Jumat, 06 Juni 2014

Keistimewaan Ummu Salamah

بسم الله الرحمن الرحيم


Namanya Hindun binti Abi Umayyah (Hudzaifah), Ummu Salamah Al-Qurasyiyah Al-Makhzuumiyah radhiyallahu ‘anha. Wafat tahun 62 hijriyah, dan ada yang mengatakan 61 hijriyah.

Diantara keistimewaannya:

Istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Tidak seorang hamba pun ditimpa musibah lalu megucapkan ...
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِيْ فِيْ مُصِيبَتِيْ وَأَخْلِفْ لِيْ خَيْرًا مِنْهَا
"Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali, Ya Allah .. berikanlah aku pahala dalam musibahku, dan berikanlah aku gantinya yang lebih baik".
Kecuali Allah akan memberinya pahala atas musibahnya dan menggantikan untuknya yang lebih baik.
Ummu Salamah berkata: Maka ketika Abu Salamah wafat, aku membaca do'a yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan Allah memberiku yang lebih baik darinya yaitu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. [Sahihh Muslim]

Dalam riwayat lain; Ummu Salamah berkata: Maka ketika Abu Salamah wafat aku berkata: “Muslim manakah yang lebih baik dari Abu Salamah, rumahnya adalah rumah yang pertama kali disinggahi Rasulullah ketika hijrah”. Kemudian aku membaca do’a tersebut, maka Allah menggantikan untukku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Ummu Salamah berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus kepadaku Hathib bin Abi Balta’ah melamarku untuknya, maka aku berkata: Sesungguhnya aku memiliki seorang putri, dan aku sangat pecemburu.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membalas:
«أَمَّا ابْنَتُهَا فَنَدْعُو اللهَ أَنْ يُغْنِيَهَا عَنْهَا، وَأَدْعُو اللهَ أَنْ يَذْهَبَ بِالْغَيْرَةِ»
“Adapun putrinya maka kita berdo’a kepada Allah semoga mencukupinya darinya, dan aku berdo’a kepada Allah agar menghilangkan rasa cemburunya”. [Sahih Muslim]

Rasulullah menawarkan untuknya tambahan jatah malam pertama

Dari Ummu Salamah radhiyallahu 'anha; Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menikahinya, beliau berkata kepadanya:
«إِنْ شِئْتِ أَنْ أُسَبِّعَ لَكِ، وَأُسَبِّعَ لِنِسَائِي، وَإِنْ سَبَّعْتُ لَكِ، سَبَّعْتُ لِنِسَائِي» [صحيح مسلم]
“Jika engkau mau aku akan tinggal bersamamu tujuh hari dan bersama istriku yang lain tujuh hari, dan jika aku tinggal bersamamu tujuh hari maka aku juga akan tinggal bersama istriku yang lain tujuh hari”. [Sahih Muslim]

Kebiasaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika menikahi perawan beliau tinggal bersamanya di malam pertama tujuh hari, dan untuk janda tiga hari. Namun pada saat menikahi Ummu Salamah, beliau menawarkan kepadanya untuk memilih tujuh hari atau tiga hari.

Ibu bagi orang yang beriman

Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:
{النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ} [الأحزاب: 6]
Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. [Al-Ahzaab:6]

Ahlu Bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Umar bin Abi Salamah radhiyallahu 'anhuma berkata: Ketika ayat ini turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di rumah Ummu Salamah;
{إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ البَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا} [الأحزاب: 33]
Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. [Al-Ahzaab:33]
Beliau memanggil Fathimah, Hasan, dan Husain kemudian menutupi mereka dengan kain, lalu berdo’a:
«اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلُ بَيْتِي فَأَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا»
“Ya Allah, mereka ini adalah keluargaku (ahlu bait), maka jauhkanlah dari mereka dosa dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya”
Maka Ummu Salamah bertanya: Apakah saya bersama mereka, wahai Rasulallah?
Beliau menjawab:
«أَنْتِ عَلَى مَكَانِكِ وَأَنْتِ عَلَى خَيْرٍ»
“Engkau pada tempatmu, dan engkau di atas kebaikan”. [Sunan At-Tirmidziy: Sahih]

Ummu Salamah radhiyallahu 'anha berkata: Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menutupi Al-Hasan, Al-Husain, dan Fathimah dengan kain, kemudian berdo’a:
«اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلُ بَيْتِي وَخَاصَّتِي، أَذْهِبْ عَنْهُمُ الرِّجْسَ وَطَهِّرْهُمْ تَطْهِيرًا»
“Ya Allah, mereka ini adalah keluargaku (ahlu bait) dan orang terdekatku, jauhkanlah dari mereka dosa dan bersihkanlah mereka sebersih-bersihnya”
Maka Ummu Salamah bertanya: Apakah saya bersama mereka, wahai Rasulallah?
Beliau menjawab:
«إِنَّكِ إِلَى خَيْرٍ»
“Sesungguhnya engkau menuju pada kebaikan”. [Sunan At-Tirmidziy: Sahih]

Dalam riwayat lain; Ummu Salamah bertanya: Wahai Rasulallah, bukankah aku juga keluargamu?
Beliau menjawab:
" بَلَى، فَادْخُلِي فِي الْكِسَاءِ "
“Tentu, maka masuklah engkau ke dalam kain”
Ummu Salamah berkata: Maka aku masuk ke dalam kain setelah beliau selesai berdo’a untuk anak pamannya yaitu Ali, dan kedua anaknya, dan Fathimah putrinya. [Musnad Ahmad: Di-shahih-kan oleh syekh Musthafa Al-‘Adawiy dalam kitabnya Shahih Fadhail Ash-Shahabah]


Ikut hijrah ke Habasyah

Ummu Salamah radhiyallahu 'anha berkata:
لَمَّا نَزَلْنَا أَرْضَ الْحَبَشَةِ، جَاوَرْنَا بِهَا خَيْرَ جَارٍ، النَّجَاشِيَّ، أَمِنَّا عَلَى دِينِنَا، وَعَبَدْنَا اللهَ لَا نُؤْذَى، وَلا نَسْمَعُ شَيْئًا نَكْرَهُهُ [مسند أحمد: حسن]
Ketika kami hijrah ke bumi Habasyah, kami didampingi dengan sebaik-baiknya pendamping, kami aman menjalankan agama kami, dan kami menyembah Allah tanpa ada yang menyakiti kami, dan kami tidak mendengar sesuatu pun yang kami tidak senangi .. [Musnad Ahmad: Hasan]

Memiliki akal yang cerdas

Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam selesai menulis perjanjian Hudaibiyah, beliau bersabda kepada para sahabatnya:
«قُومُوا فَانْحَرُوا ثُمَّ احْلِقُوا»
“Bangkitlah kalian semua, dan sembelihlah hewan kurban kalian, kemudian bercukurlah”
Namun tidak seorangpun dari mereka yang bangkit, sampai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengulanginya tiga kali.
Ketika tidak ada seorang pun dari mereka yang bangkit, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menemui Ummi Salamah dan menceritakan apa yang dilakukan sahabatnya.
Maka Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata:
يَا نَبِيَّ اللَّهِ، أَتُحِبُّ ذَلِكَ، اخْرُجْ ثُمَّ لاَ تُكَلِّمْ أَحَدًا مِنْهُمْ كَلِمَةً، حَتَّى تَنْحَرَ بُدْنَكَ، وَتَدْعُوَ حَالِقَكَ فَيَحْلِقَكَ
Wahai Nabi Allah, apakah engkau menyukai hal tersebut? Keluarlah, kemudian jangan berbicara kepada seorang pun dari mereka, sampai engkau menyembelih hewan kurbanmu, dan memanggil tukang cukurmu kemudian mencukur rambutmu.
Beliau pun keluar dan tidak berbicara kepada seorangpun dari mereka, sampai melakukan arahan Ummi Salamah, beliau menyembelih hewan kurbannya, dan memanggil tukang cukurnya, kemudian mencukur rambut beliau.
Maka ketika para sahabat melihat hal tersebut, mereka pun bangkit kemudian menyembelih hewan kurban merekan, dan saling cukur satu sama lain, sampai ada yang hampir saling membunuh (tanpa sengaja) karena rasa kecewa (tidak bisa menunaikan umrah). [Sahih Bukhari]

Mendapat pujian Rasulullah

Yahya bin Al-Jazzaar rahimahullah berkata: Beberapa orang dari sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi Ummu Salamah, dan mereka bertanya: Wahai Ummul Mu’miniin, ceritakanlah kepada kami kondisi Rasulullah yang tersembunyi!
Ummu Salamah menjawab:
كَانَ سِرُّهُ وَعَلَانِيَتُهُ سَوَاءً
“Kondisi beliau yang tersembunyi dan yang nampak adalah sama”.
Ummu Salamah berkata: Kemudian aku menyesal, karena aku telah membeberkan rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Maka ketika ia bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan menceritakan hal tersebut, beliau mengatakan:
«أَحْسَنْتِ»
“Engkau telah melakukan yang baik dan benar”. [Musnad Ahmad: Hasan]

Jibril mendatangi Rasulullah saat bersamaa Ummi Salamah

Dari Usamah bin Zayd radhiyallahu 'anhuma; Bahwasanya Jibril mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan di sisinya ada Ummu Salamah, kemudian ia bercakap-cakap. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Ummu Salamah: “Siapakah orang ini?”
Ummu Salamah menjawab: “Ini adalah Dihyah”.
Maka setelah ia pergi, Ummu Salamah berkata:
وَاللَّهِ مَا حَسِبْتُهُ إِلَّا إِيَّاهُ، حَتَّى سَمِعْتُ خُطْبَةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُخْبِرُ خَبَرَ جِبْرِيلَ
Demi Allah, aku tidak menyangka siapa orang tersebut kecuali dia (Dihyah), sampai aku mendengar khutbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang kisah Jibril. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Rasulullah menciumnya saat berpuasa

Umar bin Abi Salamah radhiyallahu 'anhuma menanyai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: Apakah orang puasa boleh berciuman?
Rasulullah bersabda kepadanya:
«سَلْ هَذِهِ»
“Tanya ini”, menunjuk kepada Ummu Salamah.
Maka Ummu Salamah memberitahunya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan hal itu.
Umar bin Abi Salamah berkta: Wahai Rasulullah, itu karena Allah telah mengampuni dosamu yang terdahulu dan yang akan datang!
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbada kepadanya:
«أَمَا وَاللهِ، إِنِّي لَأَتْقَاكُمْ لِلَّهِ، وَأَخْشَاكُمْ لَهُ» [صحيح مسلم]
“Ketahuilah, demi Allah! Sesungguhnya aku ini yang lebih bertakwa kepada Allah dari kalian, dan lebih takut kepada-Nya dari kalian (tidak mungkin melakukan yang terlarang)”. [Sahih Muslim]


Ummu Salamah radhiyallahu 'anha berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada istri-istrinya:
" إِنَّ الَّذِي يَحْنُو عَلَيْكُنَّ مِنْ بَعْدِي لَهُوَ الصَّادِقُ الْبَارُّ "
“Sesungguhnya orang yang mengasihi kalian setelah aku wafat adalah orang yang jujur keimanannya dan orang yang berbakti”. [Musnad Ahmad: Hasan]

Wallahu a’lam!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...