Minggu, 17 April 2011

Pembagian Tauhid


بسم الله الرحمن الرحيم
At-Tauhid menurut bahasa adalah bentuk mashdar dari kata "وحّد الشيء" artinya menjadikan sesuatu itu satu. Sedangkan makna tauhid menurut syar'i adalah mengesakan Allah ta'aalaa dalam rubuubiyah, uluuhiyyah, dan asmaa' wa sifaat. Lawan dari kata At-Tauhid adalah Asy-Syirk; menyekutukan Allah dalam rubuubiyah, uluuhiyyah, dan asmaa' wa sifaat.
 Dari pengertian tauhid di atas terlihat bahwa makna tauhid menurut syar'I terbagi menjadi tiga bagian yaitu: Tauhid Ar-Rubuubiyah, Tauhid Al-Uluuhiyah, dan Tauhid Al-Asmaa' wa Ash-Shifaat. Ketiga macam tauhid ini disebutkan oleh Allah dalam satu ayat:
{رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا فَاعْبُدْهُ وَاصْطَبِرْ لِعِبَادَتِهِ هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا} [مريم: 65]
Artinya:
"Tuhan (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya [tauhid rububiyah], Maka sembahlah dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepada-Nya [tauhid uluhiyah]. apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia ?" [tauhid asma' wassifat] .
           
Jenis tauhid yang pertama.

Tauhid Ar-Rubuubiyah yaitu mengesakan Allah dalam menciptakan, memiliki, dan mengatur alam semesta.
            Mengesakan Allah dalam menciptakan adalah dengan meyakini bahwasanya tiada suatu pun yang menciptakan kecuali Allah semata Yang Maha Pencipta. Allah berfirman yang artinya: "Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah". (al-a'raaf: 54) "Adakah Pencipta selain Allah yang dapat memberikan rezki kepada kamu dari langit dan bumi ? tidak ada Tuhan selain Dia; Maka mengapakah kamu berpaling (dari ketauhidan)?" (Faathir: 3)
                Dalam beberapa nash menyebutkan bahwa ada pencipta selain Allah, seperti dalam firman-Nya yang artinya: "Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik". (Al-Mu'minuun: 14) demikian pula sabda Rasulullah tentang tukang gambar: "Diperintahkan kepada mereka, "Hidupkanlah apa yang telah kalian ciptakan!". Akan tetapi ciptaan mereka bukanlah secara hakikat karena mereka tidak mendatangkan sesuatu yang tidak perna ada, akan tetapi mereka cuma merubah sesuatu dari satu bentuk ke bentuk yang lain. Dan ciptaan mereka tidak mencakup segala sesuatu dan hanya berkisar pada keahliannya masing-masing.
            Mengesakan Allah dalam memliki adalah dengan meyakini bahwa tiada suatu pun yang memiliki semua makluk yang ada kecuali Allah semata Yang Maha Memiliki Yang telah menciptakan langi dan bumi beseta isinya. Allah berfirman yang artinya: "Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi". (ali Imran: 189) "Katakanlah: "Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu ?" (Al Mu'minuun: 88)
                Dalam beberapa nash menunjukkan bahwa ada pemilik selain Allah, seperti dalam firman-Nya yang artinya: "Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki". (Al Mu'minuun: 6) "Atau dirumah yang kamu miliki kuncinya". (An Nuur: 61) Hanya saja pemilikan mereka tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan seluruh makluk yang ada. Mereka hanya memiliki apa yang ada di tangan mereka dan tidak memiliki apa yang ada di tangan orang lain. Dan juga mereka tida memiliki apa yang mereka miliki secara muthlak, oleh sebab itu mereka tidak boleh menikmatinya kecuali pada hal-hal yang dibolehkan oleh syari'at.
            Mengesakan Allah dalam mengatur dengan meyakini bahwa tiada suatu pun yang mengatur alam semesta kecuali Allah semata Yang memiliki dan menguasainya. Allah berfirman yang artinya: "Katakanlah: "Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang Kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?" Maka mereka akan menjawab: "Allah". Maka Katakanlah "Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?". Maka (Zat yang demikian) Itulah Allah Tuhan kamu yang Sebenarnya; Maka tidak ada sesudah kebenaran itu, melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari kebenaran)?" (Yunus: 31-32)
Manusia juga bisa mengatur, tetapi pengaturan manusia terbatas pada apa yang ia miliki, dan terikat pada apa yang dibolehkan syari'at.
            Jenis tauhid ini tidak dipungkiri oleh kaum musrik pada masa Rasulullah, bahkan mereka mengakuinya, sebagaimana firman Allah yang artinya: "Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka akan menjawab: "Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui". (Az Zukhruf: 9)
            Dalil aqli membutikan bahwa pencipta alam ini hanya satu, Allah berfirman yang artinya: "Allah sekali-kali tidak mempunyai anak, dan sekali-kali tidak ada Tuhan (yang lain) beserta-Nya, kalau ada Tuhan beserta-Nya, masing-masing Tuhan itu akan membawa makhluk yang diciptakannya, dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebagian yang lain". (Al Mu'minun: 91)
           
Jenis tauhid yang kedua.

Tauhid Al-Uluuhiya atau Tauhid Al-'Ibadah yaitu mengesakan Allah dalam penyembahan dan yang berhak disembah hanyalah Allah semata. Allah berfirman yang artinya: "Demikianlah, Karena Sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak dan Sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain dari Allah Itulah yang batil". (Luqman: 30) Maksudnya: Allah-lah Tuhan yang Sebenarnya, yang wajib disembah, yang berkuasa atas segala sesuatu.
            Kata ibadah bisa berarti tunduk dan patuh atas pertintah dan larangan Allah dengan penuh rasa cinta dan pengagungan. Dapat pula berarti sesuatu yang dipersembahkan kepada Allah. Syekh Islam Ibnu Taimiya mendefinisikan kata ibadah bahwasanya ibadah itu adalah semua yang dicintai dan diridhai oleh Allah dari perkataan dan perbuatan dhahir maupun batin.
            Jenis tauhid ini banyak diingkari oleh para makluk, oleh karenanya Allah mengutus para Rasul dan menurunkan kepada mereka kitab suci, Allah berfirman yang artinya: "Dan kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan aku, Maka sembahlah olehmu sekalian akan aku". (Al Anbiyaa': 25)
                
            Jenis tauhid yang ketiga.

         Tauhid Al-Asmaa' wa Ash-Shifaat yaitu mengesakan Allah pada nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Tauhid ini terlaksana dengan dua hal:
Yang pertama; mengakui semua nama dan sifat bagi Allah yang Ia sebutkan dalam Al-Qur'an atau yang disebutkan oleh Rasul-Nya dalam hadits shahih.
Yang kedua; tidak menyamakan Allah pada nama dan sifat-Nya dengan makhluk. Allah berfirman yang artinya: "Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan Melihat". (Asy Syuraa: 11)
Kalimat " لا إله إلا الله " mengandung makna tauhid yang tiga, oleh sebab itu kalimat ini dinamai kalimat tauhid. Maknanya: Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah (tauhid uluhiyyah). Yang berhak disembah semata adalah pencipta, pemilik dan pengatur tunggal alam semesta (tauhid rububiyyah). Dan yang berhak disembah semata harus memiliki sifat dan nama yang mulia dan sempurna yang tidak dimiliki oleh selain-Nya (tauhid asma' wa sifat).

Wallahu a'lam !

Lihat juga: Keutamaan Tauhid
                   Awas ada syirik !
                   Jangan mendzalimi diri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...