Kamis, 11 Juli 2013

Benarkah Mu’awiyah mencaci Ali?

بسم الله الرحمن الرحيم

Mencaci-maki sahabat Rasulullah hukumnya haram.

Dari Abu Sa'id Al-Khudriy radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«لاَ تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ، ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلاَ نَصِيفَهُ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Jangan kalian mencaci sahabatku, karna seandainya seorang dari kalian bersedekah sebanyak gunung uhud dari emas maka itu tidak akan menyamai satu mudd (sekitar 543gram) dari yang mereka sedekahkan dan tidak pula seperduanya". [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari Abdullah bin Mas'ud dan Tsauban radiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِذَا ذُكِرَ أَصْحَابِي فَأَمْسِكُوا [صحيح الجامع]
"Jika para sababatku disebutkan (tentang perselisihan yang terjadi di antara mereka) maka diamlah (jangan kalian menghinanya)" [Sahih Al-Jami']

Bahkan Allah melaknat orang yang mencaci sahabat Rasulullah.

Dari Ibnu Umar radiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَعَنَ اللَّهُ مَنْ سَبَّ أَصْحَابِي [المعجم الكبير للطبراني: حسنه الألباني]
"Allah melaknat orang yang mencaci sahabatku". [Al-Mu'jam Al-Kabiir: Hasan]

Akan tetapi dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa Mu’awiyah bin Abi Sufyan mencaci Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum.

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah rahimahullah dalam kitab sunan-nya 1/45 no.121:
قال: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ مُسْلِمٍ، عَنِ ابْنِ سَابِطٍ وَهُوَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ، عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، قَالَ: قَدِمَ مُعَاوِيَةُ فِي بَعْضِ حَجَّاتِهِ، فَدَخَلَ عَلَيْهِ سَعْدٌ، فَذَكَرُوا عَلِيًّا، فَنَالَ مِنْهُ، فَغَضِبَ سَعْدٌ، وَقَالَ: تَقُولُ هَذَا لِرَجُلٍ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «مَنْ كُنْتُ مَوْلَاهُ فَعَلِيٌّ مَوْلَاهُ» وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: «أَنْتَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى، إِلَّا أَنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي» ، وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ: «لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ الْيَوْمَ رَجُلًا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ» [سنن ابن ماجه: صححه الألباني]
Dari Sa’ad bin Abi Waqqash radiyallahu 'anhu; Mu’awiyah datang pada salah satu haji-nya, maka Sa’ad datang menemuinya, lalu mereka membicarakan Ali, maka Mu’awiyah mencacinya. Maka Sa’ad marah dan berkata: Engkau mengatakan ini kepada orang yang aku dengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
“Barangsiapa yang menjadikanku tuannya, maka Ali juga adalah tuannya”.
Dan aku juga mendengar Rasulullah bersabda:
“Engkau (Ali) dariku seperti kedudukan Harun dari Musa, hanyasaja tidak ada nabi setelahku”.
Dan aku juga mendengar Rasulullah bersabda:
“Aku akan memberikan bendera perang pada hari ini kepada seorang yang mencintai Allah dan Rasul-Nya”.  [Sunan Ibnu Majah]

Dalam riwayat lain di sahih Muslim 4/1871 no.32-2404:
قال: حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ - وَتَقَارَبَا فِي اللَّفْظِ - قَالَا: حَدَّثَنَا حَاتِمٌ وَهُوَ ابْنُ إِسْمَاعِيلَ - عَنْ بُكَيْرِ بْنِ مِسْمَارٍ، عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: أَمَرَ مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ سَعْدًا فَقَالَ: مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسُبَّ أَبَا التُّرَابِ؟ فَقَالَ: أَمَّا مَا ذَكَرْتُ ثَلَاثًا قَالَهُنَّ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَنْ أَسُبَّهُ، لَأَنْ تَكُونَ لِي وَاحِدَةٌ مِنْهُنَّ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ حُمْرِ النَّعَمِ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَهُ، خَلَّفَهُ فِي بَعْضِ مَغَازِيهِ، فَقَالَ لَهُ عَلِيٌّ: يَا رَسُولَ اللهِ خَلَّفْتَنِي مَعَ النِّسَاءِ وَالصِّبْيَانِ؟ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَمَا تَرْضَى أَنْ تَكُونَ مِنِّي بِمَنْزِلَةِ هَارُونَ مِنْ مُوسَى؟ إِلَّا أَنَّهُ لَا نُبُوَّةَ بَعْدِي» وَسَمِعْتُهُ يَقُولُ يَوْمَ خَيْبَرَ «لَأُعْطِيَنَّ الرَّايَةَ رَجُلًا يُحِبُّ اللهَ وَرَسُولَهُ، وَيُحِبُّهُ اللهُ وَرَسُولُهُ» قَالَ فَتَطَاوَلْنَا لَهَا فَقَالَ: «ادْعُوا لِي عَلِيًّا» فَأُتِيَ بِهِ أَرْمَدَ، فَبَصَقَ فِي عَيْنِهِ وَدَفَعَ الرَّايَةَ إِلَيْهِ، فَفَتَحَ اللهُ عَلَيْهِ، وَلَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ: {فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ} [آل عمران: 61] دَعَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِيًّا وَفَاطِمَةَ وَحَسَنًا وَحُسَيْنًا فَقَالَ: «اللهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلِي» [صحيح مسلم]
Mu’awiyah bin Abi Sufyan memerintah Sa’ad (mencaci Ali!?) dan berkata: Apa yang mencegahmu untuk mencaci Abu At-Turaab (kuniah Ali)?
Maka Sa’ad menjawab: Aku mengingat tiga hadits yang diucapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka aku tidak mencacinya, andai saja aku memiliki satu dari tiga keutamaan tersebut maka itu lebih aku sukai dari pada unta terbaik. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya saat menjadikannya pengganti khalifah (menjaga Medinah) pada salah satu peperangan (perang Tabuuk), maka Ali berkata: Ya Rasulullah, engkau meninggalkanku bersama para wanita dan anak-anak?
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepadanya: “Tidakkah engkau rela jika engkau dariku seperti kedudukan Harun dari Musa? Hanya saja tidak ada nabi setelahku”.
Dan aku mendengar Rasulullah bersabda pada hari perang Khaibar: “Akan aku berikan bendera perang kepada seorang yang mencintai Allah dan Rasul-nya, dan ia juga dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya”
Maka kami berangan-angan mendapatkannya.
Kemudian Rasulullah bersabda: “Panggilkan aku Ali!”
Maka didatangkanlah Ali kepadanya yang sedang sakit mata, lalu Rasulullah mengobatinya dengan meludah di mata Ali dan sembuh kemudian diberikanlah bendera perang kepadanya. Maka Allah memberikan kemenangan kepadanya.
Dan ketika ayat ini turun:
Maka Katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, .. “ [Ali ‘Imran: 61]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ali, Fatimah, Hasan dan Husain, kemudian berkata: Ya Allah, mereka ini adalah keluargaku. [Sahih Muslim]

Bagaimana menyikapi riwayat tersebut?

1.      Ketahuilah bahwa sahabat Rasulullah adalah generasi terbaik umat Islam bahkan umat manusia seluruhnya setelah para Nabi dan Rasul. Mereka semua telah mendapat ridha dari Allah subhanahu wata’aalaa dan dijamin masuk surga, tanpa terkecuali.

Dan Mu’awiyah adalah salah satu sahabat Rasulullah sesuai kesepakatan ummat, ia adalah salah satu penulis wahyu di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dari Abdurrahman bin Abi ‘Umairah; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a untuk Mu’awiyah:
«اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا مَهْدِيًّا وَاهْدِ بِهِ» [سنن الترمذي: صحيح]
“Ya Allah, jadikanlah ia pemberi hidayah, mendapat hidyah, dan berilah manusia hidayah karenanya”. [Sunan Tirmidziy: Sahih]

2.      Sebagian ulama melemahkan riwayat tersebut.

Adapun riwayat Ibnu Majah lemah karena Abu Mu’awiyah Adh-Dharir[1]; Riwayatnya dari selain Al-A’masy terkadang terdapat kekeliruan. Al-Hakim mengatakan: Ia terkenal berlebihan dalam madzhab syi’ah.

Ia menyalahi riwayat Abdussalam, sebagaimana dalam As-Sunan Al-Kubra kayra An-Nasa’iy 7/411 no.8343:
قال: أَخْبَرَنَا حَرَمِيُّ بْنُ يُونُسَ بْنِ مُحَمَّدٍ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ السَّلَامِ، عَنْ مُوسَى الصَّغِيرِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَابِطٍ، عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: كُنْتُ جَالِسًا فَتَنَقَصُّوا عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ ...
Sa’ad berkata: Suatu hari aku duduk (dalam satu majlis) kemudian mereka merendahkan Ali bin Abi Thalib ...
Dalam riwayat ini tidak disebutkan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu.

Selain itu, Abdurrahman bin Sabith tidak pernah mendengar hadits dari Sa’ad bin Waqqash sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Ma’in[2], dengan demikian sanadnya juga terputus.

Dan nampaknya syekh Albaniy rahimahullah men-sahih-kan hadits ini hanya lafadz yang marfuu’ (perkataan Rasulullah tentang keutamaan Ali) sebagaimana dalam dalam kitabnya silsilah hadits sahih 4/335 no.1750.

Sedangkan riwayat Imam Muslim, maka ia tidak meriwayatkan hadits tersebut sebagai hadits utama yang dijadikan hujjah, akan tetapi hanya sebagai pendukung.

Imam Muslim meriwayatkan hadits tersebut dari lima jalur, tidak ada yang menyebutkan lafadz: (أَمَرَ مُعَاوِيَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ سَعْدًا) “Mu’awiyah bin Abi Sufyan memerintah Sa’ad mencaci Ali!?” kecuali riwayat Bukair bin Mismaar[3]; Periwayatan haditsnya sedikit lemah dan menyalahi riwayat yang lebih kuat. Dengan demikian lafadz tersebut lemah dan mungkar.

Dan sepertinya lafadz tambahan tersebut adalah perkataan Bukair, sebab jika itu adalah perkataan Sa’ad maka lafadznya akan seperti ini: “Mu’awiyah memerintahkan aku”.
Buktinya pada riwayat Al-Hakim, Bukair bin Mismaar tidak menyebutkan lafadz tersebut. [Mustadrak Al-Hakim 3/117 no.4575]

3.      Kalaupun riwayat tersebut sahih maka para ulama telah memberikan beberapa penafsiran:

a.      Lafadz tersebut tidak menunjukkan secara jelas bahwa Mu’awiyah memerintahkan Sa’ad untuk mencaci Ali. Lafadz tersebut menunjukkan bahwa Mu’awiyah ingin tahu alasan Sa’ad tidak mencaci Ali, oleh sebab itu Mu’awiyah tidak marah ketika mendengar jawaban Sa’ad dan tidak menghukumnya. Dan sikap Mu’awiyah yang tidak menanggapi perkataan Sa’ad menunjukkan bahwa Mu’awiyah mengakui keutamaan Ali.

Imam An-Nawawiy rahimahullah berkata:
قَالَ الْعُلَمَاءُ: الْأَحَادِيثُ الْوَارِدَةُ الَّتِي فِي ظَاهِرِهَا دَخَلٌ عَلَى صَحَابِيٍّ يَجِبُ تَأْوِيلُهَا . قَالُوا: وَلَا يَقَعُ فِي رِوَايَاتِ الثِّقَاتِ إِلَّا مَا يُمْكِنُ تَأْوِيلُهُ .
Para ulama berkata: Hadits-hadits sahih yang nampaknya berupa celaan terhadap seorang sahabat Nabi wajib di-ta’wil (tidak dipahami secara dzahir). Mereka berkata: Dan tidak ada pada riwayat orang-orang yang tsiqah (diterima haditsnya) kecuali yang mungkin untuk di-ta’wil.
فَقَوْلُ مُعَاوِيَةَ هَذَا لَيْسَ فِيهِ تَصْرِيحٌ بِأَنَّهُ أَمَرَ سَعْدًا بِسَبِّهِ ، وَإِنَّمَا سَأَلَهُ عَنِ السَّبَبِ الْمَانِعِ لَهُ مِنَ السَّبِّ ، كَأَنَّهُ يَقُولُ: هَلِ امْتَنَعْتَ تَوَرُّعًا أَوْ خَوْفًا أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ؟ فَإِنْ كَانَ تَوَرُّعًا وَإِجْلَالًا لَهُ عَنِ السَّبِ فَأَنْتَ مُصِيبٌ مُحْسِنٌ !
Maka perkataan Mu’awiyah ini tidak ada penyebutan secara jelas bahwa ia memerintahkan Sa’ad untuk mencaci Ali. Ia hanya menanyainya tentang sebab yang mencegah ia untuk mencaci. Seakan-akan ia berkata: “Apakah engkau tidak mencaci karena sifat wara’ atau karena takut atau selain itu? Dan jika karena sifat wara’ dan penghormatan terhadap Ali yang mencegahmu mencela maka engkau melakukan hal yang benar dan baik!”
وَإِنْ كَانَ غَيْرُ ذَلِكَ فَلَهُ جَوَابٌ آخَرُ ولَعَلَّ سَعْدًا قَدْ كَانَ فِي طَائِفَةٍ يَسُبُّونَ فَلَمْ يَسُبَّ مَعَهُمْ وَعَجَزَ عَنِ الْإِنْكَارِ وَأَنْكَرَ عَلَيْهِمْ فَسَأَلَهُ هَذَا السُّؤَالَ
Dan jika maksud Mu’awiyah bukan seperti itu, maka ada jawaban lain. Kemungkinan Sa’ad pada waktu itu berada pada suatu kelompok yang mencaci Ali dan ia tidak ikut mencaci. Dan Mu’awiyah tidak mampu melarang sedangkan Sa’ad melarang mereka, maka Mu’awiyah menanyakan pertanyaan tersebut.
قَالُوا: وَيَحْتَمِلُ تَأْوِيلًا آخَرَ أَنَّ مَعْنَاهُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تُخَطِّئَهُ فِي رَأْيِهِ وَاجْتِهَادِهِ وَتُظْهِرَ لِلنَّاسِ حُسْنَ رَأْيِنَا وَاجْتِهَادِنَا وَأَنَّهُ أَخْطَأَ [شرح النووي على مسلم (15/ 175)]
Mereka berkata: Dan kemungkinan ada pena’wilan lain, bahwasanya makna pertanyaan Mu’awiyah: “Apa yang mencegahmu untuk menyalahkan Ali pada pendapat dan ijtihadnya, dan engkau menampakkan kepada orang-orang akan kebenaran pendapat dan ijtihad kami dan Ali itu salah?” [Syarh sahih Muslim karya Imam An-Nawawiy 15/175]

Lihat: Ikmaal Al-Mu’lim bi fawaid Muslim karya Al-Qaadhiy ‘Iyadh 7/415, Al-Mufhim limaa Asykala min talkhiish kitab Muslim karya Al-Qurthubiy 6/278, Hasyiyah As-Sindiy ‘ala sunan Ibnu Majah 1/58.

b.      Ada yang mengatakan bahwa Mu’awiyah bertanya seperti itu kepada Sa’ad sebatas candaan agar Sa’ad meyebutkan keutamaan-keutamaan Ali yang ia hafal.
c.       Seandainya Mu’awiyah ingin mencaci Ali maka tidak mungkin ia meminta Sa’ad untuk melakukannya karena ia tahu betul kemasyhuran sifat wara’ dan tawadhu’ Sa’ad yang mustahil akan melakukannya.

4.      Riwayat ini dijadikan hujjah oleh kelompok syi’ah mencela Mu’awiyah yang mencaci ‘Ali, padahal mereka sendiri siang dan malam tanpa ada rasa bersalah mencaci dan melaknat Abu Bakr dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Sungguh mereka tidak punya akal!

5.      Mu’awiyah tidak mungkin memerintahkan orang mencaci Ali karena ia sendiri tidak pernah mencacinya. Bahkan disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa Mu’awiyah memuji dan mengagungkan Ali.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata: Diriwayatkan dari beberapa sanad bahwasanya Abu Muslim Al-Khaulaniy dan beberapa orang bersamanya menemui Mu’awiyah dan bertanya kepadanya: Apakah engkau merasa lebih baik dari Ali atau sederajat dengannya?
Mu’awiyah menjawab:
«والله إني لأعلم أنه خير مني وأفضل، وأحق بالأمر مني ... » [البداية والنهاية]
Demi Allah, sesungguhnya aku sangat tahu kalau ia lebih baik dan lebih mulia dariku, dan ia lebih berhak atas khilafah dariku. [Al-Bidayah wa An-Nihayah 8/138]

Dan dari Jarir bin Abdul Hamid; Al-Mugirah berkata: Ketika sampai berita kematian Ali kepada Mu’awiyah, ia menagis. Maka istrinya berkata kepadanya: Engkau menangisinya padahal engkau telah memeranginya?
Mu’awiyah berkata:
«ويحك إنك لا تدرين ما فقد الناس من الفضل والفقه والعلم» [تاريخ دمشق لابن عساكر]
Celakalah engkau, sesunguhnya engkau tidak tahu apa yang telah hilang dari orang-orang dari kemuliaan, fiqhi, dan ilmu (yang dimiliki Ali). [Taarikh Dimasyq karya Ibnu ‘Asakir 59/142]

Dalam riwayat lain:

Ketika sampai kepada Mu’awiyah berita kematian Ali, ia berkata:
ذهب الفقه والعلم بموت ابن أبي طالب
Telah pergi fiqhi dan ilmu dengan kematian Ibnu Abi Thalib.
Maka ‘Utbah, saudaranya berkata: Penduduk Syam tidak pernah mendengar ini darimu?
Mu’awiyah menjawab:
دعني عنك [الاستيعاب لابن عبد البر 3/1108]
Menjauhlah engkau dariku. [Al-Istii’aab karya Ibnu Abdil Barr 3/1108]

Dan ketika Dhirar bin Dhamrah Al-Kinaniy menyebutkan sifat-sifat mulia Ali kepada Mu’awiyah, maka Mu’awiyah menagis mendengarnya dan berkata:
كَذَا كَانَ أَبُو الْحَسَنِ رَحِمَهُ اللهُ [حلية الأولياء وطبقات الأصفياء (1/ 85)]
Seperti itulah Abu Al-Hasan (Ali), semoga Allah merahmatinya. [Hilyatul Auliyaa’ karya Abu Nu’aim: 1/85]

Imam Al-Qurthubiy rahimahullah berkata:
«وهذا الحديث يدل على معرفة معاوية بفضل علي - رضي الله عنهما - ومنزلته، وعظم حقه ومكانته، وعند ذلك يَبْعُد على معاوية أن يصرح بلعنه وسبه، لَِما كان معاوية موصوفًا به من العقل والدين والحلم وكرم الأخلاق وما يروى عنه من ذلك فأكثره كذب لا يصح»
Hadits ini menunjukkan pengetahuan Mu’awiyah akan keutamaan Ali – radhiyallahu ‘anhuma – kedudukannya, keagungan hak dan tempatnya. Dengan demikian, jauh kemungkinan Mu’awiyah secara jelas melaknat dan mencacinya, karena Mu’awiyah memiliki sifat berakal, beragama, pemaaf, beraklak mulia. Dan apa yang diriwayatkan darinya tentang cacian dan laknat kepada Ali maka kebanyakannya adalah kebohongan yang tidak benar. [Al-Mufhim]

Bahkan Mu’awiyah sangat memuliakan anak-anak Ali radhiyallahu ‘anhum.

Suatu hari Al-Hasan bin Ali menemui Mu’awiyah, maka Mu’awiyah berkata kepadanya:
«مرحبًا وأهلًا بابن رسول الله - صلى الله عليه وآله وسلم -، ويأمر له بثلاثمائة ألف»
Selamat datang pada cucu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan ia memberinya uang 300 ribu. [Ath-Thabaqaat Al-Kubraa – mutammim Ash-Shahabah - karya Ibnu Sa’ad 1/397 no.367]

Wallahu a’lam!

Referensi:
الكتاب: معاوية بن أبي سفيان أمير المؤمنين وكاتب وحي النبي الأمين صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - كشف شبهات وردّ مفتريات ص228
المؤلف: شحاتة محمد صقر
الكتاب: معاوية بن أبي سفيان - شخصيته وعصره ص226
المؤلف: عَلي محمد محمد الصَّلاَّبي
الكتاب : الانتصار للصحب والآل من افتراءات السماوي الضال
المؤلف : إبرهيم بن عامر الرحيلي
الكتاب: الإصابة في الذب عن الصحابة رضي الله عنهم
المؤلف: الشيخ الدكتور مازن بن محمد بن عيسى




[1] Lihat biografi Abu Mu’awiyah dalam kitab: Miizaan Al-I’tidaal karya Adz-Dzahabiy 7/428, Taqriib At-Tahdziib karya Ibnu Hajar hal.475.
[2] Lihat: Taarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad-Duuriy 3/87, Jaami’ At-Tahshiil karya Al-‘Alaaiy hal.222, Tuhfah At-Tahshiil karya Abu Zur’ah Al-‘Iraqiy hal.197.
[3] Imam Bukhari mengatakan: Hadisnya ada sedikit kejangalan (fiihi nadzar). Adz-Dzahabiy mengatakan: Ada sesuatu (kelemahan dalam riwayatnya). Ibnu Hajar mengatakan: Ia shaduuq (haditsnya hasan). Lihat: At-Taarikh Al-Kabiir karya Imam Bukhariy 2/115, Adh-Dhu’afaa’ Al-Kabiir karya Al-‘Uqailiy 1/150, Al-Kaamil karya Ibnu ‘Adiy 3/42, Al-Kaasyif karya Ad-Dzahabiy 1/276, Taqriib At-Tahdziib karya Ibnu Hajar hal.128.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...