بسم الله الرحمن الرحيم
Keutamaan menjaga kebersihan
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ
وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِين} [البقرة: 222]
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai
orang-orang yang mensucikan diri. [Al-Baqarah:222]
{فِيهِ
رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِين} [التوبة: 108]
Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang suka
membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. [At-Taubah:108]
Ø Dari
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
" نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِي
أَهْلِ قُبَاءٍ: {فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا} [التوبة: 108] "، قَالَ: «كَانُوا يَسْتَنْجُونَ بِالْمَاءِ، فَنَزَلَتْ
فِيهِمْ هَذِهِ الْآيَةُ» [سنن أبي داود: صحيح]
“Ayat
ini turun berkaitan dengan penduduk Quba, {Di dalamnya ada orang-orang yang
ingin membersihkan diri} [At-Taubah: 108]” Abu Hurairah berkata,
"Mereka beristinja dengan air, maka ayat ini turun berkaitan dengan
mereka." [Sunan Abi Daud: Shahih]
Ø Dari
Abu Malik Al-Asy'ariy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ» [صحيح مسلم]
"Bersuci adalah
sebagian dari iman" [Shahih Muslim]
Tingkatan kebersihan (suci) dalam Islam
Ulama menyebutkan ada empat tingkatan
bersuci:
1.
Mensucikan niat dan tujuan dari selain Allah ta’aalaa.
Allah subhanahu wata’aalaa
berfirman:
{إِنَّمَا
الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ} [التوبة:
28]
Sesungguhnya
orang-orang yang musyrik itu najis.
[At-Taubah:28]
{فَأَعْرِضُوا
عَنْهُمْ إِنَّهُمْ رِجْسٌ} [التوبة:
95]
Maka berpalinglah
dari mereka (kaum munafiq); Karena sesungguhnya mereka itu adalah najis. [At-Taubah: 95]
2.
Mensucikan hati dari akhlak yang buruk.
Allah subhanahu wata’aalaa
berfirman:
{وَلَا تَمْنُنْ
تَسْتَكْثِرُ} [المدثر: 6]
Dan janganlah
engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih
banyak. [Al-Muddassir: 6]
Ø Dari Abu Hurairah radiyallahu
'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا
أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» [سنن أبي داود: صحيح]
“Orang beriman yang paling
sempurna keimanannya adalah yang paling mulia akhlaknya”. [Sunan Abi Daud:
Sahih]
3.
Mensucikan tubuh dari perbuatan maksiat.
Allah subhanahu wata’aalaa
berfirman:
{وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ} [المدثر: 5]
Dan tinggalkanlah
segala (perbuatan) yang keji.
[Al-Muddassir: 5]
{إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ
عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ البَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا} [الأحزاب:
33]
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak
menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu
sebersih-bersihnya. [Al-Ahzaab:33]
Ø Dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu 'anhu;
«أَنَّ النَّبِيِّ ﷺ كَانَ
يَدْعُو: اللَّهُمَّ طَهِّرْنِي مِنَ الذُّنُوبِ وَالْخَطَايَا، اللَّهُمَّ
نَقِّنِي مِنْهَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ،
اللَّهُمَّ طَهِّرْنِي بِالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَالْمَاءِ الْبَارِدِ» [سنن النسائي: صحيح]
Nabi ﷺ
bahwa beliau pernah berdoa, "Ya Allah, sucikan aku dari segala dosa dan
kesalahan. Ya Allah, bersihkanlah aku dari segala dosa dan kesalahan
sebagaimana engkau membersihkan baju putih dari kotoran. Ya Allah, sucikan aku
dengan salju, air embun, dan air dingin." [Sunan An-Nasa’iy: Shahih]
Ø Buraidah radhiyallahu 'anhu berkata:
جَاءَ مَاعِزُ بْنُ مَالِكٍ إِلَى
النَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ،
طَهِّرْنِي، فَقَالَ: «وَيْحَكَ، ارْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللهَ وَتُبْ إِلَيْهِ»،
قَالَ: فَرَجَعَ غَيْرَ بَعِيدٍ، ثُمَّ جَاءَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ،
طَهِّرْنِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:
«وَيْحَكَ، ارْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللهَ وَتُبْ إِلَيْهِ»، قَالَ: فَرَجَعَ غَيْرَ
بَعِيدٍ، ثُمَّ جَاءَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، طَهِّرْنِي، فَقَالَ
النَّبِيُّ ﷺ: مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى إِذَا كَانَتِ
الرَّابِعَةُ، قَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ: «فِيمَ أُطَهِّرُكَ؟» فَقَالَ: مِنَ
الزِّنَى، فَسَأَلَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَبِهِ جُنُونٌ؟» فَأُخْبِرَ
أَنَّهُ لَيْسَ بِمَجْنُونٍ، فَقَالَ: «أَشَرِبَ خَمْرًا؟» فَقَامَ رَجُلٌ
فَاسْتَنْكَهَهُ، فَلَمْ يَجِدْ مِنْهُ رِيحَ خَمْرٍ، قَالَ، فَقَالَ رَسُولُ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَزَنَيْتَ؟» فَقَالَ: نَعَمْ، فَأَمَرَ
بِهِ فَرُجِمَ، فَكَانَ النَّاسُ فِيهِ فِرْقَتَيْنِ، قَائِلٌ يَقُولُ: لَقَدْ
هَلَكَ، لَقَدْ أَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ، وَقَائِلٌ يَقُولُ: مَا تَوْبَةٌ
أَفْضَلَ مِنْ تَوْبَةِ مَاعِزٍ، أَنَّهُ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَوَضَعَ
يَدَهُ فِي يَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: اقْتُلْنِي بِالْحِجَارَةِ، قَالَ: فَلَبِثُوا
بِذَلِكَ يَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةً، ثُمَّ جَاءَ رَسُولُ اللهِ ﷺ وَهُمْ
جُلُوسٌ، فَسَلَّمَ ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ: «اسْتَغْفِرُوا لِمَاعِزِ بْنِ
مَالِكٍ»، قَالَ: فَقَالُوا: غَفَرَ اللهُ لِمَاعِزِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ، فَقَالَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ: «لَقَدْ تَابَ تَوْبَةً لَوْ
قُسِمَتْ بَيْنَ أُمَّةٍ لَوَسِعَتْهُمْ» [صحيح مسلم]
"Ma'iz bin Malik datang kepada Nabi ﷺ seraya berkata, "Wahai Rasulullah,
sucikanlah diriku." Rasulullah menjawab, "Celaka kamu! Pulang dan
mintalah ampun kepada Allah, dan bertobatlah kepada-Nya." Kemudian Ma'iz
pergi, tidak lama kemudian dia kembali lagi sambil berkata, "Wahai
Rasulullah, sucikanlah daku." Beliau menjawab, "Celaka kamu! Pulang
dan mintalah ampun kepada Allah, dan bertobatlah kepada-Nya." Lalu Ma'iz
pergi, tetapi belum begitu jauh dia pergi, dia kembali lagi dan berkata kepada
Rasulullah ﷺ, "Wahai
Rasulullah, sucikanlah daku." Beliau menjawab sebagaimana jawabannya yang
pertama, dan hal itu berulang-ulang sampai empat kali. Pada kali yang ke empat,
Rasulullah ﷺ bertanya, "Dari
hal apakah kamu harus aku sucikan?" Ma'iz menjawab, "Dari dosa
zina." Rasulullah ﷺ bertanya kepada para
sahabat yang ada di sekitar beliau, "Apakah Ma'iz ini mengidap penyakit
gila?" lalu beliau diberitahu bahwa dia tidaklah gila." Beliau
bertanya lagi, "Apakah dia habis minum Khamr?" lantas seorang
laki-laki langsung berdiri untuk mencium bau mulutnya, namun dia tidak
mendapapti bau khamr darinya." Buraidah melanjutkan, "Kemudian
Rasulullah ﷺ bertanya,
"Betulkah kamu telah berzina?" Dia menjawab, "Ya, benar."
Lantas beliau memerintahkan untuk ditegakkan hukuman rajam atas dirinya, lalu
dia pun dirajam. Dalam permasalahan ini, orang-orang berbeda menjadi dua
pendapat, yaitu: Ma'iz meninggal dan dosanya terhapuskan karena hukuman itu
dijalaninya dengan ikhlas. Dan yang lain mengatakan bahwa Ma'iz bertobat dengan
sebenar-benarnya tobat, tiada tobat yang melebihi tobatnya Ma'iz. Dia datang
menghadap Nabi ﷺ, lalu tangannya
diletakkan di atas tangan beliau kemudian dia berkata, "Wahai Rasulullah,
rajamlah aku dengan batu." Dan mereka senantiasa dalam perbedaan pendapat
seperti itu selama dua atau tiga hari. Kemudian Rasulullah ﷺ datang, setelah memberi salam beliau duduk bersama-sama dengan
mereka, lalu beliau bersabda, "Mintakanlah ampun bagi Ma'iz bin
Malik." Lalu mereka memohonkan ampun untuknya, "Semoga Allah
mengampuni Ma'iz bin Malik." Kemudian Rasulullah ﷺ
bersabda, "Sungguh Ma'iz telah betobat dengan sempurna, dan seandainya
tobat Ma'iz dapat dibagi di antara satu kaum, pasti tobatnya akan mencukupi
mereka semua." [Shahih Muslim]
Ø Dalam riwayat lain;
فَجَاءَتِ الْغَامِدِيَّةُ، فَقَالَتْ:
يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي قَدْ زَنَيْتُ فَطَهِّرْنِي، وَإِنَّهُ رَدَّهَا،
فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَ تَرُدُّنِي؟ لَعَلَّكَ
أَنْ تَرُدَّنِي كَمَا رَدَدْتَ مَاعِزًا، فَوَاللهِ إِنِّي لَحُبْلَى، قَالَ:
«إِمَّا لَا فَاذْهَبِي حَتَّى تَلِدِي»، فَلَمَّا وَلَدَتْ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ
فِي خِرْقَةٍ، قَالَتْ: هَذَا قَدْ وَلَدْتُهُ، قَالَ: «اذْهَبِي فَأَرْضِعِيهِ
حَتَّى تَفْطِمِيهِ»، فَلَمَّا فَطَمَتْهُ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ فِي يَدِهِ
كِسْرَةُ خُبْزٍ، فَقَالَتْ: هَذَا يَا نَبِيَّ اللهِ قَدْ فَطَمْتُهُ، وَقَدْ
أَكَلَ الطَّعَامَ، فَدَفَعَ الصَّبِيَّ إِلَى رَجُلٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، ثُمَّ
أَمَرَ بِهَا فَحُفِرَ لَهَا إِلَى صَدْرِهَا، وَأَمَرَ النَّاسَ فَرَجَمُوهَا،
فَيُقْبِلُ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ بِحَجَرٍ، فَرَمَى رَأْسَهَا فَتَنَضَّحَ
الدَّمُ عَلَى وَجْهِ خَالِدٍ فَسَبَّهَا، فَسَمِعَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَّهُ إِيَّاهَا، فَقَالَ: «مَهْلًا يَا خَالِدُ،
فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ
مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ»، ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا، وَدُفِنَتْ [صحيح مسلم]
"Suatu ketika ada seorang wanita
Ghamidiyah datang menemui Rasulullah ﷺ
seraya berkata, "Wahai Rasulullah, diriku telah berzina, oleh karena itu
sucikanlah diriku." Tetapi untuk pertama kalinya Rasulullah ﷺ tidak menghiraukan bahkan menolak
pengakuan wanita tersebut. Keesokan harinya wanita tersebut datang menemui
Rasulullah ﷺ sambil berkata,
"Wahai Rasulullah, kenapa Anda menolak pengakuanku? Sepertinya Anda
menolak pengakuan aku sebagaimana pengakuan Ma'iz. Demi Allah, sekarang ini aku
sedang mengandung bayi dari hasil hubungan gelap itu." Mendengar pengakuan
itu, Rasulullah ﷺ bersabda,
"Sekiranya kamu ingin tetap bertobat, maka pulanglah sampai kamu
melahirkan." Setelah melahirkan, wanita itu datang lagi kepada beliau
sambil menggendong bayinya yang dibungkus dengan kain, dia berkata,
"Inilah bayi yang telah aku lahirkan." Beliau lalu bersabda,
"Kembali dan susuilah bayimu sampai kamu menyapihnya." Setelah
mamasuki masa sapihannya, wanita itu datang lagi dengan membawa bayinya, sementara
di tangan bayi tersebut ada sekerat roti, lalu wanita itu berkata, "Wahai
Nabi Allah, bayi kecil ini telah aku sapih, dan dia sudah dapat menikmati
makanannya sendiri." Kemudian beliau memberikan bayi tersebut kepada
laki-laki muslim, dan memerintahkan untuk melaksanakan hukuman rajam. Akhirnya
wanita itu ditanam dalam tanah hingga sebatas dada. Setelah itu beliau
memerintahkan orang-orang supaya melemparinya dengan batu. Sementara itu,
Khalid bin Walid ikut serta melempari kepala wanita tersebut dengan batu,
tiba-tiba percikan darahnya mengenai wajah Khalid, seketika itu dia mencaci
maki wanita tersebut. Ketika mendengar makian Khalid, Nabi Allah ﷺ bersabda, "Tenangkanlah dirimu wahai
Khalid, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya perempuan itu
telah benar-benar bertobat, sekiranya tobat (seperti) itu dilakukan oleh
seorang pelaku dosa besar niscaya dosanya akan diampuni." Setelah itu
beliau memerintahkan untuk mensalati jenazahnya dan menguburkannya."
[Shahih Muslim]
Ø Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma;
Bahwasanya Rasulullah ﷺ setelah merajam
Al-Aslamiy, beliau berkata:
«اجْتَنِبُوا هَذِهِ الْقَاذُورَةَ
الَّتِي نَهَى اللَّهُ عَنْهَا فَمَنْ أَلَمَّ فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ
وَلْيُتُبْ إِلَى اللَّهِ فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِلْنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ
كِتَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ» [المستدرك على الصحيحين للحاكم: صححه الألباني]
“Jauhilah kotoran-kotoran ini
(maksiat/zina) yang dilarang oleh Allah, dan barangsiapa yang melakukannya maka
hendaklah ia menutupi diri dengan tirai Allah dan hendaklah ia bertaubat kepada
Allah, karena siapa yang menampakkan rahasianya (perbuatan zina) kepada kami
maka kami akan menegakkan hukum Allah ‘azza wajalla (cambuk atau rajam)”.
[Al-Mustadrak karya Al-Hakim: Dishahihkan oleh syekh Albaniy]
4.
Mensucikan badan dan lingkungan.
Allah subhanahu wata’aalaa
berfirman:
{وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ} [المدثر: 4]
Dan bersihkanlah
pakaianmu. [Al-Muddassir: 4]
{قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا
أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ
مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ} [الأنعام: 145]
Katakanlah:
"Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang
diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu
bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena sesungguhnya semua
itu kotor (najis) -". [Al-An'aam:145]
Tingkatan ini mencakup tiga sisi:
a)
Membersihkan dari najis.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma
berkata:
مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى قَبْرَيْنِ،
فَقَالَ: " إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا
هَذَا فَكَانَ لَا يَسْتَنْزِهُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا هَذَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ
" [سنن أبي داود: صححه الألباني]
“Rasulullah ﷺ melewati dua kuburan dan
bersabda: Keduanya sedang disiksa, dan mereka tidak disiksa karena suatu yang
besar; yang ini disiksa karena tidak membersihkan badannya dari kencing,
sedangkan yang ini disiksa karena melakukan namimah (adu domba)”. [Sunan Abu
Daud: Shahih]
Ø
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ» قَالُوا:
وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ،
أَوْ فِي ظِلِّهِمْ» [صحيح مسلم]
“Jauhilah dua yang menyebabkan
laknat. Sahabat bertanya: Apa itu Ya Rasulullah? Rasulullah ﷺ menjawab: Orang yang buang hajat di jalanan atau di tempat perteduhan”.
[Shahih Muslim]
Ø Dari Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي
المَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لاَ يَجْرِي، ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ» [صحيح البخاري]
"Janganlah seorang dari
kalian kencing dalam air yang tergenang yang tidak mengalir, kemudian ia mandi
di dalamnya". [Shahih Bukhari]
Ø
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا
وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ، أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ»
[صحيح مسلم]
"Membersihkan bejana jika dijilat oleh anjing
adalah mencucinya dengan air tujuh kali, diawali gosokan dengan tanah". [Shahih
Muslim]
b)
Membersihkan dari kotoran yang menjijikkan.
Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma berkata:
أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَرَأَى رَجُلًا شَعِثًا قَدْ تَفَرَّقَ
شَعْرُهُ فَقَالَ: «أَمَا كَانَ يَجِدُ هَذَا مَا يُسَكِّنُ بِهِ شَعْرَهُ؟»،
وَرَأَى رَجُلًا آخَرَ وَعَلْيِهِ ثِيَابٌ وَسِخَةٌ، فَقَالَ: «أَمَا كَانَ هَذَا
يَجِدُ مَاءً يَغْسِلُ بِهِ ثَوْبَهُ» [سنن أبي داود: صحيح]
Rasulullah ﷺ mendatangi kami, kemudian beliau melihat seorang laki-laki berpenampilan
lusuh dengan rambut yang berantakan, maka beliau bersabda: “Tidakkah orang ini
mendapatkan seseuatu untuk merapikan rambutnya?” Dan beliau melihat seorang
laki-laki lain yang berpakaian kotor, maka beliau bersabda: “Tidakkah orang ini
mendapatkan air untuk mencuci pakaiannya?” [Sunan Abi Daud: Sahih]
Ø
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:
«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ رَأَى فِي جِدَارِ القِبْلَةِ مُخَاطًا
أَوْ بُصَاقًا أَوْ نُخَامَةً، فَحَكَّهُ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Bahwa Rasulullah ﷺ melihat ludah atau ingus pada dinding
kiblat, beliau lalu menggosoknya." [Shahih Bukhari dan Muslim]
Ø Dari Anas bin
Malik radhiyallahu 'anhu; Nabi ﷺ bersabda:
«البُزَاقُ فِي المَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا» [صحيح البخاري
ومسلم]
“Meludah di dalam Masjid adalah suatu dosa. Maka kafarahnya
(tebusannya) adalah menguburnya." [Shahih Bukhari dan Muslim]
Ø
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata tentang mani:
«لَقَدْ رَأَيْتُنِي
أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَرْكًا فَيُصَلِّي
فِيهِ» [صحيح مسلم]
“Aku telah menyaksikan diriku
menggosok (dengan kuku) air mani yang menempel pada pakaian Rasulullah ﷺ kemudian ia salat dengan
pakaian itu”. [Sahih Muslim]
Jumhur ulama mengatakan
bahwa air mani itu suci dan bukan najis, akan tetapi Aisyah membersihkannya
dari pakaian Rasulullah ﷺ agar terlihat bersih.
Ø Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda:
" مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا
يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى
مِنْهُ بَنُو آدَمَ " [صحيح البخاري ومسلم]
“Barangsiapa yang makan bawang
merah, bawang putih, dan yang sejenisnya, maka jangalah ia mendekati mesjid
kami, karena sesungguhnya para malaikat terganggu dari semua yang mengganggu
anak cucu Adam". [Shahih Bukhari dan Muslim]
c)
Membersihkan agar terlihat cantik dan indah.
Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu
'anhu; Seorang bertanya: Sesungguhnya seseorang suka jika pakaian bagus dan
alas kakinya bagus!
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ»
[صحيح مسلم]
"Sesungguhnya Allah itu
Jamiil (cantik, indah, bersih) dan mencintai kecantikan, keindahan, dan
kebersihan". [Shahih Muslim]
Ø
Dari Abu Hurairah radhiyallahu
'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ
- أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ - شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ،
وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ»
[صحيح مسلم]
Keimanan itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau
enam puluh lebih cabang. Yang paling afdal (tinggi kedudukannya) adalah
mengatakan "tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah", dan yang
paling rendah adalah menjauhkan duri/kotoran dari jalan. Dan rasa malu adalah
cabang dari keimanan". [Sahih Muslim]
Ø Dalam riwayat
lain:
«بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى
الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ» [صحيح البخاري
ومسلم]
“Ada seorang laki-laki yang sedang berjalan lalu menemuklan
potongan duri di jalan lalu diambilnya. Kemudian dia bersyukur kepada Allah
maka Allah mengampuninya". [Shahih Bukhari dan Muslim]
Ø Dalam riwayat
lain:
«لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا يَتَقَلَّبُ فِي الْجَنَّةِ، فِي شَجَرَةٍ
قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ، كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ» [صحيح مسلم]
“Sungguh aku melihat seseorang sedang berbahagia di surga
dikarenakan ia telah memotong batang pohon yang menjuntai ke jalan yang
mengganggu orang lewat." [Shahih Muslim]
Wallahu a’lam!
Lihat juga: Takhrij hadits "Kebersihan bagian dari iman" - Kebersihan bagian dari iman - Diangkatnya Nabi Muhammad menjadi Rasul
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...