسم الله الرحمن الرحيم
Hari Tasyriq adalah hari ke-11, 12,
dan 13 bulan Dzul HIjjah, dimana pada hari-hari tersebut umat Islam yang sedang
menunaikan ibadah Haji melakukan mabit (bermalam) di Mina dan melempar jamrah
yang tiga yaitu; shugra (kecl), wustha (sedang) dan kubra
(besar) atau Al-'Aqabah.
Dinamai hari “Tasyriq” karena pada
masa itu daging kurban dikeringkan “tusyraq” di bawah matahari, atau
karena hewan kurban tidak disembelih sampai matahari terbit “tasyriq”.
Dinamai juga dengan hari “Qarr” yang
berarti tinggal, karena jama’ah haji tinggal di Mina selaka hari-hari tersebut.
Keistimewaan hari-hari Tasyriq
Ada beberapa kistimewaan khusus
hari-hari Tasyriq selain keistimwaan umum bulan Dzul Hijjah, diantaranya:
a) Allah ‘azza
wajalla bersumpah demi hari Tasyriq.
Apabila Allah bersumpah dengan
sesuatu, itu menunjukkan adanya keutamaan dan kelebihan di sisi Allah ‘azza
wajalla.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{وَالْفَجْرِ
(1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2) وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ} [الفجر: 1-3]
"Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan
yang ganjil".
[Al-Fajr: 1-3]
Yang dimaksud dengan "malam
yang sepuluh" adalah sepuluh hari awal Dzulhijjah sebagaimana yang
dirajihkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dan yang lainnya.
Dan sebagian ulama menafsirkan "yang
genap" adalah hari idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah, dan "yang
ganjil" adalah hari Arafah tanggal 9 Dzuhlijjah.
Sebagian lagi menafsirkan "yang
genap" adalah dua hari setelah idul Adha tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah,
dan "yang ganjil" adalah akhir hari Tasyriq tanggal 13
Dzulhijjah. [Tafsir Ibnu Katsir 8/391]
Lihat: Hadits Ibnu ‘Abbas; Keutamaan 10 awal Dzulhijjah
b) Ditentukan oleh Allah
azza wajalla untuk memperbanyak zikir di dalamnya.
Allah subhanahu wata'ala
berfirman:
{وَاذْكُرُوا
اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ} [البقرة: 203]
"Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa
hari yang berbilang". [Al-Baqarah:203]
Maksud dzikir di sini ialah membaca
takbir, tasbih, tahmid, talbiah dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan
"beberapa hari yang berbilang" ialah tiga hari sesudah hari
raya haji yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah (hari-hari Tasyriq).
Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu;
Bahwasanya ia bertakbir mulai setelah shalat subuh hari Arafah sampai
shalat Ashar akhir hari kurban (Tasyriq), ia mengucapkan:
«اللَّهُ
أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ،
وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ» [مصنف ابن أبي شيبة: حسن]
Ø Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma; Bahwasanya
ia bertakbir mulai dari shalat subuh hari ‘Arafah sampai akhir hari
Tasyriq, ia tidak takbir lagi pada shalat Magrib, ia mengucapkan:
«اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، اللَّهُ
أَكْبَرُ كَبِيرًا، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَأَجَلُّ اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ
الْحَمْدُ» [مصنف ابن
أبي شيبة]
Lihat: Perbanyak dzikir di awal Dzulhijjah
c) Hari yang paling
agung.
Dari Abdullah bin Qurth radhiyallahu
'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«إِنَّ
أَعْظَمَ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ،
ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ» [سنن أبي داود: صحيح]
“Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari raya kurban
(idul Adha) dan hari Al-Qarr (esok hari raya kurban)”. [Abu Daud: Shahih]
Lihat: Keistimewaan bulan Dzulhijjah
d) Salah satu hari Raya
Islam.
Dari 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu
'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«يَوْمُ
عَرَفَةَ، وَيَوْمُ النَّحْرِ، وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ
الْإِسْلَامِ، وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ» [سنن أبي داود: صحيح]
“Hari 'Arafah, hari kurban, dan hari-hari tasyriq adalah hari
raya umat Islam, hari itu adalah hari untuk makan dan minum”. [Sunan Abu Daud:
Sahih]
Larangan berpuasa pada hari Tasyriq, hukumnya
makruh.
'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhu berkata
kepada anaknya Abdullah yang sedang berpuasa pada hari Tasyriq:
«كُلْ،
فَهَذِهِ الْأَيَّامُ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا بِإِفْطَارِهَا، وَيَنْهَانَا عَنْ صِيَامِهَا» [سنن أبي داود: صححه الألباني]
“Makanlah, sesungguhnya hari ini adalah hari yang Rasululllah
shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kami untuk makan dan melarang
kami untuk berpuasa”. [Sunan Abu Daud: Shahih]
Kecuali yang sedang menunaikan ibadah haji secara tamattu’
dan tidak memiliki hewan untuk disembelih dan menggantinya dengan puasa tiga
hari di hari tasyriq.
Allah subhanahu wata'aalaa
berfirman:
{فَإِذَا
أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ
الْهَدْيِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ
وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ
أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ} [البقرة: 196]
Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin
mengerjakan 'umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia
menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan
(binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa
haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh
(hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang
yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan
penduduk kota Mekah).
[Al-Baqarah: 196]
Ø Urwah bin
Az-Zubair rahimahullah berkata:
«كَانَتْ
عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَصُومُ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ بِمِنًى، وَكَانَ
أَبُوهَا يَصُومُهَا»
“Bahwasanya Aisyah radhiyallahu ‘anha berpuasa
pada hari Tasyriq di Mina, dan bapaknya juga berpuasa”. [Shahih Bukhari]
Ø Aisyah dan Ibnu 'Umar radhiyallahu
'anhuma keduanya berkata:
«لَمْ
يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ، إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدِ
الهَدْيَ»
"Tidak diperkenankan untuk berpuasa pada hari Tasyriq
kecuali bagi siapa yang tidak mendapatkan hewan korban (Al-Hadyu) ketika
menunaikan haji". [Shahih Bukhari]
Lihat: Puasa yang dilarang
Hikmah larangan berpuasa pada hari Tasyriq.
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus Abdullah bin Hudzafah
berkeliling di Mina untuk menyampaikan:
«لَا
تَصُومُوا هَذِهِ الْأَيَّامَ، فَإِنَّهَا أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ
اللهِ عَزَّ وَجَلَّ» [مسند
أحمد: صحيح]
“Jangan kalian puasa pada hari-hari ini (tasyriq) karena
sesungguhnya ia adalah hari untuk makan, minum dan dzikir kepada Allah 'azza
wajalla”. [Musnad Ahmad: Shahih]
Ø Nubaisyah
Al-Hudzaliy radhiyallahu
'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«أَيَّامُ
التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ» [صحيح مسلم]
"Hari-hari Tasyriq adalah hari makan-makan dan
minum." [Shahih Muslim]
Ø Dari Ka'b bin
Malik radhiyallahu 'anhu:
«أَنَّ
رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ وَأَوْسَ بْنَ
الْحَدَثَانِ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ، فَنَادَى أَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ
إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَأَيَّامُ مِنًى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ» [صحيح مسلم]
Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah
mengutusnya bersama Aus bin Al-Hadatsan pada hari-hari Tasyriq, lalu ia
menyerukan; "Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali seorang yang
mukmin, dan hari-hari di Mina merupakan hari makan-makan dan minum."
[Shahih Muslim]
Lihat: Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (67) Puasa hari Tasyriq
Wallahu a’lam!
Lihat juga: Hari ‘Arafah dan kemuliaannya - Takhrij hadits keutamaan berkurban - Ringkasan fiqhi Kurban - "HAKIKAT QURBAN: ANTARA DAGING, DARAH, DAN KETAKWAAN"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...