Rabu, 11 Maret 2026

Menggali Aqidah Salaf di Bulan Ramadhan

بسم الله الرحمن الرحيم

Aqidah seseorang tidak diterima kecuali sejalan dengan aqidah salaf

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{فَإِنْ آمَنُوا بِمِثْلِ مَا آمَنْتُمْ بِهِ فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا هُمْ فِي شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ} [البقرة: 137]

Maka jika mereka beriman seperti apa yang kamu (Rasulullah dan sahabatnya) telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. dan Dia-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui. [Al-Baqarah:137]

Lihat: 7 Pondasi utama aqidah Ahlissunah wal Jama’ah

Kesempurnaan ibadah Ramadhan tergantung kesempurnaan aqidah seseorang

Enam pokok Aqidah, Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا} [النساء: 136]

Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu Telah sesat sejauh-jauhnya. [An-Nisaa':136]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Jibril bertanya kepada Rasululah: Beri tahu kepadaku tentang Iman? Rasulullah menjawab:

«أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ» [صحيح البخاري ومسلم]

"Engku meyakini tentang Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, para Rasul-Nya, hari kiamat, dan meyakini adanya takdir yang baik dan yang buruk". [Shahih Bukhari dan Muslim]

Pertama: Iman kepada Allah.

a.      Tauhid Rububiyah.

Dari Thalhah bin 'Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu; Nabi apabila melihat bulan sabit beliau mengucapkan:

«اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَان،ِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَام،ِ رَبِّي وَرَبُّكَ الله»

“Ya Allah, terbitkanlah bulan tersebut kepada kami dengan berkah, iman, keselamatan serta Islam! Tuhanku dan Tuhanmu (wahai bulan sabit) adalah Allah”. [Sunan Tirmidziy: Shahih]

b.      Tauhid Uluhiyah.

Beribadah hanya karena Allah semata. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ: الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِي» [صحيح البخاري ومسلم]

"Allah 'azza wa jalla berfirman: Puasa adalah untuk-Ku, dan Aku yang akan memberikan ganjarannya langsung. Meninggalkan syahwatnya, makan dan minumnya demi Aku". [Shahih Bukhari dan Muslim]

c.       Tauhid Asma' wa Sifat.

Nama Allah Al-'Afwu mengandung sifat memaafkan dan mencintainya

Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya: Ya Rasulullah, menurutmu jika aku tahu saatnya malam lailatul qadr, apa yang seharusnya aku katakan pada waktu itu?

Rasulullah menjawab: Ucapkan ...

«اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ»

"Ya Allah .. sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Pemurah suka memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku." [Sunan Tirmidzi: Shahih]

Lihat: Pilar-pilar tauhid di bulan Ramadhan

Allah ‘azza wajalla turun ke langit dunia di waktu sahur

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ: مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ، مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ، مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ» [صحيح البخاري، ومسلم]

“Tuhan kita -Yang maha agung dan maha tinggi- turun setiap malam ke langit dunia pada sepertiga malam terakhir dan berkata: Siapa yang berdo'a kepada-Ku akan Kukabulkan, siapa yang meminta kepada-Ku akan Kuberikan, siapa yang memohon ampun pada-Ku akan Kuampuni”. [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Allah di atas semua makhluk

Ramadhan bulan ampunan, Allah membuka tanganNya siang dan malam untuk menerima taubat

Dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu, Nabi bersabda:

«إِنَّ اللَّهَ عزّ وجل يبسط يَدَه بالليل، ليتوبَ مُسِيءَ النهار، ويبسط يَدَه بالنهار، ليتوبَ مُسِيءَ الليل، حتى تطلعَ الشمسُ مِن مَغرِبها»

"Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima tobat orang yang berbuat dosa pada siang hari, dan membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima tobat orang yang berbuat dosa pada malam hari, hingga matahari terbit dari barat." [Shahih Muslim]

Allah menerima sedekah dengan tangan kananNya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

«ما تَصَدَّقَ أَحَدٌ بِصَدَقَةٍ مِنْ طَيِّبٍ، وَلَا يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا الطَّيِّبَ، إِلَّا أَخَذَهَا الرَّحْمَنُ بِيَمِينِهِ، وَإِنْ كَانَتْ تَمْرَةً، فَتَرْبُو فِي كَفِّ الرَّحْمَنِ حَتَّى تَكُونَ أَعْظَمَ مِنَ الْجَبَلِ. كَمَا يُرَبِّي أحدكم فلوه أو فصيله»

"Tidaklah seseorang bersedekah dengan harta yang baik -dan Allah tidak menerima kecuali yang baik- kecuali Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) akan mengambilnya dengan tangan kanan-Nya, meskipun hanya sebutir kurma. Lalu sedekah itu berkembang di telapak tangan Ar-Rahman hingga menjadi lebih besar dari gunung, sebagaimana salah seorang dari kalian memelihara anak kudanya atau anak untanya." [Shahih Muslim]

Lihat: Penetapan sifat “tangan” bagi Allah subhanahu wata’aalaa

Di sela ayat-ayat tentang puasa Ramadhan, Allah subhanahu wata'ala menetapkan bahwa Ia "dekat" dengan hambaNya yang beriman dan berjanji mengabulkan do'a mereka.

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ} [البقرة: 186]

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. [Al-Baqarah:186]

Lihat: Ramadhan; Bulan do’a

Kedua: Iman kepada para Malaikat.

a)      Jibril dan para malaikat lainnya turun ke bumi di bulan Ramadhan.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (1) وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ (2) لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ (3) تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ (4) سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ} [القدر: 1 - 5]

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan (lailatul qadr). Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. [Al-Qadr: 1-5]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah bersabda tentang lailatul qadr:

«إِنَّهَا لَيْلَةُ سَابِعَةٍ - أَوْ تَاسِعَةٍ - وَعِشْرِينَ، إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِي الْأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى» [مسند أحمد: حسن]

"Sesungguhnya itu adalah malam ke duapuluh tujuh, atau dua puluh sembilan, dan sesungguhnya pada malam itu jumlah malaikat (yang turun) di bumi lebih banyak dari jumlah pasir." [Musnad Ahmad: Hasan ligairih]

Lihat: Malam "Lailatul Qadr"

Ø  Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:

«كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ ﷺ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Rasulullah adalah manusia yang paling pemurah (dermawan), dan beliau lebih pemurah lagi pada bulan Ramadhan ketika ditemui oleh Jibril, dan Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadhan kemudian mengajarkannya Al-Qur’an. Maka sungguh Rasulullah adalah manusia yang paling pemurah dengan kebaikan seperti angina yang berhembus”. [Shahih Bukhari dan Muslim]

b)     Malaikat mendo'akan orang yang sedang sahur

Dari Abu Sa'id Al-Khudriy radiyallahu 'anhu; Rasulullah berasbda:

«إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى الْمُتَسَحِّرِينَ» [مسند أحمد: صحيح]

"Sesungguhnya Allah 'azza wajalla dan para malaikat-Nya bershalawat (berdo'a) kepada orang-orang yang sedang makan sahur. [Musnad Ahmad: Sahih]

c)      Tidak mengganggu malaikat di masjid dengan memakan makan berbau ketika sahur atau berbuka

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah bersabda:

«مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثُّومَ وَالْكُرَّاثَ فَلَا يَقْرَبَنَّ مَسْجِدَنَا، فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ تَتَأَذَّى مِمَّا يَتَأَذَّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ» [صحيح البخاري ومسلم]

"Barangsiapa yang makan bawang merah, bawang putih, dan yang sejenisnya, maka jangalah ia mendekati mesjid kami, karena sesungguhnya para malaikat terganggu dari semua yang mengganggu anak cucu Adam". [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Iman kepada malaikat

d)     Para malaikat hadir dalam majelis ilmu

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ » [صحيح مسلم]

"Tidaklah satu kaum berkumpul di salah satu "rumah Allah" (mesjid) membaca kitabullah (Al-Qur'an) dan mempelajarinya di antara mereka kecuali Allah menurunkan kepada mereka ketenangan dan mereka dinaungi dengan rahmat dan malaikat mengerumungi mereka dan Allah menyebut mereka pada siapa yang ada di sisi-Nya". [Sahih Muslim]

Lihat: Keutamaan ilmu dan ulama

e)      Para malaikat mendo'akan orang yang menanti shalat

Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«الْمَلَائِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ، يَقُولُونَ: اللهُمَّ ارْحَمْهُ، اللهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ، مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ، مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ» [صحيح مسلم]

"Para malaikat akan selalu bershalawat (berdoa) kepada salah seorang di antara kalian selama ia ada di dalam tempat di mana ia melakukan shalat, (para malaikat) berkata: "Ya Allah ampunilah ia, Ya Allah sayangilah ia, Ya Allah terimalah tobatnya!" Selama ia tidak menyakit dan selama ia belum batal wudhunya". [Sahih Muslim]

Lihat: GOLONGAN YANG DI DO'AKAN MALAIKAT

Ketiga: Iman kepada kitab suci Allah.

a.      Al-Qur'an dan kitab suci lainnya diturunkan pada bulan Ramadhan.

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ} [البقرة: 185]

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). [Al-Baqarah:185]

Ø  Dari Watsilah bin Al-Asqa' radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْفُرْقَانُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ» [مسند أحمد: حسنه الألباني]

“Suhuf Ibrahim 'alaihissalam diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, dan Taurat diturunkan pada enam hari lewat bulan Ramadhan (malam ke 7), dan Injil pada tiga belas hari lewat bulan Ramadhan (malam ke 14), dan Al-Qur'an turun setelah dua puluh empat hari lewat bulan Ramadhan (malam ke 25)”. [Musnad Ahmad: Hasan]

Lihat: Ramadhan; Bulan Al-Qur’an

b.      Ibadah puasa yang disyari'atkan dalam Al-Qur'an adalah ibadah yang ringan.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ} [البقرة: ١٨٥]

Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. [Al-Baqarah: 185]

Lihat: Keringanan syari'at Islam dalam puasa

Keempat: Iman kepada para Nabi dan Rasul.

Para Nabi dan Rasul ‘alaihimussalam terdahulu juga berpuasa bersama umatnya, Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ} [البقرة: 183]

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. [Al-Baqarah:183]

Ø  Abdullah bin Amr radhiyallahu 'anhuma berkata: Rasulullah bersabda:

«أَحَبُّ الصِّيَامِ إِلَى اللهِ صِيَامُ دَاوُدَ: كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا وَأَحَبُّ الصَّلَاةِ إِلَى اللهِ صَلَاةُ دَاوُدَ كَانَ يَنَامُ نِصْفَ اللَّيْلِ وَيَقُومُ ثُلُثَهُ وَيَنَامُ سُدُسَهُ»

"Puasa yang paling dicintai Allah adalah puasa Daud. Beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari. Dan shalat yang paling dicintai Allah adalah shalat Daud. Beliau tidur setengah malam, lalu shalat sepertiganya, dan tidur lagi seperenamnya." [Shahih Bukhari]

Ø  Ibnu 'Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:

قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ المَدِينَةَ فَرَأَى اليَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: «مَا هَذَا؟»، قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى، قَالَ: «فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ»، فَصَامَهُ، وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ

"Ketika Nabi telah sampai dan tinggal di Madinah, Beliau melihat orang-orang Yahudi melaksanakan puasa hari 'Asyura' lalu Beliau bertanya: "Kenapa kalian mengerjakan ini?" Mereka menjawab: "Ini adalah hari kemenangan, hari ketika Allah menyelamatkan Bani Isra'il dari musuh mereka lalu Nabi Musa Alaihissalam menjadikannya sebagai hari berpuasa". Maka Beliau bersabda: "Aku lebih berhak dari kalian terhadap Musa". Lalu Beliau memerintahkan untuk berpuasa. [Shahih Bukhari]

Lihat: Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (68) Puasa hari ‘Asyura’

Ø  Dari Amru bin Al-'Ash -radhiyallahu 'anhuma-; Rasulullah bersabda:

«فَصْلُ مَا بَيْنَ صِيَامِنَا وَصِيَامِ أَهْلِ الْكِتَابِ أَكْلَةُ السَّحَرِ»

"Perbedaan antara puasa kita dengan puasanya Ahli Kitab adalah makan sahur." [Shahih Muslim]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Nabi berkata:

«لَا يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ، لِأَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ» [سنن أبي داود: حسن]

"Agama ini akan senantiasa nampak selama orang-orang (kaum muslimin) menyegerakan berbuka, karena orang-orang Yahudi dan Nasrani menundanya." [Sunan Abi Daud: Hasan]

Lihat: Makan dan minum di bulan Ramadhan

Kelima: Iman kepada hari akhir.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah bersabda:

«وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللهِ، يَوْمَ الْقِيَامَةِ، مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Dan demi yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat dari bau parfum “misk”.” [Shahih Bukhari dan Muslim]

a.      Orang beriman berjumpa dengan Allah dan melihatNya di akhirat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah bersabda:

«لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ، وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Dan bagi orang yang berpuasa dua kebahagiaan: Bahagia ketika berbuka, dan bahagia ketika bertemu Tuhannya”. [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Melihat Allah

b.      Puasa memberi syafa'at

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah bersabda:

«الصِّيَامُ وَالْقُرْآنُ يَشْفَعَانِ لِلْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، يَقُولُ الصِّيَامُ: أَيْ رَبِّ، مَنَعْتُهُ الطَّعَامَ وَالشَّهَوَاتِ بِالنَّهَارِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ، وَيَقُولُ الْقُرْآنُ: مَنَعْتُهُ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ، فَشَفِّعْنِي فِيهِ»، قَالَ: " فَيُشَفَّعَانِ " [مسند أحمد: صححه الألباني]

“Puasa dan Al-Qur’an akan memberi syafa’at kepada hamba di hari kiamat. Puasa berkata: Wahai Tuhanku, aku telah menahannya dari makanan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at padanya. Dan Al-Qur’an berkata: Aku telah menanannya dari tidur di malam hari, maka izinkanlah aku memberi syafa’at padanya. Kemudian keduanya memeberi syafa’at”. [Musnad Ahmad: Shahih]

c.       Penduduk surga memberi syafa'at untuk saudaranya yang berpuasa bersamanya, menunjukkan bahwa pelaku dosa besar tidak kafir

Abu Sa'id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah bersabda:

«وَإِذَا رَأَوْا أَنَّهُمْ قَدْ نَجَوْا فِي إِخْوَانِهِمْ، يَقُولُونَ: رَبَّنَا إِخْوَانُنَا، كَانُوا يُصَلُّونَ مَعَنَا، وَيَصُومُونَ مَعَنَا، وَيَعْمَلُونَ مَعَنَا، فَيَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى: اذْهَبُوا، فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ دِينَارٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجُوهُ، وَيُحَرِّمُ اللَّهُ صُوَرَهُمْ عَلَى النَّارِ، فَيَأْتُونَهُمْ وَبَعْضُهُمْ قَدْ غَابَ فِي النَّارِ إِلَى قَدَمِهِ، وَإِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ، فَيُخْرِجُونَ مَنْ عَرَفُوا، ثُمَّ يَعُودُونَ، فَيَقُولُ: اذْهَبُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ نِصْفِ دِينَارٍ فَأَخْرِجُوهُ، فَيُخْرِجُونَ مَنْ عَرَفُوا، ثُمَّ يَعُودُونَ، فَيَقُولُ: اذْهَبُوا فَمَنْ وَجَدْتُمْ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ فَأَخْرِجُوهُ، فَيُخْرِجُونَ مَنْ عَرَفُوا» [صحيح البخاري ومسلم]

Jika mereka (penduduk surga) melihat bahwasanya mereka telah selamat di kalangan teman-teman mereka, mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, sesungguhnya kawan-kawan kami dahulu mendirikan shalat bersama kami dan berpuasa bersama kami, dan beramal shalih bersama kami! 'Lantas Allah Ta'ala berfirman, 'Pergilah kalian, siapa diantara kalian yang mendapatkan dalam hatinya masih ada seberat dinar keimanan, maka keluarkanlah dia', dan Allah mengharamkan fisik mereka dari neraka. Lalu mereka datangi kawan-kawan mereka, sedang sebagian mereka telah terendam dalam api neraka, ada yang sampai telapak kakinya, dan ada juga yang sampai setengah betisnya, sehingga mereka keluarkan siapa saja yang mereka kenal, kemudian mereka kembali dan Allah berkata 'Pergilah kalian, dan siapa yang kalian temukan dalam hatinya ada separuh Dinar keimanan, maka keluarkanlah dia.' Maka mereka keluarkan siapa saja yang mereka kenal. kemudian mereka kembali dan Allah berkata "Pergilah kalian sekali lagi, dan siapa yang kalian temukan dalam hatinya ada seberat biji sawi keimanan, maka keluarkanlah dia.' Maka mereka keluarkan siapa saja yang mereka kenal”. [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Jenis-jenis Syafa’at di akhirat

d.      Menetapkan adanya surga dan neraka yang kekal

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah bersabda:

«إِنَّ فِي الجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ، يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ القِيَامَةِ، لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، يُقَالُ: أَيْنَ الصَّائِمُونَ؟ فَيَقُومُونَ لاَ يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ، فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Sesungguhnya dalam surga ada pintu yang disebut “Ar-Rayyan”, dari pintu itu orang-orang yang berpuasa masuk di hari kiamat, tidak ada yang masuk dari pintu itu selain mereka, dikatakan: “Mana orang-orang yang berpuasa?” Lalu mereka bangikit, tidak ada yang masuk dari pintu itu selain mereka, maka setelah mereka semua masuk, pintu itupun ditutup dan tidak ada lagi yang masuk dari pintu itu”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah bersabda:

«الصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنَ النَّارِ» [سنن الترمذي: صحيح]

“Dan puasa adalah perisai dari api neraka” [Sunan Tirmidziy: Shahih]

Lihat: Keutamaan puasa

Keenam: Iman kepada takdir yang baik dan yang buruk.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4) أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا} [الدخان: 3 - 5]

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi (lailatul qadr) dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan* yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. [Ad-Dukhaan: 3-5]

* Yang dimaksud dengan urusan-urusan di sini ialah segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk seperti: hidup, mati, rezki, untung baik, untung buruk dan sebagainya.

Ø  Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:

«يَكْتُبُ مِنْ أُمِّ الْكِتَابِ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ مَا هُوَ كَائِنٌ فِي السَّنَةِ مِنَ الْخَيْرِ، وَالشَّرِّ، وَالْأَرْزَاقِ، وَالْآجَالِ، حَتَّى الْحُجَّاجِ، يُقَالُ: يَحُجُّ فُلَانٌ، وَيَحُجُّ فُلَانٌ» [تفسير البغوي]

“Dicatat pada "lauhul mahfudz" di malam "lailatul qadr" apa yang akan terjadi dalam setahun tentang kebaikan, keburukan, rezki, dan ajal, sampai orang-orang yang akan menunaikan haji. Dikatakan: "Si fulan dan si fulan akan menunaikan haji tahun ini".” [Tafsir Al-Bagawiy]

Ø  Al-Hasan Al-Bashriy, Mujahid, dan Qatadah rahimahumullah berkata:

«يُبْرَمُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ كُلُّ أَجَلٍ، وَعَمَلٍ، وَخَلْقٍ، وَرِزْقٍ، وَمَا يَكُونُ فِي تِلْكَ السَّنَةِ» [تفسير البغوي]

“Ditetapkan pada malam "lailatul qadr" di bulan Ramadhan semua ajal, amalan, ciptaan, rezki, dan semua yang akan terjadi pada tahun itu”. [Tafsir Al-Bagawiy]

Kita bisa mendapati bulan Ramadhan dan mengizinkan dengan ibadah adalah takdir Allah.

Lihat: Kehendak Allah kauniyah dan syar’iyah

Wallahu a'lam!

Lihat juga: Iman kepada Kitab Suci - Menyuburkan Iman, Memanen Pahala: Merawat Hubungan dengan Al-Qur'an - Tafsir surah "Al-Qari'ah"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...