Sabtu, 18 April 2026

Kitab Adab Bab: 18; Kasih sayang orang tua kepada anak dengan mencium atau memeluknya

 بسم الله الرحمن الرحيم

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

باب: رَحْمَةِ الْوَلَدِ وَتَقْبِيلِهِ وَمُعَانَقَتِهِ.

Bab: Kasih sayang orang tua kepada anak dengan mencium atau memeluknya

Dalam bab ini, imam Bukhari menjelaskan kewajiban orang tua menyayangi anaknya dengan mencium dan memeluknya, sebagaimana disebutkan dalam beberapa hadits dalam bab ini.

Pertama: Hadits Anas radhiyallahu ‘anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

وَقَالَ ثَابِتٌ: عَنْ أَنَسٍ: "أَخَذَ النَّبِيُّ ﷺ إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ"

"Dan Tsabit berkata, dari Anas: Nabi mengambil Ibrahim, lalu menciumnya dan mencium baunya."

Takhrij hadits Anas:

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dengan sanad dan matan yang utuh pada kitab “Al-Janaiz”, Anas radhiallahu'anhu berkata:

«دَخَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللهِ ﷺ عَلَى أَبِي سَيْفٍ الْقَيْنِ، وَكَانَ ظِئْرًا لِإِبْرَاهِيمَ، فَأَخَذَ رَسُولُ اللهِ ﷺ إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ، ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ، وَإِبْرَاهِيمُ يَجُودُ بِنَفْسِهِ، فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللهِ ﷺ تَذْرِفَانِ، فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رضي الله عنه: وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ فَقَالَ: يَا ابْنَ عَوْفٍ، إِنَّهَا رَحْمَةٌ. ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى، فَقَالَ ﷺ: إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا، وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ»

"Kami pernah masuk bersama Rasulullah menemui Abu Sayf Al-Qain (tukang besi), dan dia adalah ayah susuan dari Ibrahim (putra Nabi). Rasulullah lalu mengambil Ibrahim, mencium, dan mencium baunya. Kemudian kami menemuinya lagi setelah itu, sementara Ibrahim sedang menghadapi sakaratul maut. Maka kedua mata Rasulullah mulai meneteskan air mata. Abdurrahman bin Auf pun bertanya kepada beliau: 'Engkau juga menangis, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab: 'Wahai Ibnu Auf, ini adalah rahmat (belas kasih).' Kemudian beliau melanjutkan dengan sabdanya yang lain: 'Sesungguhnya mata bisa meneteskan air mata, hati bisa bersedih, tapi kita tidak mengucapkan kecuali apa yang diridhai Tuhan kita. Dan sungguh, kami benar-benar bersedih dengan perpisahan darimu, wahai Ibrahim.'"

Penjelasan singkat hadits ini:

1)      Biografi Anas radhiyallahu ‘anhu.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

2)      Biografi Ibrahim putra Nabi .

Lahir tahun 8 hijriyah, ibunya adalah Maria Al-Qibthiyah budak yang dihadiahkan oleh Raja Iskandaria Mesir kepada Nabi . Wafat ketika berumur 18 bulan atau 16 bulan dan dimakamkan di Baqi'.

Dari Anas bin Malik radhiallahu'anhu; Rasulullah bersabda:

«وُلِدَ لِي اللَّيْلَةَ غُلَامٌ، فَسَمَّيْتُهُ بِاسْمِ أَبِي إبراهيم»

“Tadi malam seorang anak laki-laki lahir bagiku. Maka aku menamainya dengan nama kakekku, Ibrahim” [Shahih Muslim]

Ø  Al-Baraa' radhiallahu'anhu berkata:

لَمَّا تُوُفِّيَ إِبْرَاهِيمُ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «إِنَّ لَهُ مُرْضِعًا فِي الْجَنَّةِ»

«Ketika Ibrahim wafat, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya ia mempunyai seorang perawat di surga.”» [Shahih Bukhari]

3)      Kasih sayang Rasulullah kepada anaknya.

Lihat: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sebagai suri teladan terbaik

4)      Mencium anak sebagai tanda kasih sayang.

Al-Baraa' radhiayllahu ‘anhu berkata:

«فَدَخَلْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ عَلَى أَهْلِهِ، فَإِذَا عَائِشَةُ ابْنَتُهُ مُضْطَجِعَةٌ قَدْ أَصَابَتْهَا حُمَّى، فَرَأَيْتُ أَبَاهَا فَقَبَّلَ خَدَّهَا وَقَالَ: كَيْفَ أَنْتِ يَا بُنَيَّةُ؟»

Lalu aku masuk bersama Abu Bakar menemui keluarganya, ternyata putrinya ‘Aisyah sedang berbaring karena terserang demam. Aku melihat ayahnya mencium pipinya dan berkata, "Bagaimana keadaanmu, wahai putriku?"" [Shahih Bukhari]

Ø  Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata:

«مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَشْبَهَ سَمْتًا وَهَدْيًا وَدَلًّا بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنْ فَاطِمَةَ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهَا كَانَتْ إِذَا دَخَلَتْ عَلَيْهِ قَامَ إِلَيْهَا فَأَخَذَ بِيَدِهَا، وَقَبَّلَهَا، وَأَجْلَسَهَا فِي مَجْلِسِهِ، وَكَانَ إِذَا دَخَلَ عَلَيْهَا قَامَتْ إِلَيْهِ، فَأَخَذَتْ بِيَدِهِ فَقَبَّلَتْهُ، وَأَجْلَسَتْهُ فِي مَجْلِسِهَا»

"Tidak pernah aku melihat seseorang yang paling mirip akhlak, perilaku, dan pembawaannya dengan Rasulullah daripada Fatimah - semoga Allah memuliakan wajahnya. Jika dia masuk menemui beliau, beliau berdiri menyambutnya, memegang tangannya, menciumnya, dan mendudukkannya di tempat duduknya. Dan jika beliau masuk menemuinya, dia berdiri menyambutnya, memegang tangan beliau, menciumnya, dan mendudukkan beliau di tempat duduknya." [Sunan Abi Daud: Shahih]

5)      Anak adalah ujian.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ} [الأنفال: 28]

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. [Al-Anfaal:28]

Lihat: Kewajiban orang tua mendidik anaknya

6)      Tangisan ketika kehilangan orang yang dicintai adalah rahmat.

Lihat: 3 Tingkatan sabar

7)      Tidak boleh mengatakan ucapan buruk ketika ditimpa musibah.

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu, Rasulullah bersabda:

«لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُوْدَ، وَشَقَّ الجُيُوْبَ، وَدَعَا بِدَعْوَى الجَاهِلِيَّةِ»

“Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul pipi, merobek-robek pakaian, dan menyeru dengan seruan orang-orang jahiliyah”. [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (35); Sabar terhadap takdir Allah adalah bagian dari iman kepadaNya

8)      Kuatnya kesabaran Nabi .

Lihat: Akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Kedua: Hadits Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٤٨ - حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ: حَدَّثَنَا مَهْدِيٌّ [بن ميمون]: حَدَّثَنَا [محمد بن عبد الله] ابْنُ أَبِي يَعْقُوبَ، عَنِ [عبد الرحمن] ابْنِ أَبِي نُعْمٍ قَالَ: كُنْتُ شَاهِدًا لِابْنِ عُمَرَ، وَسَأَلَهُ رَجُلٌ عَنْ دَمِ الْبَعُوضِ، فَقَالَ: مِمَّنْ أَنْتَ؟ فَقَالَ: مِنْ أَهْلِ الْعِرَاقِ، قَالَ: انْظُرُوا إِلَى هَذَا، يَسْأَلُنِي عَنْ دم البعوض، وَقَدْ قَتَلُوا ابْنَ النَّبِيِّ ﷺ، وَسَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «هُمَا رَيْحَانَتَايَ مِنَ الدُّنْيَا».

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mahdiy [bin Maimun], ia berkata: Telah menceritakan kepada kami [Muammad bin ‘Abdillah] Ibnu Abu Ya'qub, dari [Abdurrahman] Ibnu Abu Nu'm, dia berkata: Saya pernah menyaksikan Ibnu Umar bahwa dia ditanya seorang laki-laki tentang darah nyamuk, Ibnu Umar bertanya, "Dari manakah kamu?" laki-laki itu menjawab, "Dari negeri Irak." Ibnu Umar berkata, "Lihatlah kepada orang ini, dia bertanya kepadaku tentang darah nyamuk, sementara mereka (penduduk Irak) telah membunuh cucu Nabi , dan saya mendengar Nabi bersabda, "Keduanya (Hasan dan Husain) adalah kebanggaanku di dunia."

Penjelasan singkat hadits ini:

1.      Biografi Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

2.      Keburukan kaum khawarij.

Diantaranya:

a)      Berlebihan dalam beragama.

Lihat: Kitab Iman bab 30; Agama itu mudah

b)      Mendahulukan akal daripada nash (Al-Qur’an dan hadits).

Mu’adzah -rahimahullah- berkata:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ فَقُلْتُ: مَا بَالُ الْحَائِضِ تَقْضِي الصَّوْمَ، وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ. فَقَالَتْ: أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟ قُلْتُ: لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ، وَلَكِنِّي أَسْأَلُ. قَالَتْ: «كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ، فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ، وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ» [صحيح مسلم]

"Saya bertanya kepada Aisyah seraya berkata; 'Kenapa wanita haid mengqadha' puasa dan tidak mengqadha' shalat?’ Aisyah menjawab; ‘Apakah kamu dari golongan Haruriyah (kaum Khawarij)?’ Aku menjawab; ‘Aku bukan Haruriyah, akan tetapi aku hanya bertanya.' Dia menjawab; ‘Kami dahulu mengalami haid, kami diperintahkan untuk mengqadha' puasa dan tidak diperintahkan mengqadha' shalat'. [Shahih Muslim]

Lihat: Penjelasan singkat kitab Ash-Shaum dari Sahih Bukhari; Bab (40) Wanita haid meninggalkan puasa dan shalat

c)       Mengkafirkan pelaku dosa besar.

Lihat: Kitab Iman bab 22; Perbuatan maksiat merupakan kebiasaan Jahiliyah, tidak dikafirkan pelakunya kecuali perbuatan syirik

d)      Menghalalkan darah kaum muslimin.

Abu Sa'id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu berkata:

بَعَثَ عَلِيٌّ، وَهْوَ بِالْيَمَنِ، إِلَى النَّبِيِّ ﷺ بِذُهَيْبَةٍ فِي تُرْبَتِهَا، فَقَسَمَهَا بَيْنَ الْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ الْحَنْظَلِيِّ، ثُمَّ أَحَدِ بَنِي مُجَاشِعٍ، وَبَيْنَ عُيَيْنَةَ بْنِ بَدْرٍ الْفَزَارِيِّ، وَبَيْنَ عَلْقَمَةَ بْنِ عُلَاثَةَ الْعَامِرِيِّ، ثُمَّ أَحَدِ بَنِي كِلَابٍ، وَبَيْنَ زَيْدِ الْخَيْلِ الطَّائِيِّ، ثُمَّ أَحَدِ بَنِي نَبْهَانَ، فَتَغَضَّبَتْ قُرَيْشٌ وَالْأَنْصَارُ، فَقَالُوا: يُعْطِيهِ صَنَادِيدَ أَهْلِ نَجْدٍ وَيَدَعُنَا، قَالَ: «إِنَّمَا أَتَأَلَّفُهُمْ». فَأَقْبَلَ رَجُلٌ غَائِرُ الْعَيْنَيْنِ، نَاتِئُ الْجَبِينِ، كَثُّ اللِّحْيَةِ، مُشْرِفُ الْوَجْنَتَيْنِ، مَحْلُوقُ الرَّأْسِ، فَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ اتَّقِ اللهَ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «فَمَنْ يُطِيعُ اللهَ إِذَا عَصَيْتُهُ، فَيَأْمَنِّي عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ، وَلَا تَأْمَنُونِي» فَسَأَلَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ قَتْلَهُ أُرَاهُ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ فَمَنَعَهُ النَّبِيُّ ﷺ، فَلَمَّا وَلَّى قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ، لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ، يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ، لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَاد»

Ali, saat berada di Yaman, mengirimkan kepada Nabi emas yang masih berada di dalam tanahnya (belum diolah). Kemudian Nabi membagikannya kepada: 1. Al-Aqra' bin Habis al-Hanzhali (dari Bani Mujasyi') 2. Uyainah bin Badr al-Fazari 3. Alqamah bin Ulatsah al-Amiri (dari Bani Kilab) 4. Zaid al-Khail ath-Tha'i (dari Bani Nabhan). Orang-orang Quraisy dan Anshar marah, mereka berkata: "Beliau memberikan (harta) kepada para pemimpin suku Najd, namun meninggalkan kami." Nabi bersabda: "Sesungguhnya aku hanya ingin menarik simpati mereka." Kemudian datanglah seorang laki-laki yang cekung kedua matanya, menonjol dahinya, lebat jenggotnya, tinggi tulang pipinya, dan kepalanya dicukur. Dia berkata: "Wahai Muhammad, bertakwalah kepada Allah!" Nabi bersabda: "Lalu siapa yang akan taat kepada Allah jika aku durhaka kepada-Nya? Dia (Allah) mempercayaiku atas penduduk bumi, sedangkan kalian tidak mempercayaiku?" Seorang laki-laki (yang aku kira adalah Khalid bin al-Walid) meminta izin untuk membunuhnya, namun Nabi melarangnya. Setelah orang itu pergi, Nabi bersabda: "Sesungguhnya dari keturunan orang ini akan muncul suatu kaum yang membaca Al-Qur'an namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti anak panah meluncur dari busurnya. Mereka membunuh kaum Muslimin dan membiarkan para penyembah berhala. Sekiranya aku menjumpai mereka, pasti akan aku bunuh mereka seperti pembunuhan terhadap kaum 'Ad." [Shahih Bukhari]

3.      Keutamaan Hasan dan Husain radhiyallahu ‘anhuma.

Buraidah radhiyallahu ‘anhu berkata:

«خَطَبَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ، فَأَقْبَلَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ عَلَيْهِمَا قَمِيصَانِ أَحْمَرَانِ يَعْثُرَانِ وَيَقُومَانِ، فَنَزَلَ فَأَخَذَهُمَا فَصَعِدَ بِهِمَا الْمِنْبَرَ، ثُمَّ قَالَ: صَدَقَ اللهُ: ﴿إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ﴾ رَأَيْتُ هَذَيْنِ فَلَمْ أَصْبِرْ، ثُمَّ أَخَذَ فِي الْخُطْبَةِ»

"Rasulullah sedang berkhutbah kepada kami. Tiba-tiba Hasan dan Husain (keduanya mengenakan baju merah) datang tergopoh-gopoh, terkadang terjatuh lalu bangun kembali. Beliau turun dari mimbar, mengangkat keduanya, lalu naik kembali ke mimbar sambil membawa mereka. Kemudian beliau bersabda: 'Benarlah firman Allah: {'Sesungguhnya harta dan anak-anak kalian adalah ujian'} [At-Taghabun: 15]. Aku melihat kedua anak ini sehingga tidak bisa bersabar (untung mengangkatnya).' Kemudian beliau melanjutkan khutbahnya." [Sunan Abi Daud]

Lihat: Keistimewaan Hasan dan Husain

4.      Rasulullah menyamakan kedua cucunya dengan bungan Lavender karena keduanya sering dicium seperti bungan dan membuat bahagia.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata;

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ وَمَعَهُ حَسَنٌ وَحُسَيْنٌ هَذَا عَلَى عَاتِقِهِ، وَهَذَا عَلَى عَاتِقِهِ، وَهُوَ يَلْثِمُ هَذَا مَرَّةً، وهَذَا مَرَّةً، حَتَّى انْتَهَى إِلَيْنَا، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّكَ تُحِبُّهُمَا، فَقَالَ: "مَنْ أَحَبَّهُمَا فَقَدْ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَبْغَضَهُمَا فَقَدْ أَبْغَضَنِي"

Suatu ketika Rasulullah keluar menemui kami, sedang beliau bersama Hasan dan Husain yang berada di pundak kanan dan kiri beliau. Dan beliau kadang mencium Hasan dan kadang mencium Husain sehingga beliau sampai di hadapan kami, lalu ada seorang lelaki yang bertanya kepadanya; "Wahai Rasulullah, engkau sangat mencintai keduanya" Maka beliau bersabda: "Barangsiapa mencintai keduanya maka ia telah mencintaiku, dan barangsiapa membuat keduanya marah maka ia telah membuatku marah." [Musnad Ahmad: Sanadnya kuat]

Lihat: Keistimewaan Ahlul bait

Ketiga: Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha yang pertama.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٤٩ - حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ: أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ: أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ أَخْبَرَهُ: أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ ﷺ حَدَّثَتْهُ قَالَتْ: جَاءَتْنِي امْرَأَةٌ مَعَهَا ابْنَتَانِ تَسْأَلُنِي، فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ، فَأَعْطَيْتُهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا، ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ، فَدَخَلَ النَّبِيُّ ﷺ فَحَدَّثْتُهُ، فَقَالَ: «مَنْ يَلِي مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ شَيْئًا، فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ، كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ».

Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Yaman, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhriy, dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Abu Bakr; Bahwa 'Urwah bin Zubair telah mengabarkan kepadanya bahwa Aisyah istri Nabi , telah menceritakan kepadanya, katanya, "Seorang wanita bersama dua anaknya pernah datang kepadaku, dia meminta (makanan) kepadaku, namun aku tidak memiliki sesuatu yang dapat dimakan melainkan satu buah kurma, kemudian aku memberikan kepadanya dan membagi untuk kedua anaknya, setelah itu wanita tersebut berdiri dan beranjak keluar, tiba-tiba Nabi datang dan aku pun memberitahukan peristiwa yang baru aku alami, beliau bersabda, "Barang siapa yang diuji sesuatu karena anak-anak perempuannya lalu ia berlaku baik terhadap mereka maka mereka akan melindunginya dari api neraka."

Penjelasan singkat hadits ini:

1)      Biografi Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Lihat: Aisyah binti Abi Bakr dan keistimewaannya

2)      Keutamaan bersedekah sekalipun hanya sebiji kurma.

Abu Hurairah -radhiallahu 'anhu- berkata,: Rasulullah telah bersabda:

"مَنْ تَصَدَّقَ بِعَدْلِ تَمْرَةٍ مِنْ كَسْبٍ طَيِّبٍ وَلَا يَقْبَلُ اللَّهُ إِلَّا الطَّيِّبَ وَإِنَّ اللَّهَ يَتَقَبَّلُهَا بِيَمِينِهِ ثُمَّ يُرَبِّيهَا لِصَاحِبِهِ كَمَا يُرَبِّي أَحَدُكُمْ فَلُوَّهُ حَتَّى تَكُونَ مِثْلَ الْجَبَلِ"

"Barangsiapa yang bershadaqah dengan sebutir kurma hasil dari usahanya sendiri yang baik (halal), sedangkan Allah tidak menerima kecuali yang baik saja, maka sungguh Allah akan menerimanya dengan tangan kananNya lalu mengasuhnya untuk pemiliknya sebagaimana jika seorang dari kalian mengasuh anak kudanya hingga membesar seperti gunung".  [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Dari 'Adiy bin Hatim -radhiallahu 'anhu-; Nabi bersabda:

"اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ"

"Jagalah diri kalian dari neraka sekalipun hanya dengan sedekah setengah biji kurma, siapa yang tak mendapatkannya, maka dgn ucapan yang baik." [Shahih Bukhari dan Muslim]

Lihat: Keutamaan memberi makan

3)      Besarnya kasih sayang seorang ibu.

4)      Keutamaan anak perempuan jika dijaga dengan baik.

Dari Abu Sa'id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

"لَا يَكُونُ لِأَحَدٍ ثَلَاثُ بَنَاتٍ، أَوْ ثَلَاثُ أَخَوَاتٍ، أَوْ ابْنَتَانِ، أَوْ أُخْتَانِ، فَيَتَّقِي اللهَ فِيهِنَّ وَيُحْسِنُ إِلَيْهِنَّ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ" [مسند أحمد: صحيح]

"Tidaklah seseorang yang memiliki tiga anak perempuan atau tiga saudari perempuan, atau dua anak perempuan atau dua saudari perempuan, kemudian ia bertakwa kepada Allah pada mereka dan berlaku baik terhadap mereka kecuali ia akan masuk surga". [Musnad Ahmad: Sahih]

Ø  Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda:

"مَنْ عَالَ جَارِيَتَيْنِ حَتَّى تَبْلُغَا، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَنَا وَهُوَ" [صحيح مسلم]

"Barangsiapa yang menanggung nafkah dua anak gadis sampai balig maka ia akan datang pada hari kiamat (masuk surga) bersamaku (seperti ini)", Rasulullah mendekatkan dua jarinya. [Sahih Muslim]

Lihat: Anak adalah anugrah dari Allah

Keempat: Hadits Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٥٠ - حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ [هشام بن عبد الملك]: حَدَّثَنَا اللَّيْثُ: حَدَّثَنَا سَعِيدٌ الْمَقْبُرِيُّ: حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ سُلَيْمٍ: حَدَّثَنَا أَبُو قَتَادَةَ [الحارث بن ربعي] قَالَ: «خَرَجَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ ﷺ، وَأُمَامَةُ بِنْتُ أَبِي الْعَاصِ عَلَى عَاتِقِهِ، فَصَلَّى، فَإِذَا رَكَعَ وضعها، وَإِذَا رَفَعَ رَفَعَهَا».

Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Walid [Hisyam bin Abdil Malik], ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Laits, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sa'id Al-Maqburiy, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Sulaim, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Qatadah dia berkata, "Nabi keluar menemui kami, sementara Umamah binti Abu Al-'Ash berada dipundak beliau, kemudian beliau mengerjakan salat, apabila hendak rukuk beliau meletakkannya dan apabila bangkit dari ruku beliau pun mengangkatnya kembali."

Penjelasan singkat hadits ini:

1.      Biografi Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

2.      Biografi Umamah binti Abi Al-Ash adalah putri Zainab binti Rasulullah.

Dinikahi oleh Ali bin Abi Thalib pada masa kekhalifaan Umar, setelah Ali wafat ia dinikahi oleh Al-Migirah bin Naufal bin Al-Harits bin Abdil Muthalib Al-Qurasyiy. Wafat di masa kepemimpinan Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiallahu'anhuma. [Siyar A'lam An-Nubalaa' karya Adz-Dzahabiy 1/335]

3.      Boleh menggendong anak saat shalat.

Syaddad bin Al-Had radhiyallahu ‘anhu berkata:

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فِي إِحْدَى صَلَاتَيِ الْعِشَاءِ وَهُوَ حَامِلٌ حَسَنًا أَوْ حُسَيْنًا، فَتَقَدَّمَ رَسُولُ الله ﷺ فَوَضَعَهُ، ثُمَّ كَبَّرَ لِلصَّلَاةِ فَصَلَّى فَسَجَدَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِهِ سَجْدَةً أَطَالَهَا، فَرَفَعْتُ رَأْسِي وَإِذَا الصَّبِيُّ عَلَى ظَهْرِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، وَهُوَ سَاجِدٌ فَرَجَعْتُ إِلَى سُجُودِي، فَلَمَّا قَضَى رَسُولُ الله ﷺ الصَّلَاةَ قَالَ النَّاسُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ سَجَدْتَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْ صَلَاتِكَ سَجْدَةً أَطَلْتَهَا حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ أَمْرٌ أَوْ أَنَّهُ يُوحَى إِلَيْكَ، قَالَ: «كُلُّ ذَلِكَ لَمْ يَكُنْ وَلَكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ» [سنن النسائي: صححه الألباني]

“Rasulullah keluar untuk mengimami kami salat Isya’ sambil menggendong Hasan dan Husain. Lalu beliau maju ke depan dan meletakkan kedua cucunya itu lantas mengucapkan takbir shalat dan memulai salatnya. Pada saat itu beliau sujud dengan sujud yang sangat lama, maka aku mengangkat kepalaku, dan ternyata seorang anak sedang duduk di atas punggung Rasulullah yang sedang sujud. Lalu aku kembali ke sujudku. Seusai shalat, orang-orang bertanya kepada Rasulullah , ‘Wahai Rasulullah, engkau tadi sujud terlalu lama, hingga kami kira telah terjadi sesuatu, atau engkau sedang menerima wahyu.’ Beliau menjawab, ‘Tidak terjadi apa-apa, tetapi tadi cucuku menunggangi punggungku dan aku tidak suka menurunkan mereka hingga mereka merasa puas’.” [Sunan An-Nasa’i: Sahih]

4.      Gerakan sedikit dalam shalat tidak membatalkan shalat.

Lihat: Perbuatan yang boleh dilakukan dalam salat

5.      Boleh membawa anak kecil ke masjid.

Dari Abu Qatadah radhiyallahu 'anhu; Nabi bersabda:

«إِنِّي لَأَقُومُ إِلَى الصَّلاَةِ وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ أُطَوِّلَ فِيهَا، فَأَسْمَعُ بُكَاءَ الصَّبِيِّ، فَأَتَجَوَّزُ فِي صَلاَتِي كَرَاهِيَةَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمِّهِ» [صحيح البخاريٍ]

"Aku pernah ingin memanjangkan shalat, namun aku mendengar tangisan bayi. Maka aku pendekkan shalatku karena khawatir akan memberatkan ibunya." [Shahih Bukhari]

Lihat: Perempuan shalat jama’ah di masjid

Kelima: Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٥١ - حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ: أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ: حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ: أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسًا، فَقَالَ الْأَقْرَعُ: إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ ثُمَّ قَالَ: «مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ»

Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Yaman, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhriy, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah bin Abdurrahman; Bahwa Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata, "Rasulullah pernah mencium Al-Hasan bin Ali sedangkan disamping beliau ada Al-Aqra' bin Habis At-Tamimiy sedang duduk, lalu Aqra' berkata, "Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, namun aku tidak pernah mencium mereka sekali pun, maka Rasulullah memandangnya dan bersabda, "Barang siapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi."

Keenam: Hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha yang kedua.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٥٢ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ [الثوري]، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ رضي الله عنها قَالَتْ: جَاءَ أَعْرَابِيٌّ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ فَقَالَ: تُقَبِّلُونَ الصِّبْيَانَ؟ فَمَا نُقَبِّلُهُمْ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «أَوَ أَمْلِكُ لَكَ أَنْ نَزَعَ اللَّهُ مِنْ قَلْبِكَ الرَّحْمَةَ»

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan [Ats-Tsauriy], dari Hisyam, dari 'Urwah, dari 'Aisyah radhiallahu'anha dia berkata, "Seorang Arab Badui datang kepada Nabi dan berkata, "Kalian menciumi anak-anak kalian, padahal kami tidak pernah menciumi anak-anak kami." Maka Nabi bersabda, "Apakah aku memiliki apa yang telah Allah hilangkan dari hatimu berupa sikap kasih sayang?"

Penjelasan singkat kedua hadits di atas:

1.      Sikap Arab Badui yang cenderung kasar.

2.      Balasan sesuai dengan perbuatan.

Dari Abdullah bin Amru -radhiallahu 'anhuma-; Nabi bersabda:

«الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَن، ارْحَمُوا أَهْلَ الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ»

"Para penyayang akan disayangi oleh Ar Rahman. Sayangilah penduduk bumi maka kalian akan disayangi oleh siapa saja yang di langit." [Sunan Abi Daud: Shahih]

3.      Bagaimana mendapatkan rahmat Allah?

Lihat: Ramadhan bulan penuh rahmat

4.      Hanya Allah yang membagikan rahmat, termasuk rasa kasih sayang.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{قُل لَّوْ أَنتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَّأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنفَاقِ ۚ وَكَانَ الْإِنسَانُ قَتُورًا} [الإسراء : 100]

Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir. [Al-Israa ': 100]

Ketujuh: Hadits Umar radhiyallahu ‘anhu.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٥٣ - حَدَّثَنَا [سعيد] ابْنُ أَبِي مَرْيَمَ: حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ [محمد بن المطرف] قَالَ: حَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ [مولى عمر]، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه: قَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ سَبْيٌ، فَإِذَا امْرَأَةٌ مِنَ السَّبْيِ قَدْ تَحْلُبُ ثَدْيَهَا تَسْقِي، إِذَا وَجَدَتْ صَبِيًّا فِي السَّبْيِ أَخَذَتْهُ، فَأَلْصَقَتْهُ بِبَطْنِهَا وَأَرْضَعَتْهُ، فَقَالَ لَنَا النَّبِيُّ ﷺ: «أَتُرَوْنَ هَذِهِ طَارِحَةً وَلَدَهَا فِي النَّارِ». قُلْنَا: لَا، وَهِيَ تَقْدِرُ عَلَى أَنْ لَا تَطْرَحَهُ، فَقَالَ: «لَلَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا».

Telah menceritakan kepada kami [Sa’id] Ibnu Abu Maryam, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ghassan [Muhammad bin Al-Mutharrif], dia berkata: Telah menceritakan kepadaku Zaid bin Aslam, dari Ayahnya [Maula ‘Umar], dari Umar bin Al Khatthab radhiallahu'anhu (katanya), "Rasulullah pernah memperoleh beberapa orang tawanan perang. Ternyata dari tawanan tersebut ada seorang perempuan yang biasa menyusui anak kecil, apabila dia mendapatkan anak kecil dalam tawanan tersebut, maka ia akan mengambilnya dan menyusuinya, lalu Nabi bersabda kepada kami: 'Menurut kalian, apakah perempuan itu tega melemparkan bayinya ke dalam api?' Kami menjawab, 'Sesungguhnya ia tidak akan tega melemparkan anaknya ke dalam api selama ia masih sanggup menghindarkannya dari api tersebut.' Lalu beliau bersabda, 'Sungguh, kasih sayang Allah terhadap hamba-Nya melebihi kasih sayang perempuan itu terhadap anaknya.'

Penjelasan singkat hadits ini:

1)      Biografi Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu.

Lihat: Keistimewaan Umar bin Khathab

2)      Keutamaan istri yang penuh kasih sayang.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma; Rasulullah bersabda:

«أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْوَدُودُ، الْوَلُودُ، الْعَؤُودُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِي إِذَا آذَتْ أَوْ أُوذِيَتْ، جَاءَتْ حَتَّى تَأْخُذَ بِيَدِ زَوْجِهَا، ثُمَّ تَقُولُ وَاللهِ لَا أَذُوقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى» [السنن الكبرى للنسائي: حسن]

"Maukah kalian kuberi tahu tentang perempuan kalian dari ahli surga: Yang penuh kasih sayang, banyak melahirkan, yang senantiasa kembali kepada suaminya, yang jika ia menyakiti atau disakiti maka ia datang kemudian memegang tangan suaminya kemudian berkata: Demi Allah, aku tidak akan merasakan tidur sampai engkau ridha". [Sunan An-Nasaiy Al-Kubraa: Hasan]

Lihat: Sifat istri shalihah

3)      Ibu menyusui anaknya selama 2 tahun.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلَادَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ ۖ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ} [البقرة : 233]

Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. [Al-Baqarah: 233]

4)      Luasnya kasih sayang Allah ‘azza wajalla.

Abu Hurairah radhiallahu'anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda:

"إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الرَّحْمَةَ يَوْمَ خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً، وَأَرْسَلَ فِي خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً، فَلَوْ يَعْلَمُ الكَافِرُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنَ الرَّحْمَةِ لَمْ يَيْئَسْ مِنَ الجَنَّةِ، وَلَوْ يَعْلَمُ المُؤْمِنُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنَ العَذَابِ لَمْ يَأْمَنْ مِنَ النَّارِ"

"Sesungguhnya Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) seratus bagian, maka dipeganglah di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkannya satu bagian untuk seluruh makhluk-Nya, sekiranya orang-orang kafir mengetahui setiap rahmat (kasih sayang) yang ada di sisi Allah, niscaya mereka tidak akan berputus asa untuk memperoleh surga, dan sekiranya orang-orang mukmin mengetahui setiap siksa yang ada di sisi Allah, maka ia tidak akan merasa aman dari neraka." [Shahih Bukhari]

5)      Penetapan sifat rahmat pada Allah subhanahu wata'aalaa.

Lihat: Kaedah nama dan sifat Allah

Wallahu a’lam!

Lihat juga: Kitab Adab Bab: 15, 16 dan 17; SIlaturahim yang sesungguhnya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...