Kamis, 20 Maret 2025

Kebersihan sebagai cermin keimanan

بسم الله الرحمن الرحيم

Keutamaan menjaga kebersihan

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِين} [البقرة: 222]

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri. [Al-Baqarah:222]

{فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِين} [التوبة: 108]

Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang suka membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. [At-Taubah:108]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

" نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ فِي أَهْلِ قُبَاءٍ: {فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا} [التوبة: 108] "، قَالَ: «كَانُوا يَسْتَنْجُونَ بِالْمَاءِ، فَنَزَلَتْ فِيهِمْ هَذِهِ الْآيَةُ» [سنن أبي داود: صحيح]

“Ayat ini turun berkaitan dengan penduduk Quba, {Di dalamnya ada orang-orang yang ingin membersihkan diri} [At-Taubah: 108]” Abu Hurairah berkata, "Mereka beristinja dengan air, maka ayat ini turun berkaitan dengan mereka." [Sunan Abi Daud: Shahih]

Ø  Dari Abu Malik Al-Asy'ariy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ» [صحيح مسلم]

"Bersuci adalah sebagian dari iman" [Shahih Muslim]

Tingkatan kebersihan (suci) dalam Islam

Ulama menyebutkan ada empat tingkatan bersuci:

1.      Mensucikan niat dan tujuan dari selain Allah ta’aalaa.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{إِنَّمَا الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ} [التوبة: 28]

Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. [At-Taubah:28]

{فَأَعْرِضُوا عَنْهُمْ إِنَّهُمْ رِجْسٌ} [التوبة: 95]

Maka berpalinglah dari mereka (kaum munafiq); Karena sesungguhnya mereka itu adalah najis. [At-Taubah: 95]

2.      Mensucikan hati dari akhlak yang buruk.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ} [المدثر: 6]

Dan janganlah engkau (Muhammad) memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. [Al-Muddassir: 6]

Ø  Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا» [سنن أبي داود: صحيح]

“Orang beriman yang paling sempurna keimanannya adalah yang paling mulia akhlaknya”. [Sunan Abi Daud: Sahih]

3.      Mensucikan tubuh dari perbuatan maksiat.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ} [المدثر: 5]

Dan tinggalkanlah segala (perbuatan) yang keji. [Al-Muddassir: 5]

{إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ البَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا} [الأحزاب: 33]

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. [Al-Ahzaab:33]

Ø  Dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu 'anhu;

«أَنَّ النَّبِيِّ كَانَ يَدْعُو: اللَّهُمَّ طَهِّرْنِي مِنَ الذُّنُوبِ وَالْخَطَايَا، اللَّهُمَّ نَقِّنِي مِنْهَا كَمَا يُنَقَّى الثَّوْبُ الْأَبْيَضُ مِنَ الدَّنَسِ، اللَّهُمَّ طَهِّرْنِي بِالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَالْمَاءِ الْبَارِدِ» [سنن النسائي: صحيح]

Nabi bahwa beliau pernah berdoa, "Ya Allah, sucikan aku dari segala dosa dan kesalahan. Ya Allah, bersihkanlah aku dari segala dosa dan kesalahan sebagaimana engkau membersihkan baju putih dari kotoran. Ya Allah, sucikan aku dengan salju, air embun, dan air dingin." [Sunan An-Nasa’iy: Shahih]

Ø  Buraidah radhiyallahu 'anhu berkata:

جَاءَ مَاعِزُ بْنُ مَالِكٍ إِلَى النَّبِيِّ ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، طَهِّرْنِي، فَقَالَ: «وَيْحَكَ، ارْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللهَ وَتُبْ إِلَيْهِ»، قَالَ: فَرَجَعَ غَيْرَ بَعِيدٍ، ثُمَّ جَاءَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، طَهِّرْنِي، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ : «وَيْحَكَ، ارْجِعْ فَاسْتَغْفِرِ اللهَ وَتُبْ إِلَيْهِ»، قَالَ: فَرَجَعَ غَيْرَ بَعِيدٍ، ثُمَّ جَاءَ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، طَهِّرْنِي، فَقَالَ النَّبِيُّ : مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى إِذَا كَانَتِ الرَّابِعَةُ، قَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ: «فِيمَ أُطَهِّرُكَ؟» فَقَالَ: مِنَ الزِّنَى، فَسَأَلَ رَسُولُ اللهِ : «أَبِهِ جُنُونٌ؟» فَأُخْبِرَ أَنَّهُ لَيْسَ بِمَجْنُونٍ، فَقَالَ: «أَشَرِبَ خَمْرًا؟» فَقَامَ رَجُلٌ فَاسْتَنْكَهَهُ، فَلَمْ يَجِدْ مِنْهُ رِيحَ خَمْرٍ، قَالَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَزَنَيْتَ؟» فَقَالَ: نَعَمْ، فَأَمَرَ بِهِ فَرُجِمَ، فَكَانَ النَّاسُ فِيهِ فِرْقَتَيْنِ، قَائِلٌ يَقُولُ: لَقَدْ هَلَكَ، لَقَدْ أَحَاطَتْ بِهِ خَطِيئَتُهُ، وَقَائِلٌ يَقُولُ: مَا تَوْبَةٌ أَفْضَلَ مِنْ تَوْبَةِ مَاعِزٍ، أَنَّهُ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ فَوَضَعَ يَدَهُ فِي يَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: اقْتُلْنِي بِالْحِجَارَةِ، قَالَ: فَلَبِثُوا بِذَلِكَ يَوْمَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةً، ثُمَّ جَاءَ رَسُولُ اللهِ وَهُمْ جُلُوسٌ، فَسَلَّمَ ثُمَّ جَلَسَ، فَقَالَ: «اسْتَغْفِرُوا لِمَاعِزِ بْنِ مَالِكٍ»، قَالَ: فَقَالُوا: غَفَرَ اللهُ لِمَاعِزِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ : «لَقَدْ تَابَ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ أُمَّةٍ لَوَسِعَتْهُمْ» [صحيح مسلم]

"Ma'iz bin Malik datang kepada Nabi seraya berkata, "Wahai Rasulullah, sucikanlah diriku." Rasulullah menjawab, "Celaka kamu! Pulang dan mintalah ampun kepada Allah, dan bertobatlah kepada-Nya." Kemudian Ma'iz pergi, tidak lama kemudian dia kembali lagi sambil berkata, "Wahai Rasulullah, sucikanlah daku." Beliau menjawab, "Celaka kamu! Pulang dan mintalah ampun kepada Allah, dan bertobatlah kepada-Nya." Lalu Ma'iz pergi, tetapi belum begitu jauh dia pergi, dia kembali lagi dan berkata kepada Rasulullah , "Wahai Rasulullah, sucikanlah daku." Beliau menjawab sebagaimana jawabannya yang pertama, dan hal itu berulang-ulang sampai empat kali. Pada kali yang ke empat, Rasulullah bertanya, "Dari hal apakah kamu harus aku sucikan?" Ma'iz menjawab, "Dari dosa zina." Rasulullah bertanya kepada para sahabat yang ada di sekitar beliau, "Apakah Ma'iz ini mengidap penyakit gila?" lalu beliau diberitahu bahwa dia tidaklah gila." Beliau bertanya lagi, "Apakah dia habis minum Khamr?" lantas seorang laki-laki langsung berdiri untuk mencium bau mulutnya, namun dia tidak mendapapti bau khamr darinya." Buraidah melanjutkan, "Kemudian Rasulullah bertanya, "Betulkah kamu telah berzina?" Dia menjawab, "Ya, benar." Lantas beliau memerintahkan untuk ditegakkan hukuman rajam atas dirinya, lalu dia pun dirajam. Dalam permasalahan ini, orang-orang berbeda menjadi dua pendapat, yaitu: Ma'iz meninggal dan dosanya terhapuskan karena hukuman itu dijalaninya dengan ikhlas. Dan yang lain mengatakan bahwa Ma'iz bertobat dengan sebenar-benarnya tobat, tiada tobat yang melebihi tobatnya Ma'iz. Dia datang menghadap Nabi , lalu tangannya diletakkan di atas tangan beliau kemudian dia berkata, "Wahai Rasulullah, rajamlah aku dengan batu." Dan mereka senantiasa dalam perbedaan pendapat seperti itu selama dua atau tiga hari. Kemudian Rasulullah datang, setelah memberi salam beliau duduk bersama-sama dengan mereka, lalu beliau bersabda, "Mintakanlah ampun bagi Ma'iz bin Malik." Lalu mereka memohonkan ampun untuknya, "Semoga Allah mengampuni Ma'iz bin Malik." Kemudian Rasulullah bersabda, "Sungguh Ma'iz telah betobat dengan sempurna, dan seandainya tobat Ma'iz dapat dibagi di antara satu kaum, pasti tobatnya akan mencukupi mereka semua." [Shahih Muslim]

Ø  Dalam riwayat lain;

فَجَاءَتِ الْغَامِدِيَّةُ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي قَدْ زَنَيْتُ فَطَهِّرْنِي، وَإِنَّهُ رَدَّهَا، فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ، قَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، لِمَ تَرُدُّنِي؟ لَعَلَّكَ أَنْ تَرُدَّنِي كَمَا رَدَدْتَ مَاعِزًا، فَوَاللهِ إِنِّي لَحُبْلَى، قَالَ: «إِمَّا لَا فَاذْهَبِي حَتَّى تَلِدِي»، فَلَمَّا وَلَدَتْ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ فِي خِرْقَةٍ، قَالَتْ: هَذَا قَدْ وَلَدْتُهُ، قَالَ: «اذْهَبِي فَأَرْضِعِيهِ حَتَّى تَفْطِمِيهِ»، فَلَمَّا فَطَمَتْهُ أَتَتْهُ بِالصَّبِيِّ فِي يَدِهِ كِسْرَةُ خُبْزٍ، فَقَالَتْ: هَذَا يَا نَبِيَّ اللهِ قَدْ فَطَمْتُهُ، وَقَدْ أَكَلَ الطَّعَامَ، فَدَفَعَ الصَّبِيَّ إِلَى رَجُلٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ، ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَحُفِرَ لَهَا إِلَى صَدْرِهَا، وَأَمَرَ النَّاسَ فَرَجَمُوهَا، فَيُقْبِلُ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ بِحَجَرٍ، فَرَمَى رَأْسَهَا فَتَنَضَّحَ الدَّمُ عَلَى وَجْهِ خَالِدٍ فَسَبَّهَا، فَسَمِعَ نَبِيُّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَبَّهُ إِيَّاهَا، فَقَالَ: «مَهْلًا يَا خَالِدُ، فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ»، ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَصَلَّى عَلَيْهَا، وَدُفِنَتْ [صحيح مسلم]

"Suatu ketika ada seorang wanita Ghamidiyah datang menemui Rasulullah seraya berkata, "Wahai Rasulullah, diriku telah berzina, oleh karena itu sucikanlah diriku." Tetapi untuk pertama kalinya Rasulullah tidak menghiraukan bahkan menolak pengakuan wanita tersebut. Keesokan harinya wanita tersebut datang menemui Rasulullah sambil berkata, "Wahai Rasulullah, kenapa Anda menolak pengakuanku? Sepertinya Anda menolak pengakuan aku sebagaimana pengakuan Ma'iz. Demi Allah, sekarang ini aku sedang mengandung bayi dari hasil hubungan gelap itu." Mendengar pengakuan itu, Rasulullah bersabda, "Sekiranya kamu ingin tetap bertobat, maka pulanglah sampai kamu melahirkan." Setelah melahirkan, wanita itu datang lagi kepada beliau sambil menggendong bayinya yang dibungkus dengan kain, dia berkata, "Inilah bayi yang telah aku lahirkan." Beliau lalu bersabda, "Kembali dan susuilah bayimu sampai kamu menyapihnya." Setelah mamasuki masa sapihannya, wanita itu datang lagi dengan membawa bayinya, sementara di tangan bayi tersebut ada sekerat roti, lalu wanita itu berkata, "Wahai Nabi Allah, bayi kecil ini telah aku sapih, dan dia sudah dapat menikmati makanannya sendiri." Kemudian beliau memberikan bayi tersebut kepada laki-laki muslim, dan memerintahkan untuk melaksanakan hukuman rajam. Akhirnya wanita itu ditanam dalam tanah hingga sebatas dada. Setelah itu beliau memerintahkan orang-orang supaya melemparinya dengan batu. Sementara itu, Khalid bin Walid ikut serta melempari kepala wanita tersebut dengan batu, tiba-tiba percikan darahnya mengenai wajah Khalid, seketika itu dia mencaci maki wanita tersebut. Ketika mendengar makian Khalid, Nabi Allah bersabda, "Tenangkanlah dirimu wahai Khalid, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya perempuan itu telah benar-benar bertobat, sekiranya tobat (seperti) itu dilakukan oleh seorang pelaku dosa besar niscaya dosanya akan diampuni." Setelah itu beliau memerintahkan untuk mensalati jenazahnya dan menguburkannya." [Shahih Muslim]

Ø  Dari Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma; Bahwasanya Rasulullah setelah merajam Al-Aslamiy, beliau berkata:

«اجْتَنِبُوا هَذِهِ الْقَاذُورَةَ الَّتِي نَهَى اللَّهُ عَنْهَا فَمَنْ أَلَمَّ فَلْيَسْتَتِرْ بِسِتْرِ اللَّهِ وَلْيُتُبْ إِلَى اللَّهِ فَإِنَّهُ مَنْ يُبْدِلْنَا صَفْحَتَهُ نُقِمْ عَلَيْهِ كِتَابَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ» [المستدرك على الصحيحين للحاكم: صححه الألباني]

“Jauhilah kotoran-kotoran ini (maksiat/zina) yang dilarang oleh Allah, dan barangsiapa yang melakukannya maka hendaklah ia menutupi diri dengan tirai Allah dan hendaklah ia bertaubat kepada Allah, karena siapa yang menampakkan rahasianya (perbuatan zina) kepada kami maka kami akan menegakkan hukum Allah ‘azza wajalla (cambuk atau rajam)”. [Al-Mustadrak karya Al-Hakim: Dishahihkan oleh syekh Albaniy]

4.      Mensucikan badan dan lingkungan.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ} [المدثر: 4]

Dan bersihkanlah pakaianmu. [Al-Muddassir: 4]

{قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ} [الأنعام: 145]

Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi - karena sesungguhnya semua itu kotor (najis) -". [Al-An'aam:145]

Tingkatan ini mencakup tiga sisi:

a)      Membersihkan dari najis.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:

مَرَّ رَسُولُ اللَّهِ عَلَى قَبْرَيْنِ، فَقَالَ: " إِنَّهُمَا يُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ، أَمَّا هَذَا فَكَانَ لَا يَسْتَنْزِهُ مِنَ الْبَوْلِ، وَأَمَّا هَذَا فَكَانَ يَمْشِي بِالنَّمِيمَةِ " [سنن أبي داود: صححه الألباني]

“Rasulullah melewati dua kuburan dan bersabda: Keduanya sedang disiksa, dan mereka tidak disiksa karena suatu yang besar; yang ini disiksa karena tidak membersihkan badannya dari kencing, sedangkan yang ini disiksa karena melakukan namimah (adu domba)”. [Sunan Abu Daud: Shahih]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah bersabda:

«اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ» قَالُوا: وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ، أَوْ فِي ظِلِّهِمْ» [صحيح مسلم]

“Jauhilah dua yang menyebabkan laknat. Sahabat bertanya: Apa itu Ya Rasulullah? Rasulullah menjawab: Orang yang buang hajat di jalanan atau di tempat perteduhan”. [Shahih Muslim]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«لاَ يَبُولَنَّ أَحَدُكُمْ فِي المَاءِ الدَّائِمِ الَّذِي لاَ يَجْرِي، ثُمَّ يَغْتَسِلُ فِيهِ» [صحيح البخاري]

"Janganlah seorang dari kalian kencing dalam air yang tergenang yang tidak mengalir, kemudian ia mandi di dalamnya". [Shahih Bukhari]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah bersabda:

«طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ، أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ» [صحيح مسلم]

"Membersihkan bejana jika dijilat oleh anjing adalah mencucinya dengan air tujuh kali, diawali gosokan dengan tanah". [Shahih Muslim]

b)      Membersihkan dari kotoran yang menjijikkan.

Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma berkata:

أَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ فَرَأَى رَجُلًا شَعِثًا قَدْ تَفَرَّقَ شَعْرُهُ فَقَالَ: «أَمَا كَانَ يَجِدُ هَذَا مَا يُسَكِّنُ بِهِ شَعْرَهُ؟»، وَرَأَى رَجُلًا آخَرَ وَعَلْيِهِ ثِيَابٌ وَسِخَةٌ، فَقَالَ: «أَمَا كَانَ هَذَا يَجِدُ مَاءً يَغْسِلُ بِهِ ثَوْبَهُ» [سنن أبي داود: صحيح]

Rasulullah mendatangi kami, kemudian beliau melihat seorang laki-laki berpenampilan lusuh dengan rambut yang berantakan, maka beliau bersabda: “Tidakkah orang ini mendapatkan seseuatu untuk merapikan rambutnya?” Dan beliau melihat seorang laki-laki lain yang berpakaian kotor, maka beliau bersabda: “Tidakkah orang ini mendapatkan air untuk mencuci pakaiannya?” [Sunan Abi Daud: Sahih]

Ø  Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:

«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ رَأَى فِي جِدَارِ القِبْلَةِ مُخَاطًا أَوْ بُصَاقًا أَوْ نُخَامَةً، فَحَكَّهُ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Bahwa Rasulullah melihat ludah atau ingus pada dinding kiblat, beliau lalu menggosoknya." [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu; Nabi bersabda:

«البُزَاقُ فِي المَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا» [صحيح البخاري ومسلم]

“Meludah di dalam Masjid adalah suatu dosa. Maka kafarahnya (tebusannya) adalah menguburnya." [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Aisyah radhiyallahu 'anha berkata tentang mani:

«لَقَدْ رَأَيْتُنِي أَفْرُكُهُ مِنْ ثَوْبِ رَسُولِ اللهِ فَرْكًا فَيُصَلِّي فِيهِ» [صحيح مسلم]

“Aku telah menyaksikan diriku menggosok (dengan kuku) air mani yang menempel pada pakaian Rasulullah kemudian ia salat dengan pakaian itu”. [Sahih Muslim]

Jumhur ulama mengatakan bahwa air mani itu suci dan bukan najis, akan tetapi Aisyah membersihkannya dari pakaian Rasulullah agar terlihat bersih.

Ø  Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah bersabda:

" مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ " [صحيح البخاري ومسلم]

“Barangsiapa yang makan bawang merah, bawang putih, dan yang sejenisnya, maka jangalah ia mendekati mesjid kami, karena sesungguhnya para malaikat terganggu dari semua yang mengganggu anak cucu Adam". [Shahih Bukhari dan Muslim]

c)       Membersihkan agar terlihat cantik dan indah.

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu; Seorang bertanya: Sesungguhnya seseorang suka jika pakaian bagus dan alas kakinya bagus!

Rasulullah bersabda:

«إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ» [صحيح مسلم]

"Sesungguhnya Allah itu Jamiil (cantik, indah, bersih) dan mencintai kecantikan, keindahan, dan kebersihan". [Shahih Muslim]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasulullah bersabda:

«الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ - أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ - شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ» [صحيح مسلم]

Keimanan itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling afdal (tinggi kedudukannya) adalah mengatakan "tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah", dan yang paling rendah adalah menjauhkan duri/kotoran dari jalan. Dan rasa malu adalah cabang dari keimanan". [Sahih Muslim]

Ø  Dalam riwayat lain:

«بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَّرَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Ada seorang laki-laki yang sedang berjalan lalu menemuklan potongan duri di jalan lalu diambilnya. Kemudian dia bersyukur kepada Allah maka Allah mengampuninya". [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Dalam riwayat lain:

«لَقَدْ رَأَيْتُ رَجُلًا يَتَقَلَّبُ فِي الْجَنَّةِ، فِي شَجَرَةٍ قَطَعَهَا مِنْ ظَهْرِ الطَّرِيقِ، كَانَتْ تُؤْذِي النَّاسَ» [صحيح مسلم]

“Sungguh aku melihat seseorang sedang berbahagia di surga dikarenakan ia telah memotong batang pohon yang menjuntai ke jalan yang mengganggu orang lewat." [Shahih Muslim]

Wallahu a’lam!

Lihat juga: Takhrij hadits "Kebersihan bagian dari iman" - Kebersihan bagian dari iman - Diangkatnya Nabi Muhammad menjadi Rasul

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...