Surah "Al-Qadr" adalah surah yang ke 97 dalam Al-Qur'an, termasuk surah
Makkiyah terdiri dari 5 ayat.
Dinamai surah Al-Qadr karena menceritakan tentang keutamaan malam “lailatul
qadr”.
Lihat: Malam "Lailatul Qadr"
Hubungan surah ini dengan surah sebelum dan
setelahnya
Surah Ini bercerita tentang waktu awal turunnya wahyu (Al-Qur’an) kepada
Nabi Muhammad ﷺ,
sedangkan surah sebelumnya "Al-'Alaq" menyebutkan wahyu pertama yang
diturunkan.
Sedangkan surah setelahnya "Al-Bayyinah", menjelaskan bagaimana
sikap orang-orang kafir dan musyrik yang mendustakan Al-Qur’an setelah
diturunkan.
Ayat pertama
{إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ}
Sesungguhnya Kami telah
menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan (lailatul qadr).
1.
Al-Qur’an turun di bulan Ramadhan pada malam “lailatul
qadr” hari Senin.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{شَهْرُ رَمَضَانَ
الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى
وَالْفُرْقَانِ} [البقرة:
185]
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya (permulaan) diturunkan
Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). [Al-Baqarah:185]
Ø Dari Watsilah
bin Al-Asqa' radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«أُنْزِلَتْ صُحُفُ
إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ،
وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ
لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْفُرْقَانُ لِأَرْبَعٍ
وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ» [مسند أحمد: حسنه الألباني]
“Suhuf Ibrahim 'alaihissalam diturunkan pada awal malam bulan
Ramadhan, dan Taurat diturunkan pada enam hari lewat bulan Ramadhan, dan Injil
pada tigabelas hari lewat Ramadhan, dan Al-Qur'an turun pada hari duapuluh
empat lewat Ramadhan”. [Musnad Ahmad: Hasan]
Ø Abu Qatadah
Al-Anshariy radhiyallahu
'anhu berkata: Rasulullah ﷺ
ditanya tentang puasa hari Senin?
Rasulullah menjawab:
«ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ
فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ - أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ -» [صحيح مسلم]
"Itu adalah hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus -atau: aku
dituruni wahyu-". [Shahih Muslim]
Lihat: Hadits Aisyah; Awal turunya wahyu di gua Hira
2.
Apakah Al-Qur’an turun secara keseluruhan atau
berangsuran?
Ulama berbeda pendapat dalam hal ini:
Pendapat pertama: Al-Qur’an
turun secara keseluruhan di langit dunia kemudian turun secara berangsuran
kepada Nabi ﷺ selama 23 tahun.
Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:
أُنْزِلَ الْقُرْآنُ فِي لَيْلَةِ
الْقَدْرِ مِنَ السَّمَاءِ الْعُلْيَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا جُمْلَةً
وَاحِدَةً، ثُمَّ فُرِقَ فِي السِّنِينَ قَالَ: وَتَلَا هَذِهِ الْآيَةَ {فَلَا
أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ} [الواقعة: 75] قَالَ: «نَزَلَ مُتَفَرِّقًا» [المستدرك على الصحيحين للحاكم: صحيح]
“Al-Qur’an turun pada malam lailatul qadr dari langit tertinggi ke langit
dunia secara keseluruhan, kemudian diturunkan secara berangsuran selama
beberapa tahun”, kemudian Ibnu ‘Abbas membaca ayat ini: {Lalu Aku bersumpah
dengan tempat beredarnya bintang-bintang} [Al-Waqi’ah: 75] Ibnu ‘Abbas berkata:
“Al-Qur’an turun berangsuran”. [Al-Mustadrak karya Al-Hakim: Shahih]
Pendapat kedua: Al-Qur’an tidak turun secara
keseluruhan.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ
لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا} [الإسراء: 106]
Dan Al-Qur'an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau
(Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya
secara bertahap.
[Al-Isra': 106]
{وَقَالَ الَّذِينَ
كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ
لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا} [الفرقان: 32]
Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al-Quran itu
tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; Demikianlah supaya Kami
perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar).
[Al-Furqan: 32]
Lihat: Sejarah turunya Al-Qur'an dan pengkodifikasiannya
Ayat kedua
{وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ}
Dan tahukah kamu apakah
malam kemuliaan itu?
Kenapa dinamai “lailatul qadr”?
1. “Qadr” artinya mulia dan agung, “lailatul qadr” malam yang mulia dan
agung.
2. “Qadr” artinya sempit, “lailatul qadr” malam yang sempit karena bumi
pada waktu itu dipadati oleh para malaikat.
3. “Qadr” artinya hukum dan ketetapan, “lailatul qadr” malam penetapan
hukum, di malam itu takdir untuk tahun itu ditetapkan.
4. Pada malam itu diturunkan kitab yang mulia (Al-Qur’an) dan malaikat
yang mulia.
Lihat: Ramadhan bulan penuh rahmat
Ayat ketiga
{لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ}
Malam kemuliaan itu
lebih baik dari seribu bulan.
1)
Makna “lebih
baik dari seribu bulan”:
Imam Ath-Thabariy –rahimahullah- berkata:
«وَأَشْبَهُ الْأَقْوَالِ
فِي ذَلِكَ بِظَاهِرِ التَّنْزِيلِ قَوْلُ مَنْ قَالَ: عَمَلٌ فِي لَيْلَةِ
الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِ أَلْفِ شَهْرٍ، لَيْسَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ.
وَأَمَّا الْأَقْوَالُ الْأَخَرُ، فَدَعَاوَى مَعَانٍ بَاطِلَةٍ، لَا دَلَالَةَ عَلَيْهَا
مِنْ خَبَرٍ وَلَا عَقْلٍ، وَلَا هِيَ مَوْجُودَةٌ فِي التَّنْزِيلِ» [تفسير الطبري = جامع البيان]
“Pendapat yang terkuat tentang hal ini sebagaimana dzahirnya Al-Qur’an
adalah pendapat yang mengatakan bahwa amalan di malam lailatul qaddr lebih baik
dari amalan seribu bulan yang tidak ada lailatul qadri-nya. Adapun pendapat
yang lain, maka hanya anggapan yang mengandung makna bathil, tidak ada dalilnya
dari hadits maupun akal, dan tidak pula disebutkan dalam Al-Qur’an”. [Tafsir
Ath-Thabariy]
2)
Yang tidak
memanfaatkan “lailatul qadr” dengan ibadah berarti terhalang dari segala
kebaikan.
Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: Ketika Ramadhan tiba,
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ
قَدْ حَضَرَكُمْ، وَفِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَهَا
فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ، وَلَا يُحْرَمُ خَيْرَهَا إِلَّا مَحْرُومٌ» [سنن ابن ماجه: حسن صحيح]
"Sesungguhnya bulan ini telah hadir kepada kalian. Di bulan ini ada
satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa diharamkan darinya,
maka dia telah diharamkan kebaikan semuanya. Dan tidak diharamkan kebaikannya
kecuali bagi yang terhalang dari kebaikan. " [Sunan Ibnu Majah: Hasan
shahih]
Lihat: Ramadhan bulan penuh berkah
Ayat keempat
{تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا
بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ}
Pada malam itu turun
malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur
segala urusan.
1.
Berapa jumlah malaikat yang turun ke bumi di malam “lailatul
qadr”?
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah ﷺ bersabda tentang lailatul qadr:
«إِنَّهَا لَيْلَةُ
سَابِعَةٍ - أَوْ تَاسِعَةٍ - وَعِشْرِينَ، إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تِلْكَ
اللَّيْلَةَ فِي الْأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى» [مسند أحمد: حسن]
"Sesungguhnya itu adalah malam ke duapuluh tujuh, atau dua puluh
sembilan, dan sesungguhnya pada malam itu jumlah malaikat (yang turun) di bumi
lebih banyak dari jumlah pasir." [Musnad Ahmad: Hasan ligairih]
Lihat: Iman kepada malaikat
2.
“Ar-Ruuh” yang dimaksud dalam ayat ini adalah malaikat
Jibril ‘alaihissalam.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ
رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ} [الشعراء : 192-193]
Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh
Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). [Asy-Syu'araa: 192-193]
{قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ
الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى
وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ} [النحل : 102]
Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran
itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah
beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang
berserah diri (kepada Allah)". [An-Nahl: 102]
Lihat: Tugas malaikat Jibril
3.
Di malam "lailatul qadr" Allah
menentukan apa yang akan terjadi pada tahun itu.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ
فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ
أَمْرٍ حَكِيمٍ (4) أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا} [الدخان: 3 - 5]
Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam
yang diberkahi (lailatul qadr) dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi
peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan* yang penuh hikmah, (yaitu)
urusan yang besar dari sisi kami. [Ad-Dukhaan: 3-5]
* Yang dimaksud dengan urusan-urusan di sini ialah segala perkara yang
berhubungan dengan kehidupan makhluk seperti: hidup, mati, rezki, untung baik,
untung buruk dan sebagainya.
Ø Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:
«يَكْتُبُ مِنْ أُمِّ
الْكِتَابِ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ مَا هُوَ كَائِنٌ فِي السَّنَةِ مِنَ
الْخَيْرِ، وَالشَّرِّ، وَالْأَرْزَاقِ، وَالْآجَالِ، حَتَّى الْحُجَّاجِ،
يُقَالُ: يَحُجُّ فُلَانٌ، وَيَحُجُّ فُلَانٌ» [تفسير البغوي]
“Dicatat pada "lauhul mahfudz" di malam "lailatul
qadr" apa yang akan terjadi dalam setahun tentang kebaikan, keburukan,
rezki, dan ajal, sampai orang-orang yang akan menunaikan haji. Dikatakan:
"Si fulan dan si fulan akan menunaikan haji tahun ini".” [Tafsir
Al-Bagawiy]
Ø Al-Hasan
Al-Bashriy, Mujahid,
dan Qatadah rahimahumullah berkata:
«يُبْرَمُ فِي لَيْلَةِ
الْقَدْرِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ كُلُّ أَجَلٍ، وَعَمَلٍ، وَخَلْقٍ، وَرِزْقٍ،
وَمَا يَكُونُ فِي تِلْكَ السَّنَةِ» [تفسير البغوي]
“Ditetapkan pada malam "lailatul qadr" di bulan Ramadhan semua
ajal, amalan, ciptaan, rezki, dan semua yang akan terjadi pada tahun itu”.
[Tafsir Al-Bagawiy]
Lihat: Tingkatan Iman kepada Takdir
Ayat kelima
{سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ}
Malam itu (penuh)
kesejahteraan sampai terbit fajar.
1.
Rasulullah lupa
ketetapan waktu turunnya “lailatul qadr”
Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ keluar untuk menyampaikan waktu turunnya lailatul qadr, lalu
dua orang muslim saling berselisih. Maka Rasulullah bersabda:
«إِنِّي خَرَجْتُ
لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، وَإِنَّهُ تَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ،
فَرُفِعَتْ» [صحيح
البخاري]
“Sesungguhnya aku keluar untuk memberitahukan kepada kalian tentang
lailatul qadr akan tetapi si Fulan dan si Fulan saling berselisih maka
pengetahuan itu diangkat”. [Sahih Bukhari]
* Hikmah penentuan lailatul qadr diangkat, agar kita senantiasa berusaha
mendapatkan keutamaannya di setiap malam.
2.
Ulama
berselisih pendapat tentang kemungkinan waktu terjadinya "lailatul
qadr":
Pendapat yang paling kuat adalah sepuluh malam terakhir Ramadhan
khususnya pada malam-malam ganjil.
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha; Rasulullah ﷺ bersabda:
«تَحَرَّوْا لَيْلَةَ
القَدْرِ فِي الوِتْرِ، مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Berusahalah mendapatkan lailatul qadr pada malam-malam ganjil di
sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan". [Sahih Bukhari dan Muslim]
Ø Dari Abu
Sa'id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«فَابْتَغُوهَا فِي
العَشْرِ الأَوَاخِرِ، وَابْتَغُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Maka carilah lalitul qadr pada sepuluh akhir Ramadhan, dan carilah
ia pada setiap malam ganjil". [Sahih Bukhari dan Muslim]
Ø Dari Abdullah
bin Umar radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَرَى رُؤْيَاكُمْ فِي
الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، فَاطْلُبُوهَا فِي الْوِتْرِ مِنْهَا» [صحيح مسلم]
"Aku melihat mimpi kalian (tentang lailatul qadr) terjadi pada
sepulu terakhir (Ramadhan), maka carilah ia pada malam-malam ganjilnya".
[Sahih Muslim]
Lihat: Bersungguh-sungguh di 10 terakhir Ramadhan
3.
Mencari “lailatu
qadr” dengan memperbanyak ibadah.
Aisyah -radhiallahu 'anha- berkata;
«كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَجْتَهِدُ
فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ» [صحيح مسلم]
"Pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan Rasulullah ﷺ lebih giat beribadah melebihi hari-hari selainnya."
[Shahih Muslim]
Ø Aisyah -radhiallahu 'anha- berkata;
«كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا
دَخَلَ الْعَشْرُ، أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ
الْمِئْزَرَ» [صحيح
البخاري ومسلم]
“Ketika Rasulullah ﷺ memasuki
sepuluh terakhir (Ramadhan), maka beliau menghidupkan malam-malamnya (dengan
qiyamullail) dan membangunkan keluarganya serta menambah ibadahnya dan
mengencangkan ikatan kainnya (menjauhi isterinya untuk lebih konsentrasi
beribadah)." [Shahih Bukhari dan Muslim]
4.
I’tikaf untuk
mendapatkan “lailatul qadr”.
Dari 'Aisyah -radhiallahu 'anha- isteri Nabi ﷺ:
«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ
يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ
اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Bahwa Nabi ﷺ beri'tikaf
(tinggal di mesjid) pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya
kemudian isteri-isteri Beliau beri'tikaf setelah kepergian Beliau”. [Shahih
Bukhari dan Muslim]
Ø Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata:
«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ
فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشَرَةَ أَيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ العَامُ الَّذِي قُبِضَ
فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا» [صحيح البخاري]
“Nabi ﷺ selalu beri'tikaf pada bulan Ramadhan
selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri'tikaf selama dua
puluh hari". [Shahih Bukhari]
Lihat: Untukmu yang tidak bisa beri’tikaf
5.
Ampunan bagi
yang shalat di malam “lailatul qadr”.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَنْ قَامَ لَيْلَةَ
القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» [صحيح البخاري ومسلم]
"Barangsiapa yang mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan dengan
keimanan dan harapan, maka diampuni untuknya semua dosanya yang telah lalu, dan
barangsiapa yang mendirikan shalat di malam lailatul Qadr dengan keimanan dan
harapan, maka diampuni untuknya semua dosanya yang telah lalu". [Sahih
Bukhari dan Muslim]
Lihat: Ampunan Allah di bulan Ramadhan
6.
Do’a “lailatul
qadr”.
Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya: Ya Rasulullah, menurutmu jika aku
tahu saatnya malam lailatul qadr, apa yang seharusnya aku katakan pada waktu
itu?
Rasulullah ﷺ menjawab:
Ucapkan ...
«اللَّهُمَّ إِنَّكَ
عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ»
"Ya Allah .. sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Pemurah suka
memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku." [Sunan Tirmidzi: Sahih]
Lihat: Hadits Aisyah; Do’a malam lailatul qadr
7.
Tanda “lailatul
qadr” telah turun
Telah dikatakan kepada Ubay bin Ka'ab bahwa Abdullah bin Mas'ud -radhiyallahu
‘anhuma- berkata: "Siapa yang melakukan shalat malam sepanjang tahun,
niscaya ia akan menemui malam Lailatul Qadr."
Maka Ubay -radhiyallahu ‘anhu- berkata:
«وَاللهِ الَّذِي لَا
إِلَهَ إِلَّا هُوَ، إِنَّهَا لَفِي رَمَضَانَ، يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِي،
وَوَاللهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ، هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي
أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ بِقِيَامِهَا، هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ
وَعِشْرِينَ، وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا
بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا» [صحيح مسلم]
"Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah,
sesungguhnya malam itu (lailatul qadr) terdapat dalam bulan Ramadlan. –Ubay
bersumpah tanpa rugu- Dan demi Allah, sesungguhnya aku tahu malam apakah itu.
Lailatul Qadr itu adalah malam, dimana Rasulullah ﷺ memerintahkan kami untuk menegakkan shalat di dalamnya, malam
itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan
Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah, pada pagi harinya matahari terbit berwarna
putih tanpa sinar yang menyorot." [Shahih Muslim]
Wallahu a'lam!
Lihat juga: Tafsir Surah As-Sajdah - Tafsir surah "Al-Qari'ah" - Tafsir Surah "At-Takatsur"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...