Minggu, 13 April 2014

Berbaik sangka pada batu

بسم الله الرحمن الرحيم


Syekh Isma’il Al-‘Ajluniy (1162H) rahimahullah menyebutkan satu hadits yang masyhur dalam kitabnya “Kasyful Khafaa’” 2/178 no.2087:
( لَوْ أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ ظَنَّهُ بِحَجَرٍ لَنَفَعَهُ اللهُ بِهِ )
“Jika seorang dari kalian berbaik sangka pada suatu batu maka Allah akan memberikan manfaat untuknya dari batu itu”
Syekh Islam Ibnu Taimiyah (728H) rahimahullah mengatakan bahwa hadits ini palsu. [Majmuu’ Al-Fatawaa 19/146, 24/355]
Ibnu Hajar (852H) rahimahullah mengatakan: Ia tidak punya asal (sanad). [Lihat Al-Maqashidul Hasanah karya As-Sakhawiy no.388]
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah (751H) rahimahullah berkata:
وَهُوَ مِنْ وَضْعِ الْمُشْرِكِينَ عُبَّادِ الأَوْثَانِ
“Ini adalah buatan orang-orang musyrik penyembah berhala”. [Al-Manaar Al-Muniif hal.139]
Beliau juga berkata:
وأمثال هذه الأحاديث التي هي مناقضة لدين الإسلام وضعها المشركون وراجت على أشباههم من الجهال الضلال ، والله بعث رسوله يقتل من حسن ظنه بالأحجار ، وجنب أمته الفتنة بالقبور بكل طريق
“Hadits-hadits seperti ini yang bertentangan dengan agama Isam adalah buatan orang-orang musyrik dan laris di kalangan yang mirip dengan mereka dari orang-orang bodoh dan sesat. Padahal Allah mengutus Rasul-Nya untuk memerangi orang-orang yang berbaik sangka pada batu-batu dan menjauhkan umatnya dari fitnah penyembah kuburan dengan segala metode”. [Igatsatul Lahfaan hal.215]
Lihat Silsilah Al-Ahaadits Adh-Dha’ifah karya syekh Albaniy 1/647 no.450.

Hadits yang semakna dengan itu diriwayatkan dari beberapa sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, seperti Jabir bin Abdillah, Ibnu Umar, dan Anas radhiyallahu ‘anhum:

Adapun hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma:
Diriwayatkan oleh Al-Hasan bin Arafah (257H) rahimahullah dalam kitabnya “Juz’ Ibnu Arafah” no.63:
عَنْ أَبِي رَجَاءٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ بَلَغَهُ عَنِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ شَيْءٌ فِيهِ فَضْلٌ فَأَخَذَهُ إِيمَانًا بِهِ، وَرَجَاءَ ثَوَابِهِ، أَعْطَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ذَلِكَ، وَإِنْ لَمْ يَكُنْ كَذَلِكَ»
Dari Abu Rajaa’, dari Yahya bin Abi Katsiir, dari Abi Salamah bin Abdirrahman, dari Jabir bin Abdillah, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang sampai kepadanya tentang Allah bahwa ada sesuatu yang memiliki keutamaan kemudian ia mengamalkannya dengan penuh keimanan akan hal itu dan mengharapkan pahalanya, maka Allah memberikan kepadanya keutamaan tersebut sekalipun sebenarnya tidaklah demikian”.
As-Sakhawiy (902H) rahimahullah berkata: Abu Rajaa’ tidak diketahui. [Al-Maqashidul Hasanah no.1091]
As-Suyuthiy (911H) rahimahullah mengatakan: Ia seorang pembohong. [Al-Laali’ Al-Mashnu’ah 1/196]

Ibnu Al-Jauziy (597H) rahimahullah juga meriwayatkan hadits ini dalam kitabnya “Al-Maudhu’aat” 1/421 melalui jalur Al-Hasan bin Arafah, akan tetapi dari Abu Jabir dan bukan dari Abu Rajaa’. Kemudian ia berkata:
Hadits ini tidak shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sekalipun jika tidak ada rawiy lain yang lemah dalam sanadnya selain Abu Jabir Al-Bayadhiy. Yahya mengatakan: Ia seorang pembohong. An-Nasaiy berkata: Haditsnya ditolak. Dan Asy-Syafi’iy mengatakan: Barangsiapa yang meriwayatkan hadits dari Abu Jabir Al-Bayadhiy maka semoga Allah memutihkan kedua matanya (buta).
Adz-Dzahabiy (748H) rahimahullah berkata: Dalam sanad hadits ini ada Abu Jabir yaitu Al-Bayadhiy, ia tertuduh sebagai pemalsu hadits (muttaham). [Talkhish kitaab Al-Maudhu’aat hal.74]
Lihat Silsilah Al-Ahaadits Adh-Dha’ifah karya syekh Albaniy 1/647 no.451.

Dengan jalur yang lain; diriwayatkan juga oleh Al-Hafidz Abu Ya’laa rahimahullah, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsiir (774H) rahimahullah dalam kitabnya “Fadhail Al-Qur’an” hal.282-284:
من طريق بكر بن يونس عن موسى بن علي عن أبيه عن يحيى بن أبي كثير اليمامي عن جابر بن عبد الله أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : " من بلغه عن الله فضيلة ، فعمل بها إيمانا به ورجاء ثوابه ، أعطاه الله ذلك وإن لم يكن ذلك كذلك "
Dari jalur Bakr bin Yunus, dari Musa bin ‘Ali, dari bapaknya, dari Yahya bin Abi Katsiir Al-Yamaamiy, dari Jabir bin Abdillah bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang sampai kepadanya dari Allah akan suatu keutamaan kemudian ia mengamalkannya dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahalanya, maka Allah akan memberikan kepadanya keutamaan tersebut sekalipun sebenarnya hal itu tidaklah demikian”.
Sanad hadits ini sangat lemah karena ada Bakr bin Yunus[1]; Imam Bukhari dan Abu Hatim mengatakan: Haditsnya mungkar. Abu Zur’ah berkata: Haditsnya Waahiy (sangat lemah).

Adapun hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma:
Diriwayatkan oleh Ibnu Al-Jauziy dalam kitabnya “Al-Maudhu’aat” 3/152:
من طريق عَلِيّ بْن الْحُسَيْنِ الْمَكَتِّبُ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيل بن يحيى بن عبد الله حَدَّثَنَا مِسْعَرُ بْنُ كِدَامٍ عَنْ عَطِيَّةَ الْعَوْفِيِّ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: سَمِعت رَسُول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " مَنْ بلغه عَن الله فضل شئ مِنَ الأَعْمَالِ يُعْطِيهِ عَلَيْهَا ثَوَابًا، فَعَمِلَ ذَلِكَ الْعَمَلَ رَجَاءَ ذَلِكَ الثَّوَابِ أَعْطَاهُ اللَّهُ ذَلِكَ الثَّوَابُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ مَا بَلَغَهُ حَقًا ".
Dari jalur Ali bin Al-Husain Al-Mukattib, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Isma’il bin Yahya bin Abdillah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mis’ar bin Kidam, dari ‘Athiyah Al-‘Aufiy, dari Ibnu Umar, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang sampai kepadanya dari Allah akan keutamaan sesuatu dari amalan-amalan yang dijanjikan pahala jika mengamalkannya, kemudian ia mengamalkan amalan itu dengan mengharapkan pahalat tersebut maka Allah akan memberikan kepadanya pahala tersebut sekalipun yang sampai kepadanya itu tidak benar”.
Ibnu Al-Jauziy berkata: Hadits ini palsu, yang tertuduh sebagai pemalsunya adalah Isma’il bin Yahya[2].
Adz-Dzahabiy berkata: Dalam sanad hadits ini ada Isma’il bin Yahya periwayatannya sangat lemah (saaqith), dari Mis’ar, dari ‘Athiyah yang periwayatkannya juga sangat lemah (haalik), dari Ibnu Umar. Dan yang meriwayatkan dari Isma’il adalah Ali bin Al-Mukattib[3] juga sangat lemah periwayatannya (haalik). [Talkhish kitaab Al-Maudhu’aat hal.308]
As-Suyuthiy berkata: Isma’il seorang pembohong. [Al-Laali’ Al-Mashnu’ah” 1/196]

Dari jalur yang lain, diriwayatkan juga oleh Al-Murhibiy rahimahullah dalam kitabnya “Fadhl Al-‘Ilm”, sebagaimana disebutkan oleh As-Suyuthiy dalam kitabnya “Al-Laali’ Al-Mashnu’ah” 1/197:
من طريق ابْن أَبِي بِلَال عَن الْوَلِيد بْن مَرْوَان عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ مَنْ بَلَغَهُ شَيْءٌ مِنَ الأَحَادِيثِ الَّتِي يُرْجَى فِيهَا الْخَيْرُ فَقَالَهُ يَنْوِي بِهِ مَا بلغه أُعْطِيَهُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ .
Dari jalur sanad Ibnu Abi Bilal, dari Al-Waliid bin Marwan, dari Ibnu Umar, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang sampai kepadanya suatu hadits yang diharapkan padanya suatu kebaikan kemudian ia mengucapkannya dengan niat mendapatkan keutamaan yang sampai kepadanya maka akan diberikan kepadanya keutamaan tersebut sekalipun sebenarnya tidak demikian”.
Ibnu ‘Iraq (963H) rahimahullah berkata: Dalam sanadnya ada Al-Waliid bin Marwan[4] ia seorang yang tidak diketahui (majhuul). [Tanziih Asy-Syari’ah 1/265]
Abu Hatim dan Adz-Dzahabiy juga mengatakan bahwa ia seroang yang tidak diketahui (majhuul).

Adapun hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
Diriwayatkan oleh Ibnu Abdil Bar (463H) rahimahullah dalam kitabnya “Jaami’ bayaan Al-‘Ilmi wa Fadhlihi” 1/103 no.93:
عَنِ الْحَارِثِ بْنِ الْحَجَّاجِّ بْنِ أَبِي الْحَجَّاجِ، عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ بَلَغَهُ عَنِ اللَّهِ فَضْلٌ فَأَخَذَ بِذَلِكَ الْفَضْلِ الَّذِي بَلَغَهُ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَا بَلَغَهُ وَإِنْ كَانَ الَّذِي حَدَّثَهُ كَاذِبًا» .
Dari Al-Harits bin Al-Hajjaaj bin Abi Al-Hajjaaj, dari Abi Ma’mar, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang sampai kepadanya dari Allah suatu keutamaan kemudian ia mengamalkan keutamaan tersebut yang telah sampai kepadanya maka Allah akan memberinya apa yang sampai kepadanya itu sekalipun yang menyampaikan kepadanya itu seorang pembohong”.
Ibnu Abdil Bar berkata: Hadits ini lemah, karena Abu Ma’mar ‘Abbaad bin Abdishamad[5] sendiri meriwayatkannya, dan ia adalah seorang yang ditolak haditsnya (matruuk).
Imam Bukhariy, Abu Hatim, Al-‘Uqailiy, Ibnu Hibban, dan Ibnu ‘Adiy mengatakan: Haditsnya mungkar (sangat lemah). Dan Adz-Dzahabiy mengatakan: Ia waahin (sangat lemah).
Lihat Silsilah Al-Ahaadits Adh-Dha’ifah karya syekh Albaniy 1/653 no.452.

Wallahu a’lam!





[1] Lihat biografi " Bakr bin Yunus " dalam kitab: Ats-Tsiqaat karya Al-‘Ijliy 1/253, Al-Jarh wa At-Ta'diil karya Ibnu Abi Hatim 2/393, Ats-Tsiqaat karya Ibnu Hibban 8/147, Al-Kaamil karya Ibnu 'Adiy 2/198, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/150, Tahdziib Al-Kamaal karya Al-Mizziy 4/232, Miizaan Al-I'tidaal karya Adz-Dzahabiy 2/65.
[2] Nama lengkapnya: Isma’il bin Yahya bin Ubaidillah, Abu Yahya At-Taimiy. Shalih bin Muhammad Jazarah mengatakan: Ia memalsukan hadits. Al-Azdiy, Abu ‘Ali An-Naisaburiy Al-Hafidz, Ad-Daraquthniy dan Al-Hakim mengatakan: Ia seorang pembohong. Lihat biografinya dalam kitab: Al-Majruhiin karya Ibnu Hibban 1/126, Adh-Dhu'afaa' karya Abu Nu'aim hal.60 , Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/123, Miizaan Al-I'tidaal 1/415, Lisaan Al-Miizaan karya Ibnu Hajar 2/181.
[3] Ali bin Al-Mukattib ia adalah Ali bin ‘Abdah, Abu Al-Hasan At-Tamimiy. Ibnu ‘Adiy mengatakan: Hadits-hadits yang ia riwayatkan terkadang mungkar dan terkadang hasil curian. Ad-Daraquthniy mengatakan: Ia memalsukan hadits. Adz-Dzahabiy mengatakan: Ia seorang pembohong. Lihat biografinya dalam kitab: Al-Majruhiin 2/155, Al-Kaamil 5/216, Taariikh Bagdad karya Al-Khathib 13/465, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 2/196, Miizaan Al-I'tidaal 5/148, Al-Kasyful Hatsits Ibnu Al-A’jamiy hal.185, Lisaan Al-Miizaan 5/515.
[4] Lihat biografi " Al-Waliid bin Marwan " dalam kitab: Al-Jarh wa At-Ta'diil 9/18, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 2/187, Miizaan Al-I'tidaal 7/141, Lisaan Al-Miizaan 8/390.
[5] Lihat biografi " Abu Ma’mar " dalam kitab: At-Taariikh Al-Kabiir karya Al-Bukhariy 6/41, Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir karya Al-'Uqaily 3/168, Al-Jarh wa At-Ta'diil 6/82, Al-Majruhiin 2/170, Al-Kaamil 4/342, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 2/75, Miizaan Al-I'tidaal 4/31, Al-Kasyful Hatsits hal.144, Lisaan Al-Miizaan 4/393.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...