Jumat, 25 Juli 2014

Adab bepergian jauh (musafir)

بسم الله الرحمن الرحيم


Beberapa adab ketika bepergian jauh, diantaranya:

Melakukan shalat istikharah sebelum berangkat

Jabir bin Abidillah radhiyallahu 'anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kami istikharah dalam segala urusan, sebagaimana beliau mengajarkan kami satu surah dalam Al-Qur’an, dan beliau bersabda: Jika seorang dari kalian memikirkan suatu urusan (ingin melakukan sesuatu) maka hendaklah ia shalat dua raka’at di luar shalat wajib, kemudian membaca:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ العَظِيمِ، فَإِنَّكَ تَقْدِرُ وَلاَ أَقْدِرُ، وَتَعْلَمُ وَلاَ أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الغُيُوبِ، اللَّهُمَّ إِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ خَيْرٌ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ: عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاقْدُرْهُ لِي وَيَسِّرْهُ لِي، ثُمَّ بَارِكْ لِي فِيهِ، وَإِنْ كُنْتَ تَعْلَمُ أَنَّ هَذَا الأَمْرَ شَرٌّ لِي فِي دِينِي وَمَعَاشِي وَعَاقِبَةِ أَمْرِي - أَوْ قَالَ: فِي عَاجِلِ أَمْرِي وَآجِلِهِ - فَاصْرِفْهُ عَنِّي وَاصْرِفْنِي عَنْهُ، وَاقْدُرْ لِي الخَيْرَ حَيْثُ كَانَ، ثُمَّ أَرْضِنِي
Ya Allah aku memohon pilihan kepada-Mu dengan ilmuMu dan memohon kemampuan dengan kekuasaan-Mu dan memohon kepadaMu dengan karuniaMu yang Agung, karena Engkau Maha berkuasa sedang aku tidak berkuasa, Engkau Maha Mengetahui sedang aku tidak mengetahui karena Engkaulah yang Maha Mengetahui perkara yang ghoib. Ya Allah bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini baik untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini - atau Beliau bersabda; Di waktu dekat atau di masa nanti - maka takdirkanlah buatku dan mudahkanlah kemudian berikanlah berkah padanya. Namun sebaliknya, ya Allah bila Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untukku, bagi agamaku, kehidupanku dan kesudahan urusanku ini - atau Beliau bersabda: Di waktu dekat atau di masa nanti - maka jauhkanlah urusan ini dariku dan jauhkanlah aku darinya dan tetapkanlah buatku urusan yang baik saja dimanapun adanya kemudian paskanlah hatiku dengan ketepanMu itu".
Beliau bersabda: "Dia sebutkan urusan yang sedang diminta pilihannya itu". [Sahih Bukhari]

Berwasiat kepada keluarga yang ditinggal

Seseorang tidak tahu kapan ajalnya tiba, dan di mana ia akan tiba. Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ} [لقمان: 34]
Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. [Luqman:34]

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَا حَقُّ امْرِئٍ مُسْلِمٍ لَهُ شَيْءٌ يُوصِي فِيهِ، يَبِيتُ لَيْلَتَيْنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكْتُوبَةٌ عِنْدَهُ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Tidak berhak seorang muslim yang memiliki sesuatu yang bisa diwasiatkan padanya, kemudian ia tidur dua malam kecuali wasiatnya telah tertulis di sisinya”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Minta maaf pada orang yang pernah ia dzalimi

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada para sahabatnya: "Tahukah kalian apa itu bangkrut?"
Sahabat menjawab: Orang yang bangkrut dikalangan kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan harta benda!
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا، وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ» [صحيح مسلم]
"Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang di hari kiamat dengan pahala salat, puasa, dan zakat. Akan tetapi ia telah mencaci si Ini, menuduh si Ini, memakan harta si Ini (dengan tidak halal), meneteskan darah si Ini, dan memukul si Ini. Maka pahala kebaikannya diberikan kepada si Ini dan si Ini, kemudian jika pahala kebaikannya sudah habis sebelum menutupi semua kezalimannya maka dosa-dosa mereka diberikan kepadanya, kemudian ia dijerumuskan ke neraka". [Sahih Muslim]

Pamitan kepada keluarga dan orang-orang shaleh yang ditinggalkan dan meminta do’a dari mereka

Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika melepaskan seseorang yang akan bepergian jauh, beliau memegang tangannya, maka beliau tidak melepaskannya sampai orang itu yang lebih dahulu melepaskan tangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan beliau membaca:
«اسْتَوْدِعِ اللَّهَ دِينَكَ وَأَمَانَتَكَ وَآخِرَ عَمَلِكَ»
"Aku menitipkan kepada Allah (penjagaan) agamamu, amanahmu (keluarga, harta, titipan dll), dan amalan terakhirmu ." [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Tidak bepergian sendiri

Dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«لَوْ يَعْلَمُ النَّاسُ مَا فِي الوَحْدَةِ مَا أَعْلَمُ، مَا سَارَ رَاكِبٌ بِلَيْلٍ وَحْدَهُ» [صحيح البخاري]
"Seandainya orang tahu bahaya (yang akan dihadapi oleh orang yang) menyendiri seperti apa yang aku ketahui, maka tidak ada lagi orang yang mau bepergian dengan kendaraan di malam hari sendirian." [Sahih Bukhari]


Membawa istri jika memungkinkan

Aisyah radhiyallahu 'anha berkata:
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَرَادَ سَفَرًا أَقْرَعَ بَيْنَ نِسَائِهِ، فَأَيَّتُهُنَّ خَرَجَ سَهْمُهَا خَرَجَ بِهَا مَعَهُ [صحيح البخاري]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika hendak bepergian jauh, beliau mengundi istri-istrinya, maka siapa dari mereka yang keluar undiannya maka ia akan pergi bersama beliau. [Sahih Bukhari]

Memilih teman seperjalanan yang baik

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«لَا تُصَاحِبْ إِلَّا مُؤْمِنًا، وَلَا يَأْكُلْ طَعَامَكَ إِلَّا تَقِيٌّ» [سنن أبي داود: حسنه الألباني]
“Janganlah engaku berteman kecuali dengan sorang yang beriman, dan janganlah ada yang memakan makananmu kecuali orang yang bertakwa”. [Sunan Abi Daud: Hasan]

Menunjuk seorang pemimpin dalam perjalanan jika bepergian lebih dari dua orang

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِذَا كَانُوا ثَلَاثَةً فَلْيَؤُمَّهُمْ أَحَدُهُمْ، وَأَحَقُّهُمْ بِالْإِمَامَةِ أَقْرَؤُهُمْ» [صحيح مسلم]
“Jika mereka (bepergian jauh) tiga orang maka tunjuklah seeorang pemimpin dari mereka, dan yang paling berhak menjadi imam adalah yang paling baik bacaan Al-Qur’annya”. [Sahih Muslim]

Tidak membawa anjing dan lonceng dalam bepergian jauh

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«لَا تَصْحَبُ الْمَلَائِكَةُ رُفْقَةً فِيهَا كَلْبٌ وَلَا جَرَسٌ» [صحيح مسلم]
“Malaikat (pembawa rahmat) tidak akan bersama dengan satu kelompok yang bepergian yang membawa anjing dan lonceng”. [Sahih Muslim]

Dalam riwayat lain:
«الْجَرَسُ مَزَامِيرُ الشَّيْطَانِ» [صحيح مسلم]
“Lonceng adalah suara setan”. [Sahih Muslim]

Wanita tidak bepergian tanpa muhrim

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«لاَ يَحِلُّ لِامْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ أَنْ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لَيْسَ مَعَهَا حُرْمَةٌ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Tidak halal bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, bepergian sejauh pejalanan sehari semalam, kecuali bersama seorang muhrim (yang haram ia nikahi untuk selama-lamanya)”. [Sahih Bukhari dan Muslim]


Dianjurkan bepergian pada hari kamis

Ka’b bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata:
«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ يَوْمَ الخَمِيسِ فِي غَزْوَةِ تَبُوكَ وَكَانَ يُحِبُّ أَنْ يَخْرُجَ يَوْمَ الخَمِيسِ» [صحيح البخاري]
Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar pada hari Kamis pada perang Tabuk, dan beliau suka keluar (bepergian jauh) pada hari Kamis. [Sahih Bukhari]

Dalam riwayat lain:
«لَقَلَّمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ، إِذَا خَرَجَ فِي سَفَرٍ إِلَّا يَوْمَ الخَمِيسِ» [صحيح البخاري]
“Jarang sekali Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar jika beliau keluar dalam perjalanan jauh kecuali pada hari Kamis”. [Sahih Bukhari]

Bepergian di pagi hari

Dari Shakhr Al-Gamidiy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a:
«اللَّهُمَّ بَارِكْ لِأُمَّتِي فِي بُكُورِهَا»
“Ya Allah, berilah berkah untuk umatku di pagi harinya”
Dan beliau jika mengutus tentara perang, beliu mengutusnya di pagi hari. [Sunan Abi Daud: Sahih]


Membaca do’a ketika melihat daerah tujuan

Shuhaib radhiyallahu 'anhu berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melihat kampung yang akan beliau masuki kecuali beliau membaca ketika melihatnya:
«اللَّهُمَّ رَبِّ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ وَمَا أَظْلَلْنَ، وَرَبِّ الْأَرَضِينَ وَمَا أَقْلَلْنَ، وَرَبِّ الشَّيَاطِينَ وَمَا أَضْلَلْنَ، وَرَبِّ الرِّيَاحِ وَمَا ذَرَيْنَ، فَإِنَّا نَسْأَلُكَ خَيْرَ هَذِهِ الْقَرْيَةِ، وَخَيْرَ أَهْلِهَا وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ أَهْلِهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا»
“Ya Allah, Rabb langit yang tujuh dan apa yang dinaunginya, Rabb semua bumi dan apa yang ditampungnya, Rabb semua setan dan apa yang disesatkannya, Rabb angina dan apa yang dihembuskannya. Sesungguhnya kami meminta kepada-Mu kebaikan kampung ini dan kebaikan penduduknya, dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan penduduknya, dan keburukan apa yang ada di dalamnya”. [Sahih Ibnu Khuzaimah]

Memperbanyak do’a dalam perjalanan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
" ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لَا شَكَّ فِيهِنَّ: دَعْوَةُ الْوَالِدِ، وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ " [سنن أبي داود: حسنه الألباني]
“Tiga do'a yang akan dikabulkan tanpa ada keraguan; do'a ibu bapak, do'a seorang musafir (yang bepergian jauh), dan do’a orang yang terdzalimi”. [Sunan Abi Daud: Hasan]

Shalat sunnah di atas kendaraan

Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata:
«كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي السَّفَرِ عَلَى رَاحِلَتِهِ، حَيْثُ تَوَجَّهَتْ بِهِ يُومِئُ إِيمَاءً صَلاَةَ اللَّيْلِ، إِلَّا الفَرَائِضَ وَيُوتِرُ عَلَى رَاحِلَتِهِ» [صحيح البخاري ومسلم]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat dalam perjalan jauhnya di atas kendaraannya, kemana pun wajahnya mengarah, beliau mengangguk dalam shalat malam, kecuali shalat wajib, dan beliau mendirikan witir di atas kendaraannya. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Berbuat baik kepada teman seperjalanan

Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu berkata: Ketika kami sedang dalam perjalanan jauh bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, tiba-tiba datang seorang lelaki yang menunggangi kendaraannya, kemudian ia melihat ke kanan dan ke kiri, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«مَنْ كَانَ مَعَهُ فَضْلُ ظَهْرٍ، فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لَا ظَهْرَ لَهُ، وَمَنْ كَانَ لَهُ فَضْلٌ مِنْ زَادٍ، فَلْيَعُدْ بِهِ عَلَى مَنْ لَا زَادَ لَهُ»
“Barangsiapa yang memiliki kelebihan tunggangan maka hendaklah ia memberikannya kepada yang tidak punya tunggangan, dan barangsiapa yang memiliki kelebihan bekal, maka hendaklah ia memberi kepada yang tidak punya bekal”
Dan beliau menyebutkan beberapa jenis harta sampai kami menyangkat bahwa tidak ada hak bagi seseorang dari kami pada satu kelebihan. [Sahih Muslim]

Membaca do’a ketika tiba di suatu tempat

Dari Khaulah binti Hakim As-Sulamiyah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang singgah di sutau tempat, kemudian membaca:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
“Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dan kejahatan yang diciptakan”,
Maka tidak ada sesutau punya yang menyakitinya sampai ia meninggalkan tempatnya itu”. [Sahih Muslim]

Tidak berpencar ketika tiba di suatu tempat

Abu Tsa’labah Al-Khusyaniy radhiyallahu 'anhu berkata: Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam singgah di sutau tempat, para sahabat saling berpencar di jalan-jalan dan sela-sela gunung, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِنَّ تَفَرُّقَكُمْ فِي هَذِهِ الشِّعَابِ وَالْأَوْدِيَةِ، إِنَّمَا ذَلِكُمْ مِنَ الشَّيْطَانِ»
“Sesungguhnya berpencar kalian di jalan-jalan dan sela-sela gunung ini adalah amalan setan”
Maka mereka tidak singgah di suatu tempat setelah itu kecuali mereka saling berkumpul satu sama lain, sampai dikatakan: Seandainya dibentangkan di atas mereka satu pakaian maka akan mencukupi mereka. [Sunan Abi Daud: Sahih]

Tidak singgah di pinggiran jalan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِذَا سَافَرْتُمْ فِي الْخِصْبِ، فَأَعْطُوا الْإِبِلَ حَظَّهَا مِنَ الْأَرْضِ، وَإِذَا سَافَرْتُمْ فِي السَّنَةِ، فَبَادِرُوا بِهَا نِقْيَهَا، وَإِذَا عَرَّسْتُمْ، فَاجْتَنِبُوا الطَّرِيقَ، فَإِنَّهَا طُرُقُ الدَّوَابِّ، وَمَأْوَى الْهَوَامِّ بِاللَّيْلِ» [صحيح مسلم]
"Jika kalian bepergian jauh (mengendarai hewan) di musim tanaman subur maka berilah onta bagiannya memakan dari tanaman bumi, dan jika kalian bepergian jauh di musim kemarau maka bergegaslah tiba di tujuan. Dan jika kalian singgah untuk istirahat maka menjauhlah dari jalan karena itu adalah tempat lalu lalang hewan dan tempat berkerumun serangga di malam hari". [Sahih Muslim]

Kembali secepatnya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ العَذَابِ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ، فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Bepergian jauh adalah bagian dari siksaan, mencegah seseorang dari kalian dari makan, minum, dan tidurnya, maka jika ia sudah menyelesaikan urusannya, maka hendaklah ia bergegas kembali ke keluarganya”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Tidak sampai ke rumah secara tiba-tiba

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
«إِذَا قَدِمَ أَحَدُكُمْ لَيْلًا، فَلَا يَأْتِيَنَّ أَهْلَهُ طُرُوقًا، حَتَّى تَسْتَحِدَّ الْمُغِيبَةُ، وَتَمْتَشِطَ الشَّعِثَةُ» [صحيح مسلم]
“Jika seseorang dari kalian tiba dari bepergian jauh di malam hari, maka janganlah ia mendatangi istrinya malam hari (secara tiba-tiba) sampai ia bersiap menerima yang telah lama pergi, dan menyisir rambutnya yang kusut”. [Sahih Muslim]

Setelah tiba di kampung halaman, shalat dua raka’at di masjid kemudian masuk rumah

Ka’b bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata:
«أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ، ضُحًى دَخَلَ المَسْجِدَ، فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ» [صحيح البخاري]
Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika tiba dari bepergian jauh di waktu dhuhaaa, beliau masuk masjid kemudian shalat dua raka’at sebelum duduk. [Sahih Bukhari]

Berpelukan dengan kerabat dan sahabat

Anas radhiyallahu 'anhu berkata:
«كَانَ أَصْحَابُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا تَلَاقَوْا تَصَافَحُوا، وَإِذَا قَدِمُوا مِنْ سَفَرٍ تَعَانَقُوا» [المعجم الأوسط: حسنه الألباني]
Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam jika bertemu saling bersalaman, dan jika tiba dari bepergian jauh mereka berpelukan. [Al-Mu’jam Al-Ausath: Hasan]

Memberi makan setelah tiba dari perjalanan jauh

Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma berkata:
«أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمَ المَدِينَةَ، نَحَرَ جَزُورًا أَوْ بَقَرَةً» [صحيح البخاري]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika tiba di Madinah, beliau menyembelih onta atau sapi. [Sahih Bukhari]

Wallahu a’lam!

Referensi:
بهجة النظر في آداب السفر، تأليف: أزهري أحمد محمود
الدليل الفقهي للمسافر المسلم، تأليف: محمد عثمان الخشت

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...