Jumat, 05 Oktober 2012

Yasin-an untuk orang meninggal



بسم الله الرحمن الرحيم

Beberapa hadits yang menunjukkan keutamaan membaca surah Yasin pada orang yang akan meninggal (sakaratul maut), atau orang yang sudah mati, atau di kuburan:

1.       Hadits Ma’qil bin Yasaar radiyallahu 'anhu.

Diriwayatkan oleh Abu Daud (275H) dalam kitanya “As-Sunan” 3/191 no.3121:
قال : حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، وَمُحَمَّدُ بْنُ مَكِّيٍّ الْمَرْوَزِيُّ الْمَعْنَى، قَالَا: حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، وَلَيْسَ بِالنَّهْدِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اقْرَءُوا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ»
"Bacalah surah Yasiin pada jenazah kalian".

Diriwayatkan juga oleh Imam Ahmad (241H) dalam kitabnya “Al-Musnad” 33/417 no.20300:
قال : حَدَّثَنَا عَارِمٌ، حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ... وَيس قَلْبُ الْقُرْآنِ، لَا يَقْرَؤُهَا رَجُلٌ يُرِيدُ اللهَ والدَّارَ الْآخِرَةَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ، وَاقْرَءُوهَا عَلَى مَوْتَاكُمْ " .
"Surah Yaasiin adalah hati (inti kandungan) Al-Qur’an, tidak seorangpun yang membacanya mengharapkan Allah dan akhirat kecuali dosanya diampuni, dan bacalah surah Yaasiin pada jenazah kalian".

Hadits ini sangat lemah karena punya tiga cacat (‘illah):
1.       Abu Utsman tidak diketahui orangnya (majhuul) tidak ada yang meriwayatkan darinya kecuali Sulaiman At-Taimiy, sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Al-Madiniy (234H) dan Adz-Dzahabiy[1].
2.       Bapak dari Abu Utsman juga tidak diketakui.
3.       Hadits ini juga mudhtharib (tidak jelas), terkadang diriwayatkan dari Abu Utsman dari bapaknya, terkadang bapaknya tidak disebut, terkadang Abu Utsman dari seseorang (tidak disebutkan namanya), dan terkadang dari seseorang dari bapaknya.

Hadits ini dihukumi da’if (lemah) oleh Ad-Daruquthniy (385H), An-Nawawiy (676H), Ibnu Al-Qaththaan (628H), dan syekh Albaniy rahimahumullah.
Ad-Daruquthniy mengatakan: hadits ini lemah sanadnya, dan tidak ada hadits sahih dalam masalah ini (keutamaan surah Yasin).
[Lihat: Tahdziib al-asmaa’ karya Imam An-Nawawiy 2/106, Bayaan Al-Wahm karya Ibnu Al-Qaththaan 5/49 no.2288, Al-Badr Al-Muniir karya Ibnu Al-Mulaqqin 5/193, Talkhiis Al-Habiir karya Ibnu Hajar 2/244 no.734, Irwa’ Al-Galiil karya syekh Albaniy 3/150 no.688]

Akan tetapi Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitabnya “Al-Musnad” 28/171 no.16969:
قال : حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنَا صَفْوَانُ، حَدَّثَنِي الْمَشْيَخَةُ، أَنَّهُمْ حَضَرُوا غُضَيْفَ بْنَ الْحَارِثِ الثُّمَالِيَّ، حِينَ اشْتَدَّ سَوْقُهُ، فَقَالَ: " هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس ؟ " قَالَ: فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُونِيُّ، فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِينَ مِنْهَا قُبِضَ، قَالَ: وَكَانَ الْمَشْيَخَةُ يَقُولُونَ: إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا . قَالَ صَفْوَانُ: " وَقَرَأَهَا عِيسَى بْنُ الْمُعْتَمِرِ عِنْدَ ابْنِ مَعْبَدٍ " .
Shafwan bin ‘Amr As-Saksakiy (155H) berkata: Beberapa syekh menceritakan kepadaku bahwasanya mereka mendatangi Gudhaif bin Al-Harits Ats-Tsumaaliy radiyallahu ‘anhu ketika sakaratul mautnya bertambah keras.
Gudhaif berkata kepada mereka: "Adakah di antara kalian yang mau membaca surah Yasiin?"
Maka Shalih bin Syuraih As-Sukuuniy membacanya. Dan ketika sampai pada ayat ke 40, ruh Gudhaif dicabut.
Para syekh mengatakan: "Jika surah Yasin dibaca di sisi orang yang akan meninggal dunia , maka akan diringankan baginya sakaratul maut dengan surah tersebut".
Shafwan berkata: Dan Isa bin Al-Mu’tamir juga membacanya di sisi Ibnu Ma’bad.

Syekh Albaniy mengatakan: Sanad kisah ini sahih, semua perawinya tsiqah (periwayatannya diterima) kecuali para syekh tersebut, tidak diketahui siapa mereka (majhuul). Akan tetapi karena jumlah mereka yang banyak maka saling menguatkan apalagi mereka dari kalangan tabi’iin.

Catatan:
1.       Riwayat ini menunjukkan bahwa membaca surah Yasin di sisi orang yang sakaratul maut adalah amalan beberapa ulama’ dari kalangan tabi’iin. Ini adalah pendapat jumhur ulama kecuali Imam Ahmad memakruhkannya karena hadits dari Rasulullah dalam hal ini semuanya lemah.
Syekh Ibnu Baz mengatakan: Tidak disunnahkan membaca surah Yasin pada orang mati, adapun orang yang menganjurkannya menganggap bahwa haditsnya sahih maka menganggapnya sunnah. Akan tetapi membaca Al-Qur'an di sisi orang yang sakit adalah suatu yang baik dan semoga Allah memberi manfaat untuknya dengan bacaan itu. Adapun mengkhususkan surah Yasin maka dalil yang dipakai adalah hadits lemah, oleh sebab itu pengkhususannya tidak punya alasan. [Majmu' Fatawa Ibnu Baz 13/94]
2.       Membaca surah yasin sebelum ruhnya dicabut, bukan setelah meninggal.
Ibnu Taimiyah (728H) mengatakan: Membaca Al-Qur’an untuk orang yang sudah meninggal  adalah bid’ah, beda halnya dengan membaca untuk orang yang didatangi kematian (sakaratul-maut) maka disunnahkan membaca untuknya surah Yasin. [Al-Fatawa Al-Kubra 5/363]
3.       Ulama menganjurkan membaca surah Yasin pada orang yang akan meninggal karena malaikat hadir pada saat itu, dan bahasan surah ini mencakup masalah tauhid, hari kebangkitan, kabar gembira surga bagi yang mati dalam keadaan tauhid. Seperti firman Allah:
{قِيلَ ادْخُلِ الْجَنَّةَ قَالَ يَا لَيْتَ قَوْمِي يَعْلَمُونَ (26) بِمَا غَفَرَ لِي رَبِّي وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُكْرَمِينَ} [يس: 26، 27]
                Dikatakan (kepadanya): "Masuklah ke syurga". Ia berkata: "Alangkah baiknya sekiranya kamumku Mengetahui. Apa yang menyebabkan Tuhanku memberi ampun kepadaku dan menjadikan Aku termasuk orang-orang yang dimuliakan". [Yasin: 26-27]
Jika orang yang akan meninggal mendengarkanayat ini akan merasa gembira, berharap penuh keyakinan akan janji Allah, maka ruhnya akan keluar dengan mudah. [Mathalib Ulii An-Nuhaa karya Ar-Rahiibaan 1/837]

2.       Hadits Abu Ad-Darda’ radiyallahu 'anhu.

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim Al-Ashbahaniy (430H) dalam kitabnya “Akhbar Ashbahaan” 1/188:
من طريق مروان بن سالم ، عن صفوان بن عمرو ، عن شريح ، عن أبي الدرداء ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « ما من ميت يموت فيقرأ عنده يس إلا هون الله عليه »
"Tidak ada seorang yang akan meninggal dan dibacakan di sisinya surah Yaasiin kecuali Allah memudahkan baginya sakaratul maut".

Syekh Albaniy menghukumi hadits ini sebagai hadits palsu, karena pada sanadnya ada rawiy yang bernama Marwan bin Salim[2]; Imam Bukhari, Muslim (261H), dan Abu Hatim mengatakan: Riwayat haditsnya mungkar (sangat lemah). Sedangkan Abu ‘Arubah Al-Harraniy (318H) mengatakan: Ia seorang pemalsu hadits. Dan As-Saajiy (307H) mengatakan: Ia seorang pembohong dan pemalsu hadits.
[Lihat: Silsilah hadits Dha’if karya syekh Albaniy 11/363 no.5219]

3.       Hadits Anas bin Malik radiyallahu 'anhu.

Diriwayatkan oleh Ats-Tsa’labiy (427H) dalam kitab tafsirnya “Al-Kasyf wa Al-Bayaan” 8/119:
من طريق محمد بن أحمد الرياحي قال : حدّثنا أبي قال : حدّثنا أيوب بن مدرك عن أبي عبيدة عن الحسن عن أنس بن مالك عن النبي صلى الله عليه وسلم قال : " من دخل المقابر فقرأ سورة ( ياس ) خفف عنهم يومئذ وكان له بعدد من فيها حسنات "
"Barangsiapa yang masuk kuburan kemudian membaca surah Yaasiin, maka diringankan bagi mereka (penghuni kubur) siksaan kubur pada hari itu, dan ia (yang membaca) mendapat kebaikan sebanyak jumlah orang yang dimakamkan di sana".

Syekh Albaniy menghukumi hadits ini sebagai hadits palsu, karena sanadnya punya banyak cacat:
1.       Abu Ubaidah[3]; Ibnu Ma’in (233H) mengatakan: Ia tidak diketahui (majhuul).
2.       Ayyub bin Mudrik[4]; disepakati bahwa haditsnya lemah, Ibnu Ma’in mengatakan: Ia seorang pembohong.
3.       Ahmad Ar-Riyahiy[5], nama lengkapnya Ahmad bin Yazid bin Dinar Abu Al-‘Awwaam; Al-Baehaqiy mengatakan: Ia tidak diketahui.
[lihat: Silsilah hadits dha’if 3/397 no.1246]

4.       Hadits Ubaiy bin Ka’ab radiyallahu 'anhu.

Diriwayatkan oleh Al-Qudha’iy (454H) dalam kitabnya “Musnad Asy-Syihaab” 2/130 no.1036:
من طريق زَكَرِيَّا بْن يَحْيَى، ثنا شَبَابَةُ، ثنا مَخْلَدُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ، وَعَطَاءِ بْنِ أَبِي مَيْمُونَةَ، عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ، عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ قَلْبًا ، وَإِنَّ قَلْبَ الْقُرْآنِ يس ، وَمَنْ قَرَأَ يس وَهُوَ يُرِيدُ بِهَا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ ، وَأُعْطِي مِنَ الْأَجْرِ كَأَنَّمَا قَرَأَ الْقُرْآنَ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ مَرَّةً، وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ قُرِئَ عِنْدَهُ إِذَا نَزَلَ بِهِ مَلَكُ الْمَوْتِ سُورَةُ يس نَزَلَ بِكُلِّ حَرْفٍ مِنْ سُورَةِ يس عَشَرَةُ أَمْلَاكٍ يَقُومُونَ بَيْنَ يَدَيْهِ صُفُوفًا يُصَلُّونَ عَلَيْهِ، وَيَسْتَغْفِرُونَ لَهُ، وَيَشْهَدُونَ غُسْلَهُ، وَيُشَيِّعُونَ جِنَازَتَهُ، وَيُصَلُّونَ عَلَيْهِ، وَيَشْهَدُونَ دَفْنَهُ، وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ قَرَأَ يس وَهُوَ فِي سَكَرَاتِ الْمَوْتِ لَمْ يَقْبِضْ مَلَكُ الْمَوْتِ رُوحَهُ حَتَّى يَجِيئَهُ رِضْوَانُ خَازِنُ الْجَنَّةِ بِشَرْبَةٍ مِنْ شَرَابِ الْجَنَّةِ فَيَشْرَبُهَا، وَهُوَ عَلَى فِرَاشِهِ، فَيَقْبِضُ مَلَكُ الْمَوْتِ رُوحَهُ وَهُوَ رَيَّانُ، فَيَمْكُثُ فِي قَبْرِهِ وَهُوَ رَيَّانُ، وَيُبْعَثُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهُوَ رَيَّانُ، وَلَا يَحْتَاجُ إِلَى حَوْضٍ مِنْ حِيَاضِ الْأَنْبِيَاءِ حَتَّى يَدْخُلَ الْجَنَّةَ وَهُوَ رَيَّانُ»
"Sesungguhnya segala sesuatu itu punya inti, dan inti al-qur’an adalah surah Yasin, dan barangsiapa yang membaca surah Yaasiin mengharapkan Allah ‘azza wajalla maka Allah akan mengampuni dosanya, dan diberi pahala seperti ia membaca Al-Qur’an 12 kali, dan siapapun muslim yang dibacakan di sisinya surah Yasin ketika malaikat pencabut nyawa datang, maka akan turun pada setiap huruf dari surah Yasin 10 malaikat mereka berdiri di depannya membentuk saf sambil berselawat untuknya, memintakan ampun untuknya, menyaksikan pemandiannya, mengikuti jenazahnya, salat untuknya, menyaksikan pemakamannya. Dan siapapun muslim yang dibacakan surah Yasin di sisinya ketika sakaratul maut maka Malaikat maut tidak akan mencabut ruhnya sampai malaikat Ridwan penjaga surga mendatanginya dan memberinya minum dari minuman surga kemudian ia meminumnya sementara ia masih di pembaringannya, setelah itu malaikat maut mencabut ruhnya dalam keadaan puas (tidak kehausan) dan ia tinggal dalam kuburnya dalam keadaaan puas, dan dibangkitkan di hari kiamat dalam keadaan puas, dan tidak membutuhkan air telaga dari telaga para Nabi sampai ia masuk surga dalam keadaan puas".

Hadits ini dihukumi oleh syekh Albaniy sebagai hadits palsu, dan yang dicurigai sebagai pemalsunya adalah Makhlad bin Abdul Wahid[6]. Ibnu Hibban berkata: Haditsnya sangat mungkar (sangat lemah). Al-Azdiy (374H) mengatakan: Ia seorang pembohong memalsukan hadits.
Adz-Dzahabiy berkata: Ia meriwayatkan hadits bathil (sangat lemah) yang panjang tentang keutamaan surah, dan aku tidak mengetahui orang yang memalsukannya kalau bukan Makhlad yang melakukannya.
Syekh Zakariya Al-Anshariy (926H) juga mengklaim hadits ini palsu dalam kitabnya “Ta’liq ‘ala Al-Baidhawiy". [Lihat silsilah hadits dha’if 12/791 no.5870]

Dengan lafadz yang sama, diriwayatkan oleh Ats-Tsa’labiy dalam tafsirnya “Al-Kasyf wa Al-Bayaan” 8/119:
من طريق إسماعيل ابن إبراهيم قال : حدّثنا يوسف بن عطية عن هارون بن كثير عن زيد بن أسلم عن أبيه عن أبي أمامة عن أبي بن كعب ...
Syekh Albaniy menghukumi hadits ini palsu, dan yang dicurigai sebagai pemalsunya adalah Yusuf bin ‘Athiyyah[7]. ‘Amru bin Ali Al-Fallas mengatakan (249H): Ia seorang pembohong.
[Lihat silsilah hadits dha’if 10/157 no.4636]

Diriwayatkan pula oleh Al-‘Uqailiy dalam kitabnya “Adh-Dhu’afaa Al-Kabiir” 1/156:
من طريق بزيع بن حسان أبو الخليل البصري قال حدثنا علي بن يزيد بن جدعان ، وعطاء بن أبى ميمونة كلاهما عن زر بن حبيش عن أبي بن كعب قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : يا أبي من قرأ بفاتحة الكتاب أعطي من الاجر فذكر فضل سورة سورة إلى آخر القرآن
Rasulullah berkata kepada Ubaiy: "Wahai Ubaiy ... barangsiapa yang membaca surah Al-Fatihah akan diberi pahala ... ", kemudian disebutkan keutamaan surah per-surah sampai akhir al-qur’an.

Bazii’ bin Hassaan[8] dituduh sebagai pemalsu hadits karena banyak meriwayatkan hadits-hadits palsu.
Ibnu Al-Mubarak (181H) mengatakan: Hadits Ubaiy bin Ka’ab ini menurutku adalah buatan orang-orang zindiiq (munafiq).

5.       Hadits Abu Bakr Ash-Shiddiiq radiyallahu 'anhu.

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Adiy dalam kitabnya “Al-Kaamil” 5/152:
من طريق يزيد بن خالد الأصبهاني ثنا عمرو بن زياد ثنا يحيى بن سليم الطائفي عن هشام بن عروة عن أبيه عن عائشة رضي الله عنها عن أبي بكر الصديق رضي الله عنه سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : من زار قبر والديه أو أحدهما يوم الجمعة فقرأ يس غفر له
"Barangsiapa yang menziyarahi kubur kedua orang tuanya atau salah satunya pada hari jum’at kemudian membaca surah Yasin maka akan diampuni dosanya".

Dan Abu Nu’aim dalam kitabnya “Akhbar Ashbahan” 2/344-345, dengan lafadz:
من زار قبر والديه في كل جمعة فقرأ عندهما ، أو عنده يس ، غفر له بعدد كل آية أو حرف
"Barangsiapa yang menziyarahi kubur kedua orang tuanya setiap hari jum’at kemudian membaca surah Yasin disisi keduanya atau salah satunya maka akan diampuni dosanya sebanyak jumlah ayat atau hurufnya".

Syekh Albaniy menghukumi hadits ini sebagai hadits palsu. Ibnu ‘Adiy mengatakan: Hadits ini bathil (sangat lemah) tidak punya landasan. Yang dicurigai memalsukan hadits ini adalah Amru bin Ziyad[9]; Ad-Daruquthniy dan Al-Azdiy mengatakan: Ia seorang pemalsu hadits.
[Lihat: Silsilah hadits dha’if 1/126 no.50]

Wallahu a'lam!



[1] Lihat biografi Abu Utsman dalam kitab: Miizaan Al-I’tidaal karya Adz-Dzahabiy 7/397 dan 398.
[2] Lihat biografi Marwan bin Salim Al-Jazariy dalam kitab: At-Tariik Al-Kabiir karya Imam Bukhari 7/373, Al-Jarh wa at-ta’dil karya Ibnu Abi Hatim 8/274, Tahdziib Al-Kamaal karya Al-Mizziy 27/392, Miizaan Al-I’tidaal 6/397, Taqriib At-Tahdziib karya Ibnu Hajar hal.526.
[3] Lihat biografi Abu Ubaidah dalam kitab: Miizaan Al-i’tidaal 7/396, Lisaan Al-Miizaan karya Ibnu Hajar 9/118.
[4] Lihat biografi Ayyub bin Mudrik dalam kitab: Tarikh Ibnu Ma’in riwayat Ad-Duriy 4/333, Miizaan Al-i’tidaal 1/463, Lisaan Al-Miizaan 2/254.
[5] Lihat biografi Ahmad Ar-Riyahiy  dalam kitab: Tariikh Bagdad 6/481, Lisaan Al-Miizaan 1/698.
[6] Lihat biografi Makhlad bin Abdul Wahid dalam kitab: Al-Majruhiin karya Ibnu Hibban 3/43, Adh-Dhu’afaa’ karya Ibnu Jauziy 2/111, Miizaan Al-I’tidaal 6/388, Lisaan Al-Miizaan 8/15.
[7] Lihat biografi Yusuf bin 'Athiyah dalam kitab: Adh-Dhu'afaa' karya An-Nasa'i hal.247, Adh-Dhu'afaa' karya Al-'Uqailiiy 4/455, Al-Majruhiin 3/134, Adh-Dhu’afaa’ karya Abu Nu'aim hal.165, Adh-Dhu’afaa’ karya Ibnu Jauziy 3/221.
[8] Lihat biografi Bazii’ bin Hassan dalam kitab: Al-Majruhiin 1/198, Al-Kamil karya Ibnu ‘Adiy 2/59, Adh-Dhu’afaa’ karya Abu Nu’aim hal.66, Adh-Dhu’afaa’ karya Ibnu Jauzi 1/138, Miizaan Al-I’tidaal 2/15, Lisaan Al-Miizaan 2/276.
[9] Lihat biografi Amru bin Ziyaad dalam kitab: Adh-Dhu’afaa’ karya Ibnu Jauziy 2/226, Miizaan Al-I’tidal 5/315, Lisaan Al-Miizaan 6/207.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...