Minggu, 03 Juni 2012

Nama sang "Buah Hati"


Nama adalah tanda dan hiasan bagi seseorang. Nama bisa mencerminkan agama yang dianut, dan pola pikirnya. Bahkan nama bisa mempengaruhi sifat dan tabiat pemakainya, oleh sebab itu Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam beberapa kali mengganti nama sahabatnya yang dirasa mengandung makna yang tidak baik.
Begitu besar kesedihan yang dirasakan oleh seorang anak jika ketika besar mendapati namanya mengandung maknya yang tidak baik apalagi kalau menjadi bahan ejekan atau namanya bertentangan dengan tuntunan agama Islam yang diyakininya.
Sebaliknya jika nama sang anak mengandung maknya yang baik, nama yang dicintai oleh Allah dan Rasulnya, sesuai dengan tuntunan syari'a Islam, maka sang anak akan merasa sangat bangga.
Nama apa saja yang baik boleh dipakai, tapi ada beberapa ketentuan yang harus diperhatikan dalam penamaan. Diantaranya:

Nama anak digandengkan dengan nama bapaknya.
Seperti nama Rasulullah "Muhammad bin Abdullah" sallallahu 'alaihi wasallam.
{ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ} [الأحزاب: 5]
Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; Itulah yang lebih adil pada sisi Allah. [Al-Ahzaab:5]
Di akhirat nanti orang dipanggil dengan nama bapaknya. Dari Abu Ad-Darda'; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ، وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ، فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ» [سنن أبي داود: ضعفه الألباني]
Sesungguhnya kalian akan dipanggi pada hari kiamat dengan nama kalian dan nama bapak kalian, maka pilihlah nama kalian yang paling baik. [Sunan Abi Daud: Haditsnya sedikit lemah]
Dan dari Ibnu Umar; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الغَادِرَ يُرْفَعُ لَهُ لِوَاءٌ يَوْمَ القِيَامَةِ، يُقَالُ: هَذِهِ غَدْرَةُ فُلاَنِ بْنِ فُلاَنٍ [صحيح البخاري ومسلم]
Sesungguhnya seorang penghianat akan diangkat untuknya bendera di hari kiamat tertulis "Ini adalah penghianatan Fulan bin Fulan". [Sahih Bukhari dan Muslim]

Penyebutan nama bapak sangat penting untuk membedakan anak yang lahir secara halal atau tidak.
Haram hukumnya menggandengkan nama kepada selain bapak, kecuali anak yang lahir dari perzinahan maka namanya digandengkan dengan nama ibunya.
Dari Sa'ad bin Abi Waqqash; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«مَنِ ادَّعَى إِلَى غَيْرِ أَبِيهِ، وَهُوَ يَعْلَمُ فَالْجَنَّةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ» [صحيح البخاري ومسلم]
Barangsiapa yang mengaku anak kepada selain bapaknya sedangkan ia tahu, maka surga haram untuk dia. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Nama yang paling dicintai oleh Allah subhanahu wata'ala.
Dari Ibnu Umar; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
أَحَبُّ الْأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى عَبْدُ اللَّهِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ [سنن أبي داود: صححه الألباني]
Nama yang paling dicintai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman. [Sunan Abu Daud: Sahih]
Disunnahkan memakai nama yang menunjukkan penyembahan kepada Allah dengan memakai kata "Abdu" (hamba) sebelum nama Allah yang Husna, seperti Abdurrahim, Abdul Aziz, dan semisalnya.  
Tapi tidak boleh dengan nama yang tidak ada dalilnya dari Al-Qur'an maupun As-Sunnah, seperti: Abdul Maqsud, Abdul Maujud, dan semisalnya.

Haram memakai nama yang menunjukkan penyembahan kepada selain Allah.
Seperti Abdur-rasul, Abdun-nabi, Abdu Ali, Abdu Husain, Abdul Harits, Abdu Syams, dan semisalnya.
Abdurrahman bin 'Auf berkata: Namaku di masa Jahiliyah adalah "Abdu 'Amr", kemudian Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam mengganti namaku dengan "Abdurrahman". [Mustadrak Al-Hakim: Sahih]
Dari Hani' bin Yazid; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bertanya kepada seseorang: Siapa namamu? Ia menjawab: Abdul Hajar. Rasulullah bersabda: Tidak, nama kamu adalah Abdullah. [Al-Adab Al-Mufrad: Sahih]

Tidak memakai nama yang khusus untuk Allah semata, seperti: Allah, Ar-Rahman, Al-Khalik, Al-Quddus, Al-Muhaimin, dan semisalnya.
{هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا} [مريم: 65]
Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (Allah)? [Maryam:65]
Syuraih bin Hani' berkata: Saat bapakku mendatangi Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersama kaumnya, Rasulullah mendengar mereka memanggilnya Abu Al-Hakam, maka Rasulullah memanggilnya dan berkata:
«إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَكَمُ، وَإِلَيْهِ الْحُكْمُ، فَلِمَ تُكْنَى أَبَا الْحَكَمِ؟»
Sesungguhnya Allah adalah Al-Hakam, hanya kepada-Nya hukum dikembalikan, lalu kenapa engkau dikuniahi "Abu Al-Hakam"?
Hani' menjawab: Sesungguhnya kaumku jika berselisih tentang sesuatu mereka mendatangiku lalu aku menetapkan hukum untuk mereka dan kedua kelompok meridainya.
Rasulullah berkata: Ini sangat bagus, lalu siapa nama anak kamu?
Hani' menjawab: Saya punya Syuraih, Muslim, dan Abdullah.
Rasulullah bertanya: Siapa yang paling tua? Hani menjawab: Syuraih.
Rasulullah bersabda: Maka kuniahmu adalah Abu Syuraih. [Sunan Abi Daud: Sahih]
Khetsamah bin Abdurrahman berkata: Dulu nama bapakku di masa jahiliyah adalah Aziz, kemudian Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam menggantinya dengan Abdurrahman. [Musnad Ahmad: Sahih]

Adapun nama yang bukan khusus bagi Allah maka boleh dipakai, seperti: Rauf, Rahim, Karim, Rasyid, Ali, Muhsin, dan semisalnya.
{لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ} [التوبة: 128]
Sungguh Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan (Rauf) lagi Penyayang (Rahim) terhadap orang-orang mukmin. [At-Taubah:128]

Tidak menggandengkan nama kepada Allah selain kata "Abdu", seperti hasbullah, kherullah, rahmatullah dan semisalnya.

Sebagian ulama memakruhkan pakai nama Malaikat, seperti Jibril, Mikail, dan Israfil.

Pakai nama Nabi 'alaihimushalatu wassalam.
Dari Jabir bin Abdillah, Anas, dan Abu Hurairah; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«سَمُّوا بِاسْمِي وَلاَ تَكْتَنُوا بِكُنْيَتِي» [صحيح البخاري]
Berilah nama dengan namaku, dan jangan ber-kunia dengan kuniaku (Abu Al-Qasim). [Sahih Bukhari dan Muslim]
Dari Anas bin Malik; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«وُلِدَ لِي اللَّيْلَةَ غُلَامٌ، فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إِبْرَاهِيمَ» [صحيح مسلم]
Telah dilahirkan untukku tadi malam seorang anak laki-laki, lalu kuberi ia nama dengan nama (bapak) bapaku Ibrahim. [Sahih Muslim]
Abu Musa berkata: Telah dilahirkan untukku anak laki-laki, lalu aku membawanya kepada Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam, lalu ia memberinya nama Ibrahim. [Sahih Bukhari dan Muslim]
Yusuf bin Abdillah bin Salam berkata: Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam memberiku nama "Yusuf". [Adab Al-Mufrad: Sahih]

Makruh mamakai nama sebagian nama surah Al-Qur'an, seperti: Thaha, Yasin, Hamim, dan semisalnya.
Ibnu Qayyim mengatakan: Imam Malik memakruhkan nama Yasin sebagaimana disebutkan oleh As-Suhailiy, dan anggapan orang awam bahwa Yasin dan Thahaa adalah nama Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam suatu yang keliru, tidak ada dalilnya dari hadits sahih, hasan, ataupun lemah, tidak pula dari perkataan sahabat, semua itu hanya sebatas huruf seperti Alif Laam Miim, Haa Miim, Alif Laam Raa', dan semisalnya. [Tuhfah Al-Mauduud bi Ahkaam Al-Mauluud hal.127]

Nama orang saleh utamanya sahabat Rasulullah.
Dari Al-Mugirah bin Syu'bah; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«إِنَّهُمْ كَانُوا يُسَمُّونَ بِأَنْبِيَائِهِمْ وَالصَّالِحِينَ قَبْلَهُمْ» [صحيح مسلم]
Sesungguhnya mereka memberi nama dengan nama para Nabi mereka dan orang-orang saleh sebelumnya. [Sahih Muslim]
Al-Mudzir bin Abi Usaid didatangkan ke Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam sewaktu baru lahir, lalu Rasulullah memangkunya. Saat Rasulullah disibukkan oleh sesuatu, Abu Usaid mengambil anaknya. Kemudian setelah Rasullah tidak sibuk lagi, bertanya: Mana anak tadi? Abu Usaid menjawab: Telah kamu pulangkan ke rumah Ya Rasulullah.
Rasulullah bertanya: Siapa namanya? Abu Usaid menjawab: Fulan!
Rasulullah berkata: «وَلَكِنْ أَسْمِهِ المُنْذِرَ» Tapi aku akan menamainya "Al-Mundzir" (pemberi peringatan). [Sahih Bukhari dan Muslim]

Nama yang mengandung makna yang baik dan tidak menakutkan.
Dari Abu Wahab Al-Jusyamiy; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«أَحَبُّ الْأَسْمَاءِ إِلَى اللَّهِ عَبْدُ اللَّهِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ، وَأَصْدَقُهَا حَارِثٌ، وَهَمَّامٌ، وَأَقْبَحُهَا حَرْبٌ وَمُرَّةُ» [سنن أبي داود: صححه الألباني]
Nama yang paling dicintai oleh Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman, nama yang paling jujur adalah "Harits" (yang berusaha) dan "Hammam" (yang punya keinginan), dan nama yang paling buruk adalah "Harb" (perang) dan "Murrah" (pahit). [Sunan Abi Daud: Sahih]
Basyir bin Ma'bad mendatangi Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam, dikatakan bahwa namanya adalah "Zahm" (berdesakan) kemudian Rasulullah menggantinya dengan "Basyir" (pemberi berita gembira). [Musnad Ahmad: Sahih]
Usama bin Akhdariy berkata: Seseorang bernama "Ashram" (pemotong) datang bersama rombongan menemui Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam, dan Rasulullah bertanya: Siapa namamu? Ia menjawab: Ashram!
Rasulullah bersabda:  «بَلْ أَنْتَ زُرْعَةُ»Tidak, namamu adalah "Zur'ah" (tanaman). [Sunan Abu Daud: Sahih]
Aisyah berkata: Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam mendengan seseorang disebut "Syihab" (meteor), kemudian Rasulullah berkata kepadanya: بل أنت هشام  "Tidak, nama kamu adalah "Hisyam" (pemurah). [Al-Adab Al-Mufrad: Hasan]
Muthi' bin Al-Aswad dulunya bernama "Al-'Ash" (pendosa) kemudian Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam menggantinya dengan Muthi' (yang taat). [Al-Adab Al-Mufrad: Sahih]
Ibnu Umar berkata: Salah satu putri Umar dulunya bernama 'Ashiyah (pendosa), kemudian Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam menggantinya dengan nama "Jamilah" (yang cantik). [Sahih Muslim]

Tidak boleh nama hewan sifatnya tidak baik, atau maksiat seperti "Sariqah" (pencuri), atau mengandung nafsu seperti "Fatinah" (penggoda).

Maknanya tidak berlebihan memuji.
Dari Abu Hurairah; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«أَخْنَى الأَسْمَاءِ يَوْمَ القِيَامَةِ عِنْدَ اللَّهِ رَجُلٌ تَسَمَّى مَلِكَ الأَمْلاَكِ» [صحيح البخاري]
Nama yang paling hina di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang yang bernama Malik Al-Amalak (Raja diraja). [Sahih Bukhari dan Muslim]
Muhammad bin 'Amr bin 'Atha' berkata: Aku menamai putriku "Barrah" (yang sangat berbakti), lalu Zainab binti Abi Salam berkata kepadaku: Sesungguhnya Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam melarang nama itu, dulunya aku bernama "Barrah", maka Rasulullah bersabda:
«لَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ، اللهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ»
Jangan kalian memuji diri sendiri, Allah lebih tahu siapa yang berbakti dari kalian.
Mereka bertanya: Lalu bagaimana kami menamainya?
Rasulullah menjawab: Namai ia Zainab. [Sahih Muslim]
Abu Hurairah berkata: Zainab dulunya bernama "Barrah", namun dianggap terlalu memuji diri maka Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam mengganti namanya dengan Zainab. [Sahih Bukhari dan Muslim]
Ibnu Abbas berkata: Juwairiyah dulunya bernama "Barrah" kemudian Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam menggantinya dengan Juwairiyah, Rasulullah tidak suka disebut: "Ia keluar dari "Barrah" [Sahih Muslim]

Dari Samurah bin Jundab; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"وَلَا تُسَمِّيَنَّ غُلَامَكَ يَسَارًا، وَلَا رَبَاحًا، وَلَا نَجِيحًا، وَلَا أَفْلَحَ، فَإِنَّكَ تَقُولُ: أَثَمَّ هُوَ؟ فَلَا يَكُونُ فَيَقُولُ: لَا [صحيح مسلم]
Janganlah menamai anak kalian dengan nama "Yasaar" (kemudahan), "Rabaah" (keuntungan), "Najiih" (keberhasilan), "Aflah" (beruntung). Karena jika kalian bertanya: Apakah ia ada? Dan ternyata ia tidak ada maka kamu akan mengatakan: Tidak.
Dalam riwayat lain: Jangan pula dengan nama "Naafi'" (yang bermanfaat). [Sahih Muslim]
Jabir bin Abdillah berkata: Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam ingin melarang pemberian nama "Ya'laa" (meninggi kemuliaannya), "Barakah" (berkah), "Aflah", "Yasaar", dan "Naafi'", dan semisalnya. Kemudian Rasulullah mendiamkannya, sampai Rasulullah wafat dan tidak melarangnya. Kemudian Umar ingin malaranganya tapi ia biarkan. [Sahih Muslim]
Dan yang semisalnya, seperti: "Mubarak" (yang berberkah), "Muflih" (yang beruntung), "Khair" (baik), "Suruur" (gembira), dan "Ni'mah" (nikmat). Nama tersebut dimakruhkan selain karena ada makna pemujian diri, juga karena jawaban pertanyaan yang muncul jika ditanyakan dan ia tidak ada maka kedengarannya tidak baik. Apakah "Barakah" ada? Kamu mejawab: Barakah tidak ada. Kedengarannya seperti kamu meniadakan berkah. [Lihat syar sahih Muslim karya Imam An-Nawawiy 14/117]

Termasuk pemujian diri adalah nama yang digandengkan dengan "Ad-Diin" (agama) dan "Al-Islam", seperti: Syamsuddin, Kheruddin, Saiful-Islam, dan semisalnya.
Beberapa ulama mengharamkannya, tapi kebanyakan hanya menganggapnya makruh.
Imam An-Nawawiy tidak senang digelari "Muhyiddin" (yang menghidupkan agama), demikian pula Ibnu Taimiyah tidak suka disebut "Taqiyuddin".
Tidak boleh juga dengan nama: Sayyidunnas (tuannya manusia), Sayyidulkul (tuan segala-galanya). Begitu pula dengan Sayyidu waladi Adam (tuan anak cucu Adam) karena ini adalah khusus bagi Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam.

Tidak memakai nama yang khusus untuk orang kafir atau yang terkenal dari orang fasik dan dzalim.
Dari Ibnu Umar; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ» [سنن أبي داود: صححه الألباني]
Barangsiapa yang meniru suatu kaum maka ia bagian dari mereka. [Sunan Abi Daud: Sahih]

Jangan pakai nama yang tersusun lebih dari satu kata, seperti "Ahmad Fulan", "Muhammad Fulan", dan semisalnya.
Alasan pelarangan karena akan sulit dibedakan mana nama anak dan bapaknya, dan penamaan seperti ini tidak dikenal dikalangan para Nabi dan orang-orang saleh terdahulu.
Sebaiknya nama berasal dari kata bahasa Arab, singkat, mudah disebut dan diingat.

Bukan nama setan atau berhala, seperti Al-Laat, Al-Uzza, Nailah, Hubal, dan semisalnya.
{أَفَرَأَيْتُمُ اللَّاتَ وَالْعُزَّى (19) وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ الْأُخْرَى} [النجم: 19، 20]
Maka apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al-Lata dan Al-'Uzza, dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)*? [An-Najm: 19-20]
*Al-Lata, Al-'Uzza dan Manah adalah nama berhala-berhala yang disembah orang Arab Jahiliyah dan dianggapnya anak-anak perempuan Tuhan.

Ganti nama.
Aisyah berkata: Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam mengganti nama yang buruk. [Sunan Tirmidzi: Sahih]
Mengganti nama yang bermakna buruk ke makna yang baik hukumnya sunnah. Apa bila nama yang dipakai tidak sesuai dengan ketentuan di atas dan sulit untuk diganti maka tidak mengapa memakai nama tersebut dan sebaiknya memakai kuniah (Abu Fulan) yang baik jika dipanggil.

Wallahu a'lam!

اللهم رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
"Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.
[Al-Furqan:74]

Referensi:
تحفة المودود بأحكام المولود تأليف ابن قيم الجوزية
تسمية المولود تأليف فضيلة الشيخ العلامة بكر عبدالله أبو زيد

Lihat juga: Mau rezki berlimpah

4 komentar:

  1. بارك الله فيك وفي أهلك ، آمين

    BalasHapus
    Balasan
    1. جزاك الله خيرا يا زوجتي العزيزة :)

      Hapus
  2. jadi tahu nama yang baik dan buruk,good sharing thanks :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga dikaruniahi anak yang soleh !

      Hapus

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...