Sabtu, 14 Maret 2026

Tafsir Surah Al-Qadr

Surah "Al-Qadr" adalah surah yang ke 97 dalam Al-Qur'an, termasuk surah Makkiyah terdiri dari 5 ayat.

Dinamai surah Al-Qadr karena menceritakan tentang keutamaan malam “lailatul qadr”.

Lihat: Malam "Lailatul Qadr"

Hubungan surah ini dengan surah sebelum dan setelahnya

Surah Ini bercerita tentang waktu awal turunnya wahyu (Al-Qur’an) kepada Nabi Muhammad , sedangkan surah sebelumnya "Al-'Alaq" menyebutkan wahyu pertama yang diturunkan.

Sedangkan surah setelahnya "Al-Bayyinah", menjelaskan bagaimana sikap orang-orang kafir dan musyrik yang mendustakan Al-Qur’an setelah diturunkan.

Ayat pertama

{إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ}

Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Quran) pada malam kemuliaan (lailatul qadr).

1.      Al-Qur’an turun di bulan Ramadhan pada malam “lailatul qadr” hari Senin.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ} [البقرة: 185]

Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya (permulaan) diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). [Al-Baqarah:185]

Ø  Dari Watsilah bin Al-Asqa' radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ، وَأُنْزِلَ الْفُرْقَانُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ» [مسند أحمد: حسنه الألباني]

“Suhuf Ibrahim 'alaihissalam diturunkan pada awal malam bulan Ramadhan, dan Taurat diturunkan pada enam hari lewat bulan Ramadhan, dan Injil pada tigabelas hari lewat Ramadhan, dan Al-Qur'an turun pada hari duapuluh empat lewat Ramadhan”. [Musnad Ahmad: Hasan]

Ø  Abu Qatadah Al-Anshariy radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ditanya tentang puasa hari Senin?

Rasulullah menjawab:

«ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ - أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيهِ -» [صحيح مسلم]

"Itu adalah hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus -atau: aku dituruni wahyu-". [Shahih Muslim]

Lihat: Hadits Aisyah; Awal turunya wahyu di gua Hira

2.      Apakah Al-Qur’an turun secara keseluruhan atau berangsuran?

Ulama berbeda pendapat dalam hal ini:

Pendapat pertama: Al-Qur’an turun secara keseluruhan di langit dunia kemudian turun secara berangsuran kepada Nabi selama 23 tahun.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata:

أُنْزِلَ الْقُرْآنُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ مِنَ السَّمَاءِ الْعُلْيَا إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا جُمْلَةً وَاحِدَةً، ثُمَّ فُرِقَ فِي السِّنِينَ قَالَ: وَتَلَا هَذِهِ الْآيَةَ {فَلَا أُقْسِمُ بِمَوَاقِعِ النُّجُومِ} [الواقعة: 75] قَالَ: «نَزَلَ مُتَفَرِّقًا» [المستدرك على الصحيحين للحاكم: صحيح]

“Al-Qur’an turun pada malam lailatul qadr dari langit tertinggi ke langit dunia secara keseluruhan, kemudian diturunkan secara berangsuran selama beberapa tahun”, kemudian Ibnu ‘Abbas membaca ayat ini: {Lalu Aku bersumpah dengan tempat beredarnya bintang-bintang} [Al-Waqi’ah: 75] Ibnu ‘Abbas berkata: “Al-Qur’an turun berangsuran”. [Al-Mustadrak karya Al-Hakim: Shahih]

Pendapat kedua: Al-Qur’an tidak turun secara keseluruhan.

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلًا} [الإسراء: 106]

Dan Al-Qur'an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap. [Al-Isra': 106]

{وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا نُزِّلَ عَلَيْهِ الْقُرْآنُ جُمْلَةً وَاحِدَةً كَذَلِكَ لِنُثَبِّتَ بِهِ فُؤَادَكَ وَرَتَّلْنَاهُ تَرْتِيلًا} [الفرقان: 32]

Berkatalah orang-orang yang kafir: "Mengapa Al-Quran itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja?"; Demikianlah supaya Kami perkuat hatimu dengannya dan Kami membacanya secara tartil (teratur dan benar). [Al-Furqan: 32]

Lihat: Sejarah turunya Al-Qur'an dan pengkodifikasiannya

Ayat kedua

{وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ}

Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?

Kenapa dinamai “lailatul qadr”?

1. “Qadr” artinya mulia dan agung, “lailatul qadr” malam yang mulia dan agung.

2. “Qadr” artinya sempit, “lailatul qadr” malam yang sempit karena bumi pada waktu itu dipadati oleh para malaikat.

3. “Qadr” artinya hukum dan ketetapan, “lailatul qadr” malam penetapan hukum, di malam itu takdir untuk tahun itu ditetapkan.

4. Pada malam itu diturunkan kitab yang mulia (Al-Qur’an) dan malaikat yang mulia.

Lihat: Ramadhan bulan penuh rahmat

Ayat ketiga

{لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ}

Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.

1)      Makna “lebih baik dari seribu bulan”:

Imam Ath-Thabariyrahimahullah- berkata:

«وَأَشْبَهُ الْأَقْوَالِ فِي ذَلِكَ بِظَاهِرِ التَّنْزِيلِ قَوْلُ مَنْ قَالَ: عَمَلٌ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِ أَلْفِ شَهْرٍ، لَيْسَ فِيهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ. وَأَمَّا الْأَقْوَالُ الْأَخَرُ، فَدَعَاوَى مَعَانٍ بَاطِلَةٍ، لَا دَلَالَةَ عَلَيْهَا مِنْ خَبَرٍ وَلَا عَقْلٍ، وَلَا هِيَ مَوْجُودَةٌ فِي التَّنْزِيلِ» [تفسير الطبري = جامع البيان]

“Pendapat yang terkuat tentang hal ini sebagaimana dzahirnya Al-Qur’an adalah pendapat yang mengatakan bahwa amalan di malam lailatul qaddr lebih baik dari amalan seribu bulan yang tidak ada lailatul qadri-nya. Adapun pendapat yang lain, maka hanya anggapan yang mengandung makna bathil, tidak ada dalilnya dari hadits maupun akal, dan tidak pula disebutkan dalam Al-Qur’an”. [Tafsir Ath-Thabariy]

2)      Yang tidak memanfaatkan “lailatul qadr” dengan ibadah berarti terhalang dari segala kebaikan.

Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu berkata: Ketika Ramadhan tiba, Rasulullah bersabda:

«إِنَّ هَذَا الشَّهْرَ قَدْ حَضَرَكُمْ، وَفِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، مَنْ حُرِمَهَا فَقَدْ حُرِمَ الْخَيْرَ كُلَّهُ، وَلَا يُحْرَمُ خَيْرَهَا إِلَّا مَحْرُومٌ» [سنن ابن ماجه: حسن صحيح]

"Sesungguhnya bulan ini telah hadir kepada kalian. Di bulan ini ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa diharamkan darinya, maka dia telah diharamkan kebaikan semuanya. Dan tidak diharamkan kebaikannya kecuali bagi yang terhalang dari kebaikan. " [Sunan Ibnu Majah: Hasan shahih]

Lihat: Ramadhan bulan penuh berkah

Ayat keempat

{تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ}

Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.

1.      Berapa jumlah malaikat yang turun ke bumi di malam “lailatul qadr”?

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah bersabda tentang lailatul qadr:

«إِنَّهَا لَيْلَةُ سَابِعَةٍ - أَوْ تَاسِعَةٍ - وَعِشْرِينَ، إِنَّ الْمَلَائِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِي الْأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى» [مسند أحمد: حسن]

"Sesungguhnya itu adalah malam ke duapuluh tujuh, atau dua puluh sembilan, dan sesungguhnya pada malam itu jumlah malaikat (yang turun) di bumi lebih banyak dari jumlah pasir." [Musnad Ahmad: Hasan ligairih]

Lihat: Iman kepada malaikat

2.      Ar-Ruuh” yang dimaksud dalam ayat ini adalah malaikat Jibril ‘alaihissalam.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{وَإِنَّهُ لَتَنزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ (192) نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الْأَمِينُ} [الشعراء : 192-193]

Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril). [Asy-Syu'araa: 192-193]

{قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِن رَّبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَىٰ لِلْمُسْلِمِينَ} [النحل : 102]

Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". [An-Nahl: 102]

Lihat: Tugas malaikat Jibril

3.      Di malam "lailatul qadr" Allah menentukan apa yang akan terjadi pada tahun itu.

Allah subhanahu wata'ala berfirman:

{إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4) أَمْرًا مِنْ عِنْدِنَا} [الدخان: 3 - 5]

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur’an) pada suatu malam yang diberkahi (lailatul qadr) dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan* yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. [Ad-Dukhaan: 3-5]

* Yang dimaksud dengan urusan-urusan di sini ialah segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk seperti: hidup, mati, rezki, untung baik, untung buruk dan sebagainya.

Ø  Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:

«يَكْتُبُ مِنْ أُمِّ الْكِتَابِ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ مَا هُوَ كَائِنٌ فِي السَّنَةِ مِنَ الْخَيْرِ، وَالشَّرِّ، وَالْأَرْزَاقِ، وَالْآجَالِ، حَتَّى الْحُجَّاجِ، يُقَالُ: يَحُجُّ فُلَانٌ، وَيَحُجُّ فُلَانٌ» [تفسير البغوي]

“Dicatat pada "lauhul mahfudz" di malam "lailatul qadr" apa yang akan terjadi dalam setahun tentang kebaikan, keburukan, rezki, dan ajal, sampai orang-orang yang akan menunaikan haji. Dikatakan: "Si fulan dan si fulan akan menunaikan haji tahun ini".” [Tafsir Al-Bagawiy]

Ø  Al-Hasan Al-Bashriy, Mujahid, dan Qatadah rahimahumullah berkata:

«يُبْرَمُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ كُلُّ أَجَلٍ، وَعَمَلٍ، وَخَلْقٍ، وَرِزْقٍ، وَمَا يَكُونُ فِي تِلْكَ السَّنَةِ» [تفسير البغوي]

“Ditetapkan pada malam "lailatul qadr" di bulan Ramadhan semua ajal, amalan, ciptaan, rezki, dan semua yang akan terjadi pada tahun itu”. [Tafsir Al-Bagawiy]

Lihat: Tingkatan Iman kepada Takdir

Ayat kelima

{سَلَامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ}

Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.

1.      Rasulullah lupa ketetapan waktu turunnya “lailatul qadr

Ubadah bin Ash-Shamit radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah keluar untuk menyampaikan waktu turunnya lailatul qadr, lalu dua orang muslim saling berselisih. Maka Rasulullah bersabda:

«إِنِّي خَرَجْتُ لِأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، وَإِنَّهُ تَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ، فَرُفِعَتْ» [صحيح البخاري]

“Sesungguhnya aku keluar untuk memberitahukan kepada kalian tentang lailatul qadr akan tetapi si Fulan dan si Fulan saling berselisih maka pengetahuan itu diangkat”. [Sahih Bukhari]

* Hikmah penentuan lailatul qadr diangkat, agar kita senantiasa berusaha mendapatkan keutamaannya di setiap malam.

2.      Ulama berselisih pendapat tentang kemungkinan waktu terjadinya "lailatul qadr":

Pendapat yang paling kuat adalah sepuluh malam terakhir Ramadhan khususnya pada malam-malam ganjil.

Dari Aisyah radhiyallahu 'anha; Rasulullah bersabda:

«تَحَرَّوْا لَيْلَةَ القَدْرِ فِي الوِتْرِ، مِنَ العَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ» [صحيح البخاري ومسلم]

"Berusahalah mendapatkan lailatul qadr pada malam-malam ganjil di sepuluh terakhir dari bulan Ramadhan". [Sahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Dari Abu Sa'id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«فَابْتَغُوهَا فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ، وَابْتَغُوهَا فِي كُلِّ وِتْرٍ» [صحيح البخاري ومسلم]

"Maka carilah lalitul qadr pada sepuluh akhir Ramadhan, dan carilah ia pada setiap malam ganjil". [Sahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah bersabda:

«أَرَى رُؤْيَاكُمْ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، فَاطْلُبُوهَا فِي الْوِتْرِ مِنْهَا» [صحيح مسلم]

"Aku melihat mimpi kalian (tentang lailatul qadr) terjadi pada sepulu terakhir (Ramadhan), maka carilah ia pada malam-malam ganjilnya". [Sahih Muslim]

Lihat: Bersungguh-sungguh di 10 terakhir Ramadhan

3.      Mencari “lailatu qadr” dengan memperbanyak ibadah.

Aisyah -radhiallahu 'anha- berkata;

«كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَجْتَهِدُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ، مَا لَا يَجْتَهِدُ فِي غَيْرِهِ» [صحيح مسلم]

"Pada sepuluh terakhir bulan Ramadhan Rasulullah lebih giat beribadah melebihi hari-hari selainnya." [Shahih Muslim]

Ø  Aisyah -radhiallahu 'anha- berkata;

«كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ، أَحْيَا اللَّيْلَ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ، وَجَدَّ وَشَدَّ الْمِئْزَرَ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Ketika Rasulullah memasuki sepuluh terakhir (Ramadhan), maka beliau menghidupkan malam-malamnya (dengan qiyamullail) dan membangunkan keluarganya serta menambah ibadahnya dan mengencangkan ikatan kainnya (menjauhi isterinya untuk lebih konsentrasi beribadah)." [Shahih Bukhari dan Muslim]

4.      I’tikaf untuk mendapatkan “lailatul qadr”.

Dari 'Aisyah -radhiallahu 'anha- isteri Nabi :

«أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Bahwa Nabi beri'tikaf (tinggal di mesjid) pada sepuluh hari yang akhir dari Ramadhan hingga wafatnya kemudian isteri-isteri Beliau beri'tikaf setelah kepergian Beliau”. [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata:

«كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَعْتَكِفُ فِي كُلِّ رَمَضَانٍ عَشَرَةَ أَيَّامٍ، فَلَمَّا كَانَ العَامُ الَّذِي قُبِضَ فِيهِ اعْتَكَفَ عِشْرِينَ يَوْمًا» [صحيح البخاري]

“Nabi selalu beri'tikaf pada bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Namun pada tahun wafatnya, Beliau beri'tikaf selama dua puluh hari". [Shahih Bukhari]

Lihat: Untukmu yang tidak bisa beri’tikaf

5.      Ampunan bagi yang shalat di malam “lailatul qadr”.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

«مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» [صحيح البخاري ومسلم]

"Barangsiapa yang mendirikan shalat malam di bulan Ramadhan dengan keimanan dan harapan, maka diampuni untuknya semua dosanya yang telah lalu, dan barangsiapa yang mendirikan shalat di malam lailatul Qadr dengan keimanan dan harapan, maka diampuni untuknya semua dosanya yang telah lalu". [Sahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Ampunan Allah di bulan Ramadhan

6.      Do’a “lailatul qadr”.

Aisyah radhiyallahu 'anha bertanya: Ya Rasulullah, menurutmu jika aku tahu saatnya malam lailatul qadr, apa yang seharusnya aku katakan pada waktu itu?

Rasulullah menjawab: Ucapkan ...

«اللَّهُمَّ إِنَّكَ عُفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ»

"Ya Allah .. sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan Pemurah suka memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku." [Sunan Tirmidzi: Sahih]

Lihat: Hadits Aisyah; Do’a malam lailatul qadr

7.      Tanda “lailatul qadr” telah turun

Telah dikatakan kepada Ubay bin Ka'ab bahwa Abdullah bin Mas'ud -radhiyallahu ‘anhuma- berkata: "Siapa yang melakukan shalat malam sepanjang tahun, niscaya ia akan menemui malam Lailatul Qadr."

Maka Ubay -radhiyallahu ‘anhu- berkata:

«وَاللهِ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ، إِنَّهَا لَفِي رَمَضَانَ، يَحْلِفُ مَا يَسْتَثْنِي، وَوَاللهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ، هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ بِقِيَامِهَا، هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ، وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِي صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لَا شُعَاعَ لَهَا» [صحيح مسلم]

"Demi Allah yang tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah, sesungguhnya malam itu (lailatul qadr) terdapat dalam bulan Ramadlan. –Ubay bersumpah tanpa rugu- Dan demi Allah, sesungguhnya aku tahu malam apakah itu. Lailatul Qadr itu adalah malam, dimana Rasulullah memerintahkan kami untuk menegakkan shalat di dalamnya, malam itu adalah malam yang cerah yaitu malam ke dua puluh tujuh (dari bulan Ramadlan). Dan tanda-tandanya ialah, pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa sinar yang menyorot." [Shahih Muslim]

Wallahu a'lam!

Lihat juga: Tafsir Surah As-Sajdah - Tafsir surah "Al-Qari'ah" - Tafsir Surah "At-Takatsur"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...