بسم الله الرحمن الرحيم
Alhamdulillahirabbil 'alamin. Washshalatu wassalamu 'ala
asyrafil anbiya'i wal mursalin, sayyidina Muhammadin, wa 'ala alihi wa shahbihi
ajma'in. Amma ba'du.
Hari ini kita berkumpul dalam suasana yang penuh berkah, hari
raya Idul Adha, di mana umat Islam di seluruh dunia melaksanakan ibadah kurban.
Namun, sudahkah kita merenungkan: Apa sebenarnya hakikat dari ibadah kurban
ini?
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman dalam Surat
Al-Hajj ayat 37:
{لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا
دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ}
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat
mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat
mencapainya.
[Al-Hajj: 37]
Ayat ini adalah inti dari seluruh pesan Idul Adha. Allah
dengan tegas menyatakan bahwa kurban bukanlah tentang daging yang segar atau
darah yang mengalir. Bukan pula tentang hewan yang gemuk atau mahal. Tapi
tentang ketakwaan—yaitu seberapa besar keikhlasan dan ketaatan kita kepada
Allah.
Lihat: Manifestasi tauhid dalam ibadah kurban
Kurban Adalah Simbol Ketaatan, Bukan Ritual Fisik Belaka
Saudara-saudara kita sering terjebak pada kemeriahan
eksternal kurban: sibuk memilih hewan terbaik, membagikan daging, mengukur
beratnya. Itu semua baik, tetapi jangan sampai melupakan ruhnya.
Hakikat kurban adalah kesiapan untuk menaati perintah Allah,
meskipun perintah itu berat. Tepat seperti yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam.
Beliau
diperintahkan untuk menyembelih putra tercintanya, Ismail.
Bukan karena Allah butuh daging, tapi karena Allah ingin melihat sejauh mana
tingkat kepasrahan dan kepatuhan Ibrahim.
Maka, ketika Ibrahim dan Ismail sama-sama pasrah, Allah
menggantikan Ismail dengan seekor domba besar. Itu artinya: ketika kita sudah
mencapai level ketakwaan tertinggi, Allah akan memberikan jalan keluar yang
terbaik.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{رَبِّ
هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ (100) فَبَشَّرْنَاهُ بِغُلَامٍ حَلِيمٍ (101)
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ
أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ
سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ (102) فَلَمَّا أَسْلَمَا
وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ (103) وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَاإِبْرَاهِيمُ (104) قَدْ
صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ (105) إِنَّ هَذَا
لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ (106) وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ} [الصافات: 100 - 107]
“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang
termasuk orang-orang yang saleh.” Maka Kami beri dia khabar gembira dengan
seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup)
berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya
aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa
pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang
diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang
sabar". Maka ketika keduanya telah berserah diri dan dia (Ibrahim)
membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (untuk melaksanakan perintah Allah).
Lalu Kami panggil dia, “Wahai Ibrahim! sungguh, engkau telah membenarkan mimpi
itu.” Sungguh, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat
baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak
itu dengan seekor sembelihan yang besar. [Ash-Shaafhaat: 100-107]
Lihat: Iman dan kikir tidak akan bersatu dalam Hati
Kurban Mengajarkan Pengorbanan Harta, Jiwa, dan Ego
Hakikat kurban yang kedua adalah pengorbanan (al-udhiyah).
Kata "udhiyah" sendiri mengandung makna sesuatu yang dikorbankan di
waktu dhuha (pagi). Namun secara batin, ibadah ini mengajarkan kita untuk
menyembelih sifat-sifat buruk dalam diri kita:
· Menyembelih sifat tamak dengan belajar berbagi.
· Menyembelih sifat egois dengan memprioritaskan tetangga dan
fakir miskin.
· Menyembelih sifat tidak sabar dengan terus berbaik sangka
kepada Allah.
a.
Ingatlah pengorbanan Nabi Ibrahim dan keluarganya 'alihimussalam.
Lihat: Hadits Ibnu ‘Abbas; Kisah Nabi Ibrahim dan keluarganya
b.
Ingatlah pengorbanan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{إِنَّا
أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ (1) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ} [الكوثر: 1، 2]
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang
banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah. [Al-Kausar 1-2]
Anas radhiyallahu 'anhu berkata:
«أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ، وَيَضَعُ
رِجْلَهُ عَلَى صَفْحَتِهِمَا وَيَذْبَحُهُمَا بِيَدِهِ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Sesungguhnya Nabi ﷺ pernah berkurban dengan dua kambing yang gemuk dan bertanduk,
dan beliau meletakkan kakinya pada lehernya dan menyembelihnya dengan tangannya
sendiri". [Sahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Tafsir surah Al-Kautsar
c.
Ingat pengorbanan para Sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum.
Lihat: Sebab kokohnya sahabat Nabi ﷺ di Mekkah mempertahankan keislamannya
Maka, berbahagialah orang yang mengalirkan darah hewan
kurban, karena dengan itu, semoga Allah mengampuni dosa-dosanya.
Kurban Membangun Solidaritas Kemanusiaan
Di tengah gempita pemotongan hewan dan pembagian daging,
jangan lupa bahwa hakikat kurban juga adalah wujud kepedulian sosial. Daging
kurban dibagikan kepada fakir miskin, kepada mereka yang jarang merasakan lauk
dari daging.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{لِيَشْهَدُوا
مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ عَلَى مَا
رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَكُلُوا مِنْهَا وَأَطْعِمُوا الْبَائِسَ
الْفَقِيرَ} [الحج:
28]
Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan
agar mere-ka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas
rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah
sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang
sengsara dan fakir.
[Al-Hajj: 28]
Ini adalah latihan bagi kita untuk tidak hidup sendirian.
Islam mengajarkan bahwa keberkahan kurban tidak hanya dinikmati oleh orang kaya
yang berkurban, tapi justru dirasakan oleh orang miskin yang menerima
dagingnya. Ini adalah redistribusi kebahagiaan.
Maka, ibadah kurban adalah bukti bahwa antara ritual vertikal
(habluminallah) dan ritual horizontal (habluminannas) tidak bisa dipisahkan.
Lihat: 10 sebab yang menguatkan persaudaraan
Penutup
Kesimpulannya, hakikat berkurban adalah:
1. Meningkatkan ketakwaan—bukan sekadar menggugurkan kewajiban.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَمَنْ
يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ} [الحج: 32]
Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka
sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati. [Al-Hajj: 32]
Lihat: Bertakwa di manapun berada
2. Melatih keikhlasan—mengorbankan apa yang kita cintai demi Allah.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{وَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ
اللَّهِ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ} [البقرة: 165]
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka
mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada
Allah. [Al-Baqarah:
165]
Lihat: Hati yang mencintai Allah
3. Memupuk rasa sosial—mengingat bahwa di sekitar kita masih banyak
yang kekurangan.
Dari Jabir radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«خَيْرُ
النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ» [المعجم الأوسط للطبراني: صححه الألباني]
"Orang yang paling baik adalah yang paling banyak
manfaatnya bagi manusia". [Al-Mu'jam Al-Ausath karya Ath-Thabaraniy:
Shahih]
Lihat: Sedekah terbaik di hari Raya
Mari kita jadikan Idul Adha ini sebagai momentum untuk
"menyembelih" segala bentuk kesombongan, kekikiran, dan kemalasan
dalam diri kita. Semoga kurban kita diterima dan menjadi penebus dosa-dosa
kita. Amiin ..
Wallahu a’lam!
Sumber pokok materi: “IA DeepSeek” dengan beberapa tambahan ayat Al-Qur'an dan hadits.
Lihat juga: Hikmah berkurban - Takhrij hadits keutamaan berkurban - Ibadah-ibadah di bulan Dzulhijjah - Khutbah 'idul Adha; Ibadah haji sebagai momentum persatuan ummat Islam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...