بسم
الله الرحمن الرحيم
Abdullah bin 'Amru radhiyallahu 'anhuma berkata:
قِيلَ لِرَسُولِ
اللَّهِ ﷺ: أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ، صَدُوقِ
اللِّسَانِ»، قَالُوا: صَدُوقُ اللِّسَانِ، نَعْرِفُهُ، فَمَا مَخْمُومُ
الْقَلْبِ؟ قَالَ: «هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ، لَا إِثْمَ فِيهِ، وَلَا بَغْيَ،
وَلَا غِلَّ، وَلَا حَسَدَ»
Rasulullah ﷺ
ditanya, "Siapakah manusia yang paling utama?" Beliau menjawab,
"Setiap orang yang bersih hatinya dan jujur lisannya." Mereka
bertanya, "(Orang yang) jujur lisannya kami mengetahuinya, lalu apa yang
dimaksud dengan bersih hati?" Beliau menjawab, "Yaitu orang yang
bertakwa, bersih, tidak ada dosa padanya, tidak (suka) melampaui batas, tidak
(memiliki) dendam, dan tidak (hasad) iri hati." [Sunan Ibnu Majah: Shahih]
Penjelasan singkat hadits ini:
1.
Biografi Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma.
Lihat: https://umar-arrahimy.blogspot.com/
2. Antusias para sahabat Nabi ﷺ menjadi manusia terbaik.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu;
أَنَّ فُقَرَاءَ
الْمُهَاجِرِينَ أَتَوْا رَسُولَ اللهِ ﷺ، فَقَالُوا: ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ
بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى، وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ، فَقَالَ: «وَمَا ذَاكَ؟»
قَالُوا: يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي، وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ،
وَيَتَصَدَّقُونَ وَلَا نَتَصَدَّقُ، وَيُعْتِقُونَ وَلَا نُعْتِقُ، فَقَالَ
رَسُولَ اللهِ ﷺ: «أَفَلَا أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ
سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ؟ وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ
مِنْكُمْ إِلَّا مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ» قَالُوا: بَلَى، يَا رَسُولُ
اللهِ قَالَ: «تُسَبِّحُونَ، وَتُكَبِّرُونَ، وَتَحْمَدُونَ، دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ
ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ مَرَّةً» قَالَ أَبُو صَالِحٍ: فَرَجَعَ فُقَرَاءُ
الْمُهَاجِرِينَ إِلَى رَسُولِ اللهِ ﷺ، فَقَالُوا: سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ
الْأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا، فَفَعَلُوا مِثْلَهُ، فَقَالَ رَسُولِ اللهِ ﷺ:
«ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ»
Bahwasanya kaum faqir Muhajirin mendatangi Rasulullah ﷺ dan berkata: Telah pergi orang-orang kaya dengan derajat yang
tinggi dan kenikmatan yang kekal! Rasulullah ﷺ bertanya: Kenapa demikian? Mereka menjawab: Mereka shalat
sebagaimana kami shalat, berpuasa sebagaimana kami berpuasa, akan tetapi mereka
bersedekah sedangkan kami tidak bersedekah, mereka memerdekakan budak sedangkan
kami tidak memerdekakan budak! Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Maukah kalian kuajarkan sesuatu, jika kalian
amalkan maka kalian akan mendapatkan (derajat) orang-orang yang telah
mendahului kalian dan kalian akan mendahului orang-orang setelah kalian? Dan
tidak ada yang lebih baik dari kalian kecuali orang yang melakukan seperti yang
kalian lakukan" Mereka menjwab: Tentu, wahai Rasulullah! Rasulullah ﷺ bersabda: "Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid di
akhir setiap shalat (fardhu) sebanya tiga puluh tiga kali". Kemudian
(setelah itu) kaum faqir Muhajirin kembali menemui Rasulullah ﷺ (mengeluh) dan berkata: Saudara kami pemilik harta mendengar
apa yang kami lakukan dan mereka pun melakukan sepertinya. Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Itu adalah karuniah Allah yang diberikan kepada
siapa yang dikehendaki-Nya". [Sahih Muslim]
Lihat: Jadilah yang terbaik, jangan asal berbuat baik
3.
Rasulullah ﷺ menjawab pertanyaan sesuai dengan
kondisi si penanya.
Abu Sa'id Al-Khudriy radhiyallahu 'anhu berkata:
قِيلَ يَا
رَسُولَ اللهِ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ فَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «مُؤْمِنٌ
يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللهِ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ». قَالُوا: ثُمَّ مَنْ قَالَ: «مُؤْمِنٌ
فِي شِعْبٍ مِنَ الشِّعَابِ يَتَّقِي اللهَ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ»
Ditanyakan kepada Rasulullah, 'Wahai Rasulullah, siapakah
manusia yang paling utama?' Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Seorang mukmin yang berjihad di jalan Allah dengan
jiwa dan hartanya.' Mereka bertanya, 'Kemudian siapa?' Beliau menjawab:
'Seorang mukmin yang berada di sebuah celah gunung (lembah) dari celah-celah
pegunungan, yang bertakwa kepada Allah dan meninggalkan (menjaga) manusia dari
kejahatannya.'" [Shahih Bukhari]
Lihat: Manusia yang terbaik dan yang terburuk
4.
Rasulullah ﷺ menyebutkan dua sifat ini
karena pentingnya menjaga dua anggota tubuh ini.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيدا} [الأحزاب: 70]
Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah
dan ucapkanlah perkataan yang benar. [Al-Ahzab: 70]
5.
Keutamaan hati yang bersih.
Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:
كُنَّا جُلُوسًا
مَعَ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: «يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ
الْجَنَّةِ» فَطَلَعَ رَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ، تَنْطِفُ لِحْيَتُهُ مِنْ
وُضُوئِهِ، قَدْ تَعَلَّقَ نَعْلَيْهِ فِي يَدِهِ الشِّمَالِ، فَلَمَّا كَانَ
الْغَدُ، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ، مِثْلَ ذَلِكَ، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ مِثْلَ
الْمَرَّةِ الْأُولَى.
فَلَمَّا كَانَ الْيَوْمُ الثَّالِثُ، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ، مِثْلَ مَقَالَتِهِ
أَيْضًا، فَطَلَعَ ذَلِكَ الرَّجُلُ عَلَى مِثْلِ حَالِهِ الْأُولَى، فَلَمَّا
قَامَ النَّبِيُّ ﷺ تَبِعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقَالَ:
إِنِّي لَاحَيْتُ أَبِي فَأَقْسَمْتُ أَنْ لَا أَدْخُلَ عَلَيْهِ ثَلَاثًا، فَإِنْ
رَأَيْتَ أَنْ تُؤْوِيَنِي إِلَيْكَ حَتَّى تَمْضِيَ فَعَلْتَ؟ قَالَ: نَعَمْ.
قَالَ أَنَسٌ: وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يُحَدِّثُ أَنَّهُ بَاتَ مَعَهُ تِلْكَ
اللَّيَالِي الثَّلَاثَ، فَلَمْ يَرَهُ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ شَيْئًا، غَيْرَ
أَنَّهُ إِذَا تَعَارَّ وَتَقَلَّبَ عَلَى فِرَاشِهِ ذَكَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
وَكَبَّرَ، حَتَّى يَقُومَ لِصَلَاةِ الْفَجْرِ. قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: غَيْرَ
أَنِّي لَمْ أَسْمَعْهُ يَقُولُ إِلَّا خَيْرًا، فَلَمَّا مَضَتِ الثَّلَاثُ
لَيَالٍ وَكِدْتُ أَنْ أَحْقِرَ عَمَلَهُ، قُلْتُ: يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنِّي لَمْ
يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَبِي غَضَبٌ وَلَا هَجْرٌ ثَمَّ، وَلَكِنْ سَمِعْتُ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ لَكَ ثَلَاثَ مِرَارٍ: «يَطْلُعُ عَلَيْكُمُ الْآنَ
رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ» فَطَلَعْتَ أَنْتَ الثَّلَاثَ مِرَارٍ، فَأَرَدْتُ
أَنْ آوِيَ إِلَيْكَ لِأَنْظُرَ مَا عَمَلُكَ، فَأَقْتَدِيَ بِهِ، فَلَمْ أَرَكَ
تَعْمَلُ كَثِيرَ عَمَلٍ، فَمَا الَّذِي بَلَغَ بِكَ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ،
فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ. قَالَ: فَلَمَّا وَلَّيْتُ دَعَانِي،
فَقَالَ: مَا هُوَ إِلَّا مَا رَأَيْتَ، غَيْرَ أَنِّي لَا أَجِدُ فِي نَفْسِي
لِأَحَدٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ غِشًّا، وَلَا أَحْسُدُ أَحَدًا عَلَى خَيْرٍ
أَعْطَاهُ اللَّهُ إِيَّاهُ. فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ هَذِهِ الَّتِي بَلَغَتْ
بِكَ، وَهِيَ الَّتِي لَا نُطِيقُ [مسند أحمد: صحيح]
ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah ﷺ, beliau bersabda, "Akan muncul kepada kalian seorang
laki-laki penghuni surga", lalu muncul seorang laki laki Anshar yang
jenggotnya masih bertetesan air sisa wudhu, sambil menggantungkan kedua
sandalnya pada tangan kirinya. Esok harinya Nabi ﷺ bersabda seperti juga, lalu muncul laki laki itu lagi seperti
yang pertama, dan pada hari ketiga Nabi ﷺ bersabda seperti itu juga dan muncul laki laki itu kembali
seperti keadaan dia yang pertama. Ketika Nabi ﷺ berdiri, Abdullah bin Amru bin Al-Ash radhiallahu'anhu
mengikuti laki-laki tersebut dengan berujar " Kawan, saya ini sebenarnya
sedang bertengkar dengan ayahku dan saya bersumpah untuk tidak menemuinya
selama tiga hari, jika boleh, izinkan saya tinggal di tempatmu hingga tiga
malam", "Tentu", jawab laki-laki tersebut. Anas bin Malik
berkata, Abdullah radhiallahu'anhu bercerita; aku tinggal bersama laki-laki
tersebut selama tiga malam, anehnya tidak pernah aku temukan mengerjakan shalat
malam sama sekali, hanya saja jika ia bangun dari tidurnya dan beranjak dari
ranjangnya, lalu berzikir kepada Allah 'Azza wa Jalla dan bertakbir sampai ia
mendirikan shalat fajar, selain itu juga dia tidak pernah mendengar dia berkata
kecuali yang baik baik saja, maka ketika berlalu tiga malam dan hampir hampir
saja saya menganggap sepele amalannya, saya berkata, " Wahai kawan,
sebenarnya antara saya dengan ayahku sama sekali tidak ada percekcokan dan
saling mendiamkan seperti yang telah saya katakan, akan tetapi saya mendengar
Rasulullah ﷺ bersabda tentang dirimu tiga
kali, "Akan muncul pada kalian seorang laki-laki penghuni surga, lalu
kamulah yang muncul tiga kali tersebut, maka saya ingin tinggal bersamamu agar
dapat melihat apa saja yang kamu kerjakan hingga saya dapat mengikutinya, namun
saya tidak pernah melihatmu mengerjakan amalan yang banyak, lalu amalan apa
yang membuat Rasulullah ﷺ
sampai mengatakan engkau ahli surga?", laki-laki itu menjawab, "Tidak
ada amalan yang saya kerjakan melainkan seperti apa yang telah kamu
lihat", maka tatkala aku berpaling laki laki tersebut memanggilku dan
berkata, "Tidak ada amalan yang saya kerjakan melainkan seperti apa yang
telah kamu lihat, hanya saja saya tidak pernah mendapatkan pada diriku, rasa
ingin menipu terhadap siapapun dari kaum muslimin, dan saya juga tidak pernah
merasa iri dengki kepada seorang atas kebaikan yang telah dikaruniakan oleh
Allah kepada seseorang", maka Abdullah radhiallahu'anhu berkata,
"Inilah amalan yang menjadikanmu sampai pada derajat yang tidak bisa kami
lakukan." [Musnad Ahmad: Shahih]
6.
Puasa membersihkan hati.
Dari Abu Dzar radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«صَوْمُ
شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ،
وَيُذْهِبُ مَغَلَةَ الصَّدْرِ»
“Puasa di bulan kesabaran (Ramadhan) dan tiga hari pada
setiap bulan adalah puasa setahun, menghilangkan "magalah" di dada.”
Abu Dzar bertanya: Apa itu "magalah" di dada?
Rasulullah ﷺ menjawab:
«رِجْسُ
الشَّيْطَانِ» [مسند
أحمد: صحيح]
“Godaan setan”. [Musnad Ahmad: Shahih]
Ø Dalam riwayat
lain:
«يُذْهِبْنَ
وَحَرَ الصَّدْرِ» [مسند
أحمد: صحيح]
“Menghilangkan dengki di dada. [Musnad Ahmad: Shahih]
Lihat: Keutamaan puasa
7.
Sifat hati yang bersih.
Diantaranya:
a.
Bertaqwa.
Allah subhanahu wata’aalaa
berfirman:
{يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ} [آل عمران : 102]
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah
sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan
dalam keadaan beragama Islam. [Ali Imran: 102]
Ø Ibnu Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata:
«حَقُّ
تُقَاتِهِ: أَنْ يُطَاعَ فَلَا يُعْصَى، وَأَنْ يُذْكَرَ فَلَا يُنْسَى، وَأَنْ
يُشْكَرَ فَلَا يُكْفَرُ» [مصنف ابن أبي شيبة]
“Sebenar-benarnya takwa kepada Allah adalah dengan dita’ati
dan tidak didurhakai, diingat dan tidak dilupakan, sertea disyukuri dan tidak
diingkari nikmat-Nya”. [Mushannaf Ibnu Abi Syaibah]
Lihat: Bertakwa di manapun berada
b.
Tidak ada dosa.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَلَا
تَكْتُمُوا الشَّهَادَةَ وَمَنْ يَكْتُمْهَا فَإِنَّهُ آثِمٌ قَلْبُهُ} [البقرة: 283]
Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian.
dan barangsiapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah orang yang
berdosa hatinya.
[Al-Baqarah: 283]
Lihat: Sifat hati yang baik dan yang buruk dalam Al-Qur’an
c.
Tidak melampaui batas.
Dari Abu Bakrah radhiyallahu 'anhu; Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَا
مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ تَعَالَى لِصَاحِبِهِ الْعُقُوبَةَ
فِي الدُّنْيَا، مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِثْلُ الْبَغْيِ
وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ» [سنن أبي داود: صحيح]
"Tidak ada dosa yang lebih berhak untuk dipercepat oleh
Allah hukumannya di dunia bagi pelakunya selain hukuman yang akan ia rasakan di
akhirat, seperti dosa "al-bagyu" (zalim, melawan pemerintah, atau
sombong) dan memutuskan silaturahmi". [Sunan Abu Daud: Sahih]
Lihat: Silaturahmi
d.
Tidak dendam.
Allah subhanahu wata’aalaa berfirman:
{وَالَّذِينَ
جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا
لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ} [الحشر: 10]
Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan
Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan
Saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah
Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman;
Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang." [Al-Hasyr:10]
{إِنَّ
الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ (45) ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ آمِنِينَ (46)
وَنَزَعْنَا مَا فِي صُدُورِهِم مِّنْ غِلٍّ إِخْوَانًا عَلَىٰ سُرُرٍ
مُّتَقَابِلِينَ} [الحجر
: 45-47]
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam surga
(taman-taman) dan (di dekat) mata air-mata air (yang mengalir). (Dikatakan
kepada mereka): "Masuklah ke dalamnya dengan sejahtera lagi aman".
Dan Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sedang
mereka merasa bersaudara duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan. [Al-Hijr:
45-47]
Lihat: Hati yang selamat (qalbun saliim)
e.
Tidak hasad.
Az Zubair bin Al 'Awwam radhiyallahu ‘anhu menceritakan padanya bahwa
Nabi ﷺ bersabda:
«دَبَّ
إِلَيْكُمْ دَاءُ الأُمَمِ قَبْلَكُمْ: الحَسَدُ وَالبَغْضَاءُ، هِيَ الحَالِقَةُ،
لَا أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ، وَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى
تَحَابُّوا، أَفَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِمَا يُثَبِّتُ ذَلِكَ لَكُمْ؟ أَفْشُوا
السَّلَامَ بَيْنَكُمْ» [سنن الترمذي: حسن]
"Penyakit umat-umat sebelum kalian merayap mendatangi
kalian; hasad dan kebencian, itu memangkas. Aku tidak mengatakan memangkas
rambut tapi memangkas agama. Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, kalian
tidak masuk surga hingga kalian beriman dan kalian tidak beriman hingga kalian
saling menyintai. Maukah kalian aku beritahu yang menguatkan hal itu pada
kalian?! Yaitu sebarkanlah salam diantara kalian." [Sunan Tirmidziy:
Hasan]
Ø Dari Abu
Hurairah radhiyallahu ‘anhu; Rasulullah ﷺ bersabda,
«لَا
يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ الْإِيمَانُ وَالْحَسَدُ» [سنن النسائي: حسن]
"Tidak akan berkumpul di hati seorang hamba, keimanan
dan rasa dengki. [Sunan An-Nasa’iy: Hasan]
Lihat: Hadits “Tidak boleh hasad kecuali pada dua perkara”
8.
Keutamaan lisan yang jujur.
'Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu 'anhu berkata; Rasulullah ﷺ bersabda:
«عَلَيْكُمْ
بِالصِّدْقِ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي
إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ
حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ صِدِّيقًا، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ، فَإِنَّ
الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ،
وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ
اللهِ كَذَّابًا»
“Kalian harus berlaku jujur, karena kejujuran itu akan
membimbing kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga.
Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan
dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Dan hindarilah dusta, karena
kedustaan itu akan menggiring kepada kejahatan dan kejahatan itu akan
menjerumuskan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan memelihara
kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah." [Shahih
Bukhari dan Muslim]
Lihat: Hadits Ibnu Mas’ud; Jujurlah jangan berdusta
Wallahu a'lam!
Lihat juga: Hati yang suci - Miskin hati - 3 penggerak hati; Harapan, takut dan cinta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...