Jumat, 14 Desember 2012

Bulan Safar tidak membawa sial


Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ، وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ المَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ» [صحيح البخاري]
"Tidak ada penyakit menular, tidak ada "thiyarah", tidak ada "haamah", dan tidak ada "shafara". Menjaulah dari penderita kusta sebagaimana engkau menjauh dari singa". [Sahih Bukhari]

Dalam riwayat lain; Seorang A'rabiy bertanya: Ya Rasulullah, bagaimana dengan ontaku. Ketika ia di padang pasir kuat seperti kijang, kemudian datang onta yang sakit dan membaur bersamanya, maka ia pun terkena penyakit?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam balik bertanya:
«فَمَنْ أَعْدَى الأَوَّلَ؟» [صحيح البخاري ومسلم]
"Lalu siapa yang menyebabkan onta yang pertama sakit?". [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dalam riwayat lain: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«لَا عَدْوَى وَلَا هَامَةَ وَلَا نَوْءَ وَلَا صَفَرَ» [صحيح مسلم]
"Tidak ada penyakit menular, tidak ada "haamah", tidak ada "nau'a", dan tidak ada "shafara". " [Sahih Bukhari]

Dari Jabir bin Abdillah; Rasulullah bersabda:
«لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ، وَلَا غُولَ» [صحيح مسلم]
"Tidak ada penyakit menular, tidak ada "shafara", dan tidak ada "guula". [Sahih Muslim]

A.      Hadits ini menunjukkan bahwa kita harus meyakini kalau tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya, akan tetapi penyakit itu berpindah kepada yang lain atas kehendak Allah subhanahu wata'ala.
Dari Ibnu Mas'ud radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ، خَلَقَ اللَّهُ كُلَّ نَفْسٍ وَكَتَبَ حَيَاتَهَا وَرِزْقَهَا وَمَصَائِبَهَا [سنن الترمذي: صحيح]
"Tidak ada penyakit menular, dan tidak ada "shafara", Allah telah yang menciptakan setiap jiwa, dan mencatat (menentukan) kehidupannya, rezkinya, dan apa-apa yang menimpanya". [Sunan Tirmidzi: Sahih]

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ} [الحديد: 22]
Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. [Al-Hadiid:22]

Adapun perintah menjauhi penderita penyakit yang biasanya menular adalah sebagai langkah pencegahan jangan sampai penyakit itu dijadikan Allah sebagai sebab kita-pun terkena penyakit, sebagaimana kita juga menjauhi sebab-sebab lain yang biasanya membahayakan seperti hewan buas, api, dan semisalnya.

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«لاَ يُورِدَنَّ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Jangan memasukkan hewan yang sakit bersama hewan yang sehat". [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari Usamah bin Zaid radiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا» [صحيح البخاري ومسلم]
"Jika kalian mendengar ada wabah penyakit menular di suatu daerah maka jangan kalian memasukinya, dan jika terjadi di suatu daerah dan kamu ada di dalamnya maka jangan kamu keluar dari daerah itu". [Sahih Bukhari dan Muslim]

B.      "Thiyarah" adalah anggapan bahwa keburukan terjadi atau akan terjadi dikarenakan oleh sesuatu selain Allah subhanahu wa ta'aalaa.
Pada mulanya orang jahiliyah melakukannya dengan menerbangkan burung ketika hendak melakukan sesuatu, jika burung tersebut terbang ke kanan maka mereka melakukannya, dan jika terbang ke kiri mereka tidak melakukannya.

Dari Abdullah bin 'Amr radiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
" مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ، فَقَدْ أَشْرَكَ "
"Barangsiapa yang tidak melaksanakan satu keperluannya karena "thiyarah" maka ia telah berbuat syirik".
Sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apa kaffarah (penghapus dosa) perbuatan itu?
Rasulullah menjawab:
" أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ: اللهُمَّ لَا خَيْرَ إِلَّا خَيْرُكَ، وَلَا طَيْرَ إِلَّا طَيْرُكَ ، وَلَا إِلَهَ غَيْرُكَ " [مسند أحمد: حسن]
"Dengan mengatakan: "Ya Allah ... tidak ada kebaikan kecuali kebaikan (dari)-Mu, tidak ada keburukan (yang terjadi) kecuali keburukan (atas kehendak)-Mu, dan tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain-Mu!"." [Musnad Ahmad: Hasan]

Dari Fadhalah bin Ubaid Al-Anshariy radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ فَقَدْ قَارَفَ الشِّرْكَ [الجامع لابن وهب: حسنه الألباني]
"Barangsiapa yang tidak melaksanakan sesuatu karena "thiyarah" maka ia telah mendekati kemusyrikan". [Al-Jami' karya Ibnu Wahb: Hasan]

Dari Abdullah bin Mas'ud radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، ثَلَاثًا، وَمَا مِنَّا إِلَّا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ» [سنن أبي داود: صححه الألباني]
"At-Thiyarah adalah syirik, at-thiyarah adalah syirik (Rasulullah mengulanginya tiga kali), dan tidaklah seseorang dari kita kecuali merasakan hal itu, akan tetapi Allah menghilangkannya dengan bertawakkal". [Sunan Abi Daud: Sahih]

Mu'awiyah bin Al-Hakam As-Sulamiy radiyallahu 'anhu bertanya: Ya Rasulullah, dulu di masa Jahiliyah kami berprasangka buruk terhadap sesuatu (thiyarah)?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
«ذَاكَ شَيْءٌ يَجِدُهُ أَحَدُكُمْ فِي نَفْسِهِ، فَلَا يَصُدَّنَّكُمْ» [صحيح مسلم]
"Itu adalah sesuatu yang dirasakan oleh seseorang dari kaliam dalam dirinya, maka jangan hal itu menghalanginya (melakukan sesuatu). [Sahih Muslim]

Dari Anas bin Malik radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«لَا طِيَرَةَ، وَالطِّيَرَةُ عَلَى مَنْ تَطَيَّرَ، وَإِنْ تَكُ فِي شَيْءٍ، فَفِي الدَّارِ وَالْفَرَسِ وَالْمَرْأَةِ» [صحيح ابن حبان]
"Tidak ada "thiyarah", keburukan itu akan terjadi pada orang yang berprasangka buruk terhadap sesuatu, dan jika memang ada prasangka buruk terhadap sesuatu maka pada rumah, kuda (kendaraan), dan perempuan (istri)". [Sahih Ibnu Hibban]
Hadits ini menganjurkan kita untuk hati-hati dalam memilih rumah, kendaraan, dan istri, karena biasanya kehidupan yang buruk sering disebabkan oleh tiga hal tersebut. Akan tetapi tetap harus kita yakini bahwa semua itu tidak akan terjadi kecuali atas kehendak Allah Yang Maha Kuasa.

C.      "Haamah" adalah anggapan bahwa ruh atau tulang orang yang terbunuh akan menjadi burung hantu jika belum dibalaskan dendamnya.
Keyakinan ini dibatalkan oleh Islam, akan tetapi yang benar bahwa ruh orang yang mati syahid berada di dalam perut burung.

Dari Ka'b bin Malik radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ أَرْوَاحَ الشُّهَدَاءِ فِي طَيْرٍ خُضْرٍ تَعْلُقُ مِنْ ثَمَرِ الجَنَّةِ أَوْ شَجَرِ الجَنَّةِ» [سنن الترمذي: صحيح]
Sesungguhnya ruh para syuhada berada di dalam  perut burung hijau, makan dari buah surga atau tanaman surga. [Sunan Tirmidzi: Sahih]

Dalam riwayat lain: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّمَا نَسَمَةُ الْمُؤْمِنِ طَائِرٌ فِي شَجَرِ الْجَنَّةِ حَتَّى يَبْعَثَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى جَسَدِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ» [سنن النسائي: صحيح]
"Sesungguhnya ruh seorang mukmin (yang mati syahid) dalam perut burung (berada) di pohon surga sampai Allah mengembalikannya ke jasadnya pada hari kiamat". [Sunan An-Nasa'i: Sahih]

Dari Ibnu Abbas radiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَمَّا أُصِيبَ إِخْوَانُكُمْ بِأُحُدٍ جَعَلَ اللَّهُ أَرْوَاحَهُمْ فِي جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ، تَرِدُ أَنْهَارَ الْجَنَّةِ، تَأْكُلُ مِنْ ثِمَارِهَا، وَتَأْوِي إِلَى قَنَادِيلَ مِنْ ذَهَبٍ مُعَلَّقَةٍ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ [سنن أبي داود: حسن]
Ketika saudara kalian terbunuh di perang uhud, Allah menjadikan ruh mereka dalam perut burung hijau, ia minum di sungai-sungai surga, makan dari buah surga, dan kembali ke tanaman dari emas yang tergantung di naungan 'Arsy. [Sunan Abu Daud: Hasan]

Ibnu Mas'ud radiyallahu 'anhu berkata:
«أَرْوَاحُهُمْ فِي جَوْفِ طَيْرٍ خُضْرٍ، لَهَا قَنَادِيلُ مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ، تَسْرَحُ مِنَ الْجَنَّةِ حَيْثُ شَاءَتْ، ثُمَّ تَأْوِي إِلَى تِلْكَ الْقَنَادِيلِ» [صحيح مسلم]
"Ruh para syuhada berada di dalam perut burung hijau, memiliki tanaman yang tergantung di 'Arsy, terbang di surga ke manapun ia mau, kemudian kembali ke tanaman itu". [Sahih Muslim]

D.      "Shafar", ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud adalah penyakit pada perut, orang dahulu meyakininya sebagai ular besar yang ada di dalam perut dan bisa menular.
Pendapat lain mengatakan bahwa yang dimaksud adalah bulan shafar, kemudian mereka berselisih apa maksud dari hadits ini:

Ada mengatakan bahwa orang jahiliyah dahulu sering menukarkan bulan muharram dengan Shafar. Ketika mereka akan berperang dan ternyata saat itu adalah bulan muharram yang mereka agungkan untuk tidak berperang, mereka mengatakan "kita undurkan muharram tahun ini dan kita jadikan bulan ini adalah bulan shafar dan bulan depannya baru muharram". Kemudian Islam datang melarangnya tindakan seperti ini.
{إِنَّمَا النَّسِيءُ زِيَادَةٌ فِي الْكُفْرِ يُضَلُّ بِهِ الَّذِينَ كَفَرُوا يُحِلُّونَهُ عَامًا وَيُحَرِّمُونَهُ عَامًا لِيُوَاطِئُوا عِدَّةَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ فَيُحِلُّوا مَا حَرَّمَ اللَّهُ} [التوبة: 37]
Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu adalah menambah kekafiran. Disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat mempersesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya, maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. [At-Taubah:37]

Ibnu Abbas berkata:
كَانُوا يَجْعَلُونَ المُحَرَّمَ صَفَرًا [صحيح البخاري ومسلم]
Orang-orang jahiliyah dulu menggantikan bulan Muharram dengan bulan Shafar. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Yang lain berpendapat bahwa orang jahiliyah dulu menganggap bahwa bulan shafar membawa sial, mereka tidak mau bepergian atau melakukan sesuatu di bulan itu. Kemudian Islam datang membatalkan keyakinan itu.
Sebagaimana mereka juga berkeyakinan buruk pada hari Rabu dan bulan Syawal.

E.       "Nau'a" adalah anggapan bahwa hujan turun karena munculnya bintang tertentu.
Keyakinan ini dilarang karena menganggap ada zat lain yang menciptakan dan mengatur di alam ini selain Allah.

Zaid bin Khalid Al-Juhaniy radiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam salat subuh bersama kami di Al-Hudaibiyah setelah hujan semalam. Setelah selesai salat, Rasulullah menghadap kepada orang-orang (yang hadir berjama'a) dan berkata:
«هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟»
Apakah kalian tahu apa yang dikatakan Tuhan kalian?
Mereka menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui!
Rasulullah bersabda: Allah berfiman (dalam sebuah hadits qudsi):
أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِي مُؤْمِنٌ بِي وَكَافِرٌ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللهِ وَرَحْمَتِهِ، فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِي كَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ: مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا، فَذَلِكَ كَافِرٌ بِي مُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ " [صحيح البخاري ومسلم]
"Sebagian hamba-Ku bangun pagi dalam keadaan beriman kepada-Ku dan kafir. Adapun yang mengatakan: "Kita dihujani karena karunia Allah dan rahmat-Nya!", maka itulah yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang-bintang. Dan adapun yang mengatakan: "Kita dihujani karena bintang ini dan itu!", maka itulah yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang". [Sahih Bukhari dan Muslim]

F.       "Al-Guul" adalah makhluk yang menakutkan dari jenis setan.
Hadits ini tidak menafikan keberadaan makhluk ini, akan tetapi membatalkan keyakinan orang Jahiliyah bahwa makhluk ini bisa berubah-ubah wujud dan sering menampakkan diri pada manusia kemudian mengubah wujud mereka, menyesatkan mereka di perjalanan dan membinasakan mereka tanpa seizin Allah subhanahu wa ta'aalaa.

Wallahu ta'aalla a'lam!

Referensi:

Lihat juga: Jangan mendzalimi diri
                Sugesti nama
                Awas ada syirik!
                Keutamaan Tauhid

9 komentar:

  1. adalah perbuatan syirik termasuk dosa besar dan jenis dosa yang tidak diampuni jika tidak bertaubat, naudzubillah...
    namun apakah kita memperhatikan juga syirik kecil yang tidak terasa dalam kehidupan sehari-hari? kecil namun besar bahayanya.. dialah -riya

    #semoga Alloh SWT senantiasa membimbing diri untuk melepaskan segala jenis syirik dan membersihkan tauhid seberih-bersihnya, Allohumma aamiiin...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih lagi mba' atas masukannya, jadi malu sy tdk pernah tinggalkan jejak di blog mba'. Insyaallah sy usahakan .. :)

      Hapus
    2. tidak apa-apa akhie.. tidak usah risau, di sini saya bisa mendapatkan banyak ilmu dan hikmah. seorang pembelajar tidak ingin mendapatkan balasan kecuali apa yang ia cari *dialah ilmu.

      Hapus
    3. Hanya ingin mengamalkan hadits yg diriwayatkan oleh Aisyah radhiyallahu 'anha, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
      مَنْ أُتِيَ إِلَيْهِ مَعْرُوفٌ، فَلْيُكَافِئْ بِهِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ، فَلْيَذْكُرْهُ، فَمَنْ ذَكَرَهُ، فَقَدْ شَكَرَهُ
      Barangsiapa yg diberi satu kebaikan maka hendaklah ia membalasnya, dan barangsiapa yg tdk mampu maka hendaklah ia menyebutnya, dan barangsiapa yg menyebutnya maka ia telah mensyukurinya. [Musnad Ahmad: Hasan]

      Hapus
  2. Hello, I have been visiting your blog. ¡Congratulations for your work, good luck with your blog! I invite you to visit my blogs about literature, philosophy and films:
    http://vniversitas.over-blog.es

    BalasHapus
    Balasan
    1. Thank you for visiting and I also have been to your blog, you may also be lucky! :)

      #by google.

      Hapus
  3. Makasih Sob Sangat Berguna Sekali Infonya Sekali Lagi Makasih
    Visit Back ya http://myclass93.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih juga!
      Sy sudah visit blognya dan suka dgn atrikelnya ttg "keutamaan shalat isya dan subuh" :)

      Hapus

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...