Selasa, 17 Mei 2011

Kenali Diri .. Kenali Tuhan !

Hadits: {من عرف نفسه فقد عرف ربه}
"Barangsiapa yang mengenal dirinya, berati ia telah mengenal Tuhannya".

1. Hadits ini dihukumi hadits palsu oleh :
a. Ash-Shagany (650H) dalam kitabnya: "Al-Maudhu'aat" no.28.
b. Ibnu Taimiyah (728H). [lihat: "Al-Mashnu' fii Ma'rifati Al-Hadits Al-Maudhu'" oleh Ali Al-Qary (1014H) no.349]
c. Al-Fatany Al-Hindy (986H) dalam kitabnya"Tadzkirah Al-Maudhu'aat" hal 11.
- Imam Nawawy mengatakan: Hadits ini tidak "tsabit" (tidak ada).
[lihat: "At-Tadzkirah fii Al-Ahadiits Al-Musytaharah" oleh Az-Zarkasy (794H) hal.129]

- Abu Al-Mudhzaffar As-Sam'any (489H) mengatakan:
Hadits ini tidak berasal dari Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam, akan tetapi dikutip dari perkataan Yahya bin Mu'az Ar-Razy (258H).
[lihat: "Al-Maqasid Al-Hasanah" oleh As-Sakhawy (902H)]

- Fairuz Abadi (817H) mengatakan: Perkataan ini bukan hadits Nabawy sekalipun banyak orang yang menganggapnya hadits tapi tidak punya sanad. Akan tetapi perkataan ini diambil dari Israiliyat dalam kitab Taurat, Allah berfirman: يا ابن آدم اعرف نفسك تعرف ربك 
[lihat: Silsilah Al-Ahadits Ad-Dha'ifah oleh Al-Bany 1/166, dan catatan kaki kitab Al-Bahrul Madid 5/472]

- Al-Amiir Al-Kabiir (1232H) dalam kitabnya "An-Nukhbah Al-Bahiyah" no.3641, mengatakan: 
Ini bukan hadits, akan tetapi dari perkataan orang banyak.

- Syekh Al-Bany dalam kitabnya "As-Silsilah Al-Ahadits Ad-Dha'ifah" no.66, mengatakan: 
Hadits ini tidak punya asal (sanad).

- Disebutkan juga oleh:
a. As-Suyuthy (911H) dalam kitabnya Ad-Durar Al-Muntatsirah hal.18 .
b. Ibnu 'Araaq (963H) dalam kitabnya Tanzih As-Syari'ah 2/402.
c. Mir'i bin Yusuf Al-Karmy (1033H) dalam kitabnya Al-Fawaid Al-Maudhu'ah no.87.
d. Ahmad Al-'Amiry (1143H) dalam kitabnya Al-Jaddu Al-Hatsits no.524.
e. Al-Huut Al-Baeruty (1276H) dalam kitabnya Asna Al-Mathalib no.1435.
f. Muhammad bin Khalil Ath-Tharabulsy (1305H) dalam kitabnya Al-Lu'lu' Al-Marshu' no.594.

2. Perkataan ini disebutkan juga dari Ali bin Abi Thalib, beliau mengatakan:
اعرف نفسك تعرف ربك
[lihat: Tafsir Ruh Al-Bayan 9/364, Al-Muharrar Al-Wajiz 5/265, Tafsir Ats-Tsa'alaby 4/287]

     Sebagian orang mengatakan bahwa ini adalah perkataan Abu Sa'id Al-Kharraz (286H), seorang syekh sufi. [lihat: Asna Al-Mathalib no.1435]

3. Hadit ini masuk kategori hadits tentang aqidah yang disepakati bahwa tidak boleh menggunakan hadits dhaif apalagi maudhu' (palsu).
Al-Fatany menyebutkan hadits ini pada pembahasan Tauhid.

4. Makna hadits:
     Hadits ini bisa diartikan benar dan bisa pula diartikan salah.
     Syekh Ali Hasyisy dalam kitabnya "Silsilah Al-Ahadits Al-Wahiyah" hal.269, mengatakan:
Hadits ini dijadikan pegangan utama oleh orang Tasawwuf paham wihdatul wujud yang mengatakan "tidak ada sesuatu pun dalam alam ini kecuali Allah, semua makhluk yang ada adalah bentuk penampakan Allah", mereka menganggap bahwa manusia adalah wujud Allah oleh karena itu mereka menafsirkan hadits ini bahwa barangsiapa yang mengetahui dirinya berarti telah mengetahui Tuhannya yang berada pada dirinya.

       Adapun maknanya yang benar.
     Ibnu Taimiyah mengatakan: Perkataan ini bisa dipahami dari tiga sisi, Al-I'tibar, Al-Mugabalah, dan Al-'Ajzu wa Al-Imtina'.
     Dari sisi I'tibar (renungan): Jika seseorang mengetahui dirinya hidup, mengetahui, punya kemampuan, mendengar, melihat, dan berbicara; maka ia akan tahu bahwa Tuhannya pun pasti hidup, mengetahui, punya kemampuan, mendengar, melihat, dan berbicara.
     Sedangkan dari sisi Al-Muqabalah (perbandingan): Jika seseorang mengetahui dirinya seorang hamba berarti Tuhannya harus disembah, jika mengetahui dirinya miskin berarti Tuhannya Maha Kaya, jika mengetahui dirinya lemah berarti Tuhannya Maha Kuasa, jika mengetahui dirinya bodoh berarti Tuhannya Maha Mengetahui, jika mengetahui dirinya hina berarti Tuhannya Maha Mulia, begitu pula dengan semua sifat.
     Adapun dari sisi Al-'Ajzu wa Al-Imtina' (lemah dan tidak mungkin): Jika seseorang tidak bisa mengetahui hakikat bentuk dan sifat jiwa atau ruhnya sendiri padahal itu sangat dekat, maka sudah pasti ia juga tidak akan mampu mengetahui hakikat bentuk dan sifat Tuhannya.
[lihat Majmu' Al-Fatawa oleh Ibnu Taimiyah 9/295-297]

     Ali Al-Qary mengatakan: Perkataan ini diambil dari firman Allah yang berbunyi:
{وَمَنْ يَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا مَنْ سَفِهَ نَفْسَه}
"Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri." [Al-Baqarah:130]
Karena ia tidak mengetahui dirinya sendiri maka ia tidak mengetahui Tuhannya.
[lihat: Al-Asrar Al-Marfu'ah fii Akhbar Al-Maudhu'ah oleh Ali Al-Qary no.506]

     Perkataan ini juga semakna dengan firman Allah:
{وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُون}
"Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik." [Al-Hasyr:19]
     Ibnu Taimiyah berkata: Barangsiapa yang lupa Tuhannya berarti ia lupa dirinya sendiri. [lihat: Majmu' Al-Fatawa: 16/349]
     Beberapa mufassir mengatakan: Pada ayat ini dipetik hikmah bahwa ..
أن من عرف نفسه ولم ينسها عرف ربه تعالى
Barangsiapa yang mengenal dirinya dan tidak lupa diri, berarti ia mengenal Tuhannya.
[lihat: Tafsir Ruh Al-Bayan 9/364, Al-Muharrar Al-Wajiz 5/265, Tafsir Ats-Tsa'alaby 4/287]

     Dalam ayat lain Allah berfirman:
{وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ . وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُون}
"Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?" [Adz-Dzariyat: 20-21]

     Najmuddin Al-Gazza (1061H) menyebutkan bahwa dalam kitab Adab Ad-Diin wa Ad-Dunya oleh Al-Mawardi menyebutkan:
 عن عائشة سئل النبي صلى الله عليه وسلم من أعرف الناس بربه ؟ قال : أعرفهم بنفسه
Aisyah berkata: Rasulullah ditanya, siapakah yang paling mengenal Tuhannya? Rasulullah menjawab: Yang paling kenal dengan dirinya. [lihat: Kasyful Khafaa oleh Al-'Ajluni (1162H) no.2532]
     Akan tetapi sanad hadits ini masih perlu dicari dan diteliti. 
     
     Wallahu a'lam !

* Lihat juga: Beribadah tanpa pamrih 
                     Bagaimana menghukumi hadits 
                     Belajar Ilmu Takhrij bagian I, bagian II, dan bagian III

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...