بسم
الله الرحمن الرحيم
Dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhuma:
أَنَّ رَسُولَ
اللهِ ﷺ كَانَ يَدْعُو فَيَقُولُ: «اللهُمَّ طَهِّرْنِي بِالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ
وَالْمَاءِ الْبَارِدِ، اللهُمَّ طَهِّرْ قَلْبِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا
طَهَّرْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَبَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ
ذُنُوبِي كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ، اللهُمَّ إِنِّي
أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَدُعَاءٍ
لَا يُسْمَعُ، وَعِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، اللهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ
هَؤُلَاءِ الْأَرْبَعِ، اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِيشَةً تَقِيَّةً، وَمِيتَةً
سَوِيَّةً، وَمَرَدًّا غَيْرَ مُخْزٍ»
Rasulullah ﷺ
berdoa: "Ya Allah, sucikanlah aku dengan salju, air hujan yang dingin, dan
air yang sejuk. Ya Allah, bersihkanlah hatiku dari kesalahan-kesalahan
sebagaimana Engkau bersihkan baju putih dari kotoran. Jauhkanlah antara aku dan
dosa-dosaku sebagaimana Engkau jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk, jiwa yang tidak pernah puas,
doa yang tidak didengar, dan ilmu yang tidak bermanfaat. Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari keempat hal tersebut. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu
kehidupan yang bertakwa, kematian yang baik, dan tempat kembali yang tidak
menghinakan." [Musnad Ahmad: Shahih ligairih]
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Biografi Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhuma.
Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/
2.
Berdo'a agar disucikan lahir dan batin.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha;
أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكَسَلِ
وَالْهَرَمِ، وَالْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَعَذَابِ
الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَعَذَابِ النَّارِ، وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ
الْغِنَى، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْفَقْرِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ
الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ عَنِّي خَطَايَايَ بِمَاءِ الثَّلْجِ
وَالْبَرَدِ، وَنَقِّ قَلْبِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ
الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ، وَبَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ
بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ»
Nabi ﷺ
berdoa: "Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kemalasan, kepikunan,
dosa, dan utang. Aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kubur dan azab kubur,
dari fitnah neraka dan azab neraka, dari kejahatan fitnah kekayaan, dan aku
berlindung kepada-Mu dari fitnah kemiskinan. Aku juga berlindung kepada-Mu dari
fitnah Al-Masih Ad-Dajjal. Ya Allah, bersihkanlah kesalahan-kesalahanku dengan
air salju dan air es, sucikanlah hatiku dari kesalahan sebagaimana Engkau
menyucikan pakaian putih dari kotoran, dan jauhkanlah antara aku dan
kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau menjauhkan antara timur dan
barat." [Shahih Bukhari]
3.
Pentingnya kebersihan dalam Islam.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{إِنَّ
اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِين} [البقرة: 222]
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan
menyukai orang-orang yang mensucikan diri. [Al-Baqarah:222]
Ø Dari Abu
Malik Al-Asy'ariy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«الطُّهُورُ
شَطْرُ الْإِيمَانِ» [صحيح
مسلم]
"Bersuci adalah sebagian dari iman" [Shahih Muslim]
Lihat: Kebersihan sebagai cermin keimanan
4.
Tingkatan kebersihan (suci) dalam Islam.
Ulama menyebutkan ada empat tingkatan bersuci:
a)
Mensucikan niat dan tujuan dari selain Allah ta’aalaa.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{إِنَّمَا
الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ} [التوبة: 28]
Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. [At-Taubah:28]
{فَأَعْرِضُوا
عَنْهُمْ إِنَّهُمْ رِجْسٌ} [التوبة: 95]
Maka berpalinglah dari mereka (kaum munafiq); Karena
sesungguhnya mereka itu adalah najis. [At-Taubah: 95]
b)
Mensucikan hati dari akhlak yang buruk.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَلَا
تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ} [المدثر: 6]
Dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud)
memperoleh (balasan) yang lebih banyak. [Al-Muddassir: 6]
Ø Dari Abu
Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَكْمَلُ
الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» [سنن أبي داود: صحيح]
“Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah yang
paling mulia akhlaknya”. [Sunan Abi Daud: Shahih]
c)
Mensucikan tubuh dari perbuatan maksiat.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَالرُّجْزَ
فَاهْجُرْ} [المدثر:
5]
Dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji. [Al-Muddassir: 5]
{إِنَّمَا
يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ البَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ
تَطْهِيرًا} [الأحزاب:
33]
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari
kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. [Al-Ahzaab:33]
Ø Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata:
كَانَ رَسُولُ
اللهِ ﷺ يَسْكُتُ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَبَيْنَ الْقِرَاءَةِ إِسْكَاتَةً قَالَ
أَحْسِبُهُ قَالَ هُنَيَّةً فَقُلْتُ: بِأَبِي وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللهِ،
إِسْكَاتُكَ بَيْنَ التَّكْبِيرِ وَالْقِرَاءَةِ، مَا تَقُولُ؟ قَالَ: أَقُولُ: «اللَّهُمَّ
بَاعِدْ بَيْنِي وَبَيْنَ خَطَايَايَ كَمَا بَاعَدْتَ بَيْنَ الْمَشْرِقِ
وَالْمَغْرِبِ، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنَ الْخَطَايَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ
الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ اغْسِلْ خَطَايَايَ بِالْمَاءِ
وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ» [صحيح البخاري]
Rasulullah ﷺ
biasa diam antara takbir dan bacaan (Al-Fatihah) dengan diam yang lama. Perawi
berkata: Aku mengira beliau mengatakan: sebentar. Maka aku berkata: Demi ayah
dan ibuku wahai Rasulullah, diammu antara takbir dan bacaan, apa yang engkau
ucapkan? Beliau bersabda: Aku mengucapkan: "ALLAAHUMMA BAA'ID BAINII WA
BAINA KHATHAAYAAYA KAMAA BAA'ADTA BAINAL MASYRIQI WAL MAGHRIBI, ALLAAHUMMA
NAQQINII MINAL KHATHAAYAA KAMAA YUNAQQATS TSAUBUL ABYADHU MINAD DANASI,
ALLAAHUMMAGHSIL KHATHAAYAAYA BIL MAA'I WATS TSALJI WAL BARADI" (Ya
Allah, jauhkanlah antara aku dan kesalahan-kesalahanku sebagaimana Engkau
jauhkan antara timur dan barat. Ya Allah, bersihkanlah aku dari
kesalahan-kesalahan sebagaimana dibersihkannya kain putih dari kotoran. Ya
Allah, cucilah kesalahan-kesalahanku dengan air, salju, dan embun). [Shahih Bukhari]
d)
Mensucikan badan dan lingkungan.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَثِيَابَكَ
فَطَهِّرْ} [المدثر:
4]
Dan bersihkanlah pakaianmu. [Al-Muddassir: 4]
{قُلْ
لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا
أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ
رِجْسٌ} [الأنعام:
145]
Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang
diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya,
kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi -
karena sesungguhnya semua itu kotor (najis) -". [Al-An'aam:145]
5.
Sifat hati yang bersih:
Diantaranya:
a.
Selalu khusyu'.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{أَلَمْ
يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا
نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ} [الحديد: 16]
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk
tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun
(kepada mereka).
[Al-Hadiid:16]
{وَاسْتَعِينُوا
بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ} [البقرة: 45]
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan
sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang
khusyu'.
[Al-Baqarah:45]
Ø Abu
Ad-Dardaa’ radhiyallahu
'anhu berkata:
«اسْتَعِيذُوا
بِاللَّهِ مِنْ خُشُوعِ النِّفَاقِ»، قِيلَ لَهُ: وَمَا خُشُوعُ النِّفَاقِ؟
قَالَ: «أَنْ يُرَى الْجَسَدُ خَاشِعًا وَالْقَلْبُ لَيْسَ بِخَاشِعٍ» [الزهد لأحمد بن حنبل]
“Mintalah perlindungan kepada Allah dari sifat khusyu’
kemunafikan.” Ia ditanya: Apa itu khusyu’ kemunafikan? Abu Ad-Darda’ menjawab: “Ketika
jasadnya terlihat khusyu’ sedangkan hatinya tidak khusyu’. [Az-Zuhd karya Imam
Ahmad]
Lihat: Sifat Khusyu’; Tunduk penuh ketaatan hanya kepada Allah
b.
Qana'ah.
Dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu
'anhuma; Rasulullah ﷺ
bersabda:
«قَدْ
أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ»
"Telah beruntung orang yang telah Islam, dan diberi
rezki secukupnya dan Allah membuatnya merasa puas atas apa yang Ia berikan
kepadanya". [Sunan Tirmidziy: Shahih]
Ø Hakim bin
Hizam –radhiyallahu
‘anhu- berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«إِنَّ
هَذَا المَالَ خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ، فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ
لَهُ فِيهِ، وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ،
كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلاَ يَشْبَعُ» [صحيح البخاري]
“Sesungguhnya harta ini ibarat buah segar yang manis, maka
barangsiapa yang mengambilnya dengan hati yang lapang (tidak rakus dan memaksa
orang lain) maka ia akan diberkahi untuknya, dan barangsiapa yang mengambilnya
dengan hati yang rakus (memaksa orang lain) maka ia tidak akan diberkahi
untuknya ibarat orang yang makan dan tidak pernah kenyang. [Sahih Bukhari]
Lihat: Hadits An-Nu’man bin Basyir; Mensyukuri nikmat Allah
6.
Dampak buruk Hati yang kotor.
Diantaranya:
1)
Do'a tidak dikabulkan.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu;
Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«أَيُّهَا
النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ
أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ: {يَا أَيُّهَا
الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّى بِمَا
تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ} وَقَالَ: {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ
طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ}. ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ
أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ
وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِىَ
بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ »
Wahai manusia ... sesungguhnya Allah itu baik tidak menerima
kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang yang
beriman seperti apa yang diperintahkan kepada para Rasul. Allah berfirman:
"Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah
amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan".
[Al-Mu'minuun:51] "Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara
rezki yang baik-baik yang kami berikan kepadamu". [Al-Baqarah:172]
Kemudian menceritakan seorang laki-laki yang jauh bepergian, rambutnya kusut,
tubuhnya penuh debu, ia mengangkat tangannya ke langit dan berdo'a: "Ya
... Rabb, Ya .. Rabb!!!" Akan tetapi makanannya dari yang haram, minumannya
dari yang haram, pakaiannya dari yang haram, dan diberi makan dari yang haram,
lalu bagaimana do'anya bisa dikabulkan? [Sahih Muslim]
Lihat: Mengapa do'a kita tidak dikabulkan?
2)
Ilmu tidak bermanfaat.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{مَثَلُ
الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ
يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ
اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [الجمعة: 5]
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat,
kemudian mereka tiada memikulnya (tidak mengamalkan isinya) adalah seperti
keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum
yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. dan Allah tiada memberi petunjuk kepada
kaum yang zalim. [Al-Jumu’ah:5]
Ø Al-Khatiib
Al-Bagdadiy (463H) rahimahullah
berkata:
«إِنَّ
الْعِلْمَ شَجَرَةٌ وَالْعَمَلَ ثَمَرَةٌ ، وَلَيْسَ يُعَدُّ عَالِمًا مَنْ لَمْ
يَكُنْ بِعِلْمِهِ عَامِلًا» [اقتضاء العلم العمل]
“Sesungguhnya ilmu itu ibarat pohon sedangkan amalan adalah
buah. Dan seorang tidak dianggap berilmu selama ia tidak mengamalkan ilmunya”.
[Iqtidhaa' Al-'Ilmi Al-'Amal]
Lihat: Mengamalkan ilmu yang dimiliki
7.
Keutamaan Hati yang bersih.
Diantaranya:
a.
Hidup lebih bertakwa.
Dari Abi Abdillah An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu
‘anhuma: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam bersabda:
«أَلَا
وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا
فَسَدَتْ، فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، ألا وهي القلب»
“Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang
apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh
tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati". [Shahih Bukhari dan Muslim]
b.
Wafat dalam keadaan baik.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{يَا
أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ (27) ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً
مَّرْضِيَّةً (28) فَادْخُلِي فِي عِبَادِي (29) وَادْخُلِي جَنَّتِي} [الفجر : 27-30]
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati
yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku,
masuklah ke dalam surga-Ku. [Al-Fajr: 27-30]
c.
Mendapatkan tempat kembali yang mulia.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{وَلَا
تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ (87) يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88)
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ} [الشعراء: 87 - 89]
Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka
dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. [Asy-Syu'araa': 87 - 89]
{وَمَن
يُرِدِ اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَن تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا ۚ أُولَٰئِكَ
الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ ۚ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا
خِزْيٌ ۖ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ} [المائدة : 41]
Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka
sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada
Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati
mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan
yang besar.
[Al-Maidah: 41]
Lihat: Hati yang selamat (qalbun saliim)
Wallahu a'lam!
Lihat juga: Miskin hati - 3 penggerak hati; Harapan, takut dan cinta - Hati adalah bejana

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...