بسم
الله الرحمن الرحيم
Anas bin Malik radhiallahu'anhu berkata:
أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ دَخَلَ عَلَى شَابٍّ وَهُوَ فِي الْمَوْتِ، فَقَالَ: «كَيْفَ
تَجِدُكَ؟» قَالَ: وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي أَرْجُو اللهَ، وَإِنِّي
أَخَافُ ذُنُوبِي! فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «لَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ
فِي مِثْلِ هَذَا الْمَوْطِنِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ مَا يَرْجُو وَآمَنَهُ
مِمَّا يَخَافُ»
Nabi ﷺ
pernah menjenguk seorang pemuda yang sedang dalam keadaan sakaratul maut.
Beliau bertanya, "Bagaimana engkau rasakan?" Pemuda itu menjawab,
"Demi Allah, wahai Rasulullah, aku berharap kepada Allah dan aku takut
akan dosa-dosaku." Maka Rasulullah ﷺ bersabda, "Tidaklah kedua perasaan ini (harap dan takut)
berkumpul dalam hati seorang hamba di saat seperti ini, melainkan Allah akan
memberikan apa yang ia harapkan dan menjaganya dari apa yang ia takutkan."
[Sunan Tirmidziy: Hasan]
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Biografi Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.
Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/
2.
Anjuran menjenguk orang sakit.
Dari Tsauban radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda:
«من
عاد مريضا، لم يزل في خرفة الجنة حتى يرجع»
"Barangsiapa menjenguk orang sakit, maka ia senantiasa
berada dalam naungan buah-buahan surga hingga ia kembali." [Shahih Muslim]
Ø Dari Abi
Hurairah radhiallahu'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam bersabda:
«مَنْ
عَادَ مَرِيضًا، نَادَى مُنَادٍ مِنَ السَّمَاءِ: طِبْتَ، وَطَابَ مَمْشَاكَ،
وَتَبَوَّأْتَ مِنَ الْجَنَّةِ مَنْزِلًا»
"Barangsiapa menjenguk orang sakit, maka berserulah penyeru
dari langit, "Berbahagialah engkau, dan berbahagialah langkah
perjalananmu, serta engkau telah menyediakan tempat tinggal di surga."
[Sunan Ibnu: Hasan]
3.
Kematian tidak menunggu masa tua.
Lihat: Sudah siapkah kita mati?
4.
Memberi harapan kepada orang yang sakaratul maut.
Jabir radhiyallahu 'anhu berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu
'alaihi wasallam bersabda tiga hari sebelum beliau wafat:
«لَا
يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ» [صحيح مسلم]
"Jangalah salah seorang dari kalian meninggal dunia
kecuali ia berbaik sangka kepada Allah." [Shahih Muslim]
5.
Keutamaan sifat raja' (berharap).
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ
هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ
وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [البقرة: 218]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang
berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat
Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Baqarah: 218]
Ø Ali bin Abi
Thalib radhiyallahu
'anhu berkata:
«لَا
يَرْجُو عَبْدٌ إِلَّا رَبَّهُ، وَلَا يَخَافَنَّ إِلَّا ذَنْبَهُ»
“Hendaklah seorang hamba tidak berharap kecuali kepada
Tuhannya, dan janganlah ia takut kecuali kepada dosanya”. [Al-Iman karya
Al-'Udniy]
Lihat: Sifat Ar-Rajaa’: Berharap hanya kepada Allah
6.
Keutamaan sifat khauf (takut).
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu;
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meriwayatkan dari Tuhannya jalla
wa’alaa berfirman:
«وَعِزَّتِي
لَا أَجْمَعُ عَلَى عَبْدِي خَوْفَيْنِ وَأَمْنَيْنِ، إِذَا خَافَنِي فِي
الدُّنْيَا أَمَّنْتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَإِذَا أَمِنَنِي فِي الدُّنْيَا
أَخَفْتُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ». [صحيح ابن حبان]
“Demi KeagunganKu, Aku tidak akan menggabungkan pada hambaKu
dua ketakutan dan dua keamanan, jika ia takut kepadaKu di dunia maka Aku
berikan ia keamanan pada hari kiamat, dan jika ia merasa aman dariKu di dunia
maka Aku akan menjadikannya ketakutan pada hari kiamat”. [Shahih Ibnu Hibban]
Ø Dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ beliau bersabda:
«كَانَ
رَجُلٌ مِمَّنْ كَانَ قَبْلَكُمْ يُسِيءُ الظَّنَّ بِعَمَلِهِ، فَقَالَ
لِأَهْلِهِ: إِذَا أَنَا مُتُّ فَخُذُونِي فَذَرُّونِي فِي البَحْرِ فِي يَوْمٍ
صَائِفٍ، فَفَعَلُوا بِهِ، فَجَمَعَهُ اللَّهُ ثُمَّ قَالَ: مَا حَمَلَكَ عَلَى
الَّذِي صَنَعْتَ؟ قَالَ: مَا حَمَلَنِي إِلَّا مَخَافَتُكَ، فَغَفَرَ لَهُ»
"Sebelum kalian ada seseorang yang berburuk sangka
dengan amalannya, lalu dia berkata kepada keluarganya, 'Apabila aku mati,
ambillah jasadku, lalu sebarkan (abu) ku di laut pada saat hari sangat panas.
Saat ia mati keluarganya melaksanakan pesan itu. Lalu Allah menyatukannya dan
berfirman padanya: Apa yang membuatmu melakukan hal itu? Orang itu menjawab:
Aku tidak melakukan hal itu kecuali karena takut kepada-Mu. Maka Allah
mengampuninya." [Shahih Bukhari]
Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 25; Takut kepada Allah
7.
Rasa harap dan takut menggerakkan diri untuk beramal.
Allah subhanahu wat’aalaa
berfirman:
{فَمَنْ كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ
فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا} [الكهف:
110]
Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya,
maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan
seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". [Al-Kahf:110]
{رِجَالٌ لَا تُلْهِيهِمْ تِجَارَةٌ وَلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ
وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ يَخَافُونَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيهِ
الْقُلُوبُ وَالْأَبْصَارُ} [النور: 37]
Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak
(pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang,
dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari
yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. [An-Nuur: 37]
Ø Dari Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda:
«مَنْ
خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ
اللَّهِ غَالِيَةٌ، أَلَا إِنَّ سِلْعَةَ اللَّهِ الْجَنَّةُ»
"Barangsiapa yang takut maka dia
bergegas pulang, dan barangsiapa yang bergegas pulang niscaya dia akan sampai
ke rumahnya, ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu sangat mahal,
ketahuilah sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga." [Sunan
Tirmidziy: Shahih]
Lihat: Sifat Al-Khauf; Takut hanya kepada Allah
8.
Senantiasa berbaik sangka kepada Allah ta’aalaa.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu;
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: Allah berfirman (dalam
hadits qudsi):
«أَنَا
عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي» [صحيح البخاري]
“Sesungguhnya aku (memberi) sesuai dengan prasangka hamba-Ku
terhadap-Ku". [Sahih Bukhari]
Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (59); Larangan berprasangka buruk terhadap Allah
9.
Tiga penggerak hati:
Syekh Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:
«اعْلَمْ
أَنَّ مُحَرِّكَاتِ الْقُلُوبِ إلَى اللَّهِ عز وجل ثَلَاثَةٌ: الْمَحَبَّةُ
وَالْخَوْفُ وَالرَّجَاءُ. وَأَقْوَاهَا الْمَحَبَّةُ وَهِيَ مَقْصُودَةٌ تُرَادُ
لِذَاتِهَا لِأَنَّهَا تُرَادُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ بِخِلَافِ الْخَوْفِ
فَإِنَّهُ يَزُولُ فِي الْآخِرَةِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى ﴿أَلَا إنَّ أَوْلِيَاءَ
اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ﴾ وَالْخَوْفُ الْمَقْصُودُ
مِنْهُ الزَّجْرُ وَالْمَنْعُ مِنْ الْخُرُوجِ عَنْ الطَّرِيقِ فَالْمَحَبَّةُ
تَلْقَى الْعَبْدَ فِي السَّيْرِ إلَى مَحْبُوبِهِ وَعَلَى قَدْرِ ضَعْفِهَا
وَقُوَّتِهَا يَكُونُ سَيْرُهُ إلَيْهِ وَالْخَوْفُ يَمْنَعُهُ أَنْ يَخْرُجَ عَنْ
طَرِيقِ الْمَحْبُوبِ وَالرَّجَاءُ يَقُودُهُ»
Ketahuilah bahwa penggerak-penggerak hati menuju Allah 'azza
wajalla ada tiga: cinta, takut, dan harap. Yang paling kuat di antara
ketiganya adalah cinta. Cinta merupakan tujuan yang diinginkan untuk dirinya
sendiri, karena ia diinginkan di dunia dan di akhirat, berbeda dengan rasa
takut yang akan lenyap di akhirat. Allah Ta'ala berfirman, {Ingatlah,
sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka
tidak bersedih hati} (QS. Yunus: 62). Adapun tujuan dari rasa takut adalah
untuk mencegah dan menghalangi dari keluar dari jalan (yang benar). Maka, cinta
menghantarkan seorang hamba dalam perjalanannya menuju Kekasihnya, dan sesuai
dengan lemah dan kuatnya cinta itulah perjalanannya menuju kepada-Nya. Adapun
rasa takut mencegahnya untuk keluar dari jalan Sang Kekasih, sementara harap
menuntunnya. [Majmu Fatawa]
Ø Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
«القلب
في سيره إلى الله عز وجل بمنزلة الطائر، فالمحبّة رأسه، والخوف والرجاء جناحاه، فمتى سلم الرأس والجناحان فالطَّير جيِّد الطّيران، ومتى قُطع الرأس مات الطائر، ومتى عدم الجناحان فهو عرضةٌ لكلِّ صائدٍ وكاسرٍ، ولكنَّ السلف استحبُّوا أن يقوى في الصِّحة جناحُ الخوف على جناح الرجاء، وعند الخروج من
الدُّنيا يقوى جناح الرجاء على جناح الخوف»
Hati dalam perjalanannya menuju Allah ﷻ bagaikan seekor burung. Mahabbah (cinta) adalah kepalanya,
sementara khauf (takut) dan raja' (harap) adalah kedua sayapnya. Apabila kepala
dan kedua sayapnya selamat, maka burung tersebut akan baik penerbangannya.
Apabila kepalanya terputus, maka burung itu akan mati. Apabila kedua sayapnya
hilang, maka ia akan menjadi sasaran empuk bagi setiap pemburu dan pemangsa.
Akan tetapi, para salaf lebih mengutamakan untuk menguatkan sayap khauf (takut)
di atas sayap raja' (harap) ketika dalam keadaan sehat. Sementara ketika hendak
meninggalkan dunia (menjelang ajal), mereka menguatkan sayap raja' (harap) di
atas sayap khauf (takut). [Madarijussalikin]
Ø Anas bin
Malik radhiyallahu
'anhu berkata:
أَنَّ رَجُلًا
سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ السَّاعَةِ، فَقَالَ:
مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: «وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا». قَالَ: لاَ شَيْءَ، إِلَّا
أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ:
«أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ،
فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَنْتَ مَعَ
مَنْ أَحْبَبْتَ» قَالَ أَنَسٌ: «فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ
بِحُبِّي إِيَّاهُمْ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ»
Seorang Sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam: Kapan hari kiamat tiba? Rasulullah balik bertanya:
"Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapinya?" Sahabat
tersebut menjawab: Tidak ada yang spesial, kecuali aku mencintai Allah dan
Rasul-Nya shallallahu 'alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: " Engkau akan bersama siapa yang kau cinta
di akhirat nanti". Anas berkata: Tidak pernah kami gembira seperti
kegembiraan kami mendengar sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:"
Engkau akan bersama siapa yang kau cinta di akhirat nanti". Anas berkata:
Sesungguhnya aku mencintai Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakr,
dan Umar, dan berharap bisa bersama mereka di akhirat dengan cintaku kepada
mereka sekalipun aku tidak beramal seperti amalan mereka. [Sahih Bukhari dan
Muslim]
Lihat: Tafsir ayat 31 surah Ali ‘Imran; “Tanda cinta kepada Allah dan keutamaannya”
Wallahu a'lam!
Referensi:
أحاديث
إصلاح القلوب تأليف عبد الرزاق بن عبد المحسن البدر ص35-43
Lihat juga: Hati adalah bejana - Sifat hati yang suka terbolak-balik - 10 kaidah penyucian jiwa menurut syekh Abdurrazaq Al-Badr

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...