Minggu, 08 Mei 2011

Syarat pakaian wanita muslimah

بسم الله الرحمن الرحيم


            Seorang wanita muslimah yang taat kepada ajaran agamanya senantiasa menjadikan rumah sebagai benteng yang melindunginya dari segala macam fitnah yang bisa merusak kehidupan dunia dan akhiratnya. Senantiasa taat kepada Allah Tuhan Yang Menciptakan dan Memuliakannya, Yang Memerintahkannya untuk berdiam di dalam rumah. Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:
{وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ} [الأحزاب: 33]
"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu ". (Al-Ahzab: 33)

            Akan tetapi jika ada keperluan mendesak yang mengharuskan seorang muslimah untuk keluar rumah, maka hendaklah ia memakai pakaian yang sesuai dengan aturan syari'at.

            Secara garis besar, syarat pakaian seorang wanita muslimah adalah sebagai berikut:

Syarat pertama: Menutupi aurat.

            Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:
{وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ} [النور: 31]
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, …". (An-Nuur:31)

{يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا} [الأحزاب: 59]
            "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (Al-Ahzab:59)

            Ada perselisihan tentang batasan aurat perempuan bagi selain muhrim. Sekelompok ulama menganggap seluruh tubuh perempuan adalah aurat termasuk wajah dan telapak tangan. Diantara argument yang mereka pakai adalah firman Allah subhanahu wa ta’aalaa yang artinya:
{وَإِذَا سَأَلْتُمُوهُنَّ مَتَاعًا فَاسْأَلُوهُنَّ مِنْ وَرَاءِ حِجَابٍ ذَلِكُمْ أَطْهَرُ لِقُلُوبِكُمْ وَقُلُوبِهِنَّ} [الأحزاب: 53]
"Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (isteri- isteri Nabi), Maka mintalah dari belakang tabir, cara yang demikian itu lebih Suci bagi hatimu dan hati mereka". (Al-Ahzab: 53)

            Demikian pula dengan hadits Ibnu Mas'ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«المَرْأَةُ عَوْرَةٌ، فَإِذَا خَرَجَتْ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ» [سنن الترمذي: صحيح]
"Wanita adalah aurat, apabila keluar rumah, syaitan akan memuliakannya". [Sunan Tirmidziy: Sahih]

            Sedangkan kelompok lain menganggap bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Argumen yang mereka pakai diantaranya, menafsirkan pengecualian pada ayat 31 dari surah An-Nur di atas { إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا } dengan “wajah dan telapak tangan”.

            Demikian pula dengan hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha yang ke-shahih-annya diperselisihkan, bahwasanya Asma binti Abi Bakr menghadap pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan berpakaian tipis. Maka Rasulullah berpaling darinya dan bersabda:
«يَا أَسْمَاءُ، إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلَّا هَذَا وَهَذَا» وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ [سنن أبي داود]
"Ya Asma'! Sesungguhnya seorang wanita jika telah memasuki masa baliq, tidak boleh kelihatan bagian tubuhnya kecuali ini dan ini".
Rasulullah menunjuk wajah dan telapak tangannya. [Sunan Abi Daud]

            Akan tetapi mereka menganjurkan untuk menutup wajah dan telapak tangan, dan mewajibkannya jika kerusakan akhlak sudah merajalela.

            Adapun batasan aurat perempuan dihadapan muhrimnya adalah selain tangan, betis, kepala dan leher. Sedangkan batasan aurat perempuan dihadapan perempuan muslimah lainnya adalah antara pusat dan lutut.
Namun sebaiknya wanita muslimah memakai pakaian yang menutup seluruh badan  kecuali kepala, telapak tangan, dan telapak kaki dihadapan muhrimnya atau sesama wanita untuk menghindari mafsadah (kerusakan) yang tidak diinginkan.

Syarat kedua: Motif dan warnanya tidak mencolok, tidak mengundang perhatian lelaki.

            Seorang perempuan diperintahkan memakai pakaian untuk menutupi keelokan tubuhnya dan jauh dari perhatian lelaki. Akan tetapi jika pakaian itu sendiri malah menambah perhatian dan bisa mengundang nafsu lelaki, maka jelas pakaian itu terlarang. Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman: {وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى} (Al-Ahzab:33), maksudnya: "Janganlah berpakaian dan bertingkah laku seperti umat jahiliyah, mereka berpakaian dan bertingkah laku untuk  menarik perhatian laki-laki".

Syarat ketiga: Tidak ketat, menampakkan lekuk tubuh.

            Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberiku pakaian "qubthiyah" (pakaian buatan Mesir) yang tebal, lalu aku berikan kepada istriku. Maka Rasulullah bertanya kepadaku:
«مَا لَكَ لَمْ تَلْبَسِ الْقُبْطِيَّةَ؟»
"Kenapa engkau tidak memakai qubthiyah?"
Aku menjawab: Ya Rasulullah pakaian itu telah kuberikan kepada istriku.
Lalu Rasulullah bersabda:
«مُرْهَا فَلْتَجْعَلْ تَحْتَهَا غِلَالَةً، إِنِّي أَخَافُ أَنْ تَصِفَ حَجْمَ عِظَامِهَا» [مسند أحمد: حسن]
"Perintahkan kepadanya untuk melapisinya dengan pakaian dalam, aku khawatir pakaian itu akan menampakan bentuk tubuhnya". [Musnad Ahmad: Hasan]

Syarat keempat: Tidak tembus pandang.

            Wanita yang memakai pakaian tembus pandang adalah salah satu dari dua golongan ahli neraka yang tidak pernah dilihat oleh Rasulullah di masanya. Dirawayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: ... ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ، رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ، لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ، وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا، وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا» [صحيح مسلم]
"Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat: (1) …, (2) Wanita-wanita berpakaian, tetapi sama juga dengan bertelanjang (karena pakaiannya terlalu minim, terlalu tipis atau tembus pandang, terlalu ketat, atau pakaian yang merangsang pria karena sebagian auratnya terbuka), berjalan dengan berlenggok-lenggok, mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka (disasak) bagaikan punuk unta. Wanita-wanita tersebut tidak dapat masuk surga, bahkan tidak dapat mencium bau surga. Padahal bau surga itu dapat tercium dari begini dan begini." [Sahih Muslim]

Syarat kelima: Tidak berbau wangi (parfum).

            Pakaian wanita yang berbau wangi akan mengundang nafsu lelaki yang menciumnya dan akan menimbulkan kerusakan. Diriwayatkan dari Abu Musa Al-Asy'ary radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ» [سنن النسائي: حسن]
"Siapa saja dari kaum wanita yang memakai parfum, lalu melewati suatu kaum dan mencium baunya, maka ia adalah penzina". [Sunan An-Nasa’iy: Hasan]

Syarat keenam: Tidak menyerupai pakaian laki-laki.

            Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata:
«لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّجُلَ يَلْبَسُ لِبْسَةَ الْمَرْأَةِ، وَالْمَرْأَةَ تَلْبَسُ لِبْسَةَ الرَّجُلِ» [سنن أبي داود: صحيح]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian leki-laki. [Sunan Abi Daud: Shahih]

Syarat ketujuh: Tidak menyerupai pakaian wanita kafir atau fasiq.

            Abdullah bin 'Amr radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku memakai pakaian berwarna kuning, maka beliau bersabda:
«إِنَّ هَذِهِ مِنْ ثِيَابِ الْكُفَّارِ فَلَا تَلْبَسْهَا» [صحيح مسلم]
"Sesungguhnya ini adalah pakaian orang kafir maka janganlah engkau memakainya". [Shahih Muslim]

            Hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ» [سنن أبي داود: صحيح]
"Barang siapa yang meniru suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka". [Sunan Abi Daud: Shahih]

Syarat kedelapan: Tidak termasuk pakaian syuhrah.

            Yang dimaksud pakaian syuhrah adalah pakaian yang dipakai untuk membanggakan dan menyombongkan diri. Baik itu dari segi harganya atau modelnya, seperti memakai pakaian kusut supaya dikatakan ahli zuhud.

            Hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ لَبِسَ ثَوْبَ شُهْرَةٍ فِي الدُّنْيَا، أَلْبَسَهُ اللَّهُ ثَوْبَ مَذَلَّةٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، ثُمَّ أَلْهَبَ فِيهِ نَارًا» [سنن ابن ماجه: حسنه الشيخ الألباني]
"Barangsiapa yang memakai pakaian syuhrah di dunia, Allah akan memakaikannya pakaian kehinaan di akhirat kemudian dibakar dengan api neraka". [Sunan Ibnu Majah: Hasan]
           
Kesimpulan:

Syarat-syarat yang telah disebutkan bukan dibuat untuk mendiskriminasikan kaum manita, akan tetapi aturan ini dibuat semata-mata untuk menjaga harkat, martabat dan kesucian seorang muslimah agar tidak dirusak oleh oknum-oknum yang menghendaki kehancuran kaum wanita.

            Aturan ini dibuat oleh Allah Yang Maha Mengetahui tabiat kaum wanita, dan ditetapkan oleh Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat menyayangi ummatnya terlebih bagi kaum wanita. Apakah kita lebih mendengarkan gongongan orang-orang kafir atau oknum-oknum yang mulutnya berbisa yang menganggap dirinya organisasi pembela hak wanita ???    

            Semoga para wanita muslimah senagtiasa mendapat perlindungan dari Allah. Amin !!!
           
Wallahu a'lam !

Lihat juga: Godaan wanita
                   Wanita keluar rumah
                   Hukum ikhtilath

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...