Rabu, 01 April 2026

Hati yang berbaik sangka kepada Allah

بسم الله الرحمن الرحيم

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah bersabda: Allah ta'aalaa berfirman (hadits qudsi):

«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي» [صحيح البخاري ومسلم]

"Aku sesuai prasangka hamba-Ku terhadap-Ku". [Shahih Bukhari dan Muslim]

Ø  Dalam Riwayat lain:

«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، إِنْ ظَنَّ بِي خَيْرًا فَلَهُ، وَإِنْ ظَنَّ شَرًّا فَلَهُ»

"Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Jika ia berprasangka baik kepada-Ku, maka kebaikan itu baginya. Dan jika ia berprasangka buruk, maka keburukan itu baginya." [Musnad Ahmad: Shahih ligairih]

Ø  Dari Watsilah bin Al-Asqa' radhiyallahu 'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: dari Allah berfirman:

«أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي، فَلْيَظُنَّ بِي مَا شَاءَ» [مسند أحمد]

"Aku sesuai persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Maka, berprasangkalah kepada-Ku sesuai dengan apa yang ia kehendaki." [Musnad Ahmad: Shahih]

Ø  Jabir radhiyallahu 'anhu berkata: Aku mendengar Nabi bersabda tiga hari sebelum beliau wafat:

«لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ» [صحيح مسلم]

"Jangalah salah seorang dari kalian meninggal dunia kecuali ia berbaik sangka kepada Allah." [Shahih Muslim]

Penjelasan singkat hadits ini:

1.      Biografi Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Lihat: Abu Hurairah dan keistimewaannya

2.      Biografi Watsilah bin Al-Asqa’ radhiyallahu ‘anhu.

Beliau masuk Islam tahun 9 hijriyah dan termasuk ahlu Suffah (yang tinggal di masjid Nabi ), ikut dalam perang Tabuk. Wafat tahun 83 dengan umur 105 tahun. [Siyaru A’lam An-Nubalaa’]

Watsilah bin Al-Asqa’ radhiyallahu 'anhu berkata:

سَأَلْتُ عَنْ عَلِيٍّ فِي مَنْزِلِهِ فَقِيلَ لِي: ذَهَبَ يَأْتِي بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ إِذْ جَاءَ فَدَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ وَدَخَلْتُ فَجَلَسَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ عَلَى الْفِرَاشِ وَأَجْلَسَ فَاطِمَةَ عَنْ يَمِينِهِ وَعَلِيًّا عَنْ يَسَارِهِ وَحَسَنًا وَحُسَيْنًا بَيْنَ يَدَيْهِ وَقَالَ: «﴿إِنَّمَا يريدُ اللَّهُ ليُذْهِب عَنْكُمُ الرِّجْسَ أهل البيت ويُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا﴾ [الأحزاب: ٣٣] اللَّهُمَّ هَؤُلَاءِ أَهْلِي» قَالَ وَاثِلَةُ: فَقُلْتُ مِنْ نَاحِيَةِ الْبَيْتِ: وَأَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ مِنْ أَهْلِكَ؟ قَالَ: «وَأَنْتَ مِنْ أَهْلِي» قَالَ وَاثِلَةُ: إنها لمن أرجى ما أرتَجِي.

Aku bertanya tentang Ali di rumahnya, lalu aku diberitahu: "Dia pergi menjemput Rasulullah ." Ketika beliau datang, Rasulullah masuk dan aku pun ikut masuk. Rasulullah lalu duduk di atas tempat tidur, dan mendudukkan Fathimah di sebelah kanannya, Ali di sebelah kirinya, serta Hasan dan Husain di hadapannya. Kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah hendak menghilangkan segala kekotoran dari kalian, wahai Ahlulbait, dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya" (QS. Al-Ahzab: 33). "Ya Allah, mereka inilah keluargaku." Watsilah berkata: Maka aku berkata dari sudut rumah: "Wahai Rasulullah, apakah aku juga termasuk keluargamu?" Beliau bersabda: "Dan engkau juga termasuk keluargaku." Watsilah berkata: "Sesungguhnya hadits ini adalah yang paling besar harapanku (untuk mendapatkan syafaat)." [Shahih Ibnu Hibban]

3.      Biografi Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma.

Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/

4.      Tidak ada yang bisa selamat dari prasangka buruk kepada Allah kecuali orang yang mengenal Asma’ dan sifat Allah, serta mengenal dirinya sendiri.

Syekh Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata:

يُقَالُ إنَّهُ «مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ عَرَفَ رَبَّهُ» مِنْ جِهَةِ الِاعْتِبَارِ وَمِنْ جِهَةِ الْمُقَابَلَةِ وَمِنْ جِهَةِ الِامْتِنَاعِ. فَأَمَّا «الِاعْتِبَارُ» فَإِنَّهُ يَعْلَمُ الْإِنْسَانُ أَنَّهُ حَيٌّ عَلِيمٌ قَدِيرٌ سَمِيعٌ بَصِيرٌ مُتَكَلِّمٌ فَيَتَوَصَّلُ بِذَلِكَ إلَى أَنْ يَفْهَمَ مَا أَخْبَرَ اللَّهُ بِهِ عَنْ نَفْسِهِ مِنْ أَنَّهُ حَيٌّ عَلِيمٌ قَدِيرٌ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Dikatakan bahwasanya: "Barangsiapa yang mengenal dirinya, berati ia telah mengenal Tuhannya". Perkataan ini bisa dipahami dari tiga sisi, Al-I'tibar, Al-Mugabalah, dan Al-'Ajzu wa Al-Imtina'. Dari sisi I'tibar (renungan): Jika seseorang mengetahui dirinya hidup, mengetahui, punya kemampuan, mendengar, melihat, dan berbicara; maka ia akan tahu bahwa Tuhannya pun pasti hidup, mengetahui, punya kemampuan, mendengar dan melihat.

وَأَمَّا مِنْ جِهَةِ «الْمُقَابَلَةِ» فَيُقَالُ: مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ بِالْعُبُودِيَّةِ عَرَفَ رَبَّهُ بِالرُّبُوبِيَّةِ وَمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ بِالْفَقْرِ عَرَفَ رَبَّهُ بِالْغِنَى وَمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ بِالْعَجْزِ عَرَفَ رَبَّهُ بِالْقُدْرَةِ وَمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ بِالْجَهْلِ عَرَفَ رَبَّهُ بِالْعِلْمِ وَمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ بِالذُّلِّ عَرَفَ رَبَّهُ بِالْعِزِّ وَهَكَذَا أَمْثَالُ ذَلِكَ

Sedangkan dari sisi Al-Muqabalah (perbandingan): Jika seseorang mengetahui dirinya seorang hamba berarti Tuhannya harus disembah, jika mengetahui dirinya miskin berarti Tuhannya Maha Kaya, jika mengetahui dirinya lemah berarti Tuhannya Maha Kuasa, jika mengetahui dirinya bodoh berarti Tuhannya Maha Mengetahui, jika mengetahui dirinya hina berarti Tuhannya Maha Mulia, begitu pula dengan semua sifat.

وَأَمَّا مِنْ جِهَةِ «الْعَجْزِ وَالِامْتِنَاعِ» فَإِنَّهُ يُقَالُ: إذَا كَانَتْ نَفْسُ الْإِنْسَانِ الَّتِي هِيَ أَقْرَبُ الْأَشْيَاءِ إلَيْهِ بَلْ هِيَ هُوِيَّتُهُ وَهُوَ لَا يَعْرِفُ كَيْفِيَّتَهَا وَلَا يُحِيطُ عِلْمًا بِحَقِيقَتِهَا فَالْخَالِقُ ﷻ أَوْلَى أَنْ لَا يَعْلَمُ الْعَبْدُ كَيْفِيَّتَهُ وَلَا يُحِيطَ عِلْمًا بِحَقِيقَتِهِ

Adapun dari sisi Al-'Ajzu wa Al-Imtina' (lemah dan tidak mungkin): Jika seseorang tidak bisa mengetahui hakikat bentuk dan sifat jiwa atau ruhnya sendiri padahal itu sangat dekat, maka sudah pasti ia juga tidak akan mampu mengetahui hakikat bentuk dan sifat Tuhannya. [lihat Majmu' Al-Fatawa oleh Ibnu Taimiyah 9/295-297]

Lihat: Kenali Diri .. Kenali Tuhan !

5.      Keutamaan berbaik sangka kepada Allah ‘azza wajalla.

Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata:

«وَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ، مَا أُعْطِيَ عَبْدٌ مُؤْمِنٌ بَعْدَ إِيمَانٍ بِاللَّهِ أَحْسَنَ مِنْ حُسْنِ ظَنِّهِ بِاللَّهِ، وَالَّذِي لَا إِلَهَ غَيْرُهُ، لَا يُحْسِنُ عَبْدٌ ظَنَّهُ بِاللَّهِ إِلَّا أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ، وَذَلِكَ لِأَنَّ الْخَيْرَ بِيَدِهِ»

"Demi Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya, tidaklah seorang hamba mukmin diberikan sesuatu yang lebih baik setelah iman kepada Allah melebihi baik sangkanya kepada Allah. Dan demi Allah yang tidak ada Tuhan selain-Nya, tidaklah seorang hamba berbaik sangka kepada Allah melainkan Allah akan memberikan sesuai dengan baik sangkanya itu. Yang demikian itu karena kebaikan seluruhnya berada di tangan-Nya." [Az-Zuhd karya Ibnu Al-Mubarak]

6.      Hati yang berbaik sangka kepada Allah akan baik juga amalannya.

Al-Hasan Al-Bashriy -rahimahullah- berkata:

«إِنَّ قَوْمًا أَلْهَتْهُمْ أَمَانِيُّ الْمَغْفِرَةِ حَتَّى خَرَجُوا مِنَ الدُّنْيَا وَلَيْسَتْ لَهُمْ حَسَنَةٌ، يَقُولُ: إِنِّي لَحَسَنُ الظَّنِّ بِرَبِّي، وَكَذَبَ لَوْ أَحْسَنَ الظَّنَّ بِرَبِّهِ لَأَحْسَنَ الْعَمَلَ» [الوجل والتوثق بالعمل لابن أبي الدنيا]

"Satu kaum dilalaikan oleh angan-angan ampunan sampai ia keluar dari duni (mati) tanpa melakukan kebaikan, ia mengatakan: Aku berbaik sangka kepada Rabbku! Dan ia telah berdusta (dengan ucapannya itu), seandainya ia berbaik sangka kepada Rabbnya maka tentu ia akan beramal dengan baik". [Al-Wajal karya Ibnu Abi Ad-Dunya]

Ø  Ia juga berkata:

«إِنَّ الْمُؤْمِنَ أَحْسَنَ الظَّنَّ بِرَبِّهِ، فَأَحْسَنَ الْعَمَلَ، وَإِنَّ الْمُنَافِقَ أَسَاءَ الظَّنَّ بِرَبِّهِ، فَأَسَاءَ الْعَمَلَ» [مصنف ابن أبي شيبة]

"Seorang mu'min berbaik sangka kepada Rabbnya maka ia beramal dengan baik, sedangkan seorang munafiq berburuk sangka kepada Rabbnya sehingga ia buruk amalanya". [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah]

7.      Prasangka buruk kepada Allah banyak sekali macamnya.

Diantaranya:

a)      Mengaggap bahwa Allah -subhanahu- punya sekutu.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَمَا يَتَّبِعُ الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ شُرَكَاءَ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ} [يونس: 66]

"Dan orang-orang yang menyeru sekutu-sekutu selain Allah, tidaklah mengikuti (suatu keyakinan). mereka tidak mengikuti kecuali prasangka belaka, dan mereka hanyalah menduga-duga”. [Yunus:66]

b)      Menganggap Allah tidak akan menolong orang yang pembela agamanya.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{بَلْ ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَنْقَلِبَ الرَّسُولُ وَالْمُؤْمِنُونَ إِلَى أَهْلِيهِمْ أَبَدًا وَزُيِّنَ ذَلِكَ فِي قُلُوبِكُمْ وَظَنَنْتُمْ ظَنَّ السَّوْءِ وَكُنْتُمْ قَوْمًا بُورًا} [الفتح: 12]

Bahkan (semula) kamu menyangka bahwa Rasul dan orang-orang mukmin sekali-kali tidak akan kembali lagi kepada keluarga mereka selama-lamanya dan dijadikan terasa indah yang demikian itu di dalam hatimu, dan kamu telah berprasangka dengan prasangka yang buruk, karena itu kamu menjadi kaum yang binasa.  [Al-Fath: 12]

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ جَاءَتْكُمْ جُنُودٌ فَأَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيحًا وَجُنُودًا لَمْ تَرَوْهَا وَكَانَ اللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرًا (9) إِذْ جَاءُوكُمْ مِنْ فَوْقِكُمْ وَمِنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَإِذْ زَاغَتِ الْأَبْصَارُ وَبَلَغَتِ الْقُلُوبُ الْحَنَاجِرَ وَتَظُنُّونَ بِاللَّهِ الظُّنُونَا (10) هُنَالِكَ ابْتُلِيَ الْمُؤْمِنُونَ وَزُلْزِلُوا زِلْزَالًا شَدِيدًا} [الأحزاب: 9 - 11]

Wahai orang-orang yang beriman! Ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu ketika bala tentara datang kepadamu, lalu Kami kirimkan kepada mereka angin topan dan bala tentara yang tidak dapat terlihat olehmu. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (Yaitu) ketika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan ketika penglihatan(mu) terpana dan hatimu menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu berprasangka yang bukan-bukan terhadap Allah. Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang dahsyat. [Al-Ahzab: 9 - 11]

{مَنْ كَانَ يَظُنُّ أَنْ لَنْ يَنْصُرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَلْيَمْدُدْ بِسَبَبٍ إِلَى السَّمَاءِ ثُمَّ لْيَقْطَعْ فَلْيَنْظُرْ هَلْ يُذْهِبَنَّ كَيْدُهُ مَا يَغِيظُ} [الحج: 15]

Barangsiapa menyangka bahwa Allah tidak akan menolongnya (Muhammad) di dunia dan di akhirat, maka hendaklah dia merentangkan tali ke langit-langit, lalu menggantung (diri), kemudian pikirkanlah apakah tipu dayanya itu dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya. [Al-Hajj: 15]

c)       Berprasangka buruk terhadap takdir Allah 'azza wajalla.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{سَيَقُولُ الَّذِينَ أَشْرَكُوا لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا أَشْرَكْنَا وَلَا آبَاؤُنَا وَلَا حَرَّمْنَا مِنْ شَيْءٍ كَذَلِكَ كَذَّبَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ حَتَّى ذَاقُوا بَأْسَنَا قُلْ هَلْ عِنْدَكُمْ مِنْ عِلْمٍ فَتُخْرِجُوهُ لَنَا إِنْ تَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ أَنْتُمْ إِلَّا تَخْرُصُونَ (148) قُلْ فَلِلَّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ} [الأنعام: 148، 149]

Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: "Jika Allah menghendaki, niscaya kami dan bapak-bapak kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) kami mengharamkan barang sesuatu apapun." Demikian pulalah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: "Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan (akan kehendak kauniyah Allah) sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami?" Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanyalah berdusta. Katakanlah: "Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya". [Al-An'am: 148-149]

d)      Berprasangka bahwa Allah tidak mengetahui maksiat yang mereka lakukan.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ وَلَكِنْ ظَنَنْتُمْ أَنَّ اللَّهَ لَا يَعْلَمُ كَثِيرًا مِمَّا تَعْمَلُونَ (22) وَذَلِكُمْ ظَنُّكُمُ الَّذِي ظَنَنْتُمْ بِرَبِّكُمْ أَرْدَاكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ مِنَ الْخَاسِرِينَ} [فصلت: 22، 23]

Kamu sekali-sekali tidak dapat bersembunyi dari kesaksian pendengaran, penglihatan dan kulitmu kepadamu* bahkan kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kamu kerjakan. Dan yang demikian itu adalah prasangkamu yang telah kamu sangka kepada Tuhanmu, dia Telah membinasakan kamu, Maka jadilah kamu termasuk orang-orang yang merugi. [Fushilat: 22-23]

*Mereka itu berbuat dosa dengan terang-terangan karena mereka menyangka bahwa Allah tidak mengetahui perbuatan mereka dan mereka tidak mengetahui bahwa pendengaran, penglihatan dan kulit mereka akan menjadi saksi di akhirat kelak atas perbuatan mereka.

e)      Berprasangka bahwa Allah tidak akan sanggup membinasakannya.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{هُوَ الَّذِي أَخْرَجَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ مِنْ دِيَارِهِمْ لِأَوَّلِ الْحَشْرِ مَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَاأُولِي الْأَبْصَارِ} [الحشر: 2]

Dialah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara Ahli Kitab dari kampung halamannya pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun menyangka benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan (siksaan) kepada mereka dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. Dan Allah menanamkan rasa takut ke dalam hati mereka; sehingga memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangannya sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan! [Al-Hasyr: 2]

f)        Berprasangka bahwa Allah tidak akan membangkitkan seorangpun di hari kiamat.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{وَأَنَّهُمْ ظَنُّوا كَمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ لَنْ يَبْعَثَ اللَّهُ أَحَدًا} [الجن: 7]

Dan sesungguhnya mereka (jin) mengira seperti kamu (orang musyrik Mekah) yang juga mengira bahwa Allah tidak akan membangkitkan kembali siapa pun (pada hari Kiamat). [Al-Jinn: 7]

{وَاسْتَكْبَرَ هُوَ وَجُنُودُهُ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ إِلَيْنَا لَا يُرْجَعُونَ} [القصص: 39]

Dan dia (Fir‘aun) dan bala tentaranya berlaku sombong, di bumi tanpa alasan yang benar, dan mereka mengira bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada Kami. [Al-Qasas: 39]

g)      Berprasangka bahwa Allah tidak memberikannya rezki yang pantas.

Sufyan Ats-Tsauriy (161H) rahimahullah berkata:

«لَيْسَ لِلشَّيْطَانِ سِلَاحٌ مثل خَوْفِ الْفَقْرِ فَإِذَا قَبِلَ ذَلِكَ مِنْهُ أَخَذَ في الْبَاطِلِ وَمَنَعَ مِنْ الْحَقِّ وَتَكَلَّمَ بِالْهَوَى وَظَنَّ بِرَبِّهِ ظَنَّ سُوءٍ» [إحياء علوم الدين للغزالي]

“Tidak ada senjata setan (menggoda manusia yang ampuh) seperti rasa takut akan kemiskinan, jika perasaan itu diterima (merasuki hati seseorang) maka ia akan melakukan kebatilan, menolak kebenaran, berbicara dengan hawa nafsu, dan berprasangka terhadap Rabb-nya dengan prasangka buruk”. [Ihya' ulumuddin karya Al-Gazaliy]

Lihat: Syarah Kitab Tauhid bab (59); Larangan berprasangka buruk terhadap Allah

8.      Balasan sesuai dengan perbuatan.

Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:

{إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا} [الإسراء : 7]

Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri. [Al-Isra’: 7]

Lihat: Menabur dan menuai

9.      Saat sakaratul maut mesti mendahulukan perasaaan “berbaik sangka kepada Allah” daripada rasa tukut.

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:

«إِذا رَأَيْتُمْ الرجل قد نزل بِهِ الْمَوْت فبشروه حَتَّى يلقى ربه وَهُوَ حسن الظَّن بِاللَّه تَعَالَى، وَإِذا كَانَ حَيا فخوفوه بربه، واذْكُرُوا لَهُ شدَّة عِقَابه» [العاقبة في ذكر الموت لعبد الحق الإشبيلي]

"Apabila kalian melihat seseorang yang sedang didatangi kematian, maka sampaikanlah kabar gembira kepadanya hingga ia berjumpa dengan Tuhannya dalam keadaan berprasangka baik kepada Allah Ta'ala. Dan apabila ia masih hidup, maka takut-takutilah ia dengan (azab) Tuhannya, dan ingatkanlah ia akan pedihnya siksa-Nya." [Al-‘Aqibah fii dzikril maut]

Lihat: 3 penggerak hati; Harapan, takut dan cinta

Wallahu a'lam!

Lihat juga: Allah sebaik-baik yang mensucikan Hati - Perbarui iman dalam hati - Hati yang mencintai Allah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...