Kamis, 27 Februari 2014

Saling mencintai karena Allah

بسم الله الرحمن الرحيم


Hanya Allah yang bisa mempersatukan hati umat manusia

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{وَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ لَوْ أَنْفَقْتَ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مَا أَلَّفْتَ بَيْنَ قُلُوبِهِمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ أَلَّفَ بَيْنَهُمْ إِنَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ} [الأنفال: 63]
Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya dia Maha gagah lagi Maha Bijaksana. [Al-Anfaal:63]

{وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ} [آل عمران: 103]
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. [Ali ‘Imran:103]

{وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ} [الأنفال: 24]
Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya (Allah-lah yang menguasai hati manusia). [Al-Anfaal:24]

Dari Anas
radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ القُلُوبَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ يُقَلِّبُهَا كَيْفَ يَشَاءُ» [سنن الترمذي: صححه الألباني]
"Sesungguhnya hati manusia berada di antara dua jari tangan Allah yang Dia membolak-balikkannya menurut yang dikehendaki-Nya." [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Saling mencintai karena Allah adalah tanda kesempurnaan iman seseorang

{إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا} [مريم: 96]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. [Maryam:96]

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ " [صحيح البخاري]
“Tidak sempurna keimanan seseorang diantara kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya”. [Sahih Bukhariy]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ» [صحيح مسلم]
“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak dikatakan beriman sampai kalian saling mencintai. Inginkah kalian kutunjukkan pada sesuatu yang jika kalian lakukan maka kalian akan saling mencintai? Sebarkan salam di antara kalian”. [Sahih Muslim]

Al-Barra` bin 'Azib radhiyallahu ‘anhu berkata: Kami pernah duduk disisi Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, kemudian beliau bertanya:
«أَيُّ عُرَى الْإِسْلَامِ أَوْثَقُ؟»
"Syari'at Islam yang manakah yang paling pokok?"
Mereka menjawab: "Shalat."
Beliau bersabda:
" حَسَنَةٌ، وَمَا هِيَ بِهَا؟ "
"Bagus, lalu apakah selanjutnya?"
Mereka menjawab: "Zakat."
Beliau bersabda:
" حَسَنَةٌ، وَمَا هِيَ بِهَا؟ "
"Bagus. lalu apa setelah itu?"
Mereka menjawab: "Puasa."
Beliau bersabda:
" حَسَنٌ، وَمَا هُوَ بِهِ؟ "
"Bagus. Kemudian apalagi setelahnya?"
Mereka pun menjawab: "Jihad."
Dan beliau kembali bersabda:
" حَسَنٌ، وَمَا هُوَ بِهِ؟ إِنَّ أَوْثَقَ عُرَى الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ فِي اللهِ، وَتُبْغِضَ فِي اللهِ "
"Bagus. Dan apalagi setelahnya? Sesungguhnya cabang keimamanan yang paling pokok adalah, kamu mencintai sesuatu karena Allah, dan membenci juga karena Allah." [Musnad Ahmad: Hasan]

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ، وَأَبْغَضَ لِلَّهِ، وَأَعْطَى لِلَّهِ، وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ» [سنن أبي داود: صححه الألباني]
"Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan melarang (menahan) karena Allah, maka sempurnalah imannya." [Sunan Abu Daud: Sahih]

Dari An-Nu'man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«تَرَى المُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ، كَمَثَلِ الجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالحُمَّى» [صحيح البخاري ومسلم]
"Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya)." [Sahih Bukhari dan Muslim]

Sahabat Rasulullah saling mencintai satu sama lain

{وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ} [الحشر: 9]
Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka Itulah orang orang yang beruntung. [Al-Hasyr:9]

{مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ} [الفتح: 29]
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. [Al-Fath:29]

Beberapa keutamaan saling mencintai karena Allah:

1.     Memuliakan Allah 'azza wa jalla
Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
" مَا أَحَبَّ عَبْدٌ عَبْدًا لِلَّهِ إِلَّا أَكْرَمَ رَبَّهُ عَزَّ وَجَلَّ " [مسند أحمد: حسن]
"Tidaklah seorang hamba mencintai hamba lain karena Allah melainkan ia pasti memuliakan Rabb-nya azza wa jalla." [Musnad Ahmad: Hasan]

Dalam riwayat lain:
«مَا أَحَبَّ عَبْدٌ عَبْدًا لِلَّهِ، إِلَّا أَكْرَمَهُ اللَّهُ بِهِ» [مكارم الأخلاق للخرائطي]
"Tidaklah seorang hamba mencintai hamba lain karena Allah melainkan Allah akan memuliakannya dengan cintanya itu." [Makarim Al-Akhlaq karya Al-Kharaithiy]

2.     Merasakan nikmatnya keimanan
Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
" ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ المَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ " [صحيح البخاري ومسلم]
“Ada tiga hal yang barangsiapa memilikinya maka ia akan mendapatkan nikmatnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selainnya, mencintai seseorang hanya karena Allah, dan tidak ingin kembali pada kekafiran sebagaimana ia tidak ingin dilemparkan ke dalam neraka”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
" مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَجِدَ طَعْمَ الْإِيمَانِ، فَلْيُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ " [مسند أحمد: حسن]
"Barangsiapa senang mendapatkan lezatnya iman maka cintailah seseorang, ia tidak mencintainya kecuali karena Allah azza wa jalla." [Musnad Ahmad: Hasan]

3.     Mendapatkan cinta Allah
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
" أَنَّ رَجُلًا زَارَ أَخًا لَهُ فِي قَرْيَةٍ أُخْرَى، فَأَرْصَدَ اللهُ لَهُ، عَلَى مَدْرَجَتِهِ، مَلَكًا فَلَمَّا أَتَى عَلَيْهِ، قَالَ: أَيْنَ تُرِيدُ؟ قَالَ: أُرِيدُ أَخًا لِي فِي هَذِهِ الْقَرْيَةِ، قَالَ: هَلْ لَكَ عَلَيْهِ مِنْ نِعْمَةٍ تَرُبُّهَا؟ قَالَ: لَا، غَيْرَ أَنِّي أَحْبَبْتُهُ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ: فَإِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكَ، بِأَنَّ اللهَ قَدْ أَحَبَّكَ كَمَا أَحْبَبْتَهُ فِيهِ " [صحيح مسلم]
"Pada suatu ketika ada seorang lelaki yang mengunjungi saudaranya di desa lain. Kemudian Allah mengutus malaikat untuk menemui orang tersebut di tengah perjalanannya, maka ketika malaikat tersebut mendatanginya, malaikat bertanya: “Hendak pergi ke mana kamu?” Orang itu menjawab: “Saya akan menjenguk saudara saya yang berada di desa ini”. Malaikat itu terus bertanya kepadanya: “Apakah kamu mempunyai satu perkara yang menguntungkan dengannya?” Laki-laki itu menjawab: “Tidak, saya hanya mencintainya karena Allah azza wa jalla.” Akhirnya malaikat itu berkata: “Sesungguhnya aku ini adalah malaikat utusan Allah yang diutus untuk memberitahukan kepadamu bahwasanya Allah akan senantiasa mencintaimu sebagaimana kamu mencintai saudaramu karena Allah”. [Sahih Muslim]

Dari 'Ubadah bin Ash Shamit radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
" حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ، وَحَقَتْ مَحَبَّتِي للمتزاورينَ فيّ ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتي لِلْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ ، وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَصَافِينَ فِيَّ الْمُتَوَاصِلِينَ " [مسند أحمد: صحيح]
"Wajiblah cintaKu untuk orang-orang yang saling mencintai karena Aku, bagi orang-orang yang berkorban karena Aku, bagi orang-orang yang saling berteman dan menyambung sillalurrahim (saling mengunjungi)." [Musnad Ahmad: Sahih]

4.     Mendapatkan naungan Allah di hari kiamat
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّ اللهَ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: «أَيْنَ الْمُتَحَابُّونَ بِجَلَالِي، الْيَوْمَ أُظِلُّهُمْ فِي ظِلِّي يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلِّي» [صحيح مسلم]
“Sesungguhnya Allah berkata pada hari kiamat: "Mana oang-orang yang saling mencintai demi keagungan-Ku? Hari ini Aku naungi mereka dengan naungan-Ku, di hari tiada naungan selaing naungan-Ku". [Sahih Muslim]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
" سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ تَعَالَى فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: ... ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ، اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، ... " [صحيح البخاري ومسلم]
"Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya; …,  dan dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah; mereka tidak bertemu kecuali karena Allah dan berpisah karena Allah, … ." [Sahih Bukhari dan Muslim]

5.     Mendapatkan mimbar dari cahaya di akhirat
Dari Mu'az bin Jabal radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
" قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: المُتَحَابُّونَ فِي جَلَالِي لَهُمْ مَنَابِرُ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّونَ وَالشُّهَدَاءُ " [سنن الترمذي: صححه الألباني]
Allah berfirman "Orang-orang yang saling mencintai demi keagungan-Ku akan mendapatkan di hari kiamat mimbar yang terbuat dari cahaya, para Nabi dan Syuhada' pun ingin mendapatkannya". [Sunan Tirmidziy: Sahih]

6.     Tidak merasa takut dan sedih di hari kiamat.
Dari Umar bin Al-Khathab radhiyallahu ‘anhu; "Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ لَأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ، وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمُ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، بِمَكَانِهِمْ مِنَ اللَّهِ تَعَالَى»
"Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat beberapa manusia yang bukan para nabi dan orang-orang yang mati syahid. Para nabi dan orang-orang yang mati syahid merasa iri kepada mereka pada Hari Kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah ta'ala."
Mereka berkata, Wahai Rasulullah, apakah anda akan mengabarkan kepada kami siapakah mereka?
Beliau bersabda:
«هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللَّهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ، وَلَا أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا، فَوَاللَّهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ، وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ لَا يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ، وَلَا يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ»
"Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai dengan ruh dari Allah tanpa ada hubungan kekerabatan di antara mereka, dan tanpa adanya harta yang saling mereka berikan. Demi Allah, sesungguhnya wajah mereka adalah cahaya, dan sesungguhnya mereka berada di atas cahaya, tidak merasa takut ketika orang-orang merasa takut, dan tidak bersedih ketika orang-orang merasa bersedih."
Dan beliau membaca ayat ini:
{أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ} [يونس: 62]
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." [Yunus:62] [Sunan Abu Daud: Sahih]

7.     Bersama orang yang dicintai di akhirat
Allah subhanahu wa ta’aalaa:
{الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ} [الزخرف: 67]
Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. [Az-Zukhruf:67]

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Seorang Sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: Kapan hari kiamat tiba? Rasulullah balik bertanya:
«وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا»
“Apa yang sudah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”
Sahabat tersebut menjawab: Tidak ada yang spesial, kecuali cintaku kepada Allah dan Rasul-Nya.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»
“Engkau akan bersama siapa yang kau cinta di akhirat nanti”.
Anas berkata: Tidak pernah kami gembira seperti kegembiraan kami mendengar sabda Rasulullah ini. Anas berkata: Sesungguhnya aku mencintai Rasulullah, Abu Bakr, dan Umar, dan berharap bisa bersama mereka di akhirat dengan cintaku kepada mereka sekalipun amalanku tidak seperti dengan amalan mereka. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Mengungkapkan rasa cinta

Dari Al-Miqdam bin Ma'diKarib radhiyallahu ‘anhu; Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«إِذَا أَحَبَّ الرَّجُلُ أَخَاهُ فَلْيُخْبِرْهُ أَنَّهُ يُحِبُّهُ» [سنن أبي داود: حسنه الشيخ الألباني]
"Jika seorang laki-laki menyukai saudaranya, maka hendaklah ia mengabarkan kepadanya bahwa ia menyukainya." [Sunan Abu Daud: Hasan]

Dalam riwayat lain; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«إِذَا أَحَبَّ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فِي اللَّهِ فَلْيُعْلِمْهُ فَإِنَّهُ أَبْقَى فِي الْأُلْفَةِ وَأَثْبَتُ فِي الْمَوَدَّةِ»
“Jika seorang dari kalian mencintai saudaranya karena Allah maka sampaikanlah kepadanya karena sesungguhnya hal itu mengekalkan kasih saying dan menguatkan rasa cinta”. [Silsilah hadit sahih karya syekh Albaniy no.1199]

Membalas ungkapan cinta

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata: Seorang lelaki sedang bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tiba-tiba lewat seorang lelaki, yang bersama Rasulullah berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mencintai orang ini (yang lewat). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya:
«أَعْلَمْتَهُ؟»
“Sudahkah engkau memberitahukan cintamu kepadanya?”
Ia menjawab: Belum.
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«أَعْلِمْهُ»
“Beritahukan padanya!”.
Lalu ia mendatangi orang itu dan berkata:
إِنِّي أُحِبُّكَ فِي اللَّهِ
“Aku mencintaimu karena Allah!”.
Sahabatnya menjawab:
أَحَبَّكَ الَّذِي أَحْبَبْتَنِي لَهُ [سنن أبى داود ، قال الألباني : حسن]
“Semoga Allah mencintaimu juga!”. [Sunan Abu Daud: Hasan]

Saling memberi hadiah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«تَهَادُوا تَحَابُّوا» [الأدب المفرد للبخاري: حسنه الشيخ الألباني]
"Saling memberi hadialah kalian agar saling mencintai". [Al-Adab Al-Mufrad karya Al-Bukhariy: Hasan]

Mencintai sekadarnya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا، وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا» [سنن الترمذي: صححه الشيخ الألباني]
"Cintailah kekasihmu secukupnya saja, jangan sampai suatu hari ia menjadi musuhmu, dan bencilah musuhmu secukupnya saja, jangan sampai suatu hari ia menjadi kekasihmu". [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Mengikuti tabiat yang dicintai

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ» [سنن أبى داود: حسنه الألباني]
“Seseorang itu dipengaruhi oleh perilaku orang yang dicintainnya, maka hendaklah kalian memperhatikan siapa yang ia cintai”. [Sunan Abi Daud: Hasan]

Mencintai tabiat yang sama

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا ائْتَلَفَ وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اخْتَلَف [صحيح البخاري ومسلم]
“Ruh/jiwa itu memiliki tabiat yang bermacam-macam, jika bertemu dengan tabiat yang sama maka akan saling mencintai, dan jika bertemu dengan tabiat yang berbeda maka akan saling bermusuhan”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Kekasih yang tebaik

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«مَا تَحَابَّا الرَّجُلَانِ إِلَّا كَانَ أَفْضَلُهُمَا أَشَدَّهُمَا حُبًّا لِصَاحِبِهِ» [الأدب المفرد للبخاري: صححه الشيخ الألباني]
“Tidaklah dua orang saling mencintai kecuali yang paling baik dari keduannya adalah yang paling kuat cintanya kepada sahabatnya”. [Al-Adab Al-Mufrad: Sahih]

Maksiat menghilangkan rasa cinta

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«مَا تَوَادَّ اثْنَانِ فِي اللَّهِ جَلَّ وَعَزَّ أَوْ فِي الْإِسْلَامِ، فَيُفَرِّقُ بَيْنَهُمَا إِلَّا بِذَنْبٍ يُحْدِثُهُ أَحَدُهُمَا» [الأدب المفرد للبخاري: صححه الألباني]
“Tidaklah dua orang yang saling mencintai karena Allah ‘azza wa jalla atau karena Islam kemudian keduanya dipisahkan (bermusuhan) kecuali karena dosa yang dilakukan oleh salah seorang dari keduanya”. [Al-Adab Al-Mufrad karya Al-Bukhariy: Sahih]

Do’a meminta cinta

Dari Mu'adz bin Jabal radhiallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam berdo'a:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ المُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ المَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta-Mu berbuat kebaikan, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, ampunilah aku dan rahmatilah aku, bila Engkau menghendaki suatu fitnah pada hamba-hambaMu, wafatkan aku kepadaMu dalam keadaan tidak terkena fitnah, aku mengharap cintaMu, cintanya orang yang mencintaiMu, cinta pada amalan yang mendekatkanku pada cintaMu”. [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Wallahu a’lam!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...