Minggu, 05 April 2020

Syarah Kitab tauhid bab (11); Tidak menyembelih untuk Allah di tempat penyembelihan untuk selain Allah

بسم الله الرحمن الرحيم
Dalam bab ini syekh Muhammad bin Abdil Wahhab –rahimahullah- menyebutkan 1 ayat dan 1 hadits:
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مَسْجِدًا ضِرَارًا وَكُفْرًا وَتَفْرِيقًا بَيْنَ الْمُؤْمِنِينَ وَإِرْصَادًا لِمَنْ حَارَبَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ مِنْ قَبْلُ وَلَيَحْلِفُنَّ إِنْ أَرَدْنَا إِلَّا الْحُسْنَى وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ (107) لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ} [التوبة: 107، 108]
Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta (dalam sumpahnya). Janganlah kamu bersembahyang dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. [At-Taubah: 107-108]

Kamis, 02 April 2020

Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (60) Orang yang menziarahi suatu kaum kemudian tidak membatalkan puasannya di sisi mereka

بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
بَابُ مَنْ زَارَ قَوْمًا فَلَمْ يُفْطِرْ عِنْدَهُمْ
“Bab: Orang yang menziarahi suatu kaum kemudian tidak membatalkan puasannya di sisi mereka”
Dalam bab ini imam Bukhari rahimahullah menjelaskan tentang hukum membatalkan puasa ketika dihidangkan makasan saat bertamu dengan menyebutkan hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu melalui dua jalur.

Rabu, 01 April 2020

Keistimewaan Ummu Sulaim radhiyallahu ‘anha

بسم الله الرحمن الرحيم
Ummu Sulaim adalah kuniahnya, adapun namanya diperselisihkan oleh ulama, ada yang mengatakan: Al-Gumaisha’, atau Ar-Rumaishaa’, atau Sahlah, atau Rumailah, binti Milhan bin Khalid bin Zayd bin Haram Al-Anshariyah radhiyallahu ‘anha.
Ia adalah ibu dari Anas bin Malik bin An-Nadhr radhiyallahu ‘anhuma.
Ia dahulu adalah istri Malik bin An-Nadhr di masa Jahiliyah, kemudian setelah datang Islam, Ummu Sulaim masuk Islam bersama kaumnya kemudian mengajak suaminya memeluk Islam, akan tetapi Malik bin An-Nadhr menolak dan ia pergi ke Syam dan mati di sana. Kemudian setelah itu menikah dengan Abu Thalhah Zayd bin Sahl Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu.

Minggu, 22 Maret 2020

Sudah siapkah kita mati?

بسم الله الرحمن الرحيم
Setiap yang hidup pasti akan mati
Allah -subhanahu wata’aalaa- berfirman:
{كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ} [الأنبياء: 35]
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan. [Al-Anbiyaa’: 35]

Sabtu, 21 Maret 2020

Sikap seorang mukmin menghadapi wabah penyakit menular (covid-19)

بسم الله الرحمن الرحيم
Seorang mukmin harus selalu meyakini bahwa:
1)      Seluruh makhluk di alam semesta ini adalah ciptaan Allah.
Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:
{اللهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ} [الزمر: 62]
Allah menciptakan segala sesuatu. [Az-Zumar:62]

Jumat, 20 Maret 2020

Hadits ‘Abs Al-Gifariy; Segera mati sebelum muncul 6 perkara

بسم الله الرحمن الرحيم
'Ulaim Al-Kindiy -rahimahullah- berkata:
كُنَّا جُلُوسًا عَلَى سَطْحٍ مَعَنَا رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ يَزِيدُ: لَا أَعْلَمُهُ إِلَّا عَبْسًا الْغِفَارِيَّ، وَالنَّاسُ يَخْرُجُونَ فِي الطَّاعُونِ، فَقَالَ عَبَسٌ: يَا طَاعُونُ خُذْنِي، ثَلَاثًا يَقُولُهَا، فَقَالَ لَهُ عُلَيْمٌ: لِمَ تَقُولُ هَذَا؟ أَلَمْ يَقُلْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمُ الْمَوْتَ فَإِنَّهُ عِنْدَ انْقِطَاعِ عَمَلِهِ، وَلَا يُرَدُّ فَيُسْتَعْتَبَ» فَقَالَ: إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " بَادِرُوا بِالْمَوْتِ سِتًّا: إِمْرَةَ السُّفَهَاءِ، وَكَثْرَةَ الشُّرَطِ، وَبَيْعَ الْحُكْمِ، وَاسْتِخْفَافًا بِالدَّمِ، وَقَطِيعَةَ الرَّحِمِ، وَنَشْوًا يَتَّخِذُونَ الْقُرْآنَ مَزَامِيرَ يُقَدِّمُونَهُ يُغَنِّيهِمْ، وَإِنْ كَانَ أَقَلَّ مِنْهُمْ فِقْهًا "
Kami duduk di atas atap beserta seorang laki-laki dari sahabat Nabi shallallahu'alaihiwasallam. Yazid berkata; Saya tidak mengetahuinya kecuali 'Abs Al Giffary, manusia pada saat itu sedang menghindari wabah penyakit thaun (virus ganas menular).
'Abs berkata; "Wahai Penyakit Thaun, ambillah aku", dia mengulangnya sampai tiga kali.
Lalu 'Ulaim berkata kepadanya, "Mengapa engkau ucapkan perkataan semacam itu! Bukankah Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam bersabda: 'Jangan kalian berangAn angan untuk mati karena ketika itu amal diputus dan tidak dapat dikembalikan', sehingga dia bertaubat."
Lalu dia berkata; Saya mendengar Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "(Mintalah kepada Allah agar) disegerakan mati sebelum datang enam hal: (1) pemimpin bodoh, (2) banyaknya ajudan penguasa (yang dzalim), (3) hukum diperjual-belikan, (4) darah tertumpah dengan mudah, (5) pemutusan silaturrahim, dan (6) generasi muda yang menjadikan Al-Qur'an bagaikan seruling (alat musik), mereka dahulukan siapa saja yang bisa menyanyikannya walaupun dia adalah orang yang paling sedikit mengerti persoalan agama" [Musnad Ahmad: Sahih]

Kamis, 19 Maret 2020

Sifat Khasyah; Takut karena pengagungan hanya untuk Allah

بسم الله الرحمن الرحيم
Semua makhluk takut karena keagungan Allah
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{بَلْ عِبَادٌ مُكْرَمُونَ (26) لَا يَسْبِقُونَهُ بِالْقَوْلِ وَهُمْ بِأَمْرِهِ يَعْمَلُونَ (27) يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يَشْفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارْتَضَى وَهُمْ مِنْ خَشْيَتِهِ مُشْفِقُونَ} [الأنبياء: 26 - 28]
Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah mengetahui segala sesuatu yang dihadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan mereka tiada memberi syafa'at melainkan kepada orang yang diridhai Allah, dan mereka itu selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya. [Al-Anbiyaa’: 26-28]

Rabu, 18 Maret 2020

Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (59) Puasa pada hari “bidh”; tanggal 13, 14, dan 15

بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
بَابُ صِيَامِ أَيَّامِ البِيضِ: ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
“Bab: Puasa pada hari “bidh”; tanggal 13, 14, dan 15 (bulan hijriyah)”
Dalam bab ini imam Bukhari rahimahullah menjelaskan keutamaan berpuasa tiga hari dalam setiap bulan, terkhusus pada hari-hari “bidh” yaitu hari ketiga belas, empat belas, dan lima belas bulan hijriyah. Dinamai hari-hari “bidh” karena siang dan malam pada hari tersebut sangat terang, ada yang mengatakan dinamai demikian karena seluruh bagian bulan terlihat pada malamnya.

Kamis, 12 Maret 2020

Sifat Khusyu’; Tunduk penuh ketaatan hanya kepada Allah

بسم الله الرحمن الرحيم
1.     Keutamaan sifat khusyu’
Diantaranya:
1)      Dimudahkan dalam kebaikan
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ} [البقرة: 45]
Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. [Al-Baqarah:45]

Rabu, 11 Maret 2020

Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (54), (55), (56), (57), dan (58) Hadits Ibnu ‘Amr tentang puasa

بسم الله الرحمن الرحيم
A.    Bab ke-54.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
بَابُ حَقِّ الجِسْمِ فِي الصَّوْمِ
“Bab: Hak tubuh dalam hal puasa”
Dalam bab ini, imam Bukhari rahimahullah menjelaskan adanya hak bagi tubuh kita sehingga mesti diperhatikan ketika menjalankan puasa. Beliau meriwayatkan hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhuma secara utuh yang telah diriwayatkan pada bab sebelumnya secara singkat.

Sabtu, 07 Maret 2020

Syarah Arba’in hadits (8) Ibnu Umar; Perintah memerangi manusia

بسم الله الرحمن الرحيم
Dari Ibnu Umar radhiyallahu ta’aalaa ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa ‘alaa aalihi wasallam telah bersabda: "Aku diperintahkan untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi; tidak ada ilah kecuali Allah dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusan Allah, menegakkan shalat, menunaikan zakat. Jika mereka lakukan yang demikian maka mereka telah memelihara darah dan harta mereka dariku kecuali dengan haq Islam dan perhitungan mereka (yang tersembunyi) diserahkan pada Allah ta’aalaa". Diriwayatkan oleh imam Bukhari dan Muslim.

Rabu, 04 Maret 2020

Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (53) Hak tamu dalam hal puasa

بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
بَابُ حَقِّ الضَّيْفِ فِي الصَّوْمِ
“Bab: Hak tamu dalam hal puasa
Dalam bab ini, imam Bukhari menjelaskan bahwa tamu punya hak ketika kita sedang berpuasa, jangan sampai puasa kita menghalangi untuk memberikan hak tamu dengan baik. Beliau meriwayatkan satu hadits dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma dengan lafadz yang ringkas.

Sabtu, 29 Februari 2020

Pengantar ilmu hadits Ahkam

بسم الله الرحمن الرحيم
Defenisi ilmu hadits Ahkam
Ilmu hadits ahkam terdiri dari tiga kata yaitu: Ilmu, hadits, dan ahkam.
a)      Defenisi ilmu
Ilmi adalah pengetahun atau pemahaman akan sesuatu sesuai dengan hakikatnya.

Kamis, 27 Februari 2020

Sifat Tawakkal; Menyerahkan segala urusan hanya kepada Allah

بسم الله الرحمن الرحيم

1.     Perintah untuk tawakkal kepada Allah
Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:
{فَاعْبُدْهُ وَتَوَكَّلْ عَلَيْهِ} [هود: 123]
Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. [Huud:123]

Rabu, 26 Februari 2020

Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (52) Tentang puasa dan berbukanya Nabi shallallahu ‘alaih wasallam

بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
بَابُ مَا يُذْكَرُ مِنْ صَوْمِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِفْطَارِهِ
“Bab: Tentang puasa dan berbukanya Nabi shallallahu ‘alaih wasallam”
Dalam bab ini, imam Bukhari rahimahullah menyebutkan tentang keseimbangan puasa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam antara berpuasa dan tidak berpuasa dengan meriwayatkan dua hadits dari Ibnu ‘Abbas dan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhum.

Kamis, 20 Februari 2020

Sifat Ar-Rajaa’: Berharap hanya kepada Allah

بسم الله الرحمن الرحيم
1.     Mengharap rahmat Allah
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [البقرة: 218]
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Al-Baqarah: 218]

Rabu, 19 Februari 2020

Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (51) Puasa Sya’ban

بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
بَابُ صَوْمِ شَعْبَانَ
“Bab: Puasa Sya’ban”
Dalam bab ini, imam Bukhari rahimahullah menjelaskan anjuran berpuasa di bulan Sya’ban dengan meriwayatkan hadits Aisyah radhiyallahu 'anha melalui dua jalur.

Selasa, 18 Februari 2020

Sujud sahwi dilakukan sebelum atau setelah salam?

بسم الله الرحمن الرحيم
Ada beberapa pendapat ulama dalam masalah ini:
Pendapat pertama: Dilakukan sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak dikiaskan kepada kondisi yang lain.
Ini adalah pendapat Daud Adz-Dzahiriy rahimahullah.

Senin, 17 Februari 2020

Hadits Umar, dan Ibnu ‘Abbas; Apakah ada sujud sahwi bagi makmum?

بسم الله الرحمن الرحيم
A.    Hadits Umar bin Khathab
Diriwayatkan dengan dua versi sanad:
Sanad pertama: Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthniy rahimahullah dalam Sunan-nya 2/212, no.1413:
عن خَارِجَة بْن مُصْعَبٍ، عَنْ أَبِي الْحُسَيْنِ الْمَدِينِيِّ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:  «لَيْسَ عَلَى مَنْ خَلْفَ الْإِمَامِ سَهْوٌ، فَإِنْ سَهَا الْإِمَامُ فَعَلَيْهِ وَعَلَى مَنْ خَلْفَهُ السَّهْوُ، وَإِنْ سَهَا مَنْ خَلْفَ الْإِمَامِ فَلَيْسَ عَلَيْهِ سَهْوٌ وَالْإِمَامُ كَافِيهِ»
Dari Kharijah bin Mush’ab, dari Abu Al-Husain Al-Madiniy, dari Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar, dari bapaknya, dari Umar, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak ada bagi orang yang di balakang imam (makmum) sujud sahwi (sendiri), maka jika imam terlupa maka ia dan orang yang shalat di belakangnya mesti sujud sahwi, dan jika orang yang shalat di belakang imam terlupa, maka ia tidak mesti sujud sahwi karena imam telah mencukupinya (menutupi kekurangan dalam shalatnya)”.
Sanad ini sangat lemah dengan beberapa cacat:

Sabtu, 15 Februari 2020

Hadits Ibnu Umar, Tsauban, dan Aisyah; Apakah setiap kekeliruan dalam shalat ada sujud sahwi?

بسم الله الرحمن الرحيم
A.    Hadits Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma
Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthniy rahimahullah dalam Sunan-nya 2/213 no.1414, Al-Hakim rahimahullah dalam “Al-Mustadrak” (1/471) no.1212, dan Al-Baihaqiy rahimahullah dalam “As-Sunan Al-Kubra” (2/486) no.3853:
عن يَحْيَى بْن صَالِحٍ، ثنا أَبُو بَكْرٍ الْعَبْسِيُّ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لَا سَهْوَ فِي وَثْبَةِ الصَّلَاةِ إِلَّا قِيَامٌ عَنْ جُلُوسٍ أَوْ جُلُوسٌ عَنْ قِيَامٍ»
Dari Yahya bin Shalih, ia berkata: Abu Bakr Al-‘Absiyyu menceritakan kepada kami, dari Yazid bin Abi Habib, dari Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar, dari bapaknya, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidak ada sujud sahwi pada shalat kecuali jika berdiri dari yang seharusnya duduk atau duduk dari yang seharusnya berdiri”.

Jumat, 14 Februari 2020

Hadits Ibnu Mas’ud; Sujud Sahwi ketika menambah raka’at shalat dan ragu

بسم الله الرحمن الرحيم
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata:
صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - قَالَ إِبْرَاهِيمُ: لاَ أَدْرِي زَادَ أَوْ نَقَصَ - فَلَمَّا سَلَّمَ قِيلَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَحَدَثَ فِي الصَّلاَةِ شَيْءٌ؟ قَالَ: «وَمَا ذَاكَ»، قَالُوا: صَلَّيْتَ كَذَا وَكَذَا، فَثَنَى رِجْلَيْهِ، وَاسْتَقْبَلَ القِبْلَةَ، وَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ، فَلَمَّا أَقْبَلَ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ، قَالَ: «إِنَّهُ لَوْ حَدَثَ فِي الصَّلاَةِ شَيْءٌ لَنَبَّأْتُكُمْ بِهِ، وَلَكِنْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ، أَنْسَى كَمَا تَنْسَوْنَ، فَإِذَا نَسِيتُ فَذَكِّرُونِي، وَإِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلاَتِهِ، فَلْيَتَحَرَّ الصَّوَابَ فَلْيُتِمَّ عَلَيْهِ، ثُمَّ لِيُسَلِّمْ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ» [صحيح البخاري]
"Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melaksanakan shalat. -Ibrahim mengatakan: "Tapi aku tidak tahu apakah beliau kelebihan rakaat atau kurang-. Setelah salam, beliau pun ditanya: "Wahai Rasulullah, telah terjadi sesuatu dalam shalat?!
Beliau bertanya: "Apakah itu?"
Maka mereka menjawab, "Tuan shalat begini dan begini."
Beliau kemudian duduk pada kedua kakinya menghadap kiblat, kemudian beliau sujud dua kali, kemudian salam. Ketika menghadap ke arah kami, beliau bersabda: "Seungguhnya bila ada sesuatu yang baru dari shalat pasti aku beritahukan kepada kalian. Akan tetapi aku ini hanyalah manusia seperti kalian yang bisa lupa sebagaimana kalian juga bisa lupa, maka jika aku terlupa ingatkanlah. Dan jika seseorang dari kalian ragu dalam shalatnya maka dia harus meyakini mana yang benar, kemudian hendaklah ia sempurnakan, lalu salam kemudian sujud dua kali." [Shahih Bukhari]

Kamis, 13 Februari 2020

Sifat Al-Khauf; Takut hanya kepada Allah

بسم الله الرحمن الرحيم
1.     Semua makhluk takut kepada Allah
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِنْ دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ (49) يَخَافُونَ رَبَّهُمْ مِنْ فَوْقِهِمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ} [النحل: 49، 50]
Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. Mereka takut kepada Tuhan mereka yang di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka). [An-Nahl: 49-50]

Rabu, 12 Februari 2020

Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (50) Orang yang bersumpah kepada saudaranya agar membatalkan puasa sunnahnya

بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
بَابُ مَنْ أَقْسَمَ عَلَى أَخِيهِ لِيُفْطِرَ فِي التَّطَوُّعِ، وَلَمْ يَرَ عَلَيْهِ قَضَاءً إِذَا كَانَ أَوْفَقَ لَهُ
“Bab: Orang yang bersumpah kepada saudaranya agar membatalkan puasa sunnahnya, dan tidak berpendapat wajibnya mengqadha’ jika ia memenuhi sumpahnya”
Dalam bab ini, imam Bukhari menjelaskan tentang hukum membatalkan puasa sunnah, apakah wajib membayar qadha’ atau tidak. Beliau menyebutkan satu hadits dari Abu Juhaifah tentang kisah Salman Al-Farisiy bersama saudara seimannya Abu Ad-Dardaa’ radhiyallahu ‘anhum.

Selasa, 11 Februari 2020

Hadits Abu Sa’id, ‘Abdurrahman, dan Ibnu Ja’far; Sujud Sahwi ketika ragu dalam shalat

بسم الله الرحمن الرحيم
A.    Hadits Abu Sa’id Al-Khudriy.
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«إِذَا شَكَّ أَحَدُكُمْ فِي صَلَاتِهِ، فَلَمْ يَدْرِ كَمْ صَلَّى ثَلَاثًا أَمْ أَرْبَعًا، فَلْيَطْرَحِ الشَّكَّ وَلْيَبْنِ عَلَى مَا اسْتَيْقَنَ، ثُمَّ يَسْجُدُ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، فَإِنْ كَانَ صَلَّى خَمْسًا شَفَعْنَ لَهُ صَلَاتَهُ، وَإِنْ كَانَ صَلَّى إِتْمَامًا لِأَرْبَعٍ كَانَتَا تَرْغِيمًا لِلشَّيْطَانِ» [صحيح مسلم]
“Apabila salah seorang dari kalian ragu dalam shalatnya, dan tidak mengetahui berapa rakaat dia shalat, tiga ataukah empat rakaat maka buanglah keraguan, dan ambilah yang pasti (yaitu yang sedikit). Kemudian sujudlah dua kali sebelum memberi salam. Jika ternyata dia shalat lima rakaat, maka sujudnya telah menggenapkan shalatnya. Dan jika, ternyata shalatnya memang empat rakaat maka kedua sujudnya itu adalah sebagai penghinaan bagi setan'." [Shahih Muslim]

Senin, 10 Februari 2020

Hadits Abu Hurairah dan ‘Imran; Sujud Sahwi ketika salam sebelum shalat sempurna

بسم الله الرحمن الرحيم
A.    Hadits Abu Hurairah.
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata:
صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِحْدَى صَلاَتَيِ العَشِيِّ - قَالَ مُحَمَّدٌ: وَأَكْثَرُ ظَنِّي العَصْرَ - رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ قَامَ إِلَى خَشَبَةٍ فِي مُقَدَّمِ المَسْجِدِ، فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهَا، وَفِيهِمْ أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، فَهَابَا أَنْ يُكَلِّمَاهُ، وَخَرَجَ سَرَعَانُ النَّاسِ فَقَالُوا: أَقَصُرَتِ الصَّلاَةُ؟ وَرَجُلٌ يَدْعُوهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذُو اليَدَيْنِ، فَقَالَ: أَنَسِيتَ أَمْ قَصُرَتْ؟ فَقَالَ: لَمْ أَنْسَ وَلَمْ تُقْصَرْ، قَالَ: بَلَى قَدْ نَسِيتَ، «فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ، ثُمَّ سَلَّمَ، ثُمَّ كَبَّرَ، فَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ، فَكَبَّرَ، ثُمَّ وَضَعَ رَأْسَهُ، فَكَبَّرَ، فَسَجَدَ مِثْلَ سُجُودِهِ أَوْ أَطْوَلَ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَكَبَّرَ»
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam shalat bersama kami dalam suatu shalat sore, -Berkata Muhammad (bin Sirin); Kecenderungan dugaanku adalah shalat 'Ashar-, yaitu sebanyak dua raka'at lalu memberi salam. Setelah itu Beliau mendatangi kayu yang tergeletak di masjid, Beliau berbaring dengan meletakkan kedua tangannya pada kayu tersebut. Diantara mereka yang ikut shalat ada Abu Bakar dan 'Umar radhiyallahu 'anhuma. Namun keduanya sungkan untuk berbicara dengan Beliau lalu keluar mendahului orang banyak. Sementara orang-orang berkata; "Shalat diringkas (qashar) ".
Tiba-tiba ada seorang yang dipanggil oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan panggilan Dzul Yadain, dan ia berkata: "Apakah anda lupa atau shalat diqashar?"
Beliau berkata: "Aku tidak lupa dan juga shalat tidak diqashar!".
Dzul Yadain berkata: "Benar, sebenarnya anda telah lupa".
Maka Beliau shalat dua raka'at kemudian memberi salam. Kemudian Beliau bertakbir lalu sujud seperti sujudnya (yang biasa) atau lebih lama lagi kemudian mengangkat kepalanya lalu bertakbir lagi kemudian meletakkan kepalanya lalu bertakbir kemudian sujud seperti sujudnya atau lebih lama lagi, kemudian mengangkat kepalanya dan takbir. [Shahih Bukhari]

Minggu, 09 Februari 2020

Hadits Ibnu Buhainah, Al-Mugirah, dan Anas; Sujud Sahwi ketika meninggalkan tasyahhud awal

بسم الله الرحمن الرحيم
A.    Hadits Abdullah Ibnu Buhainah
Dari Abdullah Ibnu Buhainah radhiyallahu 'anhuma:
«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمُ الظَّهْرَ، فَقَامَ فِي الرَّكْعَتَيْنِ الأُولَيَيْنِ لَمْ يَجْلِسْ، فَقَامَ النَّاسُ مَعَهُ حَتَّى إِذَا قَضَى الصَّلاَةَ وَانْتَظَرَ النَّاسُ تَسْلِيمَهُ كَبَّرَ وَهُوَ جَالِسٌ، فَسَجَدَ سَجْدَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يُسَلِّمَ، ثُمَّ سَلَّمَ» [صحيح البخاري]
“Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah shalat Dzuhur bersama mereka, lalu beliau berdiri pada dua rakaat yang pertama dan tidak duduk (untuk tasyahud), dan orang-orang ikut berdiri. Sehingga ketika shalat akan selesai, dan orang-orang menanti salamnya, beliau bertakbir dalam posisi duduk, lalu sujud dua kali sebelum salam, setelah itu baru beliau salam." [Shahih Bukhari]

Sabtu, 08 Februari 2020

Syarah Arba’in hadits (7) Tamim bin Aus; Agama adalah kebaktian

بسم الله الرحمن الرحيم
Dari Abu Ruqayyah Tamim bin Aus Ad-Daariy -radhiyallahu ta’aalaa ‘anhu- bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Agama itu adalah kebaktian."
Kami bertanya, "Kebaktian untuk siapa?"
Beliau menjawab, "Untuk Allah, kitab-Nya (Al-Qur'an), Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin (ulama dan umara’), serta kaum awam mereka." [Diriwayatkan oleh imam Muslim]

Jumat, 07 Februari 2020

Rabu, 05 Februari 2020

Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (47), (48), dan (49) Tentang puasa Wishal

بسم الله الرحمن الرحيم
A.    Penjelasan pertama.
Bab ke-47, Imam Bukhari rahimahullah berkata:
بَابُ الوِصَالِ، وَمَنْ قَالَ: «لَيْسَ فِي اللَّيْلِ صِيَامٌ»
“Bab: Puasa wishal, dan pendapat bahwa pada malam hari tidak ada puasa”
Dalam bab ini, Imam Bukhari menjelaskan tentang puasa “wishal” yaitu menyampung puasa sampai malam hari.

Kamis, 30 Januari 2020

Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (46) Puasa anak kecil

بسم الله الرحمن الرحيم
A.    Penjelasan pertama.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
بَابُ صَوْمِ الصِّبْيَانِ
“Bab: Puasa anak kecil”
Dalam bab ini, imam Bukhari menjelaskan tentang anjuran melatih anak kecil untuk berpuasa dengan menyebutkan satu atsar dari Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu, dan satu hadits dari Ar-Rubai’ binti Mu’awwidz radhiyallahu ‘anhuma.

Rabu, 29 Januari 2020

Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (45) Jika berbuka puasa Ramadhan kemudian matahari muncul

بسم الله الرحمن الرحيم
A.    Penjelasan pertama.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
بَابُ إِذَا أَفْطَرَ فِي رَمَضَانَ ثُمَّ طَلَعَتِ الشَّمْسُ
“Bab: Jika seseorang berbuka di bulan Ramadhan kemudian matahari muncul”
Dalam bab ini, imam Bukhari menjelaskan perbedaan ulama tentang hukum orang yang berbuka puasa di bulan Ramadhan karena menyangka telah masuk waktu berbuka tapi ternyata matahari belum tenggelam.
Imam Bukhari menyebutkan satu hadits dari Asma’ binti Abi Bakr radhiyallahu ‘anhuma dan perselisihan di dalamnya dari yang mewajibkan qadha’ atau tidak.

Sabtu, 25 Januari 2020

Syarah Kitab tauhid bab (10); Tentang menyembelih untuk selain Allah

بسم الله الرحمن الرحيم
Dalam bab ini syekh Muhammad bin Abdil Wahhab –rahimahullah- menyebutkan 2 ayat dan 2 hadits: