Jumat, 03 Juli 2015

Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (3) Puasa adalah kaffarah

بسم الله الرحمن الرحيم


Pembahasan pertama:

Bab ketiga kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari adalah: Bab Puasa adalah kaffarah (penghapus dosa)

Pada bab ini Imam Bukhari rahimahullah meriwayatkan satu hadits dari Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu;

Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya: Siapa yang menghafal satu hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang fitnah (cobaan)?
Hudzaifah berkata: Aku mendengar beliau bersabda: “Fitnah (cabaan) seseorang pada keluarganya, harta, dan tetangganya; dihapuskan dosa-dosanya oleh ibadah shalat, puasa, dan sedekah”
Umar berkata: Bukan ini yang aku tanyakan, aku bertanya tentang cobaan yang sangat besar bagaikan badai yang bergemuruh di lautan.
Hudzaifah berkata: Sesungguhnya antara engkau dan kejadian itu ada pintu yang tertutup.
Umar bertanya: Apakah nanti pintu itu akan terbuka atau rusak?
Hudzaifah menjawab: Akan rusak.
Umar berkata: Itu berarti tidak akan tertutup lagi sampai hari kiamat.
Perawi (Abu Wail) berkata: Maka kami meminta kepada Masruuq: Tanyakan kepada Hudzaifah, apakah Umar tahu siapa sebenarnya yang dimaksud dengan pintu itu?
Maka Masruq menanyakannya, dan Hudzaifah menjawab: Iya, Umar tahu sebagaimana ia tahu bahwa setelah siang ada malam.

Dalam riwayat lain, Hudzaifah berkata: Pintu itu adalah Umar.

Penjelasan singkat hadits ini:

1.      Hudzaifah bin Yaman Hasal bin Jabir, Abu Abdillah Al-‘Absiy (w.36H) radhiyallahu ‘anhuma. Beliau adalah penjaga rahasia Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

2.      Umar bin Khathab bin Nufail Al-Qurasyiy Al-‘Adawiy, Abu Hafsh Al-Faaruuq Amiirul Mu’miniin. Khalifah kedua setelah Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhuma.

Diantara keistimewaannya:

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«لَوْ كَانَ نَبِيٌّ بَعْدِي لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الخَطَّابِ»

“Seandainya ada nabi setelahku maka itu adalah Umar bin Khathab”. [Sunan Tirmidziy: Hasan]

Beliau wafat tahun 23 hijriyah di Madinah.

3.      Hadits ini menunjukkan bahwa puasa akan menghapuskan dosa-dosa  (kaffarah) secara umum.

Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:

{إِنَّ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْقَانِتِينَ وَالْقَانِتَاتِ وَالصَّادِقِينَ وَالصَّادِقَاتِ وَالصَّابِرِينَ وَالصَّابِرَاتِ وَالْخَاشِعِينَ وَالْخَاشِعَاتِ وَالْمُتَصَدِّقِينَ وَالْمُتَصَدِّقَاتِ وَالصَّائِمِينَ وَالصَّائِمَاتِ وَالْحَافِظِينَ فُرُوجَهُمْ وَالْحَافِظَاتِ وَالذَّاكِرِينَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتِ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا} [الأحزاب: 35]

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. [Al-Ahzaab:35]

Puasa juga sebagai kaffarah secara khusus, seperti:

Fidyah, dan pengganti sembelihan dalam ibadah haji

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ بِهِ أَذًى مِنْ رَأْسِهِ فَفِدْيَةٌ مِنْ صِيَامٍ أَوْ صَدَقَةٍ أَوْ نُسُكٍ فَإِذَا أَمِنْتُمْ فَمَنْ تَمَتَّعَ بِالْعُمْرَةِ إِلَى الْحَجِّ فَمَا اسْتَيْسَرَ مِنَ الْهَدْيِ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ فِي الْحَجِّ وَسَبْعَةٍ إِذَا رَجَعْتُمْ تِلْكَ عَشَرَةٌ كَامِلَةٌ ذَلِكَ لِمَنْ لَمْ يَكُنْ أَهْلُهُ حَاضِرِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ} [البقرة: 196]

Dan jangan kamu mencukur kepalamu  (saat ihram), sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jjika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: Berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). [Al-Baqarah: 196]

Kaffarah berburu saat ihram

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ} [المائدة: 95]

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai hadya yang dibawa sampai ke Ka'bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. [Al-Maidah: 95]

Kaffarah pembunuhan yang tidak disengaja

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{وَإِنْ كَانَ مِنْ قَوْمٍ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ فَدِيَةٌ مُسَلَّمَةٌ إِلَى أَهْلِهِ وَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُؤْمِنَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ تَوْبَةً مِنَ اللَّهِ} [النساء: 92]

Dan jika ia (si terbunuh dengan tidak sengaja) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan taubat dari pada Allah. [An-Nisaa’:92]

Kaffarah sumpah

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{لَا يُؤَاخِذُكُمُ اللَّهُ بِاللَّغْوِ فِي أَيْمَانِكُمْ وَلَكِنْ يُؤَاخِذُكُمْ بِمَا عَقَّدْتُمُ الْأَيْمَانَ فَكَفَّارَتُهُ إِطْعَامُ عَشَرَةِ مَسَاكِينَ مِنْ أَوْسَطِ مَا تُطْعِمُونَ أَهْلِيكُمْ أَوْ كِسْوَتُهُمْ أَوْ تَحْرِيرُ رَقَبَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ ذَلِكَ كَفَّارَةُ أَيْمَانِكُمْ إِذَا حَلَفْتُمْ} [المائدة: 89]

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). [Al-Maidah:89]

Kaffarah dzihar

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{وَالَّذِينَ يُظَاهِرُونَ مِنْ نِسَائِهِمْ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا قَالُوا فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا ذَلِكُمْ تُوعَظُونَ بِهِ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ (3) فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَتَمَاسَّا } [المجادلة: 3- 4]

Orang-orang yang menzhihar isteri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur. Demikianlah yang diajarkan kepada kamu, dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka (wajib atasnya) berpuasa dua bulan berturut-turut sebelum keduanya bercampur. [Al-Mujadilah: 3-4]

4.      Shalat menghapuskan dosa-dosa.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata: Seorang laki-laki melakukan dosa dengan mencium seorang wanita yang tidak halal baginya, maka ia mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian meceritakan hal tersebut, maka diturunkanlah kepadanya ayat:

{وَأَقِمِ الصَّلاَةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ، وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ إِنَّ الحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ، ذَلِكَ ذِكْرَى لِلذَّاكِرِينَ} [هود: 114]

Dan dirikanlah shalat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat. [Huud:114]
Orang itu bertanya: Apakah ini khusus untukku?
Rasulullah menjawab:

«لِمَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ أُمَّتِي»

“Untuk semua yang mengamalkannya dari umatku”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

" أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا، مَا تَقُولُ: ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ "

“Bagaimana menurut kalian jika ada sungai di depan pintu seorang dari kalian, ia mandi di dalamnya setiap hari lima kali, apa pendapat kalian: Apakah masih ada yang tersisa dari kotorannya?”
Sahabat menjawab: Tidak tersisa dari kotorannya sedikitpun!
Rasulullah bersabda:

 «فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الخَمْسِ، يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الخَطَايَا» [صحيح البخاري ومسلم]

“Maka yang demikian itu seperti shalat lima waktu, Allah menghapuskan dengannya dosa-dosa”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari Usman bin ‘Affan radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«مَا مِنَ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا، إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنَ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ» [صحيح مسلم]

“Tidaklah seorang muslim datang kepadanya waktu shalat wajib kemudian ia menyempurnakan wudhu-nya, khusyu’ dan ruku’nya, kecuali ia akan menghapuskan yang telah lalu dari dosa-dosanya selama ia tidak melakukan dosa besar, dan itu untuk setiap masa”. [Sahih Muslim]

5.      Sedekah menghapuskan dosa-dosa.

Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:

{إِنْ تُبْدُوا الصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّا هِيَ وَإِنْ تُخْفُوهَا وَتُؤْتُوهَا الْفُقَرَاءَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُ عَنْكُمْ مِنْ سَيِّئَاتِكُمْ} [البقرة: 271]

Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu adalah baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu. [Al-Baqarah:271]

Dari Ka’b bin ‘Ujrah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ المَاءُ النَّارَ [سنن الترمذي: صحيح]

“Dan sedekah menghapuskan dosa sebagaimana air memadamkan api”. [Sunan Tirmidziy: Sahih]

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّ أَبِي مَاتَ وَتَرَكَ مَالًا، وَلَمْ يُوصِ، فَهَلْ يُكَفِّرُ عَنْهُ أَنْ أَتَصَدَّقَ عَنْهُ؟

“Sesungguhnya bapakku telah wafat dan meninggalkan harta, dan ia tidak berwasiat. Apakah akan mengampuni dosanya jika aku bersedekah untuknya?”
Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Iya!”. [Sahih Muslim]

6.      Amal shaleh menghapuskan dosa-dosa kecil seseorang jika ia meninggalkan dosa besar.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

«الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ، وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ، وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ، مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ» [صحيح مسلم]

“Shalat lima waktu, shalat Jum’at ke Jum’at berikutnya, puasa Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, adalah penghapus dosa diantaranya jika ia meninggalkan dosa besar”. [Sahih Muslim]

7.      Keluarga dan harta adalah cobaan.

Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:

{وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ} [الأنفال: 28]

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. [Al-Anfaal:28]

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ . إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ} [التغابن: 14-15]

Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu*, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. [At-Tagabun: 14-15]

*Maksudnya: kadang-kadang isteri atau anak dapat menjerumuskan suami atau ayahnya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak dibenarkan agama.

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ} [المنافقون: 9]

Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. [Al-Munafiquun:9]

Dari Usamah bin Zayd radiyallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

"Aku tidak meninggalkan fitnah (cobaan) setelah aku meninggal lebih berbahaya bagi laki-laki dari cobaan wanita." [Sahih Bukhari]

Dari Khaulah binti Hakiim radhiallahu 'anha; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«الْوَلَدُ مَحْزَنَةٌ مَجْبَنَةٌ مَجْهَلَةٌ مَبْخَلَةٌ» [صحيح الجامع الصغير وزيادته رقم 1990]

“Anak adalah penyebab kesedihan, ketakutan (pengecut), kebodohan, kekikiran”. [Shahih Al-Jami’ no.1990]

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu 'anhuma; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«كُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ فِي أَهْلِهِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا» [صحيح البخاري ومسلم]

"Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Imam (kepala Negara) adalah pemimpin yang akan diminta pertanggung jawaban atas rakyatnya. Seorang suami dalam keluarganya adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas keluarganya. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya dan akan diminta pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut". [Sahih Bukhari dan Muslim]

8.      Tetangga adalah cobaan.

Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:
{وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً أَتَصْبِرُونَ وَكَانَ رَبُّكَ بَصِيرًا} [الفرقان: 20]
Dan Kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain, maukah kamu bersabar? Dan adalah Tuhanmu Maha Melihat. [Al-Furqaan: 20]
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ» [صحيح البخاري ومسلم]
“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat maka janganlah ia menyakiti tetangganya”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari Abu Syuraih radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

" وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ، وَاللَّهِ لاَ يُؤْمِنُ "

"Demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman, demi Allah ia tidak beriman".
Sahabat bertanya: Siapa itu wahai Rasulullah?
Rasulullah menjawab:

" الَّذِي لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ " [صحيح البخاري]

"Orang yang tidak selamat tetangganya dari kejahatannya". [Sahih Bukhari]

9.      Keistimewaan Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu sebagai pintu yang menutup cobaan besar yang akan menimpa umat Islam.
Kematiannya menandakan pintu tersebut telah dirusak (mati syahid), dan berbagai cobaan bagi umat Islam pun mulai bermunculan sampai hari kiamat.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu; Bahwasanya Nabis shallallahu ‘alaihi wa sallam mendaki bukit Uhud bersama Abu Bakr, Umar, dan Utsman. Tiba bukit Uhud bergetar karena mereka, maka Rasulullah bersabda:

«اثْبُتْ أُحُدُ فَإِنَّمَا عَلَيْكَ نَبِيٌّ، وَصِدِّيقٌ، وَشَهِيدَانِ» [صحيح البخاري]

“Tenanglah wahai Uhud, karena sesungguhnya di atasmu hanya ada seorang Nabi, shiddiiq (Abu Bakr), dan dua orang syahid (Umar dan Utsman)”. [Sahih Bukhari]

10.  Semangat dan rendah hati Umar bin Khathab dalam menuntut ilmu, mau bertanya sekalipun kepada orang yang lebih rendah darinya.

Dan di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Umar bin Khattab saling bergantian dengan tetangganya dalam menuntut ilmu. Beliau berkata:

كُنْتُ أَنَا وَجَارٌ لِي مِنَ الأَنْصَارِ فِي بَنِي أُمَيَّةَ بْنِ زَيْدٍ وَهِيَ مِنْ عَوَالِي المَدِينَةِ وَكُنَّا نَتَنَاوَبُ النُّزُولَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَنْزِلُ يَوْمًا وَأَنْزِلُ يَوْمًا، فَإِذَا نَزَلْتُ جِئْتُهُ بِخَبَرِ ذَلِكَ اليَوْمِ مِنَ الوَحْيِ وَغَيْرِهِ، وَإِذَا نَزَلَ فَعَلَ مِثْلَ ذَلِكَ [صحيح البخاري]

Dulu aku dan seorang tetanggaku dari kaum Anshar saling bergantian mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ia pergi sehari dan aku pergi sehari. Jika aku yang pergi maka aku menyampaikan kepadanya apa yang terjadi pada hari itu baik itu tentang wahyu yang turun atau selainnya, dan jika ia yang pergi maka ia pun melakukan hal yang seperti itu. [Sahih Bukhari]

Pembahasan kedua:

Hadits lain yang menunjukkan bahwa puasa adalah penghapus dosa, diantaranya:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«مَنْ صَامَ رَمَضَانَ، إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» [صحيح البخاري ومسلم]

“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan keimanan dan harapan, maka diampuni untuknya semua dosanya yang telah lalu”. [Sahih Bukhari dan Muslim]

Dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ، وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ، وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ [صحيح مسلم]

Puasa di hari 'Arafah, aku berharap kepada Allah akan menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya. Dan puasa di hari 'Asyura', aku berharap kepada Allah akan menghapuskan dosa setahun sebelumnya. [Sahih Muslim]

Wallahu ta’aalaa a’lam!

Lihat juga: 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...