Sabtu, 02 November 2013

Keutamaan ber-wudhu

بسم الله الرحمن الرحيم


Beberapa keutamaan yang diperoleh oleh seorang yang ber-wudhu:

Dibersihkan oleh Allah

Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ} [المائدة: 6]
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit (tidak boleh kena air) atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh (menyetubuhi) perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); Sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur. [Al-Maidah:6]

Syarat diterimanya salat

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَا تُقْبَلُ صَلَاةٌ بِغَيْرِ طُهُورٍ [صحيح مسلم]
"Salat tidak diterima tanpa bersuci". [Sahih Muslim]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«لاَ يَقْبَلُ اللَّهُ صَلاَةَ أَحَدِكُمْ إِذَا أَحْدَثَ حَتَّى يَتَوَضَّأَ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Allah tidak menerima salat seseorang dari kalian jika berhadats (tidak suci) sampai ia berwudhu". [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari Sa’id bin Zayd radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَا وُضُوءَ لَهُ» [سنن ابن ماجه: حسنه الشيخ الألباني]
“Tidak sah salatnya bagi orang yang tidak punya wudhu”. [Sunan Ibnu Majah: Hasan]

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«مِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الطُّهُورُ» [سنن أبي داود: حسن]
“Kuncinya salat adalah bersuci (wudhu)”. [Sunan Abu Dawud: Hasan]

Tanda keimanan seseorang

Dari Tsauban dan Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhum; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
لَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ [سنن ابن ماجه: صححه الألباني]
"Tidak ada yang menjaga agar senantiasa dalam keadaan wudhu kecuali seorang yang beriman". [Sunan Ibnu Majah: Sahih]

Separuh dari keimanan

Dari Abu Malik Al-Asy’ariy radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
الوُضُوءُ شَطْرُ الإِيمَانِ [سنن الترمذي: صحيح]
“Berwudhu adalah separuh dari keimanan”. [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Ciri khas orang beriman di hari kiamat

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ حَوْضِي أَبْعَدُ مِنْ أَيْلَةَ مِنْ عَدَنٍ لَهُوَ أَشَدُّ بَيَاضًا مِنَ الثَّلْجِ، وَأَحْلَى مِنَ الْعَسَلِ بِاللَّبَنِ، وَلَآنِيَتُهُ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ النُّجُومِ وَإِنِّي لَأَصُدُّ النَّاسَ عَنْهُ، كَمَا يَصُدُّ الرَّجُلُ إِبِلَ النَّاسِ عَنْ حَوْضِهِ»
“Sesungguhnya telagaku di hari kiamat lebih luas dari jarak antara Ailah (di utara negri Arab) dan ‘Adan (di selatan negri Arab), airnya lebih putih dari salju dan lebih manis dari madu dengan susu, dan bejananya lebih banyak dari jumlah bintang. Dan sesungguhnya aku akan menghalagi orang-orang (selain umat Islam) darinya sebagaimana seseorang menghalangi onta orang lain dari telaganya”.
Sahabat bertanya: Ya Rasulullah, apakah engkau mengenal kami pada hari itu?
Rasulullah menjawab:
«نَعَمْ لَكُمْ سِيمَا لَيْسَتْ لِأَحَدٍ مِنَ الْأُمَمِ تَرِدُونَ عَلَيَّ غُرًّا، مُحَجَّلِينَ مِنْ أَثَرِ الْوُضُوءِ» [صحيح مسلم]
“Iya, kalian punya tanda yang tidak dimiliki seorang pun dari umat lain. Kalian datang kepadaku dengan wajah dan kedua tangan dan kaki yang bercahaya karena bekas wudhu”. [Sahih Muslim]

Dari Abdullah bin Mas’ud radiyallahu 'anhu; Rasulullah ditanya: Ya Rasulullah, bagaimana engkau mengetahui orang yang tidak pernah engkau lihat dari umatmu?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
«غُرٌّ مُحَجَّلُونَ بُلْقٌ مِنْ آثَارِ الْوُضُوءِ» [سنن ابن ماجه: حسن]
“Cahaya di wajah dan kedua tangan dan kaki dari bekas wudhu”. [Sunan Ibnu Majah: Hasan]

Membersihkan dosa-dosa

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ - أَوِ الْمُؤْمِنُ - فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ - أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ -، فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ -، فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ - أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ - حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنَ الذُّنُوبِ» [صحيح مسلم]
“Jika seorang hamba muslim – atau mu’min – berwudhu kemudian ia mencuci mukanya maka keluar dari mukanya semua dosa yang ia lihat dengan matanya bersama air – atau bersama akhir tetesan air -, kemudian jika ia mencuci kedua tangannya maka keluar dari kedua tangannya semua dosa yang dilakukan oleh kedua tangannya bersama air – atau bersama akhir tetesan air -, kemudian jika ia mencuci kedua kakinya maka keluar semua dosa yang dijelajahi oleh kedua kakinya bersama air – atau bersama akhir tetesan air – sampai keluar semua dan bersih dari dosa-dosa”. [Sahih Muslim]

‘Amru bin ‘Abasah As-Sulamiy radiyallahu 'anhu bertanya: Wahai Nabi Allah, ceritakanlah kepadaku tentang wudhu?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«مَا مِنْكُمْ رَجُلٌ يُقَرِّبُ وَضُوءَهُ فَيَتَمَضْمَضُ، وَيَسْتَنْشِقُ فَيَنْتَثِرُ إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ، وَفِيهِ وَخَيَاشِيمِهِ، ثُمَّ إِذَا غَسَلَ وَجْهَهُ كَمَا أَمَرَهُ اللهُ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا وَجْهِهِ مِنْ أَطْرَافِ لِحْيَتِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا يَدَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَمْسَحُ رَأْسَهُ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رَأْسِهِ مِنْ أَطْرَافِ شَعْرِهِ مَعَ الْمَاءِ، ثُمَّ يَغْسِلُ قَدَمَيْهِ إِلَى الْكَعْبَيْنِ، إِلَّا خَرَّتْ خَطَايَا رِجْلَيْهِ مِنْ أَنَامِلِهِ مَعَ الْمَاءِ، فَإِنْ هُوَ قَامَ فَصَلَّى، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَمَجَّدَهُ بِالَّذِي هُوَ لَهُ أَهْلٌ، وَفَرَّغَ قَلْبَهُ لِلَّهِ، إِلَّا انْصَرَفَ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ» [صحيح مسلم]
“Tidaklah seseorang dari kalian mendekati air wudhu-nya kemudian berkumur-kumur dan mengisap air dari hidung kemudian mengeluarkannya kecuali keluar dosa-dosa wajahnya dan dalam pangkal hidungnya. Kemudian jika ia mencuci wajahnya sebagaimana diperintahkan oleh Allah kecuali keluar dosa-dosa wajahnya dari ujung jenggotnya bersama air. Kemudian ia mencuci kedua tangannya sampai kedua siku kecuali keluar dosa kedua tangannya dari jari-jarinya bersama air. Kemudian ia membasuh kepalanya kecuali keluar dosa-dosa kepalanya dari ujung rambutnya bersama air. Kemudian ia mencuci kedua kakinya sampai mata kaki kecuali keluar dosa-dosa kedua kakinya dari jari-jarinya bersama air. Kemudian jika ia berdiri dan salat kemudian mensyukuri Allah, memuji dan mengagungkannya dengan apa yang berhak untuk-Nya, dan ia mengosongkan hatinya untuk Allah kecuali bebas dari dosa-dosanya seperti keadaannya waktu ia dilahirkan oleh ibunya”. [Sahih Muslim]

Dari Abu Umamah Al-Baahiliy radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَسْمَعُ أَذَانَ صَلَاةٍ فَقَامَ إِلَى وَضُوئِهِ إِلَّا غُفِرَ لَهُ بِأَوَّلِ قَطْرَةٍ تُصِيبُ كَفَّهُ مِنْ ذَلِكَ الْمَاءِ، فَبِعَدَدِ ذَلِكَ الْقَطْرِ حَتَّى يَفْرُغَ مِنْ وُضُوئِهِ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا سَلَفَ مِنْ ذُنُوبِهِ، وَقَامَ إِلَى صَلَاتِهِ وَهِيَ نَافِلَةٌ» [مسند أحمد: صحيح  لغيره]
“Tidaklah dari seorang hamba muslim mendengar azan salat kemudian ia berdiri menuju air wudhu-nya kecuali diampuni untuknya dengan awal tetesan yang mengenai telapak tangannya dari air itu dan dengan jumlah tetesan itu sampai ia selesai dari wudhu-nya, kecuali diampuni untuknya semua yang telah lalu dari dosa-dosanya. Kemudian ia berdiri menuju salatnya yang hukumnya sunnah”. [Musnad Ahmad: Sahih]

Dari Ka’b bin Murrah Al-Bahziy radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
" إِذَا غَسَلْتَ وَجْهَكَ خَرَجَتْ خَطَايَاكَ مِنْ وَجْهِكَ، وَإِذَا غَسَلْتَ يَدَيْكَ خَرَجَتْ خَطَايَاكَ مِنْ يَدَيْكَ، وَإِذَا غَسَلْتَ رِجْلَيْكَ خَرَجَتْ خَطَايَاكَ مِنْ رِجْلَيْكَ " [مسند أحمد: صحيح لغيره]
“Jika engkau mencuci wajahmu maka keluar dosa-dosamu dari wajahmu, dan jika engkau mencuci kedua tanganmu maka keluar dosa-dosamu dari kedua tanganmu, dan jika engkau mencuci kedua kakimu maka keluar dosa-dosamu dari kedua kakimu”. [Musnad Ahmad: Sahih]

Dari Anas bin Malik radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
فَأَمَّا الْكَفَّارَاتُ: فَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ وَانْتِظَارُ الصَّلَوَاتِ بَعْدَ الصَّلَوَاتِ وَنَقْلُ الأَقْدَامِ إِلَى الْجُمُعَاتِ [مسند البزار: حسنه الشيخ الألباني]
“Adapun kaffaaraat (penghapus dosa): Maka itu adalah menyempurnakan wudhu di musim yang sangat dingin, menunggu salat setelah salat, dan melangkahkan kaki menuju salat Jum’at”. [Musnad Al-Bazzaar: Hasan]

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
وَأَمَّا الْكَفَّارَاتُ: فَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، وَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ، وَنَقْلُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ. [المعجم الأوسط: حسنه الشيخ الألباني]
“Adapun al-kaffaaraat (penghapus dosa): Maka itu adalah menunggu salat setelah salat, menyempurnakan wudhu di musim yang sangat dingin, dan melangkahkan kaki menuju salat jama’ah”. [Al-Mu’jam Al-Ausath: Hasan]

Dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي الْمَكَارِهِ وَإِعْمَالُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ يَغْسِلُ الْخَطَايَا غَسْلًا» [مسند أبي يعلى الموصلي: صححه الشيخ الألباني]
“Menyempurnakan wudhu di waktu sulit, melangkahkan kaki menuju mesjid, dan menanti salat setelah salat akan mencuci dosa-dosa”. [Musnad Abu Ya’laa Al-Maushiliy: Sahih]

Dari Abu Ayyub radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ تَوَضَّأَ كَمَا أُمِرَ، وَصَلَّى كَمَا أُمِرَ غُفِرَ لَهُ مَا قَدَّمَ مِنْ عَمَلٍ» [سنن النسائي: صحيح]
“Barangsiapa yang berwudhu sebagaimana diperintahkan, dan salat sebagaimana diperintahkan maka diampuni untuknya semua yang telah ia lakukan dari dosa-dosa”. [Sunan An-Nasa’iy: Sahih]

Humran rahimahullah berkata: Aku melihat Usman radhiyallahu 'anhu berwudhu, maka ia menyiram kedua tangannya tiga kali, kemudian berkumur-kumur dan mengisap air dengan hidung, kemudian mencuci wajahnya tiga kali, kemudian mencuci tangan kanannya sampai siku tiga kali, kemudian mecuci tangan kirinya sampai siku tiga kali, kemudian membasuh kepalanya, kemudian mencuci kaki kanannya tiga kali, kemudian mencuci kaki kirinya tiga kali, kemudian berkta: Aku melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berwudhu seperti cara berwudhuku ini, kemudian bersabda:
«مَنْ تَوَضَّأَ وُضُوئِي هَذَا، ثُمَّ يُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ لاَ يُحَدِّثُ نَفْسَهُ فِيهِمَا بِشَيْءٍ، إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Barangsiapa yang berwudhu seperti cara wudhu’ku ini kemudian ia salat dua raka’at ia tidak berbicara dengan dirinya (dalam hati) sesuatupun dalam salat, (maka tidak ada balasan untuknya) kecuali diampuni untuknya semua yang telah lalu dari dosa-dosanya” [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari Zayd bin Khalid Al-Juhaniy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ وُضُوءَهُ، ثُمَّ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ لَا يَسْهُو فِيهِمَا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» [سنن أبي داود: حسن]
“Barangsiapa yang berwudhu kemudian ia menyempurnakan wudhunya kemudian ia salat dua raka’at dan tidak lalai di dalamnya, maka diampuni untuknya semua yang telah lalu dari dosa-dosanya”. [Sunan Abu Dawud: Hasan]

Hidup dan mati dengan kebaikan

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Allah berfirman dalam sebuah hadits qudsi:
يَا مُحَمَّدُ، هَلْ تَدْرِي فِيمَ يَخْتَصِمُ المَلَأُ الأَعْلَى؟ قُلْتُ: نَعَمْ، فِي الكَفَّارَاتِ، وَالكَفَّارَاتُ المُكْثُ فِي المَسَاجِدِ بَعْدَ الصَّلَاةِ، وَالْمَشْيُ عَلَى الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ، وَإِسْبَاغُ الوُضُوءِ فِي المَكَارِهِ، وَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ عَاشَ بِخَيْرٍ وَمَاتَ بِخَيْرٍ، وَكَانَ مِنْ خَطِيئَتِهِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ [سنن الترمذي: صححه الألباني]
“Ya Muhammad, apakah kamu tahu apa yang diperselisihkan oleh para Malaikat? Aku mejawab: Iya, mereka berselisih tentang "Al-Kafaaraat", dan Al-Kafaaraat adalah tinggal di mesjid setelah salat, berjalan kaki menuju salat jama'ah, menyempurnakan wudhu dalam kondisi sulit, dan barangsiapa yang melakukan itu maka ia akan hidup dengan kebaikan dan mati dengan kebaikan, dan dosa-dosanya dihapuskan seperti saat ia dilahirkan ibunya. [Sunan Tirmidzi: Sahih]

Meninggikan derajat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
« أَلاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيَرْفَعُ بِهِ الدَّرَجَاتِ »
“Maukah kalian kutunjukkan amalan yang bisa menghapuskan dosa-dosa dan mengangkat derajat?”
Sahabat menjawab: Tentu, ya Rasulullah! Rasulullah bersabda:
« إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكَارِهِ وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ فَذَلِكُمُ الرِّبَاطُ ». [صحيح مسلم]
“Menyempurnakan wudhu di waktu sulit, banyak melangkah ke mesjid, dan menunggu salat setelah salat, maka itulah sebenar-benarnya ikatan”. [Sahih Muslim]

Berhak masuk surga

Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu 'anhu berkata: Dulunya kami membagi tugas mengembala unta, ketika tiba giliranku aku mengembalikannya di malam hari. Kemudian aku mendapati Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berdiri menyampaikan hadits kepada orang-orang dan aku mendapatinya bersabda:
«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَتَوَضَّأُ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهُ، ثُمَّ يَقُومُ فَيُصَلِّي رَكْعَتَيْنِ، مُقْبِلٌ عَلَيْهِمَا بِقَلْبِهِ وَوَجْهِهِ، إِلَّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ»
“Tidaklah seorang muslim berwudhu dan memperbaiki cara wudhunya, kemudian berdiri dan mendirikan salat, menjalankanya dengan hati dan wajahnya, kecuali wajib  baginya masuk surga”
Maka aku berkata: Sungguh bagus hadits ini!
Tiba-tiba seseorang berkata di hadapanku: Yang diucapkan Rasulullah sebelumnya lebih bagus!
Maka aku melihatnya dan ternyata ia adalah Umar dan berkata: Sesungguhnya aku telah melihatmu datang tadi. Rasulullah bersabda:
" مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ يَتَوَضَّأُ فَيُبْلِغُ - أَوْ فَيُسْبِغُ - الْوَضُوءَ ثُمَّ يَقُولُ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ ، إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ الثَّمَانِيَةُ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ " [صحيح مسلم]
“Tidaklah seorang dari kalian berwudhu kemudian menyempurnakan wudhunya kemudian membaca: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berkak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad adalah hamba Allah dan rasul-Nya”, kecuali dibukakan untuknya pintu surga yang delapan dan ia memasukinya dari pintu manapun yang ia inginkan”. [Sahih Muslim]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada Bilal di waktu fajar:
« يَا بِلاَلُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الإِسْلاَمِ، فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الجَنَّةِ»
“Wahai Bilal, ceritakan kepadaku tentang amalan yang paling engkau harapkan pahalanya yang engkau amalkan dalam Islam, karena sesungguhnya aku mendengar suara langkah sendalmu di hadapanku dalam surga!”
Bilal radhiyallahu 'anhu menjawab: Aku tidak mengamalkan sesuatu yang paling aku harapkan pahalanya; hanyasaja aku tidak bersuci (berwudhu) pada suatu waktu baik malam atau siang kecuali aku salat dengan wudhu tersebut sebanyak yang ditakdirkan untukku aku didirikan. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Mendapat do’a para malaikat

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ بَاتَ طَاهِرًا بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ فَلَمْ يَسْتَيْقِظْ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٍ، فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا» [صحيح ابن حبان]
"Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdo'a: "Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena sesungguhnya ia tidur dalam keadaan suci!" [Sahih Ibnu Hibban]

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
" مَنْ بَاتَ طَاهِرًا، بَاتَ فِي شِعَارِهِ مَلَكٌ لَا يَسْتَيْقِظُ سَاعَةً مِنَ اللَّيْلِ إِلَّا قَالَ الْمَلَكُ: اللهُمَّ اغْفِرْ لِعَبْدِكَ فُلَانٌ فَإِنَّهُ بَاتَ طَاهِرًا " [شعب الإيمان للبيهقي: حسنه الشيخ الألباني]
"Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak terbangun di waktu malam kecuali malaikat berdo'a: "Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena sesungguhnya ia tidur dalam keadaan suci!" [Syu’ab Al-Iman karya Al-Baehaqiy: Hasan]

Do’anya dikabulkan

Dari Mu’adz bin Jabal radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَبِيتُ عَلَى ذِكْرٍ طَاهِرًا، فَيَتَعَارُّ مِنَ اللَّيْلِ فَيَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا مِنَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ إِلَّا أَعْطَاهُ إِيَّاهُ» [سنن أبي داود: صحيح]
“Tidaklah seorang muslim yang tidur dalam keadaan berzikir dan suci, kemudian ia terbangun di malam hari lalu meminta kepada Allah kebaikan dunia dan akhirat kecuali Allah mengabulkan permintaannya”. [Sunan Abu Daud: Sahih]

Cahaya di hari kiamat

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنَ الْمُؤْمِنِ، حَيْثُ يَبْلُغُ الْوَضُوءُ» [صحيح مسلم]
“Cahanya bersinar dari seorang mu’min dari anggota badannya yang terkena wudhu”. [Sahih Muslim]

Melepaskan ikatan syaithan

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلاَثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ، فَارْقُدْ فَإِنِ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ، انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلاَنَ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Syaithan mengikat bagian belakang kepala (leher) seorang dari kalian ketika ia tidur dengan tiga ikatan, setiap ikatan mengatakan “engkau memiliki malam yang panjang, maka tidurlah”. Maka jika ia bangun kemudian mengingat Allah maka satu ikatan terbuka, kemudian jika ia berwudhu maka terbuka satu ikatan, kemudian jika ia salat terbuka satu ikatan. Maka ia bangun pagi dengan semangat dan jiwa yang baik, dan jika tidak maka ia akan bangun pagi dengan jiwa yang buruk lagi pemalas”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
" رَجُلَانِ مِنْ أُمَّتِي يَقُومُ أَحَدُهُمَا مِنَ اللَّيْلَ يُعَالِجُ نَفْسَهُ إِلَى الطَّهُورِ وَعَلَيْهِ عُقَدٌ فَيَتَوَضَّأُ، فَإِذَا وَضَّأَ يَدَيْهِ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، وَإِذَا وَضَّأَ وَجْهَهُ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، وَإِذَا مَسَحَ بِرَأْسِهِ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، وَإِذَا وَضَّأَ رِجْلَيْهِ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ، فَيَقُولُ اللَّهُ لِلَّذِينَ وَرَاءَ الْحِجَابِ: انْظُرُوا إِلَى عَبْدِي هَذَا يُعَالِجُ نَفْسَهُ يَسْأَلُنِي، مَا سَأَلَنِي عَبْدِي فَهُوَ لَهُ " [مسند أحمد: صحيح]
“Dua orang dari umatku, salah seorang dari keduanya bangun di malam hari memaksa dirinya untuk bersuci dan ia memiliki ikatan kemudian ia berwudhu. Maka jika ia mencuci kedua tangannya terbuka satu ikatan, dan jika ia mencuci wajahnya terbuka satu ikatan, dan jika ia membasuh kepalanya terbuka satu ikatan, dan jika ia mencuci kedua kakinya terbuka satu ikatan. Maka Allah berfirman kepada yang berada di balik hijab: “Lihatlah hamba-Ku ini, ia memaksa dirinya dan meminta kepada-Ku! Apa yang diminta hamba-Ku kepada-Ku maka ia mendapatkannya”. [Musnad Ahmad: Sahih]

Mengusir syaithan

Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:
{وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ وَيُذْهِبَ عَنْكُمْ رِجْزَ الشَّيْطَانِ وَلِيَرْبِطَ عَلَى قُلُوبِكُمْ وَيُثَبِّتَ بِهِ الْأَقْدَامَ} [الأنفال: 11]
Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan memperteguh dengannya telapak kaki(mu). [Al-Anfaal:11]
Memperteguh telapak kaki disini dapat juga diartikan dengan keteguhan hati dan keteguhan pendirian.

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«إِذَا اسْتَيْقَظَ أَحَدُكُمْ مِنْ مَنَامِهِ فَتَوَضَّأَ فَلْيَسْتَنْثِرْ ثَلاَثًا، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَبِيتُ عَلَى خَيْشُومِهِ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Jika seorang dari kalian bagun dari tidurnya kemudian berwudhu maka hendaklah ia mengisap air dari hidungnya sebanyak tiga kali, karena sesungguhnya syaithan bermalam dalam pangkal hidungnya”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Mati dalam keadaan fitrah

Al-Bara' bin 'Azib radiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata kepadaku: Jika engkau mendatangi tempat tidurmu maka ber-wudhu-lah seperti wudhu-mu untuk salat kemudian berbaringlah dengan samping kananmu dan baca ..
اللَّهُمَّ أَسْلَمْتُ نَفْسِيْ إِلَيْكَ وَوَجَّهْتُ وَجْهِيْ إِلَيْك وَفَوَّضْتُ أَمْرِيْ إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِيْ إِلَيْكَ رَهْبَةً وَرَغْبَةً إِلَيْكَ لَا مَلْجَأَ وَلَا مَنْجَا مِنْكَ إِلَّا إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِيْ أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِيْ أَرْسَلْتَ
"Ya Allah .. aku pasrahkan jiwaku kepada-Mu, dan aku arahkan wajahku (tujuan) kepada-Mu, dan aku gantungkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan pundakku (harapan) kepada-Mu, dengan penuh harap dan takut kepada-Mu, tidak ada tempat bersandar dan selamat dari-Mu kecuali kepada-Mu, aku beriman kepada Kitab-Mu yang Engkau turunkan, dan aku beriman kepada Nabi-Mu yang Engkau utus"
Rasulullah bersabda: Jika engkau mati malam itu maka engkau mati dalam keadaan fitrah, dan jika engkau bangun pagi maka engkau bangun dengan pahalah. Jadikan do'a ini akhir yang kau ucapakan. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Wallahu a’lam!

Referensi:

Lihat juga: Kebersihan bagian dari imanKeutamaan salat jama'ah - Mandi Jum'at; Wajib atau sunnah?


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...