Sabtu, 16 Mei 2026

Kitab Adab Bab 19-22; Kasih sayang kepada anak kecil

بسم الله الرحمن الرحيم

A.    Bab 19.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

باب: جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ في مِائَةِ جُزْءٍ.

Bab: Allah menciptakan rahmat seratus bagian

Dalam bab ini, imam Bukhari menjelaskan tentang betapa luasnya rahmat Allah kepada makhlukNya, agar kita tidak berputus asa dan senantiasa saling merahmati agar mendapatkan rahmat Allah.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٥٤ - حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ الْبَهْرَانِيُّ: أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ: أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ: أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «جَعَلَ اللَّهُ الرَّحْمَةَ في مِائَة جُزْءٍ، فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ جُزْءًا، وَأَنْزَلَ فِي الْأَرْضِ جُزْءًا وَاحِدًا، فَمِنْ ذَلِكَ الْجُزْءِ يَتَرَاحَمُ الْخَلْقُ، حَتَّى تَرْفَعَ الْفَرَسُ حَافِرَهَا عَنْ وَلَدِهَا، خَشْيَةَ أَنْ تُصِيبَهُ».

Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Yaman Al-Hakam bin Nafi' Al-Bahraniy, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Syu'aib, dari Az-Zuhriy, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Sa'id bin Al-Musayyib; Bahwa Abu Hurairah berkata: Saya mendengar Rasulullah bersabda: "Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) seratus bagian, maka dipeganglah di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkan-Nya satu bagian ke bumi. Dari yang satu bagian inilah seluruh makhluk berkasih sayang sesamanya, sehingga seekor kuda mengangkat kakinya karena takut anaknya akan terinjak olehnya."

Nb: Hadits ini sudah dijelaskan pada Kitab Ar-Riqaq, bab 19; Optimis disertai kekhawatiran

B.     Bab 20.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

باب: قَتْلِ الْوَلَدِ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَهُ.

Bab: Membunuh anak karena khawatir makan bersamanya

Dalam bab ini, imam Bukhari menjelaskan tentang dosa orang yang membunuh anaknya sendiri, yang seharusnya ia jaga dan kasihi.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٥٥ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ: أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ [بن سعيد الثوري]، عَنْ مَنْصُورٍ [بن المعتمر]، عَنْ أَبِي وَائِلٍ [شقيق بن سلمة]، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُرَحْبِيلَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ؟ قَالَ: «أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ خَشْيَةَ أَنْ يَأْكُلَ مَعَكَ». قَالَ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ». وَأَنْزَلَ اللَّهُ تَصْدِيقَ قَوْلِ النَّبِيِّ ﷺ: ﴿وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ﴾.

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsir, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Sufyan [bin Sa’id Ats-Tsauriy], dari Manshur [bin Al-Mu’tamir], dari Abu Wa`il [Syaqiq bin Salamah], dari 'Amru bin Syurahbil, dari Abdullah dia berkata: Saya bertanya; Wahai Rasulullah, dosa apakah yang paling besar? Beliau menjawab, "Kamu menjadikan tandingan bagi Allah, padahal Dia adalah yang menciptakanmu." Kemudian apalagi?" beliau bersabda, "Kamu membunuh anakmu karena takut dia makan bersamamu." Dia berkata, "Kemudian apalagi?" beliau bersabda, "Kamu menzinai istri tetanggamu sendiri." Dan Allah telah menurunkan kebenaran sabda Nabi-Nya {Dan orang-orang yang tidak menyeru Allah dengan Tuhan-Tuhan yang lain}. [Al-Furqan; 68]

Penjelasan singkat hadits ini:

1.      Biografi Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

2.      Dosa itu bertingkat-tingkat.

3.      Syirik adalah dosa yang paling besar.

Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (4); Takut dari perbuatan syirik

4.      Besarnya dosa membunuh, apalagi membunuh anak sendiri.

Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:

{قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ قَتَلُوا أَوْلَادَهُمْ سَفَهًا بِغَيْرِ عِلْمٍ وَحَرَّمُوا مَا رَزَقَهُمُ اللَّهُ افْتِرَاءً عَلَى اللَّهِ ۚ قَدْ ضَلُّوا وَمَا كَانُوا مُهْتَدِينَ} [الأنعام : 140]

Sesungguhnya rugilah orang yang membunuh anak-anak mereka, karena kebodohan lagi tidak mengetahui dan mereka mengharamkan apa yang Allah telah rezeki-kan pada mereka dengan semata-mata mengada-adakan terhadap Allah. Sesungguhnya mereka telah sesat dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. [Al-An'aam: 140]

5.      'Uzlah (mencegah kehamilan) adalah membunuh anak secara halus.

Judamah binti Wahb saudari 'Ukkasyah - radhiyallahu 'anhuma- berkata:

حَضَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فِي أُنَاسٍ، وَهُوَ يَقُولُ: «لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ أَنْهَى عَنِ الْغِيلَةِ. فَنَظَرْتُ فِي الرُّومِ وَفَارِسَ. فَإِذَا هُمْ يُغِيلُونَ أَوْلَادَهُمْ، فَلَا يَضُرُّ أَوْلَادَهُمْ ذَلِكَ شَيْئًا». ثُمَّ سَأَلُوهُ عَنِ الْعَزْلِ؟ فقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ «ذَلِكَ الْوَأْدُ الْخَفِيُّ» وَهِيَ: ﴿وَإِذَا الموؤدة سئلت﴾ [التكوير: ٨].

Aku menghadiri majelis Rasulullah bersama beberapa orang, dan beliau bersabda: "Sungguh aku pernah bermaksud untuk melarang al-ghilah (hubungan intim saat istri masih menyusui). Kemudian aku memperhatikan (kebiasaan) bangsa Romawi dan Persia. Ternyata mereka menyapih anak-anak mereka lebih awal, dan hal itu tidak membahayakan anak-anak mereka sedikit pun."

Kemudian mereka bertanya kepada beliau tentang 'azl (coitus interruptus/penarikan diri sebelum ejakulasi untuk mencegahkehamilan). Maka Rasulullah bersabda: "Itu adalah penguburan anak hidup-hidup secara tersembunyi." Dan itu adalah (makna dari firman Allah): {Dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya...} [At-Takwir: 8] [Shahih Muslim]

6.      Anak tidak memakan rezki orang tuanya.

Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:

{وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ مِنْ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ} [الأنعام: 151]

Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena kemiskinan, kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka. [Al-An’aam:151]

{وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ إِنَّ قَتْلَهُمْ كَانَ خِطْئًا كَبِيرًا} [الإسراء: 31]

Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu Karena takut kemiskinan. kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar. [Al-Israa’:31]

Lihat: Jangan takut menikah dan punya anak

7.      Haramnya dosa berzina, terkhusus dengan istri tetangga.

Al-Miqdad bin Al-Aswad radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah bersabda kepada para sahabat beliau:

«مَا تَقُولُونَ فِي الزِّنَا؟» قَالُوا: حَرَّمَهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ، فَهُوَ حَرَامٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، قَالَ: فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَصْحَابِهِ: «لَأَنْ يَزْنِيَ الرَّجُلُ بِعَشْرَةِ نِسْوَةٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَزْنِيَ بِامْرَأَةِ جَارِهِ»، قَالَ: فَقَالَ: «مَا تَقُولُونَ فِي السَّرِقَةِ؟» قَالُوا: حَرَّمَهَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ فَهِيَ حَرَامٌ، قَالَ: «لَأَنْ يَسْرِقَ الرَّجُلُ مِنْ عَشْرَةِ أَبْيَاتٍ، أَيْسَرُ عَلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْرِقَ مِنْ جَارِهِ» [مسند أحمد: صحيح]

"Zina menurut kalian bagaimana?" Mereka menjawab: Allah dan rasul-Nya mengharamkannya, ia haram hingga hari kiamat. Rasulullah bersabda kepada para sahabat beliau, "Sungguh seseorang berzina dengan sepuluh wanita itu lebih ringan baginya bagi pada berzina dengan istri tetangganya." Beliau bersabda, "Mencuri menurut kalian bagaimana?" Mereka menjawab: Allah dan rasul-Nya mengharamkannya, ia haram hingga hari kiamat. Rasulullah bersabda kepada para sahabat beliau, "Sungguh seseorang mencuri dari sepuluh rumah itu lebih ringan baginya bagi pada mencuri dari tetangganya." [Musnad Ahmad: Shahih]

Lihat: Adab bertetangga dalam Islam

8.      Dosa apapun akan diampuni dengan taubat.

Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:

{وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا (70) وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا} [الفرقان : 68-71]

Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. [Al-Furqan: 68-71]

Lihat: Taubat .. Kenapa tidak ?

C.     Bab 21.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

باب: وَضْعِ الصَّبِيِّ فِي الْحِجْرِ.

Bab: Meletakkan anak di pangkuan

Dalam bab ini, imam Bukhari menjelaskan bagaimana bersikap terhadap anak kecil dengan meletakkan dalam pangkuan.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٥٦ - حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ هِشَامٍ قَالَ: أَخْبَرَنِي أَبِي، عَنْ عَائِشَةَ: «أَنّ النَّبِيَّ ﷺ وَضَعَ صَبِيًّا فِي حَجْرِهِ يُحَنِّكُهُ، فَبَالَ عَلَيْهِ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَأَتْبَعَهُ»

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id, dari Hisyam, dia berkata: Telah mengabarkan kepadaku Ayahku, dari Aisyah; Bahwa Nabi pernah meletakkan seorang bayi di pangkuannya kemudian beliau mentahniknya (mengunyahkan buah kurma kemudian memasukkan ke mulut bayi) lalu bayi itu ngompol, maka beliau meminta diambilkan air dan memercikinya."

Penjelasan singkat hadits ini:

1)      Biografi Aisyah radhiyallahu 'anha.

Lihat: Aisyah binti Abi Bakr dan keistimewaannya

2)      Kasih sayang Rasulullah kepada anak kecil.

Lihat: Akhlak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

3)      Anjuran men-tahnik bayi.

Sebagian ulama berpendapat bahwa mentahnik bayi dengan mengunyah kurma kemudian dimasukkan ke mulut bayi hanya khusus untuk Nabi dengan alasan:

a. Mengharap berkah air liur hanya boleh dari para Nabi ‘alaihimussalam.

b. Menghindari penularan penyakit melalui air liur.

Dari Asma' binti Abi Bakr radhiallahu'anhuma;

«أَنَّهَا حَمَلَتْ بِعَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، قَالَتْ: فَخَرَجْتُ وَأَنَا مُتِمٌّ، فَأَتَيْتُ الْمَدِينَةَ فَنَزَلْتُ بِقُبَاءٍ، فَوَلَدْتُهُ بِقُبَاءٍ، ثُمَّ أَتَيْتُ بِهِ النَّبِيَّ ﷺ فَوَضَعْتُهُ فِي حَجْرِهِ، ثُمَّ دَعَا بِتَمْرَةٍ فَمَضَغَهَا، ثُمَّ تَفَلَ فِي فِيهِ، فَكَانَ أَوَّلَ شَيْءٍ دَخَلَ جَوْفَهُ رِيقُ رَسُولِ اللهِ ﷺ، ثُمَّ حَنَّكَهُ بِتَمْرَةٍ، ثُمَّ دَعَا لَهُ وَبَرَّكَ عَلَيْهِ، وَكَانَ أَوَّلَ مَوْلُودٍ وُلِدَ فِي الْإِسْلَامِ»

«Sesungguhnya dia (Asma' binti Abu Bakar) mengandung Abdullah bin Zubair. Dia berkata: "Aku keluar (dari Mekkah) dalam keadaan kandunganku telah sempurna. Lalu aku datang ke Madinah dan singgah di Quba. Kemudian aku melahirkannya di Quba. Setelah itu aku membawanya kepada Nabi dan meletakkannya di pangkuan beliau. Kemudian beliau meminta kurma, lalu mengunyahnya, kemudian meludahkannya ke mulutnya (Abdullah). Maka hal pertama yang masuk ke perutnya adalah ludah Rasulullah . Lalu beliau mentahniknya dengan kurma dan mendoakannya serta memberkahinya. Dia adalah anak pertama yang lahir dalam Islam."» [Shahih Bukhari]

Adapun jumhur ulama mengajarkannya secara umum dengan alasan:

a) Yang dimaksudkan adalah keberkahan sari kurma bukan air liurnya.

b) Tahnik sudah dikenal oleh orang Arab sebelum datang Islam.

Abu Thalhah radhiyallahu 'anhu berkata:

«يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّ أُمَّ سُلَيْمٍ وَلَدَتِ اللَّيْلَةَ، فَكَرِهَتْ أَنْ تُحَنِّكَهُ حَتَّى يُحَنِّكَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ» [مسند أحمد]

"Wahai Rasulullah, sesungguhnya Ummu Sulaim telah melahirkan (bayi) pada malam ini, maka ia tidak suka (enggan) untuk mentahniknya sehingga Rasulullah sendiri yang mentahniknya." [Musnad Ahmad]

Lihat: Kisah kesabaran Ummu Sulaim saat putranya wafat

c) Para sahabat melakukannya setelah Nabi wafat.

Ibnu Katsir rahimahullah berkata:

«ولد الحسن في خلافة عمر بن الخطاب، وأتى به إليه فدعا له وحنكه» [البداية والنهاية]

"Al-Hasan – maksudnya Al-Bashri – lahir pada masa kekhalifahan Umar bin Al-Khattab. Ia dibawa kepada Umar, lalu beliau mendoakannya dan mentahniknya." [Al-Bidayah wa An-Nihayah]

Lihat: https://islamqa.info/

4)      Kencing anak laki-laki yang masih menyusui cukup dibersihkan dengan memercikkan air di atasnya.

Dari Ummu Qais binti Mihshan radhiyallahu 'anha;

«أَنَّهَا أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا صَغِيرٍ لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَأَجْلَسَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ فِي حَِجْرِهِ فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ، فَدَعَا بِمَاءٍ فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ»

"Bahwa dia (Ummu Qais) datang membawa anak laki-lakinya yang masih kecil dan belum makan makanan (hanya menyusu) kepada Rasulullah , lalu Rasulullah mendudukkannya di pangkuannya. Anak itu pun kencing di pakaian beliau, maka beliau meminta air lalu memercikinya (dengan air) dan tidak mencucinya." [Shahih Bukhari]

Ø  Lubabah binti Al-Harits radhiyallahu 'anha berkata:

«كَانَ الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ رضي الله عنهما فِي حِجْرِ رَسُولِ اللهِ ﷺ فَبَالَ عَلَيْهِ، فَقُلْتُ: الْبَسْ ثَوْبًا وَأَعْطِنِي إِزَارَكَ حَتَّى أَغْسِلَهُ، قَالَ: إِنَّمَا يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الْأُنْثَى، وَيُنْضَحُ مِنْ بَوْلِ الذَّكَرِ»

«Suatu ketika Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma berada di pangkuan Rasulullah lalu ia kencing di atasnya. Aku (perawi hadis) berkata: “Pakailah pakaian lain dan berikan kain sarungmu agar aku mencucinya.” Rasulullah bersabda: “Kencing bayi perempuan harus dicuci, sedangkan kencing bayi laki-laki cukup diperciki (dengan air).”» [Sunan Abi Daud: Shahih]

Lihat: Najis kencing dan kotoran hewan

5)      Keringanan syari'at Islam.

Lihat: Kitab Iman bab 30; Agama itu mudah

6)      Anak kecil yang sempat bertemu dengan Nabi sebelum balig dihukumi sebagai sahabat, tapi riwayat haditsnya dihukumi mursal.

Lihat: Bagaimana menghukumi hadits

D.    Bab. 22

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

باب: وَضْعِ الصَّبِيِّ عَلَى الْفَخِذِ.

Bab: Meletakkan anak di paha

Bab ini mirip dengan bab sebelumnya, hanya disebutkan secara detail bahwa boleh meletakkan anak di atas paha.

Imam Bukhari rahimahullah berkata:

٥٦٥٧ - حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ: حَدَّثَنَا عَارِمٌ [محمد بن الفضل]: حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ [بن طرخان]: يُحَدِّثُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا تَمِيمَةَ [طريف بن مجالد الهجيمي] يُحَدِّثُ، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ [عبدالرحمن بن مل]: يُحَدِّثُهُ أَبُو عُثْمَانَ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رضي الله عنهما: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَأْخُذُنِي فَيُقْعِدُنِي عَلَى فَخِذِهِ، وَيُقْعِدُ الْحَسَنَ عَلَى فَخِذِهِ الآخر، ثُمَّ يَضُمُّهُمَا، ثُمَّ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ ارْحَمْهُمَا فَإِنِّي أَرْحَمُهُمَا».

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami 'Arim [Muhammad binAl-Fadhl], ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-Mu'tamir bin Sulaiman [bin Tharkhan] ia bercerita dari Ayahnya, dia berkata: Saya mendengar Abu Tamimah [Tharif bin Mujalid Al-Hujaimiy] bercerita dari Abu Utsman An-Nahdiy [Abdurrahman bin Mull], Abu Utsman bercerita dari Usamah bin Zaid radhiallahu'anhuma bahwa Rasulullah pernah mengambilku dan mendudukkanku di atas pangkuannya serta meletakkan Hasan di pangkuan beliau yang satu, lalu beliau mendekap keduanya dan berdoa, "Ya Allah kasihilah keduanya karena aku mengasihi keduanya."

وَعَنْ عَلِيٍّ [بن عبد الله المديني] قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى [بن سعيد القطان]: حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ [بن طرخان التيمي]، عَنْ أَبِي عُثْمَانَ: قَالَ التَّيْمِيُّ: فَوَقَعَ فِي قَلْبِي مِنْهُ شَيْءٌ، قُلْتُ: حَدَّثْتُ بِهِ كَذَا وَكَذَا، فَلَمْ أَسْمَعْهُ مِنْ أَبِي عُثْمَانَ، فَنَظَرْتُ فَوَجَدْتُهُ عِنْدِي مَكْتُوبًا فِيمَا سَمِعْت.

Dan dari Ali dia berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya, telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Abu Utsman, At Taimi berkata, "Lalu aku merasa janggal, kataku; Aku menceritakan ini dan ini namun aku sendiri tidak mendengar dari Abu Utsman, kemudian aku mengeceknya, ternyata aku mendapatinya tertulis di bukuku sebagaimana yang aku dengar."

Penjelasan singkat hadits ini:

1.      Biografi Usamah bin Zayd radhiyallahu ‘anhu.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

2.      Boleh meletakkan anak di paha dan memeluknya, selama tidak menimbulkan keburukan.

Allah subhanahu wa ta’aalaa berfirman:

{وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الْفَسَادَ} [البقرة : 205]

Dan Allah tidak menyukai keburukan. [Al-Baqarah: 205]

3.      Keutamaan Usamah bin Zayd radhiyallahu 'anhuma.

Aisyah radhiallahu'anha berkata: Tidaklah layak bagi siapapun untuk membenci Usamah, karena saya mendengar sabda Rasulullah :

«مَنْ كَانَ يُحِبُّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَرَسُولَهُ، فَلْيُحِبَّ أُسَامَةَ» [مسند أحمد: حسن لغيره]

"Barangsiapa beriman kepada Allah 'azza wa jalla dan Rasul-Nya, maka cintailah Usamah." [Musnad Ahmad: Hasan ligairih]

4.      Keutamaan Al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma.

Lihat: Keistimewaan Hasan dan Husain

5.      Mendo'akan anak kecil

Lihat: Kitab Ilmu bab 17; Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “Ya Allah, ajarkanlah dia Al-Kitab"

Wallahu a’lam!

Lihat juga: Kitab Adab Bab: 18; Kasih sayang orang tua kepada anak dengan mencium atau memeluknya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...