بسم
الله الرحمن الرحيم
A.
Bab 28.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
باب: الوصاءة
بِالْجَارِ.
“Bab: Wasiat untuk berbuat baik kepada tetangga”
Dalam bab ini imam Bukhari menjelaskan tentang wajibnya
berbuat baik kepada tetangga, dengan menyebutkan satu ayat dan 2 hadits yang
semakna dari Aisyah dan Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhum.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
وَقَوْلِ
اللَّهِ تَعَالَى: ﴿وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا﴾ [النساء: ٣٦]
Dan firman Allah Ta'ala: {Sembahlah Allah dan
janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah
kepada dua orang ibu-bapa, ... } [An-Nisaa': 36]
Lengkap ayat ini menunjukkan perintah berbuat baik kepada
tetangga, Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:
{وَاعْبُدُوا
اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي
الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ
الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ
أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا} [النساء: 36]
Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan
sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang
jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri. [An-Nisaa': 36]
Makna
tetangga dekat dan tetangga jauh:
a. Tetangga dekat adalah kerabat dan tetangga jauh yang bukan
kerabat.
b. Tetangga dekat adalah yang muslim, dan tetangga jauh
adalah yang non muslim.
c. Dekat dan jauh dari segi tempat.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٦٨ - حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي
أُوَيْسٍ قَالَ: حَدَّثَنِي مَالِكٌ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ قَالَ:
أَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرِ بْنُ مُحَمَّدٍ [بن عمرو بن حزم]، عَنْ عَمْرَةَ [بنت
عبد الرحمن بن سعد بن زرارة]، عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ
قَالَ: «مَا زَالَ يُوصِينِي جِبْرِيلُ بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ
سَيُوَرِّثُهُ»
Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Abu Uwais, dia
berkata: Telah menceritakan kepadaku Malik, dari Yahya bin Sa'id dia berkata,
telah mengabarkan kepadaku Abu Bakr bin Muhammad [bin ‘Amr bin Hazm], dari
'Amrah [binti Abdirrahman bin Sa’d bin Zurarah], dari Aisyah radhiallahu'anha
dari Nabi ﷺ beliau bersabda, "Jibril
senantiasa mewasiatkanku untuk berbuat baik terhadap tetangga sehingga aku
mengira tetangga juga akan mendapatkan harta waris."
٥٦٦٩ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مِنْهَالٍ:
حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ [بن زيد بن عبد الله بن عمر]، عَنْ
أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَا
زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ»
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Minhal, ia
berkata: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai', ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Umar bin Muhammad [bin Zayd bin Abdillah bin Umar],
dari Ayahnya, dari Ibnu Umar radhiallahu'anhuma dia berkata,
Rasulullah ﷺ bersabda, "Jibril
senantiasa mewasiatkanku untuk berbuat baik terhadap tetangga sehingga aku
mengira tetangga juga akan mendapatkan harta waris."
Penjelasan singkat hadits ini:
1)
Biografi Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Lihat: Aisyah binti Abi Bakr dan keistimewaannya
2)
Biografi Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/
3)
Perhatian Jibril kepada Nabi ﷺ.
4)
Keutamaaan berbuat baik kepada tetangga.
Diantaranya:
1. Kedudukan terbaik di sisi Allah subhanahu
wata’aalaa.
Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma berkata; Rasulullah ﷺ bersabda:
«خَيْرُ
الأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ، وَخَيْرُ الجِيرَانِ عِنْدَ
اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ» [سنن الترمذي: صحيح]
"Sebaik-baik sahabat di sisi Allah adalah seorang yang
terbaik terhadap temannya. Dan tetangga yang paling terbaik di sisi Allah
adalah seorang yang paling baik baik terhadap tetangganya." [Sunan
Tirmidziy: Shahih]
2. Menguatkan keimanan.
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَحْسِنْ
إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا» [سنن الترمذي: حسن]
"Berbuat baiklah terhadap tetanggamu niscaya kamu
menjadi orang mukmin." [Sunan Tirmidziy: Hasan]
3. Menambah kekayaan dan memanjangkan umur.
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha; Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّهُ
مَنْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنَ الرِّفْقِ ، فَقَدْ أُعْطِيَ حَظَّهُ مِنْ خَيْرِ
الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، وَصِلَةُ الرَّحِمِ وَحُسْنُ الْخُلُقِ وَحُسْنُ
الْجِوَارِ يَعْمُرَانِ الدِّيَارَ، وَيَزِيدَانِ فِي الْأَعْمَارِ» [مسند أحمد: صحيح]
"Sesungguhnya barangsiapa yang diberi bagiannya dari
sifat lemah lembut maka ia telah diberi bagiannya dari kebaikan dunia dan
akhirat, dan silaturahmi, akhlak yang mulia, dan berbuat baik kepada tetangga
akan menambah kekayaan dan memanjangkan umur". [Musnad Ahmad: Shahih]
4. Mendapatkan ampunan.
Dari Anas radhiyallahu 'anhu; Nabi ﷺ bersabda:
«مَا
مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ فَيَشْهَدُ لَهُ أَرْبَعَةٌ أَهْلُ أَبْيَاتٍ مِنْ
جِيرَانِهِ الْأَدْنَيْنَ، إِلَّا قَالَ: قَدْ قَبِلْتُ عِلْمَكُمْ فِيهِ،
وَغَفَرْتُ لَهُ مَا لَا تَعْلَمُونَ»
"Tidak ada seorang muslim yang meninggal kemudian ada
empat tetangga rumah dekatnya yang datang kepadanya, melainkan Allah akan
berfirman: Sungguh Aku telah menerima amalnya dengan kehadiran kalian dan aku
mengampuninya dengan apa yang kalian tidak tahu." [Musnad Ahmad: Hasan
ligairih]
Lihat: Adab bertetangga dalam Islam
5)
Berbuat baik kepada tetangga sekalipun non muslim.
Abdullah bin Amru radhiyallahu 'anhuma pernah menyembelih kambing, lalu
berkata: Apakah kalian telah beri tetanggaku yang Yahudi? Sesungguhnya aku
pernah mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda:
«مَا
زَالَ جِبْرِيلُ يُوصِينِي بِالْجَارِ، حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ» [سنن أبي داود: صحيح]
"Jibril senantiasa memberiku nasihat agar aku berbuat
baik kepada tetanggaku, hingga aku punya perkiraaan bahwa dia akan
menjadikannya ahli waris." [Sunan Abi Daud: Shahih]
B.
Bab 29.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
باب: إثم من لا
يأمن جاره بوائقه.
"Bab: Dosa seorang yang tetangganya tidak merasa
aman dari gangguannya"
Dalam bab ini imam Bukhari menjelaskan tentang bahaya berbuat
buruk kepada tetangga, dengan menyebutkan 2 hadits yang semakna dari Abu
Syuraih (secara muttashil) dan Abu Hurairah (secara mu’allaq)
radhiyallahu ‘anhum.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
﴿يوبقهن﴾
[الشورى: ٣٤]: يهلكهن. ﴿موبقًا﴾ [الكهف: ٥٢]: مهلكًا.
{Yuubiqhunna} [Asy-Syuuraa: 34] artinya kapal-kapal
itu dibinasakanNya. {Maubiqan} [Al-Kahf: 52] artinya tempat kebiasaan.
Imam Bukhari menyebutkan dua ayat ini untuk menjelaskan makna
"bawaiq". Lengkapnya Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:
{وَمِنْ
آيَاتِهِ الْجَوَارِ فِي الْبَحْرِ كَالْأَعْلَامِ (32) إِن يَشَأْ يُسْكِنِ
الرِّيحَ فَيَظْلَلْنَ رَوَاكِدَ عَلَىٰ ظَهْرِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ
لِّكُلِّ صَبَّارٍ شَكُورٍ (33) أَوْ يُوبِقْهُنَّ بِمَا كَسَبُوا وَيَعْفُ
عَن كَثِيرٍ} [الشورى
: 32-34]
Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah kapal-kapal di
tengah (yang berlayar) di laut seperti gunung-gunung. Jika Dia menghendaki, Dia
akan menenangkan angin, maka jadilah kapal-kapal itu terhenti di permukaan
laut. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaannya)
bagi setiap orang yang banyak bersabar dan banyak bersyukur, atau kapal-kapal
itu dibinasakan-Nya karena perbuatan mereka atau Dia memberi maaf
sebagian besar (dari mereka). [Asy-Syuuraa: 32-34]
{وَيَوْمَ
يَقُولُ نَادُوا شُرَكَائِيَ الَّذِينَ زَعَمْتُمْ فَدَعَوْهُمْ فَلَمْ
يَسْتَجِيبُوا لَهُمْ وَجَعَلْنَا بَيْنَهُم مَّوْبِقًا} [الكهف : 52]
Dan (ingatlah) akan hari (yang ketika itu) Dia berfirman:
"Serulah olehmu sekalian sekutu-sekutu-Ku yang kamu katakan itu".
Mereka lalu memanggilnya tetapi sekutu-sekutu itu tidak membalas seruan mereka
dan Kami adakan untuk mereka tempat kebinasaan (neraka). [Al-Kahf: 52]
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٧٠ - حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ عَلِيٍّ:
حَدَّثَنَا [محمد بن عبد الرحمن بن المغيرة بن الحارث] ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، عَنْ
سَعِيدٍ [المقبري]، عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ [خويلد الخزاعي]: أَنّ النَّبِيَّ ﷺ
قَالَ: «وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ».
قِيلَ: وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ
بَوَايِقَهُ».
Telah menceritakan kepada kami Ashim bin Ali, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abdirrahman bin Al-Mugirah bin
Al-Harits] Ibnu Abu Dzi'ib, dari Sa'id [Al-Maqburiy], dari Abu Syuraih bahwasanya
Nabi ﷺ bersabda, "Demi Allah,
tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman."
Ditanyakan kepada beliau, "Siapa yang tidak beriman wahai
Rasulullah?" beliau bersabda, "Yaitu orang yang tetangganya tidak
merasa aman dengan gangguannya."
تَابَعَهُ
شَبابةُ [بن سوار المدايني] وَأَسَدُ بْنُ مُوسَى. وَقَالَ حُمَيْدُ بْنُ
الْأَسْوَدِ، وَعُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ، وَشُعَيْبُ
بْنُ إسحق: عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ.
Riwayat ini dikuatkan pula oleh Syababah [bin Suwwar
Al-Madayiniy] dan Asad bin Musa. Dan berkata Humaid bin Al Aswad, Utsman bin
Umar, Abu Bakr bin 'Ayyasy dan Syu'aib bin Ishaq, dari Ibnu Abu Dzi'b, dari Al-Maqburiy,
dari Abu Hurairah."
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Biografi Abu Syuraih radhiyallahu
‘anhu.
Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/
2.
Biografi Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu.
Lihat: Abu Hurairah dan keistimewaannya
3.
Bersumpah dan
mengulangi ucapan untuk menegaskan.
4.
Keimanan bisa bertambah
dan bisa berkurang.
Lihat: Kitab Iman bab 34; Bertambah dan berkurangnya iman
5.
Ancaman bagi orang yang
mengganggu tetangganya:
1)
Tidak sempurna keimanannya.
2)
Berhak mendapatkan laknat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Seorang
berkata:
يَا رَسُولَ
اللَّهِ، إِنَّ لِي جَارًا يُؤْذِينِي، فَقَالَ: «انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَتَاعَكَ
إِلَى الطَّرِيقِ» ، فَانْطَلَقَ فَأَخْرِجَ مَتَاعَهُ، فَاجْتَمَعَ النَّاسُ
عَلَيْهِ، فَقَالُوا: مَا شَأْنُكَ؟ قَالَ: لِي جَارٌ يُؤْذِينِي، فَذَكَرْتُ
لِلنَّبِيِّ ﷺ، فَقَالَ: «انْطَلِقْ فَأَخْرِجْ مَتَاعَكَ إِلَى الطَّرِيقِ»،
فَجَعَلُوا يَقُولُونَ: اللَّهُمَّ الْعَنْهُ، اللَّهُمَّ أَخْزِهِ. فَبَلَغَهُ،
فَأَتَاهُ فَقَالَ: ارْجِعْ إِلَى مَنْزِلِكَ، فَوَاللَّهِ لَا أُؤْذِيكَ [الأدب المفرد للبخاري: صحيح]
Wahai Rasulullah, sungguh saya punya tetangga yang suka
menyakitiku! Maka Rasulullah bersabda: “Pergilah, kemudian keluarkan
barang-barangmu ke jalan!” Maka ia pergi lalu mengeluarkan barang-barangnya
(dari rumah). Maka orang-orang mengerumunginya dan bertanya: Ada apa denganmu? Ia
menjawab: Saya punya tetangga yang selalu menyakitiku, lalu aku adukan kepada
Nabi ﷺ dan beliau bersabda:
“Pergilah, kemudian keluarkan barang-barangmu ke jalan!” Maka orang-orang
berkata: “Ya Allah, laknatlah ia (tetangganya itu), ya Allah, hinakanlah ia”
Maka tetangganya itu mendatanginya dan berkata: Kembalilah ke rumahmu, karena
demi Allah aku tidak akan menyakitimu lagi. [Al-Adab Al-Mufrad karya
Al-Bukhariy: Shahih]
3)
Tidak masuk surga.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu;
Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ» [صحيح مسلم]
"Tidak akan masuk surga, orang yang mana tetangganya
tidak aman dari bahayanya." [Shahih Muslim]
4)
Menjadi penghuni neraka.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Seseorang
bertanya: Ya Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah (seorang wanita) terkenal
dengan banyak melakukan salat, puasa, dan sedekah, akan tetapi ia menyakiti
tetangganya dengan lidahnya?
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«هِيَ
فِي النَّارِ»
"Ia adalah penghuni neraka!"
Orang itu bertanya lagi: Ya Rasulullah, si Fulanah yang lain
terkenal dengan sedikit melakukan puasa, sedekah dan salat, ia hanya bersedekah
dengan secuil keju akan tetapi ia tidak menyakiti tetangganya dengan lidahnya?
Rasulullah ﷺ
bersabda:
«هِيَ
فِي الْجَنَّةِ» [مسند
أحمد: صحيح]
"Ia adalah penghuni surga!" [Musnad Ahmad: Sahih]
C.
Bab 30.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
باب: لَا
تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا.
Bab: Jangan seorang tetangga meremehkan pemberian
untuk tetangganya
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٧١ - حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
يُوسُفَ: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ، هُوَ الْمَقْبُرِيُّ، عَنْ
أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَقُولُ: «يَا نِسَاءَ
الْمُسْلِمَاتِ، لَا تَحْقِرَنَّ جَارَةٌ لِجَارَتِهَا وَلَوْ فِرْسِنَ شَاةٍ»
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, telah
menceritakan kepada kami Al Laits, telah menceritakan kepada kami Sa'id yaitu
Al-Maqburi dari Ayahnya dari Abu Hurairah dia berkata, Nabi ﷺ bersabda, "Wahai para wanita muslimah, janganlah antara
tetangga yang satu dengan yang lainnya saling meremehkan walaupun hanya dengan
memberi kaki kambing."
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Jangan meremehkan pemberian orang lain.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Nabi ﷺ bersabda:
«لَوْ
دُعِيتُ إِلَى ذِرَاعٍ، أَوْ كُرَاعٍ، لَأَجَبْتُ، وَلَوْ أُهْدِيَ إِلَيَّ
ذِرَاعٌ أَوْ كُرَاعٌ لَقَبِلْتُ»
"Sekiranya aku diundang untuk menyantap sepotong daging
lengan (kambing) atau sepotong kaki (kambing), niscaya aku akan penuhi undangan
tersebut. Dan sekiranya ada yang menghadiahkan kepadaku sepotong daging lengan
atau sepotong kaki, niscaya akan aku terima." [Shahih Bukhari]
2.
Berbuat baik kepada tetangga walau sedikit.
Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata: Kekasih saya, Rasulullah ﷺ pernah berpesan kepada saya:
«إِذَا
طَبَخْتَ مَرَقًا فَأَكْثِرْ مَاءَهُ، ثُمَّ انْظُرْ أَهْلَ بَيْتٍ مِنْ
جِيرَانِكَ، فَأَصِبْهُمْ مِنْهَا بِمَعْرُوفٍ» [صحيح مسلم]
'Apabila kamu memasak kuah sayur, maka perbanyaklah airnya,
lalu lihatlah jumlah keluarga tetanggamu dan berikanlah sebagiannya kepada
mereka dengan baik.'" [Shahih Muslim]
D.
Bab 31.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
باب: (مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ»
Bab: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir,
maka janganlah ia mengganggu tetangganya
Dalam bab ini Imam Bukhari menyebutkan 2 hadits dari Abu
Hurairah dan Abu Syuraih radhiyallahu 'anhuma.
Hadits Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٧٢ - حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ:
حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ [سلام بن سليم]، عَنْ أَبِي حَصِينٍ [عثمان بن
عاصم]، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ،
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ،
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ
لِيَصْمُتْ»
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, ia
berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Ahwash [Salam bin Sulaim], dari
Abu Hashin [Utsman bin ‘Ashim], dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia
berkata: Rasulullah ﷺ
bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka
janganlah ia mengganggu tetangganya. Barang siapa yang beriman kepada Allah dan
hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya. Dan barang siapa yang beriman
kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia bertutur kata baik atau lebih baik
diam."
Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada Syarah Arba'in hadits (15) Abu Hurairah; Sifat orang beriman kepada Allah dan hari akhirat
Hadits Abu Syuraih Al-'Adawiy radhiyallahu
'anhu
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٧٣ - حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
يُوسُفَ: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ قَالَ: حَدَّثَنِي سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ، عَنْ
أَبِي شُرَيْحٍ الْعَدَوِيِّ قَالَ: سَمِعَتْ أُذُنَايَ، وَأَبْصَرَتْ عَيْنَايَ،
حِينَ تَكَلَّمَ النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: «مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ جَائِزَتَهُ». قَالَ: وَمَا
جَائِزَتُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «يَوْمٌ وَلَيْلَةٌ، وَالضِّيَافَةُ
ثَلَاثَةُ أَيَّامٍ، فَمَا كَانَ وَرَاءَ ذَلِكَ فَهُوَ صَدَقَةٌ عَلَيْهِ، وَمَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ
لِيَصْمُتْ»
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yusuf, telah
menceritakan kepada kami Al Laits dia berkata, telah menceritakan kepadaku
Sa'id Al Maqburi dari Abu Syuraih Al 'Adawi dia berkata, "Saya telah
mendengar dengan kedua telingaku dan melihat dengan kedua mataku ketika
Rasulullah ﷺ mengucapkan sabdanya,
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia memuliakan
tetangganya, dan barang siapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya ia
memuliakan tamunya, dan menjamunya" dia bertanya, 'Apa yang dimaksud
dengan menjamunya wahai Rasulullah?" beliau menjawab, "Yaitu pada
siang dan malam harinya, bertamu itu tiga hari, lebih dari itu adalah sedekah
bagi tamu tersebut." Dan beliau bersabda, "Barang siapa beriman
kepada Allah dan hari akhir, hendaknya dia berkata dengan baik atau diam."
Nb: Hadits ini diriwayatkan juga pada Kitab Ar-Riqaq, bab 23; Menjaga lisan
Penjelasan singkat hadits ini:
1)
Akhlak yang baik tanda
baiknya iman.
Lihat: Aqidah sebagai pondasi akhlak mulia
2)
Keutamaan memuliakan
tamu.
Lihat: Adab menerima tamu dalam Islam
3)
Keutamaaan menjaga
ucapan.
Lihat: Hadits Abu Sa’id; Pesan seluruh tubuh kepada lidah
E.
Bab 32.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
باب: حَقِّ
الْجِوَارِ فِي قُرْبِ الْأَبْوَابِ.
Bab: Hak bertetangga karena berdekatan pintu
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٧٤ - حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ:
حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبُو عِمْرَانَ [عبد الملك بن حبيب]
قَالَ: سَمِعْتُ طَلْحَةَ [بن عبد الله]، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قُلْتُ: يَا
رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّ لِي جَارَيْنِ، فَإِلَى أَيِّهِمَا أُهْدِي؟ قَالَ: «إِلَى
أَقْرَبِهِمَا مِنْكِ بابا»
Telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Minhal, telah
menceritakan kepada kami Syu'bah, iaberkata, telah mengabarkan kepadaku Abu
'Imran, ia berkata, Aku mendengar Thalhah dari Aisyah, ia berkata, Aku pernah
bertanya, "Wahai Rasulullah, aku memiliki dua tetangga, manakah yang lebih
dahulu kuberikan hadiah?" Beliau menjawab, "Yang lebih dekat dengan
pintu rumahmu."
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Semangat Aisyah radhiyallahu 'anha menuntut ilmu dan
beramal.
Lihat: Sifat mulia ‘Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
2.
Tetangga yang lebih utama untuk diperlakukan baik:
a.
Yang terdekat dengan pintu rumah.
b.
Kerabat (ada hubungan keluarga).
Dari Salman bin 'Amir radhiyallahu 'anhu;
Rasulullah ﷺ bersabda:
«الصَّدَقَةُ
عَلَى الْمِسْكِينِ صَدَقَةٌ، وَالصَّدَقَةُ عَلَى ذِي الرَّحِمِ اثْنَتَانِ:
صَدَقَةٌ، وَصِلَةٌ» [مسند
أحمد: صحيح]
"Bersedekah kepada fakir miskin mendapat pahala sedekah,
dan bersedekah kepada kerabat mendapat dua pahala: Pahala sedekah dan pahala
silaturahmi". [Musnad Ahmad: Sahih]
Lihat: Silaturahmi
c.
Seiman.
Dari Abu Sa'id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu;
Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَا
تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ» [سنن أبي داود: حسنه الألباني]
"Janganlah engaku berteman kecuali dengan sorang yang
beriman, dan janganlah ada yang memakan makananmu kecuali orang yang
bertakwa". [Sunan Abi Daud: Hasan]
Lihat: Adab menerima tamu dalam Islam
d.
Yang lebih membutuhkan.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu;
Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَا
آمَنَ بِي مَنْ بَاتَ شَبْعَانًا وَجَارُهُ جَائِعٌ إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ
يَعْلَمُ بِهِ» [المعجم
الكبير للطبراني: حسن لغيره]
"Tidak beriman kepadaku (dengan keimanan yang sempurna)
orang yang tidur di malam hari sedangkan tetangganya kelaparang di sampingnya
dan ia tahu hal tersebut". [Al-Mu'jamul Kabiir karya Ath-Thabaraniy:
Hasan]
Wallahu a'lam!
Lihat juga: Kitab Adab bab 27; Menyayangi manusia dan hewan





