Kamis, 02 Januari 2014

Adab berkomunikasi

بسم الله الرحمن الرحيم


Beberapa adab dan tuntunan dalam berkomunikasi atau berbicara dengan orang lain:

Jauhi perkataan yang tidak berguna

{قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) ... وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ} [المؤمنون: 1 و 3]
Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) ... , dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. [Al-Mu’minuun: 1 dan 3]
{وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا} [الفرقان: 72]
Dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. [Al-Furqaan:72]
{وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ} [القصص: 55]
Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya. [Al-Qashash:55]

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا، وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ القِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالمُتَشَدِّقُونَ وَالمُتَفَيْهِقُونَ»
Sesungguhnya yang paling aku cintai dari kalian dan yang paling dekat dariku di hari kiamat adalah yang paling baik akhlaknya, dan sesungguhnya yang yang paling aku benci dari kalian dan paling jauh dariku di hari kiamat “ats-tsartsaruun” (yang banyak bicara), “al-mutasyaddiquun” (yang terlalu bergaya/berlebian cara berbicaranya), dan “al-mutafaihiquun”.
Sahabat bertanya: Ya Rasulullah, kami sudah tahu makna “ats-tsartsaruun” dan“al-mutasyaddiquun”, lalu apa makna “al-mutafaihiquun”?
Rasulullah menjawab:
«المُتَكَبِّرُونَ» [سنن الترمذي: صححه الألباني]
Orang yang sombong (dalam berbicara). [Sunan At-Tirmidziy: Sahih]

Dari Al-Mugirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
" إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلاَثًا: قِيلَ وَقَالَ، وَإِضَاعَةَ المَالِ، وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ " [صحيح البخاري ومسلم]
“Sesungguhnya Allah membenci dari kalian tiga perkara: Banyak bicara (yang tidak bermanfaat), menghambur-hamburkan harta, dan banyak meminta (bertanya)”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Bahaya ucapan

Mu’adz radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Wahai nabi Allah, apakah kita akan dihukum atas apa yang kita ucapkan? Rasulullah menjawab:
«يَا مُعَاذُ، وَهَلْ يَكُبُّ النَّاسَ فِي النَّارِ عَلَى وُجُوهِهِمْ أَوْ عَلَى مَنَاخِرِهِمْ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ» [سنن الترمذي: صححه الألباني]
“Wahai Mu’adz, apakah orang-orang berjalan di neraka dengan wajah dan hidungnya (tidak disiksa demikian) kecuali karena perbuatan lidahnya?” [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ، مَا يَتَبَيَّنُ مَا فِيهَا، يَهْوِي بِهَا فِي النَّارِ، أَبْعَدَ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Sungguh seorang hamba berbicara satu kalimat, ia tidak memikirkan kandungannya, akan menyebabkan ia terjerumus ke dalam neraka, lebih jauh dari jarak antara timur dan barat”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dalam riwayat lain:
«إِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَرْفَعُهُ اللَّهُ بِهَا دَرَجَاتٍ، وَإِنَّ العَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، لاَ يُلْقِي لَهَا بَالًا، يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّمَ» [صحيح البخاري]
“Sungguh seorang hamba berbicara satu kalimat yang diridhai Allah, tanpa ia pikirkan, menyebabkan Allah mengangkat derajatnya. Dan sungguh seorang hamba berbicara satu kalimat yang dimurkai Allah, tanpa ia pikirkan, menyebabkan ia terjerumus ke dalam neraka jahannam”. [Sahih Bukhari]

Semua ucapan dicatat

{مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ} [ق: 18]
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir. [Qaaf:18]
{وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا} [الكهف: 49]
Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: "Aduhai celaka kami, Kitab apakah Ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang Telah mereka kerjakan ada (tertulis). dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun". [Al-Kahfi:49]

Banyak bicara membosankan

Abu Wail rahimahullah berkata: Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu memberi nasehat kepada orang-orang setiap hari kamis, lalu seseorang bertanya: Wahai Abu Abdurrahman, aku mendambakan engkau menasehati kami setiap hari!
Ibnu Mas’ud menjawab:
أَمَا إِنَّهُ يَمْنَعُنِي مِنْ ذَلِكَ أَنِّي أَكْرَهُ أَنْ أُمِلَّكُمْ، وَإِنِّي أَتَخَوَّلُكُمْ بِالْمَوْعِظَةِ، كَمَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَخَوَّلُنَا بِهَا، مَخَافَةَ السَّآمَةِ عَلَيْنَا [صحيح البخاري ومسلم]
Sesungguhnya yang menghalangiku melakukan itu adalah aku tidak ingin membuat kalian bosan, dan aku memilih waktu untuk memberi nasehat sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih waktu untuk kami karena khawati kami bosan. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Khutbah yang singkat

Dari Ammar radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ طُولَ صَلَاةِ الرَّجُلِ، وَقِصَرَ خُطْبَتِهِ، مَئِنَّةٌ مِنْ فِقْهِهِ، فَأَطِيلُوا الصَّلَاةَ، وَاقْصُرُوا الْخُطْبَةَ، وَإِنَّ مِنَ الْبَيَانِ سِحْرًا» [صحيح مسلم]
“Sesungguhnya, panjang salat seseorang dan khutbahnya yang ringkas, menunjukkan kedalaman ilmu (pemahaman)nya, maka panjangkanlah salat kalian dan singkatkan khutbah, dan sesungguhnya dari penjelasan yang baik bisa menyihir (pendengarnya)”. [Sahih Muslim]

Singkat tapi padat

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أُعْطِيتُ جَوَامِعَ الْكَلِمِ [صحيح البخاري ومسلم]
Aku diberji “jawami’ul kalim” (perkataan singkat tapi mengandung makna yang luas). [Sahih Bukhari dn Muslim]
{وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ} [ص: 20]
Dan kami berikan kepadanya (Daud) hikmah dan kebijaksanaan dalam berbicara. [Shaad:20]
Yang dimaksud hikmah di sini ialah kenabian, kesempurnaan ilmu dan ketelitian amal perbuatan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedikit bicara

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
«كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ حَدِيثًا، لَوْ عَدَّهُ الْعَادُّ لَأَحْصَاهُ»
Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berbicara, dan seandainya ada orang yang menghitung kata-katanya maka ia pasti bisa. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Berbicara dengan jelas tidak terburu-buru

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَسْرُدُ سَرْدَكُمْ هَذَا، يَتَكَلَّمُ بِكَلَامٍ يٌبَيِّنُهُ فَصْلًا، يَحْفَظُهُ مَنْ سَمِعَهُ» [مسند أحمد: حسن]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berbicara cepat seperti kalian ini, ia berbicara dengan ucapan yang jelas, bisa dihafal oleh orang yang mendengarnya. [Musnad Ahmad: Hasan]

Mengulangi ucapan agar dipahami

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:
« كَانَ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَعَادَهَا ثَلاَثًا، حَتَّى تُفْهَمَ عَنْهُ، وَإِذَا أَتَى عَلَى قَوْمٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ، سَلَّمَ عَلَيْهِمْ ثَلاَثًا» [صحيح البخاري]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika berbicara terkadang mengulanginya sebanyak tiga kali sampai dipahami, dan jika mendatangi satu kaum kemudian memberi salam kepada mereka maka Rasulullah mengucapkan salam tiga kali. [Sahih Bukhari]

Berkata baik atau diam

{لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا} [النساء: 114]
Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keredhaan Allah, maka kelak kami memberi kepadanya pahala yang besar. [An-Nisaa’:114]

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ [صحيح البخاري ومسلم]
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari kiamat maka ucapkanlah yang baik atau diam”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ صَمَتَ نَجَا» [سنن الترمذي: صححه الألباني]
“Barangsiapa yang diam (dari perkataan buruk) maka ia akan selamat”. [Sunan Tirmidzi: Sahih]

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«لَيْسَ المُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الفَاحِشِ وَلَا البَذِيءِ» [سنن الترمذي: صححه الألباني]
“Orang beriman (yang sempurna imannya) tidak suka mencela, tidak suka melaknat, tidak berlaku jelek, dan tidak berkata buruk”. [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Anjuran menjaga mulut

Dari Sahl bin Sa’ad radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ يَضْمَنْ لِي مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الجَنَّةَ» [صحيح البخاري]
“Siapa yang menjamin untukku akan menjaga apa yang di antara kumis dan jenggotnya (mulut) dan di antara dua kakinya (kemaluannya) maka aku akan menjamin untukknya surga”. [Sahih Bukhri]

Ucapan mempengaruhi anggota badan yang lain

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
" إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُولُ: اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ، فَإِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا " [سنن الترمذي: حسنه الألباني]
“Jika anak cucu Adam memasuki waktu pagi, maka semua anggota tubuhnya tunduk kepada lidah dan berkata: Bertakwalah engkau (wahai lidah) kepada Allah terhadap kami, karena sesungguhnya kami tergantung engkau, maka jika engkau baik maka kami juga baik, dan jika engkau buruk maka kami juga buruk”. [Sunan Tirmidziy: Hasan]

Ucapkanlah kata-kata yang baik

{ وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا} [البقرة: 83]
Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia. [Al-Baqarah:83]
{وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا} [الإسراء: 53]
Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia. [Al-Israa’:53]
{إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ} [فاطر: 10]
Kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. [Faathir:10]
{أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (24) تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ (25) وَمَثَلُ كَلِمَةٍ خَبِيثَةٍ كَشَجَرَةٍ خَبِيثَةٍ اجْتُثَّتْ مِنْ فَوْقِ الْأَرْضِ مَا لَهَا مِنْ قَرَارٍ } [إبراهيم: 24- 26]
Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang Telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikitpun. [Ibrahim: 24-26]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَالكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ [صحيح البخاري ومسلم]
“Perkataan yang baik adalah sedekah”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari Adiy bin Hatim radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، فَإِنْ لَمْ تَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Jauhilah neraka walau hanya bersedekah dengan sepotong kurma, kalau tidak dapat maka dengan perkataan yang baik”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Perkataan yang baik datang dari orang yang baik

{الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ} [النور: 26]
Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). [An-Nuur:26]
Ayat ini bisa juga diartikan bahwa perkataan dan perbuatan yang baik datang dari orang yang baik, dan perkataan dan perbuatan yang buruk datang dari orang yang buruk.

Ucapan yang baik adalah hidayah dari Allah

{وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ الْقَوْلِ} [الحج: 24]
Dan mereka diberi petunjuk (oleh Allah) kepada ucapan-ucapan yang baik. [Al-Hajj:24]

Perkataan buruk dibalas dengan perkataan baik

{وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ} [فصلت: 34]
Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. [Fushilat:34]

Katakanlah perkataan yang benar

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا} [الأحزاب: 70، 71]
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. [Al-Ahzaab: 70-71]
{وَلْيَخْشَ الَّذِينَ لَوْ تَرَكُوا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعَافًا خَافُوا عَلَيْهِمْ فَلْيَتَّقُوا اللَّهَ وَلْيَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا} [النساء: 9]
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. [An-Nisaa’:9]

Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata: Kekasihku shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkanku akan tujuh hal, (diantaranya):
"وَأَمَرَنِي أَنْ أَقُولَ بِالْحَقِّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا" [مسند أحمد: صحيح]
“Dan beliau memerintahkanku agar aku mengucapkan kebenaran sekalipun akibatnya pahit”. [Musnad Ahmad: Sahih]

Jujur dalam perkataan

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ} [التوبة: 119]
Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur). [At-Taubah:119]

Dari Abdullah bin Mas’ud radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى البِرِّ، وَإِنَّ البِرَّ يَهْدِي إِلَى الجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُونَ صِدِّيقًا. وَإِنَّ الكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الفُجُورِ، وَإِنَّ الفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا» [صحيح البخاري ومسلم]
“Sesungguhnya kejujuran itu menuntun pada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu menuntun kepada surga. Dan sesungguhnya seseorang itu senantiasa jujur sampai menjadi orang yang sangat jujur. Dan sesungguhnya kebohongan itu menuntun pada keburukan, dan sesungguhnya keburukan itu menuntun pada neraka, dan sesungguhnyya seseorang senantiasa berbohong sampai ia dicatat di sisi Allas sebagai seorang pembohong”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari Abu Umamah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ» [سنن أبي داود: حسن]
“Saya menjamin sebuah rumah tepi surga bagi orang meninggalkan debat sekalipun ia benar, dan sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang tidak berbohong sekalipun hanya bergurau, dan rumah di atas surga bagi orang yang mulia akhlaknya”. [Sunan Abi Dawud: Hasan]

Tawadhu’ dalam berbicara

Dari ‘Iyadh bin Himar radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«وَإِنَّ اللهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ، وَلَا يَبْغِي أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ» [صحيح مسلم]
“Dan sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’ (rendah diri) sampai seseorang tidak sombong terhadap yang lainnya, dan seseorang tidak melampaui batas terhadap yang lainnya”. [Sahih Muslim]

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ» [صحيح مسلم]
“Dan seseorang tidak bersikap tawadhu demi Alla kecuali Allah akan mengangkat derajatnya”. [Sahih Muslim]

Jangan memuji diri kecuali diperlukan

{فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى} [النجم: 32]
Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci (memuji diri sendiri), Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. [An-Najm:32]
{أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ أَنْفُسَهُمْ بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا} [النساء: 49]
Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih (memuji diri sendiri)? Sebenarnya Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun. [An-Nisaa’:49]

Memanggil dengan panggilan yang baik

{وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ} [الحجرات: 11]
Dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. [Al-Hujuraat:11]

Menyampaikan sesuatu yang bisa dipahami pendengar

Ali bin Abi Thalib radiyallahu 'anhu berkata:
«حَدِّثُوا النَّاسَ، بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ، اللَّهُ وَرَسُولُهُ» [صحيح البخاري]
Sampaikanlah kepada orang-orang apa yang bisa ia pahami, sukakh kalian jika Allah dan rasul-Nya didustakan? [Sahih Bukhari]

Abdullah bin Mas'ud radiyallahu 'anhu berkata:
«مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ، إِلَّا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً» [صحيح مسلم]
Tidaklah kamu menyampaikan sesuatu kepada satu kaum yang belum bisa mereka pahami kecuali hal itu akan menjadi fitnah (cobaan dan masalah) bagi sebagian mereka. [Sahih Muslim]

Mu'adz bin Jabal radiyallahu 'anhu berkata: Suatu hari aku dibelakang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas himar yang disebut 'ufair, maka Rasulullah berkata:
«يَا مُعَاذُ، هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ، وَمَا حَقُّ العِبَادِ عَلَى اللَّهِ؟»
Wahai Mu'adz .. tahukah engkau apa hak Allah terhadap hamba-Nya dan apa hak hamba terhadap Allah?
Mu'adz menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.
Rasulullah menjawab:
«فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى العِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا، وَحَقَّ العِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا»
Sesungguhnya hak Allah terhadap hamba-Nya adalah tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, dan hak hamba terhadap Allah adalah tidak menyiksa orang-orang yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
Muadz bertanya: Ya Rasulullah, apakah tidak boleh aku menyampaikannya kepada orang-orang?
Rasulullah menjawab:
«لاَ تُبَشِّرْهُمْ، فَيَتَّكِلُوا» [صحيح البخاري ومسلم]
“Jangan engkau menyampaikannya kepada mereka, nanti mereka berserah diri (tidak mau beramal)”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Tidak menyampaikan semua yang pernah didengar

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ» [صحيح مسلم]
“Cukuplah seseorang dianggap berbohong jika ia menyampaikan semua yang pernah ia dengar”. [Sahih Muslim]

Tidak mengankat suara kecuali diperlukan

{وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ} [لقمان: 19]
Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai. [Luqman:19]

Tidak menyebarkan hal-hal yang buruk

{لَا يُحِبُّ اللَّهُ الْجَهْرَ بِالسُّوءِ مِنَ الْقَوْلِ إِلَّا مَنْ ظُلِمَ وَكَانَ اللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا } [النساء: 148]
Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. [An-Nisaa’:148]
Ucapan buruk seperti mencela orang, memaki, menerangkan keburukan-keburukan orang lain, menyinggung perasaan seseorang, berita-berita yang tidak baik dan sebagainya.
{إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ} [النور: 19]
Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak Mengetahui. [An-Nuur:19]

Jangan mendahului orang yang lebih tua berbicara

Anas bin Malik radiyallahu 'anhu berkata: Seorang yang sudah tua datang ingin menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi yang hadir lambat untuk melapangkan tempat untuknya, maka Rasulullah bersabda:
«لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا» [سنن الترمذي: صحيح]
“Bukan bagian dari kami bagi yang tidak merahmati yang masih muda dari kami dan tidak menghormati yang sudah tua dari kami”. [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Ketika Huwayyishah dan Muhayyishah radiyallahu 'anhuma datang kepada Rasulullah dan Muhayyishah lebih dahulu berbicara, Rasulullah bersabda:
«كَبِّرْ كَبِّرْ» [صحيح مسلم]
“Dahulukah yang lebih tua, dahulukan yang lebih tua”, maka Huwayyishah berbicara kemudian Muhayyishah. [Sahih Muslim]

Abaikan orang-orang bodoh yang tidak tahu sopan santun

{خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ} [الأعراف: 199]
Jadilah engkau pema'af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh. [Al-A’raaf:199]
{وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا} [الفرقان: 63]
Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan (mengabaikannya). [Al-Furqaan:63]

Seorang wanita tidak berbicara dengan suara yang bisa memancing niat buruk laki-laki

{فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا} [الأحزاب: 32]
Maka janganlah kamu (kaum wanita) tunduk (lemah lembut) dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya (ingin berbuat jahat) dan ucapkanlah perkataan yang baik. [Al-Ahzaab:32]

Berbicara dengan wanita dari balik tirai

{وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ} [الأحزاب: 53]
Dan apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (kaum wanita), maka mintalah dari belakang tabir. Cara yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. [Al-Ahzaab:53]

Wallahu a’lam!

Refrensi:


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...