Senin, 05 Januari 2026

Anak Adalah Amanah

بسم الله الرحمن الرحيم

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Bapak, Ibu, serta hadirin yang dirahmati Allah,

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji syukur kepada Allah subhanahuwata'aalaa, yang telah melimpahkan nikmat iman, islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita semua. Sholawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad , suri tauladan terbaik dalam mendidik generasi.

Hadirin yang budiman,

Pernahkah kita merenung,saat anak kita lahir ke dunia, apa sebenarnya yang kita rasakan? Kebahagiaan? Pasti. Harapan? Tentu. Kekhawatiran? Mungkin juga. Namun, di balik semua perasaan itu, ada satu kata kunci yang sering kita lupakan, yaitu “AMANAH”.

Hari ini, izinkan saya menyampaikan sedikit renungan tentang “Anak adalah Amanah.” Sebuah amanah yang akan kita pertanggungjawabkan nanti di hadapan-Nya. Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ (49) أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ} [الشورى: 49-50]

Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha mengetahui lagi Maha Kuasa. [Asy-Syuuraa: 49-50]

Lihat: Anak adalah anugrah dari Allah

Hakikat Amanah dari Langit

Apa itu amanah? Dalam Islam, amanah adalah sesuatu yang dititipkan, yang harus dijaga, dirawat, dan dikembalikan dalam keadaan baik. Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ (27) وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ} [الأنفال : 27-28]

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. [Al-Anfaal: 27-28]

Ø  Dari Abdullah bin Umar radhiallahu 'anhuma; Rasulullah  bersabda:

"كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا" [صحيح البخاري ومسلم]

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam (kepala Negara) adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami dalam keluarganya adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya dan akan diminta pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut". [Sahih Bukhari dan Muslim]

Anak adalah salah satu amanah terbesar dari amanah-amanah itu. Ia bukan milik kita. Ia adalah “milik” Allah yang sementara waktu “dititipkan” ke dalam pangkuan kita.

· Analoginya sederhana: Jika seorang saudara menitipkan mobil mewahnya kepada kita untuk dijaga 17 tahun, bagaimana kita merawatnya? Kita akan cuci, servis rutin, jaga dari goresan, isi bensin yang terbaik, dan pastikan saat dikembalikan, ia dalam kondisi prima. Kita takut jika mobil itu rusak, kita akan dimintai pertanggungjawaban.

· Lalu, bagaimana dengan anak kita? Yang dititipkan bukan mobil, tapi manusia berjiwa, dengan hati, pikiran, dan akhlak. Yang masa titipannya bukan 5 tahun, tapi seumur hidup kita. Apakah kita telah merawatnya dengan tingkat keseriusan yang sama, bahkan lebih?

Setiap anak terlahir dalam keadaan fitrah, suci, seperti kertas putih. Dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu; Rasulullah  bersabda:

"كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ البَهِيمَةِ تُنْتَجُ البَهِيمَةَ هَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاءَ" [صحيح البخاري ومسلم]

“Setiap anak yang lahir, dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau Nashrani, atau Majusi, ibarat hewan yang melahirkan hewan, apakah engkau melihat ada yang tidak punya telinga?” [Sahih Bukhari dan Muslim]

Ini adalah amanah sekaligus peringatan: Arah dan warna kehidupan anak, sangat ditentukan oleh coretan pertama dan pendidikan utama dari kita, orang tuanya.

Dari Ma'qil bin Yasar radhiallahu 'anhu; Nabi  bersabda:

"مَا مِنْ عَبْدٍ اسْتَرْعَاهُ اللَّهُ رَعِيَّةً، فَلَمْ يَحُطْهَا بِنَصِيحَةٍ، إِلَّا لَمْ يَجِدْ رَائِحَةَ الجَنَّةِ" [صحيح البخاري]

"Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, namun dia tidak menindaklanjutinya dengan baik, selain tak bakalan mendapat bau surga." [Sahih Bukhari]

Ø  Dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu 'anhuma; Rasulullah  bersabda:

"كَفَى بِالْمَرْءِ إِثْمًا أَنْ يُضَيِّعَ مَنْ يَقُوتُ" [سنن أبي داود: حسنه الألباني]

“Cukuplah seseorang itu berdosa jika menelantarkan orang yang berada dalam tanggungannya”. [Sunan Abi Daud: Hasan]

Lihat: Kitab Ar-Riqaq, bab 35; Amanah diangkat

Bentuk Pengkhianatan terhadap Amanah Anak

Kita sering tanpa sadar mengkhianati amanah ini. Bukan karena tak sayang, tapi karena salah prioritas dan pemahaman.

1.      Mengabaikan Hak Dasar Mereka:

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu 'anhuma; Rasulullah  bersabda:

"إِنَّ لِوَلَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا" [صحيح مسلم]

“Sesungguhnya bagi anakmu ada hak atas dirimu”. [Sahih Muslim]

Diantara hak dasar anak:

a)       Hak Spiritual (Aqidah & Ibadah): Hanya fokus menyekolahkan anak ke tempat favorit, tapi lupa mengajarkan sholat, mengaji, dan mencintai Allah & Rasul-Nya. Anak jadi pintar matematika tetapi buta Al-Qur’an.

b)      Hak Emosional (Kasih Sayang & Perhatian): Mengganti kehadiran dan pelukan dengan gadget mahal atau uang jajan berlebihan. Anak tumbuh dalam kesepian di tengah gemerlap materi.

c)       Hak Pendidikan & Pengembangan: Tidak memilihkan lingkungan yang baik. Membiarkan anak bergaul tanpa filter, menonton tayangan tanpa batas. “Yang penting anak diam dan tidak rewel.”

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah  bersabda:

"الرَّجُلُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ، فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ" [سنن أبي داود: حسنه الألباني]

"Seseorang itu dipengaruhi oleh perilaku orang yang dicintainnya, maka hendaklah kalian memperhatikan siapa yang ia cintai. [Sunan Abi Daud: Hasan]

Ø  Dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu; Nabi  bersabda:

"مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً" [صحيح البخاري ومسلم]

"Perumpamaan teman yang shalih dengan teman yang buruk bagaikan penjual minyak wangi dengan pandai besi, bisa jadi penjual minyak wangi itu akan menghadiahkan kepadamu atau kamu membeli darinya atau kamu akan mendapatkan bau wanginya sedangkan pandai besi hanya akan membakar bajumu atau kamu akan mendapatkan bau tidak sedapnya." [Sahih Bukhari dan Muslim]

2.      Memperlakukan Anak sebagai “Extension” Diri Sendiri:

Ini bentuk pengkhianatan halus.Kita memaksa anak mewujudkan mimpi kita yang gagal. “Ayah dulu ingin jadi dokter, sekarang kamu harus jadi dokter!” Anak dipaksa masuk jurusan tertentu, ikut kursus tertentu, tanpa mempertimbangkan bakat, minat, dan passion yang Allah tanamkan dalam dirinya. Kita menganggap anak sebagai “proyek” untuk kebanggaan kita.

Dari Umar bin Khathab radhiyallahu 'anhu; Rasulullah  bersabda:

"إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ، وَإِنَّمَا لِامْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ" [صحيح البخاري ومسلم]

"Sesungguhnya amalan itu hanyalah tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang (berniat) hijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa (berniat) hijrah karena dunia yang bakal diraihnya atau wanita yang akan dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang diniatkannya itu." [Sahih Bukhari dan Muslim]

3.      Menelantarkan dengan Dalih Mencari Nafkah:

“Saya kerja siang-malam supaya anak saya bisa sekolah tinggi dan hidup enak.”Ini niat yang baik. Namun, jika sampai kita tak pernah ada waktu untuk bertanya, mendengar curhat, atau sekadar sholat berjamaah bersamanya, maka niat baik itu bisa berbuah pahit. Anak butuh kehadiran, bukan hanya uang. Mereka butuh figur, bukan hanya furniture di rumah. Allah subhanahu wata'aalaa berfirman:

{وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى} [طه: 132]

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa. [Thaahaa:132]

Lihat: Kewajiban orang tua mendidik anaknya

Bagaimana Menunaikan Amanah ini dengan Benar?

Allah tidak membebani kita dengan amanah tanpa memberikan panduan. Rasulullah adalah contoh terbaik.

1)      Pendidikan Aqidah & Ibadah adalah Pondasi Utama.

Ini prioritas nomor satu.Kuatkan ikatan mereka dengan Allah sebelum yang lain. Mulai dengan keteladanan. Anak yang melihat ayahnya shalat subuh berjamaah di masjid, itu lebih melekat daripada seribu kata perintah. Bacakan kisah Nabi, ajak ke pengajian anak, ciptakan atmosfer cinta Islam di rumah.

Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: Suatu hari aku duduk di belakang Rasulullah , beliau bersabda:

"يَا غُلَامُ إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ، احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ، وَلَوْ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلَامُ وَجَفَّتْ الصُّحُفُ"

"Wahai bocah, sesungguhnya aku akan mengajarimu beberapa kalimat, jagalah Allah maka Allah akan menjagamu, jagalah Allah kau akan mendapati-Nya di hadapanmu, jika kau meminta maka mintalah kepada Allah, dan jika kau minta bantuan maka mintalah kepada Allah, ketahuilah .. sesungguhnya jika semua umat sepakat untuk memberimu suatu yang bermanfaat, mereka tidak akan memberimu kecuali sesuatu yang sudah ditakdirkan Allah untukmu, dan seandainya mereka sepakat untuk mencelakaimu dengan sesuatu, mereka tidak akan bisa mencelakaimu kecuali sesuatu yang sudah ditakdirkan Allah kepadamu, pena telah diangkat dan lembaran telah kering. [Sunan Tirmidzi: Shahih]

Ø  Dari Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah  bersabda:

"مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ" [سنن أبي داود: صححه الألباني]

“Perintahkanlah anakmu shalat ketika mereka berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka jika meninggalkan shalat ketika mereka berumur sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat tidur mereka”. [Sunan Abi Daud: Sahih]

Ø  Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata;

رَفَعَتِ امْرَأَةٌ صَبِيًّا لَهَا، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَلِهَذَا حَجٌّ؟ قَالَ: "نَعَمْ، وَلَكِ أَجْرٌ"

Ada seorang wanita yang menggendong anak kecil lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah anak kecil ini boleh menunaikan haji." Beliau menjawab: "Ya, dan kamu juga mendapatkan pahala." [Shahih Muslim]

2)      Didik dengan Kasih Sayang (Rahmah), Bukan Kekerasan.

Rasulullah sangat penyayang kepada anak.Beliau menggendong, mencium, dan bermain dengan mereka. Dalam sebuah riwayat, beliau memanjangkan sujudnya karena menjaga cucunya yang naik ke punggungnya. Kasih sayang adalah “nutrisi jiwa” yang akan membuat anak tumbuh percaya diri dan penuh cinta.

Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata:

قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسًا، فَقَالَ الْأَقْرَعُ: إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ثُمَّ قَالَ: "مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ"

"Rasulullah pernah mencium Al Hasan bin Ali sedangkan disamping beliau ada Al Aqra' bin Habis At Tamimi sedang duduk, lalu Aqra' berkata, "Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, namun aku tidak pernah mencium mereka sekali pun, maka Rasulullah memandangnya dan bersabda, "Barang siapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi." [Shahih Bukhari]

Ø  Syaddad bin Al-Had radhiyallahu ‘anhu berkata:

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي إِحْدَى صَلَاتَيِ الْعِشَاءِ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ الله ﷺ فَوَضَعَهُ، ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا، فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَهُوَ سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ الله ﷺ الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ، قَالَ: "كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ" [سنن النسائي: صححه الألباني]

“Rasulullah keluar untuk mengimami kami salat Isya’ sambil menggendong Hasan dan Husain. Lalu beliau maju ke depan dan meletakkan kedua cucunya itu lantas mengucapkan takbir shalat dan memulai salatnya. Pada saat itu beliau sujud dengan sujud yang sangat lama, maka aku mengangkat kepalaku, dan ternyata seorang anak sedang duduk di atas punggung Rasulullah  yang sedang sujud. Lalu aku kembali ke sujudku. Seusai shalat, orang-orang bertanya kepada Rasulullah , ‘Wahai Rasulullah, engkau tadi sujud terlalu lama, hingga kami kira telah terjadi sesuatu, atau engkau sedang menerima wahyu.’ Beliau menjawab, ‘Tidak terjadi apa-apa, tetapi tadi cucuku menunggangi punggungku dan aku tidak suka menurunkan mereka hingga mereka merasa puas’.” [Sunan An-Nasa’i: Sahih]

3)      Berikan Teladan, Bukan Sekadar Perintah.

Anak-anak adalahpeniru ulung. Mereka merekam apa yang kita lakukan, bukan hanya apa yang kita katakan. Jika kita ingin anak jujur, jangan bohong di depan mereka. Jika ingin anak sopan, perlakukan orang lain dengan sopan. Kita adalah “kurikulum berjalan” bagi anak-anak kita.

Abdullah bin ‘Amir radhiallahu 'anhuma berkata:

دَعَتْنِي أُمِّي يَوْمًا وَرَسُولُ اللهِ ﷺ قَاعِدٌ فِي بَيْتِنَا، فَقَالَتْ: هَا تَعَالَ أُعْطِيكَ، فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ: "وَمَا أَرَدْتِ أَنْ تُعْطِيهِ؟" قَالَتْ: أُعْطِيهِ تَمْرًا. فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللهِ ﷺ: "أَمَا إِنَّكِ لَوْ لَمْ تُعْطِيهِ شَيْئًا كُتِبَتْ عَلَيْكِ كِذْبَةٌ"

Suatu hari ibuku memanggilku sementara Rasulullahﷺ  duduk di antara kami. Ibuku berkata: Marilah, aku akan memberimu sesuatu! Maka Rasulullah  berkata kepada ibuku: “Apa yang akan engkau berikan padanya?” Ibuku menjawab: Aku akan memberinya sebiji kurma! Maka Rasulullahﷺ  berkata kepada ibuku: “Adapun seandainya engkau tidak memberinya sesuatu maka akan dicatat atasmu satu kedustaan”. [Sunan Abi Daud: Hasan]

4)      Doakan Mereka Tiada Henti.

Doa adalah senjata dan bukti ketergantungan kita kepada Allah.Doakan kebaikan untuk mereka di waktu-waktu mustajab. Doakan mereka menjadi anak sholih/sholihah, pelindung bagi orang tuanya. Seperti doa Nabi Ibrahim:

{رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ} [الصافات: 100]

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.” [Ash-Shaffat: 100]

{وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ} [ابراهيم : 35]

Dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala. [Ibrahim: 35]

{رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلَاةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي ۚ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ} [ابراهيم : 40]

"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku". [Ibrahim: 40]

Lihat: Do'a dalam Al-Qur'an

5)      Bekali dengan Life Skills & Adab.

Selain ilmu dunia,ajarkan adab: adab kepada orang tua, guru, teman, bahkan kepada hewan dan lingkungan. Ajarkan tanggung jawab, kemandirian, dan kemampuan memecahkan masalah. Anak yang beradab lebih utama daripada anak yang hanya berprestasi akademik.

Umar bin Abu Salamah radhiyallahu 'anhu berkata: Waktu aku masih kecil dan berada di bawah asuhan Rasulullah , tanganku bersileweran di nampan saat makan. Maka Rasulullahﷺ  bersabda:

"يَا غُلاَمُ، سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ، وَكُلْ مِمَّا يَلِيكَ" [صحيح البخاري ومسلم]

"Wahai anak kecil, bacalah Bismilillah, makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah makanan yang ada di hadapanmu."

Maka seperti itulah cara makanku setelah itu. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Tatacara mendidik anak dalam Islam

Refleksi dan Penutup

Hadirin yang dirahmati Allah,

Besok di yaumil hisab, kita tidak akan ditanya: “Kenapa anakmu tidak jadi pengusaha kaya?” atau “Kenapa anakmu tidak juara olimpiade?”

Tapi kita akan ditanya:“Apa yang telah kamu perbuat dengan amanah yang Kuberikan? Bagaimana kamu menjaganya? Sudahkah kamu ajarkan tentang Aku dan Rasul-Ku?”

Anak sholih/sholehah adalah investasi akhirat terbesar. Merekalah yang akan terus mengalirkan pahala untuk kita setelah kita tiada. Itulah buah dari amanah yang ditunaikan dengan baik. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah  bersabda:

"إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ: إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ" [صحيح مسلم]

"Jika seorang manusia mati maka terputuslah amalannya kecuali dari tiga hal: Kecuali dari sedekah jariyah, atau ilmu yang dimanfaatkan darinya, atau anak shaleh yang berdo'a untuknya". [Sahih Muslim]

Ø  Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah  bersabda:

"إِنَّ الرَّجُلَ لَتُرْفَعُ دَرَجَتُهُ فِي الْجَنَّةِ فَيَقُولُ: أَنَّى هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِاسْتِغْفَارِ وَلَدِكَ لَكَ" [سنن ابن ماجه: حسن]

"Sesungguhnya seseorang diangkat derajatnya dalam surga, lalu ia berkata: Dari mana pahala ini? Kemudian dikatakan padanya: Dari istigfar anakmu untuk kamu". [Sunan Ibnu Majah: Hasan]

Lihat: Keutamaan memiliki anak shaleh

Mari kita renungkan, evaluasi diri, dan perbaiki niat. Kita mungkin tidak bisa menjadi orang tua yang sempurna, tetapi kita harus berusaha menjadi orang tua yang bertaqwa, yang selalu berusaha menunaikan amanah-Nya dengan sebaik-baiknya.

Mari kita jaga amanah ini dengan ilmu, kesabaran, dan doa. Semoga anak-anak kita menjadi generasi yang tidak hanya cerdas dunia, tetapi juga berbudi luhur, bertaqwa, dan menjadi penyejuk hati bagi kita dan bagi peradaban Islam.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Sumber: “IA DeepSeek” dengan sedikit koreksi dan tambahan beberapa ayat dan hadits.

Lihat juga: Pentingnya mendidik anak sejak dini dengan Al-Qur'an - Membentengi diri dan keluarga dari berbagai ujian (fitnah) - Peran keluarga Islami dalam kehidupan masyarakat damai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...