Selasa, 27 Mei 2014

Perselisihan umur Nabi Isa

بسم الله الرحمن الرحيم


Ulama berselisih pendapat tentang umur Nabi Isa ‘alaihissalam, diantaranya:

Pendapat pertama: Bahwasanya umur Nabi Isa adalah seratus dua puluh tahun atau seratus dua puluh lima tahun.
Pendapat kedua: Bahwasanya Nabi Isa tinggal bersama kaumnya selama empat puluh tahun.
Pendapat ketiga: Bahwasanya nabi Isa diangkat ke langit pada usianya yang ke tiga puluh dua, atau tiga puluh tiga, atau tiga puluh empat tahun.

Landasan pendapat pertama: Hadits Aisyah, Zayd bin Arqam, dan Hudzaifah bin Asiid radhiyallahu ‘anhum.

1.      Adapun hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha:

Diriwayatkan melalui tiga jalur:

1)      Jalur Abi Ma’syar.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitabnya “Ath-Thabaqaat Al-Kubraa” 2/195:

عن أَبي مَعْشَرٍ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ زِيَادٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلم فِي السَّنَةِ الَّتِي قُبِضَ فِيهَا لِعَائِشَةَ: ... ، وَإِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيُّ إِلَّا عَاشَ نِصْفَ عُمْرِ أَخِيهِ الَّذِي كَانَ قَبْلَهُ ، عَاشَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ مِائَةً وَخَمْسًا وَعِشْرِينَ سَنَةً وَهَذِهِ اثْنَتَانِ وَسِتُّونَ سَنَةً . وَمَاتَ فِي نِصْفِ السَّنَةِ

Dari Abu Ma’syar, dari Yaziid bin Ziyaad, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada tahun ruhnya dicabut (wafat) kepada Aisyah: “ …, dan sesungguhnya tidak ada Nabi kecuali ia hidup seperdua umur saudaranya (nabi) sebelumnya. Isa bin Marya hidup selama seratus dua puluh lima tahun, dan ini umurku yang ke enam puluh dua”. Dan Rasulullah wafat pada pertengahan tahun.

Sanad ini sangat lemah, punya dua cacat:
a.       Abu Ma’syar, nama lengkapnya Najiih bin Abdirrahman As-Sindiy Al-Madaniy (w.170)[1]. Al-Bukhariy mengatakan: Haditsnya mungkar. Ibnu Hajar berkata: Periwayatan haditsnya lemah, pikun dan hafalannya kacau.
b.      Sanadnya terputus, karena Yaziid bin Ziyad Al-Madaniy[2] seorang pengikut tabi’in yang tsiqah, tidak pernah bertemu Aisyah apalagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2)      Jalur Ibnu Lahi’ah.

Diriwayatkan oleh Ad-Dulabiy dalam kitabnya “Adz-Dzurriyah Ath-Thahirah” no.186:

عن عُثْمَان بْن سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ رَبِيعَةَ، عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ الْأَسْوَدِ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: دَخَلْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَفَاطِمَةُ بِنْتُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَاجَاهَا فَلَمَّا فَرَغَ بَكَتْ ثُمَّ نَاجَاهَا الثَّانِيَةَ فَضَحِكَتْ فَلَمَّا خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ: مَا رَأَيْتُ ضَحِكًا أَقْرَبَ مِنْ بُكَاءٍ مِنَ الْيَوْمِ فَسَأَلْتُهَا فَقَالَتْ: مَا كُنْتُ لِأُطْلِعَكِ عَلَى سِرِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا تُوُفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَأَلْتُهَا فَقَالَتْ: قَالَ: «مَا بُعِثَ نَبِيُّ إِلَّا كَانَ لَهُ مِنَ الْعُمُرِ مِثْلُ نِصْفِ عُمُرِ الَّذِي كَانَ قَبْلَهُ وَقَدْ بَلَغْتُ الْيَوْمَ نِصْفَ عُمُرِ مَنْ كَانَ قَبْلِي» ، ثُمَّ قَالَ لِي: «إِنَّكِ سَيِّدَةُ نِسَاءِ الْجَنَّةِ إِلَّا مَرْيَمَ بِنْتَ عِمْرَانَ»

Dari ‘Utsman bin Sa’id, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah; Dari Ja’far bin Rabi’ah, dari Abdul Malik bin Ubaidillah bin Al-Aswad, dari ‘Urwah, dari Aisyah, ia berkata: Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersama Fathimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian beliau berbisik kepadanya.  Setelah selesai berbisik, Fathimah menangis, kemudian dibisik lagi kedua kalinya maka Fathimah tertawa. Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar, aku bertanya kapada Fathimah: Aku tidak pernah melihatmu tertawa sesaat setelah engkau menangis pada hari ini, kemudian aku menanyainya. Maka Fathimah berkata: Aku tidak akan membeberkan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, aku kembali menanyainya, maka ia menjawab: Rasulullah bersabda: “Tidaklah seorang Nabi diutus kecuali umurnya seperti seperdua umur Nabi sebelumnya, dan aku telah mencapai pada hari ini seperdua umur Nabi sebelumku”, kemudian bersabda kepadaku: “Sesungguhnya engkau adalah tuannya wanita surga kecuali Maryam binti ‘Imran”.

Diriwayatkan juga oleh Al-Bazzaar dalam musnad-nya, sebagaimana disebutkan dalam “Kasyful Astaar” 1/398 no.846:

قال: حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، ثنا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ، ثنا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ رَبِيعَةَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الأَسْوَدِ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: ... (مثل لفظ الدولابي) .

Al-Bazzaar berkata: Telah menceritakan kepada kami, Umar bin Al-Khathab; Telah menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Maryam; Telah menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah; Dari Ja’far bin Rabi’ah, dari Abdullah bin Abdillah bin Al-Aswad, dari ‘Urwah, dari ‘Aisyah, ia berkata: … (seperti lafadz hadits Ad-Duulabiy)

Diriwayatkan juga secara mursal, oleh Ath-Thabariy dalam tafsirnya surah Ali ‘Imran ayat 42, 5/359:

عن أَبي الْأَسْوَدِ الْمِصْرِيّ، قَالَ: ثنا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ غَزِيَّةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ، أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ حُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ، حَدَّثَتْهُ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا وَأَنَا عِنْدَ عَائِشَةَ، ... به نحوه ، وفيه : « ... وَإِنَّهُ لَيْسَ مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا عُمِّرَ نِصْفَ عُمُرِ الَّذِي كَانَ قَبْلَهُ، وَإِنَّ عِيسَى أَخِي كَانَ عُمِّرَ عِشْرِينَ وَمِائَةَ سَنَةٍ، وَهَذا لِي سِتُّونَ، وَأَحْسَبُنِي مَيِّتًا فِي عَامِي هَذَا، ... »

Dari Abi Al-Aswad Al-Mishriy, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah, dari ‘Umarah bin Gaziyyah, dari Muhammad bin Abdirrahman bin ‘Amr bin Utsman; Bahwasanya Fathimah binti Husain bin Ali menceritakan kepadanya; Bahwasanya Fathimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang pada suatu hari saat aku bersama Aisyah, … (dengan lafadz hadits yang mirip): “ … Dan sesungguhnya tidak ada Nabi kecuali diberi umur seperdua dari umur Nabi sebelumnya, dan sesungguhnya ‘Isa saudaraku berumur seratus dua puluh tahun, dan sekarang aku berumur enam puluh, dan aku merasa akan wafat tahun ini, … “.

Sanad ini terputus, Fathimah binti Husain bin Ali[3] (w. setelah thn 100H) tidak pernah bertemu dengan Fathimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

3)      Jalur Ibni Abi Maryam, dari Naafi’ bin Yaziid.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitabnya “Al-Ahaad wa Al-Matsaniy” 5/369 no.2970:

قال: حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، نا ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ، عَنْ نَافِعِ بْنِ يَزِيدَ، حَدَّثَنِي ابْنُ غَزِيَّةَ يَعْنِي عُمَارَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ، أَنَّ أُمَّهُ فَاطِمَةُ ابْنَةُ الْحَسَنِ حَدَّثَتْهُ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَتْ تَقُولُ: إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ لِفَاطِمَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: ... إِنَّ جِبْرِيلَ عَلَيْهِ السَّلَامُ ... أَخْبَرَهُ أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ إِلَّا عَاشَ نِصْفَ عُمْرِ الَّذِي كَانَ قَبْلَهُ ، وَأَنَّهُ أَخْبَرَنِي أَنَّ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ عَلَيْهِمَا السَّلَامُ عَاشَ عِشْرِينَ وَمِائَةَ سَنَةٍ ، وَلَا أُرَانِي إِلَّا ذَاهِبًا عَلَى رَأْسِ سِتِّينَ ...

Ibnu Abi ‘Ashim berkata: Telah menceritakan kepada kami, Umar bin Al-Khathab; Telah memberitakan kepada kami, Ibnu Abi Maryam, dari Nafi’ bin Yaziid; Telah menceritakan kepada kami Ibnu Gaziyyah – yaitu ‘Umarah -, dari Muhammad bin Abdillah bin ‘Amr bin Utsman; Bahwasanya Ibunya yaitu Fathimah binti Al-Hasan menceritakan kepadanya; Bahwasanya Aisyah istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada hari sakitnya sebelum wafat kepada Fathimah radhiyallahu ‘anha“… Sesungguhnya Jibril ‘alaihissalam .. memberitakan kepadanya (Rasulullah) bahwasanya tidak ada Nabi kecuali ia hidup seperdua umur Nabi sebelumnya, dan bahwasnya Rasulullah memberitahukan kepadaku bahwasanya ‘Isa bin Maryam ‘alaihimassalam hidup seratus dua puluh tahun, dan aku tidak melihat kecuali akan wafat pada umurku yang ke enam puluh“.

Dan Ath-Thabaraniy dalam kitabnya “Al-Mu’jam Al-Kabiir” 22/418 no.1031:

قال : حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ الْعَلَّافُ الْمِصْرِيُّ، ثنا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ ... به ، نحوه .

Ath-Thabaraniy berkata: Telah menceritakan kepada kami, Yahya bin Ayyub Al-‘Allaaf Al-Mishriy; Telah menceritakan kepada kami, Ibnu Abi Maryam, … dan sanad selanjutnya, dengan lafadz yang mirip.

Al-Haitsamiy dalam kitabnya “Majma’ Az-Zawaid” berkata: Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dengan sanad yang lemah, dan diriwayatkan juga oleh Al-Bazzaar sebagiannya dan pada perawinya ada kelemahan. [9/23 no.14245]

Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Perawi hadits ini tsiqah sampai ke Muhammad bin Abdillah bin ‘Amr bin Utsman bin ‘Affan yang lebih dikenal dengan Ad-Diibaaj. [Al-Arba’in Al-Mutabayinah As-Simaa’ hal. 103]
Syekh Albaniy mengatakan: Sanad ini ada kelemahanMuhammad bin Abdillah ini, Adz-Dzahabiy berkata: Ia di-tsiqah-kan oleh An-Nasa’iy, dan pernah mangatakan: Periwayatannya tidak kuat. Dan Imam Bukhariy berkata: “Hampir tidak ada yang mendukungnya dalam haditsnya”.
Oleh sebab itu Al-Hafidz Ibnu Katsir berkata dalam “Al-Bidayah” (2/95): “Hadits ini gariib, Ibnu ‘Asakir berkata: Dan yang benar bahwasanya ‘Isa tidak sampai pada umur ini”.
Begitu pula Al-Hafidz Ibnu Hajar mengisyaratkan akan lemah-nya hadits ini dengan perkataannya dalam “Al-Fath” (6/384): “Dan diperselisihkan pada umurnya ketika diangkat ke langit, maka ada yang mengatakan berumur tiga puluh tiga, dan ada yang mengatakan seratus dua puluh!”
Kemudian aku mendapatkan jalur lain dari hadits ini dari Aisyah; Diriwayatkan oleh Ibnu Lahi’ah dari Ja’far bin Rabi’ah, dari Abdullah bin Abdillah bin Al-Aswad, dari ‘Urwah dari Aisyah, dalam kisah masuknya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Sayyidah Fathimah dan bisikannya kemudian ia menangis kemudian tertawa. Diriwayatkan oleh Al-Bazzar dalam musnadnya (1/398/849).
Dan Ibnu Lahi’ah[4] seorang yang lemah, pemilik riwayat-riwayat yang kacau, dan diantaranya adalah hadits ini, dan itu adalah sebab menangisnnya. Karena sesungguhnya kisah ini diriwayatkan dalam “Ash-Shahihain” dari Aisyah tanpa menyebutkan lafadz hadits ini. [Silsilah Al-Ahadiits Adh-Dha’ifah 9/425]
Muhammad bin Abdillah bin ‘Amr bin Utsman bin ‘Affan Al-Qurasyiy Al-Umawiy, Abu Abdillah Al-Madaniy yang dikenal dengan Ad-Diibaaj (w.145H)[5]. Di-tsiqah-kan oleh Al-‘Ijliy. Dan Al-Bukhari berkata: Ia memiliki riwayat-riwayat yang aneh. Dan Ibnu Hajar berkata: Ia shaduuq.
2.      Adapun hadits Zayd bin Arqam radhiyallahu ‘anhu:
Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dalam kitabnya “At-Taariikh Al-Kabiir” 7/244, Al-Bazzar dalam kitabnya “Al-Musnad” (Kasyful Astaar 3/101 no.2341), Ibnu ‘Adiy dalam kitabnya “Al-Kaamil” 6/82, dan Abu Nu’aim dalam kitabnya “Hilyatul Auliyaa’” 5/68:
عن عُبَيد العَطّار، قال: حدَّثنا كَامِلٌ، قَالَ: أَخبرني حَبِيب بْنُ أَبي ثَابِتٍ، عَنْ يَحيى بْنِ جَعدَة، عَنْ زَيد بْنِ أَرقَم، قَالَ: قَالَ النَّبيُّ صَلى اللَّهُ عَلَيه وسَلم: مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلاَّ عاشَ نِصفَ مَا عاشَ النَّبيُّ الَّذِي كَانَ قَبلَهُ."
Dari ‘Ubaid Al-‘Athaar, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami, Kaamil; Ia berkata: Telah memberitahukan kepadaku, Habiib bin Abi Tsabit, dari Yahya bin Ja’dah, dari Zayd bin Arqam, ia berkata: Nabi shallallahlu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah tidak mengutus seorang Nabi kecuali ia hidup seperdua umur Nabi sebelumnya”.
Hadits ini disebutkan oleh As-Suyuthiy dalam kitabnya “Al-Jami’ Ash-Shagiir” no.7855, dan ia me-lemah-kannya.
Sedangkan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam “Al-Arba’iin” (hal.102), dan diikuti oleh As-Sakhawiy dalam “Al-Maqashid Al-Hasanah” (no.944) mengataan: Sanadnya hasan karena diperkuat dengan sanad lain, akan tetapi hal ini disanggah dengan apa yang diriwayatkan tentang umur ‘Isa ‘alaihissalam.
Syekh Albaniy mengatakan: Cacat hadits ini dari Al-‘Athahr[6]; karena seseungguhnya ia sangat lemah. Al-Bukhariy mengatakan: Haditsnya mungkar. An-Nasa’iy dan Al-Azdiy mengatakan: Haditsnya ditolak. Dan selain keduanya juga melemahkannya.
Adapun Abu Hatim, maka ia meridhai riwayatnya sebagaimana dikatakan oleh Adz-Dzahabiy. Dan Al-Hafidz (Ibnu Hajar) mengatakan: Adapun lafadz Abi Hatim “ ما رأينا إلا خيراً ، وما كان بذاك الثبت في حديثه بعض الإنكار “kami tidak melihatnya kecuali baik akan tetapi ia tidak begitu kuat, dalam haditsnya ada sebagian yang diingkari”. Dan Ibnu Al-Jaaruud mengatakan: Ia dikenal dengan ‘Athaar Al-Muthlaqaat, dan hadits-hadits yang ia riwayatkan adalah bathil. [Silsilah Al-Ahadiits Adh-Dha’ifah 9/424]
Dari jalur yang lain:
Diriwayatkan oleh Ad-Dulabiy dalam kitabnya “Adz-Dzurriyah Ath-Thahirah” no.187:
قال: حَدَّثَنِي النَّضْرُ بْنُ سَلَمَةَ، عَنْ كَامِلٍ أَبِي الْعَلَاءِ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ جَعْدَةَ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَا مِنْ نَبِيٍّ إِلَّا الَّذِي بَعْدَهُ يَعِيشُ نِصْفَ عُمُرِهِ»
Ad-Duulabiy berkata: Telah menceritakan kepadaku, An-Nadzr bin Salamah, dari Kaamil Abi Al-‘Alaa’, dari Habib bin Abi Tsabit dari Yahya bin Ja’dah, dari Zayd bin Arqam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada seorang Nabi kecuali Nabi setelahnya hidup seperdua dari umurnya”.
Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabaraniy dalam “Al-Mu’jam Al-Kabiir” 5/171 no.4986, dan Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak” 3/613 no.6272:
عن أَبي نُعَيْمٍ، ثنا كَامِلُ أَبُو الْعَلَاءِ، قَالَ: سَمِعْتُ حَبِيبَ بْنَ أَبِي ثَابِتٍ، يُحَدِّثُ، عَنْ يَحْيَى بْنِ جَعْدَةَ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ، قَالَ: خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَتَّى انْتَهَيْنَا إِلَى غَدِيرِ خُمٍّ ... وَقَالَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّهُ لَمْ يُبْعَثْ نَبِيٌّ قَطُّ إِلَّا عَاشَ نِصْفَ مَا عَاشَ الَّذِي كَانَ قَبْلَهُ، وَإِنِّي أُوشِكُ أَنْ أُدْعَى فَأُجِيبَ، ... »
Dari Abu Nu’aim; Telah menceritakan kepada kami, Kaamil Abu Al-‘Alaa’, ia berkata: Aku mendengar Habiib bin Abi Tsabit menceritakan dari Yahya bin Ja’dah, dari Zayd bin Arqam, ia berkata: Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai kami tiba di Gadiir Khum …, dan Rasulullah bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya tidak diutus seorang Nabi pun kecuali ia hidup seperdua umur Nabi sebelumnya, dan sesungguhnya aku khawatir aku akan dipanggil (wafat) maka aku menjawabnya …”.
Al-Hakim mengatakan: Hadits ini sanadnya shahih, dan Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya.
Adz-Dzahabiy dalam “At-Talkhiish” mengatakan: Shahih.
Sanad hadits ini lemah, karena dua cacat:
1)      Kaamil bin Al-‘Alaa’ At-Tamimiy As-Sa’diy, Abu Al-‘Alaa’ Al-Kuufiy[7]. Di-tsiqah-kan oleh Ibnu Ma’in dan Ya’quub bin Sufyaan.
Sedangkan An-Nas’iy berkata: Ia tidak kuat. Di tempat lain mengatakan: ليس به بأس “Tidak mengapa”.
Ibnu ‘Adiy berkata: Aku melihat sebagian riwayatknya ada beberapa yang aku ingkari, dan aku berharap ia tidak mengapa.
Ibnu Sa’ad berkata: Haditsnya sedikit, ليس بذاك “tidak begitu kuat”.
Ibnu Al-Mutsanna berkata: Aku tidak pernah mendengar Ibnu Mahdiy menyampaikan hadits darinya sedikitpun.
Ibnu Hibban berkata: Ia termasuk orang yang suka membolak-balikan sanad, menyambung hadits yang terputus tanpa ia sadari, maka batallah berhujjah dengan pemberitaannya.
Ibnu Hajar mengatakan: Ia shaduuq, terkadang melakukan kesalahan.
2)      Habiib bin Abi Tsabit Al-Kuufiy (w.119H); Disebutkan oleh Ibnu Hajar pada derajat ketika dari tingkatan orang-orang yang melakukan tadliis (menjatuhkan gurunya), dan mengatakan: Ia seorang Tabi’iy, terkenal, banyak melakukan tadliis sebagaimana diklaim oleh Ibnu Khuzaimah, Ad-Daraquthniy, dan selainnya. [Thabaqaat Al-Mudallisiin hal.37]
Dengan demikian sanad ini terputus, karena Habiib hanya memakai lafadz (عن) yang tidak menunjukkan bahwa ia mendengar hadits ini langsung dari gurunya.
3.      Adapun hadits Hudzaifah bin Asiid radhiyallahu ‘anhu:
Diriwayatkan oleh Ath-Thabaraniy dalam kitabnya “Al-Mu’jam Al-Kabiir” 3/180 no.3052:
عن زَيْد بْن الْحَسَنِ الْأَنْمَاطِيّ، ثنا مَعْرُوفُ بْنُ خَرَّبُوذَ، عَنْ أَبِي الطُّفَيْلِ، عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ أَسِيدٍ الْغِفَارِيِّ، قَالَ: لَمَّا صَدَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ حَجَّةِ الْوَدَاعِ ...، ثُمَّ قَامَ فَقَالَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّي قَدْ نَبَّأَنِيَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ أَنَّهُ لَمْ يُعَمَّرْ نَبِيٌّ إِلَّا نِصْفَ عُمْرِ الَّذِي يَلِيهِ مِنْ قَبْلِهِ، وَإِنِّي لَأَظُنُّ أَنِّي يُوشِكُ أَنْ أُدْعَى فَأُجِيبَ، ...
Dari Zayd bin Al-Hasan Al-Anmathiy; Telah menceritakan kepada kami, Ma’ruuf bin Kharrabuudz, dari Abi Ath-Thufail, dari Hudzifah bin Asiid Al-Gifariy, ia berkata: Ketika Rasulullah berangkat dari Haji Al-Wadhaa’ …, kemudian beliau  berdiri dan bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku telah diberi tahu oleh Al-Lathiif Al-Khabiir (Allah) bahwasanya seorang Nabi tidak diberi umur kecuali seperdua umur Nabi sebelumnya, dan sesungguhnya aku mengira bahwasanya aku akan dipanggil (wafat) maka aku menjawabnya …”
Al-Haitsamiy mengatakan: Dalam sanadnya ada Zaiy bin Al-Hasan Al-Anmathiy[8], Abu Hatim berkata: Haditsnya mungkar, sedangkan Ibnu Hibban men-tsiqah-kannya. Dan perawi lainnya semuanya tsiqah. [Majma’ Az-Zawaid 9/165 no.14967]
Syekh Albaniy mengatakan: Sanad ini lemah karena Al-Anmathiy; Abu Hatim berkata: Haditsnya mungkar, sedangkan Ibnu Hibban menyebutkannya dalam “Ats-Tsiqaat”! Dan Al-Hafidz tidak menerimanya dan mengatakan dalam “At-Taqriib”: Ia lemah. [Silsilah Al-Ahaadits Adh-Dha’ifah 10/679]
Landasan pendapat kedua: Hadits Zayd bin Arqam radhiyallahu ‘anhu, dan hadits Yahya bin Ja’dah dan Ibrahim An-Nakha’iy secara mursal.
1.      Adapun hadits Zayd bin Arqam radhiyallahu ‘anhu:
Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dalam kitabnya “At-Taariikh Al-Kabiir” 8/145 no.2507:
قال: قال مُسلم: حدَّثنا نُوح بن قَيس، حدَّثنا الوَلِيد، عَنِ ابْنِ امْرَأَةِ زَيد بْن أَرقَم، عَن زَيدِ بنِ أَرقَمَ، عَنِ النَّبيِّ صَلى الله عَلَيه وسَلم؛ لَبِثَ عِيسَى ابنُ مَريَمَ فِي قَومِهِ أَربَعِينَ سَنَةً.
Imam Bukhari berkata: Muslim berkata: Telah menceritakan kepada kami, Nuh bin Qais; Telah menceritakan kepada kami, Al-Waliid, dari Ibnu Imra’ah Zayd bin Arqam, dari Zayd bin Arqam, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“Isa bin Maryam tinggal pada kaumnya selama empat puluh tahun”.
Syekh Albaniy berkata: Sanad ini lemah karena Ibnu Imra’ah Zayd bin Arqam tidak diketahui (majhuul). Dan Al-Waliid[9] adalah Ibnu Shalih, Al-Bukhari menyebutkan hadits ini dalam biografinya dan tidak menyebutkan padanya celaan ataupun pujian. Begitu pula dengan Ibnu Abi Hatim menyebutkan biografinya, maka ia adalah seorang yang majhuul sekalipun Ibnu Hibban menganggapnya tsiqah (5/491 dan 7/551). Dan aku telah mendapatkan syahid untuk hadits ini, akan tetapi sanadnya mursal. [Silsilah Al-Ahaadits Adh-Dha’ifah 12/780 no.5859]
2.      Adapun hadits Yahya bin Ja’dah rahimahullah secara mursal:
Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitabnya “Ath-Thabaqaat” 2/308, dan Ishak bin Rahawaih dalam musnad-nya 5/9 no.8-2105:
عن حَمَّاد بْن سَلَمَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ جَعْدَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صلّى الله عليه وسلم قَالَ: «يَا فَاطِمَةُ، إِنَّهُ لَمْ يُبْعَثْ نَبِيٌّ إِلَّا عُمِّرَ الَّذِي بَعْدَهُ نِصْفَ عُمْرِهِ , وَإِنَّ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ بُعِثَ لِأَرْبَعِينَ، وَإِنِّي بُعِثْتُ لِعِشْرِينَ»
Dari Hammad bin Salamah, dari ‘Amr bin Diinaar, dari Yahya bin Ja’dah; Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Wahai Fathimah, sesungguhnya tidak diutus seorang Nabi kecuali diberi umur Nabi setelahnya seperdua dari umurnya, dan sesungguhnya ‘Isa bin Maryam diutus selama empat puluh tahun, dan sesungguhnya aku diutus selama dua puluh tahun”.
Dan Abu Ya’laa dalam musnad-nya 12/110 no.6742:
قال: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ الْأَسْوَدَ، حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ مُحَمَّدٍ الْعَنْقَزِيُّ، حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنْ يَحْيَى بْنِ جَعْدَةَ قَالَ: قَالَتْ فَاطِمَةُ بِنْتُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ مَكَثَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ أَرْبَعِينَ سَنَةً»
Abu Ya’laa berkata: Telah menceritakan kepada kami, Al-Husain bin Al-Aswad; Telah menceritakan kepada kami, ‘Amr bin Muhammad Al-‘Angqaziy; Telah menceritakan kepada kami, Ibnu ‘Uyainah, dari ‘Amr bin Diinaar, dari Yahya bin Ja’dah, ia berkata: Fathimah binti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Sesungguhnya ‘Isa Ibnu Maryam tinggal pada Bani Israil selama empat puluh tahun”.
Al-Haitsamiy berkata: Al-Husain bin ‘Ali bin Al-Aswad[10]; periwayatannya dilemahkan oleh Al-Azdiy, dan ditsiqah-kan oleh Ibnu Hibban. Sedangkan Yahya bin Ja’dah[11] tidak bertemu dengan Fathimah. [Majma’ Az-Zawaid 8/206 no.13793]
Diriwaytkan juga oleh Ibnu Syaahiin dalam “Fadhail Fathimah” no.7:
قال : حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْبَغَوِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ الْمَكِّيُّ، ثنا سُفْيَانُ، عَنْ عَمْرٍو، عَنْ يَحْيَى بْنِ جَعْدَةَ قَالَ: دَعَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَامُ فِي مَرَضِهِ الَّذِي تُوُفِّيَ فِيهِ فَسَارَّهَا بِشَيْءٍ فَبَكَتْ ثُمَّ سَارَّهَا فَضَحِكَتْ فَسَأَلُوهَا فَأَبَتْ أَنْ تُخْبِرَ فَلَمَّا قُبِضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَتْهُمْ قَالَتْ: دَعَانِي فَقَالَ لِي: إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى لَمْ يَبْعَثْ نَبِيًّا إِلَّا وَقَدْ عَمَّرَ الَّذِي بَعْدَهُ نِصْفَ عُمُرِهِ وَإِنَّ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ لَبِثَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ أَرْبَعِينَ سَنَةً وقد بقى لى عشرين وَلَا أُرَانِي إِلَّا مَيِّتٌ فِي مَرَضِي هَذَا ...
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata setelah menyebutkan riwayat Ishaq bin Rahawaih: “Maknanya adalah umur dalam masa kenabian”. [Al-Mathalib Al-‘Aliyah 14/271]
Syekh Albaniy berkata: Hadits ini cacatnya karena terputus (mursal); … .
Telah diriwayatkan juga oleh Ibnu ‘Asakir dari jalur Al-A’masy dari Ibrahim berkata: … kemudian ia menyebutkanya dari perkataan Ibrahiim (maqthuu’) – yaitu Ibnu Yaziid An-Nakha’iy - .
Dan kemungkinan ini yang lebih sahih; karena juga telah shahih bahwasanya masa ini (40 tahun) adalah masa tinggalnya ‘Isa ‘alaihissalam setelah turunnya ke bumi. [Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dha’ifah 12/780]
3.      Adapun hadits Ibrahim An-Nakha’iy (w.196H) rahimahullah secara mursal:
Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dalam “Ath-Thabaqaat” 2/308:
قال: أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَسَدِيُّ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلم: «يَعِيشُ كُلُّ نَبِيٍّ نِصْفَ عُمُرِ الَّذِي قَبْلَهُ، وَإِنَّ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ مَكَثَ فِي قَوْمِهِ أَرْبَعِينَ عَامًا»
Ibnu Sa’ad berkata: Telah memberitakan kepada kami, Muhammad bin Abdillah Al-Asadiy; Telah memberitakan kepada kami, Sufyan Ats-Tsauriy, dari Al-A’masy, dari Ibrahim, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Semua Nabi hidup seperdua umur Nabi sebelumnya, dan sesungguhnya Isa Ibnu Maryam menetap pada kaumnya selama empat puluh tahun”.
Sanad hadits ini lemah karena terputus (mursal); Ibrahim bin Yaziid An-Nakha’iy[12] seorang tabi’in muda, tidak pernah bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Diriwayatkan juga secara maqthuu’ dari perkataan Ibrahim:
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam kitabnya “Taariikh Dimasyq” 47/483-484:
عن محمد بن أحمد بن الحسن حدثنا محمد بن عثمان بن أبي شيبة حدثنا أبي حدثنا عثمان حدثنا جرير عن الأعمش عن إبراهيم قال : لم يكن نبي إلا عاش مثل نصف عمر صاحبه الذي كان قبله وعاش عيسى في قومه أربعين سنة .
وعن أبي علي بن الصواف حدثنا محمد بن عثمان بن أبي شيبة حدثنا أبي حدثنا معاوية بن هشام حدثنا سفيان عن الأعمش عن إبراهيم قال : مكث عيسى في قومه أربعين عاما .
Landasan pendapat ketiga: Hadits Anas dan Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhum secara marfuu’, dan atsar Wahb bin Munabbih, Sa’idh bin Musayyab, dan Al-Hasan Al-Bashriy.
1.      Adapun hadits Anas radhiyallahu ‘anhu:
Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunya dalam kitabnya “Shifatul Jannah” no.210:
عن رَوَّاد بْنُ الْجَرَّاحِ الْعَسْقَلَانِيّ، ثنا الْأَوْزَاعِيُّ، عَنْ هَارُونِ بْنِ رِئَابٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ عَلَى طُولِ آدَمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ سِتُّونَ ذِرَاعًا بِذِرَاعِ الْمَلَكِ ، عَلَى حُسْنِ يُوسُفَ ، عَلَى مِيلَادِ عِيسَى ثَلَاثٌ وَثَلَاثُونَ سَنَةً، وَعَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُرْدٌ مُرْدٌ مُكَحَّلُونَ»
Dari Rawwaad bin Al-Jarraah Al-‘Asqalaniy; Telah menceritakan kepada kami, Al-Auza’iy; Dari Harun bin Ri’ab, dari Anas bin Malik, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Penduduk surga memasuki surga dengan tinggi seperti Nabi Adam ‘alaihissalam enam puluh dziraa’, dengan dzira’ Malaikat, dengan kecantikan Yusuf, dengan umur Isa tiga puluh tiga tahun, dan dengan bahasa Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak ada bulu di seluruh tubuh, muda tidak berjenggot, dan sisi matanya hitam seperti memakai celak”.
Syekh Albaniy berkata: Rawaad[13] lemah, akan tetapi didukung oleh Umar bin Abdil Wahid dari Al-Auza’iy dengan sanad ini, tanpa penyebutan Yusuf dan ‘Isa (pada matannya). [Silsilah Al-Ahadiits Ash-Shahihah 6/46]
Dengan demikian maka penyebutan lafadz Yusuf dan Isa dalam hadits ini adalah mungkar, karena tidak disebutkan dalam riwayat lain yang sahih.
2.      Adapun hadits Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim Al-Ashbahaniy dalam kitabnya “Shifatul Jannah” 2/106:
عن جَعْفَر بْن جَسْرِ بْنِ فَرْقَدٍ الْقَصَّاب، ثنا أَبِي، عَنْ أَبِي رَجَاءٍ , عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ شَبَابٌ مُرْدٌ مُكَحَّلُونَ أَبْنَاءُ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ سَنَةً، لَا يَبُولُونَ، وَلَا يَتَغَوَّطُونَ، وَإِنَّمَا هُوَ جُشَاءٌ، وَرَشْحٌ كَرَشْحِ مِسْكٍ، يَخْرُجُ مِنْ جُلُودِهِمْ، عَلَى مِيلَادِ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ
Dari Ja’far bin Jasr bin Farqad Al-Qashshaab; Telah menceritakan kepada kami, bapakku; Dari Abi Rajaa’, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya penduduk surga adalah anak muda, tidak berjenggot, sisi matanya hitam seperti memakai celak, berumur tiga puluh tiga tahun, tidak kencing, tidak berak, yang keluar hanya angin dan keringat seperti bau kasturi yang keluar dari kulit mereka, umurnya seperti umur ‘Isa ‘alaihissalam”.
Sanad hadits ini sangat lemah; karena Ja’far bin Jasr bin Farqad Al-Bashriy[14]. Abu Hatim berkata: Ia seorang syeh. Adz-Dzahabiy berkata: Ia termasuk orang yang dipertimbangkan haditsnya, akan tetapi ia memiliki riwayat-riwayat mungkar dari bapaknya, dan bapaknya (Jasr) juga lemah. Ibnu ‘Adiy berkata: Hadits-haditsnya mungkar. Dan Al-Azdiy berkata: Orang –orang berkata buruk padanya. [Taariikh Al-Islam karya Adz-Dzahabiy 5/288]
Dan Jasr bin Farqad, Abu Ja’far Al-Bashriy Al-Qashaab[15]. Yahya berkata: Bukan apa-apa, dan tidak dicatat haditsnya. An-Nasa’iy dan Ad-Daraquthny mengatakan: Ia lemah. Ibnu Hibban berkata: Ia keluar dari batasan “Al-‘Adalah”. Dan Ibnu ‘Adiy berkata: Riwayat-riwayatnya secara umum tidak terjaga (lemah). 
3.      Adapun Atsar Wahb bin Munabbih rahimahullah:
Diriwayatkan oleh Ath-Thabariy dalam tafsirnya surah Ali ‘Imran ayat 49, 5/424:
قال: حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلِ بْنِ عَسْكَرٍ، قَالَ: ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَبْدِ الْكَرِيمِ، قَالَ: ثني عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ مَعْقِلٍ أَنَّهُ سَمِعَ وَهْبَ بْنَ مُنَبِّهٍ، يَقُولُ: «لَمَّا صَارَ عِيسَى ابْنَ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ سَنَةً أَوْحَى اللَّهُ إِلَى أُمِّهِ وَهِيَ بِأَرْضِ مِصْرَ، وَكَانَتْ هَرَبَتْ مِنْ قَوْمِهَا حِينَ وَلَدَتْهُ إِلَى أَرْضِ مِصْرَ أَنِ اطْلُعِي بِهِ إِلَى الشَّامِ، فَفَعَلَتِ الَّذِي أُمِرَتْ بِهِ فَلَمْ تَزَلْ بِالشَّامِ حَتَّى كَانَ ابْنَ ثَلَاثِينَ سَنَةً، وَكَانَتْ نُبُوَّتُهُ ثَلَاثَ سِنِينَ، ثُمَّ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ»
Ath-Thabariy berkata: Telah menceritakan kepadaku, Muhammad bin Sahl bin ‘Askar; Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami, Isma’il bin Abdil Kariim; Ia berkata: Telah menceritakan kepadaku, Abdush-shamad bin Ma’qil; Bahwasanya ia mendengar Wahb bin Munabbih berkata: “Ketika Isa berumur dua belas tahun, Allah mewahyukan kepada ibunya – saat ia berada di bumi Mesir, ketika ia lari dari kaumnya ketika melahirkan Isa menuju bumi Mesir- agar ia membawa Isa ke Syam. Maka ia melakukan apa yang diperintahkan kepadanya, dan terus berada di Syam sampai Isa berumur tiga puluh tahun, dan masa kenabiannya adalah tiga tahun, kemudian Allah mengangkatnya ke pada-Nya”.
Sanad atsar ini hasan:
a)      Muhammad bin Sahl bin ‘Askar At-Tamimiy maulahum, Abu Bakr Al-Bukhariy (w.251H)[16]; Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Ia tsiqah.
b)      Dan Isma’il bin Abdil Kariim bin Ma’qil bin Munabbih, Abu Hisyam Ash-Shan’aniy (w.210H)[17]; Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Ia shaduuq.
c)       Dan ‘Abdush-shamad bin Ma’qil bin Munabbih Al-Yamaniy, ia anak dari saudara Wahb (w.183H)[18]. Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Ia shaduuq.
Dari jalur yang lain:
Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak” 2/651 no.4164:
عن عَبْد الْمُنْعِمِ بْن إِدْرِيسَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ وَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ، قَالَ: " وَزَعَمَتِ النَّصَارَى ... وَأَنَّ عِيسَى عَاشَ إِلَى أَنْ رُفِعَ ابْنَ اثْنَيْنِ وَثَلَاثِينَ سَنَةً " .
Dari Abdul Mun’im bin Idriis, dari bapaknya, dari Wahb bin Munabbih, ia berkata: “Dan Nashrani menyangka … bahwasanya ‘Isa hidup sampai ia diangkat saat berumur tiga puluh dua tahun”.
Adz-Dzahabiy dalam “At-Talkhiish” berkomentar: Abdul Mun’im bin Idris, riwayatnya saaqith (jatuh, sangat lemah).
Sanad ini sangat lemah karena tiga cacat:
1.       Abdul Mun’im[19] tidak pernah mendengar dari bapaknya satu riwayat pun.
2.       Periwayatan Abdul Mun’im sangat lemah; Ibnu Al-Madiniy berkata: Ia tidak tsiqah. Al-Bukhari dan Abu Ahmad Al-Hakim berkata: ذاهب الحديث (haditsnya sangat lemah). Ad-Daraquthniy dan Al-Fallaas berkata: Periwayatannya ditolak (matruuk). Abu Zur’ah berkata: واهي الحديث (haditsnya sangat lemah). Ahmad bin Hanbal berkata: Ia terkadang berbohong atas nama Wahb bin Munabbih. Dan Ibnu Hibban berkata: Ia memalsukan hadits dari bapaknya dan selainnya. Ia wafat tahun 228 hijriyah di Bagdad.
3.       Idriis bin Sinaan, Abu Ilyas Ash-Shan’aniy[20]. Ibnu ‘Adiy  dan Ibnu Hajar berkata: Ia lemah. Ad-Daraquthniy berkata: Haditsnya ditolak (matruuk).
4.      Adapun atsar Sa’id bin Musayyab rahimahullah:
Diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam “Al-Mustadrak” 3/302 no5173, dan Ibnu ‘Asakir dalam “Taariikh Dimasyq” 47/484:
عن حَمَّاد بْن سَلَمَةَ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ قَالَ: «رُفِعَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ سَنَةً»
Dari Hammad bin Salamh, dari ‘Ali bin Zayd, dari Sa’id bin Al-Musayyib, ia berkata: “Isa Ibnu Maryam diangkat saat ia berumur tiga puluh tiga tahun”.
Sanad ini lemah, karena Ali bin Zayd bin Abdillah bin Zuhair bin Abdillah bin Jad’an Al-Qurasyiy At-Taimiy, Abu Al-Hasan Al-Bashriy Al-Makfuuf (w.131H)[21]; Ia dilemahkan oleh Ibnu ‘Uyainah, Ibnu Ma’in, An-Nasa’iy, Ibnu Hajar, dan selainnya.
5.      Adapun atsar Al-Hasan Al-Bashriy rahimahullah:
Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam “Taariikh Dimasyq” 47/470:
عن أبي حذيفة إسحاق بن بشر أنبأنا سعيد بن أبي عروبة عن قتادة عن الحسن أنه قال : لم يكن نبي كانت العجائب في زمانه أكثر من عيسى بن مريم إلى أن رفعه الله ... ، ورفع وهو ابن أربع وثلاثين سنة من ميلاده .
Dari Abu Hudzaifah Ishaq bin Bisyr; Telah menyampaikan kapada kami, Sa’id bin Abi ‘Aruubah, dari Qatadah, dari Al-Hasan, bahwasanya ia berkata: “Tidak ada Nabi yang keajaiban terjadi pada masanya lebih banyak dari Isa bin Maryam sampai Allah mengangkatnya …, dan ia diangkat pada umurnya yang ke tiga puluh empat tahun dari kelahirannya”.
Sanad ini sangat lemah, karena Abu Hudzaifah Ishaq bin Bisyr Al-Bukhariy[22]; Adz-Dzahabiy berkata: Ulama menolak periwayatannya (tarakuuhu). Ali bin Al-Madiniy menuduhnya sebagai pembohong. Ibnu Hibban berkata: Tidak halal menulis haditsnya. Dan Ad-Daraquthny berkata: Ia pembohong, tertolak haditsnya.
Pendapat ulama:
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
المشهور أن عمر عيسى ثلاث وثلاثون سنة ، وقيل : أربع وثلاثون . [تحفة النبلاء من قصص الأنبياء لابن حجر العسقلاني ص435]
Yang masyhur, bahwasanya umur ‘Isa adalah tiga puluh tiga tahun, dan ada yang berpendapat: Tiga puluh empat tahun. [Tuhfah An-Nubalaa’ min Qashash Al-Anbiyaa’ hal.435]
Dan dalam “Fathul baariy” ia berkata:
اخْتُلِفَ فِي عُمُرِهِ حِينَ رُفِعَ ، فَقِيلَ: ابن ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ ، وَقِيلَ: مِائَةٍ وَعِشْرِينَ
“Diperselisihkan tentang umurnya (nabi Isa) ketika diangkat, maka ada yang berpendapat: Umur tiga puluh tiga, da nada yang berpendapat: Seratus dua puluh”. (6/493)
Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
قَالَ الْحَسَنُ الْبَصْرِي : كَانَ عُمَرُ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ يَوْمَ رُفِعَ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ سَنَةً. وَفِي الْحَدِيثِ: " إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ يَدْخُلُونَهَا جُرْدًا مُرْدًّا مُكَحَّلِينَ أَبْنَاءَ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ ". وَفِي الْحَدِيثِ الْآخَرِ: " عَلَى مِيلَادِ عِيسَى ، وَحُسْنِ يُوسُفَ "
Al-Hasan Al-Bashriy berkata: “Adalah umur ‘Isa ‘alaihissalam pada hari ia diangkat adalah tiga puluh empat tahun”. Dan dalam satu hadits: “Sesungguhnya penduduk surga mamasuki surga dalam keadaan tanpa bulu di seluruh badannya, muda belia tanpa jenggot, sisi matanya hitam (seperti memakai celak), seperti berumur tiga puluh tiga”, dan dalam hadits lain: “Seperti umur Isa dan kecantikan Yusuf”.
وَكَذَا قَالَ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيِّبِ، أَنَّهُ قَالَ: رُفِعَ عِيسَى وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَثَلَاثِينَ سَنَةً.
Demikian pula diriwayatkan oleh Hammad bin Salamah dari Ali bin Yaziid dari Sa’id bin Al-Musayyab bahwasanya ia berkata: “Isa diangkat saat ia berumur tiga puluh tiga tahun”.
فَأَمَّا الْحَدِيثُ الَّذِي رَوَاهُ الْحَاكِمُ فِي مُسْتَدْرَكِهِ وَيَعْقُوبُ بْنُ سُفْيَانَ الْفَسَوِيُّ فِي تَارِيخِهِ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ، عَنْ نَافِعِ بْنِ يَزِيدَ، عَن عمَارَة ابْن غَزِيَّةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ، أَنَّ أُمَّهُ فَاطِمَةَ بِنْتَ الْحُسَيْنِ حَدَّثَتْهُ أَنَّ عَائِشَةَ كَانَتْ تَقُولُ: أَخْبَرَتْنِي فَاطِمَةُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخْبَرَهَا أَنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ كَانَ بَعْدَهُ نَبِيٌّ إِلَّا عَاشَ الَّذِي بَعْدَهُ نِصْفَ عُمْرِ الَّذِي كَانَ قَبْلَهُ، وَأَنَّهُ أَخْبَرَنِي أَنَّ عِيسَى بن مَرْيَمَ عَاشَ عِشْرِينَ وَمِائَةَ سَنَةٍ فَلَا أَرَانِي إِلَّا ذَاهِبٌ عَلَى رَأْسِ سِتِّينَ. هَذَا لَفْظُ الفسوى ، فَهُوَ حَدِيث غَرِيب.
Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam “Mustadrak”nya, dan Ya’quub bin Sufyan Al-Fasawiy dalam “Taariikh”nya, dari Sa’id bin Abi Maryam, dari Naafi’ bin Yaziid, dari ‘Umarah bin Gaziyah, dari Muhammad bin Abdillah bin ‘Amr bin Utsman, bahwasanya Ibunya yaitu Fathimah binti Al-Husain menceritakan kepadany bahwasanya Aisyah berkata: Fathimah memberitahukan kepadaku bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberitahukan kepadanya, “bahwasanya tidak ada nabi kemudian ada nabi berikutnya kecuali nabi yang setelahnya itu hidup seperdua umur nabi yang sebelumnya”, dan bahwasanya ia memberitahukan kepadaku “bahwsanya ‘Isa bin Maryam hidup selama seratus dua puluh tahun, maka aku tidak menyangka kecuali aku akan pergi (wafat) di umur enam puluh tahun”. Ini adalah lafadz hadits Al-Fasawiy, dan ini adalah hadits yang “gariib”.
 قَالَ الْحَافِظ ابْن عَسَاكِرَ: وَالصَّحِيحُ أَنَّ عِيسَى لَمْ يَبْلُغْ هَذَا الْعُمْرَ، وَإِنَّمَا أَرَادَ بِهِ مُدَّةَ مَقَامِهِ فِي أُمَّتِهِ، كَمَا رَوَى سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ جَعْدَةَ، قَالَ قَالَتْ فَاطِمَةُ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عَلَيْهِ وَسلم: إِن عِيسَى بن مَرْيَمَ مَكَثَ فِي بَنِي إِسْرَائِيلَ أَرْبَعِينَ سَنَةً وَهَذَا مُنْقَطِعٌ.
Al-Hafidz Ibnu ‘Asakir berkata: “Dan yang benar bahwasanya ‘Isa tidak sampai pada umur ini, akan tetapi maksudnya ini adalah masa tinggalnya Isa pada umatnya”. Sebagaimana diriwayatkan oleh Sufyan Ats-Tsauriy dari ‘Amr bin Diinaar dari Yahya bin Ja’dah, ia berkata: Fathimah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadaku: “Sesungguhnya ‘Isa bin Maryam tinggal bersama Bani Israil selama empat puluh tahun”. Dan riwayat ini adalah terputus (mursal).
وَقَالَ جَرِيرٌ وَالثَّوْرِيُّ عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ: مَكَثَ عِيسَى فِي قَوْمِهِ أَرْبَعِينَ عَامًا.
Jariir dan Ats-Tsauriy meriwayatkan, dari Al-A’masy dari Ibrahim: “Isa tinggal pada kaumnya selama empat puluh tahun”.
Lihat: Qashash Al-Anbiyaa’ karya Ibnu Katsir 2/457-458.
 Ash-Shalihiy (w.942H) rahimahullah berkata:
قال العلامة ابن القيم في " زاد المعاد " : بعثه الله تعالى على رأس الأربعين وهي سن الكمال. قيل: ولها تبعث الرسل. وأما ما يذكر عن المسيح أنه رفع إلى السماء وله ثلاث وثلاثون فهذا لا يعرف به أثر متصل يجب المصير إليه. انتهى
Al-‘Allamah Ibnu Al-Qayyim dalam “Zad Al-Ma’aad” berkata: Allah ta’aalaa mengutusnya (Muhammad) pada umurnya yang ke empat puluh yang merupakan umur kesempurnaan. Ada yang mengatakan bahwa pada umur tersebut (empa puluh) para Rasul diutus. Adapun yang disebutkan tentang Al-Masiih (Isa) bahwasanya ia diangkat ke langit pada umur tiga puluh tiga tahun, maka pendapat ini tidak diketahui landasannya dari atsar yang bersambung (muttashil) yang wajib dipegangi. Akhir!
والأمر كما قال، فإن ذلك يُروى عن وهب بن منبه قال: إن النصارى تزعم . فذكر الحديث إلى أن قال: وإنه رفع وهو ابن ثلاث وثلاثين سنة رواه الحاكم . وفي سنده عبد المنعم بن إدريس كذبوه ، ولو صح سنده فإنه عن النصارى كما ترى .
Masalah ini (yang benar) seperti perkataannya (Ibnu Al-Qayyim), karena sesungguhnya diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih ia berkata: “Sesungguhnya An-Nashara menyangka …”, kemudian menyebutkan hadits sampai pada perkataannya: “Dan bahwasanya Isa diangkat saat berumur tiga puluh tiga tahun”, diriwayatkan oleh Al-Hakim dan pada sanadnya ada Abdul Mun’im bin Idriis, ulama telah mendustakannya. Kalaupun sanadnya sahih maka sesungguhnya itu hanya anggapan dari kaum Nashrani sebagaimana engkau lihat.
وعن الحسن رواه ابن عساكر من طريق إسحاق بن بشر وهو كذاب يضع ، لكنه قال ابن أربع وثلاثين .
Dan dari Al-Hasan (Al-Bashriy), diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dari jalur Ishaq bin Bisyr, dan ia adalah pembohog dan pemalsu hadits, akan tetapi ia mengatakan: “Umurnya tiga puluh empat”.
ورواه الحاكم عن سعيد بن المسيب ، وفي سنده علي بن زيد وهو ضعيف . ويأتي في الوفاة النبوية أحاديث صحيحة تدل على أنه رفع وهو ابن مائة وعشرين سنة [سبل الهدى والرشاد، في سيرة خير العباد 2/225-226]
Dan diriwayatkan oleh Al-Hakim dari Sa’id bin Al-Musayyab, dan pada sanadnya ada Ali bin Zayd, dan ia lemah. Dan akan datang penjelasan lanjut pada bab “Al-Wafaah An-Nabawiy” hadits-hadits yang shahih yang menunjukan bahwasanya Isa diangkat saat berumur seratus dua puluh tahun.
Lihat: Subul Al-Hudaa wa Ar-Rasyaad fii Siirah Khaer Al-‘Ibaad karya Ash-Shalihiy 2/225.
Al-Baihaqiy rahimahullah berkata:
فَإِنْ صَحَّ قَوْلُ ابْنِ الْمُسَيِّبِ وَوَهْبٍ فَالْمُرَادُ مِنَ الْحَدِيثِ، وَاللهُ أَعْلَمُ، بِمَا يَبْقَى فِي الْأَرْضِ، بَعْدَ نُزُولِهِ مِنَ السَّمَاءِ، وَاللهُ أَعْلَمُ [دلائل النبوة للبيهقي (7/166)]
Jika perkataan Ibnu Al-Musayyab dan Wahb sahih, maka maksud dari hadits tersebut – wallahu a’lam – adalah umur yang tersisi ketika di bumi setelah turunya dari langit. Wallahu a’lam. [Dalaail An-Nubuwah karya Al-Baehaqiy 7/166]
Akan tetapi perkataan Al-Baihaqiy ini bertentang dengan hadits shahih yang menyatakan bahwa lama nabi Isa tinggal di bumi setelah turunnya dari langit adalah empat puluh tahun.
Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam “As-Sunan” 4/117 no.4324, dari Abu Hurairah; Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda::
لَيْسَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ - يَعْنِي عِيسَى - وَإِنَّهُ نَازِلٌ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَاعْرِفُوهُ: رَجُلٌ مَرْبُوعٌ إِلَى الْحُمْرَةِ وَالْبَيَاضِ، بَيْنَ مُمَصَّرَتَيْنِ، كَأَنَّ رَأْسَهُ يَقْطُرُ، وَإِنْ لَمْ يُصِبْهُ بَلَلٌ، فَيُقَاتِلُ النَّاسَ عَلَى الْإِسْلَامِ، فَيَدُقُّ الصَّلِيبَ، وَيَقْتُلُ الْخِنْزِيرَ، وَيَضَعُ الْجِزْيَةَ، وَيُهْلِكُ اللَّهُ فِي زَمَانِهِ الْمِلَلَ كُلَّهَا إِلَّا الْإِسْلَامَ، وَيُهْلِكُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ، فَيَمْكُثُ فِي الْأَرْضِ أَرْبَعِينَ سَنَةً، ثُمَّ يُتَوَفَّى فَيُصَلِّي عَلَيْهِ الْمُسْلِمُونَ "
“Tidak ada antara aku dan ia (Isa) seorang nabi, dan sesungguhnya ia akan turun (di akhir zaman), maka jika kalian melihatnya maka kenalilah ia: Seorang laki-laki, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek (marbuu’), kulitnya kemerah-merahan dan putih, berbaju kekuningan (tidak mencolok), seolah-olah kepalanya meneteskan air, sekalipun tidak basah. Maka ia memerangi manusia agar masuk Islam, menghancurkan salib, membunuh babi, meninggalkan jizya (uang perdamaian), Allah membinasakan semua agama pada masanya kecuali Islam, Al-Masiih membunuh Dajjal. Maka ia tinggal di bumi selama empat puluh tahun, kemudian diwafatkan. Maka umat Islam men-shalatinya”.
Disahihkan oleh syekh Albaniy dalam kitabnya “Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahihah” 5/214 no.2182.
Wallahu a’lam!



[1] Lihat biografi "Abu Ma’syar" dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Ash-Shagiir karya Al-Bukhariy hal.119, Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.242, Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir karya Al-'Uqaily 4/308, Al-Majruhiin karya Ibnu Hibban 3/60, Al-Kaamil karya Ibnu 'Adiy 8/311, Adh-Dhu'afaa' karya Ad-Daruquthniy 3/134, Adh-Dhu'afaa' karya Abu Nu'aim hal.153, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 3/157, Tahdziib Al-Kamaal karya Al-Mizziy 29/322, Miizaan Al-I'tidaal karya Adz-Dzahabiy 4/246, Taqriib At-Tahdziib karya Ibnu Hajar hal.559.
[2]  Lihat biografi “Yaziid bin Ziyaad” dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal 32/132, Taqriib At-Tahdziib hal.601.
[3] Lihat biografi “Fathimah binti Husain” dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal 35/254, Taqriib At-Tahdziib hal.751.
[4]  Lihat biografi “Abdullah bin Lahi'ah” dalam kitab: Ad-Dhu'afaa' Ash-Shagiir hal.69, Ad-Dhu'afaa' karangan An-Nasa'iy hal.203, Ad-Dhu'afaa' Al-Kabiir 4/383, Al-Kamil 4/144, Ad-Dhu'afaa' karangan Ibnu Jauziy 2/136, Miizaan Al-I'tidaal 4/166.
[5] Lihat biografi "Muhammad bin Abdillah" dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Ash-Shagiir hal.106, Al-Kaamil 7/447, Tahdziib Al-Kamaal 25/516, Miizaan Al-I'tidaal 3/593, Taqriib At-Tahdziib hal.489.
[6] Lihat biografi "’Ubaid bin Ishaq Al-‘Athaar" dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Ash-Shagiir hal.77, Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.212, Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 3/115, Al-Majruhiin 2/176, Al-Kaamil karya 7/52, Adh-Dhu'afaa' karya Ad-Daruquthniy 2/165, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 2/159, Miizaan Al-I'tidaal 3/18, Lisaan Al-Miizaan karya Ibnu Hajar 5/349.
[7] Lihat biografi "Kaamil Abu Al-‘Alaa’" dalam kitab: Al-Majruhiin 2/226, Al-Kaamil 7/223, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 3/21, Tahdziib Al-Kamaal 24/99, Miizaan Al-I'tidaal 3/400, Taqriib At-Tahdziib hal.459.
[8] Lihat biografi "Zayd bin Al-Hasan" dalam kitab: Al-Jarh wa At-Ta'diil karya Ibnu Abi Hatim 3/560, Tahdziib Al-Kamaal 10/50, Miizaan Al-I'tidaal 2/102, Taqriib At-Tahdziib hal.223.
[9] Lihat biografi "Al-Waliid bin Shalih" dalam kitab: Al-Jarh wa At-Ta'diil 9/7, Ats-Tsiqaat karya Ibnu Hibban 5/491 dan 7/551.
[10] Lihat biografi "Husain bin Al-Aswad" dalam kitab: Al-Kaamil 3/245, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/215, Tahdziib Al-Kamaal 6/391, Al-Kaasyif karya Adz-Dzahabiy 1/334, Taqriib At-Tahdziib hal.167.
[11] Lihat biografi "Yahya bin Ja’dah" dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal 31/253, Al-Kaasyif 2/363, Taqriib At-Tahdziib hal.588.
[12] Lihat biografi "Ibrahim An-Nakha’iy" dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal 2/233, Al-Kaasyif 1/227, Taqriib At-Tahdziib hal.95.
[13] Lihat biografi "Rawwaad" dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.176, Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 2/68, Al-Kaamil 4/114, Adh-Dhu'afaa' karya Ad-Daruquthniy 2/153, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/286, Tahdziib Al-Kamaal 9/227, Miizaan Al-I'tidaal 2/55, Taqriib At-Tahdziib hal.211.
[14] Lihat biografi "Ja’far bin Jasr" dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 1/187, Al-Kaamil 2/389, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/170, Miizaan Al-I'tidaal 1/403, Taariikh Al-Islam karya Adz-Dzahabiy 5/288, Lisaan Al-Miizaan 2/445.
[15] Lihat biografi "Jasr bin Farqad" dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Ash-Shagiir hal.30, Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.164, Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 1/202, Al-Majruhiin 1/217, Al-Kaamil 2/421, Adh-Dhu'afaa' karya Ad-Daruquthniy 1/261, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/169, Miizaan Al-I'tidaal 1/398, Lisaan Al-Miizaan 2/435.
[16] Lihat biografi "Muhammad bin Sahl" dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal 25/325, Al-Kaasyif 2/177, Taqriib At-Tahdziib hal.482.
[17] Lihat biografi "Isma’il bin Abdil Kariim" dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal 3/138, Al-Kaasyif 1/247, Taqriib At-Tahdziib hal.108.
[18] Lihat biografi "Abdush-shamad bin Ma’qil" dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal 18/104, Taqriib At-Tahdziib hal.356.
[19] Lihat biografi "Abdul Mun’im bin Idris" dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.210, Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 3/112, Al-Majruhiin 2/157, Al-Kaamil 7/35, Adh-Dhu'afaa' karya Ad-Daruquthniy 2/163, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 2/154, Miizaan Al-I'tidaal 2/668, Lisaan Al-Miizaan 5/279.
[20] Lihat biografi "Idriis bin Sinaan" dalam kitab: Al-Kaamil 2/34, Adh-Dhu'afaa' karya Ad-Daruquthniy 1/259, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/93, Tahdziib Al-Kamaal 2/298, Miizaan Al-I'tidaal 1/169, Taqriib At-Tahdziib hal.97.
[21] Lihat biografi "Ali bin Zayd" dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 3/229, Al-Majruhiin 2/103, Al-Kaamil 6/333, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 2/193, Tahdziib Al-Kamaal 20/435, Miizaan Al-I'tidaal 3/127, Taqriib At-Tahdziib hal.401.
[22] Lihat biografi "Abu Hudzaifah" dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 1/100, Al-Majruhiin 1/135, Al-Kaamil 1/548, Adh-Dhu'afaa' karya Ad-Daruquthniy 1/257, Adh-Dhu'afaa' karya Abu Nu'aim hal.61, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/100, Miizaan Al-I'tidaal 1/184, Lisaan Al-Miizaan 2/44.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...