Kamis, 14 Juni 2012

Najis Anjing


Hadits yang memerintahkan mencuci jilatan anjing.

1.       Diriwayatkan oleh Al-A'raj dari Abu Hurairah; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«إِذَا شَرِبَ الكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعًا» [صحيح البخاري (1/ 45)]
"Jika anjing minum pada bejana kalian maka cucilah sebanyak tujuh kali". [Sahih Bukhari]

2.       Ali bin Mushir meriwayatkan dari Al-A'masy dari Abu Razin dan Abu Shalih dari Abu Hurairah; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي إِنَاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيُرِقْهُ ثُمَّ لِيَغْسِلْهُ سَبْعَ مِرَارٍ» [صحيح مسلم (1/ 234)]
"Jika anjing menjilat pada bejana kalian maka buanglah isinya kemudian cuci bejananya sebanyak tujuh kali". [Sahih Muslim]

Sebagian ulama menghukumi tambahan kalimat "فليرقه" lemah (syadz), karena selain Ali bin Mushir tidak ada yang menyebutkan tambahan tersebut. [Lihta "Fathul Bariy" karya Ibnu Hajar 1/275]
Tapi ulama lain mengatakan bahwa tambahan tersebut sahih, kerena Ali seorang yang tsiqah tambahan haditsnya diterimah (ziyadah tsiqah), dan tambahan tersebut tidak bertentangan dengan riwayat yang tidak menambah karena perintah mencuci telah mengandung isyarat perintah membuang isinya karena bernajis. [Lihat "Al-Badr Al-Munir" karya Ibnu Al-Mulaqqin 1/545]

3.       Diriwayatkan oleh Muhammad bin Sirin dari Abu Hurairah; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«طَهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيهِ الْكَلْبُ، أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُولَاهُنَّ بِالتُّرَابِ» [صحيح مسلم (1/ 234)]
"Sucikanlah bejana kalian jika dijilat oleh anjing dan cucilah sebanyak tujuh kali diawali dengan tanah". [Sahih Muslim]

4.       Ibnu Al-Mugaffal berkata: Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk membunuh anjing, kemudian Rasulullah bersabda: "Ada apa dengan mereka dan anjing?" Kemudian Rasulullah memberi keringanan untuk memelihara anjing pemburu dan penjaga ternak, dan bersabda:
«إِذَا وَلَغَ الْكَلْبُ فِي الْإِنَاءِ فَاغْسِلُوهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، وَعَفِّرُوهُ الثَّامِنَةَ فِي التُّرَابِ» [صحيح مسلم (1/ 235)]
"Jika anjing menjilat pada bejana maka cucilah sebanyak tujuh kali dan campurkan cucian ke delapan dengan tanah". [Sahih Muslim]

Al-Malikiyah menganggap bahwa anjing secara keseluruhan bukan najis, diantara argumennya:
1.       Allah subhanahu wata'ala menghalalkan buruan anjing dan tidak memerintahkan mencuci gigitannya. [Surah Al-Maidah:4]
2.       Demikian pula dibolehkan memelihata anjing pemburu, penjaga ternak dan kebun.
3.       Adapun hadits perintah mencuci bekas jilatannya, maka itu adalah perintah sebatas ibadah bukan karena najis.
4.       Ibnu Umar berkata: Dulu anjing kencing dan keluar masuk mesjid di masa Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam dan tidak memerintahkan untuk memercikkannya dengan air. [Sahih Bukhari]
Sedangkan Jumhur Ulama mengatakan bahwa air liur anjing adalah najis, dan membantah argumen al-malikiyah:
1.       Allah menghalalkan buruan anjing dan dibolehkan pelihara anjing pemburu, penjaga ternak dan kebun, bukan berarti gigitannya tidak najis karena hukum kenajisannya diambil dari dalil lain seperti hadits Abu Hurairah dan Ibnu Al-Mugaffal.
2.       Perintah mensucikan bekas jilatan anjing dan membuang isinya menunjukkan kalau jilatan anjing itu najis, seandainya tidak maka tidak perlu dibuang isinya karena itu sama saja menghamburkan harta.
3.       Hadits Ibnu Umar terjadi sebelum tutun perintah membersihkan mesjid dari kotoran.
[Lihat Nail Al-Authar karya Asy-Syaukaniy 1/107, dan Subul As-Salam karya Ash-Shan'aniy 1/32]

Berapa kali dicuci?

Pendapat Al-Hanafiyah: Cukup tiga kali. Diantara dalilnya:
1)      Abu Hurairah berkata: Jika anjing menjilat pada bejana maka buanglah isinya kemudian cuci tiga kali. [Sunan Ad-Daruquthniy 1/109]
2)      Diriwayatkan oleh Ad-Daruquthniy dalam kitabnya As-Sunan 1/108:
عن عبد الوهاب بن الضحاك , نا إسماعيل بن عياش , عن هشام بن عروة , عن أبي الزناد , عن الأعرج , عن أبي هريرة , عن النبي صلى الله عليه وسلم «في الكلب يلغ في الإناء أنه يغسله ثلاثا أو خمسا أو سبعا».
Dari Abu Hurairah; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang anjing yang menjilat dalam bejana bahwasanya dicuci tiga atau lima atau tujuh kali.
Al-Hanafiyah mengatakan: Pendapat Abu Hurairah menjelaskan hadits yang ia riwayatkan dari Rasulullah yang menunjukkan bahwa tiga kali cucian sudah cukup untuk membersihkan najis anjing.

Pendapat Al-Hanafiyah dibantah oleh Jumhur, diantaranya:
1)      Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah sangat lemah. Ad-Daruquthniy berkata: Abdul Wahab seorang yang ditolak haditsnya; dan ia sendiri meriwayatkannya dari Isma'il. Sedangkan yang lainnya meriwayatkannya dari Isma'il dengan lafadz: «فاغسلوه سبعا» "maka cucilah tujuh kali" dan ini yang benar.
2)      Abu Hurairah juga pernah berfatwa mewajibkan pencucian tujuh kali, dan ini yang lebih kuat karena sesuai dengan hadits yang sahih.
Pendapat Al-Malikiyah, Asy-Syafi'iyah, Al-Hanabilh, dan Adz-Dzahiriyah: Harus dicuci tujuh kali. Diantara dalilnya:
Hadits Abu Hurairah yang memerintahkan pencucuian sebanyak tujuh kali lebih kuat dan didukung oleh riwayat Ibnu Al-Mugaffal.

Adapun riwayat Ibnu Al-Mugaffal yang menyebutkan delapan pencucian tidak bertentangan dengan riwayat Abu Hurairah, karena cucian yang kedelapan adalah sebagai tambahan.
Dan sebagian ulama mengatakan bahwa riwayat pencucian yang kedelapan menjadikan tanah sebagai satu cucian tersendiri (7 air + 1 tanah), sedangkan riwayat yang tujuh tidak menghitungnya sebagai satu cucian (7 air diawali dengan tanah atau cucian pertama dicampur dengan tanah).

Pendapat kedokteran: Bakteri pada anjing tidak bersih jika tidak dicuci sebanyak tujuh kali.

Haruskah pakai tanah?

Pendapat Al-Hanafiyah dan Al-Malikiyah: Tidak perlu pakai tanah.
Al-Hanafiyah mengatakan: Najis anjing sama dengan najis lainnya.
Al-Malikiyah mengatakan: Hadits Abu Hurairah diriwayatkan oleh Imam Malik tidak menyebutkan pencucian dengan tanah.

Pendapat Asy-Syafi'iyah, Al-Hanabilh, dan Adz-Dzahiriyah: Harus pakai tanah, namum mereka berselisih waktu pencucian tanah.

Asy-Syafi'iyah berpendapat: Di awal pencucian pakai tanah, atau pada salah satu dari yang tujuh dan tidak wajib di awal sebagaimana dalam salah satu riwayat "إحداهن بالتراب" (salah satunya dengan tanah).

Al-Hanabilah berpendapat: Tujuh kali pencucian salah satunya pakai tanah, atau delapan kali salah satunya pakai tanah.
Ibnu Qudamah (620H) mengatakan: Madzhab Al-Hanabilah tidak berselisih bahwa wajib dicuci najis anjing tujuh kali salah satunya dengan tanah, ... dan riwayat lain dari Imam Ahmad bahwa wajib dicuci delapan kali salah satunya dengan tanah, akan tetapi riwayat yang pertama (tujuh kali) lebih kuat. ... Dan disunnahkan pemakaian tanah pada cucian pertama karena sesuai dengan lafadz hadits. [Al-Mugniy 1/74]

Adz-Dzahiriyah berpendapat: Tujuh kali pencucian dan harus diawali dengan tanah. Argumennya:
1)      Riwayat yang menyebutkan pencucian tanah lebih diutamakan dari pada riwayat yang tidak menyebutkan.
2)      Riwayat "أولاهن بالتراب" (diawali dengan tanah) lebih kuat daripada riwayat "إحداهن".
3)      Perintah Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallakm memakai tanah di awal pencucian menunjukkan kewajiban.
4)      Mengawali pencucian dengan tanah lebih bersih.
Pendapat kedokteran: Kuman pada air liur anjing tidak dapat hilang kecuali dengan tanah.

Bolehkah tanah diganti dengan pembersih lainnya?

Asy-Syafi'iyah punya empat pendapat: 1. Tidak boleh selain tanah, 2. Boleh, 3. Boleh kalau tidak ada tanah, 4. Boleh kalau tanah akan merusak seperti pakaian. [Lihat Al-Majmu' karya An-Nawawiy 2/583]

Al-Hanabilh ada dua pendapat: 1. Boleh selain tanah, 2. Tidak boleh. [Lihat Al-Mugniy karya Ibnu Qudamah 1/74]

Pendapat Adz-Dzahiriyah: Tidak boleh sama sekali.
Ibnu Hazm (456H) mengatakan: Tidak boleh mengganti tanah dengan pembersih lainnya, karena itu melanggar perintah Rasulullah sallalllahu 'alaihi wasallam. [Al-Muhallaa 1/111]

Ulama yang merajihkan "tidak boleh", diantaranya: Zainuddin Al-'Iraqy (806H) dalam kitabnya "Tharh At-Tatsriib" 2/122, dan Ibnu Daqiiq Al-'Id (702H) dalam kitabnya "Ihkaam Al-Ahkaam" 1/26.

Pendapat kedokteran: Bakteri pada anjing tidak dapat hilang kecuali dengan tanah.

Haruskah dibuang semua bekas jilatan atau gigitan anjing?

Pendapat Al-Hanafiyah: Jilatan anjing pada air atau cairan lain menjadikan cairan tersebut najis, maka harus dibuang.
Az-Zaila'iy (743H) mengatakan: Sisa minum anjing adalah najis, ... dan perintah membuangnya sebagai kenajisannya. [Tabyiin Al-Haqaaiq 1/32]

Pendapat Al-Malikiyah: Sisa jilatan ajing pada air sebaiknya dibuang tapi tidak najis dan hukumnya makruh digunakan jika ada air lain. Sedangkan jilatan pada cairan selain air atau pada makanan tidak wajib dibuang.
Ibnu Abdil Bar (463H) mengatakan: Tidak perlu dibuang sesuatu yang dijilat oleh anjing selain air karena harganya yang ringan, dan orang yang berwudhu dengan air sisa jilatan anjing jika tidak ada air lain hukumnya sah (karena air itu suci) dan tidak boleh tayammum jika ada air sekalipun sudah dijilat oleh anjing. [Al-Istidzkar 1/206]

Asy-Syafi'iyah punya dua pendapat: 1. Sebagian berpendapat: Wajib dibuang karena bernajis dan haram digunakan. 2. Jumhur Asy-Syafi'iyah berpendapat: Tidak wajib dibuang tapi dianjurkan dan tidak haram digunakan. [Lihat "Al-Haawiy fii fiqh Asy-Syaafi'iy" karya Al-Mawardiy 1/306]
Ibnu Hajar (852H) mengatakan: Perkataan Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam "فليرقه" (buang isinya) menguatkan pendapat yang mengtakan bahwa perintah mencuci karena bejanahnya bernajis, karena istilah "al-miraaq" (membuang) sifatnya umum baik itu air atau makanan, maka jika seandainya sisa jilatan itu suci maka tidak mungkin diperintahkan untuk dibuang karena ada larangan menghamburkan harta. [Fathul Bariy 1/275]
Imam An-Nawawiy (676H) berkata: Jika anjing menjilat suatu makanan yang padat (bukan cairan), maka bagian jilatan dan sekitarnya dibuang, sedangkang sisanya tetap suci dan bisa dimanfaatkan sebagaimana jika tikus mati pada minyak beku dan semisalnya. [Al-majmu' 2/587]

Pendapat Al-Hanabilah: Harus dibuang.
Ibnu Qudamah berkata: Seandainya sisa minum anjing itu suci maka tidak boleh dibuang dan tidak wajib dicuci. [Al-Mugniy 1/70]

Pendapat Adz-Dzahiriyah: Jika anjing menjilat pada cairan apapun maka wajib dibuang sebagaimana teks hadits, adapun gigitannya pada makanan maka tidak wajib dibuang dan tempatnya tidak wajib dicuci tujuh kali, dan air yang dipakai mencuci tempat yang sudah dijilat tetap suci karena tidak ada dalil yang memerintahkannya.
Ibnu Hazm mengatakan: Wajib membuang sisa cairan dalam bejana yang dijilat anjing, ... dan air yang dipakai mencuci bejana tersebut tetap suci dan halal. [Al-Muhalla 1/109]

Pendapat kedokteran: Kuman yang ada pada sisa jilatan anjing sangat berbahaya, dapat menyebar dengan cepat, dan bisa menimbulkan penyakit. Olehnya itu sisa makanan atau minuman ajing secara umum harus dibuang untuk lebih hati-hati.

Apakah seluruh anggota badan anjing sama hukumnya dengan lidah dan liurnya?

Pendapat Al-Malikiyah dan Adz-Dzahiriyah: Hukum ini hanya khusus pada jilatan anjing saja sedangkan anggota tubuhnya yang lain adalah suci, karena teks hadits hanya pada jilatan.
Al-Qarrafiy (684H) mengatakan: Hukum ini khusus pada jilatan anjing, kalau ia memasukkan tangannya atau kakinya maka hal itu tidak berpengaruh. [Adz-Dzakhirah 1/182]
Ibnu Hazm berkata: Jika anjing makan pada suatu bejana tampa menjilat atau ia memasukkan kakinya atau ekornya atau semua badannya maka tidak wajib dicuci dan dibuang isinya karena tetap halal seperti semula, demikian pula jika anjing menjilat pada tanah atau tangan manusia, atau apa saja selain bejana maka tidak wajib dicuci dan dibuang isinya karena al-wuluug (menjilat) hanya khusus ketika minum saja. [Al-Muhalla 1/109]

Sebagian Adz-Dzahiriyah juga menganggap bahwa kotoran dan kencing anjing hukumnya sama dengan najis biasa. Syekh Ibnu Utsaimin menganggap bahwa pendapat ini kuat jika memang terbukti secara kedokteran bahwa kuman pada lidah dan liur anjing tidak ada pada kotoran dan kencingnya. [Syarh Al-Mumti' 1/290]

Asy-Syafi'iayah ada dua pendapat:
Imam An-Nawawiy mengatakan: Ulama mazhab kita mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara jilatan anjing dengan anggota badannya yang lain, maka jika kencing, kotoran, darah, keringat, rambut, liur, atau anggota badannya mengenai suatu yang suci dan salah satunya ada yang basah maka wajib dicuci tujuh kali salah satunya dengan tanah.
Ada juga yang berpendapata bahwa selain jilatannya maka cukup dicuci sekali seperti najis lainnya. Dan ini adalah pendapat yang bisa benar dan kuat dari segi dalil karena perintah mencuci tujuh kali hanya untuk menjauhkan orang agar tidak makan bersama anjing dan alasan ini tidak ada pada selain jilatan.
Akan tetapi yang masyhur dalam mazhab As-Syafi'iy bahwa semuanya wajib dicuci tujuh kali bersama tanah sebagaimana yang diputuskan oleh jumhur karena lebih kuat untuk mencegah orang mendekati dan memelihara anjing. [Al-majmu' 2/586]

Dari Maemunah; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam mendapati anak anjing dibawah tiang rumahnya, kemudian Rasulullah memerintahkan untuk mengeluarkannya dari rumah, dan mengambil air dengan tangannya kemudian memercikkannya pada bekas tempat anjing tersebut. [Sahih Muslim]
Hadits ini dijadikan dalil bahwa semua badan anjing adalah najis karena Rasulullah mencuci bekas anjing tersebut. Sedangkan Al-Malikiyah menganggap bahwa Rasulullah memercikkan air bukan karena anjing najis, tapi karena kahwatir ada kencing atau kotorannya. [Lihat Syar Sahih Muslim karya An-Nawawiy 7/342]

Hadits ini juga menunjukkan bahwa badan anjing sama hukumnya dengan najis lain, tidak dicuci tujuh kali.

Pendapat kedokteran: Kuman pada mulut anjing juga terdapat pada anggota tubuhnya yang lain.

Wallahu a'lam bissawab!

Referensi:
بحوث المؤتمر العالمي السابع للإعجاز العلمي في القرآن والسنة ج3 ، ولوغ الكلب بين استنباطات الفقهاء واكتشافات الأطباء المؤلف: أ. نجيب بوحنيك ، و أ. سلاف لقيقط

Lihat juga: Menyentuh Kemaluan; Apakah Membatalkan Wudhu?
                   Makanan dan minuman
                   Kewajiban Salat Jama'ah

8 komentar:

  1. Habibi Ihsan Al-Martapury18 April 2013 16.58

    Ustadz,ana pernah terbaca pendapatnya Ustadz A.Qadir Hasan,tokoh Persis,beliau mengatakan bahwa yg wajib di basuh ketika Al-wulugh yaitu meminum air di sebuah wadah saja.Adapun jika dia menjilat pakaian atau benda2 lainnnya maka tidak wajib di basuh,ternyata ini pendapat Imam Ibnu Hazm,sebagaimana barusan ana baca di atas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, krn Ibnu Hazm rahimahullah tdk menerima qiyas sebagai hujjah.
      Adapun mazhab Malikiy menganggap bahwa perintah mencuci jilatan anjing adalah perintah ta'abbudiy yg tidak memiliki illah (alasan) yg bisa diqiyaskan ke anggota tubuh anjing lainnya.

      Sedangkan mazhab Syafi'iy dan Hanbaliy mengatakan 'illah perintah tersebut adalah karena liur anjing adalah najis (kotor dan berbahaya), dan ini dibuktikan oleh penemuan ilmiyah saat ini.

      Wallahu a'lam!

      Hapus
  2. Assalamualaikum ustad,saya sering was2 terhadap anjing,ada tetangga yg memelihara anjing yg kadang2 lewat depan rumah,mgkin saya terlalu khawatir jd kepikiran terus kalau2 terkena najis. Apabila ada air di depan rumah saya khawatir itu air liurnya,selang air dan bungkus makanan di depan rumah saya khawatir dijilat anjing. Apalagi akhir2 ini saya menyapu halaman ada kotoran hewan tp ga tau itu kotoran apa dan saya khawatir itu kotoran anjing jd khawatir sapu dan kaki saya kena najis dan parahnya lagi pengasuh keponakan saya lewat dia pake rok panjang,dia masuk rumah dan saya khawatir apabila dia terkena najis dari kotoran itu dan menyebar ke lantai rumah,selama ini lantainya hanya disapu saja,saya berpikiran bahwa di rumah terkena najis semua. Saya juga cari2 artikel tentang masalah ini,apakah saya terkena najis dari semua itu,saya selalu was-was dan khawatir,ada artikel yg saya baca kalau was-was itu datangnya dari setan tp tetap saya masih khawatir. Bagaimana saya menghadapinya ya ustad,mohon pencerahannya. Maaf pertanyaannya muter2,mohon dibalas ya ustad,terima kasih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam wa rahmatullahi wa barakaatuh

      Iya, ini memang perasaan was-was yg berlebihan datangnya dari setan untuk menyakiti umat Islam, jadi tdk perlu dihiraukan.
      Maka kalau tdk ada yg menyaksikan langsung najis anjingnya, atau tdk ada bukti kuat maka segala sesuatunya adalah suci.

      Dan tdk ada salahnya untuk sering membersihkan rumah dan pekarangannya, disirami air selama tdk memberatkan.

      Adapun pakaian wanita yg panjang sebagaimana yg disyari'atakan, maka Ummu Salamah radhiyallahu 'anha pernah ditanya oleh seorang wanita: Sesungguhnya aku memanjangkan pakaian, dan aku berjalan melalui tempat yg bernajis?
      Ummu Salamah menjawab: Rasulullah pernah bersabda:
      «يُطَهِّرُهُ مَا بَعْدَهُ»
      "Najis tersebut disucikan oleh apa yg dilalui setelahnya" [Sunan Abu Daud: Sahih]

      Wallahu a'lam!

      Hapus
    2. Asalamualaikum ustaz.. Sye dari malaysia.. Sye harap ustaz dalam keadaan sihat dan sejahtera.. Sye ade satu soalan.. Sye ade terpijak satu benda.. Ianya berwarna kelabu.. Sye takut ianya ialah najis anjing.. Kerana najis anjing warna kelabu.. Benda tersebut kering.. Sye pijaknya tanpa menggunakan selipar kerana benda tersebut berada di atas tangga rumah sye.. Sye x pasti sme ade benda itu melekat atau tidak pada tangga rumah sye..semasa sye pijak..ianya menjadi debu dan bercampur dengan pasir..ia melekat pada kaki sye dalam keadaan kering dan berdebu.. sye pun membasuh kaki sye di bilik mandi..dan berjalan dalam rumah dlm keadaan kaki yg basah..Benda tersebut kecil sahaja.. Sebesar jari kuku tengah..sye tak pasti bentuk asal benda itu kerana sye pijak tanpa melihatnya tapi sye yakin benda itu kecil..tapi mengikut ingatan sye..ia berbentuk seperti najis yg pecah..tidak sebesar najis anjing.. Sye pun mengambil sedikit benda tersebut dan menghidunya.. Ternyata ia memiliki bau tapi bukan bau busuk seperti najis.. Sye takut ianya najis anjing yang sudah hilang baunya.. Soalan sye.. Adakah benda tersebut najis? Apa perlu sye buat? Bagaimana status diri sye adakah suci atau najis? Adakah semasa sye membasuh kaki sye dan berjalan di dalam rumah dalam keadaan kaki basah telah menajisi lantai rumah?

      Satu lagi.. Sye memiliki was was tentang najis.. Dan sekarang ini sye rasa amat sukar untuk beribadah kerana najis.. Sye rse mcm diri ini bernajis.. Sye nak sangat beribadah kepada allah swt.. Sye selalu menangis kalau memikirkan perkara ini.. Sekarang ini sye rasa najis ini sebagai beban yg amat besar bagi sye.. Sye dah baca banyak artikel tentang najis tetapi ianya tidak merubah sikap was2 sye.. Bolehkah ustaz membantu sye?

      Hapus
    3. 1. Suatu yg tidak pasti (ragu) tidak bisa dijadikan hujjah dalam hukum Islam. Jadi kalau tidak yakin dengan benda yg anti injak itu, najis kah atau bukan maka itu adalah bukan najis (suci) sampai anti betul-betul yakin (pasti) kalau itu najis.
      2. Kalau anti yakin benda itu najis dan sudah kering, apabila kaki anti waktu itu juga kering maka kaki anti tidak bernajis, tapi jika kaki anti basah maka kaki anti sudah terkena najis.
      Imam Nawawiy rahimahullah berkata:
      إِذَا أَصَابَ بَوْلُهُ أَوْ رَوْثُهُ أَوْ دَمُهُ أَوْ عَرَقُهُ أَوْ شَعْرُهُ أَوْ لُعَابُهُ أَوْ عُضْوٌ مِنْ أَعْضَائِهِ شَيْئًا طَاهِرًا فِي حَالِ رُطُوبَةِ أَحَدِهِمَا وَجَبَ غَسْلُهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ إِحْدَاهُنَّ بِالتُّرَابِ
      "Jika kencing atau tahi atau darah atau keringat atau rambut atau ludah atau anggota badan anjing mengenai sesuatu yg suci dalam kondisi salah satu dari keduanya basah, maka wajib mencucinya 7 kali salah satunya dgn tanah". [Syarah Shahjh Muslim 3/185]
      3. Hukum Islam itu memudahkan bukan menyusahkan, maka perasaan ragu (was-was) yang berlebihan sampai membuat anti tersiksa bukanlah dari Islam tapi dari Syaitan yg suka mengganggu manusia. Jangan menuruti perasaan ini, kalau dibiarkan akan membuat seseorg putus asah dan bisa meninggalkan Islam, na'udzubillah min dzalik.
      4. Untuk menghilangkan was-was, boleh lakukan amalan ini:
      a) Perbanyak dzikir kpd Allah yg Maha Pemurah Penyayang pada hamba-hamba-Nya.
      b. Sering baca surah Al-Ikhlash, Al-Falaq dan An-Naas.
      c. Sering baca Al-Qur'an.
      d. Banyak beribadah.
      e. Belajar langsung dengan ulama, duduk dalam majelis ilmu.
      f. Berdo'a.
      Semoga Allah yang Maha Kuasa senantiasa melindungi kita dan menjauhkan kita dari godaan Syaithan. Amiin!

      Wallahu a'lam .

      Hapus
  3. Assalamualaikum
    saya mau tanya kebetulan tetangga saya pelihara anjing dan kadang2 lepas ke halaman rumah saya,suatu hari anjing itu lepas dan menginjak piring plastik di halaman rumah saya setelah beberapa minggu saya mengambil piring itu saya lupa kalau sudah diinjak anjing lalu saya cari diinternet dan tanya2 itu gak apa2 soalnya liurnya saja yg najis.tp saya masih ragu takut najisnya msh ada dan kalau msh ada saya takut najisnya tersebar anggota tubuh saya yg lain dan barang2 dirumah jd harus gimana?
    dan biasanya halaman rumah saya dibersihkan dgn hanya di pel apa itu tidak apa2?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wa'alaikum salam wa rahmatullahi wa barakaatuh

      Dari Maemunah -radhiyallahu 'anha-; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam mendapati anak anjing di bawah tiang rumahnya, kemudian Rasulullah memerintahkan untuk mengeluarkannya dari rumah, dan mengambil air dengan tangannya kemudian memercikkannya pada bekas tempat anjing tersebut. [Sahih Muslim]

      Hadits ini dijadikan dalil bahwa semua badan anjing adalah najis karena Rasulullah mencuci bekas anjing tersebut.
      Sedangkan Al-Malikiyah menganggap bahwa Rasulullah memercikkan air bukan karena anjing najis, tapi karena kahwatir ada kencing atau kotorannya. [Lihat Syar Sahih Muslim karya An-Nawawiy 7/342]

      Hadits ini juga menunjukkan bahwa badan anjing sama hukumnya dengan najis lain, tidak mesti dicuci tujuh kali.

      wallahu a'alm!

      Hapus

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...