Rabu, 18 Maret 2015

Takhriij hadits “Tidur orang berilmu lebih baik dari pada ibadah orang bodoh"

بسم الله الرحمن الرحيم


Saya tidak mendapatkan riwayat di atas !!!

Markaz fatwa Islam Web ditanya tentang hadits:

نوم العالم أفضل من عبادة الجاهل
“Tidurnya seorang ulama lebih baik daripada ibadahnya seorang yang bodoh”.

Mereka menjawab: Kami tidak menemukan asalnya (sanadnya). [Fatawa Asy-Syabakah Al-Islamiyah 3/727]

Dengan makna yang sama, diriwayatkan dari beberapa Sahabat, diantaranya:

A.    Hadits Ali bin Abi Thalib

Diriwayatkan dalam buku-buku kaum Syi’ah, seperti Syekh Ash-Shaduuq (w.381H) dalam kitabnya Man laa yahdhuruhu al-faqiih4/352-367:

عن حماد بن عمرو، وأنس بن محمد عن أبيه، جميعا – يعني حمادا ومحمدا والد أنس – عن جعفر بن محمد، عن أبيه، عن جده، عن علي بن أبي طالب، عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال له : - وذكر حديثا طويلا جدا – وفيه: " يا علي ! نوم العالم خير من عبادة العابد " .

Dari Hammad bin ‘Amr dan Anas bin Muhammad, dari bapaknya; Keduanya (yaitu Hammad dan Muhammad bapak Anas) meriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad, dari bapaknya, dari kakeknya, dari Ali bin Abi Thalib, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda: - Kemudian menyebutkan hadits yang sangat panjang – dan disebutkan di dalamnya “Wahai Ali, Tidurnya orang yang berilmu lebih baik daripada ibadahnya seorang ahli ibadah”.

Sanad ini sangat lemah karena beberapa cacat:

1.      Hammad bin ‘Amr, kemungkinan ia adalah An-Nashibiy[1].
Imam Bukhari dan Abu Hatim Ar-Raziy berkata: Haditsnya mungkar (sangat lemah).
An-Nasa’iy berkata: Haditsnya ditolak (matruuk).
Ia dituduh sebagai pembohong dan pemalsu hadits oleh Ibnu Ma’in, Ibnu Hibban, Al-Jauzajaniy.
2.      Anas bin Muhammad dan bapaknya, keduanya majhuul (tidak diketahui).
B.    Hadits Salman Al-Farisy

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim (w.430H) dalam kitabnya Hilyatul Auliyaa’ 4/385:

قال: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ: ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْحَسَنِ، قَالَ: نا أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى الصُّوفِيُّ، قَالَ: نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الضَّرِيرُ، قَالَ: ثنا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي الْبَخْتَرِيِّ، عَنْ سَلْمَانَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «نَوْمٌ عَلَى عِلْمٍ خَيْرٌ مِنْ صَلَاةٍ عَلَى جَهْلٍ».

Dari Salman, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidur dalam keadaan berilmu lebih baik dari pada shalat dalam keadaan bodoh”.

Abu Nu’aim berkata:
كَذَا رَوَاهُ الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي الْبَخْتَرِيِّ، وَأَرْسَلَهُ أَبُو الْبَخْتَرِيِّ عَنْ سَلْمَانَ أَيْضًا
Seperti inilah Al-A’masy meriwayatkannya dari Abu Al-Bakhtariy, dan Abu Al-Bakhtariy juga meriwayatkannya secara mursal (terputus) dari Salman.

Diriwayatkan juga oleh Al-Khallaal (w.439H) dalam kitabnya Dzikru man lam yakun ‘indahu illaa haditsun wahid no.94:

قال: حدثنا محمد بن نصر بن مكرم المعدل قال: حدثنا محمد بن الحسين اللخمي قال: حدثنا أحمد بن يحيى الصوفي قال: حدثنا محمد بن يحيى بن الضريس، عن جعفر بن محمد، عن أبيه، عن إسماعيل بن أبي خالد، عن الأعمش، عن أبي البختري، عن سلمان قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: " نوم على علم خير من صلاة على جهل " .

Al-Khallaal berkata:
ليس لإسماعيل عن الأعمش إلا هذا الحديث وليس لمحمد بن علي بن الحسين بن علي بن أبي طالب عن إسماعيل غيره.
Ismail tidak menerima hadits dari Al-A’masy selain hadits ini, dan Muhammad bin Ali bin Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib tidak menerima hadits dari Ismail selain hadits ini.

Ad-Daraquthniy berkata:
تفرد بِهِ أَحْمد بن يحيى الصُّوفِي وَلم نَكْتُبهُ إِلَّا عَن أبي عبيد الْقَاسِم بن إِسْمَاعِيل.
Ahmad bin Yahya Ash-Shufiy sendiri meriwayatkan hadiits ini, dan kami tidak menulisnya kecuali dari Abu ‘Ubaid Al-Qasim bin Isma’il. [Athraaf Al-Garaaib wal Af-Raad karya Ibnu Al-Qaisaraniy 3/118 no.2205]

Syekh Albaniy berkata: Hadits ini lemah, sanadnya mudzlim (banyak perawinya yang tidak diketahui), mulai dari perawi setelah Al-A’amasy aku tidak mengetahui siapa mereka. [Silsilah Al-Ahaadits Adh-Dha’ifah 10/231 no.4697]

Biografi rawi sanad Abu Nu’aim:

1.      Salman Al-Farisiy radhiyallahu ‘anhu; Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alahi wa sallam.
2.      Abu Al-Bakhtariy; Namanya Sa’id bin Fairuuz Ath-Tha’iy (w.83H) [2].
Imam Bukhari berkata: Ia tidak bertemu dengan Salman radhiyallahu ‘anhu.
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Ia seorang yang tsiqah dan tsabt, banyak melakukan irsaal (memutuskan sanad).
3.      Al-A’masy; Namanya Sulaiman bin Mihran, Abu Muhammad Al-Kufiy (w.147H) [3].
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Ia seorang yang tsiqah hafidz.
4.      Isma’il bin Abi Khalid Al-Ahmasiy, Abu Abdillah Al-Kufiy (w.146H) [4].
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Ia seorang yang tsiqah dan tsabt.
5.      Muhammd bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Abu Ja’far Al-Baaqir (w.100H lebih)[5].
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Ia seorang yang tsiqah dan mulia.
6.      Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib, Abu Abdillah Ash-Shadiq (w.148H)[6].
Al-Hafidz Ibnu Hajar berkata: Ia seorang yang shaduuq, ahli fiqhi, imam.
7.      Muhammd bin Yahya Adh-Dhariir.
Saya tidak mendapatkan biografinya, dan sepertinya ia adalah Muhammad bin Yahya bin Adh-Dhariis, sebagaimana pada sanad Al-Khallaal.
8.      Ahmad bin Yahya Ash-Shuufiy, Abu Ja’far Al-Kufiy (w.264H)[7].
Ia meriwayatkan hadits dari Mukhawwal bin Ibrahim [Lihat Tarikh Ashbahaan 1/177], Zayd bin Al-Hubaab [Lihat Tarikh Ashbahaan 1/434], Laits bin Khalid Al-Balkhiy [Lihat Tarikh Ashbahaan 1/444], dan selainnya.
Diantara muridnya: Abdurrahman bin Al-Hasan bin Musa, Abu Muhammad Adh-Dharraab [Lihat Tarikh Ashbahaan 1/444], dan selainnya.
Abu Hatim Ar-Raziy, Ibnu Hajar, dan Adz-Dzahabiy mengatakan: Ia tsiqah.
9.      Abdurrahman bin Al-Hasan bin Musa, Abu Muhammad Adh-Dharraab (w.307H) [8].
Abu Asy-Syaikh berkata: Ia salah seorang ulama yuang mutqin (kuat hafalannya).
Ibnu Mardawaih berkata: Ia seorang yang mutqin.
Abu Nu’aim berkata: Ia salah seorang ulama besar hadits dan tsiqah.
Adz-Dzahabiy mengatakan: Ia tsiqah.
10.  Abdullah bin Muhammad bin Ja’far bin Hayyaan, Abu Muhammad Al-Ashbahaniy, lebih dikenal dengan sebutan Abu Asy-Syaikh (w.369H)[9].
Beliau seorang ulama yang tsiqah dan memiliki banyak karya seperti Thabaqaat Al-Muhadditsiin bi Ash-Bahaan, Al-‘Adzamah, Akhlaq An-Nabiy, dan selainnya.

Biografi rawi sanad Al-Khallaal:

1.      Muhammd bin Yahya bin Adh-Dhariis., Al-Kufiy Al-Faidiy[10].
Diantara muridnya adalah Abu Hatim Ar-Raziy (w.277H) , ia berkata: Ia shaduuq.
2.      Ahmad bin Yahya Ash-Shuufiy, Abu Ja’far Al-Kufiy (w.264H).
3.      Muhammad bin Al-Husain Al-Lakhmiy, Abu Ath-Thayyib Al-Kufiy (w.318H)[11].
Adz-Dzahabiy mengatakan: Ia seorang yang tsiqah.
4.      Muhammad bin Nashr bin Makram Al-Mu’addil, Abu Al-‘Abbaas Al-Qadhiy (w.375H) [12].
Dianggap tsiqah oleh Ad-Daraquthniy, Abu Bakr Al-Burqaniy, dan Al-‘Atiqiy.

Derajat hadits ini:

Hadits ini lemah karena sanadnya terputus; Abu Al-Bakhtariy tidak bertemu dengan Salman radhiyallahu ‘anhu.

Hadits shahih yang menunjukkan keutamaan ahli ilmu daripada ahli ibadah:

Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«فَضْلُ العَالِمِ عَلَى العَابِدِ كَفَضْلِي عَلَى أَدْنَاكُمْ» [سنن الترمذي: صحيح]
"Keutamaan seorang ulama dibandingkan dengan seorang ahli ibadah seperti keutamaanku dibandingkan dengan orang yang paling rendah dari kalian". [Sunan At-Tirmidzi: Sahih]

Dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
فَضْلُ الْعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ ، وَخَيْرُ دِينِكِمُ الْوَرَعُ [مسند البزار: صححه الألباني]
“Keutamaan ilmu lebih saya sukai daripada keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama (amalan) kalian adalah sifat wara'”. [Musnad Al-Bazzaar: Sahih]

Dari Abu Ad-Dardaa' radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«إِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ، كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ» [سنن أبى داود: صححه الألباني]
“Sesungguhnya keutamaan seorang ulama terhadap seorang ahli ibadah seperti keutamaan bulan malam purnama dibandingkan dengan bintang lainnya”. [Sunan Abu Daud: Sahih]

Catatan:

1.      Ahli ilmu lebih baik dari ahli ibadah karena manfaat ibadah seorang ahli ibadah untuk dirinya sendiri, sedangkan ahli ilmu manfaat ilmunya untuk dirinya dan orang lain.
Dan biasanya ahli ibadah yang kurang ilmu akan tersesat ke dalam bid’ah atau bahkan syirik.
2.      Yang dimaksud ahli ilmu di sini adalah orang yang menuntut ilmu, kemudian mengamalkan dan mengajarkannya.
Adapun orang berilmu yang tidak mengamalkan ilmunya maka ahli ibadah jauh lebih baik darinya, karena ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi musibah bagi pemiliknya.
Adapun ahli ibadah yang kurang ilmu atau berilmu namun tidak menyampaikannya kepada orang lain, sekalipun ini adalah kekurangan akan tetapi lebih baik dari orang berilmu yang tidak beribadah seperti orang yang menuntut ilmu hanya demi jabatan, pujian, atau urusan dunia lainnya.

Lihat: Mur'aat Al-Mafaatiih fii syarh Misykaah Al-Mafaatiih karya Al-Mubarakafuriy 1/318, dan Faidhul Qadiir syarh Al-Jami' Ash-Shagiir karya Al-Munawiy 4/432-433.

Wallahu a’lam!




[1] Lihat biografi "Hammad bin ‘Amr An-Nashibiy" dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' Ash-Shagiir karya Al-Bukhariy hal.38 , Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'iy hal.167 , Adh-Dhu'afaa' Al-Kabiir karya Al-'Uqaily 1/308, Al-Jarh wa At-Ta'diil karya Ibnu Abi Hatim 3/144, Al-Majruhiin karya Ibnu Hibban 1/252, Al-Kaamil karya Ibnu 'Adiy 3/10, Adh-Dhu'afaa' karya Abu Nu'aim hal.74 , Adh-Dhu'afaa' karya Ibnu Al-Jauziy 1/234, Miizaan Al-I'tidaal karya Adz-Dzahabiy 1/598, Lisaan Al-Miizaan karya Ibnu Hajar 3/274.
[2] Lihat biografi " Abu Al-Bakhtariy " dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal karya Al-Mizziy 11/32, Jaami’ At-Tahshiil karya Al-‘Alaaiy hal.183, Taqriib At-Tahdziib karya Ibnu Hajar hal.240.
[3] Lihat biografi " Sulaiman Al-A’masy" dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal 12/76, Taqriib At-Tahdziib hal.254.
[4] Lihat biografi " Ismail bin Abi Khalid" dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal 3/69, Taqriib At-Tahdziib hal.107.
[5] Lihat biografi " Muhammad bin Ali Al-Baaqir" dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal 26/136, Taqriib At-Tahdziib hal.141.
[6] Lihat biografi " Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq" dalam kitab: Tahdziib Al-Kamaal 5/74, Taqriib At-Tahdziib hal.141.
[7] Lihat biografi " Ahmad bin Yahya Ash-Shufiy" dalam kitab: Al-Jarh wa At-Ta'diil 2/81, Ats-Tisqaat karya Ibnu Hibban 8/40, Tahdziib Al-Kamaal 1/517, Al-Kaasyif karya Adz-Dzahabiy 1/204, Taqriib At-Tahdziib hal.85.
[8] Lihat biografi "Abdurrahman bin Al-Hasan" dalam kitab: Thabaqaat Al-Muhadditsiin karya Abu Asy-Syaikh 3/537, Taarikh Ashbahaan karya Abu Nu’aim 2/77, Ikmaal Al-Ikmaal karya Ibnu Nuqthah 3/608, Taarikh Al-Islam karya Adz-Dzahabiy 7/120.
[9] Lihat biografi "Abu Asy-Syaikh" dalam kitab: Taarikh Ashbahaan 2/51, Ikmaal Al-Ikmaal 2/199, Taarikh Al-Islam karya Adz-Dzahabiy 8/305.
[10] Lihat biografi "Muhammad bin Yahya" dalam kitab: Al-Jarh wa At-Ta'diil 8/124, Rijaal Al-Hakim fii Al-Mustadrak karya syekh Muqbil 2/310.
[11] Lihat biografi " Muhammad bin Al-Husain" dalam kitab: Taarikh Bagdad karya Al-Khathiib 3/26, Taarikh Al-Islam karya Adz-Dzahabiy 7/346, Lisaan Al-Miizaan 7/88.
[12] Lihat biografi " Muhammad bin Nash" dalam kitab: Al-Mu’talif wa Al-Mukhtalif karya Ad-Daraquthniy 4/2154, Taarikh Bagdad 4/514.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...