Sabtu, 22 Desember 2012

Do'a azan dan iqamah

بسم الله الرحمن الرحيم

Mengucapkan apa yang diucapkan "muadzzin"

Dari Abu Sa'id Al-Khudriy radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
«إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ المُؤَذِّنُ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Jika kalian mendengar seruan salat maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan orang yang azan (muadzzin)". [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari Umar bin Khattab radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: Jika orang yang azan mengucapkan:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
Kemudian seorang diantara kalian juga mengucapkan:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
Kemudian orang yang azan mengucapkan:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
Ia juga mengucapkan:
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
Kemudian orang yang azan mengucapkan:
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ
Ia juga mengucapkan:
أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ
Kemudian orang yang azan mengucapkan:
حَيَّ عَلَى الصَّلَاةِ
Ia mengucapkan:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
Kemudian orang yang azan mengucapkan:
حَيَّ عَلَى الْفَلَاحِ
Ia mengucapkan:
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
Kemudian orang yang azan mengucapkan:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
Ia juga mengucapkan:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ
Kemudian orang yang azan mengucapkan:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
Ia juga mengucapkan:
لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ
Semua itu ia ucapkan dari dalam hatinya, maka ia akan masuk surga. [Sahih Muslim]

Dari Sa'ad bin Abi  Waqqash radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang membaca do'a ketika mendengar orang adzan (mengucapkan syahadat):
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، رَضِيتُ بِاللهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا، وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا
"Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwa sesungguhnya Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Aku rela Allah sebagai Tuhan, Muhammad sebagai rasul, dan Islam sebagai agama"
"Maka dosanya akan diampuni". [Sahih Muslim]

Dalam riwayat lain do'anya diawali dengan lafadz:
وَأَنَا أَشْهَدُ ...
Do'a ini dibaca setelah muadzzin mengucapkan syahadat, atau setelah azan berakhir.

Selawat untuk Rasulullah dan meminta wasilah setelah azan

Dari Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash radiyallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
«إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوا اللهَ لِيَ الْوَسِيلَةَ، فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ، لَا تَنْبَغِي إِلَّا لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ» [صحيح مسلم]
"Jika kalian mendengar muadzzin (menyeru untuk salat), maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya, kemudian berselawatlah untukku, karena sesungguhnya barangsiapa yang berselawat untukku maka Allah akan berselawat untuknya sepuluh kali, kemudian mintalah kepada Allah untukku "Al-Wasilah", yaitu tempat yang paling mulia di surga, tidak ada yang berhak menghuninya kecuali untuk seseorang dari hamba Allah, dan aku berharap akulah orangnya, maka barangsiapa yang meminta untukku "al-wasilah" maka ia berhak mendapatkan syafa'at. [Sahih Muslim]

Do'a setelah azan

Dari Jabir bin Abdillah radiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda: Barangsiapa yang membaca do'a setelah mendengar azan:
اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ، وَالصَّلاَةِ القَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الوَسِيلَةَ وَالفَضِيلَةَ، وَابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ
"Ya Allah, Tuhan yang memiliki panggilan yang sempurna ini dan shalat yang didirikan. Karuniakanlah kepada Muhammad "al-wasilah" (tempat yang paling mulia di surga) dan keutamaan. Dan bangkitkanlah ia pada tempat yang terpuji sebagaimana telah Engkau janjikan untuknya",
maka ia berhak mendapatkan syafa'atku di hari kiamat. [Sahih Bukhari]

Berdo'a di antara azan dan iqamah

Abdullah bin 'Amr radiyallahu 'anhuma berkata: Seorang laki-laki bertanya: Ya Rasulullah, sesungguhnya para tukang azan telah melebihi pahala kami. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
« قُلْ كَمَا يَقُولُونَ فَإِذَا انْتَهَيْتَ فَسَلْ تُعْطَهْ » [سنن أبى داود: حسنه الألباني]
"Ucapkan apa yang mereka kumandangkan, dan ketika kamu sudah selesai menjawab azan maka berdo'alah dan kau akan diberikan". [Sunan Abi Daud: Hasan]

Dari Anas bin Malik radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«الدُّعَاءُ لَا يُرَدُّ بَيْنَ الأَذَانِ وَالإِقَامَةِ» [سنن الترمذي: صححه الألباني]
"Do'a tidak ditolak antara azan dan iqamah". [Sunan Tirmidzi: Sahih]

Mengucapkan apa yang diucapkan "muazzin" ketika iqamah dan do'a setelahnya

Sebagian ulama berpendapat bahwa disunnahkan mengikuti ucapan iqamah dan berdo'a setelahnya seperti do'a yang dibaca setelah azan, karena iqamah adalah azan yang kedua.

Dalilnya:

1.       Dari Abdullah bin Mugaffal Al-Muzaniy radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu'alaihi wa sallam bersabda:
«بَيْنَ كُلِّ أَذَانَيْنِ صَلَاةٌ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Diantara setiap dua azan itu ada salat sunnah". [Sahih Bukhari dan Muslim]
Yang dimaksud dengan dua azan adalah azan dan iqamah.

2.       Keumuman hadits Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash: " إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ".
Ibnu Rajab Al-Hanbaliy (795H) rahimahullah mengatakan: Sabda Rasulullah " إذا سمعتم المؤذن " (jika kalian mendengarkan muazzin) yang dimaksud adalah azan dan iqamah, karena keduannya adalah panggilan untuk salat yang dikumandangkan oleh muadzin. [Fathul Bariy karya Ibnu Rajab 3/457]

Ibnu Hajar Al-Haetamiy (974H) rahimahullah mengatakan: Aku tidak mengetahui kalau ada orang yang mengatakan sunnah berselawat dan salam sebelum iqamah, dan yang disebutkan oleh ulama kita bahwa salawat dan salam sunnah setelah iqamah seperti azan kemudian membaca do'a " اللَّهُمَّ رَبَّ هذه الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ " . [Al-Fatawa Al-Fiqhiyah Al-Kubraa karya Ibnu Hajar Al-Haetamiy 1/129]

Syekh Albaniy (1420H) rahimahullah mengatakan: Bagi orang yang mendengar iqamah disunnahkan melakukan seperti ketika mendengar azan, mengikuti ucapannya, berselawat, dan meminta wasilah. Karena sabda Rasulullah: إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ، فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ "Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkannya", sifatnya umum untuk azan dan iqamah. Dan karena iqamah adalah termasuk azan secara bahasa dan syariat. [Ats-Tsamarah Al-Mustathaab karya syekh Albaniy 1/214]

Al-Lajnah Ad-Daimah mengatakan: Yang sunnah bagi orang yang mendengar iqamah adalah mengucapkan apa yang diucapkannya, karena iqamah adalah azan kedua dijawab seperti azan dijawab. Kemudian selawat kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian berdo'a seperti do'a setelah azan. Dan kami tidak mengetahui suatu dalil sahih yang menganjurkan zikir atau do'a antara selesai iqamah dan sebelum takbiratul ihram kecuali apa yang telah disebutkan. [Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah 6/89 no.2801]

Syekh Abdul Aziz Ar-Rajihiy ditanya: Apakah do'a yang dibaca setelah azan juga dibaca setelah iqamah?
Beliau menjawab: Iya, karena iqamah juga azan yang sempurnya, dan iqamah adalah tanda akan didirikannya salat sedangkan azan adalah tanda masuknya waktu salat. Oleh sebab itu Nabi bersabda: "Di antara kedua azan ada salat sunnah", dan iqamah juga dinamai azan. [Fatawa Munawwa'ah oleh syekh Ar-Rajihiy]

Akan tetapi ulama lain mengatakan tidak disunnahkan mengikuti ucapan iqamah dan tidak pula berdo'a setelahnya karena tidak ada dalil yang menganjurkannya.

Adapun penyebutan iqamah sebagai azan hanyalah sebatas lafadz tapi hukumnya berbeda seperti kata al-qamaraani (dua bulan) dan yang dimaksud adalah matahari dengan bulan, al-aswadaani (dua yang hitam) yaitu kurma dan air atau kalajengking dan ular.

Syekh Ibnu Utsaimin (1421H) rahimahullah mengatakan: Pendapat yang kuat adalah tidak mengatakan sesuatu, tidak mengikuti ucapan iqamah, dan tidak pula berdo'a dengan do'a azan. [Liqaa' Al-Baab Al-Maftuuh]

Pendapat ini juga dikuatkan oleh syekh Bakr Abu Zaid rahimahullah dalam kitabnya "tashhih Ad-Du'aa" hal.394.

Lihat juga: Waktu berselawat 
                Waktu mustajab
                Keutamaan salat jama'ah
                Kewajiban salat jama'ah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...