بسم
الله الرحمن الرحيم
Pembuka: Maksud dan Tujuan.
· Salam dan Ayat Pembuka: Ramadhan adalah madrasah bagi orang
beriman. Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ
قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ} [البقرة: 183]
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. [Al-Baqarah:183]
· Tujuan puasa adalah Taqwa: Adab adalah jalan praktis untuk
mencapai taqwa. Adab inilah yang mengubah puasa dari sekadar menahan lapar
menjadi ibadah istimewa yang Allah janjikan pahala khusus.
· Hakikat Adab dalam Islam: Ialah pengamalan syari'at Islam
secara menyeluruh, baik dzahir maupun batin, kepada Allah, diri sendiri dan
makhluk.
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah berkata:
«الْأَدَبُ: اسْتِعْمَالُ
مَا يُحْمَدُ قَوْلًا وَفِعْلًا»
"Adab adalah menggunakan/melakukan sesuatu yang terpuji, baik
perkataan maupun perbuatan". [Fathul Bari]
Ø Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
«الْأَدَبُ: اجْتِمَاعُ
خِصَالِ الْخَيْرِ فِي الْعَبْدِ»
"Adab adalah berkumpulnya sifat-sifat kebaikan pada diri seorang
hamba". [Madarijussalikin]
1.
Adab Persiapan: Menyambut Tamu Mulia.
Persiapan sejati (isti'dad) adalah persiapan hati:
a· Taubat yang Tulus: Membersihkan hati dengan memohon
ampun atas kesalahan.
Tsauban radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ الرَّجُلَ
لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ»
"Sesungguhnya seseorang akan ditahan rizkinya karena dosa yang dia
lakukan." [Sunan Ibnu Majah: Hasan]
Ø Dari Abu
Hurairah -radhiyallahu 'anhu-; Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا
أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِي قَلْبِهِ، فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ
وَاسْتَغْفَرَ، صُقِلَ قَلْبُهُ،
فَإِنْ زَادَ، زَادَتْ، فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَهُ الله فِي كِتَابِهِ:
{كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [المطففين: 14]»
“Sesungguhnya seorang mu'min jika melakukan suatu dosa akan menjadi titik
hitam dalam hatinya. Namun jika ia bertaubat, lalu meninggalkannya, dan minta
ampunan maka hatinya menjadi bersih. Akan tetapi jika ia menambah dosanya, maka
titik hitam itupun akan bertambah. Itulah yang dinamakan "Ar-Raan"
sebagaimana yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya: {Sekali-kali tidak
(demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan (maksiat) itu menutupi
hati mereka}”. [Sunan Ibnu Majah: Hasan]
Lihat: Bekal dan peran seorang muslimah di bulan Ramadhan
b· Menunaikan Hak Sesama: Mengembalikan hak orang lain dan
merukunkan hubungan yang retak.
Karena jika tidak ditunaikan di dunia maka akan
ditunaikan di akhirat dengan pahala dan dosa-dosa. Sebagaimana diriwatkan dari Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ
أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ، وَصِيَامٍ، وَزَكَاةٍ، وَيَأْتِي
قَدْ شَتَمَ هَذَا، وَقَذَفَ هَذَا، وَأَكَلَ مَالَ هَذَا، وَسَفَكَ دَمَ هَذَا،
وَضَرَبَ هَذَا، فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ،
فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ
خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ، ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ» [صحيح مسلم]
"Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang
datang di hari kiamat dengan pahala salat, puasa, dan zakat. Akan tetapi ia
telah mencaci si Ini, menuduh si Ini, memakan harta si Ini (dengan tidak
halal), meneteskan darah si Ini, dan memukul si Ini. Maka pahala kebaikannya
diberikan kepada si Ini dan si Ini, kemudian jika pahala kebaikannya sudah
habis sebelum menutupi semua kezalimannya maka dosa-dosa mereka diberikan
kepadanya, kemudian ia dijerumuskan ke neraka". [Shahih Muslim]
c· Niat dan Perencanaan: Menetapkan target ibadah dan mengatur
jadwal untuk memprioritaskan amal shaleh.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَلَوْ أَرَادُوا
الْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا لَهُ عُدَّةً وَلَكِنْ كَرِهَ الله انْبِعَاثَهُمْ
فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ اقْعُدُوا مَعَ الْقَاعِدِينَ} [التوبة: 46]
Dan jika mereka (orang munafiq) mau berangkat (berperang),
tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah
tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka.
Dan dikatakan kepada mereka: "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang
tinggal itu".
[At-Taubah: 46]
d· Puasa bersama pemerintah.
Ibnu Umar radhiyallahu 'anhuma berkata;
«تَرَاءَى النَّاسُ
الْهِلَالَ، فَأَخْبَرْتُ رَسُولَ الله ﷺ أَنِّي رَأَيْتُهُ، فَصَامَهُ وَأَمَرَ
النَّاسَ بِصِيَامِهِ»
“Orang-orang berusaha untuk melihat hilal, kemudian aku beritahukan
kepada Rasulullah ﷺ
bahwa aku telah melihatnya. Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan
orang-orang agar berpuasa”. [Sunan Abi Dawud: Shahih]
Lihat: Beberapa kekeliruan yang diabaikan masyarakat di bulan Ramadhan
e· Berdo'a ketika hilal sudah terlihat.
Dari Thalhah bin 'Ubaidillah radhiyallahu ‘anhu; Nabi ﷺ apabila melihat bulan sabit beliau mengucapkan:
«اللَّهُمَّ أَهْلِلْهُ
عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَان،ِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَام،ِ رَبِّي
وَرَبُّكَ الله»
“Ya Allah, terbitkanlah bulan tersebut kepada kami dengan berkah, iman,
keselamatan serta Islam! Tuhanku dan Tuhanmu (wahai bulan sabit) adalah Allah”.
[Sunan Tirmidziy: Shahih]
Ø Dari Ibnu
'Umar radhiyallahu ‘anhuma; Rasulullah ﷺ apabila melihat bulan sabit beliau mengucapkan:
«اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ
عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ،
وَالتَّوْفِيقِ لِمَا تحِبُّ وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ الله»
“Ya Allah, terbitkanlah bulan tersebut kepada kami dengan aman, iman,
keselamatan serta Islam, dan taufiq (hidayah menjalankan) segala apa yang
Engkau cintai dan ridhai! Tuhan kami dan Tuhanmu (wahai bulan sabit) adalah
Allah”. [Shahih Ibnu Hibban]
Lihat: Do'a melihat hilal Ramadhan
2.
Adab dalam Menjalani Puasa: Dari Subuh hingga Maghrib.
Mencakup tata laku lahir dan batin selama hari puasa.
a) Sahur dan Berbuka: Mengambil berkah makan sahur dan
menyegerakan berbuka dengan kurma atau air.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَكُلُوا وَاشْرَبُوا
حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ
الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ} [البقرة: 187]
Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari
benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang)
malam. [Al-Baqarah:
187]
Lihat: Makan dan minum di bulan Ramadhan
b) Menjaga Semua Anggota Tubuh: Puasa sejati adalah puasa seluruh
tubuh dari dosa.
· Lidah: Menjaga
dari dusta, ghibah, dan perkataan sia-sia. Jika diajak bertengkar, ucapkan,
"Saya sedang puasa".
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ
الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ، فَإِنْ
سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهِلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ، إِنِّي صَائِمٌ» [صحيح ابن خزيمة وابن حبان]
“Puasa bukan hanya sekedar meninggalkan makan dan minum, akan tetapi
puasa yang sebenarnya adalah meninggalkan perbuatan sia-sia dan ucapan yang
buruk. Maka jika seseorang mencacimu, atau berkelakuan bodoh terhadapmu maka
katakanlah: Sesungguhnya aku sedang puasa, sesungguhnya aku sedang puasa"
[Shahih Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban]
Ø Dalam riwayat
lain:
«مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ
الزُّورِ وَالعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ
وَشَرَابَهُ»
"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta,
maka Allah tidak mengharapkan darinya untuk meninggalkan makanan dan
minumannya". [Shahih Bukhari]
Ø Dari Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu;
قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللَّهِ،
إِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ كَثْرَةِ صَلَاتِهَا، وَصِيَامِهَا، وَصَدَقَتِهَا،
غَيْرَ أَنَّهَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا، قَالَ: «هِيَ فِي النَّارِ» ،
قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَإِنَّ فُلَانَةَ يُذْكَرُ مِنْ قِلَّةِ صِيَامِهَا،
وَصَدَقَتِهَا، وَصَلَاتِهَا، وَإِنَّهَا تَصَدَّقُ بِالْأَثْوَارِ مِنَ
الْأَقِطِ، وَلَا تُؤْذِي جِيرَانَهَا بِلِسَانِهَا، قَالَ: «هِيَ فِي الْجَنَّةِ»
[مسند أحمد:
صحيح]
Seseorang bertanya: Ya Rasulullah, sesungguhnya si Fulanah (seorang
wanita) terkenal dengan banyak melakukan salat, puasa, dan sedekah, akan tetapi
ia menyakiti tetangganya dengan lidahnya? Rasulullah ﷺ bersabda: “Ia adalah penghuni
neraka!" Orang itu bertanya lagi: Ya Rasulullah, si Fulanah yang lain
terkenal dengan sedikit melakukan puasa, sedekah dan salat, ia hanya bersedekah
dengan secuil keju akan tetapi ia tidak menyakiti tetangganya dengan lidahnya?
Rasulullah ﷺ bersabda: “Ia adalah penghuni
surga!" [Musnad Ahmad: Shahih]
Lihat: Jaga puasamu dengan menjaga ucapanmu
· Mata dan Telinga: Menundukkan
pandangan dan menahan diri dari mendengarkan yang haram.
Dari Abu Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«كُتِبَ عَلَى ابْنِ
آدَمَ نَصِيبُهُ مِنَ الزِّنَا، مُدْرِكٌ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ، فَالْعَيْنَانِ
زِنَاهُمَا النَّظَرُ، وَالْأُذُنَانِ زِنَاهُمَا الِاسْتِمَاعُ، وَاللِّسَانُ
زِنَاهُ الْكَلَامُ، وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ، وَالرِّجْلُ زِنَاهَا
الْخُطَا، وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى، وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ
وَيُكَذِّبُهُ» [صحيح
مسلم]
"Telah ditetapkan bagi anak cucu Adam bagian mereka dari zina, akan
menimpa mereka dan tidak lapas darinya. Sesungguhnya mata berzina dengan
pandangan, telinga berzina dengan pendengaran, lidah bezina dengan ucapan,
tangan berzina dengan sentuhan, kaki berzina dengan langkah, hati bernafsu dan
mendabakan, kemudian dilakukan oleh kelamin atau ditinggalkan." [Sahih
Muslim]
Ø Dari Abdullah
bin Mas'ud radiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«اسْتَحْيُوا مِنَ
اللَّهِ حَقَّ الحَيَاءِ». قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا
نَسْتَحْيِي وَالحَمْدُ لِلَّهِ، قَالَ: «لَيْسَ ذَاكَ، وَلَكِنَّ الِاسْتِحْيَاءَ
مِنَ اللَّهِ حَقَّ الحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى، وَالبَطْنَ
وَمَا حَوَى، وَلْتَذْكُرِ المَوْتَ وَالبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَةَ تَرَكَ
زِينَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَقَدْ اسْتَحْيَا مِنَ اللَّهِ حَقَّ
الحَيَاءِ» [سنن
الترمذي: حسن]
"Malulah kalian kepada Allah dengan sebanar-benarnya malu". Para
sahabat menjawab: "Sesungguhnya kami telah merasa malu,
alhamdulullillah!" Rasulullah berkata: "Bukan itu yang saya maksud,
akan tetapi rasa malu kepada Allah yang sebenar-benarnya adalah menjaga kepala
dan semua anggota badan yang ada padanya dari segala maksiat, menjaga perut,
isi dan anggota tubuh sekitarnya dari yang haram, mengingat mati dan kepunahan,
siapa yang menginginkan akhirat ia meninggalkan gemerlap dunia. Barang siapa
yang melakukan hal tersebut berarti ia telah merasa malu kepada Allah dengan
sebenar-benarnya". [Sunan Tirmidzi: Hasan]
Lihat: Hadits Ibnu Mas’ud; Malu kepada Allah yang sebenarnya
c) Tetap Produktif: Jangan menjadikan puasa alasan untuk
bermalas-malasan. Bekerja dengan baik (itqan) juga ibadah.
Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:
{وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ
اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا} [القصص: 77]
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu
(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(kenikmatan) duniawi.
[Al-Qashash: 77]
Ø Salman
Al-Farisiy berkata
kepada Abu Ad-Darda' radhiyallahu 'anhuma:
«إِنَّ لِرَبِّكَ
عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِنَفْسِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَلِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا،
فَأَعْطِ كُلَّ ذِي حَقٍّ حَقَّهُ»
"Sesungguhnya Rabbmu mempunyai hak atasmu, dan jiwamu mempunyai hak
atasmu, dan isterimu mempunyai hak atasmu, maka berilah setiap hak kepada orang
yang berhak". Kemudian Abu Ad-Darda' menemui Nabi ﷺ lalu ia menceritakan hal itu. Maka Beliau bersabda:
"Salman benar". [Shahih Bukhari]
Lihat: Momen Ramadhan, menjaga keseimbangan dalam beribadah dan bekerja
Peperangan kaum muslimin yang terjadi di bulan Ramadhan:
1. Perang Badr 17 Ramadhan tahun 2 hijriyah.
2. Fathu Makkah 10 Ramadhan tahun 8 hijriyah.
3. Perang Al-Qadisiyah 15 hijriyah dipimpin oleh Sa'ad bin Abi Waqqash radhiyallahu 'anhu.
Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu berkata:
«كُنَّا نَغْزُو مَعَ
رَسُولِ اللهِ ﷺ فِي رَمَضَانَ، فَمِنَّا الصَّائِمُ وَمِنَّا الْمُفْطِرُ، فَلَا
يَجِدُ الصَّائِمُ عَلَى الْمُفْطِرِ، وَلَا الْمُفْطِرُ عَلَى الصَّائِمِ،
يَرَوْنَ أَنَّ مَنْ وَجَدَ قُوَّةً فَصَامَ، فَإِنَّ ذَلِكَ حَسَنٌ، وَيَرَوْنَ
أَنَّ مَنْ وَجَدَ ضَعْفًا، فَأَفْطَرَ فَإِنَّ ذَلِكَ حَسَنٌ» [صحيح مسلم]
"Kami pernah ikut berperang bersama Rasulullah ﷺ di bulan Ramadhan. Di antara kami ada yang berpuasa dan ada
pula yang berbuka. Orang yang berpuasa tidak mencela orang yang berbuka begitu
juga orang yang berbuka tidak mencela orang yang berpuasa. Mereka berpendapat
bahwa siapa yang kuat lalu ia berpuasa, maka itu adalah baik, dan siapa yang
merasa lemah hingga ia berbuka, maka itu pun juga baik." [Shahih Muslim]
Lihat: Rasulullah ﷺ di bulan Ramadhan
3.
Adab dalam Ibadah: Memaksimalkan Hubungan Spiritual.
a· Shalat lima waktu secara berjama'ah.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ أَوَّلَ مَا
يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ، فَإِنْ
صَلُحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ،
فَإِنْ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيضَتِهِ شَيْءٌ، قَالَ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ:
انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ فَيُكَمَّلَ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ
الفَرِيضَةِ، ثُمَّ يَكُونُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ» [سنن الترمذي: صحيح]
"Sesungguhnya yang pertama diperiksa pada seorang hamba di hari
kiamat dari amalannya adalah shalat-nya, maka jika sempurna maka beruntunglah
ia dan selamatlah ia, dan jika rusak maka celakalah ia dan rugilah ia. Kemudian
jika ada sesuatu yang kurang dari shalat wajibnya, Allah 'azza wa jalla
berfirman: Periksalah, apakah hamba-Ku memiliki shalat sunnah. Maka dengannya
disempurnakan apa yang kurang dari shalat wajibnya. Kemudian setelah itu amalan
lain diperiksa seperti itu." [Sunan Tirmidziy: Shahih]
b. Al-Quran: Ramadhan adalah bulannya Al-Quran.
Tingkatkan tilawah, tadabur (perenungan), dan upaya memahami maknanya.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{شَهْرُ رَمَضَانَ
الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى
وَالْفُرْقَانِ} [البقرة:
185]
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan)
Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). [Al-Baqarah:185]
Lihat: Ramadhan; Bulan Al-Qur’an
c· Shalat Malam (Qiyam): Dirikan shalat Tarawih dengan
khusyuk, sambil beristighfar. Keutamaan ada pada kekhusyukan dan konsistensi,
terutama pada sepuluh malam terakhir.
Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:
أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ الله ﷺ عَنْ
صَلاَةِ اللَّيْلِ، فَقَالَ رَسُولُ الله عَلَيْهِ السَّلاَمُ: «صَلاَةُ اللَّيْلِ
مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً
تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى» [صحيح البخاري ومسلم]
Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang shalat malam, maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Shalat malam dua-dua raka’at, jika salah
seorang diantara kalian khawatir tibanya waktu shalat Subuh, maka shalat
witirlah satu raka'at."
Lihat: Hadits Ibnu Umar dan Abu Hurairah tentang shalat malam
d· I'tikaf (meraih malam lailatul Qadr): Yaitu: "Tinggalnya seorang
muslim yang mumayyiz (berakal) di suatu mesjid untuk ketaatan kepada Allah
ta’aalaa”.
Dari 'Aisyah -radhiallahu 'anha- isteri Nabi ﷺ:
«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ
كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ الله،
ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Bahwa Nabi ﷺ
beri'tikaf (tinggal di mesjid) pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan
hingga wafatnya kemudian isteri-isteri Beliau beri'tikaf setelah kepergian
Beliau". [Shahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Untukmu yang tidak bisa beri’tikaf
e· Doa dan Dzikir: Perbanyak
dzikir (mengingat Allah) dan doa dengan penuh kerendahan hati, terutama saat
berbuka dan di sepertiga malam terakhir.
Di sela ayat-ayat tentang puasa, Allah subhanahu
wata'ala memerintahkan kitab memperbanyak dzikir dan berjanji mengabulkan
do'a, Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ
الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ
وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (185)
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ ۖ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ
إِذَا دَعَانِ ۖ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ
يَرْشُدُونَ} [البقرة
: 185-186]
Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki
kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu
mengagungkan Allah (dzikir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya
kamu bersyukur. Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka
(jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang
berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala
perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada
dalam kebenaran.
[Al-Baqarah: 185-186]
Lihat: Ramadhan; Bulan do’a - Perbanyak dzikir di bulan Ramadhan
f· Umrah.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ عُمْرَةً فِي
رَمَضَانَ تَقْضِي حَجَّةً أَوْ حَجَّةً مَعِي» [صحيح البخاري ومسلم]
"Sesungguhnya ibadah umrah di bulan Ramadan senilai dengan ibadah
haji atau haji bersamaku". [Sahih Bukhari dan Muslim]
Ø Dari Ummu
Ma'qil radhiyallahu 'anha; Rasulullah ﷺ bersabda:
«عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ
تَعْدِلُ حَجَّةً» [سنن
الترمذي: صحيح]
"Umrah di bulan Ramadan senilai dengan ibadah haji". [Sunan
Tirmidzi: Sahih]
Lihat: Amalan bernilai haji dan umrah
4.
Adab Sosial: Kedermawanan dan Akhlak Mulia.
a) Kedermawanan
dan Sedekah: Tingkatkan
pemberian, mengikuti teladan Nabi ﷺ yang paling dermawan di Ramadhan. Termasuk di dalamnya
menunaikan Zakat al-Fitr.
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:
«كَانَ رَسُولُ الله ﷺ أَجْوَدَ
النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ،
وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ،
فَلَرَسُولُ الله ﷺ أَجْوَدُ بِالخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ المُرْسَلَةِ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Rasulullah ﷺ adalah
manusia yang paling pemurah (dermawan), dan beliau lebih pemurah lagi pada
bulan Ramadhan ketika ditemui oleh Jibril, dan Jibril menemuinya setiap malam
di bulan Ramadhan kemudian mengajarkannya Al-Qur’an. Maka sungguh Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling pemurah dengan kebaikan seperti
angina yang berhembus”. [Sahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Ramadhan; Bulan kedermawanan
b) Sikap dan
Perilaku Baik: Perbanyak kesabaran, kelembutan, dan
memaafkan kesalahan orang lain.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah ﷺ bersabda: Allah ‘azza wa jalla berfirman (dalam hadits
qudsi):
«الصِّيَامُ جُنَّةٌ،
فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ، فَلَا يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلَا
يَسْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ، فَلْيَقُلْ: إِنِّي امْرُؤٌ
صَائِمٌ» [صحيح
البخاري ومسلم]
“Puasa itu adalah pelindung, dan jika seseorang dari kalian sedang puasa
maka janganlah berkata kotor dan berteriak. Jika seseorang menghinanya atau
menyerangnya maka hendakalah ia mengatakan: “Sesungguhnya saya sedang puasa”.
[Sahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Pembinaan akhlak di bulan Ramadhan
c) Komunitas
dan Keluarga: Pererat silaturahmi, saling berbagi
buka puasa, dan pertimbangkan untuk mengadakan halaqah (kajian) keluarga.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«رَحِمَ الله رَجُلًا
قَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّى، وَأَيْقَظَ امْرَأَتَهُ، فَإِنْ أَبَتْ، نَضَحَ
فِي وَجْهِهَا الْمَاءَ، رَحِمَ الله امْرَأَةً قَامَتْ مِنَ اللَّيْلِ فَصَلَّتْ،
وَأَيْقَظَتْ زَوْجَهَا، فَإِنْ أَبَى، نَضَحَتْ فِي وَجْهِهِ الْمَاءَ» [سنن أبي داود: صحيح]
"Allah merahmati seorang laki-laki yang bangun di malam hari
kemudian shalat dan ia membangunkan istrinya, jika istrinya tidak mau bangun ia
percikkan air di wajahnya. Allah merahmati seorang wanita yang bangun di malam
hari kemudian shalat dan ia membangunkan suaminya, jika suaminya tidak mau
bangun ia percikkan air di wajahnya". [Sunan Abu Daud: Sahih]
Lihat: Berjuang bersama keluarga menuju surga
5.
Adab Hati: Penyucian Batin.
a· Keikhlasan dan Kewaspadaan: Jaga puasa dari dalam dengan
menghindari berlebihan saat berbuka dan segala bentuk riya'.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Nabi ﷺ bersabda:
«يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ: الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ
وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِي» [صحيح البخاري ومسلم]
Allah 'azza wajalla berfirman: "Puasa adalah untukku, dan Aku
yang akan memberikan ganjarannya langsung. Meninggalkan syahwatnya, makan dan
minumnya demi Aku". [Sahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Kuatkan keikhlasan dan kesabaran sambut Ramadhan
b· Muhasabah Diri: Gunakan
Ramadhan untuk evaluasi hidup, meninggalkan kebiasaan buruk, dan merencanakan
perubahan positif yang langgeng.
Lihat: Andai ini Ramadhan terakhirku!
Penutup: Aplikasi dan Motivasi.
· Peringatan
dan Harapan:
Dan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ
لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ، وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ
إِلَّا السَّهَرُ» [سنن
ابن ماجه: صحيح]
“Banyak orang yang berpuasa tapi tidak ada yang ia dapat dari puasanya
kecuali rasa lapar, dan banyak orang yang shalat tapi tidak ada yang ia dapat
dari shalatnya kecuali begadang”. [Sunan Ibnu Majah: Sahih]
Sebaliknya, siapa yang berpuasa dengan iman dan pengharapan, dosa-dosanya
yang lalu akan diampuni.
· Doa
Penutup: Ramadhan adalah kesempatan emas untuk transformasi.
Berjuanglah agar puasa kita diterima dan taqwa yang dibina terus berlanjut
setelah Ramadhan.
«اللهُمَّ سَلِّمْنا إلى
رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ لنا رَمَضَانَ، وتسلِّمْه مِنّا مُتقبَّلا»
“Ya Allah .. selamatkan kami sampai Ramadhan, dan sampaikan Ramadhan
kepada kami, dan terimahlah (amalan) Ramadhan dari kami”.
Lihat: Meneladani salafushalih menyambut Ramadhan
Wallahu a'lam!
Sumber pokok materi: “IA DeepSeek” dengan beberapa koreksi dan tambahan ayat Al-Qur'an dan hadits.
Lihat juga: Menyuburkan Iman, Memanen Pahala: Merawat Hubungan dengan Al-Qur'an - Ramadhan orang shalih terdahulu - Urgensi adab dalam tatanan masyarakat
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...