بسم
الله الرحمن الرحيم
Bagian 1: Pendahuluan
A. Latar Belakang
· Kondisi umat Islam kontemporer: antara tantangan dan peluang
· Kebutuhan mendesak untuk mengembalikan keshalihan sebagai fondasi
kehidupan
· Keshalihan sebagai solusi multidimensi bagi problematika umat.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي
الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ
الصَّالِحُونَ} [الأنبياء
: 105]
Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami
tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang
saleh. [Al-Anbiyaa
': 105]
Ada dua penafsiran kata “bumi” dalam ayat ini:
Pertama, surga di akhirat. Dan kedua, bumi di dunia. [Tafsir As-Sa’diy]
{وَمَا كَانَ رَبُّكَ
لِيُهْلِكَ الْقُرَىٰ بِظُلْمٍ وَأَهْلُهَا مُصْلِحُونَ} [هود : 117]
Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri
dengan kedzaliman, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan. [Huud: 117]
Makna “kedzaliman” dalam ayat ini ada dua: Pertama
Allah tidak mendzalimi. Kedua, kedzaliman yang dilakukan oleh penduduk negeri.
Ø Dari Zainab
bint Jahsy radhiyallahu 'anha;
يَا رَسُولَ الله نَهْلِكُ وَفِينَا
الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: «نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الخَبَثُ»
Ya Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan padahal diantara kami ada
orang-orang yang salih? Rasulullah ﷺ menjawab: "Iya, jika keburukan (maksiat) sudah
banyak". [Shahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Hadits Zainab binti Jahsy; Maksiat sebab kebinasaan
B. Definisi Keshalihan
1) Bahasa: Kebaikan, ketaatan, kebenaran.
2) Istilah: Kondisi jiwa yang terdorong untuk
melaksanakan kewajiban, menjauhi larangan, dan melakukan amalan sunnah.
Keshalihan (ash-Shalâh) menurut Imam Abu Ja'far ath-Thabari rahimahullah
adalah:
«لفظ عام يشمل الصلاح في
استواء الخلق، والصلاح في الدين، والصلاح في العقل والتدبير»
"Ungkapan umum yang mencakup kebaikan dalam kesempurnaan fisik,
kebaikan dalam agama, serta kebaikan dalam akal dan pengaturan
(kebijaksanaan)". [Tafsir Ath-Thabariy 10/622]
Ø As-Sam'aniy rahimahullah mendefinisikan
"keshalihan" dengan ucapannya:
«الصلاح هو الاستقامة على
ما توجبه الشريعة»
"Kebaikan adalah keteguhan dalam menjalankan apa yang diwajibkan
oleh Syariat". [Tafsir As-Sam'aniy: 3/478]
3) Cakupan: Shalih secara individu (al-fard) dan
kolektif (al-jama'ah)
Abdullah bin 'Amru bin Al-'Ash radhiyallahu 'anhuma berkata;
Suatu hari ketika kami sedang berada bersama Rasulullah ﷺ, beliau bersabda:
«طُوبَى لِلْغُرَبَاءِ»،
فَقِيلَ: مَنِ الْغُرَبَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «أُنَاسٌ صَالِحُونَ، فِي
أُنَاسِ سُوءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ» [مسند أحمد: حسن لغيره]
"Beruntunglah orang-orang yang asing." Maka dikatakan kepada
beliau, "Siapakah orang-orang asing itu wahai Rasulullah?" Beliau
menjawab, "Orang-orang shalih yang berada di tengah-tengah orang-orang
jahat yang banyak, yang mengingkari mereka jumlahnya lebih banyak daripada yang
menaati mereka." [Musnad Ahmad: Hasan ligairih]
Ø Dalam riwayat
lain, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ ditanya: Siapa mereka wahai Rasulullah?
Rasulullah ﷺ menjawab:
«الَّذِينَ يَصْلُحُونَ
إِذَا فَسَدَ النَّاسُ»
"Orang-orang yang beramal shaleh ketika orang-orang telah
rusak". [Silsilah Ash-Shahihah 3/267 no.1273]
Ø Dalam riwayat
lain, dari 'Amru bin 'Auf radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«الَّذِينَ يُصْلِحُونَ
مَا أَفْسَدَ النَّاسُ مِنْ بَعْدِي مِنْ سُنَّتِي»
"(Mereka adalah) orang-orang yang memperbaiki (ajaran) yang dirusak
oleh manusia setelahku dari sunnahku." [Sunan Tirmidziy: Hasan ligairih]
C. Tujuan Seminar
1. Memahami sebab-sebab fundamental keshalihan umat
2. Mengidentifikasi tantangan kontemporer dalam mencapai keshalihan
3. Merumuskan strategi aplikatif untuk memperkuat keshalihan komunal
Imam Malik rahimahullah berkata:
كَانَ وَهْبُ بْنُ كَيْسَانَ يَقْعُدُ
إِلَيْنَا، ثُمَّ لا يَقُومُ أَبَدًا حَتَّى يَقُولَ لَنَا: "إِنَّهُ لا
يُصْلِحُ آخِرَ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلا مَا أَصْلَحَ أَوَّلَهَا"، قُلْتُ
لَهُ: يُرِيدُ مَاذَا؟ قَالَ يُرِيدُ التُّقَى [مسند الموطأ للجوهري]
"Wahb bin Kaisan biasa duduk bersama kami, kemudian beliau tidak
pernah bangun (meninggalkan majelis) sampai beliau mengatakan kepada kami:
'Sesungguhnya tidak akan memperbaiki umat ini pada akhirnya kecuali apa yang
telah memperbaiki umat ini pada awalnya.' Aku (periwayat) bertanya kepadanya:
'Apa yang beliau maksud?' Dia (Malik) berkata: 'Beliau maksudkan adalah
ketakwaan'." [Musnad Al-Muwatha' karya Al-Jauhariy]
Bagian 2: Sebab-Sebab Fundamental Keshalihan
Umat
A. Sebab Ilahiyyah (Ketuhanan)
1. Taufik dan Hidayah Allah subhanahu wata’aalaa.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ
أَن تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا
يَعْقِلُونَ} [يونس
: 100]
Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin
Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak
mempergunakan akalnya.
[Yunus: 100]
{إِنَّكَ لَا تَهْدِي
مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ ۚ وَهُوَ أَعْلَمُ
بِالْمُهْتَدِينَ} [القصص
: 56]
Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada
orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang
dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima
petunjuk.
[Al-Qashash: 56]
· Peran doa dan
istiqamah dalam meraih taufik.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَقَالَ رَبِّ
أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ
وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي
عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ} [النمل : 19]
Dan dia (Sulaiman) berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham
untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan
kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau
ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu
yang saleh".
[An-Naml: 19]
{قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي
أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ
أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ
إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ} [الأحقاف : 15]
Ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri
nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan
supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan
kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku
bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah
diri".
[Al-Ahqaaf: 15]
2. Rahmat dan Maghfirah Allah, kesiapan menerima ampunan sebagai
dasar perubahan.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{إِلَّا الَّذِينَ
تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَيَّنُوا فَأُولَٰئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنَا
التَّوَّابُ الرَّحِيمُ} [البقرة : 160]
Kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan
menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan
Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang. [Al-Baqarah: 160]
B. Sebab Syar'iyyah (Hukum Agama)
1. Pemahaman
Aqidah yang Shahih
· Tauhid sebagai fondasi segala
keshalihan
· Membersihkan aqidah dari
syirik dan bid'ah.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَالَّذِينَ آمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَآمَنُوا بِمَا نُزِّلَ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَهُوَ
الْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۙ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَأَصْلَحَ بَالَهُمْ}
[محمد : 2]
Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada
apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka,
Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka. [Muhammad: 2]
Ø An-Nu’man bin
Basyir radhiyallahu
‘anhuma berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ الْحَلَالَ
بَيِّنٌ، وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا
يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ
لِدِينِهِ، وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ،
كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى، يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ، أَلَا وَإِنَّ
لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللهِ مَحَارِمُهُ، أَلَا وَإِنَّ فِي
الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ، صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ،
فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Sungguh yang halal sudah jelas, dan yang haram juga sudah jelas. Namun
di antara keduanya ada perkara syubhat (samar) yang tidak diketahui oleh banyak
orang. Maka barangsiapa yang menjauhkan diri dari yang syubhat berarti telah
memelihara agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa yang sampai jatuh
(mengerjakan) pada perkara-perkara syubhat, maka ia akan terjatuh pada yang
haram, ibarat seorang penggembala yang menggembalakan ternaknya di batasan
tanah terlarang yang dikhawatirkan ternaknya akan masuk ke dalamnya. Ketahuilah
bahwa setiap raja memiliki batasan terlarang, dan ketahuilah bahwa batasan
larangan Allah di bumi-Nya adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Dan ketahuilah
pada setiap tubuh ada segumpal daging yang apabila baik maka baiklah tubuh
tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah
hati". [Shahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Syarah Arba’in hadits (6) An-Nu’man; Halal, haram, dan syubhat
2. Ibadah
yang Khusyuk, Ikhlas dan sesuai sunnah.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَالَّذِينَ آمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُدْخِلَنَّهُمْ فِي الصَّالِحِينَ} [العنكبوت : 9]
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh
benar-benar akan Kami masukkan mereka ke dalam (golongan) orang-orang yang
saleh.
[Al-'Ankabuut: 9]
Para Ahli tafsir menafsirkan bahwa "amal
shalih" adalah amalan yang mencocoki sunnah Nabi Muhammad ﷺ.
· Shalat sebagai
pencegah kemunkaran. Allah
subhanahu wata’aalaa berfirman:
{اتْلُ مَا أُوحِيَ
إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ
الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ
مَا تَصْنَعُونَ} [العنكبوت
: 45]
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab
(Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah
(shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan
Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. [Al-Ankabut: 45]
Ø Dari Abu
Umamah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«عَلَيْكُمْ بِقِيَامِ
اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَأَبُ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ، وَهُوَ قُرْبَةٌ إِلَى
رَبِّكُمْ، وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَنْهَاةٌ لِلإِثْمِ» [سنن الترمذي: حسن]
"Hendaklah kalian mendirikan salat malam, karena itu adalah amalan
rutin orang-orang saleh sebelum kalian,
amalan untuk mendekatkan diri kepada Rabb kalian, penghapus keburukan,
dan mencegah dari perbuatan dosa". [Sunan Tirmidzi: Hasan]
Lihat: Keutamaan salat malam
· Puasa sebagai
madrasah takwa. Allah
subhanahu wata’aalaa berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن
قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ} [البقرة : 183]
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. [Al-Baqarah: 183]
3.
Penghayatan Al-Qur'an
· Tilawah, tadabbur,
dan aplikasi dalam kehidupan. Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي
الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ
وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ
وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ} [الجمعة : 2]
Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang
Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan
mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya
mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata. [Al-Jumu'ah: 2]
Lihat: Langkah menuju kemuliaan bersama Al-Qur’an dan pentingnya berta’awun di dalamnya
C. Sebab Akhlaqiyyah (Moral)
1. Integritas Diri (Muraqabah)
· Kesadaran pengawasan Allah
dalam setiap keadaan.
· Kejujuran dalam perkataan dan
perbuatan.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ
أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ} [الأحزاب : 70-71]
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah
dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu
amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. [Al-Ahzab: 70-71]
Ø Dari Abu
Hurairah radiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
" إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ
الْأَخْلَاقِ " [مسند
أحمد: صحيح]
"Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang
mulia". [Musnad Ahmad: Sahih]
Lihat: Aqidah sebagai pondasi akhlak mulia
2. Menjaga Lisan dan Anggota Badan
· Dari hal-hal yang haram menuju
yang ma'ruf
Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata; Rasulullah ﷺ bersabda:
«عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ،
فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى
الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى
يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ الْكَذِبَ
يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَمَا
يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ
كَذَّابًا»
“Kalian harus berlaku jujur, karena kejujuran itu akan membimbing kepada
kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa
berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan dicatat sebagai orang yang
jujur di sisi Allah. Dan hindarilah dusta, karena kedustaan itu akan menggiring
kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke neraka. Seseorang yang
senantiasa berdusta dan memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai
pendusta di sisi Allah." [Shahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Hadits Ibnu Mas’ud; Jujurlah jangan berdusta
D. Sebab Ijtima'iyyah (Sosial)
1. Komunitas
Shalih (Al-Jama'ah)
· Pentingnya bergaul dengan
orang shalih
Dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu; Nabi ﷺ bersabda:
"مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ
وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا
أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ
رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا
أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً" [صحيح البخاري ومسلم]
“Perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk bagaikan penjual
minyak wangi dengan pandai besi, bisa jadi penjual minyak wangi itu akan
menghadiahkan kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapatkan bau
wanginya sedangkan pandai besi hanya akan membakar bajumu atau kamu akan
mendapatkan bau tidak sedapnya." [Sahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Peran semua pihak mengatasi pergaulan bebas remaja
2. Amar
Ma'ruf Nahi Munkar
· Tanggung jawab kolektif dalam
menegakkan kebaikan
· Metode yang bijak dalam
perubahan sosial
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ
وَيُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَأُولَئِكَ مِنَ الصَّالِحِينَ} [آل عمران: 114]
Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka
menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada
(mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh. [Ali ‘Imran: 114]
Lihat: Keutamaan Amar ma’ruf Nahi mungkar
3.
Solidaritas dan Ukhuwah Islamiyah.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ
إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُونَ} [الحجرات
: 10]
Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu
damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah
terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. [Al-Hujurat: 10]
4. Taat
kepada penguasa (ulil amri)
Imam Malik dan Ats-Tsauriy rahimahumallah berkata:
"سُلْطَانٌ جَائِرٌ
سَبْعِينَ سَنَةً خَيْرٌ مِنْ أُمَّةٍ سَائِبَةٍ سَاعَةً مِنْ نَهَارٍ"
"Penguasa lalim selama tujuh puluh tahun lebih baik daripada
pemerintahan yang kacau (tanpa pemimpin) sesaat di siang hari." [Tartib
Al-Madarik karya Al-Qadhiy 'Iyadh]
Bagian 3: Tantangan Kontemporer
A. Tantangan Internal Umat
1. Kelemahan pemahaman agama yang komprehensif
2. Individualisme dan melemahnya ikatan komunal
3. Prioritas materi atas spiritual.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ
لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا
إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَٰكِن لَّا يَشْعُرُونَ} [البقرة : 11-12]
Dan bila dikatakan kepada mereka: "Janganlah kamu
membuat kerusakan di muka bumi". Mereka menjawab: "Sesungguhnya kami
orang-orang yang mengadakan perbaikan". Ingatlah, sesungguhnya mereka
itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. [Al-Baqarah: 11-12]
Lihat: Peran Ilmu Agama Untuk Kebaikan Bernegara
B. Tantangan Eksternal
1. Serangan pemikiran dan budaya asing
2. Distorsi citra Islam melalui media
3. Godaan gaya hidup konsumtif
Dari Tsauban radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ
تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا»، فَقَالَ
قَائِلٌ: وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: «بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ
كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ، وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ
مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ، وَلَيَقْذِفَنَّ الله فِي
قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ»، فَقَالَ قَائِلٌ: يَا رَسُولَ الله، وَمَا الْوَهْنُ؟
قَالَ: «حُبُّ الدُّنْيَا، وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ»
"Sudah dekat masanya umat-umat (yang memusuhi Islam) saling mengajak
untuk membinasakan kalian sebagaimana orang yang mau makan saling mengajak
menuju hidangannya". Seorang bertanya: Apakah karena kami sedikit pada
waktu itu? Rasulullah ﷺ
menjawab: "Bahkan kalian pada waktu itu banyak akan tetapi kalian lemah
seperti buih di lautan, dan Allah mencabut dari hati musuh-musuh kalian rasa
gentar kepadamu dan Allah menamkan pada hati kalian sifat
"Al-Wahan"." Seseorang bertanya: Ya Rasulullah, apa itu
"al-wahn”? Rasulullah ﷺ
menjawab: "Cinta dunia dan takut mati". [Sunan Abu Daud: Sahih]
Lihat: Hadits Tsauban; Cinta dunia dan takut mati
Bagian 4: Strategi Membangun Keshalihan
Kolektif
A. Level Individu
1. Pendidikan Islami Berkelanjutan
· Mencari ilmu dari sumber yang
terpercaya
· Mentoring spiritual (tarbiyah
ruhiyah)
2. Disiplin Ibadah Harian
· Menjaga shalat berjamaah
· Wirid dan dzikir yang
konsisten
B. Level Keluarga
1. Rumah sebagai Madrasah Pertama
· Menciptakan atmosfer keislaman
· Kebersamaan dalam ibadah
keluarga
2. Monitoring dan Evaluasi Spiritual Keluarga
C. Level Masyarakat
1. Revitalisasi Masjid sebagai Pusat Peradaban
· Kegiatan edukatif dan sosial
· Silaturahim komunitas
2. Program-program Pembinaan Berjenjang
· Kelompok kajian (halaqah)
· Pelatihan kepemimpinan Islami
3. Gerakan Sosial Berbasis Keshalihan
· Filantropi Islam terorganisir
· Advokasi untuk kemaslahatan
umum.
Bagian 5: Kesimpulan dan Rekomendasi
A. Kesimpulan
1. Keshalihan umat adalah proyek kolektif yang dimulai dari individu
2. Keseimbangan antara aspek ruhiyah, fikriyah, dan jasadiyah
3. Keshalihan bukan tujuan akhir, tetapi wasilah untuk meraih ridha Allah
B. Rekomendasi Aksi
1. Untuk Individu: Komitmen pada program peningkatan diri (muhasabah
harian)
2. Untuk Keluarga: Menjadikan rumah sebagai "zona keshalihan"
3. Untuk Komunitas: Membentuk jaringan keshalihan antar masyarakat
4. Untuk Institusi: Mengintegrasikan nilai-nilai keshalihan dalam program
organisasi
Penutup
Seruan untuk Bergerak
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ
آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا
اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ} [الحشر: 18]
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan
hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan.
[Al-Hasyr: 18]
Doa Penutup
"Ya Allah, jadikan kami bagian dari hamba-hamba-Mu yang
shalih, yang memperbaiki diri dan memperbaiki umat. Jadikan kami sebab bagi
tersebarnya kebaikan di muka bumi. Amin."
Wallahu a'lam!
Sumber pokok materi: “IA DeepSeek” dengan sedikit koreksi dan tambahan ayat Al-Qur'an dan hadits.
Lihat juga: Anak Adalah Amanah - Bencana Alam: Ujian, Peringatan, atau Azab? - Takwa dan Amanah Dakwah; Pondasi Etika Seorang Da'i
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...