Jumat, 29 Mei 2026

Hari-hari Tasyriq dan keistimewaannya

بسم الله الرحمن الرحيم

Hari Tasyriq adalah hari ke-11, 12, dan 13 bulan Dzul HIjjah, dimana pada hari-hari tersebut umat Islam yang sedang menunaikan ibadah Haji melakukan mabit (bermalam) di Mina dan melempar jamrah yang tiga yaitu; shugra (kecl), wustha (sedang) dan kubra (besar) atau Al-'Aqabah.

Dinamai hari “Tasyriq” karena pada masa itu daging kurban dikeringkan “tusyraq” di bawah matahari, atau karena hewan kurban tidak disembelih sampai matahari terbit “tasyriq”.

Dinamai juga dengan hari “Qarr” yang berarti tinggal, karena jama’ah haji tinggal di Mina selaka hari-hari tersebut.

Keistimewaan hari-hari Tasyriq

Ada beberapa kistimewaan khusus hari-hari Tasyriq selain keistimwaan umum bulan Dzul Hijjah, diantaranya:

a)      Allah ‘azza wajalla bersumpah demi hari Tasyriq.

Apabila Allah bersumpah dengan sesuatu, itu menunjukkan adanya keutamaan dan kelebihan di sisi Allah ‘azza wajalla.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{وَالْفَجْرِ (1) وَلَيَالٍ عَشْرٍ (2) وَالشَّفْعِ وَالْوَتْرِ} [الفجر: 1-3]

"Demi fajar, dan malam yang sepuluh, dan yang genap dan yang ganjil". [Al-Fajr: 1-3]

Yang dimaksud dengan "malam yang sepuluh" adalah sepuluh hari awal Dzulhijjah sebagaimana yang dirajihkan oleh Ibnu Katsir rahimahullah dan yang lainnya.

Dan sebagian ulama menafsirkan "yang genap" adalah hari idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah, dan "yang ganjil" adalah hari Arafah tanggal 9 Dzuhlijjah.

Sebagian lagi menafsirkan "yang genap" adalah dua hari setelah idul Adha tanggal 11 dan 12 Dzulhijjah, dan "yang ganjil" adalah akhir hari Tasyriq tanggal 13 Dzulhijjah. [Tafsir Ibnu Katsir 8/391]

Lihat: Hadits Ibnu ‘Abbas; Keutamaan 10 awal Dzulhijjah

b)      Ditentukan oleh Allah azza wajalla untuk memperbanyak zikir di dalamnya.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ} [البقرة: 203]

"Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang berbilang". [Al-Baqarah:203]

Maksud dzikir di sini ialah membaca takbir, tasbih, tahmid, talbiah dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan "beberapa hari yang berbilang" ialah tiga hari sesudah hari raya haji yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Dzulhijjah (hari-hari Tasyriq).

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu; Bahwasanya ia bertakbir mulai setelah shalat subuh hari Arafah sampai shalat Ashar akhir hari kurban (Tasyriq), ia mengucapkan:

«اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ» [مصنف ابن أبي شيبة: حسن]

Ø  Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma; Bahwasanya ia bertakbir mulai dari shalat subuh hari ‘Arafah sampai akhir hari Tasyriq, ia tidak takbir lagi pada shalat Magrib, ia mengucapkan:

«اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، اللَّهُ أَكْبَرُ، وَأَجَلُّ اللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ» [مصنف ابن أبي شيبة]

Lihat: Perbanyak dzikir di awal Dzulhijjah

c)       Hari yang paling agung.

Dari Abdullah bin Qurth radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«إِنَّ أَعْظَمَ الْأَيَّامِ عِنْدَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَوْمُ النَّحْرِ، ثُمَّ يَوْمُ الْقَرِّ» [سنن أبي داود: صحيح]

“Hari yang paling agung di sisi Allah adalah hari raya kurban (idul Adha) dan hari Al-Qarr (esok hari raya kurban)”. [Abu Daud: Shahih]

Lihat: Keistimewaan bulan Dzulhijjah

d)       Salah satu hari Raya Islam.

Dari 'Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«يَوْمُ عَرَفَةَ، وَيَوْمُ النَّحْرِ، وَأَيَّامُ التَّشْرِيقِ عِيدُنَا أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَهِيَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ» [سنن أبي داود: صحيح]

“Hari 'Arafah, hari kurban, dan hari-hari tasyriq adalah hari raya umat Islam, hari itu adalah hari untuk makan dan minum”. [Sunan Abu Daud: Sahih]

Larangan berpuasa pada hari Tasyriq, hukumnya makruh.

'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhu berkata kepada anaknya Abdullah yang sedang berpuasa pada hari Tasyriq:

«كُلْ، فَهَذِهِ الْأَيَّامُ الَّتِي كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا بِإِفْطَارِهَا، وَيَنْهَانَا عَنْ صِيَامِهَا» [سنن أبي داود: صححه الألباني]

“Makanlah, sesungguhnya hari ini adalah hari yang Rasululllah shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan kami untuk makan dan melarang kami untuk berpuasa”. [Sunan Abu Daud: Shahih]

Kecuali yang sedang menunaikan ibadah haji secara tamattu’ dan tidak memiliki hewan untuk disembelih dan menggantinya dengan puasa tiga hari di hari tasyriq.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ} [البقرة: 196]

Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). [Al-Baqarah: 196]

Ø  Urwah bin Az-Zubair rahimahullah berkata:

«كَانَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا تَصُومُ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ بِمِنًى، وَكَانَ أَبُوهَا يَصُومُهَا»

“Bahwasanya Aisyah radhiyallahu ‘anha berpuasa pada hari Tasyriq di Mina, dan bapaknya juga berpuasa”. [Shahih Bukhari]

Ø  Aisyah dan Ibnu 'Umar radhiyallahu 'anhuma keduanya berkata:

«لَمْ يُرَخَّصْ فِي أَيَّامِ التَّشْرِيقِ أَنْ يُصَمْنَ، إِلَّا لِمَنْ لَمْ يَجِدِ الهَدْيَ»

"Tidak diperkenankan untuk berpuasa pada hari Tasyriq kecuali bagi siapa yang tidak mendapatkan hewan korban (Al-Hadyu) ketika menunaikan haji". [Shahih Bukhari]

Lihat: Puasa yang dilarang

Hikmah larangan berpuasa pada hari Tasyriq.

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengutus Abdullah bin Hudzafah berkeliling di Mina untuk menyampaikan:

«لَا تَصُومُوا هَذِهِ الْأَيَّامَ، فَإِنَّهَا أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ» [مسند أحمد: صحيح]

“Jangan kalian puasa pada hari-hari ini (tasyriq) karena sesungguhnya ia adalah hari untuk makan, minum dan dzikir kepada Allah 'azza wajalla”. [Musnad Ahmad: Shahih]

Ø  Nubaisyah Al-Hudzaliy radhiyallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«أَيَّامُ التَّشْرِيقِ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ» [صحيح مسلم]

"Hari-hari Tasyriq adalah hari makan-makan dan minum." [Shahih Muslim]

Ø  Dari Ka'b bin Malik radhiyallahu 'anhu:

«أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَهُ وَأَوْسَ بْنَ الْحَدَثَانِ أَيَّامَ التَّشْرِيقِ، فَنَادَى أَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا مُؤْمِنٌ، وَأَيَّامُ مِنًى أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ» [صحيح مسلم]

Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah mengutusnya bersama Aus bin Al-Hadatsan pada hari-hari Tasyriq, lalu ia menyerukan; "Sesungguhnya tidak akan masuk surga kecuali seorang yang mukmin, dan hari-hari di Mina merupakan hari makan-makan dan minum." [Shahih Muslim]

Lihat: Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (67) Puasa hari Tasyriq

Wallahu a’lam!

Lihat juga: Hari ‘Arafah dan kemuliaannya - Takhrij hadits keutamaan berkurban - Ringkasan fiqhi Kurban - "HAKIKAT QURBAN: ANTARA DAGING, DARAH, DAN KETAKWAAN"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...