Rabu, 11 Juni 2014

Hadits "Ampunan Allah di malam nishfu Sya’ban"

بسم الله الرحمن الرحيم


Hadits yang menyebutkan ampunan Allah pada malam seperdua bulan Sya’ban diriwayatkan dari beberapa sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, diantaranya: Mu’adz bin Jabal, Abu Tsa’labah, Abu Hurairah, Abu Bakr Ash-Shiddiiq, Abu Musa Al-Asy’ariy, Abdullah bin ‘Amr, ‘Auf bin Malik, Aisyah, Usman bin Abi Al-‘Ash, Ubay bin Ka’b, Abu Umamah Al-Bahiliy, dan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhum.

1.      Hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibbaan dalam kitab shahih-nya 12/481 no.5665:
عن أَبي خُلَيْدٍ عُتْبَة بْنُ حَمَّادٍ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، وَابْنِ ثَوْبَانَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَكْحُولٍ، عَنْ مَالِكِ بْنِ يُخَامِرَ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:  «يَطْلُعُ اللَّهُ إِلَى خَلْقِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ»
Dari Abu Khulaid 'Utbah bin Hammad, dari Al-Auza’iy dan Ibnu Tsaubaan, dari bapaknya, dari Makhuul, dari Malik bin Yukhaamir, dari Mu’adz bin Jabal, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Allah menengok pada makhluk-Nya di malam seperdua bulan Sya’ban, kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali yang musyrik atau musyahin (yang memusuhi)”

Sanad ini lemah karena terputus; Makhuul Asy-Syamiy (w.112H)[1] seorang yang tsiqah, banyak melakuan irsaal (menjatuhkan gurunya dalam sanad). Ibnu Hibban dan Adz-Dzahabiy menuduhnya sebagai mudallis, dan pada sanad ini ia hanya memakai lafadz (عن) yang tidak menunjukkan bahwa ia telah mendengarnya langsung dari Malik bin Yukhamir.

Ibnu Abi Hatim rahimahullah berkata:
قال أبي: هَذَا حديثٌ مُنكَرٌ بهذا الإسنادِ ، لم يَرْوِ بهذا الإسنادِ غير أَبِي خُلَيدٍ، وَلا أَدْرِي مِنْ أَيْنَ جَاءَ بِهِ! قلتُ: ما حالُ أَبِي خُلَيدٍ؟ قَالَ: شيخٌ .
Bapakku (Abu Hatim) berkata: Hadits ini mungkar dengan sanad ini, tidak ada yang meriwayatkannya dengan sanad ini selain Abu Khulaid, dan aku tidak mengetahui dari mana ia mendatangkannya.
Aku bertanya: Bagaimana kondisi Abi Khulaid? Ia menjawab: Ia seorang syekh. [‘Ilal Al-Hadits 5/323]

Ibnu Hibban menyebut Abu Khulaid Utbah bin Hammaad[2] dalam kitabnya “Ats-Tsiqaat”. Abu Ali An-Naisaburiy dan Abu Bakr Al-Khathiib menghukuminya tsiqah. Dan Ibnu Hajar mengatakan: Ia shaduuq.

Ad-Daraquthniy menyebutkan hadits ini dalam kitabnya “Al-‘Ilal” (6/50 no.970) dan menjelaskan perselisihan yang terjadi dalam sanadnya, kemudian berkata: الْحَدِيثُ غَيْرُ ثَابِتٍ “hadits ini tidak tsabit (tidak sahih)”.

Syekh Syu’aib Al-Arnauth rahimahullah dalam "tahkik shahih Ibnu Hibban" men-sahih-kan hadits ini karena keseluruhan sanadnya yang saling menguatkan. Begitu pula dengan syekh Albaniy rahimahullah. dalam “Silsilah Al-Ahaadiits Ash-Shahihah” 3/135 no.1144.

Hadits ini diriwayatkan juga dari Makhuul secara mursal (terputus):

Diriwayatkan oleh Ad-Daraquthniy dalam kitabnya “An-Nuzuul” no.87:
قال: حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ قَالَ: أنا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ شَبِيبٍ، قَالَ: سَمِعْتُ عَمْرَو بْنَ عُثْمَانَ، قَالَ: أنا بَقِيَّةُ، قَالَ: عُتْبَةُ بْنُ أَبِي حَكِيمٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي مَكْحُولٌ ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطْلُعُ فِي كُلِّ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَهُ إِلَّا مُشْرِكًا وَمُشَاحِنًا»

Diriwayatkan juga secara maqthuu’ dari perkataan Makhuul:

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam kitabnya “Syu’ab Al-Iman” 5/358 no.3550:
عن مُحَمَّد بْن يَعْقُوبَ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ الصَّغَانِيُّ، حَدَّثَنَا شُجَاعُ بْنُ الْوَلِيدِ، أَخْبَرَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُعَاوِيَةَ، أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ الْحَرِّ، حَدَّثَنِي مَكْحُولٌ قال: " أَنَّ اللهَ يَطْلُعُ عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ فِي النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ إِلَّا لِرَجُلَيْنِ إِلَّا كَافِرٍ أَوْ مُشَاحِنٍ "

2.      Hadits Abi Tsa’labah radhiyallahu 'anhu

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitabnya “As-Sunnah” 1/223 no.511:
قال: ثنا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ حَرْبٍ، عَنِ الْأَحْوَصِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنْ مُهَاصِرِ بْنِ حَبِيبٍ، عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ، فَيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ، وَيَتْرُكُ أَهْلَ الضَّغَائِنِ، وَأَهْلَ الْحِقْدِ بِحِقْدِهِمْ»
Ibnu Abi ‘Ashim berkata: Telah menceritakan kepada kami, ‘Amr bin Utsman; Telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Harb, dari Al-Ahwash bin Hakiim, dari Muhashir bin Habiib, dari Abi Tsa’labah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Jika datang malam seperdua dari Sya’ban, Allah ‘azza wa jalla menengok pada makhluknya, kemudian mengampuni orang-orang beriman, dan membiarkan (tidak mengampuni) orang yang bermusuhan dan saling iri dengan kedengkiannya.

Diriwayatkan juga oleh Al-Baihaqiy dalam kitabnya “Syu’ab Al-Iman” 5/359 no.3551, akan tetapi dalam sanadnya menambah penyebutan Makhuul di antara Muhashir dan Abu Tsa’labah:
عن مُحَمَّد بْن إِسْمَاعِيلَ الْأَحْمَسِي، حَدَّثَنَا الْمُحَارِبِيُّ، عَنِ الْأَحْوَصِ بْنِ حَكِيمٍ، عَنِ الْمُهَاصِرِ بْنِ حَبِيبٍ، عَنِ مَكْحُولٍ، عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ اطَّلَعَ اللهُ إِلَى خَلْقِهِ فَيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِ، وَيُمْلِي لِلْكَافِرِينَ، وَيَدَعُ أَهْلَ الْحِقْدِ بِحِقْدِهِمْ حَتَّى يَدَعُوهُ "

Sanad ini lemah, karena Al-Ahwash bin Hakiim[3]; Periwayatan haditsnya dilemahkan oleh beberapa ulama seperti An-Nasa’iy, Adz-Dzahabiy, dan Ibnu Hajar.
Sedangkan Abu Hatim dan Ad-Daraquthniy mengatakan: Haditsnya mungkar.
Ibnu ‘Adiy berkata: لَيْسَ لَهُ فِيمَا يَرْوِيهِ شَيْءٌ مُنْكَرٌ إِلا أَنَّهُ يأتي بأسانيد، لاَ يُتَابَعُ عَليها
“Ia tidak memiliki dari apa yang ia riwayatkan sesuatu yang mungkar, hanya saja ia terkadang mendatangkan beberapa sanad yang tidak ada pendukungnya”.

Ad-Daraquthniy menyebutkan hadits ini dalam kitabnya “Al-‘Ilal” (6/323 no.1169) dan menjelaskan perselisihan yang terjadi dalam sanadnya, kemudian berkata: الْحَدِيثُ مُضْطَرِبٌ، غَيْرُ ثَابِتٍ “hadits ini kacau, tidak tsabit”.

3.      Hadits Abi Hurairah radhiyallahu 'anhu

Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam musnad-nya 16/161 no.9268:
عن عَبْد الله بن غالب حدثنا هشام بن عَبْد الرَّحْمن عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صالحٍ , عَنْ أَبِي هريرة رَضِيَ اللهُ عَنْهُ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إذا كان ليلة النصف من شعبان يغفر الله لعباده إلا لمشرك أو مشاحن "
Dari Abdullah bin Gaalib; Telah menceritakan kepada kami, Hisyaam bin Abdirrahman, dari Al-A’masy, dari Abi Shalih, dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika datang malam seperdua dari Sya’ban, Allah mengampuni hamba-hambaNya kecuali yang musyrik atau musyahin

Al-Haitsamiy rahimahullah berkata: هشام بن عبد الرحمن لم أعرفه، وبقية رجاله ثقات
“Hisyam bin Abdirrahman, aku tidak mengetahuinya, dan perawi lainnya tsiqah”. [Majma’ Az-Zawaid 8/65 no.12958]

4.      Hadits Abi Bakr Ash-Shiddiiq radhiyallahu 'anhu

Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam musnad-nya 1/206:
عن عَمْرُو بْن الْحَارِثِ قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ أَوْ عَمِّهِ، عَنْ أَبِي بَكْرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يَنْزِلُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا مَا كَانَ مِنْ مُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ لِأَخِيهِ»
Dari ‘Amr bin Al-Harits, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku, Abdul Malik bin Abdil Malik, dari Mush’ab bin Abi Dzi’b, dari Al-Qaasim bin Muhammad, dari bapaknya atau pamannya, dari Abi Bakr, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Jika datang malam seperdua bulan Sya’ban, Allah tabaaraka wa ta’aalaa turun ke langit dunia, kemudian mengampuni hamba-hambaNya kecuali yang musyrik atau yang memusuhi saudaranya.

Hadits ini sangat lemah; karena dua cacat:
1)      Abdul Malik bin Abdil Malik[4]; Imam Bukhari mengatakan: فيه نظر (sangat lemah). Ibnu Hibban mengatakan: Haditsnya sangat mungkar. Ad-Daraquthniy mengatakan: Haditsnya ditolak (matruuk)
2)      Mush’ab bin Abi Dzi’b; Ad-Daraquthniy mengatakan: Haditsnya ditolak (matruuk). [Sualaat Al-Burqaniy hal.67]

5.      Hadiits Abi Musa Al-Asy’ariy radhiyallahu 'anhu

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitabnya “As-Sunan” 1/445 no.1390:
قال: حَدَّثَنَا رَاشِدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ رَاشِدٍ الرَّمْلِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ، عَنِ ابْنِ لَهِيعَةَ، عَنِ الضَّحَّاكِ بْنِ أَيْمَنَ، عَنِ الضَّحَّاكِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَرْزَبٍ، عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ»
Ibnu Majah berkata: Telah menceritakan kepada kami, Raasyid bin Sa’id bin Raasyid Ar-Ramliy; Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami, Al-Waliid, dari Ibnu Lahi’ah, dari Adh-Dhahhaaq bin Aiman, dari Adh-Dhahhaaq bin Abdirrahman bin Arzab, dari Abi Musa Al-Asy’ariy, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah menengok pada malam seperdua dari Sya’ban, kemudian mengampuni semua makhluknya kecuali seorang musyrik atau musyahin.

وقال: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الْأَسْوَدِ النَّضْرُ بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ سُلَيْمٍ، عَنِ الضَّحَّاكِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا مُوسَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَهُ
Ibnu Majah juga berkata: Telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq; Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami, Abu Al-Aswad An-Nadhr bin Abdil Jabbaar, Ia berkata: Telah menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah, dari Az-Zubair bin Sulaim, dari Adh-Dhahhaaq bin Abdirrahman, dari bapaknya, ia berkata: Aku mendengar Abu Musa, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, … seperti lafadz hadits sebelumnya.

Kedua sanad ini lemah karena dua cacat:
1.       Ibnu Lahi’ah[5]; Periwayatan haditsnya lemah dan kacau.
2.       Adh-Dhahhaaq bin Aiman[6]; Adz-Dzahabiy mengatakan: Tidak diketahui siapa dia. Ibnu Hajar berkata: Ia “majhuul”.
3.       Az-Zubair bin Sulaim[7]; Adz-Dzahabiy mengatakan: Ia tidak diketahui. Ibnu Hajar berkata: Ia “majhuul”.
4.       Abdurrahman bin ‘Arzab[8]; Ibnu Hajar berkata: Ia “majhuul”.
Lihat: “Silsilah Al-Ahaaadiits Ash-Shahihah” 4/86 no.1563.

6.      Hadits Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu 'anhuma

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam musnad-nya 11/216 no.6642:
قال: حَدَّثَنَا حَسَنٌ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، حَدَّثَنَا حُيَيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا لِاثْنَيْنِ: مُشَاحِنٍ، وَقَاتِلِ نَفْسٍ "
Imam Ahmad berkata: Telah menceritakan kepada kami, Hasan; Telah menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi’ah; Telah menceritakan kepada kami, Huyaiy bin Abdillah, dari Abi Abdirrahman Al-Hubuliy, dari Abdillah bin ‘Amr, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ‘azza wa jalla melihat kepada makhluk-Nya pada malam seperdua bulan Sya’ban, kemudian mengampuni hamba-hambaNya kecuali dua orang: Yang memusuhi, dan pembunuh manusia

Sanad ini lemah karena Ibnu Lahi’ah. Sedangkan Huyaiy bin Abdillah Al-Mashriy (w.148H)[9] diperselisihkan ulama:
Imam Ahmad berkata: Haditsnya mungkar. Imam Al-Bukhariy berkata: فيه نظر . Dan An-Nasaa’iy berkata: ليس بالقوي .
Ibnu Ma’in mengatakan: ليس به بأس . Ibnu ‘Adiy berkata: أرجو أنه لا بأس به إذا روى عنه ثقة “Aku berharap ia tidak mengapa jika yang meriwayatkan darinya seorang yang tsiqah”.
Adz-Dzahabiy dalam “Ad-Diwaan” mengatakan: Haditsnya hasan. Ibnu Hajar berkata: صدوق يهم “Ia shaduuq, terkadang keliru”.

Syekh Albaniy rahimahullah berkata:
لكن تابعه رشدين بن سعد عن حيي به. أخرجه ابن حيويه في " حديثه " (3 / 10 / 1) فالحديث حسن.
“Akan tetapi Ibnu Lahi’ah dikuatkan oleh riwayat Risydiin bin Sa’ad dari Huyaiy, dengan sanadnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Hayyawaih dalam “Hadits-nya” (3/10/1), maka hadits ini derajatnya adalah hasan”.

Syekh Syu’aib Al-Arnauth rahimahullah dalam "tahkik Musnad Ahmad" men-shahih-kan hadits ini karena keseluruhan sanadnya yang saling menguatkan.

7.      Hadiits ‘Auf bin Malik radhiyallahu 'anhu

Diriwayatkan oleh Al-Bazzaar dalam musnad-nya 7/186 no.2754:
عن أَبي صَالِحٍ الْحَرَّانِيُّ يَعْنِي عَبْد الْغَفَّارِ بْنَ دَاوُدَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زِيَادِ بْنِ أَنْعمَ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ نُسَيٍّ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ، عَنْ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَطَّلِعُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى عَلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لَهُمْ كُلِّهِمْ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ»
Dari Abi Shalih Al-Harraaniy yaitu Abdul Gaffaar bin Daud, ia berkata: Telah memberitakan kepada kami, Abdullah bin Lahi’ah, dari Abdirrahman bin Ziyaad bin An’um, dari ‘Ubadah bin Nusayy, dari Katsir bin Murrah, dari ‘Auf radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah tabaaraka wa ta’aalaa melihat kepada makhluknya pada malam seperdua bulan Sya’ban, kemudian mengampuni mereka semua kecuali orang yang musyrik atau yang memusuhi”.

Hadits ini lemah karena beberapa cacat:
a)      Abdullah bin Lahi’ah; Periwayatannya lemah dan kacau.
b)      Abdurrahman bin Ziyaad bin An’um (w.156H)[10]; Periwayatan haditsnya juga lemah.

Diriwayatkan juga secara mursal (terputus) oleh Al-Baehaqiy dalam kitabnya “Syu’ab Al-Iman” 5/359 no.3550:
عن عَبْد الْوَاحِدِ بْن زِيَادٍ، عَنِ الْحَجَّاجِ، عَنْ مَكْحُولٍ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ الْحَضْرَمِيِّ: عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: " فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ يَغْفِرُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ لِأَهْلِ الْأَرْضِ إِلَّا الْمُشْرِكَ وَالْمُشَاحِنَ ".

8.      Hadits Aisyah radhiyallahu 'anha

Diriwayatkan dari beberapa jalur, diantaranya:

Jalur ‘Urwah bin Az-Zubair

Diriwayatkan oleh At-Tirmidziy dalam sunan-nya 3/107 no.739, dan Ibnu Majah dalam sunan-nya 1/444 no.1389:
عن يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ: أَخْبَرَنَا الحَجَّاجُ بْنُ أَرْطَاةَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فَخَرَجْتُ، فَإِذَا هُوَ بِالبَقِيعِ، فَقَالَ: «أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ»، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ، فَقَالَ: «إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ»
Dari Yaziid bin Harun, ia berkata: Telah memberitahukan kepada kami, Al-Hajjaaj bin Arthaah, dari Yahya bin Abi Katsir, dari ‘Urwah, dari Aisyah, ia berkata: Aku kehilangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu malam, maka aku merasa tidak enak. Dan ternyata beliau sedang di Baqii’, maka beliau bersabda: “Apakah engkau khawatir bahwa Allah dan Rasul-Nya akan mengkhianatimu?” Aku berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyangka engkau pergi ke salah satu istrimu! Maka beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla turun pada malam seperdua bulan Sya’ban ke langit dunia, kemudian mengampuni sebanyak bulu domba Bani Kalb”.

At-Tirmidziy rahimahullah mengatakan:
حَدِيثُ عَائِشَةَ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ الحَجَّاجِ، وَسَمِعْتُ مُحَمَّدًا يُضَعِّفُ هَذَا الحَدِيثَ، وقَالَ: يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ عُرْوَةَ، وَالحَجَّاجُ بْنُ أَرْطَاةَ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ
“Hadits Aisyah, kami tidak mengetahuinya kecuali dari riwayat ini dari hadits Al-Hajjaaj, dan aku mendengar Muhammad (Al-Bukhariy) me-lemah-kan hadits ini, dan berkata: Yahya bin Abi Katsiir[11] tidak mendengar hadits dari ‘Urwah, dan Al-Hajjaaj bin Arthaah tidak mendengar hadits dari Yahya bin Abi Katsiir”.

Berbeda dengan Yahya bin Ma’in, ia mengatakan bahwa Yahya bin Abi Katsir telah mendengar hadits dari ‘Urwah. [Jami’ At-Tahshiil karya Al-‘Alaiy hal.299, Tuhfah At-Tahshiil karya Abu Zur’ah Al-‘Iraqiy hal.346]

Al-Hajjaaj bin Arthaah (w.145H)[12]; Ibnu Hajar berkata: Ia shaduuq, banyak melakukan kesalahan dan tadliis.

Abu Abdillah Al-Hakim rahimahullah mengatakan:
إِنَّمَا الْمَحْفُوظُ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ حَدِيثِ الْحَجَّاجِ بْنِ أَرْطَاةَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ مُرْسَلًا
“Yang terjaga dari hadits ini melalui riwayat Al-Hajjaaj bin Arthaah dari Yahya bin Abi Katsiir adalah secara mursal”. [Syu’ab Al-Iman karya Al-Baihaqiy 5/355]

Diriwayatkan secara mursal (terputus) oleh Al-Baihaqiy dalam kitabnya “Syu’ab Al-Iman” 5/355 no.3544:
قال: أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِسْحَاقَ الْفَقِيهُ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُبْحٍ، حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ، أَخْبَرَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ أَرْطَاةَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ وَخَرَجَتْ عَائِشَةُ تَطْلُبُهُ فِي الْبَقِيعِ، فَرَأَتْهُ رَافِعًا رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ، فَقَالَ: " أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ؟ "، قَالَتْ: فقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ، فَقَالَ: " إِنَّ اللهَ يَغْفِرُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ ".

Ad-Daraquthniy menyebutkan hadits ini dalam kitabnya “Al-‘Ilal” (14/218 no.3573) dan menjelaskan perselisihan yang terjadi dalam sanadnya, kemudian berkata: الْحَدِيثُ مُضْطَرِبٌ، غَيْرُ ثَابِتٍ “hadits ini kacau, tidak tsaabit”.

Jalur Al-‘Alaa’ bin Al-Harits.

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam kitabnya “Syu’ab Al-Iman” 5/361 no.3554:
عن الْحُسَيْن بْن إِدْرِيسَ، حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدِ اللهِ ابْنُ أَخِي ابْنِ وَهْبٍ، حَدَّثَنَا عَمِّي، حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ صَالِحٍ، عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ الْحَارِثِ، أَنَّ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ اللَّيْلِ يُصَلِّي فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ، فَلَمَّا رَأَيْتُ ذَلِكَ قُمْتُ حَتَّى حَرَّكْتُ إِبْهَامَهُ فَتَحَرَّكَ، فَرَجَعْتُ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنَ السُّجُودِ، وَفَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ، قَالَ: " يَا عَائِشَةُ أَوْ يَا حُمَيْرَاءُ ظَنَنْتِ أَنَّ النَّبِيَّ خَاسَ بِكِ؟ "، قُلْتُ: لَا وَاللهِ يَا رَسُولَ اللهِ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ قُبِضْتَ لِطُولِ سُجُودِكَ، فَقَالَ: " أَتَدْرِينَ أَيَّ لَيْلَةٍ هَذِهِ؟ "، قُلْتُ: اللهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ، قَالَ: " هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطْلُعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ، وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ، وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُمْ ".
Dari Al-Husain bin Idris; Telah menceritakan kepada kami, Abu Ubaidillah anak saudara Ibnu Wahb; Telah menceritakan kepada kami, pamanku; Telah menceritakan kepada kami, Mu’awiyah bin Shalih, dari Al-‘Alaa’ bin Al-Haarits; Bahwasanya Aisyah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam bangun pada suatu malam mendirikan shalat dan sungguh lama sujudnya sehingga aku menyangka beliau telah wafat. Apabila aku melihat demikian aku menggerakkan ibu jarinya dan bergerak. Kemudian aku kembali dan setelah Rasulullah mengankat kepada dari sujudnya dan selesai shalat, beliau bertanya: “Wahai Humaira’ (Aisyah), apakah engkau menyangka Nabi telah menghianatimu?”
Aku mejawab: Tidak, demi Allah Ya Rasulullah, akan tetapi aku menyangka engkau telah diwafatkan karena terlalu lama sujud.
Kemudian Rasulullah bertanya: “Tahukah kamu, malam apa ini?“
Aku menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih tahu!
Rasulullah bersabda: “Malam ini adalan malam Nisfu Syaaban. Sesungguhnya Allah Azza wa jjala melihat kepada hamba-hamba-Nya pada malam Nisfu Sya’ban dan memberi ampunan kepada mereka yang beristighfar, memberi rahmat ke atas mereka yang meminta rahmat dan diundurkan terhadap orang-orang yang dengki sebagaimana mereka (tidak diberi ampunan dan rahmat).”

Hadits ini lemah karena Al-‘Alaa’ bin Al-Harits (w.136H)[13] tidak pernah bertemu dengan Aisyah dan hafalannya juga kacau (ikhtalath).
Begitu pula dengan Abu Ubaidillah anak dari saudara Ibnu Wahb, nama lengkapnya Ahmad bin Abdurrahman bin Wahb (w.264H)[14]. Haditsnya lemah jika meriwayatkan dari pamannya, Ibnu Hibban berkata: Dulunya ia meriwayatkan hadits yang bagus ketika Ibnu Khuzaimah dan seangkatannya menulis hadits darinya, kemudian setelah itu ia meriwayatkan dari pamannya hadits-hadits yangg tidak punya asal (laa ashla lah).
Ibnu ‘Adiy berkata: Aku melihat para syekh dari Mesir sepakat akan kelemahan periwayatan haditsnya.

9.      Hadits Usman bin Abi Al-‘Ash radhiyallahu 'anhu

Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam kitabnya “Syu’ab Al-Iman” 5/362 no.3555:
عن جَامِع بْن صبيْحٍ الرَّمْلِيُّ، حَدَّثَنَا مَرْحُومُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ هِشَامِ بْنِ حَسَّانَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ نَادَى مُنَادٍ: هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ، هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ فَلَا يَسْأَلُ أَحَدٌ شَيْئًا إِلَّا أُعْطِيَ إِلَّا زَانِيَةٌ بِفَرْجِهَا أَوْ مُشْرِكٌ "
Dari Jaami’ bin Shabiih Ar-Ramliy; Telah menceritakan kepada kami, Marhuum bin Abdul ‘Aziz, dari Daud bin Abdirrahman, dari Hisyam bin Hassaan, dari Al-Hasan, dan Utsman bin Abi Al-‘Ash, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “JIka datang malam seperdua bulan Sya’ban, Allah menyeru: Apakah ada yang meminta ampunan maka aku mengampuninya, apakah ada yang meminta maka aku mengabulkannnya. Kemudian tidak seorang pun meminta sesuatu kecuali diberi kecuali wanita pezina dengan kemaluannya atau seorang musyrik”

Sanad ini lemah karena Jami’ bin Shabiih Ar-Ramliy; Biografinya disebutkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam kitabnya “Al-Jarh wa At-Ta’diil” (2/530) namun tidak disebutkan pujian ataupun celaan terhadapnya.
Sedangkan Al-Azdiy mengatakan: Ia lemah. [Lisaan Al-Miizaan 2/416]

Akan tetapi ia punya pendukung (mutaba’ah), diriwayatkan oleh Al-Kharaithiy dalam kitabnya “Masawi’ Al-Akhlaq” no.467:
عن مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارٍ، ثنا مَرْحُومٌ الْعَطَّارُ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ هِشَامٍ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " إِذَا كَانَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، نَادَى مُنَادٍ: هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ، هَلْ مِنْ سَائِلٍ فَأُعْطِيَهُ؟ فَلَا يَسْأَلُ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَحَدٌ شَيْئًا إِلَّا أَعْطَاهُ، إِلَّا زَانِيَةٌ بِفَرْجِهَا أَوْ مُشْرِكٌ "

Namun sanadnya tetap saja lemah karena periwayatan Al-Hasan Al-Bashriy (w.110H)[15] dari Usman bin Abi Al-‘Ash diperselisihkan:
Ibnu Al-Madiniy dalam kitabnya “Al-‘Ilal” hal.51 mengatakan bahwa Al-Hasan telah mendengarkan hadits dari Usman bin Abi Al-‘Ash, sedangkan Al-Miziiy menyebutkan bahwa ada yang mengatakan: Tidak.
Selain itu, Al-Hasan juga seorang mudallis dan pada sanad ini ia hanya memakai lafadz (عن) yang tidak menunjukkan bahwa ia telah mendengarnya langsung dari Usman.
Lihat: Silsilah Al-Ahaadiits Adh-Dha’ifah karya syekh Albaniy 14/1099 no.7000.

10.  Hadits Ubay bin Ka’b radhiyallahu 'anhu

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam kitabnya “Taariikh Dimasyq” 51/72:
عن أبي حنيفة جعفر بن بهرام حدثنا حامد بن محمود الهمداني حدثنا إبراهيم بن عبد الله البصري حدثنا محمد بن حازم عن الضحاك بن مزاحم عن أبي بن كعب قال: قال رسول الله (صلى الله عليه وسلم): إن جبريل أتاني ليلة النصف من شعبان قال: قم فصل وارفع رأسك ويديك إلى السماء . قال: فقلت: يا جبريل ما هذه الليلة؟ قال: يا محمد يفتح فيها أبواب السماء وأبواب الرحمة ثلاثمائة باب فيغفر لجميع من لا يشرك بالله شيئا غير مشاحن أو عاشر أو مدمن خمر أو مصر على زنى ...
Dari Abi Hanifah Ja’far bin Bahram; Telah menceritakan kepada kami, Hamid bin Mahmud Al-Hamdaniy; Telah menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Abdillah Al-Bashriy; Telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Hazim, dari Adh-Dhahhaaq bin Muzahim, dari Ubay bin Ka’b, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Jibril mendatangiku pada malam seperdua bulan Sya’ban, ia berkata: Bangkitlah dan dirikan shalat, angkat kepalamu dan kedua tanganmu ke langit. Beliau bersabda: Maka aku bertanya: Wahai Jibril, malam apakah ini? Jibril menjawab: Wahai Muhammad malam ini dibuka pintu-pintu langit, dan pintu-pintu rahmat ada tiga ratus pintu, maka diampuni semua yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun kecuali yang memusuhi, atau peminum khamar, atau terang-terangan berzina …”

Ibnu ‘Iraq berkata: Muhammad bin Hazim tidak diketahui (majhuul), meriwayatkan darinya Ibrahim bin Abdillah Al-Bashriy, dan meriwayatkan darinya Haamid bin Mahmud Al-Hamdaniy, aku tidak mengetahui keduanya. Wallahu a’lam! [Tanziih Asy-Syari’ah 2/126]

11.  Hadits Abi Umamah Al-Baahiliy radhiyallahu 'anhu

Diriwayatkan Ibnu Ad-Dubaitsiy (w.637H) dalam kitabnya “Lailah An-Nishf min Sya’ban” oleh no.3:
عن ابن عبد العزيز بن موسى عن سيف بن محمد الثوري عن الأحوص بن حكيم عن أبي أمامة الباهلي قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " يهبط الله عز وجل إلى السماء الدنيا إلى عباده في نصف من شعبان ، فيطلع إليهم فيغفر لكل مؤمن ومؤمنة ، وكل مسلم ومسلمة ، إلا كافرا أو كافرة ، أو مشركا أو مشركة ، أو رجلا بينه وبين أخيه مشاحنة ، ويدع أهل الحقد بحقدهم "
Dari Ibnu Abdil ‘Aziz bin Musa, dari Saif bin Muhammad Ats-Tsauriy, dari Al-Ahwash bin Hakiim, dari Abi Umamah Al-Bahiliy, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Allah ‘azza wa jalla turun ke langit duni kepada hambaNya pada seperdua bulan Sya’ban, kemudian melihat pada mereka dan mengampuni semua mu’min laki-laki dan perempuan, semua muslim laki-laki dan perempuan, kecuali kafir laki-laki dan perempuan, atau musyrik laki-laki dan perempuan, atau seorang yang antara ia dan saudaranya ada permusuhan, dan meninggalkan orang yang iri dengan kedengkiannya”

Hadits ini sangat lemah karena Saif bin Muhammad Ats-Tsauriy[16] dituduh pembohong, dan Al-Ahwash bin Hakiim juga lemah.

12.  Hadits Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam kitabnya “As-Sunan” 1/444 no.1388:
عن ابْن أَبِي سَبْرَةَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَعْفَرٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا، فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا، فَيَقُولُ: أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا، حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ "
Dari Ibnu Abi Sabrah, dari Ibrahim bin Muhammad, dari Mu’awiyah bin Abdillah bin Ja’far, dari bapaknya, dari Ali bin Abi Thalib, ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban maka dirikanlah shalat pada malamnya dan puasalah pada siang harinya, karena sesungguhnya Allah turun pada malam itu setelah matahari tenggelam ke langit dunia dan berkata: Adakah yang meminta ampunan padaKu maka Aku mengampuninya? Adakah yang meminta rezeki maka Aku memberinya rezeki? Adakah yang tertimpa musibah maka Aku menyelamatkannya? Adakah yang begini dan begitu? Sampai fajar terbit”.

Hadits ini palsu karena Ibnu Abi Sabrah namanya Muhammad bin Abdillah kuniahnya Abu Bakr (162H)[17]; diklaim sebagai pemalsu hadits oleh Imam Ahmad.
Lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah 5/154 no.2132.

Kesimpulan:

Ulama berselisih pendapat tentang derajat hadits ini, ada yang men-shahih-kan sebagaiannya, dan ada juga yang melemahkan semuanya.

Al-Hafidz Abu Al-Khathab Ibnu Dihyah (w.633H) rahimahullah berkata:
قَالَ أَهْلُ التَّعْدِيلِ وَالتَّجْرِيحِ: «وَلَيْسَ فِي حَدِيثِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ حَدِيثٌ يَصِحُّ»
“Ahli “at-ta’diil wa at-tajriih” (ulama hadits) berkata: Tidak ada hadits tentang malam seperdua bulan Sya’ban yang sahih”. ["Ma wadhaha wa stabana fii fadhail syahr Sya'ban" hal.43]

Ibnu Rajab Al-Hambaliy rahimahullah berkata:
وفي فضل ليلة نصف شعبان أحاديث أخر متعددة وقد اختلف فيها فضعفها الأكثرون وصحح ابن حبان بعضها وخرجه في صحيحه
“Dan pada keutamaan malam seperdua bulan Sya’ban beberapa hadits lain yang jumlahnya banyak. Dan ulama berselisih tentangnya, maka kebanyakan melemahkannya, sedangkan Ibnu Hibban men-shahih-kan sebagiannya, dan mengeluarkannya dalam kitab shahih-nya”. [Lathaif Al-Ma’aarif hal.136]

Wallahu a’lam!

Referensi:
 المؤلف: ابن الدبيثي المتوفى سنة 637هـ




[1] Lihat biografi "Makhuul" dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal karya Al-Mizziy 28/464, Thabaqaat Al-Mudallisiin karya Ibnu Hajar hal.46, Taqriib At-Tahdziib karya Ibnu Hajar hal.545.
[2] Lihat biografi "Abu Khulaid" dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal 19/303, Taqriib At-Tahdziib hal.380.
[3] Lihat biografi " Al-Ahwash bin Hakiim " dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.156, Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir karya Al-'Uqaily 1/120, Al-Jarh wa At-Ta'diil karya Ibnu Abi Hatim 2/327, Al-Majruhiin karya Ibnu Hibban 1/175, Al-Kaamil karya Ibnu 'Adiy 2/113, Adh-Dhu'afaa' karya Ad-Daruquthniy 1/259, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/92, Tahdziib Al-Kamaal 2/289, Al-Kaasyif karya Adz-Dzahabiy 1/230, Taqriib At-Tahdziib hal.96.
[4] Lihat biografi " Abdul Malik bin Abdil Malik " dalam kitab: At-Taariikh  Al-Kabiir karya Al-Bukhariy 5/424, Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 3/29, Al-Majruhiin 2/136, Al-Kaamil 6/535, Sualaat Al-Burqaniy kepada Ad-Daruquthniy hal.45, Miizaan Al-I'tidaal karya Adz-Dzahabiy 2/659, Lisaan Al-Miizaan karya Ibnu Hajar 5/268.
[5] Lihat biografi “Abdullah bin Lahi'ah” dalam kitab: Ad-Dhu'afaa' Ash-Shagiir karya Imam Bukhari hal.69, Ad-Dhu'afaa' karya An-Nasa'iy hal.203, Ad-Dhu'afaa' Al-Kabiir 4/383, Al-Kamil 4/144, Ad-Dhu'afaa' karya Ibnu Jauziy 2/136, Miizaan Al-I'tidaal 4/166.
[6] Lihat biografi " Adh-Dhahhaaq bin Aiman " dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal 13/259, Miizaan Al-I'tidaal 2/322, Taqriib At-Tahdziib hal.279.
[7] Lihat biografi " Az-Zubair bin Sulaim " dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal 9/308, Miizaan Al-I'tidaal 2/67, Taqriib At-Tahdziib hal.214.
[8] Lihat biografi " Abdurrahman bin ‘Arzab " dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal 17/280, Taqriib At-Tahdziib hal.346.
[9] Lihat biografi " Huyaiy bin Abdillah " dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.171, Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 1/319, Ats-Tsiqaat karya Ibnu Hibban 6/235, Al-Kaamil 3/387, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/242, Tahdziib Al-Kamaal 7/488, Miizaan Al-I'tidaal 1/623, Diwaan Adh-Dhu’afaa karya Adz-Dzahabiy hal.108, Taqriib At-Tahdziib hal.185.
[10] Lihat biografi " Abdurrahman bin Ziyaad " dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.206, Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 2/332, Al-Majruhiin 2/50, Adh-Dhu'afaa' karya Ad-Daruquthniy 2/161, Tahdziib Al-Kamaal 17/102, Miizaan Al-I'tidaal 2/561, Taqriib At-Tahdziib hal.340.
[11] Lihat biografi "Yahya bin Abi Katsiir" dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal 31/504, Taqriib At-Tahdziib hal.596.
[12] Lihat biografi " Al-Hajjaaj bin Arthaah " dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Ash-Shagiir hal.36, Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 1/277, Al-Kaamil 2/518, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/191, Tahdziib Al-Kamaal 5/420, Miizaan Al-I'tidaal 1/548, Taqriib At-Tahdziib hal.152.
[13] Lihat biografi " Al-‘Alaa’ bin Al-Harits " dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 3/346, Tahdziib Al-Kamaal 22/478, Miizaan Al-I'tidaal 3/98, Taqriib At-Tahdziib hal.434.
[14] Lihat biografi " Abu Ubaidillah " dalam kitab: Al-Jarh wa At-Ta'diil 2/60, Al-Majruhiin 1/149, Al-Kaamil 1/302, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/76, Tahdziib Al-Kamaal 1/387, Miizaan Al-I'tidaal 1/113, Taqriib At-Tahdziib hal.82.
[15] Lihat biografi "Al-Hasan Al-Bashriy" dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal 6/95, Taqriib At-Tahdziib hal.160.
[16] Lihat biografi " Saif bin Muhammad " dalam kitab: Taariikh Ibnu Ma'in riwayat Ad-Darimiy hal.118, Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir 2/172, Al-Jarh wa At-Ta'diil 4/277, Al-Majruhiin 1/346, Al-Kaamil 4/501, Adh-Dhu'afaa' karya Ad-Daruquthniy 2/157, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 2/35, Tahdziib Al-Kamaal 12/328, Miizaan Al-I'tidaal 2/256, Taqriib At-Tahdziib hal.262.
[17] Lihat biografi Ibnu Abi Sabrah dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.255 , Al-Majruhiin 3/147, Al-Kaamil 7/295, Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 3/79, Miizaan Al-I'tidaal 6/204, Taqriib At-Tahdziib hal.623.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...