Minggu, 04 Agustus 2013

Bahaya bid'ah

بسم الله الرحمن الرحيم

Bid’ah adalah mengada-adakan suatu urusan dalam agama, tidak menjalankannya sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah, baik itu dalam hal akidah maupun ibadah.

Dampak negatif dari amalan bid’ah sangat besar, bukan hanya bagi pelakunya, tapi juga bagi umat Islam yang lainnya, bahkan bagi Islam itu sendiri.

Berikut berapa bahaya melakukan bid'ah dalam urusan agama:

1.      Bid'ah adalah kesesatan.
Dari Al-'Irbad bin Sariyah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ [سنن أبى داود: صححه الألباني]
“Dan jauhilah urusan yang diada-adakan (dalam urusan agama), karena semua yang diada-adakan adalah bid'ah, dan semua bid'ah adalah kesesatan”. [Sunan Abi Daud: Sahih] 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
" إِنِّي قَدْ تَرَكْتُ فِيكُمْ شَيْئَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّتِي " [المستدرك للحاكم: حسنه الألباني]
“Aku telah meninggalkan pada kalian dua hal, kalian tidak akan tersesat selama kalian perpegang pada keduanya: Kitabullah (Al-Qur'an) dan sunnahku”. [Mustadrak Al-Hakim: Hasan]

2.      Termasuk orang yang merugi karena amalan bid'ah ditolak.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا} [الكهف: 103، 104]
Katakanlah: "Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?" Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. [Al-Kahfi: 103-104]

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ، فَهُوَ رَدٌّ» [صحيح البخاري]
"Barangsiapa yang mengada-ada suatu dalam urusan kami (ibadah) yang bukan bagian darinya, maka hal itu tertolak". [Sahih Bukhari]

Dalam riwayat lain:
«مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ» [صحيح مسلم]
"Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan yang bukan ajaran kami maka hal itu tertolak". [Sahih Muslim]

3.      Urusan yang paling buruk.
Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika khutbah mengatakan:
فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ، وَشَرُّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ . [صحيح مسلم]
"Sesungguhnya ucapan terbaik adalah kitabullah (Al-Qur’an), dan tuntunan terbaik adalah tuntunan Muhammad, dan seburuk-buruk urusan adalah yang diada-adakan (dalam ibadah), dan semua bi'ah adalah kesesatan. [Sahih Muslim]

Dalam riwayat lain ditambah:
وَكُلُّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ [سنن النسائي: صححه الألباني]
“Dan semua kesesatan (pelakunya) dalam neraka”. [Sunan An-Nasa’iy: Sahih]

4.      Pelaku dan pendukung bid’ah dilakanat oleh Allah, malaikat, dan manusia.
Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا [صحيح مسلم]
“Allah melaknat orang yang mendukung dan membela pelaku bid’ah”. [Sahih Muslim]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«الْمَدِينَةُ حَرَمٌ، فَمَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا، أَوْ آوَى مُحْدِثًا، فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ، لَا يُقْبَلُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَدْلٌ، وَلَا صَرْفٌ» [صحيح مسلم]
“Medinah adalah haram, maka barangsiapa yang membuat urusan bid’ah di dalamnya atau membela pelaku bid’ah maka ia berhak mendapat laknat Allah, para malaikat, dan seluruh manusia, tidak diterima darinya tebusan dan taubat (ibadah wajib dan sunnahnya)”. [Sahih Muslim]

Ibnu Baththal rahimahullah mengatakan bahwa laknat ini berlaku juga untuk selain kota Medinah. [Syarh Sahih Bukhari 10/350]

5.      Menganggap Islam belum sempurnah dan mendustakan firman Allah.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا} [المائدة: 3]
Pada hari Ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. [Al-Maidah:3]

6.      Menuduh Rasulullah tidak sempurnah menyampaikan risalah, karena masih ada syari’at yang belum beliau ajarkan.
Sewaktu khutbah haji wada' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat: Kalian akan ditanya tetang aku di hari kiamat, maka apakah yang kalian akan jawab? Sahabat menjawab: Kami akan bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan risalah, menjalankannya, dan menasehati kami. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata sambil mengangkat tangannya menunjuk ke langit kemudian menunjuk ke sahabat yang hadir:
اللهُمَّ، اشْهَدْ، اللهُمَّ، اشْهَدْ
"Ya Allah .. saksikanlah (ucapan mereka), Ya Allah saksikanlah (ucapan mereka)". 3x [Sahih Muslim]

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«أَيُّهَا النَّاسُ, إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ شَيْءٍ يُقَرِّبُكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبْعِدُكُمْ مِنَ النَّارِ إِلَّا قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ , وَلَيْسَ شَيْءٌ يُقَرِّبُكُمْ مِنَ النَّارِ وَيُبْعِدُكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ إِلَّا قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ» [مصنف ابن أبي شيبة: حسنه الألباني]
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya tidak ada sesuatu yang mendekatkan kalian kepada surga dan menjauhkan kalian dari neraka kecuali aku telah memerintahkannya kepada kalian, dan tidak ada sesuatu yang mendekatkan kalian kepada neraka dan menjauhkan kalian dari surga kecuali aku telah melarangnya pada kalian”. [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah: Hasan]

7.      Menganggap bahwa ada urusan agama yang tidak diketahui oleh Rasulullah dan diketahui oleh orang-orang yang datang setelahnya.
Aisyah radhiyallahu 'anha berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam jika memerintahkan suatu amalan pada sahabatnya, ia memerintahkan mereka mengerjakan amalan yang mampu mereka kerjakan (tidak berlebih-lebihan).
Sahabat bertanya: Tapi kami tidak seperti engkau wahai Rasululah, karena Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu dan yang akan datang!
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam marah sampai terlihat tanda kemarahan di wajahnya, kemudian bersabda:
«إِنَّ أَتْقَاكُمْ وَأَعْلَمَكُمْ بِاللَّهِ أَنَا» [صحيح البخاري]
“Sesungguhnya yang paling bertakwa dari kalian dan paling mengetahui tentang Allah adalah aku”. [Sahih Bukhari]

8.      Tidak mengikuti Rasulullah dengan sempurna.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ} [آل عمران: 31]
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [Ali 'Imran:31]
{فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ} [النور: 63]
Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. [An-Nuur: 63]

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: Tiga orang datang ke rumah istri-istri Rasulullah, mereka menanyakan tentang ibadah Rasulullah. Setelah mereka diberi tahu, seakan-akan mereka menganggapnya sedikit. Mereka mengatakan: Apalah kita dibandingkan dengan Rasulullah? Ia sudah diampuni dosanya yang telah lalu dan yang akan datang.
Seorang dari mereka berkata: Adapun saya, akan salat malam selamanya. Yang lain berkata: Aku akan puasa seumur hidup dan tidak berbuka. Dan yang lain berkata: Aku akan meninggalkan wanita dan tidak menikah selamanya.
Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam datang kepada mereka dan bersabda:
«أَنْتُمُ الَّذِينَ قُلْتُمْ كَذَا وَكَذَا، أَمَا وَاللَّهِ إِنِّي لَأَخْشَاكُمْ لِلَّهِ وَأَتْقَاكُمْ لَهُ، لَكِنِّي أَصُومُ وَأُفْطِرُ، وَأُصَلِّي وَأَرْقُدُ، وَأَتَزَوَّجُ النِّسَاءَ، فَمَنْ رَغِبَ عَنْ سُنَّتِي فَلَيْسَ مِنِّي» [صحيح البخاري]
“Kalian yang mengatakan ini dan itu? Sesungguhnya demi Allah, aku adalah yang paling takut dan bertakwa kepada Allah dari kalian, akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, salat dan tidur, dan menikahi wanita. Maka barangsiapa yang tidak suka sunnahku maka ia bukan dariku. [Sahih Bukhari]

9.      Membangkan terhadap syari'at.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا} [النساء: 115]
Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. [An-Nisaa':115]

Diantara bentuk penentangan Rasulullah adalah menjalankan syari’at Islam tidak sesuai dengan tuntunannya. Dan yang dimaksud orang-orang mukmin dalam ayat ini adalah sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka dengan baik.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ} [البقرة: 137]
Maka jika mereka beriman seperti apa yang kamu (Rasulullah dan sahabatnya) telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al-Baqarah:137]

10.  Berjalan di atas jalan syaithan karena menyalahi tuntunan Rasulullah.
Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma berkata: Suatu hari kami duduk di sisi Rasulullah shallallahlu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau menulis suatu garis di depannya dan berkata:
«هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ»
“Ini adalah jalan Allah”
Kemudian beliau menulis dua garis di sebelah kanan dan kiri garis tersebut, dan berkata:
«هَذِهِ سَبِيلُ الشَّيْطَانِ»
“Ini adalah jalan-jalan syaitan”
Kemudian beliau meletakkan tangannya pada garis yang tengah, kemudian membaca ayat ini:
{وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ} [الأنعام: 153]
Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. [Al-An’aam:153] [Musnad Ahmad: Sahih]

11.  Mematuhi tuntunan setan dengan mengatakan sesuatu tentang Allah tanpa dasar ilmu karena mengada-adakan suatu urusan agama yang dianggap baik dan dicintai oleh Allah tanpa dalil.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ (168) إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوءِ وَالْفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ} [البقرة: 168، 169]
Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. [Al-Baqarah: 168-169]
{قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ} [الأعراف: 33]
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui." [Al-A’raaf:33]
{وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ} [النحل: 116]
Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta "Ini halal dan Ini haram", untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung. [An-Nahl: 116]

12.  Mengikuti hawa nafsu, karena akal jika tidak mengikuti syari'at berarti mengikuti hawa nafsu.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ} [القصص: 50]
Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. [Al-Qashash: 50]
{وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوَى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّ الَّذِينَ يَضِلُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ بِمَا نَسُوا يَوْمَ الْحِسَابِ} [ص: 26]
Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan hari perhitungan. [Shaad: 26]

  1. Menetapkan suatu syari’at tanpa ada izin dari Allah melalui kitab-Nya atau sunnah Rasul-Nya adalah bentuk kesyirikan.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ} [الشورى: 21]
Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama (melakukan ibadah) yang tidak diizinkan Allah? [Asy-Syuuraa:21]

14.  Menyalahi amalan generasi terbaik dari sabahat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, atau merasa lebih baik dari mereka.
Dari 'Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Yang paling baik dari kalian adalah orang yang hidup di masaku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya". [Sahih Bukhari dan Muslim]

15.  Menganggap para sahabat Rasulullah dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik tidak sempurnah ibadahnya, atau mereka tidak amanah dalam berda'wah karena ada yang mereka tidak sampaikan.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ} [التوبة: 100]
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. [At-Taubah:100]

16.  Memecah-belah umat Islam dan menyebabkan masuk neraka.
Hanya dengan mengikuti sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam umat Islam akan bersatu, sedangkan bid’ah akan memecah belah mereka karena setiap orang bebas menjalankan agama sesuai yang ia anggap baik.

Al-'Irbaad bin Sariyah radhiyallahu 'anhu; Rasululah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ» [سنن أبي داود: صحيح]
“Sesungguhnya siapa yang hidup dari kalian setelah aku meninggal maka ia akan menyaksikan perselisihan yang besar, maka hendaklah kalian mengikuti sunnahku dan sunnah khalifah-khalifah yang mendapat hidayah dan petunjuk, berpegang teguhlah dengannya, gigitlah dengan gigi graham kalian (pegangi dengan kuat)”. [Sunan Abi Daud: Sahih]

Dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أُمَّتِي مَا أَتَى عَلَى بني إسرائيل حَذْوَ النَّعْلِ بِالنَّعْلِ، حَتَّى إِنْ كَانَ مِنْهُمْ مَنْ أَتَى أُمَّهُ عَلَانِيَةً لَكَانَ فِي أُمَّتِي مَنْ يَصْنَعُ ذَلِكَ، وَإِنَّ بني إسرائيل تَفَرَّقَتْ عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً»
“Akan datang pada umatku apa yang menimpa Bani Israil sama persis selangkah demi selangkah, sampai kalau ada dari mereka yang berzina dengan ibunya terang-terangan, maka akan ada dari umatku yang melakukan hal itu. Dan sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi tujuhpuluh dua golongan, dan umatku akan terpecah menjadi tujuhpuluh tiga golongan, semuanya akan masuk neraka kecuali satu golongan”.
Sahabat bertanya: Siapakah mereka ya Rasulullah?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
«مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي» [سنن الترمذي: حسنه الألباني]
“Mereka adalah orang yang berjalan sesuai sunnahku dan sunnah sahabatku”. [Sunan Tirmidzi: Hasan]

Dalam riwayat lain, dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ثِنْتَانِ وَسَبْعُونَ فِي النَّارِ، وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ، وَهِيَ الْجَمَاعَةُ [سنن أبي داود: حسنه الألباني]
“Tujuhpuluh dua golongan masuk neraka dan satu golongan masuk surga, yaitu Al-Jam’ah”. [Sunan Abu Daud: Hasan]
Ini menunjukkan bahwa orang yang senantiasa berpegang teguh pada sunnah Rasulullah dan sahabatnya, akan selalu ber-jam’ah dan tidak berpecah.

17.  Sebab kebinasaan.
Al-'Irbaad bin Sariyah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
لقد تركتكم على مثل البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها إلا هالك [صحيح الترغيب والترهيب]
Aku telah meninggalkan kalian di atas jalan yang terang dan jelas, malamnya sama dengan siangnya, tidak ada yang melenceng darinya kecuali ia akan celaka. [Sahih At-Targiib wa At-Tarhiib]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ، فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِكَثْرَةِ سُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ [صحيح مسلم]
"Abaikanlah (jangan tanyakan) apa yang aku tidak ajarkan kepada kalian, karena sesungguhnya kehancuran orang-orang sebelum kalian karena banyak bertanya dan berselisih dengan para nabi mereka". [Sahih Muslim]

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
" إِنَّ لِكُلِّ عَابِدٍ شِرَّةً، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةً ، فَإِمَّا إِلَى سُنَّةٍ، وَإِمَّا إِلَى بِدْعَةٍ ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّةٍ، فَقَدِ اهْتَدَى، وَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ " [مسند أحمد: صحيح]
“Sesungguhnya setiap ahli ibadah punya waktu semangat, dan setiap waktu semangat ada waktu malas (lemah), bisa jadi diisi dengan amalan yang sunnah yang lainnya atau dengan bid’ah. Maka barangsiapa yang mengisi waktu malasnya dengan sunnahku maka ia telah mendapat hidayah, dan barangsiapa yang mengisi waktu malasnya dengan selain itu maka ia talah binasa”. [Musnad Ahmad: Sahih]

18.  Terhalang dari taubat sampai meninggalkan bid'ahnya.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ اللَّهَ حَجَبَ التَّوْبَةَ عَنْ صَاحِبِ كُلِّ بِدْعَةٍ» [المعجم الأوسط: صححه الألباني]
“Sesungguhnya Allah menghalangi taubat bagi semua pelaku bid'ah”. [Al-Mu'jam Al-Ausath karya Ath-Thabraniy: Sahih]

19.  Dosanya tidak diampuni oleh Allah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا المُجَاهِرِينَ [صحيح البخاري ومسلم]
“Semua umatku akan diampuni kecuali yang melakukan dosa secara terang-terangan”. [Sahih Bukhari dan Muslim]
Kebanyakan pelaku bid’ah melakukannya dengan terang-terangan, bahkan mengajak orang lain untuk melakukannya dan mencela orang yang meninggalkannya.

20.  Dosanya berlipat ganda.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ بِغَيْرِ عِلْمٍ أَلَا سَاءَ مَا يَزِرُونَ} [النحل: 25]
(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikitpun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu. [An-Nahl:25]

Dari Jarir bin Abdillah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً، فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ، كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا، وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ [صحيح مسلم]
“Dan barangsiapa yang memulai suatu amalan buruk (bid’ah) dalam Islam kemudian diamalkan oleh orang-orang setelahnya, maka dicatat baginya dosa seperti dosa orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”. [Sahih Muslim]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ، كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا [صحيح مسلم]
“Dan barangsiapa yang mengajak pada suatu kesesatan (bid’ah) maka ia mendapatkan dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun”. [Sahih Muslim]

21.  Berlebih-lebihan dalam beragama.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ} [النساء: 171]
Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar (sesuai dengan wahyu). [An-Nisaa’:171]
{قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ} [المائدة: 77]
Katakanlah: "Hai ahli kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang Telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka Telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus". [Al-Maidah:77]

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ» قَالَهَا ثَلَاثًا [صحيح مسلم]
“Binasalah orang-orang yang terlalu berlebih-lebihan (melampaui batas)”. Rasulullah mengucapkannya tiga kali. [Sahih Muslim]

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkanku di pagi hari melempar Al-‘Aqabah (jumrah) saat beliau berada di atas kendaraannya:
«هَاتِ، الْقُطْ لِي»
“Ambilkan aku batu lemparan!”
Maka aku mengambilkannya batu kecil yang dipakai untuk melempar, dan ketika aku meletakkannya di tangannya, beliau bersabda:
«بِأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ» [سنن النسائي: صححه الألباني]
“Dengan batu seperti inilah kalian melempar, dan jauhilah sikap berlebih-lebihan dalam menjalankan agama karena sesungguhnya yang membinasakan umat-umat sebelum kalian adalah sikap berlebih-lebihan dalam menjalankan agama”. [Sunan An-Nasa'i: Sahih] 

22.  Memaksakan diri dalam beragama, karena melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ} [ص: 86]
Katakanlah (hai Muhammad): "Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da'wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan (memaksakan diri). [Shaad:86]

Anas radhiyallahu 'anhu berkata: Suatu hari kami berada di sisi Umar radhiyallahu 'anhu, lalu ia berkata:
«نُهِينَا عَنِ التَّكَلُّفِ» [صحيح البخاري]
Kita dilarang untuk terlalu mamaksakan diri. [Sahih Bukhari]

23.  Mempersulit agama.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ» [صحيح البخاري]
“Sesungguhnya agama Islam itu mudah (jika mengikuti Al-Qur’an dan sunnah dengan baik), dan seseorang tidak mempersulit agama (dengan amalan bid’ah) kecuali ia akan terkalahkan”. [Sahih Bukhari]

24.  Mencampur yang hak (sunnah) dengan yang bathil (bid’ah).
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ} [البقرة: 42]
Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. [Al-Baqarah:42]
{يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لِمَ تَلْبِسُونَ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُونَ الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ} [آل عمران: 71]
Hai ahli kitab, mengapa kamu mencampur adukkan yang haq dengan yang bathil, dan menyembunyikan kebenaran, padahal kamu mengetahuinya? [Ali ‘Imran:71]

25.  Melakukan bid'ah berarti meninggalkan sunnah Rasulullah.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:
«مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ إِلَّا أَحْدَثُوا فِيهِ بِدْعَةً، وَأَمَاتُوا فِيهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَى الْبِدَعُ، وَتَمُوتَ السُّنَنُ» [المعجم الكبير للطبراني]
Tidak datang kepada manusia satu tahun kecuali mereka melakukan bid'ah di dalamnya dan mereka mematikan sunnah, sampai bid'ah hidup (menyebar) dan sunnah pun mati (ditinggalkan). [Al-Mu’jam Al-Kabiir karya Ath-Thabaraniy]

Abu Idris Al-Kaulaniy rahimahullah berkata:
"مَا أحدثت أمة في دينها بدعة، إلا رفع بها عنهم سنة" [الاعتصام للشاطبي]
Satu umat tidak mengadakan suatu bid’ah dalam agamanya kecuali diangkat dari mereka sunnah karena bid’ah tersebut.

Hassan bin 'Athiyah rahimahullah berkata:
مَا ابْتَدَعَ قَوْمٌ بِدْعَةً فِي دِينِهِمْ إِلَّا نَزَعَ اللَّهُ مِنْ سُنَّتِهِمْ مِثْلَهَا ثُمَّ لَا يُعِيدُهَا إِلَيْهِمْ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ [سنن الدارمي: صحيح]
Satu umat tidak mengadakan suatu bid’ah dalam agamanya kecuali Allah mencabut dari mereka sunnah yang sepertinya, kemudian sunnah tersebut tidak dikembalikan kepada mereka sampai hari kiamat. [Sunan Ad-Darimiy: Sahih]

Wallahu a’lam!


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...