بسم الله الرحمن الرحيم
Imam Bukhari rahimahullah
berkata:
باب: رَحْمَةِ الْوَلَدِ وَتَقْبِيلِهِ
وَمُعَانَقَتِهِ.
Bab: Kasih sayang orang tua kepada anak dengan mencium atau
memeluknya
Dalam bab ini, imam Bukhari menjelaskan kewajiban orang tua menyayangi
anaknya dengan mencium dan memeluknya, sebagaimana disebutkan dalam beberapa
hadits dalam bab ini.
Pertama: Hadits Anas radhiyallahu ‘anhu.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
وَقَالَ ثَابِتٌ: عَنْ أَنَسٍ: "أَخَذَ
النَّبِيُّ ﷺ إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ"
"Dan Tsabit berkata, dari Anas: Nabi ﷺ mengambil Ibrahim, lalu menciumnya dan mencium baunya."
Takhrij
hadits Anas:
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dengan
sanad dan matan yang utuh pada kitab “Al-Janaiz”, Anas radhiallahu'anhu
berkata:
«دَخَلْنَا مَعَ رَسُولِ
اللهِ ﷺ عَلَى أَبِي سَيْفٍ الْقَيْنِ، وَكَانَ ظِئْرًا لِإِبْرَاهِيمَ، فَأَخَذَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ
وَشَمَّهُ، ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ، وَإِبْرَاهِيمُ يَجُودُ
بِنَفْسِهِ، فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللهِ ﷺ تَذْرِفَانِ، فَقَالَ لَهُ عَبْدُ
الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رضي الله عنه: وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَقَالَ: يَا ابْنَ عَوْفٍ، إِنَّهَا رَحْمَةٌ. ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى، فَقَالَ ﷺ: إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ،
وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا
بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ»
"Kami pernah masuk bersama Rasulullah ﷺ menemui Abu Sayf Al-Qain (tukang besi), dan dia adalah ayah
susuan dari Ibrahim (putra Nabi). Rasulullah ﷺ lalu mengambil Ibrahim, mencium, dan mencium baunya. Kemudian
kami menemuinya lagi setelah itu, sementara Ibrahim sedang menghadapi sakaratul
maut. Maka kedua mata Rasulullah ﷺ mulai meneteskan air mata. Abdurrahman bin Auf ﷺ pun bertanya kepada beliau: 'Engkau juga menangis, wahai
Rasulullah?' Beliau menjawab: 'Wahai Ibnu Auf, ini adalah rahmat (belas
kasih).' Kemudian beliau melanjutkan dengan sabdanya yang lain: 'Sesungguhnya
mata bisa meneteskan air mata, hati bisa bersedih, tapi kita tidak mengucapkan
kecuali apa yang diridhai Tuhan kita. Dan sungguh, kami benar-benar bersedih
dengan perpisahan darimu, wahai Ibrahim.'"
Penjelasan singkat hadits ini:
1)
Biografi Anas radhiyallahu
‘anhu.
Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/
2)
Biografi
Ibrahim putra Nabi ﷺ.
Lahir tahun 8 hijriyah, ibunya adalah Maria
Al-Qibthiyah budak yang dihadiahkan oleh Raja Iskandaria Mesir kepada Nabi ﷺ. Wafat ketika berumur 18 bulan atau 16 bulan dan dimakamkan di
Baqi'.
Dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«وُلِدَ لِي اللَّيْلَةَ
غُلَامٌ، فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إبراهيم»
“Tadi malam seorang anak laki-laki lahir bagiku. Maka aku menamainya
dengan nama kakekku, Ibrahim” [Shahih Muslim]
Ø Al-Baraa' radhiallahu'anhu berkata:
لَمَّا تُوُفِّيَ إِبْرَاهِيمُ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «إِنَّ لَهُ مُرْضِعًا فِي
الْجَنَّةِ»
«Ketika Ibrahim ﷺ
wafat, Rasulullah ﷺ
bersabda: “Sesungguhnya ia mempunyai seorang perawat di surga.”» [Shahih
Bukhari]
3)
Kasih sayang
Rasulullah ﷺ kepada anaknya.
Lihat: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai suri teladan terbaik
4)
Mencium anak
sebagai tanda kasih sayang.
Al-Baraa' radhiayllahu ‘anhu berkata:
«فَدَخَلْتُ مَعَ أَبِي
بَكْرٍ عَلَى أَهْلِهِ، فَإِذَا عَائِشَةُ ابْنَتُهُ مُضْطَجِعَةٌ قَدْ
أَصَابَتْهَا حُمَّى، فَرَأَيْتُ أَبَاهَا فَقَبَّلَ خَدَّهَا وَقَالَ: كَيْفَ
أَنْتِ يَا بُنَيَّةُ؟»
Lalu aku masuk bersama Abu Bakar menemui keluarganya, ternyata putrinya
‘Aisyah sedang berbaring karena terserang demam. Aku melihat ayahnya mencium
pipinya dan berkata, "Bagaimana keadaanmu, wahai putriku?""
[Shahih Bukhari]
Ø Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:
«مَا رَأَيْتُ أَحَدًا
كَانَ أَشْبَهَ سَمْتًا وَهَدْيًا وَدَلًّا بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنْ فَاطِمَةَ
كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهَا كَانَتْ إِذَا دَخَلَتْ عَلَيْهِ قَامَ إِلَيْهَا
فَأَخَذَ بِيَدِهَا، وَقَبَّلَهَا، وَأَجْلَسَهَا فِي مَجْلِسِهِ، وَكَانَ إِذَا
دَخَلَ عَلَيْهَا قَامَتْ إِلَيْهِ، فَأَخَذَتْ بِيَدِهِ فَقَبَّلَتْهُ،
وَأَجْلَسَتْهُ فِي مَجْلِسِهَا»
"Tidak pernah aku melihat seseorang yang paling mirip akhlak,
perilaku, dan pembawaannya dengan Rasulullah ﷺ daripada Fatimah - semoga Allah memuliakan wajahnya. Jika dia
masuk menemui beliau, beliau berdiri menyambutnya, memegang tangannya,
menciumnya, dan mendudukkannya di tempat duduknya. Dan jika beliau masuk
menemuinya, dia berdiri menyambutnya, memegang tangan beliau, menciumnya, dan
mendudukkan beliau di tempat duduknya." [Sunan Abi Daud: Shahih]
5)
Anak adalah
ujian.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَاعْلَمُوا أَنَّمَا
أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ}
[الأنفال: 28]
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah
sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. [Al-Anfaal:28]
Lihat: Kewajiban orang tua mendidik anaknya
6)
Tangisan ketika
kehilangan orang yang dicintai adalah rahmat.
Lihat: 3 Tingkatan sabar
7)
Tidak boleh
mengatakan ucapan buruk ketika ditimpa musibah.
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah ﷺ bersabda:
«لَيْسَ مِنَّا مَنْ
ضَرَبَ الْخُدُوْدَ، وَشَقَّ الجُيُوْبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ»
“Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi,
merobek-robek pakaian, dan menyeru dengan seruan orang-orang jahiliyah”.
[Shahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (35); Sabar terhadap takdir Allah adalah bagian dari iman kepadaNya
8)
Kuatnya
kesabaran Nabi ﷺ.
Lihat: Akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
Kedua: Hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Imam Bukhari rahimahullah
berkata:
٥٦٤٨ - حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ:
حَدَّثَنَا مَهْدِيٌّ [بن ميمون]: حَدَّثَنَا [محمد بن عبد الله] ابْنُ أَبِي
يَعْقُوبَ، عَنِ [عبد الرحمن] ابْنِ أَبِي نُعْمٍ قَالَ: كُنْتُ شَاهِدًا لِابْنِ
عُمَرَ، وَسَأَلَهُ رَجُلٌ عَنْ دَمِ الْبَعُوضِ، فَقَالَ: مِمَّنْ أَنْتَ؟
فَقَالَ: مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ، قَالَ: انْظُرُوا إِلَى هَذَا، يَسْأَلُنِي عَنْ
دم البعوض، وَقَدْ قَتَلُوا ابْنَ النَّبِيِّ ﷺ، وَسَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ:
«هُمَا رَيْحَانَتَايَ مِنَ الدُّنْيَا».
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Mahdiy [bin Maimun], ia berkata: Telah menceritakan
kepada kami [Muammad bin ‘Abdillah] Ibnu Abu Ya'qub, dari [Abdurrahman] Ibnu
Abu Nu'm, dia berkata: Saya pernah menyaksikan Ibnu Umar bahwa dia
ditanya seorang laki-laki tentang darah nyamuk, Ibnu Umar bertanya, "Dari
manakah kamu?" laki-laki itu menjawab, "Dari negeri Irak." Ibnu
Umar berkata, "Lihatlah kepada orang ini, dia bertanya kepadaku tentang
darah nyamuk, sementara mereka (penduduk Irak) telah membunuh cucu Nabi ﷺ, dan saya mendengar Nabi ﷺ bersabda, "Keduanya (Hasan dan Husain) adalah kebanggaanku
di dunia."
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Biografi
Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.
Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/
2.
Keburukan kaum
khawarij.
Diantaranya:
a)
Berlebihan dalam
beragama.
Lihat: Kitab Iman bab 30; Agama itu mudah
b)
Mendahulukan akal
daripada nash (Al-Qur’an dan hadits).
Mu’adzah -rahimahullah- berkata:
سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ: مَا
بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ. فَقَالَتْ:
أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟ قُلْتُ: لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ، وَلَكِنِّي أَسْأَلُ.
قَالَتْ: «كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ، فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ، وَلَا نُؤْمَرُ
بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ» [صحيح مسلم]
"Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata; 'Kenapa wanita
haid mengqadha' puasa dan tidak mengqadha' shalat?’ Aisyah menjawab; ‘Apakah
kamu dari golongan Haruriyah (kaum Khawarij)?’ Aku menjawab; ‘Aku bukan
Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.' Dia menjawab; ‘Kami dahulu mengalami
haid, kami diperintahkan untuk mengqadha' puasa dan tidak diperintahkan
mengqadha' shalat'. [Shahih Muslim]
c)
Mengkafirkan pelaku
dosa besar.
d)
Menghalalkan darah kaum
muslimin.
Abu Sa'id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu berkata:
بَعَثَ عَلِيٌّ، وَهْوَ بِالْيَمَنِ،
إِلَى النَّبِيِّ ﷺ بِذُهَيْبَةٍ فِي تُرْبَتِهَا، فَقَسَمَهَا بَيْنَ الْأَقْرَعِ
بْنِ حَابِسٍ الْحَنْظَلِيِّ، ثُمَّ أَحَدِ بَنِي مُجَاشِعٍ، وَبَيْنَ عُيَيْنَةَ
بْنِ بَدْرٍ الْفَزَارِيِّ، وَبَيْنَ عَلْقَمَةَ بْنِ عُلَاثَةَ الْعَامِرِيِّ،
ثُمَّ أَحَدِ بَنِي كِلَابٍ، وَبَيْنَ زَيْدِ الْخَيْلِ الطَّائِيِّ، ثُمَّ أَحَدِ
بَنِي نَبْهَانَ، فَتَغَضَّبَتْ قُرَيْشٌ وَالْأَنْصَارُ، فَقَالُوا: يُعْطِيهِ
صَنَادِيدَ أَهْلِ نَجْدٍ وَيَدَعُنَا، قَالَ: «إِنَّمَا أَتَأَلَّفُهُمْ».
فَأَقْبَلَ رَجُلٌ غَائِرُ الْعَيْنَيْنِ، نَاتِئُ الْجَبِينِ، كَثُّ اللِّحْيَةِ،
مُشْرِفُ الْوَجْنَتَيْنِ، مَحْلُوقُ الرَّأْسِ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ اتَّقِ
اللهَ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «فَمَنْ يُطِيعُ اللهَ إِذَا عَصَيْتُهُ،
فَيَأْمَنِّي عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ، وَلَا تَأْمَنُونِي» فَسَأَلَ رَجُلٌ مِنَ
الْقَوْمِ قَتْلَهُ أُرَاهُ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ فَمَنَعَهُ النَّبِيُّ ﷺ،
فَلَمَّا وَلَّى قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا
يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ، لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ
مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ، يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ
وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ
عَاد»
Ali, saat berada di Yaman, mengirimkan kepada Nabi ﷺ emas yang masih berada di dalam tanahnya (belum diolah).
Kemudian Nabi membagikannya kepada: 1. Al-Aqra' bin Habis al-Hanzhali (dari
Bani Mujasyi') 2. Uyainah bin Badr al-Fazari 3. Alqamah bin Ulatsah al-Amiri
(dari Bani Kilab) 4. Zaid al-Khail ath-Tha'i (dari Bani Nabhan). Orang-orang
Quraisy dan Anshar marah, mereka berkata: "Beliau memberikan (harta)
kepada para pemimpin suku Najd, namun meninggalkan kami." Nabi bersabda:
"Sesungguhnya aku hanya ingin menarik simpati mereka." Kemudian
datanglah seorang laki-laki yang cekung kedua matanya, menonjol dahinya, lebat
jenggotnya, tinggi tulang pipinya, dan kepalanya dicukur. Dia berkata:
"Wahai Muhammad, bertakwalah kepada Allah!" Nabi ﷺ bersabda: "Lalu siapa yang akan taat kepada Allah jika aku
durhaka kepada-Nya? Dia (Allah) mempercayaiku atas penduduk bumi, sedangkan
kalian tidak mempercayaiku?" Seorang laki-laki (yang aku kira adalah
Khalid bin al-Walid) meminta izin untuk membunuhnya, namun Nabi ﷺ melarangnya. Setelah orang itu pergi, Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya dari keturunan orang ini akan
muncul suatu kaum yang membaca Al-Qur'an namun tidak melampaui tenggorokan
mereka. Mereka keluar dari Islam seperti anak panah meluncur dari busurnya.
Mereka membunuh kaum Muslimin dan membiarkan para penyembah berhala. Sekiranya
aku menjumpai mereka, pasti akan aku bunuh mereka seperti pembunuhan terhadap
kaum 'Ad." [Shahih Bukhari]
3.
Keutamaan Hasan
dan Husain radhiyallahu ‘anhuma.
Buraidah radhiyallahu ‘anhu berkata:
«خَطَبَنَا رَسُولُ اللهِ
ﷺ، فَأَقْبَلَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ عَلَيْهِمَا قَمِيصَانِ أَحْمَرَانِ
يَعْثُرَانِ وَيَقُومَانِ، فَنَزَلَ فَأَخَذَهُمَا فَصَعِدَ بِهِمَا الْمِنْبَرَ،
ثُمَّ قَالَ: صَدَقَ اللهُ: ﴿إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ﴾ رَأَيْتُ
هَذَيْنِ فَلَمْ أَصْبِرْ، ثُمَّ أَخَذَ فِي الْخُطْبَةِ»
"Rasulullah ﷺ
sedang berkhutbah kepada kami. Tiba-tiba Hasan dan Husain (keduanya mengenakan
baju merah) datang tergopoh-gopoh, terkadang terjatuh lalu bangun kembali.
Beliau turun dari mimbar, mengangkat keduanya, lalu naik kembali ke mimbar
sambil membawa mereka. Kemudian beliau bersabda: 'Benarlah firman Allah: {'Sesungguhnya
harta dan anak-anak kalian adalah ujian'} [At-Taghabun: 15]. Aku melihat
kedua anak ini sehingga tidak bisa bersabar (untung mengangkatnya).' Kemudian
beliau melanjutkan khutbahnya." [Sunan Abi Daud]
Lihat: Keistimewaan Hasan dan Husain
4.
Rasulullah ﷺ menyamakan kedua cucunya dengan
bungan Lavender karena keduanya sering dicium seperti bungan dan membuat
bahagia.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata;
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ
وَمَعَهُ حَسَنٌ وَحُسَيْنٌ هَذَا عَلَى عَاتِقِهِ، وَهَذَا عَلَى عَاتِقِهِ،
وَهُوَ يَلْثِمُ هَذَا مَرَّةً، وهَذَا مَرَّةً، حَتَّى انْتَهَى إِلَيْنَا،
فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّكَ تُحِبُّهُمَا، فَقَالَ: "مَنْ
أَحَبَّهُمَا فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَبْغَضَهُمَا فَقَدْ أَبْغَضَنِي"
Suatu ketika Rasulullah ﷺ keluar
menemui kami, sedang beliau bersama Hasan dan Husain yang berada di pundak
kanan dan kiri beliau. Dan beliau kadang mencium Hasan dan kadang mencium
Husain sehingga beliau sampai di hadapan kami, lalu ada seorang lelaki yang
bertanya kepadanya; "Wahai Rasulullah, engkau sangat mencintai
keduanya" Maka beliau bersabda: "Barangsiapa mencintai keduanya maka
ia telah mencintaiku, dan barangsiapa membuat keduanya marah maka ia telah
membuatku marah." [Musnad Ahmad: Sanadnya kuat]
Lihat: Keistimewaan Ahlul bait
Ketiga: Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha
yang pertama.
Imam Bukhari rahimahullah
berkata:
٥٦٤٩ - حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ:
أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ: أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ
الزُّبَيْرِ أَخْبَرَهُ: أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ ﷺ حَدَّثَتْهُ
قَالَتْ: جَاءَتْنِي امْرَأَةٌ مَعَهَا ابْنَتَانِ تَسْأَلُنِي، فَلَمْ تَجِدْ
عِنْدِي غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ، فَأَعْطَيْتُهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا،
ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ، فَدَخَلَ النَّبِيُّ ﷺ فَحَدَّثْتُهُ، فَقَالَ: «مَنْ
يَلِي مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ شَيْئًا، فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ، كُنَّ لَهُ
سِتْرًا مِنَ النَّارِ».
Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Yaman, ia berkata: Telah
mengabarkan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhriy, dia berkata: Telah
menceritakan kepadaku Abdullah bin Abu Bakr; Bahwa 'Urwah bin Zubair telah
mengabarkan kepadanya bahwa Aisyah istri Nabi ﷺ, telah menceritakan kepadanya, katanya, "Seorang wanita
bersama dua anaknya pernah datang kepadaku, dia meminta (makanan) kepadaku,
namun aku tidak memiliki sesuatu yang dapat dimakan melainkan satu buah kurma,
kemudian aku memberikan kepadanya dan membagi untuk kedua anaknya, setelah itu
wanita tersebut berdiri dan beranjak keluar, tiba-tiba Nabi ﷺ datang dan aku pun memberitahukan peristiwa yang baru aku
alami, beliau bersabda, "Barang siapa yang diuji sesuatu karena anak-anak
perempuannya lalu ia berlaku baik terhadap mereka maka mereka akan
melindunginya dari api neraka."
Penjelasan singkat hadits ini:
1)
Biografi Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Lihat: Aisyah binti Abi Bakr dan keistimewaannya
2)
Keutamaan bersedekah sekalipun hanya sebiji kurma.
Abu Hurairah -radhiallahu 'anhu- berkata,: Rasulullah ﷺ telah bersabda:
"مَنْ تَصَدَّقَ
بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلَا يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا الطَّيِّبَ
وَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا
يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ"
"Barangsiapa yang bershadaqah dengan sebutir kurma hasil dari
usahanya sendiri yang baik (halal), sedangkan Allah tidak menerima kecuali yang
baik saja, maka sungguh Allah akan menerimanya dengan tangan kananNya lalu
mengasuhnya untuk pemiliknya sebagaimana jika seorang dari kalian mengasuh anak
kudanya hingga membesar seperti gunung".
[Shahih Bukhari dan Muslim]
Ø Dari 'Adiy
bin Hatim -radhiallahu 'anhu-; Nabi ﷺ bersabda:
"اتَّقُوا النَّارَ
وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ"
"Jagalah diri kalian dari neraka sekalipun hanya dengan sedekah
setengah biji kurma, siapa yang tak mendapatkannya, maka dgn ucapan yang
baik." [Shahih Bukhari dan Muslim]
Lihat: Keutamaan memberi makan
3)
Besarnya kasih sayang seorang ibu.
4)
Keutamaan anak perempuan jika dijaga dengan baik.
Dari Abu Sa'id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
"لَا يَكُونُ لِأَحَدٍ ثَلَاثُ بَنَاتٍ،
أَوْ ثَلَاثُ أَخَوَاتٍ، أَوْ ابْنَتَانِ، أَوْ أُخْتَانِ، فَيَتَّقِي اللهَ
فِيهِنَّ وَيُحْسِنُ إِلَيْهِنَّ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ" [مسند أحمد: صحيح]
"Tidaklah seseorang yang memiliki tiga anak perempuan atau tiga
saudari perempuan, atau dua anak perempuan atau dua saudari perempuan, kemudian
ia bertakwa kepada Allah pada mereka dan berlaku baik terhadap mereka kecuali
ia akan masuk surga". [Musnad Ahmad: Sahih]
Ø Dari Anas bin
Malik radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
"مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى
تَبْلُغَا، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ" [صحيح مسلم]
"Barangsiapa yang menanggung nafkah dua anak gadis sampai balig maka
ia akan datang pada hari kiamat (masuk surga) bersamaku (seperti ini)",
Rasulullah mendekatkan dua jarinya. [Sahih Muslim]
Lihat: Anak adalah anugrah dari Allah
Keempat: Hadits Abu Qatadah radhiyallahu
‘anhu.
Imam Bukhari rahimahullah
berkata:
٥٦٥٠ - حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ [هشام بن
عبد الملك]: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ: حَدَّثَنَا
عَمْرُو بْنُ سُلَيْمٍ: حَدَّثَنَا أَبُو قَتَادَةَ [الحارث بن ربعي] قَالَ: «خَرَجَ
عَلَيْنَا النَّبِيُّ ﷺ، وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِي الْعَاصِ عَلَى عَاتِقِهِ،
فَصَلَّى، فَإِذَا رَكَعَ وضعها، وَإِذَا رَفَعَ رَفَعَهَا».
Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Walid [Hisyam bin Abdil Malik], ia
berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Laits, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Sa'id Al-Maqburiy, ia berkata: Telah menceritakan
kepada kami 'Amru bin Sulaim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu
Qatadah dia berkata, "Nabi ﷺ keluar menemui kami, sementara Umamah binti Abu Al-'Ash berada
dipundak beliau, kemudian beliau mengerjakan salat, apabila hendak rukuk beliau
meletakkannya dan apabila bangkit dari ruku beliau pun mengangkatnya
kembali."
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Biografi Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu.
Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/
2.
Biografi Umamah binti Abi Al-Ash adalah putri Zainab
binti Rasulullah.
Dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib pada masa kekhalifaan
Umar, setelah Ali wafat ia dinikahi oleh Al-Migirah bin Naufal bin Al-Harits
bin Abdil Muthalib Al-Qurasyiy. Wafat di masa kepemimpinan Mu'awiyah bin Abi
Sufyan radhiallahu'anhuma. [Siyar A'lam An-Nubalaa' karya Adz-Dzahabiy
1/335]
3.
Boleh menggendong anak saat shalat.
Syaddad bin Al-Had radhiyallahu ‘anhu berkata:
خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي
إِحْدَى صَلَاتَيِ الْعِشَاءِ وَهُوَ حَامِلٌ
حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ الله ﷺ فَوَضَعَهُ، ثُمَّ كَبَّرَ
لِلصَّلَاةِ فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا،
فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَهُوَ
سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ الله ﷺ الصَّلَاةَ
قَالَ النَّاسُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ
صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ
أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ، قَالَ: «كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي
ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ» [سنن النسائي: صححه الألباني]
“Rasulullah ﷺ keluar
untuk mengimami kami salat Isya’ sambil menggendong Hasan dan Husain. Lalu
beliau ﷺ maju ke depan dan meletakkan kedua
cucunya itu lantas mengucapkan takbir shalat dan memulai salatnya. Pada saat
itu beliau sujud dengan sujud yang sangat lama, maka aku mengangkat kepalaku,
dan ternyata seorang anak sedang duduk di atas punggung Rasulullah ﷺ yang sedang sujud. Lalu aku kembali ke sujudku. Seusai
shalat, orang-orang bertanya kepada Rasulullah ﷺ, ‘Wahai Rasulullah, engkau tadi sujud terlalu lama, hingga kami
kira telah terjadi sesuatu, atau engkau sedang menerima wahyu.’ Beliau
menjawab, ‘Tidak terjadi apa-apa, tetapi tadi cucuku menunggangi punggungku dan
aku tidak suka menurunkan mereka hingga mereka merasa puas’.” [Sunan An-Nasa’i:
Sahih]
4.
Gerakan sedikit dalam shalat tidak membatalkan shalat.
Lihat: Perbuatan yang boleh dilakukan dalam salat
5.
Boleh membawa anak kecil ke masjid.
Dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu; Nabi ﷺ bersabda:
«إِنِّي لَأَقُومُ إِلَى
الصَّلاَةِ وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ
الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلاَتِي كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ» [صحيح البخاريٍ]
"Aku pernah ingin memanjangkan shalat, namun aku mendengar tangisan
bayi. Maka aku pendekkan shalatku karena khawatir akan memberatkan
ibunya." [Shahih Bukhari]
Lihat: Perempuan shalat jama’ah di masjid
Kelima: Hadits Abu Hurairah radhiyallahu
‘anhu.
Imam Bukhari rahimahullah berkata:
٥٦٥١ - حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ:
أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ: حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ: أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ
ﷺ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ
جَالِسًا، فَقَالَ الْأَقْرَعُ: إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ
مِنْهُمْ أَحَدًا، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ثُمَّ قَالَ: «مَنْ لَا
يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ»
Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Yaman, ia berkata: Telah
mengabarkan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhriy, ia berkata: Telah menceritakan
kepada kami Abu Salamah bin Abdurrahman; Bahwa Abu Hurairah radhiallahu'anhu
berkata, "Rasulullah ﷺ
pernah mencium Al-Hasan bin Ali sedangkan disamping beliau ada Al-Aqra' bin
Habis At-Tamimiy sedang duduk, lalu Aqra' berkata, "Sesungguhnya aku
memiliki sepuluh orang anak, namun aku tidak pernah mencium mereka sekali pun,
maka Rasulullah ﷺ
memandangnya dan bersabda, "Barang siapa tidak mengasihi maka ia tidak
akan dikasihi."
Keenam: Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha yang
kedua.
Imam Bukhari rahimahullah
berkata:
٥٦٥٢ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ:
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ [الثوري]، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رضي
الله عنها قَالَتْ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: تُقَبِّلُونَ
الصِّبْيَانَ؟ فَمَا نُقَبِّلُهُمْ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «أَوَ أَمْلِكُ لَكَ
أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ»
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Sufyan [Ats-Tsauriy], dari Hisyam, dari 'Urwah, dari 'Aisyah
radhiallahu'anha dia berkata, "Seorang Arab Badui datang kepada
Nabi ﷺ dan berkata, "Kalian
menciumi anak-anak kalian, padahal kami tidak pernah menciumi anak-anak
kami." Maka Nabi ﷺ
bersabda, "Apakah aku memiliki apa yang telah Allah hilangkan dari hatimu
berupa sikap kasih sayang?"
Penjelasan singkat kedua hadits di atas:
1. Sikap Arab Badui yang cenderung kasar.
2. Balasan sesuai dengan perbuatan.
Dari Abdullah bin Amru -radhiallahu 'anhuma-; Nabi ﷺ bersabda:
«الرَّاحِمُونَ
يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَن، ارْحَمُوا أَهْلَ الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي
السَّمَاءِ»
"Para penyayang akan disayangi oleh Ar Rahman. Sayangilah penduduk
bumi maka kalian akan disayangi oleh siapa saja yang di langit." [Sunan
Abi Daud: Shahih]
3.
Bagaimana
mendapatkan rahmat Allah?
Lihat: Ramadhan bulan penuh rahmat
4.
Hanya Allah
yang membagikan rahmat, termasuk rasa kasih sayang.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{قُل لَّوْ أَنتُمْ
تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَّأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ
الْإِنفَاقِ ۚ وَكَانَ الْإِنسَانُ قَتُورًا} [الإسراء : 100]
Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai
perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu
tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat
kikir. [Al-Israa ':
100]
Ketujuh: Hadits Umar radhiyallahu ‘anhu.
Imam Bukhari rahimahullah
berkata:
٥٦٥٣ - حَدَّثَنَا [سعيد] ابْنُ أَبِي
مَرْيَمَ: حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ [محمد بن المطرف] قَالَ: حَدَّثَنِي زَيْدُ
بْنُ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ [مولى عمر]، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله
عنه: قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ سَبْيٌ، فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ قَدْ
تَحْلُبُ ثَدْيَهَا تَسْقِي، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ،
فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ ﷺ: «أَتُرَوْنَ
هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ». قُلْنَا: لَا، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى
أَنْ لَا تَطْرَحَهُ، فَقَالَ: «لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ
بِوَلَدِهَا».
Telah menceritakan kepada kami [Sa’id] Ibnu Abu Maryam, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Abu Ghassan [Muhammad bin Al-Mutharrif], dia berkata: Telah
menceritakan kepadaku Zaid bin Aslam, dari Ayahnya [Maula ‘Umar], dari Umar
bin Al Khatthab radhiallahu'anhu (katanya), "Rasulullah ﷺ pernah memperoleh beberapa orang tawanan perang. Ternyata dari
tawanan tersebut ada seorang perempuan yang biasa menyusui anak kecil, apabila
dia mendapatkan anak kecil dalam tawanan tersebut, maka ia akan mengambilnya dan
menyusuinya, lalu Nabi ﷺ
bersabda kepada kami: 'Menurut kalian, apakah perempuan itu tega melemparkan
bayinya ke dalam api?' Kami menjawab, 'Sesungguhnya ia tidak akan tega
melemparkan anaknya ke dalam api selama ia masih sanggup menghindarkannya dari
api tersebut.' Lalu beliau bersabda, 'Sungguh, kasih sayang Allah terhadap
hamba-Nya melebihi kasih sayang perempuan itu terhadap anaknya.'
Penjelasan singkat hadits ini:
1)
Biografi Umar
bin Khathab radhiyallahu ‘anhu.
Lihat: Keistimewaan Umar bin Khathab
2)
Keutamaan istri
yang penuh kasih sayang.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَلَا أُخْبِرُكُمْ
بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْوَدُودُ، الْوَلُودُ، الْعَؤُودُ عَلَى
زَوْجِهَا، الَّتِي إِذَا آذَتْ أَوْ أُوذِيَتْ، جَاءَتْ حَتَّى تَأْخُذَ بِيَدِ
زَوْجِهَا، ثُمَّ تَقُولُ وَاللهِ لَا أَذُوقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى» [السنن الكبرى للنسائي: حسن]
"Maukah kalian kuberi tahu tentang perempuan kalian dari ahli surga:
Yang penuh kasih sayang, banyak melahirkan, yang senantiasa kembali kepada
suaminya, yang jika ia menyakiti atau disakiti maka ia datang kemudian memegang
tangan suaminya kemudian berkata: Demi Allah, aku tidak akan merasakan tidur
sampai engkau ridha". [Sunan An-Nasaiy Al-Kubraa: Hasan]
Lihat: Sifat istri shalihah
3)
Ibu menyusui
anaknya selama 2 tahun.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَالْوَالِدَاتُ
يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ
الرَّضَاعَةَ} [البقرة : 233]
Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun
penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. [Al-Baqarah: 233]
4)
Luasnya kasih
sayang Allah ‘azza wajalla.
Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
"إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الرَّحْمَةَ
يَوْمَ خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ
رَحْمَةً، وَأَرْسَلَ فِي خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً، فَلَوْ يَعْلَمُ
الكَافِرُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ لَمْ يَيْئَسْ مِنَ
الجَنَّةِ، وَلَوْ يَعْلَمُ المُؤْمِنُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنَ
العَذَابِ لَمْ يَأْمَنْ مِنَ النَّارِ"
"Sesungguhnya Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) seratus bagian,
maka dipeganglah di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkannya
satu bagian untuk seluruh makhluk-Nya, sekiranya orang-orang kafir mengetahui
setiap rahmat (kasih sayang) yang ada di sisi Allah, niscaya mereka tidak akan
berputus asa untuk memperoleh surga, dan sekiranya orang-orang mukmin
mengetahui setiap siksa yang ada di sisi Allah, maka ia tidak akan merasa aman
dari neraka." [Shahih Bukhari]
5)
Penetapan sifat
rahmat pada Allah subhanahu wata'aalaa.
Lihat: Kaedah nama dan sifat Allah
Wallahu a’lam!
Lihat juga: Kitab Adab Bab: 15, 16 dan 17; SIlaturahim yang sesungguhnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...