Minggu, 11 Januari 2026

Penetapan sifat "Istiwa'" bagi Allah 'azza wajalla

سم الله الرحمن الرحيم

Sifat istiwa’ adalah sifat fi’liyah Allah, yaitu sifat yang berkaitan dengan perbuatan Allah yang jika Allah menginginkan akan dilakukan dan jika tidak maka tidak dilakukan.

Ayat-ayat yang menetapkan sifat istiwa' bagi Allah ‘azza wajalla.

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُم مَّا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ} [البقرة : 29]

Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu, kemudian Dia beristiwa’ menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. [Al-Baqarah: 29]

{إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ ۗ أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ} [الأعراف : 54]

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia beristiwa’ di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. [Al-A'raf: 54]

{إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۖ مَا مِن شَفِيعٍ إِلَّا مِن بَعْدِ إِذْنِهِ ۚ ذَٰلِكُمُ اللَّهُ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ} [يونس : 3]

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa’ di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? [Yunus: 3]

{اللَّهُ الَّذِي رَفَعَ السَّمَاوَاتِ بِغَيْرِ عَمَدٍ تَرَوْنَهَا ۖ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ وَسَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُّسَمًّى ۚ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُم بِلِقَاءِ رَبِّكُمْ تُوقِنُونَ} [الرعد : 2]

Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia beristiwa’ di atas 'Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan(mu) dengan Tuhanmu. [Ar-Ra'd: 2]

{الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ} [طه : 5]

(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang beristiwa’ di atas 'Arsy. [Thaha: 5]

{الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ الرَّحْمَٰنُ فَاسْأَلْ بِهِ خَبِيرًا} [الفرقان : 59]

Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa’ di atas 'Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia. [Al-Furqan: 59]

{اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۖ مَا لَكُم مِّن دُونِهِ مِن وَلِيٍّ وَلَا شَفِيعٍ ۚ أَفَلَا تَتَذَكَّرُونَ} [السجدة : 4]

Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia beristiwa’ di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari pada-Nya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? [As-Sajdah: 4]

{هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْضِ وَمَا يَخْرُجُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُجُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ} [الحديد : 4]

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia beristiwa’ di atas 'Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. [Al-Hadid: 4]

Ø  Apakah kata (ثم) menunjukkan bahwa sebelum menciptakan langit dan bumi Allah tidak beristiwa'?

Jawabannya:

Sebelum menciptakan langit dan bumi Allah sudah berada di atas seluruh makhluk-Nya, sedangkan istiwa' adalah sifat 'uluw secara khusus pada 'Arsy, oleh sebab itu sifat istiwa’ adalah sifat fi'liyah (bergantung pada kehendak Allah) seakan sifat uluw adalah sifat dzatiyah (azaliy) senantiasa Allah di atas semua makhlukNya.

Kewajiban mengimani sifat istiwa' bagi Allah

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengenai firman Allah Ar-Rahman di atas Arsy bersemayam﴿ [Thaha: 5], beliau berkata:

«الْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ وَالِاسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوَلٍ وَالْإِقْرَارُ بِهِ إِيمَانٌ وِالْجُحُودُ بِهِ كُفْرٌ»

'Kaifiyat (cara) tidak dapat dipahami, istiwa' (bersemayam) tidaklah tidak diketahui, mengakuinya adalah iman dan mengingkarinya adalah kekafiran.'" [Syar Ushul I’tiqad karya Al-Lalakaiy]

Ø  Dari Ja'far bin Abdullah rahimahullah, ia berkata:

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ، فَقَالَ: يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ ﴿الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى﴾ [طه: ٥] كَيْفَ اسْتَوَى قَالَ: فَمَا رَأَيْتُ مَالِكًا وَجَدَ مِنْ شَيْءٍ كَمَوْجِدَتِهِ مِنْ مَقَالَتِهِ، وَعَلَاهُ الرُّحَضَاءُ، يَعْنِي الْعَرَقَ قَالَ: وَأَطْرَقَ الْقَوْمُ، وَجَعَلُوا يَنْتَظِرُونَ مَا يَأْتِي مِنْهُ فِيهِ، قَالَ: فَسُرِّيَ عَنْ مَالِكٍ، فَقَالَ: «الْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ وَالِاسْتِوَاءُ مِنْهُ غَيْرُ مَجْهُوَلٍ وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، فَإِنِّي أَخَافُ أَنْ تَكُونَ ضَالًّا»، وَأَمَرَ بِهِ فَأُخْرِجَ

'Seorang laki-laki datang kepada Malik bin Anas, lalu berkata: 'Wahai Abu Abdillah, Ar-Rahman di atas Arsy bersemayam﴿ [Thaha: 5], bagaimana Allah bersemayam?' Ja'far berkata: 'Aku tidak pernah melihat Malik marah karena sesuatu seperti kemarahannya terhadap perkataan orang itu, hingga keringat bercucuran darinya.' Ia berkata: 'Orang-orang pun diam dan menunggu apa yang akan dikatakan Malik.' Ia berkata: 'Kemudian Malik tenang dan berkata: 'Kaifiyat (cara) tidak dapat dipahami, istiwa' (bersemayam) dari-Nya tidaklah tidak diketahui, beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid'ah. Sesungguhnya aku khawatir engkau adalah orang yang sesat.' Lalu Malik memerintahkan agar orang itu dikeluarkan.'" [Syar Ushul I’tiqad karya Al-Lalakaiy]

Ø  Dari Ibnu 'Uyainah, ia berkata: Rabi'ah ditanya tentang firman Allah Ar-Rahman di atas Arsy bersemayam﴿ [Thaha: 5], 'Bagaimana Allah bersemayam?' Ia menjawab:

«الِاسْتِوَاءُ غَيْرُ مَجْهُوَلٍ وَالْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ، وَمِنَ اللَّهِ الرِّسَالَةُ وَعَلَى الرَّسُولِ الْبَلَاغُ، وَعَلَيْنَا التَّصْدِيقُ»

'Istiwa' (bersemayam) tidaklah tidak diketahui, kaifiyat (cara) tidak dapat dipahami, dari Allah-lah risalah, kewajiban Rasul adalah menyampaikan, dan kewajiban kita adalah membenarkan.'" [Syar Ushul I’tiqad karya Al-Lalakaiy]

Makna istiwa'

Istiwa' bermakna di atas (علا) atau tinggi (ارتفع) atau naik (صعد) atau menetap (استقر). Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{فَإِذَا اسْتَوَيْتَ أَنتَ وَمَن مَّعَكَ عَلَى الْفُلْكِ فَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي نَجَّانَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ} [المؤمنون : 28]

Apabila kamu dan orang-orang yang bersamamu telah berada di atas bahtera itu, maka ucapkanlah: "Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan kami dari orang-orang yang zalim". [Al-Mu'minuun: 28]

{وَجَعَلَ لَكُم مِّنَ الْفُلْكِ وَالْأَنْعَامِ مَا تَرْكَبُونَ (12) لِتَسْتَوُوا عَلَىٰ ظُهُورِهِ ثُمَّ تَذْكُرُوا نِعْمَةَ رَبِّكُمْ إِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ} [الزخرف : 12-13]

Dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya. [Az-Zukhruf: 12-13]

Lihat: Allah di atas semua makhluk

Istiwa' bagi Allah tidak sama dengan istiwa' makhlukNya

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ} [الشورى: 11]

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. [Asy-Syuraa: 11]

{هَلْ تَعْلَمُ لَهُ سَمِيًّا} [مريم: 65]

Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan? [Maryam: 65]

{وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ} [الإخلاص: ٤]

“Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia."  [Al-Ikhlash: 4]

Lihat: Tafsir surah Al-Ikhlash

Hadits yang menunjukkan bahwa Allah di atas 'Arsy.

An-Nu'man bin Basyir -radhiallahu 'anhuma- berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«الَّذِينَ يَذْكُرُونَ مِنْ جَلَالِ اللَّهِ مِنْ تَسْبِيحِهِ وَتَحْمِيدِهِ وَتَكْبِيرِهِ وَتَهْلِيلِهِ يَتَعَاطَفْنَ حَوْلَ الْعَرْشِ لَهُنَّ دَوٌِ كَدَوِيِّ النَّحْلِ يُذَكِّرُونَ بِصَاحِبِهِنَّ، أَلَا يُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ لَا يَزَالَ لَهُ عِنْدَ اللَّهِ شَيْءٌ يُذَكِّرُ بِهِ؟»

"Orang-orang yang mengingat akan kebesaran Allah dengan tasbih, tahmid, takbir dan tahlil maka semua itu akan senantiasa condong ke Arsy dan mengeluarkan suara yang saling sambung-menyambung sebagaimana bunyi dahan pohon kurma. Mereka akan menyebut-nyebut pemiliknya (orang yang mengucapkannya). Tidakkah salah seorang dari kalian menyukai, jika di sisi Allah ia memiliki sesuatu yang akan selalu menyebut-nyebut namanya di hadapan Allah?" [Musnad Ahmad: Shahih]

Lihat: Keutamaan tasbiih, tahmiid, dan takbiir

Ø  Dari Abu Hurairah radhiallahu'anhu; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

«الرَّحِمُ شِجْنَةٌ مِنَ الرَّحْمَنِ، مُعَلَّقَةٌ بِالْعَرْشِ، تَقُولُ: يَا رَبِّ، إِنِّي قُطِعْتُ، إِنِّي أُسِيءَ إِلَيَّ، فَيُجِيبُهَا رَبُّهَا: أَمَا تَرْضَيْنَ أَنْ أَقْطَعَ مَنْ قَطَعَكِ، وَأَصِلَ مَنْ وَصَلَكِ». [صحيح ابن حبان]

“Rahim (tali kekeluargaan) adalah cabang dari Ar-Rahman (Yang Maha Pengasih) yang tergantung di ‘Arsy. Ia berkata: ‘Wahai Rabb, aku telah diputus, aku telah dizalimi.’ Maka Rabb menjawab: ‘Tidakkah engkau rela bahwa Aku memutus siapa yang memutusmu dan menyambung siapa yang menyambungmu?’” [Shahih Ibnu Hibban]

Lihat: Kitab Adab; Bab 13; Siapa yang menyambung silaturahim maka Allah akan menyambungnya

Syubhat yang menafsirkan istiwa' dengan makna istawla (menguasai).

1.       Mentakwil istiwa’ dengan makna istawla (menguasai), dengan dalil bait syair:

ثُمَّ اسْتَوَى بِشْرٌ عَلَى الْعِرَاقِ … مِنْ غَيْرِ سَيْفٍ وَدَمٍ مِهْرَاقِ

Kemudian Bisy menguasai Iraq ... tanpa peperangan dan pertumpahan darah

2.       Melazimkan Allah membutuhkan makhlukNya.

3.       Melazimkan Allah bersifat jism (jasad seperti makhluk).

4.       Melazimkan Allah bersifat mahdud (terbatas), dibatasi oleh makhluk.

Bantahan syubhat ini:

1)      Penafsiran istawa dengan istawla menyelisihi penafsiran salah yang telah disepakati.

Buktinya tidak didapatkan ucapan mereka yang menyelisihi makna dzahir istiwa', seandainya ada dari mereka yang mentakwilnya tentu akan didapatkan penukilan dari mereka.

2)      Pentakwilan tersebut menyelisihi dzahir ayat Al-Qur'an.

3)      Pentakwilan ini melazimkan makna yang batil:

a.       Berarti Allah tidak menguasai Arsy ketika menciptakan langit dan bumi, karena Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{إِنَّ رَبَّكُمُ اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْشِ} [الأعراف : 54]

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia istiwa' di atas 'Arsy. [Al-A'raf: 54]

Kata (ثم) bermakna kemudian yang menunjukkan belakangan.

b.       Makna istawla menunjukkan bahwa Allah menguasainya setelah ada perlawanan, sedangkan tidak ada yang mampu melawan Allah.

c.       Melazimkan bahwa Allah juga istawla terhadap bumi, pohon dan gunung karena Allah juga menguasai mereka.

4)      Adapun bait syair yang dijadikan dalil, maka:

a.       Tidak diketahui sumbernya.

b.       Tidak diketahui siapa penulisnya.

c.       Menafsirkan istiwa' bagi Bisyr terhadap Iraq bermakna istwla memungkinkan karena Bisyr tidak mungkin beristiwa’ di atas Iraq secara menyeluruh.

5)      Adapun makna istiwa' melazimkan Allah membutuhkan makhlukNya atau bersifat “jism” dan “mahdud”:

a.       Allah tidak mungkin membutuhkan makhlukNya, semua sifat Allah jauh dari makna membutuhkan. Dan istiwa' Allah bermakna “di atas” dan tidak membutuhkan Arsy.

b.       Sifat “jism” dan “mahdud”, tidak disebutkan dalam Al-Qur'an dan Sunnah maka kita tidak boleh menetapkannya atau menolaknya.

c.       Jika sifat “jism” bermakna Allah memiliki sifat yang berbeda dengan makhluk-Nya maka kita mengimaninya.

Namun jika sifat “jism” berarti Allah memiliki daging darah dan tulang maka ini tertolak.

d.       Jika makna “mahdud” menunjukkan Allah terpisah dari makhluk-Nya maka ini benar. Adapun jika bermakna dibatasi oleh makhluk-Nya maka ini batil.

Keagungan 'Arasy

Allah subhanahu wa ta'aalaa berfirman:

{فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ} [المؤمنون : 116]

Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) 'Arsy yang mulia. [Al-Mu'minuun: 116]

{اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ} [النمل : 26]

Allah, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai 'Arsy yang besar. [An-Naml: 26]

{وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ} [الحاقة : 17]

Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung 'Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. [Al-Haqqah]

Ø  Dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu 'anhuma; Nabi bersabda:

«أُذِنَ لِي أَنْ أُحَدِّثَ عَنْ مَلَكٍ مِنْ مَلَائِكَةِ اللَّهِ مِنْ حَمَلَةِ الْعَرْشِ، إِنَّ مَا بَيْنَ شَحْمَةِ أُذُنِهِ إِلَى عَاتِقِهِ مَسِيرَةُ سَبْعِ مِائَةِ عَامٍ» [سنن أبي داود: صحيح]

"Aku telah diberi izin untuk menceritakan tentang sesosok malaikat dari malaikat Allah yang bertugas membawa Arsy. Sesungguhnya, jarak antara ujung telinga dengan bahunya adalah perjalanan tujuh ratus tahun." [Sunan Abi Daud: Shahih]

Ø  Abu Dzar radhiyallahu 'anhu berkata:

دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ فَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَحْدَهُ فَجَلَسْتُ إِلَيْهِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّمَا آيَةٍ أُنْزِلَتْ عَلَيْكَ أَفْضَلُ؟ قَالَ: «آيَةُ الكرسي، ما السموات السَّبعُ فِي الْكُرْسِيِّ إِلَّا كَحَلْقَةٍ مُلْقَاةٍ بِأَرْضِ فَلَاةٍ، وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ تِلْكَ الْفَلَاةِ عَلَى تِلْكَ الْحَلْقَةِ»

"Aku memasuki Masjidil Haram dan melihat Rasulullah seorang diri. Aku pun duduk di dekatnya dan bertanya, 'Wahai Rasulullah, ayat apakah yang diturunkan kepadamu yang paling utama?' Beliau bersabda, 'Ayat Kursi. Tujuh langit dibandingkan dengan Kursi hanyalah seperti lingkaran (cincin) yang dilemparkan di padang sahara yang luas. Dan keutamaan 'Arsy atas Kursi adalah seperti keutamaan padang sahara yang luas itu atas lingkaran (cincin) tersebut.'" [Al-'Arsy karya Ibnu Abi Syaibah: Shahih]

Ø  Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata:

«الْكُرْسِيُّ مَوْضِعُ الْقَدَمَيْنِ وَالْعَرْشُ لَا يَقْدُرُ أَحَدٌ قَدْرَهُ»

"Al-Kursi adalah tempat kedua telapak kaki (Allah), sedangkan Al-'Arsy tidak ada seorang pun yang mampu menghitung kebesarannya." [As-Sunnah karya Abdullah bin Ahmad: Shahih]

Ø  Mujahid rahimahullah berkata:

فِي قَوْلِ اللَّهِ عز وجل: ﴿وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ﴾، قَالَ: «مَا مَوْضِعُ كُرْسِيِّهِ مِنَ الْعَرْشِ إِلَّا مِثْلَ حَلْقَةٍ فِي أَرْضٍ فَلَاةٍ»

Dalam firman Allah : "Kursi-Nya meliputi langit dan bumi," (Mujahid) berkata: "Tempat Kursi-Nya dibandingkan dengan 'Arsy hanyalah seperti sebuah lingkaran (cincin) di tanah sahara yang luas." [Al-'Adzamah karya Abu Asy-Syaikh: Shahih]

Wallahu a'lam!

Referensi:

شرح العقيدة الواسطية للشيخ ابن عثيمين رحمه الله تعالى ص٣٠٦-٣١٧

Lihat juga: Penetapan sifat “tangan” bagi Allah subhanahu wata’aalaa - Kaedah nama dan sifat Allah - Syarah Kitab Tauhid bab (40); Mengingkari sebagian nama dan sifat Allah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar anda adalah pelajaran berharga bagi saya ...