بسم
الله الرحمن الرحيم
Dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda:
«تُعْرَضُ
الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ
أُشْرِبَهَا، نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا،
نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ، عَلَى
أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ
وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ
مَعْرُوفًا، وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا، إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ» [صحيح مسلم]
"Fitnah akan dipaparkan pada hati manusia bagai tikar
yang dipaparkan perutas (secara tegak menyilang antara satu sama lain). Manapun
hati yang dihinggapi oleh fitnah, niscaya akan terlekat padanya bintik-bintik
hitam. Begitu juga mana pun hati yang tidak dihinggapinya, maka akan terlekat
padanya bintik-bintik putih sehingga hati tersebut terbagi dua: sebagian
menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah, selama
langit dan bumi masih ada. Sedangkan sebagian yang lain menjadi hitam
keabu-abuan seperti cangkir yang terbalik, tidak menyuruh kebaikan dan tidak
pula melarang kemungkaran kecuali sesuatu yang diserap oleh hawa
nafsunya." [Shahih Muslim]

.jpeg)
.jpeg)


.webp)



