Rabu, 14 November 2012

Perbuatan yang boleh dilakukan dalam salat

بسم الله الرحمن الرحيم

Beberapa hal yang boleh dilakukan saat salat:

1.       Menggendong anak kecil ketika salat
Abu Qatadah Al-Anshariy radhiyallahu ‘anhu berkata:
«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُصَلِّي وَهُوَ حَامِلٌ أُمَامَةَ بِنْتَ زَيْنَبَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلِأَبِي العَاصِ بْنِ رَبِيعَةَ بْنِ عَبْدِ شَمْسٍ فَإِذَا سَجَدَ وَضَعَهَا، وَإِذَا قَامَ حَمَلَهَا» [صحيح البخاري ومسلم]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat sambil menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah, putri Abu Al-'Ash bin Rabi'ah bin Abdu Syams. Apabila sujud, beliau meletakkannya dan apabila beliau berdiri, beliau kembali menggendongnya. [Sahih Bukhari dan Muslim]

2.       Berjalan sedikit sesuai keperluan
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
" كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي وَالْبَابُ عَلَيْهِ مُغْلَقٌ، فَجِئْتُ فَاسْتَفْتَحْتُ، فَمَشَى فَفَتَحَ لِي، ثُمَّ رَجَعَ إِلَى مُصَلَّاهُ، وَذَكَرَ أَنَّ الْبَابَ كَانَ فِي الْقِبْلَةِ " [سنن أبي داود: حسنه الألباني]
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam salat di rumah dan pintu terkunci. Lalu aku datang meminta agar pintu dibuka, maka beliau berjalan dan membuka pintu tersebut lalu kembali ke tempat salatnya. Saat itu pintu berada di arah kiblat.” [Sunan Abu Daud: Hasan]

3.       Bergerak untuk menyelamatkan anak kecil atau yang lainnya dari suatu yang membahayakan
Al-Azraq bin Qais berkata: Kami pernah ke Ahwazi memerangi orang-orang Haruri (Khawarij). Ketika aku berada di pinggir sungai, ternyata ada orang yang sedang salat – yaitu Abu Barzah Al-Aslamiy – dan tali kekang unta berada di tangannya. Lalu untannya meronta-ronta dan ia mengikuti gerakkan unta tersebut.
Seorang khawarij yang melihatnya berkata: Ya Allah, hukumlah orang tua in!
Setelah selesai salat, Abu Barzah radhiyallahu ‘anhu berkata:
إِنِّي سَمِعْتُ قَوْلَكُمْ «وَإِنِّي غَزَوْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِتَّ غَزَوَاتٍ - أَوْ سَبْعَ غَزَوَاتٍ - وَثَمَانِيَ وَشَهِدْتُ تَيْسِيرَهُ»، وَإِنِّي إِنْ كُنْتُ أَنْ أُرَاجِعَ مَعَ دَابَّتِي أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَدَعَهَا تَرْجِعُ إِلَى مَأْلَفِهَا فَيَشُقُّ عَلَيَّ [صحيح البخاري]
"Sesungguhnya aku mendengar ucapan kalian, dan sesungguhnya aku telah ikut bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam tujuh atau delapan kali pertempuran dan aku menyaksikan kemudahan yang diberikannya. Sesungguhnya aku lebih suka kembali bersama untaku daripada aku biarkan untaku kembali sendiri ke kandangnya sehingga memberatkanku." [Sahih Bukhari]

Termasuk dalam kategori ini adalah jika kita sedang salat lalu telepon berdering, maka kita boleh mengangkat gagang teleponnya dan mengeraskan suara agar si penelpon tahu kalau kita sedang shalat, atau mematikan handpone.

4.       Menghadang orang atau hewan yang mau melintas ketika salat
Dari Abu Sa'id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِذَا كَانَ أَحَدُكُمْ يُصَلِّي فَلَا يَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ وَلْيَدْرَأْهُ مَا اسْتَطَاعَ، فَإِنْ أَبَى فَلْيُقَاتِلْهُ، فَإِنَّمَا هُوَ شَيْطَانٌ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Apabila salah seorang dari kalian sedang salat, maka jangan ia biarkan seorang pun melintas di depannya dan ia harus berusaha semampunya untuk menghadangnya. Jika orang tersebut enggan, maka lawanlah karena dia itu setan.” [Sahih Bukhari dan Muslim]

Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma berkata:
هَبَطْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ ثَنِيَّةِ أَذَاخِرَ ، فَحَضَرَتِ الصَّلَاةُ - يَعْنِي فَصَلَّى إِلَى جِدَارٍ - فَاتَّخَذَهُ قِبْلَةً وَنَحْنُ خَلْفَهُ، فَجَاءَتْ بَهْمَةٌ تَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْهِ فَمَا زَالَ يُدَارِئُهَا حَتَّى لَصَقَ بَطْنَهُ بِالْجِدَارِ، وَمَرَّتْ مِنْ وَرَائِهِ [سنن أبي داود: صحيح]
Suatu hari kami singgah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Tsaniyah Adzakhir, kemudian tiba waktu salat maka Rasulullah salat menghadap suatu dinding menjadikannya arah kiblat dan kami ikut salat di belakangnya. Tiba-tiba datang seekor hewan yang ingin lewat di depan Rasulullah, maka Rasululla terus menghalangi hewan tersebut sampai perut Rasulullah menyentuh dinding dan hewan itu lewat dari belakangnya. [Sunan Abu Daud: Sahih]

5.       Membunuh ular, kalajengking, dan apa saja yang dapat membahayakan orang yang salat.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
" اقْتُلُوا الْأَسْوَدَيْنِ فِي الصَّلَاةِ: الْحَيَّةَ، وَالْعَقْرَبَ " [سنن أبي داود: صحيح]
"Bunuhlah dua hewan yang berwarna hitam ketika salat; (yaitu) kalajengking dan ular". [Sunan Abu Daud: Sahih]

6.       Mencolek orang yang tidur karena suatu kebutuhan
Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
«كُنْتُ أَمُدُّ رِجْلِي فِي قِبْلَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي، فَإِذَا سَجَدَ غَمَزَنِي، فَرَفَعْتُهَا، فَإِذَا قَامَ مَدَدْتُهَا» [صحيح البخاري ومسلم]
“Aku membentangkan kakiku di sebelah kiblat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau sedang salat. Jika hendak sujud, beliau mencolekku. Jika beliau bangkit berdiri, aku kembali membentangkan kakiku.” [Sahih Bukhari dan Muslim]

7.       Menanggalkan sepatu atau sendal ketika sedang salat jika diperlukan
Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu berkata:
بَيْنَمَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي بِأَصْحَابِهِ إِذْ خَلَعَ نَعْلَيْهِ فَوَضَعَهُمَا عَنْ يَسَارِهِ، فَلَمَّا رَأَى ذَلِكَ الْقَوْمُ أَلْقَوْا نِعَالَهُمْ [سنن أبي داود: صحيح]
“Ketika Rasulullah sedang salat bersama para sahabatnya, tiba-tiba beliau menanggalkan sepatunya dan meletakkannya di sebelah kiri. Melihat itu para sahabat ikut menanggalkan sepatu mereka….” [Sunan Abu Daud: Sahih]

8.       Meludah di kain atau sapu tangan
Dari Jabir radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«فَإِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي، فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قِبَلَ وَجْهِهِ، فَلَا يَبْصُقَنَّ قِبَلَ وَجْهِهِ، وَلَا عَنْ يَمِينِهِ، وَلْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ، تَحْتَ رِجْلِهِ الْيُسْرَى، فَإِنْ عَجِلَتْ بِهِ بَادِرَةٌ فَلْيَقُلْ بِثَوْبِهِ هَكَذَا» [صحيح مسلم]
“Apabila seseorang dari kalian berdiri mengerjakan salat, maka sesungguhnya Allah berada di hadapannya. Oleh karenanya, janganlah ia meludah ke arah depan dan ke sebelah kanannya. Hendaklah ia meludah ke sebelah kiri atau ke bawah kaki sebelah kiri. Jika ia tersedak secara spontan, maka hendaklah ia meludah ke pakaiannya seperti ini.” Kemudian beliau melipat pakaiannya dan menggosok-gosokkannya. [Sahih Muslim]

9.       Memperbaiki pakaian dan menggaruk ketika salat
Jarir Adh-Dhabbiy berkata:
كَانَ عَلِيٌّ إذَا قَامَ فِي الصَّلاَةِ وَضَعَ يَمِينَهُ عَلَى رُسْغِهِ ، فَلاَ يُزَالُ كَذَلِكَ حَتَّى يَرْكَعَ مَتَى مَا رَكَعَ ، إِلاَّ أَنْ يُصْلِحَ ثَوْبَهُ ، أَوْ يَحُكَّ جَسَدَهُ [مصنف ابن أبي شيبة]
“Apabila ‘Ali - radhiyallahu ‘anhu- berdiri mendirikan salat, ia meletakkan tangan kanannya di atas pergelangan tangan kirinya. Posisinya terus demikian hingga ruku’, kecuali bila ia memperbaiki pakaiannya atau menggaruk.” [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah]

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
«يَسْتَعِينُ الرَّجُلُ فِي صَلاَتِهِ مِنْ جَسَدِهِ بِمَا شَاءَ» [صحيح البخاري معلقا]
“Seseorang boleh menggunakan anggota tubuhnya dalam salat sesuai yang ia inginkan.” [Sahih Bukhari: Mu'allaq]

10.   Jika terjadi sesuatu (kelupaan) dalam salat berjama’ah, maka bagi kaum laki-laki bertasbih dan bagi kaum wanita bertepuk.
Dari Sahl bin Sa'ad As-Sa'idiy radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ نَابَهُ شَيْءٌ فِي صَلَاتِهِ فَلْيُسَبِّحْ فَإِنَّهُ إِذَا سَبَّحَ الْتُفِتَ إِلَيْهِ وَإِنَّمَا التَّصْفِيحُ لِلنِّسَاءِ [صحيح البخاري ومسلم]
“Barangsiapa yang terjadi sesuatu dalam salatnya (saat berjama’ah), maka hendaklah ia mengucapkan subhanallah; sebab jika ia bertasbih maka imam akan memperhatikannya, sesungguhnya tepuk itu untuk kaum wanita.” [Sahih Bukhari dan Muslim]

Perempuan juga boleh mengucapkan tasbih, jika memang diperlukan di tempat yang tidak dihadiri oleh laki-laki.
Asma’ binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
أَتَيْتُ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ خَسَفَتِ الشَّمْسُ، فَإِذَا النَّاسُ قِيَامٌ يُصَلُّونَ وَإِذَا هِيَ قَائِمَةٌ تُصَلِّي، فَقُلْتُ: مَا لِلنَّاسِ، فَأَشَارَتْ بِيَدِهَا إِلَى السَّمَاءِ، وَقَالَتْ: سُبْحَانَ اللَّهِ [صحيح البخاري]
“Aku mendatangi Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di saat terjadi gerhana matahari. Ternyata orang-orang sedang melaksanakan salat, dan ternyata dia juga sedang berdiri mengerjakan shalat. Lalu aku tanyakan, ‘Orang-orang sedang apa?’ Lalu ia mengisyaratkan ke arah langit dan berkata, ‘Subahanallah’.” [Sahih Bukhari]

11.   Menoleh ke kiri dan ke kanan jika diperlukan
Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata:
اشْتَكَى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَصَلَّيْنَا وَرَاءَهُ وَهُوَ قَاعِدٌ، وَأَبُو بَكْرٍ يُسْمِعُ النَّاسَ تَكْبِيرَهُ، فَالْتَفَتَ إِلَيْنَا فَرَآنَا قِيَامًا، فَأَشَارَ إِلَيْنَا فَقَعَدْنَا فَصَلَّيْنَا بِصَلَاتِهِ قُعُودًا [صحيح مسلم]
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang sakit, maka kami salat di belakangnya dan beliau salat sambil duduk, sedang Abu Bakar memperdengarkan takbir beliau kepada para makmum. Lalu beliau menoleh kepada kami yang sedang salat berdiri, lantas beliau memberi isyarat kepada kami agar kami ikut salat sambil duduk, maka kami pun salat duduk seperti salat beliau.” [Sahih Muslim]

Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu berkata:
جَاءَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالنَّاسُ فِي الصَّلَاةِ فَتَخَلَّصَ حَتَّى وَقَفَ فِي الصَّفِّ، فَصَفَّقَ النَّاسُ وَكَانَ أَبُو بَكْرٍ لَا يَلْتَفِتُ فِي الصَّلَاةِ، فَلَمَّا أَكْثَرَ النَّاسُ التَّصْفِيقَ الْتَفَتَ فَرَأَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [صحيح البخاري ومسلم]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang sementara orang-orang sedang salat (berjama’ah Abu Bakr sebagai imam). Lalu beliau mendekat hingga masuk ke dalam shaf, lantas orang-orang bertepuk dan Abu Bakar tidak menoleh di dalam salat. Ketika tepukan makin ramai, ia pun menoleh dan melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. [Sahih Bukhari dan Muslim]

12.   Memberi isyarat dengan tangan atau dengan kepala jika diperlukan
Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata:
أَرْسَلَنِي نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى بَنِي الْمُصْطَلَقِ، فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يُصَلِّي عَلَى بَعِيرِهِ فَكَلَّمْتُهُ، فَقَالَ لِي بِيَدِهِ هَكَذَا، ثُمَّ كَلَّمْتُهُ، فَقَالَ لِي بِيَدِهِ هَكَذَا: وَأَنَا أَسْمَعُهُ يَقْرَأُ وَيُومِئُ بِرَأْسِهِ، فَلَمَّا فَرَغَ، قَالَ: «مَا فَعَلْتَ فِي الَّذِي أَرْسَلْتُكَ؟ فَإِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أُكَلِّمَكَ إِلَّا أَنِّي كُنْتُ أُصَلِّي» [سنن أبي داود: صحيح]
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutusku pada saat beliau pergi ke Bani Mushthalaq. Lalu aku datang menghadap dan berbicara dengan beliau, sementara saat itu beliau sedang salat di atas untanya. Lantas beliau menjawab dengan tangannya seperti ini. Kemudian aku bicara kembali dan beliau kembali menjawab dengan isyarat tangannya begini. Saat itu aku mendengar bacaan beliau dan beliau memberikan isyarat dengan kepalanya. Setelah selesai, beliau bertanya, ‘Apa yang kamu lakukan dengan tugas yang aku serahkan kepadamu?’ Tadi aku tidak dapat menanggapi ucapanmu karena aku tadi sedang salat.” [Sunan Abu Daud: Sahih]

13.   Membalas ucapan salam dengan isyarat
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
«خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى قُبَاءَ يُصَلِّي فِيهِ، فَجَاءَتْهُ الْأَنْصَارُ، فَسَلَّمُوا عَلَيْهِ وَهُوَ يُصَلِّي. فَقُلْتُ لِبِلَالٍ: كَيْفَ رَأَيْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرُدُّ عَلَيْهِمْ حِينَ كَانُوا يُسَلِّمُونَ عَلَيْهِ وَهُوَ يُصَلِّي؟ "، قَالَ: «يَقُولُ هَكَذَا، وَبَسَطَ كَفَّهُ»، وَجَعَلَ بَطْنَهُ أَسْفَلَ، وَجَعَلَ ظَهْرَهُ إِلَى فَوْقٍ [سنن أبي داود: صحيح]

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pergi ke Quba untuk mengerjakan salat di sana, lalu orang-orang Anshar datang dan mengucapkan salam kepada beliau sementara beliau sedang salat. Aku bertanya kepada Bilal, bagaimana cara Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab salam kalian pada saat beliau sedang salat? Ia menjawab: ‘Bagini’ sambil menghamparkan telapak tangannya (telapak tangan mengarah ke bawah dan punggung telapak tangan mengarah ke atas).” [Sunan Abu Daud: Sahih]

14.   Jika imam terlalu memperlama sujud, makmum boleh mengangkat kepalanya untuk mengetahui apa yang terjadi pada imam
Syaddad bin Al-Had radhiyallahu ‘anhu berkata:
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي إِحْدَى صَلَاتَيِ الْعِشَاءِ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَضَعَهُ، ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا، فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَهُوَ سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ، قَالَ: «كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ» [سنن النسائي: صححه الألباني]
“Rasulullah keluar untuk mengimami kami salat Isya’ sambil menggendong Hasan dan Husain. Lalu beliau maju ke depan dan meletakkan kedua cucunya itu lantas mengucapkan takbir shalat dan memulai salatnya. Pada saat itu beliau sujud dengan sujud yang sangat lama, maka aku mengangkat kepalaku, dan ternyata seorang anak sedang duduk di atas punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sedang sujud. Lalu aku kembali ke sujudku. Seusai shalat, orang-orang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Wahai Rasulullah, engkau tadi sujud terlalu lama, hingga kami kira telah terjadi sesuatu, atau engkau sedang menerima wahyu.’ Beliau menjawab, ‘Tidak terjadi apa-apa, tetapi tadi cucuku menunggangi punggungku dan aku tidak suka menurunkan mereka hingga mereka merasa puas’.” [Sunan An-Nasa’i: Sahih]

15.   Membaca Alquran dengan melihat mushaf pada salat sunnah jika diperlukan.
Al-Qasim berkata:
« أن عائشة كانت تقرأ في المصحف فتصلي في رمضان أو غيره » [المصاحف لابن أبي داود]
Sesungguhnya Aisyah - radhiyallahu ‘anha- pernah shalat dengan membaca langsung dari Mushaf di bulan Ramadhan dan selainnya. [Al-Mushaf karya Ibnu Abi Daud]
Ia juga berkata:
كَانَ يَؤُمُّ عَائِشَةَ عَبْدٌ يَقْرَأُ فِي الْمُصْحَفِ [مصنف ابن أبي شيبة]
“Pernah Aisyah diimami oleh hamba sahaya yang membaca pada mushaf.” [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah]

16.   Menutup mulut ketika menguap
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah bersabda:
«التَّثَاؤُبُ فِي الصَّلَاةِ مِنَ الشَّيْطَانِ، فَإِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيَكْظِمْ مَا اسْتَطَاعَ» [سنن الترمذي: صحيح]
“Menguap dalam salat berasal dari setan. Jika salah seorang di antara kalian menguap, maka hendaklah ia menahannya semampunya.” [Sunan Tirmidzi: Sahih]

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِذَا تَثَاءَبَ أَحَدُكُمْ، فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ» [صحيح مسلم]
“Bila salah seorang dari kalian menguap maka hendaklah dia menahan mulutnya dengan tangannya karena sesungguhnya setan akan masuk.” [Sahih Muslim]

17.   Membetulkan posisi seseorang yang berada di shaf dengan menariknya ke depan atau ke belakang, atau memindahkan makmum dari kiri ke kanan
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ، فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَأْسِي مِنْ وَرَائِي، فَجَعَلَنِي عَنْ يَمِينِهِ [صحيح البخاري ومسلم]
Aku salat bersama Rasulullah pada suatu malam, lalu aku berdiri di sebelah kirinya, maka Rasulullah memegang kepalaku dari belakang kemudian memindahkanku ke sebelah kanannya. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Wallahu a'lam!

Referensi:

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...