Minggu, 15 Maret 2026

Hati adalah bejana

بسم الله الرحمن الرحيم

Dari Abu 'Inabah Al-Khaulaniy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«إِنَّ لِلَّهِ آنِيَةً مِنْ أَهْلِ الْأَرْضِ, وَآنِيَةُ رَبِّكُمْ قُلُوبُ عِبَادِهِ الصَّالِحِينَ، وَأَحَبُّهَا إِلَيْهِ أَلْيَنُهَا وَأَرَقُّهَا»

"Sesungguhnya Allah memiliki bejana-bejana di muka bumi, dan bejana Tuhan kalian adalah hati hamba-hamba-Nya yang saleh. Dan yang paling Dicintai-Nya di antara bejana-bejana itu adalah yang paling lembut dan paling halus." [Musnad Asy-Syamiyyin: Hasan ligairih]

Penjelasan singkat hadits ini:

1.      Biografi Abu ‘Inabah Al-Khaulaniy radhiyallahu ‘anhu.

Namanya diperselisihkan, ada yang mengatakan namanya adalah Abdullah bin ‘Inabah, ada yang mengatakan namanya adalah ‘Ammar. Ia tinggal di negri Himsh, hidup di masa Jahiliyah dan masuk Islam di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ada yang mengatakan bahwa ia termasuk sahabat yang shalat menghadap dua kiblat, pertama ke Baitul maqdis dan kedua ke Ka’bah. [Lihat: Tahdzibul Kamal dan Siyarul A’lam An-Nubala’]

2.      Perumpamaan untuk mudah dipahami.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ} [إبراهيم: 25]

Dan Allah membuat perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat. [Ibrahim: 25]

{وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ} [الحشر: 21]

Dan perumpamaan-perumpamaan itu kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. [Al-Hasyr:21]

Lihat: Perumpamaan ilmu dari Allah

3.      Menetapkan sifat "mencintai" bagi Allah subhanahu wata'aalaa.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

«إِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ: إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ، قَالَ: فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ: إِنَّ اللهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ، قَالَ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ، وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَيَقُولُ: إِنِّي أُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضْهُ، قَالَ فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيلُ، ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللهَ يُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضُوهُ، قَالَ: فَيُبْغِضُونَهُ، ثُمَّ تُوضَعُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِي الْأَرْضِ»

"Sesungguhnya Allah jika mencintai seorang hamba, Ia memanggil Jibril dan berkata kepadanya: Sesungguhnya Aku mencintai si Fulan maka cintailah ia! Lalu Jibril ikut mencintainya, kemudian berseru di langit: Sesungguhnya Allah mencintai si Fulan maka cintailah ia. Lalu penduduk langit turut mencintainya, kemudian diturunkan rasa cinta kepadanya di bumi. Dan jika Allah membenci seorang hamba, Ia memanggil Jibril dan berkata kepadanya: Sesungguhnya Aku membenci si Fulan maka bencilah ia. Lalu Jibril ikut membencinya, kemudian berseru di langit: Sesungguhnya Allah membenci si Fulan maka bencilah ia. Lalu penduduk langit turut membencinya, kemudian diturunkan rasa benci kepadanya di bumi." [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Meraih cinta Allah

4.      Hati ibarat bejana.

Malik bin Dinar rahimahullah berkata:

«إن الأبرار تغلي قلوبهم بأعمال البر، وإن الفجار تغلى قلوبهم بأعمال الفجور، والله يرى همومكم فانظروا همومكم يرحمكم الله»

“Orang-orang yang berbakti, hati mereka bergejolak (diliputi semangat) untuk melakukan amal-amal kebaikan. Dan orang-orang yang durhaka, hati mereka bergejolak (diliputi dorongan) untuk melakukan amal-amal kejahatan. Allah melihat kepedihan hati kalian, maka perhatikanlah apa yang membuat hati kalian pedih, semoga Allah merahmati kalian”. [Hilyatul Auliya']

Ø  Abdullah bin Malik rahimahullah berkata:

«إِنَّ لِلَّهِ فِي الْأَرْضِ أَتَتْهُ لَا يَقْبَلُ مِنْهَا إِلَّا الصُّلْبَ الرَّقِيقَ الصَّافِيَ، قَالَ: الصُّلْبُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ، الرَّقِيقُ عِنْدَ ذِكْرِ اللَّهِ، الصَّافِي النَّقِيُّ مِنَ الدَّرَنِ»

“Sesungguhnya Allah memiliki di bumi ini bejana-bejana (wadah-wadah). Dia tidak menerima darinya kecuali yang keras, lembut, dan murni. (Maksudnya:) Keras dalam ketaatan kepada Allah, lembut ketika mengingat Allah, dan murni (bersih) dari kotoran (dosa)”. [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah]

5.      Isi hati bisa nampak dari ucapan.

Yahya bin Mu'adz rahimahullah berkata:

«القلوب كالقدور في الصدور تغلي بما فيها، ومغارفها ألسنتها، فانتظر الرجل حتى يتكلم، فإن لسانه يغترف لك ما في قلبه من بين حلو وحامض وعذب وأجاج، يخبرك عن طعم قلبه اغتراف لسانه»

“Hati itu bagaikan periuk yang ada di dada, mendidih dengan apa yang ada di dalamnya. Dan alat untuk menciduknya adalah lisan-lisan mereka. Maka tunggulah seseorang hingga ia berbicara, karena sesungguhnya lisannya akan menciduk untukmu apa yang ada di dalam hatinya, antara yang manis, yang asam, yang tawar, dan yang pahit. Lisannya akan mengabarkan kepadamu tentang rasa hatinya”. [Hilyatul Auliya]

6.      Keutamaannya menjadi hamba yang shalih.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ} [الأنبياء : 105]

Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh. [Al-Anbiyaa ': 105]

Lihat: "Membangun Pilar Iman: Mengurai Sebab-Sebab Keshalihan Umat dalam Perspektif Al-Qur'an dan Sunnah"

7.      Hati yang paling dicintai oleh Allah yang paling lembut dan halus.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ} [آل عمران: 159]

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. [Ali Imran:159]

Diantara tanda lembut dan halusnya hati yang disebutkan oleh Ibnu Qayim:

a)      Senantiasa memperbanyak dzikir.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا} [الأحزاب: 35]

"Dan laki-laki atau perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah Telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar". [Al-Ahzab:35]

Lihat: Keutamaan dzikir menurut Ibnu Al-Qayyim

b)      Bersedih ketika luput dari dzikir rutinnya.

Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ} [القيامة : 2]

Dan Aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). [Al-Qiyamah: 2]

c)       Kikir dengan waktunya agar tidak terbuang sia-sia.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: " لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا "، وَلَكِنْ قُلْ: " قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ "، فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ»

'Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan; 'Seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu'. Tetapi katakanlah; 'lni sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya. Karena sesungguhnya ungkapan kata 'law' (seandainya) akan membukakan jalan bagi godaan syetan.'" [Shahih Muslim]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata; Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda:

«مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ»

"Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat baginya."

Lihat: Syarah Arba’in hadits (12) Abu Hurairah; Meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat

d)      Impiannya hanya satu yaitu untuk Allah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

«مَنْ كَانَتِ الآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ، وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ، وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَفَرَّقَ عَلَيْهِ شَمْلَهُ، وَلَمْ يَأْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ»

“Barangsiapa yang impiannya adalah akhirat maka Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, dan Allah akan memudahkan urusannya, dan kenikmatan dunia akan datang kepadanya dengan sendirinya. Dan barangsiapa yang impiannya hanyalah dunia maka Allah akan menjadikan kefakiran di depan kedua matanya, dan Allah akan mempersulit urusannya, dan ia tidak akan mendapatkan kenikmatan dunia kecuali apa yang sudah ditakdirkan untuknya". [Sunan Tirmidzi: Shahih]

Lihat: Agar dunia datang dalam keadaan hina (tunduk)

e)      Selalu menjaga niat, perkataan dan perbuatannya.

Dari Zayd bin Tsabit radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ: إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ، وَالنُّصْحُ لِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ، وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ»

"Tiga perkara yang tidak akan membuat hati seorang Muslim dengki (iri, khianat, atau menyimpan kebencian): 1. Mengikhlaskan amal karena Allah, 2. Memberi nasihat kepada pemimpin kaum Muslimin, 3. Berpegang teguh pada jamaah (kelompok) mereka." [Sunan Ibnu Majah: Shahih]

f)        Mengagungkan shalat.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepada Bilal radhiyallahu 'anhu:

«قُمْ يَا بِلَالُ فَأَرِحْنَا بِالصَّلَاةِ» [سنن أبي داود: صحيح]

"Bangkitlah wahai Bilal, maka tenangkanlah kami dengan mendirikan salat!". [Sunan Abu Dawud: Shahih]

Ø  Anas radhiyallahu 'anhu berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«جُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ»

"Dijadikan penyejuk hatiku ada dalam shalat." [Sunan An-Nasa'iy: Shahih]

Ø  Huzaifah radiyallahu 'anhu berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ، صَلَّى» [سنن أبي داود: حسنه الألباني]

“Nabi jika disusahkan oleh satu urusan, beliau mendirikan shalat”. [Sunan Abi Daud: Hasan]

Agar shalat menjadi penyejuk hati:

1)      Ikhlas.

2)      Jujur dengan mengosongkan hatinya dari urusan dunia.

3)      Meneladani Nabi .

4)      Derajat ihsan yang selalu merasa dalam pengawasan.

5)      Mengakui betapa besar nikmat Allah pada dirinya.

6)      Mengakui segala kekurangan yang ada pada dirinya.

Lihat: Bagaimana menghadirkan khusyu’ dalam shalat?

Wallahu a'lam!

Referensi:

أحاديث إصلاح القلوب تأليف عبد الرزاق بن عبد المحسن البدر ص٢٧-٣٤

Lihat juga: Sifat hati yang suka terbolak-balik - 10 kaidah penyucian jiwa menurut syekh Abdurrazaq Al-Badr - 10 sebab kelapangan hati menurut syekh Abdurrazaq Al-Badr

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...