Minggu, 07 Oktober 2012

Air sisa perempuan



بسم الله الرحمن الرحيم

Ulama berselisih pendapat, apakah seorang laki-laki boleh bersuci dengan sisa air yang dipakai perempuan untuk bersuci.

Pendapat pertama: Tidak boleh seorang laki-laki bersuci dengan air sisa perempuan.
Ini adalah mazhab Ibnu Umar, Abdullah bin Sarjis, Ummul Mu'miniin Juwairiyah bint Al-Harits radiyallahu 'anhum, Al-Hasan, Ahmad bin Hanbal, Ishak, Asy-Sya'biy, dan Daud Adz-Dzahiriy rahimahumullah.

Dalil yang mereka pegangi:

1.      Hadits Al-Hakam bin 'Amr Al-Aqra' radiyallahu 'anhu, beliau berkata:
«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ يَتَوَضَّأَ الرَّجُلُ بِفَضْلِ طَهُورِ الْمَرْأَةِ» [سنن أبي داود: صححه الألباني]
Sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melarang seorang laki-laki berwudhu dengan air sisa yang dipakai bersuci seorang perempuan. [Sunan Abu Daud: Disahihkan oleh syekh Albaniy]

2.      Hadits seorang sahabat Rasulullah, beliau berkata:
«نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ تَغْتَسِلَ الْمَرْأَةُ بِفَضْلِ الرَّجُلِ، أَوْ يَغْتَسِلَ الرَّجُلُ بِفَضْلِ الْمَرْأَةِ ، وَلْيَغْتَرِفَا جَمِيعًا» [سنن أبي داود: صححه الألباني]
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang seorang wanita mandi dari air sisa laki-laki, atau laki-laki mandi dari air sisa perempuan, dan hendaklah keduanya menimba bersama-sama. [Sunan Abu Daud: Disahihkan oleh syekh Albaniy]

3.      Hadits Abdullah bin Sarjis radiyallahu 'anhu, beliau berkata:
نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يغتسل الرجل بفضل وضوء المرأة والمرأة بفضل الرجل . ولكن يشرعان جميعا [سنن ابن ماجه: صححه الألباني]
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang seorang laki-laki mandi dengan air sisa wudhu' perempuan dan perempuan dengan sisa laki-laki, akan tetapi hendaklah keduanya mandi bersama-sama. [Sunan Ibnu Majah: Disahihkan oleh syekh Albaniy]

4.      Hadits Ali bin Abi Thalib radiyallahu 'anhu, beliau berkata:
كان النبي صلى الله عليه و سلم وأهله يغتسلون من إناء واحد . ولا يغتسل أحدهما بفضل صاحبه [سنن ابن ماجه: ضعفه الألباني]
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mandi bersama istrinya dari satu bejana, dan salah satunya tidak mandi dengan sisa air pasangannya. [Sunan Ibnu Majah: Dilemahkan oleh syekh Albaniy]

Pendapat kedua: Seorang laki-laki boleh bersuci dengan air sisa perempuan.
Ini adalah pendapat Umar, Abu Hurairah, Abdullah bin Abbas, Sa'ad bin Abi Waqqash radiyallahu 'anhum, Abu Ubaid, Ibnu Al-Mundzir, mazhab Al-Hanafiyah, Malik, Asy-Syafi'iy, dan riwayat lain dari Imam Ahmad rahimahumullah.

Dalil yang mereka pegangi:

1.      Hadits Ibnu Abbas radiyallahu 'anhuma, beliau berkata:
«أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْتَسِلُ بِفَضْلِ مَيْمُونَةَ» [صحيح مسلم]
"Sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam terkadang mandi dari sisa air Maemunah". [Sahih Muslim]

2.      Hadits Ibnu Abbas radiyallahu 'anhuma, beliau berkata: Seorang istri Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mandi pada sebuah bejana, kemudian Nabi datang untuk berwudhu dari berjana itu atau mandi, maka sang istri berkata: Ya Rasulllah, sesungguhnya aku tadi memakainya dalam keadaan junub? Maka Rasulullah berkata:
«إِنَّ الْمَاءَ لَا يُجْنِبُ» [سنن أبي داود: صححه الألباني]
"Sesungguhnya air itu tidak junub (bernajis)". [Sunan Abu Daud: Disahihkan oleh syekh Albaniy]

3.      Hadits Aisyah radiyallahu 'anha, beliau berkata:
«كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَالنَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ وَاحِدٍ كِلاَنَا جُنُبٌ» «نَغْرِفُ مِنْهُ جَمِيعًا» «تَخْتَلِفُ أَيْدِينَا فِيهِ» [صحيح البخاري ومسلم]
Aku sering mandi bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dari satu bejana, kami berdua dalam keadaan junub, kami menimba air dari bejana itu bersamaan, kedua tangan kami saling bergantian. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dalam riwayat lain:
كُنْتُ أَغْتَسِلُ أَنَا وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِنَاءٍ بَيْنِي وَبَيْنَهُ وَاحِدٍ، فَيُبَادِرُنِي حَتَّى أَقُولَ: دَعْ لِي، دَعْ لِي [صحيح مسلم]
Aku sering mandi bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dari satu bejana antara aku dan dia, kemudian Rasulullah mendahuluiku sampai aku berkata: Sisakan untukku, sisakan untukku. [Sahih Muslim]

4.      Hadits Ummu Salamah radiyallahu 'anha:
«كَانَتْ هِيَ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلَانِ فِي الْإِنَاءِ الْوَاحِدِ مِنَ الْجَنَابَةِ» [صحيح مسلم]
Bahwasanya ia dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mandi bersama pada satu bejana dari junub. [Sahih Muslim]

5.      Hadits Abu Sa'id Al-Khudriiy radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya: Apakah kami boleh berwudhu dari sumur Budha'ah, suatu sumur yang ditempati membuang bekas darah haid, bangkai anjing, dan benda busuk? Rasulullah menjawab:
«الْمَاءُ طَهُورٌ لَا يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ» [سنن أبي داود: صححه الألباني]
Air itu suci tidak dinajisi oleh sesuatu. [Sunan Abu Daud: Disahihkan oleh syekh Albaniy]
Kecuali jika berubah bau, warna, dan rasanya dengan najis sesuai dengan ijma'.

Pendapat yang paling kuat adalah yang kedua, adapun dalil yang dipakai pendapat pertama hanya menunjukkan larangan tanziih (sebaiknya ditinggalkan).
Sebagian ulama mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melarang laki-laki bersuci dengan sisa air permpuan yang dimaksud adalah suami-istri agar mandi secara bersamaan untuk menambah keharmonisan rumah tangga, dan dikhawatirkan jika salah satu dari keduanya mandi terlebih dahulu maka yang belakangan tidak kebagian air jika persediaannya sedikit.

Wallahu a'lam!

Referensi:
صحيح فقه السنة لأبي مالك كمال بن السيد سالم 1/106

Lihat juga: Menyentuh Kemaluan; Apakah Membatalkan Wudhu? 
                  Najis Anjing 
                  Syarat pakaian wanita muslimah 
   

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...