Kamis, 14 Juni 2012

Najis Anjing


Hadits yang memerintahkan mencuci jilatan anjing.

1.       Diriwayatkan oleh Al-A'raj dari Abu Hurairah; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«إِذَا شَرِبَ الكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعًا» [صحيح البخاري (1/ 45)]
"Jika anjing minum pada bejana kalian maka cucilah sebanyak tujuh kali". [Sahih Bukhari]

2.       Ali bin Mushir meriwayatkan dari Al-A'masy dari Abu Razin dan Abu Shalih dari Abu Hurairah; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيُرِقْهُ ثُمَّ لِيَغْسِلْهُ سَبْعَ مِرَارٍ» [صحيح مسلم (1/ 234)]
"Jika anjing menjilat pada bejana kalian maka buanglah isinya kemudian cuci bejananya sebanyak tujuh kali". [Sahih Muslim]

Sebagian ulama menghukumi tambahan kalimat "فليرقه" lemah (syadz), karena selain Ali bin Mushir tidak ada yang menyebutkan tambahan tersebut. [Lihta "Fathul Bariy" karya Ibnu Hajar 1/275]
Tapi ulama lain mengatakan bahwa tambahan tersebut sahih, kerena Ali seorang yang tsiqah tambahan haditsnya diterimah (ziyadah tsiqah), dan tambahan tersebut tidak bertentangan dengan riwayat yang tidak menambah karena perintah mencuci telah mengandung isyarat perintah membuang isinya karena bernajis. [Lihat "Al-Badr Al-Munir" karya Ibnu Al-Mulaqqin 1/545]

3.       Diriwayatkan oleh Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ، أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ» [صحيح مسلم (1/ 234)]
"Sucikanlah bejana kalian jika dijilat oleh anjing dan cucilah sebanyak tujuh kali diawali dengan tanah". [Sahih Muslim]

4.       Ibnu Al-Mugaffal berkata: Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh anjing, kemudian Rasulullah bersabda: "Ada apa dengan mereka dan anjing?" Kemudian Rasulullah memberi keringanan untuk memelihara anjing pemburu dan penjaga ternak, dan bersabda:
«إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي الْإِنَاءِ فَاغْسِلُوهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، وَعَفِّرُوهُ الثَّامِنَةَ فِي التُّرَابِ» [صحيح مسلم (1/ 235)]
"Jika anjing menjilat pada bejana maka cucilah sebanyak tujuh kali dan campurkan cucian ke delapan dengan tanah". [Sahih Muslim]

Al-Malikiyah menganggap bahwa anjing secara keseluruhan bukan najis, diantara argumennya:
1.       Allah subhanahu wata'ala menghalalkan buruan anjing dan tidak memerintahkan mencuci gigitannya. [Surah Al-Maidah:4]
2.       Demikian pula dibolehkan memelihata anjing pemburu, penjaga ternak dan kebun.
3.       Adapun hadits perintah mencuci bekas jilatannya, maka itu adalah perintah sebatas ibadah bukan karena najis.
4.       Ibnu Umar berkata: Dulu anjing kencing dan keluar masuk mesjid di masa Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam dan tidak memerintahkan untuk memercikkannya dengan air. [Sahih Bukhari]
Sedangkan Jumhur Ulama mengatakan bahwa air liur anjing adalah najis, dan membantah argumen al-malikiyah:
1.       Allah menghalalkan buruan anjing dan dibolehkan pelihara anjing pemburu, penjaga ternak dan kebun, bukan berarti gigitannya tidak najis karena hukum kenajisannya diambil dari dalil lain seperti hadits Abu Hurairah dan Ibnu Al-Mugaffal.
2.       Perintah mensucikan bekas jilatan anjing dan membuang isinya menunjukkan kalau jilatan anjing itu najis, seandainya tidak maka tidak perlu dibuang isinya karena itu sama saja menghamburkan harta.
3.       Hadits Ibnu Umar terjadi sebelum tutun perintah membersihkan mesjid dari kotoran.
[Lihat Nail Al-Authar karya Asy-Syaukaniy 1/107, dan Subul As-Salam karya Ash-Shan'aniy 1/32]

Berapa kali dicuci?

Pendapat Al-Hanafiyah: Cukup tiga kali. Diantara dalilnya:
1)      Abu Hurairah berkata: Jika anjing menjilat pada bejana maka buanglah isinya kemudian cuci tiga kali. [Sunan Ad-Daruquthniy 1/109]
2)      Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthniy dalam kitabnya As-Sunan 1/108:
عن عبد الوهاب بن الضحاك , نا إسماعيل بن عياش , عن هشام بن عروة , عن أبي الزناد , عن الأعرج , عن أبي هريرة , عن النبي صلى الله عليه وسلم «في الكلب يلغ في الإناء أنه يغسله ثلاثا أو خمسا أو سبعا».
Dari Abu Hurairah; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang anjing yang menjilat dalam bejana bahwasanya dicuci tiga atau lima atau tujuh kali.
Al-Hanafiyah mengatakan: Pendapat Abu Hurairah menjelaskan hadits yang ia riwayatkan dari Rasulullah yang menunjukkan bahwa tiga kali cucian sudah cukup untuk membersihkan najis anjing.

Pendapat Al-Hanafiyah dibantah oleh Jumhur, diantaranya:
1)      Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sangat lemah. Ad-Daruquthniy berkata: Abdul Wahab seorang yang ditolak haditsnya; dan ia sendiri meriwayatkannya dari Isma'il. Sedangkan yang lainnya meriwayatkannya dari Isma'il dengan lafadz: «فاغسلوه سبعا» "maka cucilah tujuh kali" dan ini yang benar.
2)      Abu Hurairah juga pernah berfatwa mewajibkan pencucian tujuh kali, dan ini yang lebih kuat karena sesuai dengan hadits yang sahih.
Pendapat Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah, Al-Hanabilh, dan Adz-Dzahiriyah: Harus dicuci tujuh kali. Diantara dalilnya:
Hadits Abu Hurairah yang memerintahkan pencucuian sebanyak tujuh kali lebih kuat dan didukung oleh riwayat Ibnu Al-Mugaffal.

Adapun riwayat Ibnu Al-Mugaffal yang menyebutkan delapan pencucian tidak bertentangan dengan riwayat Abu Hurairah, karena cucian yang kedelapan adalah sebagai tambahan.
Dan sebagian ulama mengatakan bahwa riwayat pencucian yang kedelapan menjadikan tanah sebagai satu cucian tersendiri (7 air + 1 tanah), sedangkan riwayat yang tujuh tidak menghitungnya sebagai satu cucian (7 air diawali dengan tanah atau cucian pertama dicampur dengan tanah).

Pendapat kedokteran: Bakteri pada anjing tidak bersih jika tidak dicuci sebanyak tujuh kali.

Haruskah pakai tanah?

Pendapat Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah: Tidak perlu pakai tanah.
Al-Hanafiyah mengatakan: Najis anjing sama dengan najis lainnya.
Al-Malikiyah mengatakan: Hadits Abu Hurairah diriwayatkan oleh Imam Malik tidak menyebutkan pencucian dengan tanah.

Pendapat Asy-Syafi'iyah, Al-Hanabilh, dan Adz-Dzahiriyah: Harus pakai tanah, namum mereka berselisih waktu pencucian tanah.

Asy-Syafi'iyah berpendapat: Di awal pencucian pakai tanah, atau pada salah satu dari yang tujuh dan tidak wajib di awal sebagaimana dalam salah satu riwayat "إحداهن بالتراب" (salah satunya dengan tanah).

Al-Hanabilah berpendapat: Tujuh kali pencucian salah satunya pakai tanah, atau delapan kali salah satunya pakai tanah.
Ibnu Qudamah (620H) mengatakan: Madzhab Al-Hanabilah tidak berselisih bahwa wajib dicuci najis anjing tujuh kali salah satunya dengan tanah, ... dan riwayat lain dari Imam Ahmad bahwa wajib dicuci delapan kali salah satunya dengan tanah, akan tetapi riwayat yang pertama (tujuh kali) lebih kuat. ... Dan disunnahkan pemakaian tanah pada cucian pertama karena sesuai dengan lafadz hadits. [Al-Mugniy 1/74]

Adz-Dzahiriyah berpendapat: Tujuh kali pencucian dan harus diawali dengan tanah. Argumennya:
1)      Riwayat yang menyebutkan pencucian tanah lebih diutamakan dari pada riwayat yang tidak menyebutkan.
2)      Riwayat "أولاهن بالتراب" (diawali dengan tanah) lebih kuat daripada riwayat "إحداهن".
3)      Perintah Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallakm memakai tanah di awal pencucian menunjukkan kewajiban.
4)      Mengawali pencucian dengan tanah lebih bersih.
Pendapat kedokteran: Kuman pada air liur anjing tidak dapat hilang kecuali dengan tanah.

Bolehkah tanah diganti dengan pembersih lainnya?

Asy-Syafi'iyah punya empat pendapat: 1. Tidak boleh selain tanah, 2. Boleh, 3. Boleh kalau tidak ada tanah, 4. Boleh kalau tanah akan merusak seperti pakaian. [Lihat Al-Majmu' karya An-Nawawiy 2/583]

Al-Hanabilh ada dua pendapat: 1. Boleh selain tanah, 2. Tidak boleh. [Lihat Al-Mugniy karya Ibnu Qudamah 1/74]

Pendapat Adz-Dzahiriyah: Tidak boleh sama sekali.
Ibnu Hazm (456H) mengatakan: Tidak boleh mengganti tanah dengan pembersih lainnya, karena itu melanggar perintah Rasulullah sallalllahu 'alaihi wasallam. [Al-Muhallaa 1/111]

Ulama yang merajihkan "tidak boleh", diantaranya: Zainuddin Al-'Iraqy (806H) dalam kitabnya "Tharh At-Tatsriib" 2/122, dan Ibnu Daqiiq Al-'Id (702H) dalam kitabnya "Ihkaam Al-Ahkaam" 1/26.

Pendapat kedokteran: Bakteri pada anjing tidak dapat hilang kecuali dengan tanah.

Haruskah dibuang semua bekas jilatan atau gigitan anjing?

Pendapat Al-Hanafiyah: Jilatan anjing pada air atau cairan lain menjadikan cairan tersebut najis, maka harus dibuang.
Az-Zaila'iy (743H) mengatakan: Sisa minum anjing adalah najis, ... dan perintah membuangnya sebagai kenajisannya. [Tabyiin Al-Haqaaiq 1/32]

Pendapat Al-Malikiyah: Sisa jilatan ajing pada air sebaiknya dibuang tapi tidak najis dan hukumnya makruh digunakan jika ada air lain. Sedangkan jilatan pada cairan selain air atau pada makanan tidak wajib dibuang.
Ibnu Abdil Bar (463H) mengatakan: Tidak perlu dibuang sesuatu yang dijilat oleh anjing selain air karena harganya yang ringan, dan orang yang berwudhu dengan air sisa jilatan anjing jika tidak ada air lain hukumnya sah (karena air itu suci) dan tidak boleh tayammum jika ada air sekalipun sudah dijilat oleh anjing. [Al-Istidzkar 1/206]

Asy-Syafi'iyah punya dua pendapat: 1. Sebagian berpendapat: Wajib dibuang karena bernajis dan haram digunakan. 2. Jumhur Asy-Syafi'iyah berpendapat: Tidak wajib dibuang tapi dianjurkan dan tidak haram digunakan. [Lihat "Al-Haawiy fii fiqh Asy-Syaafi'iy" karya Al-Mawardiy 1/306]
Ibnu Hajar (852H) mengatakan: Perkataan Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam "فليرقه" (buang isinya) menguatkan pendapat yang mengtakan bahwa perintah mencuci karena bejanahnya bernajis, karena istilah "al-miraaq" (membuang) sifatnya umum baik itu air atau makanan, maka jika seandainya sisa jilatan itu suci maka tidak mungkin diperintahkan untuk dibuang karena ada larangan menghamburkan harta. [Fathul Bariy 1/275]
Imam An-Nawawiy (676H) berkata: Jika anjing menjilat suatu makanan yang padat (bukan cairan), maka bagian jilatan dan sekitarnya dibuang, sedangkang sisanya tetap suci dan bisa dimanfaatkan sebagaimana jika tikus mati pada minyak beku dan semisalnya. [Al-majmu' 2/587]

Pendapat Al-Hanabilah: Harus dibuang.
Ibnu Qudamah berkata: Seandainya sisa minum anjing itu suci maka tidak boleh dibuang dan tidak wajib dicuci. [Al-Mugniy 1/70]

Pendapat Adz-Dzahiriyah: Jika anjing menjilat pada cairan apapun maka wajib dibuang sebagaimana teks hadits, adapun gigitannya pada makanan maka tidak wajib dibuang dan tempatnya tidak wajib dicuci tujuh kali, dan air yang dipakai mencuci tempat yang sudah dijilat tetap suci karena tidak ada dalil yang memerintahkannya.
Ibnu Hazm mengatakan: Wajib membuang sisa cairan dalam bejana yang dijilat anjing, ... dan air yang dipakai mencuci bejana tersebut tetap suci dan halal. [Al-Muhalla 1/109]

Pendapat kedokteran: Kuman yang ada pada sisa jilatan anjing sangat berbahaya, dapat menyebar dengan cepat, dan bisa menimbulkan penyakit. Olehnya itu sisa makanan atau minuman ajing secara umum harus dibuang untuk lebih hati-hati.

Apakah seluruh anggota badan anjing sama hukumnya dengan lidah dan liurnya?

Pendapat Al-Malikiyah dan Adz-Dzahiriyah: Hukum ini hanya khusus pada jilatan anjing saja sedangkan anggota tubuhnya yang lain adalah suci, karena teks hadits hanya pada jilatan.
Al-Qarrafiy (684H) mengatakan: Hukum ini khusus pada jilatan anjing, kalau ia memasukkan tangannya atau kakinya maka hal itu tidak berpengaruh. [Adz-Dzakhirah 1/182]
Ibnu Hazm berkata: Jika anjing makan pada suatu bejana tampa menjilat atau ia memasukkan kakinya atau ekornya atau semua badannya maka tidak wajib dicuci dan dibuang isinya karena tetap halal seperti semula, demikian pula jika anjing menjilat pada tanah atau tangan manusia, atau apa saja selain bejana maka tidak wajib dicuci dan dibuang isinya karena al-wuluug (menjilat) hanya khusus ketika minum saja. [Al-Muhalla 1/109]

Sebagian Adz-Dzahiriyah juga menganggap bahwa kotoran dan kencing anjing hukumnya sama dengan najis biasa. Syekh Ibnu Utsaimin menganggap bahwa pendapat ini kuat jika memang terbukti secara kedokteran bahwa kuman pada lidah dan liur anjing tidak ada pada kotoran dan kencingnya. [Syarh Al-Mumti' 1/290]

Asy-Syafi'iayah ada dua pendapat:
Imam An-Nawawiy mengatakan: Ulama mazhab kita mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara jilatan anjing dengan anggota badannya yang lain, maka jika kencing, kotoran, darah, keringat, rambut, liur, atau anggota badannya mengenai suatu yang suci dan salah satunya ada yang basah maka wajib dicuci tujuh kali salah satunya dengan tanah.
Ada juga yang berpendapata bahwa selain jilatannya maka cukup dicuci sekali seperti najis lainnya. Dan ini adalah pendapat yang bisa benar dan kuat dari segi dalil karena perintah mencuci tujuh kali hanya untuk menjauhkan orang agar tidak makan bersama anjing dan alasan ini tidak ada pada selain jilatan.
Akan tetapi yang masyhur dalam mazhab As-Syafi'iy bahwa semuanya wajib dicuci tujuh kali bersama tanah sebagaimana yang diputuskan oleh jumhur karena lebih kuat untuk mencegah orang mendekati dan memelihara anjing. [Al-majmu' 2/586]

Dari Maemunah; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam mendapati anak anjing dibawah tiang rumahnya, kemudian Rasulullah memerintahkan untuk mengeluarkannya dari rumah, dan mengambil air dengan tangannya kemudian memercikkannya pada bekas tempat anjing tersebut. [Sahih Muslim]
Hadits ini dijadikan dalil bahwa semua badan anjing adalah najis karena Rasulullah mencuci bekas anjing tersebut. Sedangkan Al-Malikiyah menganggap bahwa Rasulullah memercikkan air bukan karena anjing najis, tapi karena kahwatir ada kencing atau kotorannya. [Lihat Syar Sahih Muslim karya An-Nawawiy 7/342]

Hadits ini juga menunjukkan bahwa badan anjing sama hukumnya dengan najis lain, tidak dicuci tujuh kali.

Pendapat kedokteran: Kuman pada mulut anjing juga terdapat pada anggota tubuhnya yang lain.

Wallahu a'lam bissawab!

Referensi:
بحوث المؤتمر العالمي السابع للإعجاز العلمي في القرآن والسنة ج3 ، ولوغ الكلب بين استنباطات الفقهاء واكتشافات الأطباء المؤلف: أ. نجيب بوحنيك ، و أ. سلاف لقيقط

Lihat juga: Menyentuh Kemaluan; Apakah Membatalkan Wudhu?
                   Makanan dan minuman
                   Kewajiban Salat Jama'ah

54 komentar:

  1. Habibi Ihsan Al-Martapury18 April 2013 16.58

    Ustadz,ana pernah terbaca pendapatnya Ustadz A.Qadir Hasan,tokoh Persis,beliau mengatakan bahwa yg wajib di basuh ketika Al-wulugh yaitu meminum air di sebuah wadah saja.Adapun jika dia menjilat pakaian atau benda2 lainnnya maka tidak wajib di basuh,ternyata ini pendapat Imam Ibnu Hazm,sebagaimana barusan ana baca di atas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, krn Ibnu Hazm rahimahullah tdk menerima qiyas sebagai hujjah.
      Adapun mazhab Malikiy menganggap bahwa perintah mencuci jilatan anjing adalah perintah ta'abbudiy yg tidak memiliki illah (alasan) yg bisa diqiyaskan ke anggota tubuh anjing lainnya.

      Sedangkan mazhab Syafi'iy dan Hanbaliy mengatakan 'illah perintah tersebut adalah karena liur anjing adalah najis (kotor dan berbahaya), dan ini dibuktikan oleh penemuan ilmiyah saat ini.

      Wallahu a'lam!

      Hapus
  2. Assalamualaikum ustad,saya sering was2 terhadap anjing,ada tetangga yg memelihara anjing yg kadang2 lewat depan rumah,mgkin saya terlalu khawatir jd kepikiran terus kalau2 terkena najis. Apabila ada air di depan rumah saya khawatir itu air liurnya,selang air dan bungkus makanan di depan rumah saya khawatir dijilat anjing. Apalagi akhir2 ini saya menyapu halaman ada kotoran hewan tp ga tau itu kotoran apa dan saya khawatir itu kotoran anjing jd khawatir sapu dan kaki saya kena najis dan parahnya lagi pengasuh keponakan saya lewat dia pake rok panjang,dia masuk rumah dan saya khawatir apabila dia terkena najis dari kotoran itu dan menyebar ke lantai rumah,selama ini lantainya hanya disapu saja,saya berpikiran bahwa di rumah terkena najis semua. Saya juga cari2 artikel tentang masalah ini,apakah saya terkena najis dari semua itu,saya selalu was-was dan khawatir,ada artikel yg saya baca kalau was-was itu datangnya dari setan tp tetap saya masih khawatir. Bagaimana saya menghadapinya ya ustad,mohon pencerahannya. Maaf pertanyaannya muter2,mohon dibalas ya ustad,terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam wa rahmatullahi wa barakaatuh

      Iya, ini memang perasaan was-was yg berlebihan datangnya dari setan untuk menyakiti umat Islam, jadi tdk perlu dihiraukan.
      Maka kalau tdk ada yg menyaksikan langsung najis anjingnya, atau tdk ada bukti kuat maka segala sesuatunya adalah suci.

      Dan tdk ada salahnya untuk sering membersihkan rumah dan pekarangannya, disirami air selama tdk memberatkan.

      Adapun pakaian wanita yg panjang sebagaimana yg disyari'atakan, maka Ummu Salamah radhiyallahu 'anha pernah ditanya oleh seorang wanita: Sesungguhnya aku memanjangkan pakaian, dan aku berjalan melalui tempat yg bernajis?
      Ummu Salamah menjawab: Rasulullah pernah bersabda:
      «يُطَهِّرُهُ مَا بَعْدَهُ»
      "Najis tersebut disucikan oleh apa yg dilalui setelahnya" [Sunan Abu Daud: Sahih]

      Wallahu a'lam!

      Hapus
    2. Asalamualaikum ustaz.. Sye dari malaysia.. Sye harap ustaz dalam keadaan sihat dan sejahtera.. Sye ade satu soalan.. Sye ade terpijak satu benda.. Ianya berwarna kelabu.. Sye takut ianya ialah najis anjing.. Kerana najis anjing warna kelabu.. Benda tersebut kering.. Sye pijaknya tanpa menggunakan selipar kerana benda tersebut berada di atas tangga rumah sye.. Sye x pasti sme ade benda itu melekat atau tidak pada tangga rumah sye..semasa sye pijak..ianya menjadi debu dan bercampur dengan pasir..ia melekat pada kaki sye dalam keadaan kering dan berdebu.. sye pun membasuh kaki sye di bilik mandi..dan berjalan dalam rumah dlm keadaan kaki yg basah..Benda tersebut kecil sahaja.. Sebesar jari kuku tengah..sye tak pasti bentuk asal benda itu kerana sye pijak tanpa melihatnya tapi sye yakin benda itu kecil..tapi mengikut ingatan sye..ia berbentuk seperti najis yg pecah..tidak sebesar najis anjing.. Sye pun mengambil sedikit benda tersebut dan menghidunya.. Ternyata ia memiliki bau tapi bukan bau busuk seperti najis.. Sye takut ianya najis anjing yang sudah hilang baunya.. Soalan sye.. Adakah benda tersebut najis? Apa perlu sye buat? Bagaimana status diri sye adakah suci atau najis? Adakah semasa sye membasuh kaki sye dan berjalan di dalam rumah dalam keadaan kaki basah telah menajisi lantai rumah?

      Satu lagi.. Sye memiliki was was tentang najis.. Dan sekarang ini sye rasa amat sukar untuk beribadah kerana najis.. Sye rse mcm diri ini bernajis.. Sye nak sangat beribadah kepada allah swt.. Sye selalu menangis kalau memikirkan perkara ini.. Sekarang ini sye rasa najis ini sebagai beban yg amat besar bagi sye.. Sye dah baca banyak artikel tentang najis tetapi ianya tidak merubah sikap was2 sye.. Bolehkah ustaz membantu sye?

      Hapus
    3. 1. Suatu yg tidak pasti (ragu) tidak bisa dijadikan hujjah dalam hukum Islam. Jadi kalau tidak yakin dengan benda yg anti injak itu, najis kah atau bukan maka itu adalah bukan najis (suci) sampai anti betul-betul yakin (pasti) kalau itu najis.
      2. Kalau anti yakin benda itu najis dan sudah kering, apabila kaki anti waktu itu juga kering maka kaki anti tidak bernajis, tapi jika kaki anti basah maka kaki anti sudah terkena najis.
      Imam Nawawiy rahimahullah berkata:
      إِذَا أَصَابَ بَوْلُهُ أَوْ رَوْثُهُ أَوْ دَمُهُ أَوْ عَرَقُهُ أَوْ شَعْرُهُ أَوْ لُعَابُهُ أَوْ عُضْوٌ مِنْ أَعْضَائِهِ شَيْئًا طَاهِرًا فِي حَالِ رُطُوبَةِ أَحَدِهِمَا وَجَبَ غَسْلُهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ إِحْدَاهُنَّ بِالتُّرَابِ
      "Jika kencing atau tahi atau darah atau keringat atau rambut atau ludah atau anggota badan anjing mengenai sesuatu yg suci dalam kondisi salah satu dari keduanya basah, maka wajib mencucinya 7 kali salah satunya dgn tanah". [Syarah Shahjh Muslim 3/185]
      3. Hukum Islam itu memudahkan bukan menyusahkan, maka perasaan ragu (was-was) yang berlebihan sampai membuat anti tersiksa bukanlah dari Islam tapi dari Syaitan yg suka mengganggu manusia. Jangan menuruti perasaan ini, kalau dibiarkan akan membuat seseorg putus asah dan bisa meninggalkan Islam, na'udzubillah min dzalik.
      4. Untuk menghilangkan was-was, boleh lakukan amalan ini:
      a) Perbanyak dzikir kpd Allah yg Maha Pemurah Penyayang pada hamba-hamba-Nya.
      b. Sering baca surah Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas.
      c. Sering baca Al-Qur'an.
      d. Banyak beribadah.
      e. Belajar langsung dengan ulama, duduk dalam majelis ilmu.
      f. Berdo'a.
      Semoga Allah yang Maha Kuasa senantiasa melindungi kita dan menjauhkan kita dari godaan Syaithan. Amiin!

      Wallahu a'lam .

      Hapus
  3. Assalamualaikum
    saya mau tanya kebetulan tetangga saya pelihara anjing dan kadang2 lepas ke halaman rumah saya,suatu hari anjing itu lepas dan menginjak piring plastik di halaman rumah saya setelah beberapa minggu saya mengambil piring itu saya lupa kalau sudah diinjak anjing lalu saya cari diinternet dan tanya2 itu gak apa2 soalnya liurnya saja yg najis.tp saya masih ragu takut najisnya msh ada dan kalau msh ada saya takut najisnya tersebar anggota tubuh saya yg lain dan barang2 dirumah jd harus gimana?
    dan biasanya halaman rumah saya dibersihkan dgn hanya di pel apa itu tidak apa2?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam wa rahmatullahi wa barakaatuh

      Dari Maemunah -radhiyallahu 'anha-; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam mendapati anak anjing di bawah tiang rumahnya, kemudian Rasulullah memerintahkan untuk mengeluarkannya dari rumah, dan mengambil air dengan tangannya kemudian memercikkannya pada bekas tempat anjing tersebut. [Sahih Muslim]

      Hadits ini dijadikan dalil bahwa semua badan anjing adalah najis karena Rasulullah mencuci bekas anjing tersebut.
      Sedangkan Al-Malikiyah menganggap bahwa Rasulullah memercikkan air bukan karena anjing najis, tapi karena kahwatir ada kencing atau kotorannya. [Lihat Syar Sahih Muslim karya An-Nawawiy 7/342]

      Hadits ini juga menunjukkan bahwa badan anjing sama hukumnya dengan najis lain, tidak mesti dicuci tujuh kali.

      wallahu a'alm!

      Hapus
  4. Assalamualaikum. Pak ustadz saya mau tanya untuk lebih meyakinkan saya. Saya baru pindah kontrakan, penghuni sebelumnya adalah non muslim dan memelihara anjing. Apakah saya saya harus mensucikan dengan tanah atau bisa dengan pembersih yang ada saat ini? Karena saya masih was-was. Dan apakah temboknya perlu saya cat lagi? Mohon jawabannya pak ustadz. Terimakasih. Wassalamu'alaikum

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam
      Cukup dicuci dgn pembersih biasa, kecuali jika bekas najisnya masih ada maka harus dicuci dengan tanah. Dan temboknya tdk perlu dicat ulang.
      Wallahu a'lam!

      Hapus
  5. Assalamualaikum. Pak ustadz saya mau tanya. Kejadiannya sudah lama, dan usia saya waktu itu masih anak-anak. saya baru ingat, waktu itu saya berkunjung ke rumah orang yang memelihara anjing. di halaman rumahnya terdapat wadah air. lalu saya mencelupkan tangan saya kedalam air di wadah tersebut. dan ternyata, saya diberi tahu bahwa wadah itu tempat minum anjing dari pemilik rumah. saya sebelumnya tidak tahu, karena memang tidak pernah melihat ada anjing yang minum di wadah tersebut. lalu, apakah tangan saya menjadi najis? lalu anggota tubuh lain yg kena cipratan air tersebut juga menjadi najis dan harus dicuci 7 kali salah satunya dengan tanah? Sampai sekarang kadang saya masih was-was. Takut sholat saya tidak sah. Mohon jawabannya pak ustadz. Terimakasih. Wassalamu'alaikum

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam wa rahmatullahi wa barakaatuh

      Air yg telah dijilat anjing hukumnya najis, jika terkena air tersebut maka cukup dicuci seperti najis biasa.

      Dan karena kejadiannya sudah lama maka hukumnya sudah suci dan tdk perlu ada perasaan was-was lagi karena perasaan was-was yg berlebihan datangnya dari setan untuk mengganggu org yang beriman.

      Wallahu a'lam!

      Hapus
  6. salam ustadz..saya dari malaysia,saya mau tanya,saya kerja di sebuah sekolah.suatu hari saya ada nampak setompok semacam tahi anjing lalu saya memberitahu itu ke pekerja cuci kawasan sekolah lalu dia terus menyapu tahi itu dan memasukkan kedalam sekop dan membuang ke dalam selokan.selepas itu,dia menggunakan penyapu yang sama untuk menyapu bahagian luar sekolah yang lain sepeti koridor,badminton court dan semen luar tanpa samak penyapu itu terlebih dahulu.saya tanya mengapa tidak di samak dahulu? dia menjawab tidak apa, hanya guna di luar bukan di bilik belajar.saya jadi ragu-ragu ..persoalan saya:

    1) perlukah penyapu sama sekop itu di samak terlebih dahulu sebelum di gunakan untuk kawasan lain yakni seluruh kawasan luar sekolah?

    2) bila seluruh kawasan sekolah disapu dengan penyapu tanpa samak terlebih dahulu,apa hukum bila kita pijak kawasan sapuan itu..adakah juga kena samak sepatu/kaki(bila buka sepatu)?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakaatuh

      Dlm Shahih Bukhari no.168, Abdullah bin Umar -radhiyallahu 'anhuma- berkata:
      كَانَتْ الْكِلَابُ تَبُولُ وَتُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِي الْمَسْجِدِ فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ
      "Bahwasanya pada masa Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- ada anjing kencing dan keluar masuk masjid, namun para sahabat tidak menyiramnya dengan sesuatu."

      Dgn hadits ini sebagian ulama berpendapat bhw:
      1) Najis anjing tlh disucikan oleh tanah sekalipun tdk disirami air jika najisnya sdh hilang.
      4) Jika keberadaan suatu najis (seperti najis anjing) tidak diketahui secara pasti maka hukumnya dimaafkan.

      wallahu a'lam!

      Hapus
  7. Assalamualaikum. Saya waktu itu pernah main kerumah orang yang memelihara anjing. Apakah bagian tubuh saya yang terkena lantainya wajib dicuci 7 kali yang mana salah satunya dengan tanah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam
      Tidak perlu, kecuali jika yakin terkena sesuatu dari anjing tsb. wallahu a'lam!

      Hapus
  8. Assalamu'alaikum.. Saya ingin brtanya, sya bkerja d pabrik garmen yg ada anjingny. Suatu hr tanpa sengaja sya memegang kotoran anjing yg insya allah kering, krna saat sya lempar dia mental. Lalu sya mncuci tngan sya hanya dgn air. Kmudian sya lnjutkan pkerjaan sya dgn tangan basah, bbrp waktu kmudian timbul rasa was" seandainy kotoran anjing itu menempel d kuku sya bagaimna? Akhirny sya putuskan mncuci 7x diawali dgn tanah.. Tpi yg mnbuat sya gelisah, apakah benda" yg sya sentuh sblm mnsucikan ny ikut terkena najis? Sedangkan sya tdk tau pasti apakah kuku sya trkena kotoran anjing atau tdk? Mohon jawaban ny ustadz, terima kasih..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam
      Menyentuh kotoran anjing yg sudah kering dan tangan juga kering, tidak membuat tangan menjadi najis, adapun perasaan was-was ada yg melengket di kuku, maka perasaan tsb tdk perlu dipikirkan, krn hukum dilandasi dgn keyakinan atau dugaan kuat, wallahu a'lam!

      Hapus
  9. Assalamu'alaikum nak tanya uztaz, ape hukum bila kita memang tidak tahu ia najis anjing atau mungkin najis lain seperti kucing, ini kerana ia telah bercampur dengan tanah yang basah sehinggasukar untuk dikenal pasti najis ape..ini terjadi bila seseorang itu hendak meggunakan tanah dan tiba2 ade warna dan bau seperti najis semasa mengorek tanah itu... jika terkene tanah dan najis itu bercampur skali, bagaimana hukumnya cukup sekadar basuh seperti biasa atau perlu dengan tanah sekali kerana tidak tahu najis, muungkin hanya lumpur sebab warnanya seperti lumpur tetapi baunya kurang elok lalu dibuang..bagaimana untuk mengatasi sepenuhnya masalah ini .. terima kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jika yakin bhw itu najis dgn baunya maka cukup dicuci dgn air sampai bersih tdk perlu pakai tanah. Wallahu a'lam!

      Hapus
  10. Assalamu'alaikum ustadz saya punya masalah kan di masjid saya ada tempat pencucian kaki ukuranya ada sekitar 2 kulah lebih sedikit nah ketika air itu kurang dari dua kulah air itu di pakai di injak oleh orang yg di rumahnya pernah di tinggali oleh orang yg memelihara anjing. Saya takut rumah orang itu bak mandinya sudah menjadi najis mugholazhoh karena anjing itu saya takut badan dia yg mandi di bak mandinya menjadi najis lalu dia menginjak bak air pencucian di masjid yg ukuranya sedang kurang dari dua kulah airnya karena surut ..apakah saya harus mencuci tempat pencucian kaki di masjid saya dgn air dan tanah 7× atau cukup menambahkan air supaya bak tempat pencucian di masjid saya itu jadi 2 kulah kembali airnya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam warahmatullah
      1. Hukum islam dibangun atas dasar keyakinan bukan dgn suatu yang masih diragukan.
      2. Air tetap dihukumi suci kecuali jika bau, warna, atau rasanya telah berubah disebabkan oleh najis.
      Wallahu a'lam!

      Hapus
  11. Assalamu'alaykum ustad,

    Bagaimana jika sepatu terkena kotoran anjing yang lembab. Apakah ketika sepatu itu dipakai di jalan raya, tanah serta ain nya sudah hilang tetap harus dicuci dengan 7 kali basuhan? Lalu bagaimana jika sepatu tersebut dalam keadaan basah mengenai lantai rumah? Apakah lantainya juga harus dibasuh dengan tanah dan air? Mohon penjelasannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam!
      Jika sepatu terkena kotoran anjing yg lembab kemudian najis tsb sudah hilang setelah dipakai berjalan di tanah maka tdk perlu dicuci lagi.
      Dan jika sepatu tsb dlm keadaan basah mengenai lantai rumah, apabila terlihat bekas najis maka cukup dicuci dgn air, jiak tdk terlihat ada najis maka tdk perlu dicuci.
      Dari Abu Hurairah -radhiyallahu 'anhu-; Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda:
      «إِذَا وَطِئَ أَحَدُكُمْ بِنَعْلِهِ الْأَذَى، فَإِنَّ التُّرَابَ لَهُ طَهُورٌ»
      "Jika sandal seseorang dari kalian menginjak kotoran maka tanah yang ia lewati adalah penyuci baginya". [Sunan Abi Daud: Shahih]
      Wallahu a'lam!

      Hapus
  12. Assalamu'alaikum ustadz, saya ingin bertanya, seminggu yg lalu ketika saya akan pulang ke kostan, saya melihat anjing yang sedang berjalan dengan pemiliknya mengendus-ngendus jalanan di depan saya bbrp meter. Kemudian ketika saya melewati jalanan tersebut saya ragu dan ada satu saat dimana saya melihat kebawah, seperti ada bekas basah namun tidak menggenang,terinjak oleh saya. Jalanannya berupa semen dan bukan tanah. Itu bagaimana ya hukumnya? Saya ragu takutnya itu bekas dijilat anjing. Terimakasih ustadz

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua perasaan yang hanya dilandasi oleh keraguan (was-was) tidak bisa dijadikan landasan hukum, maka perasaan tersebut harus ditinggalkan dan diabaikan. Wallahu a'lam!

      Hapus
  13. assalamualaikum ustadz, saya pernah berdiri di depan anjing yg tertidur, saat itu saya pakai rok panjang.. lalu tiba2 ekor anjing itu dikibas2 nya.. saat itu saya mau kasih kopi ke teman saya yang ada di seberang anjing yg tidur itu, maka sayapun kasih kopi nya hanya di seberang nya saja.. tapi saya takut rok panjang yg saya kenakan malah kena kibasan ekor anjing itu, saya ragu ustad..bagaimana pendapat nya agar rasa ragu saya hilang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Perasaan ragu dan was-was yang berlebihan sumbernya dari bisikan setan, sering-seringlah membaca surah An-Naas, Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:
      قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ

      Hapus
  14. Assalamualaikum ustadz.. saya mau bertanya.. bagaimana jika kita tinggal di luar negeri ustadz..yang mayoritas non muslim. Kita tau bahwa mayoritas tetangga atau penduduk memelihara anjing didalam rumahnya, tidur bersama, memberi makan,bahkan berbagi makanan dengan anjingnya dan tentu saja karena aktivitas mereka yang sangat dekat dengan anjingnya itu, mereka juga sering sekali terkena liur daripada anjing.

    Otomatis mereka pun juga sudah membersihkannya, baik sengaja maupun tidak. Seperti aktivitas cuci tangan, mandi,gosok gigi dan lain sebagainya yang menjadikan najis anjing menjadi tidak tampak lagi.

    Yg ingin saya tanyakan, apakah bisa kita menghukumi tubuh/tangan tetangga kita tersebut najis? Dengan alasan tangan mereka memang telah bersih dari liur tetapi mereka tidak menggunakan tanah seperti syariat Islam.

    Dan kedua, bagaimanakah batasan bergaul dengan pemilik anjing yg seperti itu ustadz. Terimakasih .... saya sangat mengharap jawaban ustadz karena saya selalu was was ustadz

    BalasHapus
  15. Wa'alaikum salam warahmatullah

    Tubuh org kafir tidak dihukumi najis kecuali jika ada najis yang menempel pada tubuhnya yg terlihat jelas.

    Adapun sebatas prasangka krn hidup dengan anjing, maka prasangka tersebut tidak bisa diikuti.

    Kecuali untuk sikap kehati-hatian maka seseorang boleh menjauhi org kafir yg sangat dekat dengan anjing.

    Wallahu a'lam!

    BalasHapus
  16. Assalamualaikum wr.wb.

    Pak ustad.
    Saya mau bertanya tentang was was najis anjing.

    Saya pernah bertamu ke rumah orang.
    Pas bertamu ke2 kalinya kerumah tersebut, baru tau saya kalau dia memelihara anjing.

    Karena waktu itu saya melihat ke arah ruangan keluarga dia, ternyata ada anjing yg sedang berbaring di lantai.

    Pas saat saya mau pulang.
    Ternyata anjingnya sudah ada di teras.
    Pintu keluar cuman satu aja melewati teras tersebut.
    Karena terpaksa, saya menginjak lantai yg dilewati anjing tersebut.
    Lalu memakai sandal dan pulang.

    Waktu itu saya cari" diinternet.
    Dan katanya hanya perlu di cuci sekali dengan air.
    Karena badan anjing itu najisnya sama dengan najis biasa lainnya.

    Waktu itu saya cuci sekali saja.
    Tapi sejak beberapa waktu setelahnya.
    Saya selalu was was najis anjingnya.
    Karena setelah di cari lebih dalam di internet.
    Ternyata menurut 2 madzab.
    Anjing itu baik liur, mulut dan badan anjing semuanya termasuk najis berat.
    Dan harus dicuci 7x salah satunya dengan tanah.

    Pertanyaan saya.
    1. Apakah saya harus mencuci ulang 7x salah satu dengan tanah?

    2. Bagaimana dengan kamar mandi dan benda lainnya di rumah yg tersentuh oleh saya, apakah kena najis juga?
    Karena saya bersuci waktu itu cuman sekali, tidak 7x beserta tanah menurut madzab tersebut.

    3. Apakah seluruh keluarga saya termasuk orang tua saya juga kena najis berat dan harus bersuci 7x salah satunya dengan tanah, karena menggunakan kamar mandi yg saya pakai waktu itu saat bersuci hanya satu kali dengan air?

    4. Saya sekarang merasa was was dan bersalah, karena memegang tembok, pintu, mobil, motor dan benda" lainnya yg saya pegang kena najis berat anjing.
    Apakah saya harus mencucinya 7x dan salah satunya dengan tanah?
    Mengingat beberapa yg saya sentuh termasuk barang elektronik yg tidak boleh kena air dan tanah.
    Gimana saya mensucikannya?

    5. Dari 4 madzab yg saya ketahui.
    Tiap madzab berbeda" perlakuan terhadap najis anjing.
    Manakah yg saya harus ikuti?
    Karena salah satu madzab tersebut terlalu berat bagi saya.
    Karena juga pada jaman itu tidak sama dengan jaman sekarang yg ada barang" elektronik yg anti dengan air dan debu.
    Jikakalau benda" elektronik tersebut terkena najis berat.


    6. Saya juga mencari diinternet lagi.
    Katanya kalau salah satunya dari lantai atau kaki saya tidak lembab atau basah.
    Maka tidak terkena najisnya.
    Tapi saya tidak ingat dan tidak yakin kalau salah satunya lembab atau basah.
    Apakah saya harus bersuci atau tidak?


    Terima kasih pak ustad.
    Sampai sekarang saya masih bimbang.
    Bersuci satu kali dengan air cukupkah.
    Atau harus 7x dan salah satunya dengan tanah.
    Mana yg baik menurut kondisi saya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Assalamualaikum ustaz ,apa hukum anjing berjalan di atas gelanggan futsal dalam keadaan basah dan ade kesan tapak kaki
      Dan di tepi gelanggan ade kelompok air dan anjing berbermain di situ pastu anjing itu berjalan ats gelanggan futsal apa hukum dia ustaz

      Hapus
  17. ustadz saya mau tanya jika saya menyapu kotoran anjing dengan sapu lidi dan sapu tersebut hanya saya gosokkan dengan tanah dan saya cuci dengan air tnpa 7x cucian.apakah sah? dan sblm saya cuci sapu tsb saya letakkan di lantai...saya mnyadariny stlh 2 minggu kejadian baru lantainya saya guyur dengan air saja tnpa tanah..apa lantai tsb msih najis ustadz? dan bagaimana jika ibu saya sering lalu lalang tnpa mnggunkan alas kaki? apa najisny berpindah? mskipun najiany sdh tdk trlihat?

    BalasHapus
  18. AssAssalamulaikum, ustad,sya mau bertanya, dilingkungan rmah sya bnyak skali anjing berkeliaran, suatu hri saya melihat anjing manjat dan mengais ngais di tong sampah saya,yg mau sya tanya kan, apakah tong sampah itu menjadi najism mengingat tdk tau apakah ada air liurny,
    Yg kedua, pakaian sya menyentuh tong sampah trsebut, apakah pkaian sya jg menjdi najis, trmksh ustad unt jwbanny, assassalamualaikum wr wb

    BalasHapus
  19. Assalamualaikum ust saya nanyak, kan waktu itu saya lagi jalan saya menginjak sesuatu yang sudah melebur jadi kecil,saya was was apa itu kotoran anjing atau bukan saya coba cium gak ada bau saya basuh dengan air saya pencet agak sulit lebur jadi saya berpendapat itu bukan kotoran anjing . Tapi setelah beberapa bulan saya lagi pikirin masalah itu saya was was lagi jadi mohon pencerahannya ust wassalamu'alaikum warahmatullahi wb

    BalasHapus
  20. Asalamualaikum ustadz saya ingin bertanya

    Waktu saya pergi ke petshop ada seekor anjing bersin dan cipratan nya mengenai muka saya dan saya waktu itu hanya mengelapnya dengan bju saya dan juga kalau tidak salah anjing itu bersin lagj dan saya merasa terkena lg cipratannya ketangan saya dan akhirnta saya pun mengelapnya dicelana saya, setelah pulang saya pun memegang hp saya dan disitu tangan saya lembab, kemudian saya mandi hanya menggunakan sabun tanpa tanah saya berfikir pakai sabun bisa menghilangkan najis yg ada dibadan saya dan bsknya baru saya cuci dengan tanah

    Pertanyaan saya:
    1.Saat saya memegang hp itu lagi dan tangan saya lembab apakah saya terkena najis lagi?karena sehabis itu saya pun sadar dan hanya mengelapnya dengan tisu basah baik hp tersebut maupun tangan saya, dan jika saya masih bernajis ketika saya memegang benda disekeliling saya dengan tangan basah akan terkena najis dan orang orang disekitar saya?

    Dan sampai sekarang saya tdak bisa salat karena najis ini, tolong seklai penjelasannya sangan sangat butuh

    BalasHapus
  21. Aslamualaikum ustad ,
    Saya mau tanya di lingkungan rumah saya terkadang ada anjing yg berkeluyuran yg lewat2 terus pel saya jatuh , terus saya buat ngepel rumah , tapi saya tak tau pel saya kenal kencing anjing atau tidak , saya hanya was was takut pel saya di kencingin anjing ,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh
      Perasaan was-was datangnya dari setan, jangan dihiraukan. Wallahu a’lam!

      Hapus
  22. Assalamualaikum ustadz,
    Saya mau tanya dulu saat saya masih kecil kaki saya pernah di jilat anjing saat beli sesuatu saya kaget,setelah itu saya cuci dengan sabun batang untuk mandi beberapa kali tapi saya gak tau apakah saat itu udah pakai tanah apa tidak ,dan apakah sabun dan tempat sabunya ikut terkena najis mugoladoh apa tidak ,kejadian itu sudah lama saya was2 jika di seluruh tubuh saya dari ujung rambut sampai ujung kaki masih ada najis mugoladoh nya ,karena hal sabun batangnya dan tempatnya yang saya gunakan untuk mandi terkena najis mugoladoh karena saat pencucian saat itu sabunya saya sentuh beberapa kali,gimana ustadz penjelasannya

    BalasHapus
  23. Assalamualaikum,ustad sya prnah dulu sepulang sekolah waktu SD klas6 itu sepatu saya ngijek kotoran hewan tapi kaki saya bersih,dan aq ga tau itu kotoran apa sya curiga itu kotoran anjing,soalnya di blkang sekolah sya ad org non muslim yg melihara anjing tpi sngaja 2 rumah yg plihara anjing itu di kandangin dan 1 rumah yg aga jauhan,aku jga blumm yakin ustad klo itu kotoran anjing atau itu kotoran hewan lainya aq jga blumm prnah lihat anjingnya cuman ad suara gongonganya aja dan aku ga sngaja ngijek kotoran itu,tpi sya gak tau asal kotaran itu ntah kotoran kucing atau apa sya kurang tahu krena sya juga bingung itu ktoran apa soalnya itu dket persawahan jga di situ saya jadi kepikiran terus smpai nagiss sya,saya jga minta sama Allah wktu selesai solat sya berdoa sungguh² mudahan² itu bkan kotoran anjing sya juga kpikiran aneh²wlaupun klau betul itu ktoran anjing sya jga belum smpet bersihin ktoran itu,wktu klas6 sd sampai hati sya bimbang antara najis atau tidaknyaa yaudahlah laah smpe skarang kls3 smp baru mau niat saya ngebersihkan ustad,Maaf ustad prtanyaan muter² mohon ustad pencerahanya Pertanyaan:1.apakah solat sya wktu itu di terima ustad sya jga tidak tau itu ktoran apa?
    2.wlapun kotoran itu bersih apakah najis bisa menyebar ustad
    Wassalamualaikum Wr Wb

    BalasHapus
  24. Assalamualaikum

    Ustadz saya pernah dikejar anjing waktu masih kecil mungkin kelas 4 SD / 5 SD ... Dan saya terjatuh... Saya tak tau anjing itu menyentuh saya atau tidak.... Saya baru ingat sekarang berumur 17 tahun ustadz... Jadi pertanyaan saya ustadz kalau misalnya menyentuh apa hukum saya ustadz.... Tolong di jawab ustad saya sangat was was sekali.....

    Terimakasih ustad.... Assalamualaikum

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh
      Tinggalkan segala bentuk yg meragukan, segala sesuatu suci sampai ada bukti bhw ia najis atau bernajis. Wallahu a’lam!

      Hapus
  25. Dulu saya pernah memelihara anjing dan kena jilatan nya . Tpi itu udah dua tahun lebih yang lalu . Tpi sampai sekarang blum saya sucikan karena saya lupa bagian mana yang terkena jilatan . Apakah sampai sekarang najis itu masih ada . Apakah sah kah buat solat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insyaallah najisnya sdh hilang. Wallahu a’lam!

      Hapus
  26. Assalamualaikum ustaz. Tadi saya ada ternampak satu jenis kotoran berwarna hitam dan seperti kepenyet di atas lantai di jalan awam dimana saya dan keluarga duduk disitu. Saya tidak tahu sama ada ia najis anjing ataupun tidak kerana saya tidak dapat mengenal pasti kotoran itu kerana tiada bau, saya juga tidak nampak anjing disekitar kawasan tersebut. Masalah saya ialah plastik makanan saya yang sedikit basah terkena kotoran itu dan ahli keluarga telah memegang plastik basah itu. apakah kami semua terkena najis? atau kerana tidak dapat dipastikan ia adalah najis atau tidak ianya dihukum suci?

    BalasHapus
  27. Assalamualaikum pak ustad saya mau tanya saya pernah main ke temen la disitu ad anjing jalan mondar mandir saya tetep duduk dimotor takut terkena najis la temen saya nyapu tanah la sapunya kena bagian tubuh saya apakah harus disucikan ada keraguan didlm hati sy kalau itu najis
    Mazhab saya syafii terimkasih

    BalasHapus
  28. Assalamualaikum ustadz..

    Waktu pulang kerja saya berhenti di pinggir trotoar yg tingginya hampir sedengkul saya (posisi trotoar ada di sebelah kiri saya). Dalam keadaan masih diatas motor (motor masih saya naiki hanya mesin yg dimatikan) saya menoleh kearah kanan bawah untuk cek sepatu. Selesai mengecek sepatu kanan, saya menoleh ke kiri ingin mengecek sepatu kiri juga namun saya terkejut karena tau tau sudah ada anjing di samping kiri saya tepatnya di atas trotoar tersebut (yg ada di sisi kiri saya) 2 ekor berjalan dengan pemiliknya. Saya tidak tau darimana awalnya anjing itu datang berjalan, apakah dari jalanan dulu baru naik ke trotoar atau sudah berjalan dari awal di trotoar.

    Seketika saya langsung memiringkan motor saya ke kanan agar tidak terkena anjing. Namun saya ragu, jangan2 tanpa sadar anjing itu sudah menyentuh bagian ban & spakboard depan motor saya mengingat saat berhenti stang motor saya belokan ke kiri dimana tingginya trotoar dengan ban hampir sama. Bagian stang kiri, rem kiri & spion kiri jaraknya juga dekat dari trotoar tersebut. Saya jadi takut apakah stang kiri, rem kiri dan spion kiri juga kena najis anjing. Pertanyaannya :

    1. Bagaimana nasib ban depan & spakboard ban depan saya, apakah najis ? Saya tidak melihat anjing itu apakah datang dari jalanan depan motor saya atau sudah berjalan dari awal diatas trotoar dengan pemiliknya. saya takut kena najisnya. Waktu itu saya tidak cek lagi ban & sparkboard depan karena kaget dengan anjingnya jd saya langsung pulang ke rumah tanpa cek lagi.

    2. Bagaimana nasib stang kiri, rem kiri & spion kiri yg jaraknya dekat dengan trotoar tempat anjing tersebut berjalan (tinggi trotoar hampir sedengkul). Saya takut bagian tersebut kena najis juga tanpa saya sadari saat saya menoleh ke kanan untuk cek sepatu kanan saya.

    3. Saya sempat cari info soal kenajisan anjing ini & ternyata ada perbedaan pendapat diantara 4 mazhab. Bolehkah klo saya mengikuti mazhab maliki agar tidak kepikiran najis anjing lagi ? Berdosakah saya jika saya mengikuti mazhab maliki yg mengatakan bahwa anjing tidak najis termasuk liurnya namun 3 mazhab lainya menyatakan bahwa liurnya najis ?

    Saya sangat stres memikirkan hal itu ustadz, apakah bagian motor yg saya sebutkan terkena najis atau tidak. Saya tidak tau sebelumnya apakah anjing tersebut sempat menyentuh bagian2 motor saya atau tidak. Yang saya lihat anjing tersebut berjalan & sudah berada di sisi kiri saya namun tidak mengenai celana saya. Tolong saya ustadz, pikiran ini sampai mengganggu pekerjaan saya. Semoga jawaban dari ustadz bisa menenangkan pikiran & hati saya. Semoga ALLAH SWT mencurahkan rahmat untuk ustadz & kita semua. Amiinn..

    BalasHapus
  29. Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    Ustadz saya mau bertanya. Saya survey kerumahnya orang non muslim tgl 20 Juli 2019. Saat saya datang anjingnya ada di dalam rumah. Pemilik rumah keluar dan izin mau ngeluarin anjingnya dulu. Saat itu saya tidak melihat anjingnya dan waktu dikeluarkan juga saya tidak melihat bagaimana caranya karena saya sembunyi takut anjing. Terus pemilik rumah keluar cuci tangan sekali dan bersalaman dengan saya dalam keadaan tangan masih basah terus saya dipersilahkan masuk. Saat masuk saya tidak bisa melihat dengan pasti dimana najisnya karena tidak terlihat jelas. Nah waktu duduk saya melihat ada 3 tetesan dilantai sebelah kiri saya entah itu air atau air liur anjing saya tidak tahu. Terus saya diajak keliling rumahnya. Saat saya duduk lagi tetesan itu sudah tidak ada. Saya was-was jangan jangan terinjak oleh saya. Terus saya waktu mau pulang salaman lagi dalam keadaan tangan saya lembab.

    Pertanyaan saya
    1. Apakah tangan saya terkena najis saat bersalaman dengan pemilik rumah?
    2. Apakah pakaian saya terkena najis?
    3. Apakah kaos kaki saya juga terkena najis saat menapaki lantai rumahnya? Saya lupa apakah waktu itu kaos kaki saya kering atau lembab
    4. Apakah telapak kaki saya terkena najis karena kan sifat kain itu meresap takutnya kena juga
    5. Saat saya pulang saya menapak lantai rumah saya karena takut najis saya pel satu kali apakah najisnya tetep ada sampai sekarang?
    6. Saya memegang banyak sekali benda dalam keadaan tangan berkeringat, HP, motor, dompet, tas, pulpen, dll kalau memang tangan saya najis bagaimana cara membersihkan benda yang banyak sekali dan ada yang bisa rusak kalau kena air?
    7. Apakah najis bekas anjing yang telah lalu kering dan tidak ada tandanya lagi itu sudah menghilang walaupun tidak dicuci 7x?
    8. Bagaimana cara menghilangkan was-was tentang bekas najis ini? Karena saya terus was-was sampai sekarang.
    9. Kaos kaki saya ke cuci sama ibu saya dan itu bersama baju yang lain satu cucian apakah najisnya kena semua? Bagaimana cara membersihkan kembali? Saya tidak ingat pakaian mana yang dicuci bareng kaos kaki. Kejadian ini udah lama dua hari setelah saya survey
    10. Pel yang saya gunakan untuk mengepel bekas telapak kaki saya apakah ber najis dan harus dibersihkan dulu sebelum digunakan lagi?

    Mohon jawaban pak ustadz karena saya terus was-was najis ini menyebar kemana-mana
    Terima kasih pak ustadz
    Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam warahmatullahi wa barakaatuh


      Agama Islam adalah agama yang mudah, tdk membebani.

      Dan perasaan was-was yang berlebihan datangnya dari syaitan untuk mengganggu ummat manusia.

      Semua benda yg saudari sebutkan adalah suci, tdk bernajis.

      Jangan mengikuti prasangka yg berlebihan yg hanya menjadikan baban berat diri sendiri. Wallahu a'lam!

      Semoga Allah subhanahu wa ta'aalaa menjauhkan kita dari gangguan dan godaan syaitan. Aamiin!

      Hapus
  30. Assalamu'allaikum Ustadz Saya mau bertanya
    Sekitar beberapa hari yang lalu saya tidak bersimpanagan dengan anjing saya tidak ingat jelas kejadian itu tapi saya merasa kaki saya tersenggol anjing dan saya tidak mengecek kaki dan celana saya basah atau kering lalu apakah saya tertular najis

    BalasHapus
  31. Assalamu'alykum ustadz, saya mau bertanya apakah tanah atau jalan yang sudah dicor dan baru di siram beberapa menit kemudian dilewati oleh anjing dan tidak tahu apakah air liurnya netes atau tidak, dan kemudianu saya melewati jalan tersebut memakai sandal. Apakah bisa dikatakan najis berat dan harus dicuci 7x,,

    Terima kasih ustadz, mohon penjelasannya

    BalasHapus
  32. Assalamu'alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh ustadz saya lihat anjing berjalan di tempat yg basah dan kemudian jalan basah itu terinjak oleh saya tetapi saya tidak mengetahui jalan yang di injak oleh anjing tersebut, kemudian anjing tersebut menjulurkan lidahnya sambil jalan, saya takut air liur menetes dan waktu itu saya mau masuk ke rumah melewati jalan tersbut..

    Apakah hukumnya ustadz, apakah sendal dan ban motor saya akan bernajis?

    BalasHapus
  33. Assalamualaikum pak ustadz..saya punya seorang teman lalu dia bercerita bahwa satu tahun yang lalu dia pernah melukai anjing liar dengan golok .dan keesokan harinya dia bilang bahwa ibu nya menggunakan golok tersebut untuk membersihkan ikan untuk dimasak. Dan pertanyaanya apakah perlu dia mensucikan benda yang mungkin terkena najis tersebut atau mungkin mulut dan anusnya karena memakan makanan yang di sebut tadi layak nya orang kafir masuk islam

    BalasHapus
  34. Assalamu'alaikum saya mai tany ustadz
    Skitar sebulan yg lalu saya diberi tahu sama tetangga saya goreng n makan. kmrn saya berniat beli n ternyata yg bikin itu orang cina n di rmhny itu ada anjingny
    Saya jdi ragu n saya tidak memakny .. tp yg saya pkirkan bagaimna status tahu itu najiskah dan apakah haram dimakn..?
    N minyak sisa goreng tahu itu slama ini saya pke bwt goreng yg lain dan kdngn minyaknya jtuh dlantai n saya pel gitu ja sklian ngpel sluruh rumah .. apkh sluruh rmh n barang² drmh saya jadi nnjis jg ..

    BalasHapus

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...