بسم
الله الرحمن الرحيم
Dari Syaddad bin Aus radhiyallahu 'anhu;
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
«إِذَا
كَنَزَ النَّاسُ الذَّهَبَ وَالْفِضَّةَ، فَاكْنِزُوا هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ:
اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ عَلَى
الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ شُكْرَ نِعْمَتِكَ، وَأَسْأَلُكَ حُسْنَ عِبَادَتِكَ،
وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا سَلِيمًا، وَأَسْأَلُكَ لِسَانًا صَادِقًا، وَأَسْأَلُكَ
مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ،
وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ، إِنَّكَ أَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ»
"Ketika manusia menimbun emas dan perak, maka timbunlah
kalimat-kalimat ini: 'Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keteguhan
dalam menghadapi segala urusan, dan aku memohon kepada-Mu tekad yang kuat dalam
mengikuti petunjuk (kebenaran). Aku memohon kepada-Mu rasa syukur atas
nikmat-Mu, aku memohon kepada-Mu kebaikan dalam beribadah kepada-Mu, aku
memohon kepada-Mu hati yang selamat, aku memohon kepada-Mu lisan yang jujur,
aku memohon kepada-Mu kebaikan dari apa yang Engkau ketahui, aku berlindung kepada-Mu
dari kejahatan dari apa yang Engkau ketahui, dan aku memohon ampunan-Mu atas
apa yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang
gaib'." [Musnad Ahmad: Hasan ligairih]
Ø Dalam riwayat
lain:
«وَكَانَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ يُعَلِّمُنَا كَلِمَاتٍ نَدْعُو بِهِنَّ فِي صَلَاتِنَا، أَوْ
قَالَ فِي دُبُرِ صَلَاتِنَا: ... »
"Adalah Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kami beberapa kalimat doa yang kami baca
dalam shalat kami" — atau ia berkata: "setelah shalat kami."
[Musnad Ahmad: Hasan ligairih]
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Biografi Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu.
Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/
2.
Sebaik-baik simpanan adalah amal shalih.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{الْمَالُ
وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ
خَيْرٌ عِندَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا} [الكهف : 46]
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi
amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu
serta lebih baik untuk menjadi harapan. [Al-Kahfi: 46]
Ø Dari Abu Musa
Al-Asy’ariy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam berkata kepadanya:
«يَا
عَبْدَ اللهِ بْنَ قَيْسٍ، قُلْ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ؛
فَإِنَّهَا كَنْزٌ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ»
“Wahai Abdullah bin Qais, katakanlah: La haula wala
quwwata illa billah (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan
Allah), karena sesungguhnya kalimat itu merupakan harta simpanan di antara
harta simpanan surga”. [Shahih Bukhari]
3.
Anjuran berdo'a dalam shalat atau di akhir shalat.
Abu Umamah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam ditanya, do'a apa yang paling didengar (dikabulkan) oleh
Allah?
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab:
«جَوْفَ
اللَّيْلِ الآخِرِ، وَدُبُرَ الصَّلَوَاتِ المَكْتُوبَاتِ» [سنن الترمذي: حسنه الألباني]
"Do'a di tengah akhir malam, dan di akhir shalat
wajib". [Sunan Tirmidzi: Hasan]
Lihat: Waktu Mustajab
4.
Meminta keteguhan dan kekuatan.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَمَا
كَانَ قَوْلَهُمْ إِلَّا أَن قَالُوا رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا
وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ
الْكَافِرِينَ} [آل
عمران : 147]
Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami,
ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam
urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum
yang kafir".
[Ali Imran: 147]
5.
Meminta agar selalu bersyukur dan ibadah terbaik.
Dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu 'anhu bahwa
Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam menggandeng tangannya dan
berkata: "Wahai Mu'adz, demi Allah, aku mencintaimu." Kemudian beliau
berkata:
«أُوصِيكَ
يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي
عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ» [سنن أبي داود]
"Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu'adz, janganlah engkau
tinggalkan setiap akhir shalat untuk mengucapkan: "Ya Allah, bantulah aku
untuk berdzikir dan bersyukur kepadaMu serta beribadah kepadaMu dengan baik.”
[Sunan Abu Daud]
Lihat: Hadits Mu'adz; Do'a di akhir shalat
6.
Keutamaan hati yang selamat.
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{وَلَا
تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ (87) يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88)
إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ} [الشعراء: 87 - 89]
Dan janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka
dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih. [Asy-Syu'araa': 87 - 89]
7.
Sifat hati yang selamat:
Diantaranya:
a)
Mentauhidkan Allah dan jauh dari kesyirikan.
Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- menafsirkan firman Allah {Kecuali
orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih}, beliau berkata:
«شَهَادَةُ
أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ» [تفسير ابن أبي حاتم]
“Persaksian bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah
selain Allah”. [Tafsir Ibnu Abi Hatim]
Ø Qatadah –rahimahullah- menafsirkan
makna “qalbun salim”, beliau berkata:
«سَلِيمٌ
مِنَ الشِّرْكِ» [تفسير
عبد الرزاق]
“Selamat dari kesyirikan”. [Tafsir Abdurrazaq]
Ø Abdurahman
bin Zayd –rahimahullah-
berkata:
«سَلِيمٍ
مِنَ الشِّرْكِ، فَأَمَّا الذُّنُوبُ فَلَيْسَ يَسْلَمُ مِنْهَا أَحَدٌ» [تفسير ابن أبي حاتم]
“Selamat dari kesyirikan, adapun dosa-dosa maka tidak ada
satu orang pun yang selamat darinya”. [Tafsir Ibnu Abi Hatim]
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{إِنَّمَا
الْمُشْرِكُونَ نَجَسٌ} [التوبة: 28]
Sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. [At-Taubah: 28]
b)
Berakidah yang benar.
Muhammad bin Sirin –rahimahullah- ditanya tentang makna “Qalbun
Saliim”, beliau berkata:
«يَعْلَمُ
بِأَنَّ اللَّهَ حَقٌّ، وَأَنَّ السَّاعَةَ قَائِمَةٌ، وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ
مَنْ فِي الْقُبُورِ» [تفسير ابن أبي حاتم]
“Mengetahui bahwasanya Allah itu adalah haq (benar adaNya),
dan hari kiamat pasti akan terjadi, dan bahwasanya Allah akan membangkitkan
siapa yang ada dalam kubur”. [Tafsir Ibnu Abi Hatim]
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{فَالَّذِينَ
لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ} [النحل: 22]
Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati
mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah
orang-orang yang sombong. [An-Nahl: 22]
c)
Selamat dari kekufuran dan kemunafikan.
Sa’id bin Musayyab –rahimahullah- berkata:
«الْقَلْبُ
السَّلِيمُ هُوَ الصَّحِيحُ، وَهُوَ قَلْبُ الْمُؤْمِنِ لِأَنَّ قَلْبَ الْكَافِرِ
وَالْمُنَافِقِ مَرِيضٌ» [تفسير البغوي]
“Hati yang selamat adalah hati yang sehat, yaitu hati orang
beriman, karena hati orang kafir dan munafiq adalah hati yang sakit”. [Tafsir
Al-Bagawiy]
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{فِي
قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ فَزَادَهُمُ اللَّهُ مَرَضًا} [البقرة: 10]
Dalam hati mereka (orang munafiq) ada penyakit, lalu ditambah
oleh Allah penyakitnya. [Al-Baqarah: 10]
d)
Selamat dari keraguan dan syubhat.
Mujahid –rahimahullah- menafsirkan makna “qalbun salim”, beliau
berkata:
«{بِقَلْبٍ
سَلِيمٍ} لَيْسَ فِيهِ شَكٌّ فِي الْحَقِّ» [تفسير ابن أبي حاتم]
“Hati yang selamat, tidak ada keraguan padanya dari
kebenaran”. [Tafsir Ibnu Abi Hatim]
Allah subhanahu wata'ala berfirman:
{وَارْتَابَتْ
قُلُوبُهُمْ فَهُمْ فِي رَيْبِهِمْ يَتَرَدَّدُونَ} [التوبة: 45]
Dan hati mereka (orang munafiq) ragu-ragu, karena itu mereka
selalu bimbang dalam keraguannya. [At-Taubah: 45]
e)
Selamat dari perkara bi’dah.
Abu ‘Utsman An-Naisaburiy –rahimahullah- berkata:
«هُوَ
الْقَلْبُ الْخَالِي مِنَ الْبِدْعَةِ الْمُطْمَئِنُّ عَلَى السُّنَّةِ» [تفسير البغوي]
“Hati yang selamat adalah hati yang kosong dari bid’ah yang
senantiasa tenang di atas As-Sunnah”. [Tafsir Al-Bagawiy]
f)
Selamat dari maksiat dan hawa nafsu.
‘Urwah bin Az-Zubair –rahimahullah- menafsirkan firman Allah {Kecuali
orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih}, beliau berkata:
«أَلَّا
يَكُونَ لَعَّانًا» [تفسير
ابن أبي حاتم]
“Tidak suka melaknat”. [Tafsir Ibnu Abi Hatim]
Ø Al-Husain bin
Al-Fadhl –rahimahullah-
berkata:
«سَلِيمٌ
مِنْ آفَةِ الْمَالِ وَالْبَنِينَ» [تفسير الثعلبي]
“Selamat dari keburukan harta dan anak”. [Tafsir
Ats-Tsa’labiy]
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{أَفَرَأَيْتَ
مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَى عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَى
سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ} [الجاثية: 23]
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa
nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya dan
Allah telah mengunci-mati pendengaran dan hatinya ...? [Al-Jaatsiyah: 23]
g)
Selalu berbuat baik dan selamat dari iri dan dengki.
Adh-Dhahhaq –rahimahullah- menafsirkan firman Allah {Kecuali
orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih}, beliau berkata:
«النَّاصِحُ
لِلَّهِ فِي خَلْقِهِ» [تفسير ابن أبي حاتم]
“Oang yang berbuat kebaikan demi Allah kepada makhlukNya”.
[Tafsir Ibnu Abi Hatim]
Ø At-Tustariy (w.383H) –rahimahullah-
memaknai “Qalbun Saliim”, dengan berkata:
«لا
يكون فيه غلٌّ، ولا حقدٌ، ولا حسدٌ، ولا يكون فيه حظٌ» [تفسير التستري]
“Tidak ada padanya kedengkian, tidak ada kebencian, tidak ada
iri, dan tidak ada ketamakan”. [Tafsir At-Tustariy]
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ
يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا
بِالْإِيمَانِ وَلَا
تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ
رَحِيمٌ} [الحشر:
10]
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan
Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan
Saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah
Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman;
Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." [Al-Hasyr:10]
Ø Abdullah bin
'Amru radhiyallahu
'anhuma berkata; Ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ:
أَيُّ النَّاسِ
أَفْضَلُ؟ قَالَ: «كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ، صَدُوقِ اللِّسَانِ»، قَالُوا:
صَدُوقُ اللِّسَانِ، نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ؟ قَالَ: «هُوَ
التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ، وَلَا غِلَّ، وَلَا
حَسَدَ» [سنن
ابن ماجه: صحيح]
"Manusia bagaimanakah yang paling mulia?" Beliau
menjawab, "Semua yang hatinya bersih dan lisan (ucapannya) benar."
Mereka berkata, "Perkataannya yang benar telah kami ketahui, lantas apakah
maksud dari hati yang bersih?" Beliau bersabda, "Hati yang bertakwa
dan bersih, tidak ada kedurhakaan dan kedzaliman padanya, serta kedengkian dan
hasad." [Sunan Ibnu Majah: Shahih]
Lihat: Hati yang selamat (qalbun saliim)
8.
Meminta lisan yang jujur.
Lihat: Hati yang bersih
9.
Meminta segala kebaikan dan berlindung dari segala keburukan.
Dari Aisyah radhiyallahu 'anha:
أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ ﷺ عَلَّمَهَا هَذَا الدُّعَاءَ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنَ
الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ،
وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ، مَا عَلِمْتُ مِنْهُ
وَمَا لَمْ أَعْلَمْ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ
عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ
وَنَبِيُّكَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا
مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا
مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ، وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ
لِي خَيْرًا»
Bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkan doa ini kepadanya: "Ya Allah, sesungguhnya aku
memohon kepada-Mu segala kebaikan, baik yang segera (di dunia) maupun yang
tertunda (di akhirat), yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Dan aku
berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan, baik yang segera maupun yang
tertunda, yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah,
sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan sebagaimana yang dimohonkan oleh
hamba-Mu dan Nabi-Mu (Muhammad), dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan
sebagaimana hamba-Mu dan Nabi-Mu berlindung kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya
aku memohon kepada-Mu surga dan segala perkataan atau perbuatan yang
mendekatkan kepadanya, dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan segala
perkataan atau perbuatan yang mendekatkan kepadanya. Dan aku mohon kepada-Mu
agar menjadikan segala ketetapan yang Engkau tetapkan atasku menjadi
kebaikan." [Sunan Ibnu Majah: Shahih]
10. Senantiasa beristigfar.
Lihat: Taubat .. Kenapa tidak ?
11. Tidak ada yang mengetahui perkara
gaib selain Allah ta’aalaa.
Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:
{أَلَمْ
يَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ وَأَنَّ اللَّهَ
عَلَّامُ الْغُيُوبِ} [التوبة : 78]
Tidaklah mereka tahu bahwasanya Allah mengetahui rahasia dan
bisikan mereka, dan bahwasanya Allah amat mengetahui segala yang ghaib. [At-Taubah: 78]
Wallahu a'lam!
Lihat juga: Hati yang berbaik sangka kepada Allah - Allah sebaik-baik yang mensucikan Hati - Do'a penyejuk hati
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...